
"Seksek!" bentak Gauri, melotot pada Shaka.
"Gagak!"
"Ssstttt. Dengerin bunda, anak saleh dan salihah itu harus bisa menjaga suaranya. Bicara yang lembut agar teman ngerti maksud omongan Gauri dan Shaka ... Juga tahu bahwa kalian adalah anak baik, jadi nanti kawan pun enggak takut kalau mau deketin, terus mereka bakal sayang sama Oyi dan Shaka. Ayo, baikan," tutur Elea, memeluk Gauri seraya menyodorkan lengan kanannya ke arah Shaka.
Bocah lelaki tampan itu mengerjap, melihat bergantian ke arah Elea dan teman tengilnya. "Ok-ee." Shaka membalas uluran tangan Gauri.
"Bukan haram! jangan lama-lama!" ketus Gauri, menepis tangan Shaka.
Elea dan Rose tertawa melihat sikap bocah perempuan cilik itu. Kosakata kurang tepat disertai pipi yang menggembung dan lirikan mata tajam membuat Gauri terlihat lucu.
"Yang betul itu mahram, bukan haram, Sayang. Oyi masih belum baligh, masih boleh, kok. Tapi kalau tidak mau bersentuhan dengan anak laki-laki, caranya gini, ya," kata Elea lagi di sela tawa.
Dia menangkupkan kedua telapak tangan mungil itu di depan dada Gauri, lalu menekan punggung atasnya pelan hingga sedikit menunduk.
"Aku?" tanya Shaka.
Elea mengangguk. Setelah itu dia bangkit dan izin pamit pada bu guru untuk mengajak Gauri pulang lebih awal. Kayshan membawa tas dan sepatu bocah itu sementara Elea menggendong Gauri.
"Nemu anak dimana, Bun?" goda Kayshan saat melihat Gauri memeluk leher Elea erat.
"Keranjang kuning pas flash sale bundling 99 kemarin," balas Elea disambut tawa Kayshan.
Sesampainya di pelataran parkir dan baru memasuki mobil. Terlihat Geisha menyambangi sekolah putrinya. Dia tampak membawa sesuatu dalam jinjingan. Ketika melihat mobil Kay, ibu kandung Gauri itu mengetuk kaca bagian kanan.
"Kay!"
Kayshan menoleh pada Elea, meminta izin guna membuka kaca pintu mobil.
"Buka saja, Mas," ujarnya.
"Daddy!" cicit Gauri, mengusek hidung lalu membenamkan wajah di dada Elea. Dia mulai mengantuk meski nafasnya sesekali masih tersenggal akibat menangis tadi.
"Bentar, Sayang. Mama kamu gak tahu mau ngapain lagi," sahut Kayshan.
Suami Elea menurunkan kaca mobilnya. Seketika wajah Geisha sumringah melihat Gauri di sana.
"Gauri! mama bawa boneka, nginep sama mama, yuk," kata Geisha membujuk putrinya agar bersedia ikut.
Gauri menggeleng, dia telah mendapat posisi nyaman di pelukan Lele.
"Loh, Kay, kok berduaan, sih. Kamu pake jasa dia lagi? lagipula dia kan suster Gauri, ngapain sebelahan sama kamu?" bisik Geisha saat melihat Elea mendekap putrinya.
__ADS_1
"He em, pilih Elea buat nemenin aku dan anak-anak nanti. Ngapa emang? Oyi yang milih dia," jawab Kayshan seraya memutar kunci starter.
"Gak pantes lah, duduk di belakang harusnya," lirih Geisha, menepuk pintu mobil Kay.
"Pantes gak pantes, itu urusan gue, Ghe. Dimana-mana tuh, posisi istri disamping suami, bukan belakang. Dah lah," imbuh Kay kesal. Dia menaikkan kaca pintunya dan parkir mundur, meninggalkan Geisha di sana.
Elea menoleh ke arah suaminya saat BMW X1 perlahan meninggalkan sekolah. Dia merasa Geisha bakal menggunakan Gauri untuk mendekati Kayshan.
"Mas, suami mbak Geisha dimana?"
"Singapura, Roger menggugat cerai Geisha pekan lalu. Dia menuntut Geisha berhijab dan mengajaknya hijrah tapi Ghe gak mau, jadilah stay lagi di sini," tutur Kayshan.
Kayshan meminta Gery menyelidiki Geisha, dan mendapat laporan tentang kisruh rumah tangga mantan kakak iparnya itu, ketika dia mengusik Kamala di rumah sakit.
Dia mengatakan bahwa ada gadis bernama Raline yang mengalihkan dunia Roger. Dia juga menyimpan data lengkap wanita berhijab asal Jakarta itu dalam laci kerja suaminya.
Geisha menuduh Raline penyebab Roger mulai berubah. Dia berkomitmen untuk tidak memiliki putra tapi kini lelaki itu memintanya hamil. Geisha merasa Roger melanggar perjanjian pernikahan mereka.
Putra bungsu Kamala menjelaskan perkara ini pada Elea.
"Lah, jadi dia nyari Raline apa gimana?" tanya Elea.
