
"Minum, Bun." Kayshan lagi-lagi menggoda Elea leluasa sebab Kamala tak ada di sana. Dia membawa botol air mineral untuk si gadis ayu.
"Makasih, ini masih ada," jawab Elea lirih setelah meneguk air dalam gelas.
Kayshan masih berdiri di sana, meyakinkan diri bahwa Elea baik saja setelah tersedak oleh ucapannya.
Merasa harus ada yang dikonfirmasi ulang, Elea melayangkan keberatan atas panggilan Kayshan padanya. Dia menghela nafas setelah memastikan laju dorong di kerongkongan lancar kembali.
"Maaf, Pak. Boleh panggil apa saja bukan berarti bisa menyebut saya sebagai Bunda. Kita tiada hubungan sejauh itu bukan? maksud saya, Anda dapat mengikuti Gauri, Lele atau El," jelas Elea, menatap makanan yang teronggok di meja. Dia kehilangan selera makan.
"Lah gak bilang. Ku pikir kalau apa saja ya artinya bebas," kekeh Kayshan, kini duduk di lengan sofa, berseberangan dengan Elea.
"Bunda itu kan sebutan bagi pasangan. Kita kan tidak sejauh itu," balas Elea lagi. Mulai menggerutu.
"Buatlah jadi nyata atau kamu bisa panggil aku Dad, Mas, Ayah. Gampang, kan?" sambar Kay, bahagia menggoda Elea.
"Ish. Menggampangkan sesuatu itu gak baik, jadi jalan fitnah. Anda selalu saja ceroboh. Eh," kata Elea, kelepasan sudah berani mengkritisi Kayshan.
Pria tampan itu bangkit dari sana ke mini pantry dan melanjutkan makannya tanpa memedulikan cebikan Elea.
"Thanks, kamu sudah perhatian sama aku," pungkas Kayshan, tersenyum mengembang seiring pintu kamar dibuka oleh Kamala.
Menjelang malam, Gauri rewel. Dia meminta Kay dan Elea bergantian mengusap punggung, kaki, lengan bahkan terkadang memohon pada Kay untuk memeluknya.
Keduanya terjaga sepanjang malam, sebab jika Gauri berubah posisi maka Elea harus memastikan lengan yang terpasang infus, tidak goyah juga luka operasi tetap terjaga baik.
Kamala melihat semua perlakuan Kay dan Elea pada cucunya. Dia sangat bersyukur ketika Gauri didampingi Elea. Namun, sebuah perasaan cemas hadir dalam kalbu mengenai interaksi kedekatan mereka.
Esok pagi.
Bada duha, setelah kunjungan dokter. Kayshan membiarkan Elea tidur masih mengenakan mukena. Dia pun mengantuk tapi Gauri terjaga, khawatir rewel hingga mengganggu istirahat Elea.
...*...
Saat yang sama, di suatu gedung, Malaysia.
Seorang wanita sedang duduk dalam ruangan kerjanya. Dia merasa bosan sehingga membuka laman medsos sekedar untuk cuci mata sejenak. Tanpa sengaja, sebuah postingan melintas.
"Eh, ini kan Penang, seperti lobby di Island medical center," gumamnya.
Dia lantas mengunjungi akun medsos milik pria tampan dan mengulir postingannya. Gadis cantik itu menemukan dua unggahan satu pekan lalu.
"Kay, kamu kembali? sekarang kerja di sana, kah? atau kamu sakit? oh Tuhan," ujarnya kala melihat tampilan jendela sebuah ruangan selain bangsal rumah sakit.
__ADS_1
Dia lalu bergegas melihat kalender juga jam luangnya. Senyum sumringah pun terlukis di wajah sang gadis.
"Kay, semoga kamu bukan pasien di sana. Eh, pasien juga gak apa sih, jadi kita bisa dekat lagi," kekehnya.
Menjelang malam, dia melakukan perjalanan dari Kuala lumpur menuju Penang.
...*...
Keesokan pagi, rumah sakit.
Sudah hampir dua pekan lebih pasca operasi, Gauri mulai menjalani terapi ringan. Elea memijat kaki anak asuhnya perlahan agar dia siap ketika akan melakukan fisioterapi.
Sel punca yang dimasukkan dalam tubuh Gauri dari Geisha, masih dipantau dokter. Mereka juga sudah melakukan transfusi sel darah merah, sel keping darah, atau imunoglobulin secara berkala, sampai sumsum tulang baru dapat memproduksi sel darah dalam jumlah yang cukup.
Hari ini, dokter memastikan di ruang fisioterapi bahwa Gauri tak lagi demam, mual, muntah atau sakit kepala sebagai efek samping operasi.
