
Setelah kepergian Deeza, Kayshan bebenah merapikan barang-barang untuk pulang ke rumah. Jam 21.15, dia menggendong Gauri sambil menyeret koper sang keponakan ditemani suster meninggalkan kamar perawatan rumah sakit.
Di basement, Kayshan bertemu Sam yang terlihat kesal saat akan memasuki mobilnya.
"Sam, ngapain di sini?" tanya Kayshan menghampiri sahabat lamanya.
"Lah, lo belum balik? katanya sore tadi. Tahu gitu, gue ke atas ngetem di sana bentar," jawab Samagaha Ziyan.
"Nungguin racikan obat Gauri, selesai Maghrib tadi. Mau keluar bada isya eh dia tidur jadi baru pulang sekarang ... kajian pekanan ke Tazkiya lagi, gak?" tanya Kay, ingin menyeret Sam ikut dengannya.
"Pagi gue sowan ke Habib Muhammad Alatas di Jampang, bada asar lo jemput gue dah ... Gauri, sama om bentar, yuk," sapa Sam, mengusap kepala balita dalam gendongan Kay.
Gauri menoleh, menggeleng seraya tersenyum ke arah duda tampan sahabat pamannya. "Daddy!"
"Oke. Kenapa, lo? kesel gitu," selidik Kay.
"Dia noh, bandel. Kelakuan Abege gitu kali, ya," sungut Sam kesal pada calon gebetan.
"Pak duda udah punya gebetan? siapa, dia sakit?" tanya Kayshan kepo sebab Sam amat jarang bicara soal wanita.
"Ck, lupain ... eh, Kay. Gauri mau coba detoks dari dalam, gak?" sahut Sam, mengindahkan pertanyaan Kayshan.
"Detoks gimana?" tanya Kay, sambil menekan remot mobilnya agar suster dapat meletakkan koper Gauri.
"Dia belajar khasiat rimpang, sari buah, teh bunga Krisan dan gue yang uji lab racikan dia. Selama ini oke, sih. Dia dulu obesitas dan sebagainya lah, saudaranya pun di terapi sama dia. Ya kali, lo tertarik," ungkap Samagaha menjelaskan sedikit tentang profil gebetannya.
Kayshan manggut-manggut, dia langsung teringat akan Elea. Mungkin kenalan Sam dapat memperingan rasa nyeri yang El rasa.
"Buat infeksi saluran kemih, bisa juga?" tanya Kayshan.
"Nanti gue tanyakan, ya. Gih, sana pulang. Kasihan Gauri ... eh, buat siapa? lo?" ujar Sam balik tanya.
"Elea, calon bunda Oyi lagi dapat nikmat sakit itu. Ya, Sayang," kekeh Kayshan pamer pada sahabatnya, seraya mengecup pipi Gauri.
Mendengar nama Elea disebut, Gauri sumringah. Dia mengangguk cepat, seraya berceloteh manja.
"Lele Daddy, Lele!" ujar Gauri. Kedua tangannya memegang wajah Kayshan guna menegaskan pendapatnya.
"Elea? moga lancar, Bro. Kapan khitbah, gue bantu apa?" kata Sam, sumringah sambil menepuk lengan Kayshan.
Keduanya lantas bercerita singkat tentang calon istri masing-masing, hingga tawa mengudara sebab memiliki kesamaan nasib. Sam belum meresmikan lamarannya sedangkan Kayshan masih menunggu antrian.
"Mabruk, Kay. Semoga lolos babak penyisihan karena sainganmu berat ... nanti Mano ku ajak kenalan dengan Gauri," pungkas petinggi SidoGeni saat Kayshan pamit sebab keponakannya merengek ingin segera tiba di rumah.
Dalam perjalanan pulang, ponsel Kayshan berdering.
"Oyi, onty Deeza." Kayshan menunjukkan identitas penelpon pada Gauri.
Gawai canggih itu diberikan pada putrinya yang duduk di sebelah kemudi. Gauri menggeser tombol panggilan video ke atas dengan jari gendutnya.
"Leleeeeeeeeee!" serunya riang tapi seketika raut wajah mungil itu murung.
"Yeee, onty Deeza ini. Lele masih ngaji," kata Deeza menggoda Gauri.
Balita kecil tak sabar, dia terus memanggil Elea hingga usahanya membuahkan hasil. Wajah teduh yang dia rindu muncul di layar gawai.
"Leleeeee! Oyi kangen," rengek Gauri dengan sorot mata berkaca-kaca.
"Assalamualaikum, Salihah. Oyi sudah sehat?" tanya Elea tersenyum manis masih menggunakan mukena. "Maaf ya, Sayang baru call Oyi. Doain Lele lekas sembuh, ya," ucap sang mantan pengasuh.