"Kayaknya gitu ... El, hati-hati kalau di rumah sendirian. Aku sudah minta orang rumah agar tak mengizinkan dia masuk tapi kalau kecolongan, diem saja di kamar, oke?"
"Lele, es krim," cicit Gauri. Matanya memejam tapi dia menghisap jempol.
"Eh, nge-mut? ... lepas dulu, gak baik buat gigi Oyi kalau gini." Elea melepas jempol dari mulut si bocah.
Gauri terbangun, mulai ngambek. Dia akan memukul Elea tapi tangannya ditahan Kayshan.
"Gak boleh gitu sama Bunda. Nanti kalau Bunda sakit, dan ngambek, kamu mau cari Bunda kemana? ... semenjak sekolah jadi bar-bar gara-gara berantem tiap hari sama Seksek," ucap Kayshan, kesal, sambil melirik tajam ke arah keponakannya.
Gauri menciut, dia berpaling muka ke arah pintu meski masih dipangkuan Elea. Kesal, sebab Kay sudah jarang membelanya.
"Lepas, Mas. Gak gitu caranya," cegah Elea, meminta Kay melepas cekalan tangan pada Gauri.
Gadis itu diam beberapa saat, lalu dia menengadah melihat wajah sang pengasuh. Tangan mungilnya menempeli pipi Elea.
"Bunda? Lele Bunda Oyi?"
Elea mengangguk, tersenyum sambil menempelkan kepalanya di dahi Gauri. Sementara Kayshan mengoceh. "Daritadi Nona cilik, Bunda Bunda, baru sadar?"
"Mas!"
__ADS_1
"Bunda Oyi?" tegasnya.
"Iya, Sayang. Bundanya Gauri Fizva anak daddy bukan nak kodok," kekeh Elea, mengangguk lalu mencium pipinya gemas.
"Bunda, Bundaaaaa ... Daddy, Oyi punya bundaaaaaa!" serunya girang, ingin berdiri melompat di atas pangkuan Elea.
"No! No! duduk, Bunda baru sembuh dari sakit," cegah Kayshan.
Elea merasa Gauri berubah, dia mulai sulit di kendalikan terlebih Kayshan terlihat sering mengancamnya. PR besar bagi Elea agar bocah ayu ini mengerti cara mengendalikan emosi dengan baik.
Kendaraan roda empat itu kini memasuki kawasan ruko. Mereka akan menjenguk Eiwa di rumah sakit.
...***...
Sementara di tempat lain.
Shin mendengar keluhan Kamala tentang Kayshan. Dia kecewa seakan tak dianggap meskipun kehadirannya tidak dibutuhkan tapi Kamala ingin Kay mendatanginya lebih dulu.
"Nanti kalau kamu nikah, jangan gitu ya, No. Namanya juga ibu, pengen lihat anak bungsu pake baju istimewa buat akad, nganterin, nyiapin dan lain-lain," keluh Kamala.
"Ya emang, gadis itu pilihan Kay. Mama ngerti kalau Kay itu manut sama guru. Tapi masa mama dilangkahi?" imbuhnya lagi. Kamala kesal.
"Ya iya sih, tapi urgent, Ma. Kan lebih cepat lebih baik. Mama gak salah, Kay juga gak sepenuhnya keliru ... jadi maunya Mama gimana biar diperbaiki oleh Kay," ujar Shin mencoba menjadi penengah.
"Gak tahulah. Sam lagi sibuk, ya, biasanya dia suka ngadem-ngadem ... Mama kangen kalian jadi anak manis kayak dulu gitu, loh. Mama gak benci kok sama Elea tapi gimana ya," sambung Kamala.
Shin tersenyum, paham isi hati wanita cantik di depannya. Ingin tetap diperhatikan oleh Kayshan tapi bingung cara menyampaikan hal tersebut sebab ada Elea yang juga berhak atas perhatian Kay.
Kamala juga pernah menjadi menantu dan istri, di masa ini, apalagi tengah dalam sakit tentulah ingin sang suami selalu disampingnya. Kamala takut ditinggalkan Kayshan.
"Elea gak gitu, kok. Sama kayak Afja dan Hanna, in sya Allah ... mereka satu circle meski tumbuh dengan cara berbeda. Ma, doakan mereka dan sampaikan ke Kay, pasti dia ngerti kok," kata Shin. "Nanti aku kenalin Hanna ke Mama deh, biar ada teman hang out, oke?" imbuhnya.
"Nah, gitu maunya Mama. Kayak kamu gini, Kay malah diem-diem aja."
"Kay itu keren, Ma. Dia nyimpen rasa cintanya sedemikian kuat, karena takut nafsu. Mama kudu bangga sama dia. Kesalahan Kay ya balik lagi, terburu sebab kuatir terjerumus hal yang gak baik, chat berdua blablabla ... udah ya, jangan ngambek nanti cantiknya nambah," kekeh Shin, seraya menyesap espresso dingin.
Kamala menghela nafas. Dia tak memiliki pasangan untuk berbagi gundah. Hanya Shin atau Sam yang kerap dimintai pendapat olehnya.
"No, kalau mama nikah lagi gimana?"
Pppffftttt. Isi gelasnya tumpah, Shin terkejut. Uhuk.
.
__ADS_1
.