
Kayshan membayar lunas tagihan. Ketika akan pamit, dia iba melihat pria paruh baya tidak dapat berjalan sebab tangan kanan dan kakinya di gips.
Paman Gauri lalu menawarkan bantuan terakhir dengan mengantar korban lakalantas pulang. Awalnya, pria paruh baya itu menolak tapi melihat kondisi emosi istrinya juga atas saran warga, dia pun menyetujui usulan Kayshan.
Dalam perjalanan, Gauri mulai rewel. Kayshan meminta izin untuk berhenti sejenak ke mini market untuk membeli es krim sebagai pengobat jenuh si balita lucunya.
Saat berjibaku dengan kerewelan Gauri, Kayshan berpikir bagaimana cara mereka bertahan hidup jika kondisi kepala keluarga seperti itu. Dia pun berinisiatif membeli kebutuhan bahan pokok untuk mereka.
"Daddy shopping," sorak Gauri melihat banyaknya belanjaan Kayshan yang di bawa petugas toko ke bagasi mobil mereka.
"Sedekah, buat Oyi dan Lele. Sayang, kalau nolongin orang jangan tanggung-tanggung. Bila kita mampu melakukan sesuatu yang lebih untuk mereka ya kerjakan," bisik Kayshan seraya mengecup pipi gembul Gauri lalu mendudukkannya di car seat depan.
Gauri mengangguk senang, dia membubuhkan dua kali kecupan basah di pipi sang paman. Balita cilik itu kian paham cara berbagi pada sesama.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Dia menghubungi sahabatnya Sam karena bakal terlambat menjemput. Suara bariton Sam, mengudara.
"Assalamualaikum, Sam. Gue telat jemput lo, gimana, nih? masih seputaran wilayah Bogor," kata Kay.
"Wa 'alaikumsalam. Gue di rumah Mano, dia baru balik dari Rumkit. Kajian bada Maghrib, kan?" ujar Sam diujung panggilan.
"Gue bawa mobil Mama. Gila aja, gak enak lah jamaah ke kajian masa pake ginian," balas Kayshan menimpali seraya terkekeh.
"Lah, gue juga gak pernah datang kajian bawa mobil meskipun ke habib Muh, kecuali mau antar beliau sowan atau taklim ... lebih lega pake motor. Gauri titip ibu saja nanti, kita ke Tazkiya boncengan," pungkas Samagaha mengakhiri panggilan.
Kayshan baru tahu kebiasaan Sam, sama sepertinya. Dalam perjalanan, dia berkali mengatakan pada Gauri bahwa akan di tinggal dengan ibu selama dua jam. Awalnya balita kecil itu rewel tapi begitu Kayshan bilang akan dikenalkan dengan sahabat Lele, dia mengangguk.
"Sahabat Lele punya rambut kayak mie instan. Oyi bisa belai asal minta izin sama onty, oke?" bujuk Kayshan sambil tertawa dengan keponakannya.
Pasangan korban mengamati sang penolong mereka. Sosok pria muda tampan, kaya, lembut dan saleh. Percakapan telepon, bujukan santun pada anak kecil di depan membuat korban malu sekaligus bersyukur ditolong olehnya.
"Hampura, Den. Belok kanan lalu belok kiri. Rumah kedua dari gang," ucap warga tadi.
Kayshan menoleh sekilas. "Oh, oke. Ini masuk satu lajur mobil saja ya, Kang?" tanya Kay.
"Iya, tapi gak usah masuk kalau susah, Den. Gak apa, nanti Kokom panggil warga sekitar buat angkat Kusni," imbuh si warga tadi.
Kayshan tak menanggapi, hanya tersenyum melihat ke arah korban. Dengan sedikit usaha karena body Alphard yang lebar dan panjang, akhirnya Kay berhasil masuk ke halaman kediaman mereka.
Warga tadi memanggil beberapa tetangga untuk menggotong Kusni masuk ke rumah sementara Kay membuka kaca mobil dimana Gauri duduk, juga bagasi untuk mengangkut bahan belanjaan.
Setelah semua tenang dan barang pemberian Kay tertata rapi, dia menggendong Gauri lalu pamit.
