
Kayshan menunduk seraya membungkukkan badan sedikit, sebagai upaya salam hormat pada Efendi yang jua terkejut sama sepertinya.
Putra Kamala menarik kursi di sebelah Sam, berseberangan dengan Efendi dan para panitia. Kini, mereka akan mendengarkan penjelasan konsep iklan proyek amal tersebut oleh manager marketing MA, Ben.
Tawar menawar alot diajukan para panitia setelah Ben selesai menjabarkan ide mereka. Sam menunduk, seakan lega bahwa bukan Kay yang dicecar.
"Kay!" gumam Sam, menyenggol lengan sahabatnya.
"Kejap, selesaikan revisian dulu. Giliran gue bentar lagi," balas Kayshan tak kalah pelan sembari jemarinya lincah menarikan stylus pen di atas tablet.
"Camer tegang," sambung Sam, tersenyum sambil menghalau gerak bibir dengan tangan kanannya.
"Diem, lo! pamor gue taruhannya," ujar Kayshan, lirih berkata seraya menahan gerakan bibirnya.
Pintu ruangan terbuka, tampak dua orang room boy mendorong troli berisi makanan ringan juga minuman untuk penghuni rapat petang itu. Jeda waktu ini digunakan Kay untuk diskusi singkat dengan Sam. Mereka berdua memutar kursi membelakangi para koordinator.
Konsep open stage, dengan posisi hadirin di belakang staf perekam. Lighting, tenda, tempat untuk hadroh juga lainnya. Landscape yang Kay buat tampak sesuai dengan selera para sepuh kali ini. Sam mengacungkan jempol atas idenya.
Tiba saat Kayshan menjelaskan malam pembukaan acara inti. Dia menggabung kemodernan dengan kearifan lokal sekitar lokasi. Ide pasar malam, bisa menggaet perhatian warga atau bahkan para calon donatur lain, terlebih media yang tak terlibat secara khusus.
"GE akan support hingga menyediakan bahan postingan ke media sosial berbayar. Semoga niat mulia para penggagas, lebih luas lagi jangkauannya. Syukron," kata Kay, menutup presentasi.
Kay lalu menyerahkan salinan copy denah untuk acara inti nanti ke para panitia. Dia pun mengatakan siap merevisi jika masih ada kejanggalan atau ketidakpantasan idenya.
Pertemuan berakhir menjelang Maghrib. Kayshan menunggu Efendi sebelum menuju mushala di seberang jalan.
"Buya," sebut Kay, menyalami Efendi.
"Gimana kabarnya Gauri, Nak Kay? ... nanti buya ajukan revisi setelah tiba di rumah, ya," kata Efendi menyambut uluran tangan Kay lalu menepuk lengannya.
Kayshan mengangguk. "Kheir, alhamdulilah meski masih pergi pulang kontrol ... Buya, niatan saya bagaimana?" tanya Kayshan memberanikan diri. Genggaman pada tablet miliknya terlihat erat tanda dia grogi.
Efendi menatap sekilas lalu hanya tersenyum, ajakan kawannya membuat dia mengabaikan perkataan Kayshan. Buya Elea, menghambur ke arah pria yang memanggil di front office.
Kayshan menunduk, menyembunyikan senyum getirnya. Dia menarik nafas panjang sebelum melangkah ke parkiran dan bergegas mencari masjid.
"Kay, mushala!" panggil Sam, berdiri tak jauh dari mobilnya. Dia menunjuk ke seberang jalan.
"Bawa mobil aja, gue langsung balik," jawab Kayshan.
Keduanya lantas menaiki mobil masing-masing menuju surau depan jalan. Waktu hampir Maghrib tapi tidak ada suara tahrim ketika mereka tiba.
Penampilan para pria tampan kini telah berubah. Kayshan melepas jas dan atribut kerjanya lalu berganti baju dengan koko yang dia gantung di hanging jok belakang.
Sam berjalan beriringan dengan Kay menuju shaf depan. Baru saja akan duduk, bahu Kayshan di tepuk seseorang dari arah belakang. Dia menoleh.
__ADS_1
"Mas, silakan adzan. Muadzin lagi sakit. Cuma ada sepuh di sini, gak kuat nafasnya," ujar salah seorang warga sekitar.
"Aku?" tanya Kay, menunjuk dirinya sendiri dan diangguki beberapa warga.
"Buruan, dah masuk waktu," sambung Sam, mendorong Kayshan.
Suara Kayshan mulai terdengar, lembut, tapi intonasinya tegas. Putra Kamala memilih memakai irama Hijaz yang pendek dengan nada rendah agar aman dan nyaman didengar karena dia masih pemula.
Tak di sangka, rombongan Efendi memasuki surau. Pria itu masih belum menyadari bahwa pria di depan adalah orang yang sedang dia tahan secara hati.