"Wa 'alaikumsalam. Lele banyak makan, Oyi mau ke Lele," imbuh bocah ayu.
Senyum Elea berkali terbit, keduanya mengobrol acak tapi membuat Kayshan ikut senyam-senyum mendengarkan. Mulai hal sepele sampai masalah piyama tidur dan guling. Gauri juga diminta oleh Elea agar menuruti ucapan suster dan guru saat belajar di rumah.
"Sayang, pencet capture," bisik Kayshan agar Gauri mengambil screenshot wajah Elea.
__ADS_1
Obrolan itu berakhir manakala terdengar suara Efendi masuk ke ruangan. Suara Deeza yang menyapa sang guru, menutupi percakapan akhir antara Elea dan Gauri malam itu.
"Bye Lele," cicit Gauri sedih.
"Besok lagi, ya," bisik Elea menutup panggilan.
"Syukron, El. Lekas sehat, ya." Kayshan menyambung ucapan sebelum panggilan video berakhir seiring mobil Kay memasuki hunian.
Sementara di rumah sakit, Sentul.
Baru saja benda pipih itu tergeletak, Efendi menghampiri si putri bungsu. Dia melihat Elea mengenakan mukena baru berwarna navy pemberian Kay, membuat wajahnya sangat ayu.
"Maa sya Allah, cantiknya salihah buya," puji Efendi seraya mengecup pucuk kepala Elea.
"Deeza nginep di sini. Buya pulang saja dulu," kata Elea setelah ayahnya duduk di sisi ranjang.
"Iya. Besok siang kakek dan ayah Abrisam ke sini, jenguk kamu. Sekalian ditegaskan saja bagaimana, El?" tanya sang ayah.
Deeza yang mendengar hal tersebut ketar-ketir apakah Efendi akan menerima pinangan Abrisam karena pemuda itu tiada cela.
Elea hanya menunduk, tak berani menjawab. Abrisam bukanlah sosok yang dapat dia sangkal meski hatinya enggan.
"El?" sebut Efendi. Tersenyum melihat reaksi putrinya. "Diam itu artinya iya, alhamdulilah." Godanya lagi.
Elea menengadah, wajahnya terlihat murung. "Buya, kalau dengan Sam nanti kuliah aku gimana? dia PP Surabaya, kan?" bantah Elea halus.
"Kewajibanmu ikut kemana suamimu pergi dan memutuskan perkara yang baik bagi kalian. Buya ridho," balas Efendi.
Nyali Elea kian ciut manakala tatapan tegas ayahnya dilayangkan. Surat Kayshan belum terbaca tapi dia enggan membukanya sebab respon Efendi barusan. Dia takut kecewa dan berontak.
Efendi lantas bangkit, pamit pulang malam ini sebab Deeza menemani putrinya. Setelah kepergian sang Yai, sahabat Elea itu bergegas mendekat.
"El, surat Pak Kay, buka dong," desak Deeza memberi semangat.
"Buka gak ya? kayaknya gue bakal jadi bini Sam. Buya dan Njid Emran itu dekat. Aku bisa apa?" keluh Elea, menunduk lemas seraya memejam.
Elea akhirnya membuka lembaran kertas putih dari dalam box mukena yang baru dia kenakan Maghrib tadi.
"Bismillahirrahmanirrahim. Kok, aku deg-degan, Zaaaaa!" lirih Elea meraba jantungnya.
Deeza tak kalah heboh, dia menepuk ranjang dan pahanya bergantian tanda gemas sendiri, tak sabar menanti Elea.
["Assalamualaikum, Habibati. Maaf ya, aku belum bisa jenguk sebab beberapa hal, ku harap kamu mengerti."]
Deg.
Deg.
"Wa 'alaikumsalam, ya Habibi." Wajah Elea merona, dia menempelkan kertas itu di dada seraya memejamkan mata membuat Deeza ikut histeris.
Deg.
Deg.
"Aaaah, dia nulis apa El, Eeellllll!" seru Deeza tak sabar, dia mengguncang kaki Elea yang selonjoran di balik selimut.
Elea meletakkan telunjuknya di bibir meminta Deeza diam. Putri Efendi pun tersenyum manis lalu melanjutkan.
["El, aku sudah menyampaikan niatan atas isyaratmu tapi beliau memintaku sabar menunggu giliran. Semua yang ada di depan mata takkan sanggup menandingi nan hadir di dalam hati. Sedangkan sesuatu yang ada di kalbu tiada mampu melawan nan tertulis di lauhul mahfudz."]
["Sedang aku usahakan tapi tidak memaksakan sebab takdir, Tuhan yang menentukan. Kau paham maksudku, kan?"]
Blush. Elea merona, dia menutup wajahnya dengan kertas yang dibaca.