"Gauri sudah boleh fisioterapi ringan. Stretching seperti ini oleh suster," ujar dokter Chen.
"Alhamdulillah, pemulihan sampai berapa lama, Dok?" tanya Kayshan.
"Bisa hingga tiga bulan. Tapi tergantung kondisi pasien. Sembuh total setelah satu tahun jika tidak ada komplikasi. Semoga lancar semua, ya. Gauri boleh pulang bulan depan jika jadi anak baik," sambung dokter Chen. Dia memberikan banyak obat dan suplemen untuk pasiennya.
Kayshan mencatat semua apa yang boleh dan dilarang konsumsi oleh Gauri dalam waktu dekat. Keduanya lantas pamit setelah latihan Gauri usai.
Wanita dengan penampilan elegan tiba di rumah sakit. Dia membawa bingkisan buah kesukaan pria yang akan dicarinya.
Sosok ayu itu lalu menuju lobby guna memastikan bahwa Kay masih ada di sini. Harapannya nihil sebab identitas pasien adalah privasi.
Dia tak patah arang. Katrin akan mencari tahu dimana lelakinya berada secara bertanya langsung pada suster station di setiap lantai. Wanita ayu lalu menaiki lift, mulai menelusuri dan mencoba menghubungi Kayshan tapi ponsel pria itu tak lagi aktif sejak kemarin.
Di lantai tiga.
Elea menutup pintu ruang fisioterapi sedangkan Kayshan mendorong mini brangkar putrinya di koridor.
Akhirnya perjuangan Katrin terbayar. Dia mendapati sosok bagai Kayshan di koridor tepat saat pintu lift baru terbuka. Senyumnya terbit kala menangkap gestur yang dia kenali dengan baik. Setiap gerak gerik pria itu baru saja tertangkap netra seseorang dari kejauhan.
"Kay, dia putrimu, kah? dan yang di belakang itu, istrimu? kau selingkuh saat denganku?" gumam sang gadis, melangkah mendekat berlawanan arah.
Kini, pemandangan tak mengenakkan terjadi di depan mata.
"Daddy, beli es krim," rengek Gauri setelah sekian lama tak memakan kudapan itu.
"Nanti Lele belikan, sehat dulu, ya," balas Elea tersenyum manis muncul dari balik punggung Kayshan.
__ADS_1
Tiba-tiba.
"Kay!" panggil seseorang, menghadang jalan mereka.
Deg.
Kayshan terkejut, dia melirik Elea dan Gauri. Anak cerdas pun menengadah ke sumber suara. Dia melihat wanita cantik.
"Daddy, Bunda, ayo!" ucap Gauri, meminta agar Kayshan terus mendorong mini brangkarnya ke kamar.
Kayshan mengangguk, tapi dia harus berhenti di meja suster untuk mengambil obat lebih dulu. Mendengar Gauri menyebut Elea dengan kata Bunda. Dia akhirnya memutuskan mengikuti Gauri.
"Bun, tolong ambilkan obat di suster station, ya," pinta Kayshan, tersenyum menawan seakan tengah memanfaatkan kesempatan.
Glek.
Elea menduga, wanita cantik di hadapan adalah seseorang yang mengenal Kayshan dengan baik. Namun, bahasa tubuh ayah dan anak seakan menyiratkan bahwa sosok tersebut adalah pengganggu. Dia tidak mempunyai pilihan selain mengikuti keduanya.
"Oke, Dad. Oyi dengan Daddy duluan saja," ujar Elea tersenyum manis seraya melambaikan tangan pada Gauri.
"Jangan lama-lama, Bun." Kayshan mengerling manja pada Elea sebelum dia melanjutkan langkah.
"Kay, please," cegah Katrin kala Kayshan akan menabraknya. Dia menahan brangkar Gauri.
"Lepasin, aku mau ke kamar. Daddyyy," rengek Gauri mulai kesal.
"Bundaaaaa!" imbuh gadis cilik itu membuat keributan.
"Dia anakmu?" cecar Katrin, dahinya berkerut disertai tatapan penasaran.
"Lepaskan, aku jelasin nanti. Putriku lelah, Katrin," ujar Kayshan pelan, tak menatap wanita di depannya.
Katrin terpaksa meloloskan permintaan tersebut. Dia lalu mengikuti Kayshan hingga ke kamar Gauri.
"Baiknya kau jelaskan. Siapa dia," ucapnya lagi, melihat ke arah Gauri.
"Aku putri Daddy dan bunda." Gauri menjawab tegas seraya menatap tajam kedua manik mata wanita penggoda ayah sambungnya itu. Sedangkan Kay, hanya tersenyum simpul atas sikap keponakannya.
.
.
...__________________...
__ADS_1