
Elea melihat begitu banyak hantaran dari Kayshan, mulai keperluan pribadi, pakaian, perhiasan bahkan sebuah kartu ATM. Semua tertata rapi dan berjejer di ruang tamu.
"Itu masih atas nama aku. Nanti dialihkan ke rekening khusus milikmu, Sya ... kita juga belum ngobrol masalah lain," kata Kay. Dia mengambil dua kotak hantaran berisi set perhiasan sementara Elea masih memandangi master card berwarna platinum.
Elea mengangguk, mengikuti langkah sang suami menuju kamar mereka. Keduanya lantas duduk di atas karpet sulam Turki berwarna blue sky.
"Sya, selama ini kamu ngasih ke buya, gak? donasi apa aja gitu atau ada tanggungan?" tanya Kay.
"Kalau ada ya ngasih buya sekedar jajan sebab beliau selalu nolak pemberianku ... donasi rutin punya beberapa, kalau tanggungan, semua dibayarin buya kecuali skincare dan keperluan pribadi. Bila aku mampu, ya beli sendiri. Kenapa gitu?" balas Elea sambil membuka kotak hantaran berisi perhiasan.
"Ya aku harus tahu ... kita 'kan gak pacaran, Sya, jadi semua kebutuhanmu bakal aku yang tanggung. Kita mau tinggal dimana? rumah, apart atau kostan kamu?" sambung Kayshan. Dia menyodorkan satu berkas berisi keterangan aset dan semua tentangnya.
Elea mengalihkan perhatian dari isi kotak hantaran. Dia lalu menerima map dan membaca berkas milik suaminya. Bola mata coklat tua itu bergerak ke sana sini mengikuti banyaknya barisan kata.
Aset bergerak maupun tidak, tabungan, tanggungan, pengeluaran bulanan hingga tunjangan hari tua, bahkan jaminan kesehatan terpampang jelas di sana.
"Aku gak keberatan, Mas. Kalaupun ada utang setelah ini ya hadapi sama-sama. Perkara mau ngasih ke mama atau buya 'kan ada hitungannya," balas El.
"Makanya, aku mengukur hakmu dari situ. Memberi nafkah ke istri harus sesuai standar hidup aku selama ini. Jadi, kamu yang pegang semua, ya. Aku cuma minta jatah bulananku saja yang sudah rutin dikeluarkan ... sisanya terserah Elea Narasya." Kayshan lalu menyodorkan dua kartu ke hadapan Elea agar dia memilihnya.
Elea menggeleng, dia hanya ingin Kayshan yang memberikan itu padanya. Keputusan tinggal dengan Kamala, Elea tegaskan kembali. Dan, sebuah kartu platinum lagi-lagi diberikan Kay untuknya.
"Kalau aku selingkuh dan KDRT, kamu gimana?" tanya Kayshan, menunduk. "Aku gampang emosian, takut khilaf," cicit putra Kamala.
"Nginep di kamar Oyi atau mama," kekeh Elea. "Bercanda ... kita harus bicara banyak, apa salahku, mungkinkah hubungan ini masih bisa diperbaiki atau tidak ... lalu minta petunjuk ilahi, biar tenang. Andai kian parah, aku bakal minta nasihat mama, pendapatnya dan bantuan beliau jika Mas sudah di luar kendaliku," tutur Elea, perlahan menunduk dan memainkan ujung hijabnya.
"Kamu gak nyalahin aku, Sya?" sambut Kay, sedikit terkejut akan jawaban Elea. "Ya kali pulang ke buya," imbuhnya.
__ADS_1
Elea menggeleng. "Kalau suami kenyang di rumah, dia gakkan cari cemilan atau bahkan makanan di luar rumah. Mau gimanapun lezatnya godaan karena semua terpenuhi ya tidak mempan ... lebih ke nanya sih, kenapa, bukan langsung menuduh. Nikah itu 'kan ngobrol, ya diobrolin, lah," jawab putri Efendi mendongakkan kepala sejenak.
"Setiap masalah kita kalau bisa jangan sampai dibawa keluar kamar. Andai aku pulang pun, harus dalam sikon tenang gak pake emosi karena buya pasti nanya ... dan aku gak mungkin cerita pada keluargaku sebab seorang istri pasti selalu bisa memaafkan suami tapi belum tentu dengan keluarga besarnya. Mereka punya luka dan akan membenci Mas, aku gak mau," pungkas Elea menjulurkan jemari ke arah Kayshan.