"El, apa sih," cecar Deeza melihat temannya salting.
__ADS_1
Elea melanjutkan membaca, masih dengan wajah mengulas senyum.
["Gauri berangsur membaik. Doakan Oyi sehat paripurna meski secara medis itu hal mustahil tapi bagi Allah, kesembuhan Gauri hanyalah perkara kecil, bukan? jaga kesehatan ya, Elea Narasya."]
Elea menarik nafas panjang, menunduk dan mengangguk berkali. Matanya mengembun memahami bahasa Kayshan. Sikap diam putri Efendi membuat Deeza penasaran. Dia pun merebut surat tersebut dari tangan sang sahabat.
Setelah beberapa menit.
"Lah, pak Kay nyerah?" keluh Deeza lemas, melihat ke arah Elea yang justru tersenyum dan bersalawat.
Elea menggeleng. "Aku bangga padanya. Dia bisa meredam nafsu meski keinginan kita jelas. Bukan menyerah, justru sedang merayu Allah," ujar Elea.
"Mana bisa, kan begini tulisannya!" elak Deeza menunjuk pada kertas.
Elea menghela nafas, menjelaskan bahwa maksud Kayshan di sana pasrah bukan menyerah tapi menggunakan jalur membujuk penghuni langit.
"Jangan menggebu-gebu, sebab kadang impianmu akan terwujud kala engkau mengabaikannya. Kenapa? karena harapan yang sesuai keinginan akan membesar di hatimu hingga tiada celah lagi bagi asma Allah di sana ... Za, ana urid wa anta turid, wallahu fa'allu lima yurid. Paham?" tutur Elea masih memandang sahabatnya.
Deeza menggeleng pelan. "Enggak!"
"Betul kata Mas Kay. Aku dan dia berkeinginan tapi Allah Maha berkehendak," pungkas Elea.
"Uluuuhhh, bahasa kalbunya Pak Kay dalem amat, ya. Gak sangka euy. Otak gue gak nyampe!" puji Deeza pada sosok lelaki modern itu sembari tertawa.
Elea tak surut mengulas senyum. Entah Kay belajar dimana kalimat isyarat samar tentang kepasrahan tapi bermakna indah itu, pikir El. Malam panjang keduanya dilalui dengan obrolan random hingga mereka pulas.
...***...
Keesokan pagi.
Deeza pulang setelah sarapan sebab ada janji dengan klien nya. Kini, Elea seorang diri di dalam kamar menunggu kedatangan Efendi.
Tak lama, pintu kamar dibuka seseorang. "Assalamualaikum." Suara beberapa orang pria masuk.
"Wa 'alaikumsalam," sambut Elea ketika melihat sang ayah datang dengan tamu.
Elea menunduk, menutup mushaf dan merapikan beberapa buku yang telah dibaca. Dia tahu, sedang didoakan keluarga haji Emran dari Surabaya.
"Sehat lagi ya, Nduk. Kheir in sya Allah," ujar Arjuna, ayah Abrisam.
"Aamiin. Jazakallah ahsanal jaza, Aba," jawab Elea.
Elea hanya diam, sebab hati bergemuruh. Dia mere-mas selimutnya yang menutupi bagian bawah tubuh.
Efendi melihat bahasa tubuh sang anak, dia lalu mengajak kedua tamunya duduk di sofa guna membicarakan masalah ini.
"Afwan, ya Akhi. El masih harus menjalani perawatan intensif. Rasanya gak memungkinkan untuk ikut Abrisam ke sana sini. Mobilitas putramu padat, ana ragu El akan menjalankan kewajibannya dengan baik," tutur Efendi.
"Kan gak langsung boyong, Sam bilang gitu. Cuma memang dia gak bisa pergi pulang Jakarta Surabaya setiap hari sebab study nya baru mulai dan usaha dia di sini juga ... Sam gak nuntut El lekas hamil sampai lulus S2 nanti," sangkal Arjuna seakan menepis alasan Efendi.
"Tidak bisa disentuh hingga tiga bulan, Ji. Apakah ridho?" kata Efendi, mencoba menggunakan alasan medis ala-ala.
Kedua pria dihadapannya saling pandang. Efendi ingin Elea betul-betul sembuh sehingga waktu tiga bulan mendatang akan digunakan untuk terapi. Sedangkan Sam meminta orang tuanya mencarikan jodoh sebab dia telah dihukumi wajib nikah.
Arjuna meminta izin melakukan panggilan pada Abrisam atas fakta yang disampaikan. Sementara Efendi memejam, dadanya bergemuruh menanti jawaban Abrisam.
"Jadi bagaimana, Sam?" tanya Arjuna.
"Aku ...."
.
.
..._________________________...
__ADS_1
...Tolong, losddol kata lagi 😁...