Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 9. BELAJAR SABAR DARI LELE


__ADS_3

Keduanya lantas menyantap hidangan masing-masing. Lewat sudut mata, Kayshan menangkap sikap Elea yang tertata.


"Adabnya tinggi sekali. Dari cara makan saja dia sangat hati-hati. Benarkah Elea hanya gadis biasa? dalam CVnya tertulis dia sedang menempuh pendidikan guru, tapi jika orang berada takkan mungkin mau menekuni jenis pekerjaan seperti ini," batin Kayshan memperhatikan Elea diam-diam.


Sang pengasuh, sedikit tidak nyaman sebab makan satu meja berdua dengan pria asing. Dia izin menyingkir ke bangku lain yang kosong guna menikmati hidangan dengan tenang. Elea tidak tahu jika caranya ini mengundang perhatian Kayshan.


Sesi sarapan usai. Keduanya lantas berjalan beriringan meski berjarak, menuju kamar Gauri dan bersiap-siap ke Bandara. Saat akan menaiki lift, mereka bertemu Kamala di koridor berniat mencapai tujuan yang sama.


Ting. Pintu Iift terbuka.


Wanita paruh baya melirik sekilas ke lengan Elea yang membawakan jas putranya, saat melangkah masuk ke dalam lift. Kamala menduga bahwa Elea menaruh suka pada Kay.


"Lekas cari calon istri yang pantas. Katrin apa kabarnya?" tanya Kamala saat mereka di dalam lift.


"Entah ... nanti juga menikah, kalau Gauri sudah sehat. Aku tidak akan memilih wanita yang bukan pilihan putriku," balas Kayshan, menunduk agar lirikannya pada Elea lebih leluasa.


Yang dilirik justru malah asik menunduk seakan tak terganggu dengan kalimat Kamala.


"Gauri pasti akan oke saja dengan pilihanmu. Jangan berpatokan dengannya. Bisa jadi cucuku keliru mengenali niat seseorang," sambung sang mama, seakan sedang menegaskan sesuatu.


Kayshan menghela nafas. "Naluri anak kecil itu lebih akurat. Biarkan Gauri yang menyeleksi," imbuh Kayshan.


Percakapan singkat guna menyindir Elea terhenti kala lift terbuka di lantai tiga.


Saat knop pintu kamar diputar oleh Kayshan, pemandangan haru tengah menyelimuti ruangan.


Gauri memeluk Geisha sambil menangis. Kalimat kerinduan meluncur dari bibir bocah berusia empat tahun itu.


"Aku sayang Mama. Jangan lupakan aku, janji akan jadi anak baik dan tak menyusahkan Mama tapi jangan melupakanku. Aku ingin punya mama,” tangis Gauri, jemari mungilnya memeluk erat Geisha.


"Jangan pergi lagi. Aku mau minum obat agar sembuh. Aku patuh dengan Mama," imbuh Gauri kian erat memegangi baju Geisha.


Wanita cantik itu bergeming, dia tak menjawab apapun. Geisha hanya menangis.


Akibat rasa sakit hebat setelah melahirkan serta dihantui rasa cemas berlebihan dirinya bakal tak diterima di dunia model membuat Geisha memutuskan menjalani hidup child free.


Roger juga mendukung keputusannya untuk tak memiliki anak dalam hubungan pernikahan mereka. Geisha bingung, dia tidak dapat mengabulkan keinginan Gauri.


Pandangan memelas Geisha ditujukan pada Roger. Namun, lelaki itu bergeming dan terkesan acuh sehingga Geisha tak dapat merubah keputusannya.


Tangisan Gauri membuat Kamala trenyuh. Bahkan Elea menyingkir dari brangkar Gauri dan memilih merapikan koper. Hatinya ikut tersayat mendengar setiap kalimat permohonan si anak asuh. Netra sipit itu perlahan mengembun, teringat permintaan sang ayah kala mencegahnya pergi beberapa bulan silam.


Kamala menarik lengan Elea untuk dijadikan sandarannya menangis. Dia meluapkan kesedihan pada bahu sang suster yang berdiri menyamping dan berlawanan arah.