"Saya permisi, Kang." Kayshan berdiri di pintu ruang tengah hunian panggung sang korban.
"Eh, tunggu sebentar, Den ... Kom, Kokom!" panggil warga tadi.
Komariah mendekat, menunduk malu. Dia hanya duduk di samping suaminya.
"Pamit ya, Bu, Pak. Lekas sehat lagi," ujar Kayshan, mendekat dan menurunkan Gauri untuk salim pada keduanya.
__ADS_1
"Makasih, Den. Maaf sudah kasar tadi," balas Kokom, menunduk dalam.
Kusni melihat banyak sembako di sudut ruangan. Dia trenyuh, meski Kay tak mengatakan bahwa itu adalah pemberian darinya tapi Kusni tahu, darimana sumber semua ini berasal.
Kayshan menjelaskan tentang obat juga hal lain yang harus di perhatikan selama luka belum kering. Jika ada waktu, dia bakal main ke sini di lain kesempatan.
Kusni mengingat wajah tampan sang penolong. Dia bahkan meminta izin meminta nomer ponsel Kayshan untuk berterima kasih secara pantas jika telah sehat nanti.
Tak lama, penerus Ghazwan enterprise meninggalkan halaman rumah mereka dan melaju cepat menuju Jakarta.
Menjelang Maghrib, Kay tiba di lokasi. Dia langsung minta izin pada Ibu untuk menidurkan Gauri sebab harus menyuntikkan obat bagi keponakannya.
Sebelum pergi kajian, Kayshan membersihkan diri, meminjam baju sang sahabat serta memberikan petunjuk pada ibu bila Gauri rewel. Sementara Sam pamit pada Afja di ambang pintu kamarnya.
Kedua pria lantas pergi menggunakan sepeda motor matic milik Sam yang sengaja di simpan di kediaman Afja. Dalam perjalanan mereka, Kay bercerita tentang kejadian bertubi hari ini.
"Gila gak?" ujar Kay.
"Perjuangan lo dan gue beda, Kay. Gue mulus aja dapat restu ibu meski alot di awal. Tapi masalah Mano yang pengen capai impian dia dulu, itu bikin gue cemas. Lah, dia seger pinter gitu sementara kita setengah upgrade ... kalau pesona kita luntur di matanya, gimana coba?" ujar Sam di sambut tawa keduanya.
"Bener. El beda satu tahun dengan Afja ... pesona lakik sekitar El itu gak ada yang pake kaleng. Box kristal semua, Sam. Sama ajalah ketar-ketir," imbuh Kayshan.
"Kay, kuncinya ikhlas kalau untuk kasus lo itu. Siapa tahu, semua kejadian ini yang bakal bawa lo lebih dekat ke Elea ... lo punya Gauri, lahan buat buka jalur langit. Ahli sedekah jangan patah arang, oke?" sambung Sam membesarkan hati sahabatnya.
"He em, Sam," jawab Kay.
"Tiba-tiba di beri jalan, mendadak urusan lancar, segala hal membaik. Bisa jadi bukan karena ibadah kita yang hebat tapi sikap sederhana yang pernah dilakukan pada seseorang ... dan dia melantunkan doa menembus langit untuk kita," tutur Sam, menepuk lutut Kayshan dengan tangan kirinya.
Memiliki sahabat yang membawa lebih dekat pada kebaikan, mengingatkan syukur nikmat sejatinya adalah rezeki. Definisi keberkahan atas segala kucuran rahmat yang para hambaNya terima.
Kedua pria kembali ke hunian tunangan Sam menjelang jam sembilan malam. Kayshan langsung pamit pulang karena cemas akan kondisi Gauri dan langsung membawa balita kecil itu kontrol ke rumah sakit.
Kamala terkejut kala Kay mengatakan Gauri kembali rawat inap. Dia bergegas menuju Rumkit agar Kayshan dapat beristirahat.
"Kok bisa, Kay!" tegur Kamala saat melihat Kayshan rebahan di sofa dengan menutup kedua matanya memakai lengan.
"Kecapekan. Salahku, tapi gak apa, kok. Memang jadwal kontrol Gauri kan, Ma." Kayshan menanggapi tapi tidak merubah posisinya.