Putra Kamala menyambutnya, dia menggenggam erat kedua tangan Elea. Tanpa kata, hanya anggukan samar disertai semburat senyum dan rona trenyuh yang Kayshan tampakkan. Ekspresi indah itu sekilas tertangkap oleh indera Elea.
Dalam pernikahan, jika diniatkan hanya karena cinta, bukan iman maka perlahan akan pudar sebab tiada yang hakiki kecuali tujuan utama yang menjadi dasar.
Tujuan menikah, sejatinya bukan cuma ingin memadu kasih dan melepas syahwat tapi lebih pada penyempurnaan ibadah baik lahir batin sekaligus belajar mendulang pahala dari segi qalbu. Rasa ikhlas, pengabdian, tulus, lillah diatas segala kesulitan dan ujian, sepanjang hayat hingga mawaddah, warohmah kemudian berujung sakinah hadir menyertai.
...***...
Tiga hari berlalu.
Bada ashar, pasangan Ghazwan menuju venue acara malam amal. Kayshan menitipkan Elea pada Afja yang hanya duduk mengamati semua persiapan dari sebuah tenda.
"He em. Aku kemarin "kan diberi opsi HD, tapi tubuhku masih baik aja. Sssttt jangan bilang-bilang kalau sekarang aku nyeri," bisik Elea.
Afja terkejut, dia memang menyiapkan minuman herbal dan jus untuk mengurangi dampak obat-obatan bagi ginjal Elea. Tapi tidak menduga bila kondisi Elea saat ini demikian.
"Ya Allah. Kan harus persiapan op pasang selang, El. Segera ke Rumkit kalau memang harus begitu. Tenang, disambi dengan buah yang pro di tubuh kamu nanti dan aku punya kenalan tabib khusus masalah ginjal di suatu kota ... dia pernah nanganin kasus tulang belakang bengkok akibat komplikasi HD bertahun, bahkan ginjal yang rusak mengkerut, perlahan tumbuh lagi," tutur Afja panjang. (fakta, ya. Nanti mommy spill kotanya)
Binar cerah Elea terpancar tapi dia masih berusaha menahan diri berkat bantuan Afja. Racikan minyak, habbatussauda atau jintan hitam, madu sidr dan perasaan jeruk nipis yang harus diminum sebelum tidur selama 28 hari akan dia coba lebih dulu. (blog berbagiresep.jsr, resepherbalbanyuwangi)
Ramuan tersebut disinyalir dapat memperbaiki tubulus dan dapat digunakan sebagai pengobatan gangguan ginjal akibat mengkonsumsi para-cetamol berlebihan. Dokter Amaya tidak memvonis Elea sebagai pasien GGK tapi hanya memberikan opsi HD jika kondisinya memburuk.
"Yakin sehat, sih. Cuma kudu sabar aja. Pandai jaga makan dan ngenalin dampak ke tubuh." Elea menepuk lengan Afja agar tidak terlalu panik.
__ADS_1
Acara berlangsung lancar, Kayshan baru menghampiri istrinya saat semua sumberdaya telah berkontribusi 50%.
"Sya, ayo ke rumah sakit, aku sudah izin tadi," ajak Kayshan, menggamit pinggang Elea untuk bangkit.
"Enggak, jangan. Nanti lagi."
Belum juga selesai bicara, tubuh putri Efendi lunglai. Kayshan langsung memapahnya. Dia merasakan bagian punggung Elea dingin. Sam yang menjaga situasi di belakang panggung, sedikit terkejut akan kondisi Elea.
"Sya!" pekik Kayshan membuat Sam menoleh ke arahnya.
Lelaki itu membantu sahabatnya tanpa banyak suara, terlebih menimbulkan kehebohan. Pasangan Ghazwan lalu menuju rumah sakit, secepat kilat.
Bangsal Elea telah siap ketika brangkar berisi wanita muda itu di dorong menuju ambulance. Dia lalu menghubungi Gery untuk menyiapkan rumah sakit di Jakarta karena Elea bakal dipindahkan ke sana.
"Sya, kita tunda resepsi, ya!" kata Kay saat Elea terjaga.
"Gak usah. Aku tuh cuma kecapekan," kilahnya tepat saat brangkar naik ke mobil bersirine itu.
Dalam kepanikan, saat Kay akan ikut naik ke mobil, tiba-tiba.
"Kay!" sebut seseorang.
.
.
..._______________________...
__ADS_1
...Bentar lagi kelar, sabar, ya....