Kayshan yang berdiri di depan pintu sambil bersedekap, sangat jelas melihat raut wajah Elea tak jauh dari hadapannya. Bibir sensual itu mengulas senyum melihat pengasuh Gauri ikut menitikkan air mata.


"Kamu tulus sayang sama Oyi ya, Lele," gumam Kayshan, menunduk menyembunyikan senyum menawan.


Suasana haru berlangsung beberapa menit. Kayshan mengatakan bahwa Geisha boleh menemani Gauri di kabin yang sama saat terbang nanti.


Mereka pun bersiap sebab tim dokter dari rumah sakit Malaysia telah mengkonfirmasi dan menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


"Kemon Sayang, kita menjemput sehat," ujar Kayshan.


Keluarga Ghazwan bertolak keluar dari rumah sakit tanpa kehadiran Habrizi sebab sang dokter masih menangani pasien lain di ruang operasi. Dia berjanji akan menyusul secepatnya.


Perjalanan menuju Bandara terasa singkat sebab Gauri ditemani oleh dua wanita kesayangannya.


Menjelang lepas landas.


"Baca doa dulu, Sayang," bisik Elea. Dia memeluk Gauri agar balitanya tenang.


"Bismillahirrahmanirrahim ...." Elea menuntun Gauri membaca doa menaiki kendaraan.


"Aamiin ... Lele kenapa semua harus di awali dengan bismillah? apa artinya?" tanya Gauri, lirih seraya menyandar di lengan Elea.


"Sebab ada nama Allah di sana. Apapun yang kita lakukan, makan minum, naik kendaraan, mandi, ngerjain tugas sekolah, ucapkan bismillah maka akan bernilai ibadah," jelas Elea, lembut sembari mengusap kepala Gauri.


"Ibadah itu bukan salat saja?" imbuh sang bocah.


"Tidak. Semua yang kita kerjakan selama menyertakan nama Allah maka akan menjadi ibadah. Maka sejatinya hidup kita pun adalah ibadah, termasuk sakit," sambung Elea.


Kayshan yang duduk disamping Gauri mulai mendengarkan seksama penjelasan Elea.


"Sakit aku? masa ibadah, Lele. Kan aku gak salat seperti Lele," kata Gauri lagi, kali ini wajahnya menengadah menatap Elea.


Sang pengasuh, tersenyum manis. Dia menowel gemas hidung mancung Gauri.


"Makna sesungguhnya hidup itu wa maa kholaktuljinna wal insaana illa liya' budun. Ibadah. Kenapa sakit menjadi ternilai ibadah? Oyi tahu?" tanya Elea.


"Daddy pun?" tanya bocah ayu, heran menatap ayah sambungnya.


"Kita dengerin apa kata Lele," ajak Kayshan lagi. Keduanya kini melihat ke arah Elea membuat sang pengasuh canggung.


"Eehhmmm." Elea kehabisan kata ditatap intens lelaki tampan. Dia menunduk malu.


Gauri mulai cengengesan melihat sikap malu-malu Elea dan berbisik. "Gugup karena Daddy tampan, ya?" kekeh Gauri di telinga Elea.


Blush.


Wajah sang pengasuh merona hingga membuat Kay mengulas senyum dan mengalihkan pandangan.


Pesawat mulai lepas landas membuat percakapan mereka terjeda.


Beberapa menit kemudian, Gauri mendesak agar Elea menjelaskan jawaban atas pertanyaan yang terputus.


"Sakit itu akan ternilai sebagai ibadah jika lillah, dalam kondisi terjepit, susah, kalau berniat sabar karena Allah maka disebut demikian. Ibadah tidak hanya salat, ngaji, dzikir, sholawat atau sedekah saja tapi saat tak berdaya pun. Bahkan nilai tertinggi dari ibadah bukan apa yang Lele sebutkan tadi, loh," ungkap Elea, menoleh ke arah Gauri.


"Haah, jadi apa?" desak Gauri, kian penasaran.


