Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 21. KEPO


__ADS_3

Deeza melirik ke arah Kayshan sebelum membagi senyum manis ke pria di hadapan yang entah muncul darimana.


"Eh, Kang Farshad. Baru selesai ngajar, ya?" sapa Deeza basa basi. Dia pun turun ke teras guna memakai alas kaki.


Begitupun Kayshan, dia hanya diam tak berani menanggapi ucapan pria di hadapan meski hatinya bertanya, siapakah sosok tampan ini. Deeza terlihat mengenal baik lelaki yang dipanggilnya Kang itu tapi sapaan barusan terasa biasa saja.


"Iya, barusan dari gerbang diminta buya gantiin ongkos yang Elea pinjam dari Khidmah sejak kemarin. Tadi Elea kenapa, Za?" jawab Farshad, sekilas melirik ke arah Kayshan.


Deeza tersenyum, dia telah selesai mengenakan kembali sepatunya. "Nganter beliau. Putrinya kangen Elea. El juga sama, intinya saling rindu, lah," jawab Deeza berdiri di samping pilar.


Farshad melihat lebih seksama sosok pria tampan. Dia menjulurkan lengan guna berjabat tangan. Keduanya lantas berkenalan singkat.


"El sedang istirahat total. Gak bisa diganggu bahkan oleh kami," ujar Farshad seakan menegaskan bahwa pria di hadapan takkan memiliki celah mendekati Elea.


"Iya. Tapi tadi abuya me--," ucap Kayshan, menggantung kalimat sebab Deeza menoleh cepat ke arahnya.


"Eeehhm, Pak Kay!" serobot Deeza menyela ucapan Kay. Gadis cantik itu menatap sekilas padanya.


"Kami langsung pamit, Kang. Beliau mau terbang ke England. Belain ke sini dulu demi menyampaikan keinginan putrinya ... eh salah, keponakannya," seloroh Deeza, cengengesan sambil melangkah menjauh sedikit demi sedikit.


Kayshan paham isyarat Deeza, dia lalu menjulurkan jemari pada Farshad sebagai tanda pamit. Deeza membungkukkan sedikit badannya seraya menangkupkan tangan di depan dada pada Farshad.


Menantu Efendi terheran tapi tidak kuasa menahan tamu sang mertua. Rasa hati penasaran dengan kalimat Kayshan yang dijeda. Hatinya menerka apakah Efendi telah menerima kehadiran pria ini meskipun baru sekedar perkenalan.


Deeza dan Kay, menuju mobil mereka dan tak lama kendaraan itu meninggalkan pelataran Majlis.


Beberapa meter setelah menjauh dari As-Shofa.


Kayshan bertanya pada Deeza tentang siapa pria tadi juga sederet kalimat yang mengandung kekepoan.


"Tadi siapa, Mbak? Elea sakit apa? padepokan buya dimana? ... bagaimana cara agar saya dapat terkoneksi lagi dengan El?" cecar Kayshan, menoleh ke jok belakang dimana Deeza duduk.

__ADS_1


Deeza memutar bola mata jengah, dia memilih menyandarkan punggung di jok mobil lebih dulu seraya menatap ke arah pria di depan.


"Kang Farshad, suaminya Eiwa, kakak kedua El. Dia ipar. Kalau padepokan, saya juga gak tahu, Pak. Buya itu punya beberapa rumah dan tanah, hadiah dari para jama'ah ... tempat peristirahatan keluarga beliau yang hanya di ketahui oleh abdi dalem, istilahnya gitu," beber Deeza menjabarkan kondisi lingkup As-Shofa.


Kayshan manggut-manggut. "Ipar tapi kok kepo, ya," lirih Kay.


Deeza tertawa kecil, Kayshan yang baru bertemu saja sudah bisa menilai bahwa sikap Farshad tak sepatutnya. Apalagi jika Kay tahu bahwa dialah pria yang Elea sukai hingga menepi seperti sekarang ini.


Kayshan juga menanyakan alasan kenapa tadi harus menjeda kalimatnya, padahal dia berniat ingin memberi penegasan bahwa Efendi menaruh simpati padanya.


"Tadi kenapa di jeda, Mbak?" tanya Kay, penasaran.


"Pak Kay, nih. Gak penting lah, takut mengundang spekulasi. Lagian dia juga seakan menegaskan kalau hanya keluarga inti yang tahu," sahut Deeza.


"Padahal dia juga belum tentu diizinkan buya," kekeh Deeza, sambil menutup mulutnya.


"Eh, apa? gimana gimana? ... Mbak, si Farshad itu mantan Elea, ya?" tebak Kay. Tubuhnya bahkan dia condongkan menghadap Deeza.