"Sawuu shufuufakum, fainna taswiyatash shoffi min tamaamish sholaah." Seorang sepuh bangkit ke mimbar imam manakala Kay mengumandangkan iqamah. Meminta jamaah merapikan dan merapatkan shaf.
Kayshan, mundur dan mengambil tempat di sebelah Sam, seraya berkata pada rombongan remaja yang baru masuk.
"Istawu, istaqimu, wa'tadilu." Kay melambaikan tangannya lalu menunjuk ke shaf ujung.
Dalam kondisi tersebut, Efendi menoleh ke arah sumber suara. Dia terkejut hingga dahinya mengernyit.
Kayshan belum menyadari bahwa di ujung shaf yang sama, Efendi memperhatikan tindak tanduknya hingga doa selesai dan mereka saling salaman sebelum bubar.
"Buya," sapa Kay, menyalami Efendi. Dia pun sama terkejut atas kehadiran beliau.
"Buya duluan ya, salam buat Gauri," ujarnya lagi.
Kepergian Efendi menyisakan gundah di hati Kayshan. Namun, dia masih mempunyai kesempatan bertemu dengannya atas undangan Emran lusa nanti. Kay akan sekali lagi menegaskan maksudnya.
Dalam perjalanan ke Bogor.
"Yang adzan tadi, bukannya mas Kay ya, Ji. Pantesan habib Muh merekrut dua pemuda tampan tadi. Selain pintar juga saleh ... kalau nak Sam sih sudah keliatan kesayangan beliau. Eh, mas Kay juga ternyata sama," kata salah satu sahabat Efendi.
"Sudah punya istri juga? kalau nak Sam kan baru zuad," imbuh pria satunya.
"Dia sudah ada calon kayaknya, lelaki perlente gitu, ya pasti si wanita juga setara dia," balas Efendi.
Perjalanan dinas para sepuh di warnai kekepoan dua yai tentang Kayshan yang terus memujinya membuat Efendi jengah. Namun, akibat komentar para sahabat, beberapa pemikiran terlintas dalam benak si pemilik As-Shofa. Senyum samar pun tersungging di wajah senja Buya Elea.
...***...
Kayshan tiba di kediaman menjelang jam sembilan malam.
Terjebak macet di beberapa titik, ketidakfokusan dia saat menyetir membuat laju kendaraan Kay melambat.
Tepat ketika gerbang kediamannya terbuka, Geisha sedang menggedor pintu depan berulang kali. Kayshan kian merasa letih. Urusan hati dan izin Efendi saja sudah membuat lelah, ditambah ulah Geisha kini.
"Kay! Kay!" Geisha menyongsong Kayshan meski pria itu belum turun dari mobil.
__ADS_1
"Pulang, Ghe. Sudah malam. Gue gak mau Roger salah duga." Kayshan mendorong pintu agar Geisha menjauh.
"Roger lagi ngejar Raline. Dia maksa aku menjadi sepertinya," jawab Geisha ketus.
Kayshan tak mengindahkan, dia terus melangkah ke teras dan bersiap membuka pintu.
"Kay, izinkan Gauri tinggal sama aku. Kay!" seru Geisha mengejar Kayshan.
Putra bungsu Kamala berbalik badan. Dia menaikkan telapak tangan ke depan, sebagai syarat agar Geisha diam dan menjaga jarak dengannya.
"Silakan bicarakan dengan Roger dulu. Aku gak mau anakku mengalami deraan mental setelah percekcokan yang kerap kalian tampakkan di depan Oyi!"
"Dia putriku!" sentak Geisha.
"Yang kau buang. Oyi anakku! ... gue capek. Pulanglah," ucap Kayshan lagi.
"Oke, putri kita. Kay, istirahatlah. Aku ikuti keinginanmu." Geisha melangkah mundur hendak meninggalkan Kayshan.
"Kita? cih, ngimpi!" Kayshan menyelinap masuk ke dalam. Dia berjalan lunglai tapi seketika kembali bersemangat kala melihat Gauri berdiri di tangga menyambutnya.
"Daddy!"
"Sayang ... daddy kangen, kamu dan dia," lirih Kayshan mendekap dan menggendong Gauri meniti tangga menuju kamarnya.
...*...
Sementara di Bogor.
Efendi pulang ke padepokan menjelang tengah malam. Dia mengobrol dengan Kusni tentang sosok si penolong dan meminta untuk menghubungi pria itu agar dirinya dapat berterima kasih dengan benar.
Setelah memberikan instruksi jelas pada Kusni, Efendi masuk ke kamar Elea. Dia duduk di sisi ranjang.
"Buya ragu, El. Kamu beneran mau sama dia? diagnosamu ini loh bikin buya berat," lirih Efendi memandangi putrinya.
"Apa kata jamaah nanti, suamimu bukan dari kalangan kita," imbuhnya.
'Gusti, bagaimana? hasil Fatihah aku ini terhadap mereka berdua,' batin pemilik As-Shofa.
.
.
..._______________________...
...Nungguin bom, kan?...
__ADS_1