Kamala menggeleng kepala melihat perubahan putra bungsunya itu. Kayshan getol ikut Sam kemana-mana bila Minggu pagi. Ada saja kegiatan keduanya, yang terlihat bagai sepasang kekasih.
Dia juga tahu, Kay baru-baru ini bergabung dengan organisasi kemanusiaan milik Sam. Penyakit Gauri sedikit banyak membuat Kay bisa berbagi, memberi inspirasi, motivasi bagi Gauri juga dirinya untuk membantu anak-anak kurang mampu atau terlantar yang memiliki sakit serupa.
"Kamu juga jaga kesehatan, Kay. Biar bisa terus ikuti jejak sahabatmu agar maslahat untuk ummat," gumam Kamala, trenyuh melihat Kayshan.
"Hemm."
Dalam hening malam. Ponsel Kayshan berdering. Sebuah nama yang membuat Kamala geram, kembali mengusik mereka.
"Halo!" ujar Kamala, mengangkat panggilan Geisha.
__ADS_1
"Ma, Gauri apa kabar?" ujar Geisha.
"Baik. Ada lagi?" tanya Kamala judes.
"Aku di Jakarta. Ma, aku lelah, bolehkan menginap di Mama?" tanya Geisha memelas.
Kamala heran. Dia punya rumah pemberian Ken juga keluarganya pun di Jakarta. Kenapa malah meminta izin menginap di kediaman Ghazwan.
"Pulang ke rumahmu kan bisa, Ghe," sahut Kamala, melunak.
Geisha mengatakan bahwa dia rindu Gauri dan ingin memeluknya. Ibu kandung cucunya itu membeberkan rasa kehilangan sejak pertemuan mereka dan itu menjadi penyebab pertengkaran dengan Roger.
"Kalau sekedar main, lihat Gauri ya silakan saja. Tapi Ghe, mama kudu tegas sejak awal. Jangan berpikir turun ranjang!" kata Kamala, pelan tapi menusuk.
Glek.
"Kalian tiada hubungan lagi, jangan sampai Kayshan kena masalah atau skandal. GE sedang masa bertumbuh lagi setelah Ken melepas perusahaan ... biaya pengobatan Gauri juga gak sedikit. Kamu dilarang mengacaukan rencana dan usaha Kay!" ancam Kamala.
Tiada sahutan dari seberang. Geisha lalu meminta alamat rumah sakit dimana Gauri di rawat.
...***...
Zurich.
'Duhai rindu. Apakah warnamu sekelabu itu? Bagai Saranjana, tidak terdeteksi, tapi terasa ada. Mas dan Oyi, lagi apa?'
'Ternyata jarak lebih memabukkan daripada arak. Bila khamr itu haram maka bentang masa ini membuat rasaku karam. Sungguh menyakitkan kala rindu tak mengenal jeda apalagi mereda.'
'Apakah rinduku yang tak pandai menunggu? sebab aku tak tahu bagaimana caranya agar semua ini berkurang.'
"El?" panggil Efendi, memperhatikan Elea hanya diam memejam dan menunduk. Dia bangkit, menghampiri ranjang putrinya.
"Assalamualaika ya sayyidi Abul Qosim Muhammad bin Abdillah Al Hasyim Al Quraisy. Alaika ya Nabi, khatamal anbiya ya rahmatan lil alamiin ... titip pesan wahai kekasih Allah, sampaikan rindu milikku pada-Nya," lirih Elea.
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad ... El, pekan depan kita pulang. Buya gak bisa lama, kata Emran ada tragedi di rumah," ucap Efendi.
"Beik, Buya. Alhamdulillah," balas Elea. Senyumnya tersungging. Dia membelai tasbih juga menggenggam ujung mukena pemberian Kayshan yang dipakai.
"Kayshan mulu!" tegur Efendi, sambil lalu dan melanjutkan murojaahnya di sofa.
Blush. Elea merona sekaligus membola.
"Bu-buya?"
.
.
...______________________...
__ADS_1
...Toolong. Pak Sam bijak amat di sini 😅...