Deeza menelan ludah susah payah. "Ah, Pak Kay. Giliran kepo aja otaknya gak loading. Lah, El ngasih isyarat malah lambat," sindirnya telak, menatap tajam Kayshan.


Glek.


Kayshan tertohok. Dia akhirnya bungkam, kembali duduk tenang menghadap ke depan. Mengamati padat lalu lintas jalanan, meski kini otaknya berpikir kemana dia akan menimba ilmu.


Tiada percakapan lagi, keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Deeza bagai tahu kebimbangan hati Kayshan, kala pria itu memberi kode jawaban isyarat Elea pada Efendi.


"Tazkiya! cocok untuk Pak Kay, Bang Ahmad itu pake gaya kawula muda kalau ceramah. Maklum, istrinya dokter dan punya visi modern. Keluarga beliau juga humble, pokoknya ustad kekinian. Kajiannya selalu ramai, apalagi jika Farhan naik mimbar nemenin ayahnya, beuh ...." Deeza cengengesan, membayangkan sosok Farhan, calon dokter juga penyiar radio Islam di Tazkiya FM.


"Tazkiya Internasional school itu? Mbak kenal darimana? mereka pernah sewa jasa Ghazwan enterprise buat promosi travel umrohnya," sahut Kayshan, kembali menoleh ke arah Deeza.


"Ya ampun. Saya dan El itu kan pemuja pria tamvan, hartawan, dan bukan sekenan untuk memilih kandidat imam idaman. Seneng ikut kajian. Lagian sudah jadi gosip umum kalau pria Tazkiya itu turunan tanjakan ya tetep tampan lagi soleh," kekeh Deeza begitu detail menggambarkan sosok mereka.

__ADS_1


Kayshan ikut tertawa mendengar penuturan Deeza. Memang pria Tazkiya itu imam impian para gadis. Dia mengenal baik Ahmad Hariri juga dokter Dewiq dan anak kembar mereka, Farhan Farhana. Alim yang bersahaja meski berilmu tinggi. Gauri mendapat pelayanan khusus setelah Dewiq tahu bahwa Kayshan menjadi salah satu pasien di rumah sakit miliknya.


Niat hati telah teguh, Kayshan memejam hingga mereka tiba kembali di Deeza Agency. Kayshan mengucapkan banyak terima kasih padanya. Deeza juga berjanji akan mencari jalan bagi Kay agar terhubung dengan Emran.


...***...


As-Shofa, Bogor, saat yang sama.


Setelah kepergian sang tamu, Farshad melanjutkan langkah ke kediaman mertua yang tak jauh dari sana. Betapa dia terkejut manakala Eiwa menunggunya sambil duduk di teras.


"Loh, Nyai kok disini?" tanya Farshad, wajahnya nampak kikuk. Dia memilih duduk disamping Eiwa.


"Daritadi, Kang. Tamu buya nyari El, ya? tadi ngobrol di sana tahu gak kemana El?" balas Eiwa, menatap tajam suami yang duduk di sampingnya.


"Iya. Gak nanya, sebab mereka buru-buru. Katanya sih, yang pria itu nyari El berkaitan demi keponakannya, rindu Elea ... Nyai, El kerja apa gimana, sih? dia kuliah, kan?" cecar Farshad tanpa di sadari kepo dengan kehidupan adik iparnya.


Eiwa memicing, lalu menoleh ke arah suaminya. Wajah ayu itu menekuk kesal karena Farshad begitu perhatian dan ingin tahu perihal sang adik.


"Bukan urusan Akang, lah. Aku jadi curiga, sebenarnya gadis yang di gosipkan menaruh suka padamu itu apakah dia adikku. Sikap Elea juga berubah total semenjak kita menikah ... Kang, ingat ya. Hati juga bisa selingkuh! dan ketika aku tahu itu, awas saja," tegas Eiwa, perlahan bangkit seraya memegangi perut buncitnya.


Farshad tak menjawab. Dia kelepasan di depan sang istri. Menikahi Eiwa adalah keputusan keluarga untuknya saat itu, semua terjadi begitu cepat setelah dia menyatakan rasa suka pada Elea sekaligus meminta maaf, tidak dapat membalas perasaan yang sesungguhnya walau dia pun merasakan hal sama.


Sementara di padepokan.


Elea tertegun, memandangi layar gawai yang telah meredup. Tak salah dengarkah dia dengan kalimat Kayshan sebelum panggilan itu terputus. Batinnya mengatakan jangan menaruh harap, tapi logika menginginkan sebaliknya.


.


.


...______________________...

__ADS_1


__ADS_2