"Nilai ibadah tertinggi itu ridho menerima ketetapan Allah. Dalam keadaan apapun, termasuk sakit," pungkas sang pengasuh, Elea tersenyum manis. Dia mengusap kepala Gauri lembut dan membubuhkan kecupan di sana.


Gauri mengerjapkan kelopak matanya, dia menatap tajam ke arah Elea lalu mendekapnya erat.

__ADS_1


"Jika Oyi sabar dan menerima semua rasa sakit ini, maka Tuhan akan mengabulkan semua doa Oyi?" cicit Gauri.


Kayshan takjub, Gauri sangat mudah berinteraksi dengan Elea bahkan berani mengekspresikan suasana hatinya. Penjelasan, tutur kata lembut Elea mampu membuat putrinya mencerna banyak hal secara sederhana.


"Jika Oyi memohon kesabaran, apakah Tuhan akan memberikan itu atau akan ngasih Oyi ujian agar jadi penyabar?" Elea bertanya balik.


Hening. Gauri mencerna.


"Ehm ... kalau Oyi minta mainan ke Daddy, biasanya Daddy juga ingin Oyi belajar sesuatu dahulu. Katanya sabar. Gitu kan?" sambung Elea pelan, memberi contoh.


"Iya iya betul," jawab Gauri mengangguk cepat, disambut kekehan Kayshan.


"Nah, sama macam Tuhan. Jadi apa dong?" giliran Elea bertanya.


"Nunggu?" tebak Gauri lagi.


Kayshan kian tertarik akan pembicaraan dua orang di sebelahnya.


"Lebih tepatnya, berproses. Bukan sekedar menunggu tapi Tuhan ingin kita belajar mendalami syukur terhadap apa yang dipunya dulu."


"Akibat permintaan tadi, Oyi akhirnya mempelajari hal baru bukan? Oyi sadar punya mainan banyak yang tidak terpakai, lalu merawat, menghargai barang-barang tadi atau memberikan mainan tak terpakai pada teman. Proses itulah yang menjadikan Oyi dapat sesuatu dari Daddy," terang Elea.


Gauri tersenyum, mengangguk mengerti. Sabar itu ya memang sesuai namanya, Sabar. Maknanya bukan menunggu dalam kesiaan tapi justru banyak hal baru akan ditemukan sebab proses penantian tersebut.


Kayshan memejam, bibirnya tak surut mengulas senyum. Dia bukan sekedar mendapatkan pengasuh tapi sekaligus guru untuknya dan Gauri. Elea bagai sosok ibu bagi Gauri sebab menciptakan rasa nyaman.


Tiba saat Gauri meminum obat. Elea pun beranjak ingin meminta air minum pada pramugari. Namun, petugas mengatakan agar dirinya menunggu di kabin saja.


Tak lama kemudian.


"Mrs. Ghazwan!" sebut wanita cantik berseragam maskapai penerbangan, berdiri di sisi bangku Elea.


Elea yang sedang membuka satu per satu obat di pangkuan dan membelakangi petugas, tak mengindahkan panggilan tadi. Toh, bukan namanya yang disebut.


"Mrs. Ghazwan, excuse me," kata pramugari tadi, mengulang panggilan.


"El, dipanggil," kata Kayshan memberi isyarat dengan dagunya ke arah samping.


Elea menengadah, dia kikuk. Tatapannya langsung tertuju pada Geisha yang juga sedang melihatnya.


"Mrs. Ghazwan. Ini mineral water, yang Anda minta," ucap pramugari, menyerahkan satu botol dan gelas pada Elea.


"A-aku--," Elea hendak menjelaskan dirinya bukan istri Kayshan tapi ucapannya dijeda.


"Terima kasih, Miss." Kayshan menjawab untuk Elea. Sementara Gauri senyam senyum penuh arti.


Jika Kayshan dan Gauri nampak sumringah, lain hal dengan Geisha. Dia kian tak suka dengan sosok Elea.


.


.

__ADS_1


..._____________________...


__ADS_2