
BMW X1 itu perlahan memasuki kawasan Tazkiya. Kayshan memarkirkan mobilnya di sana dan membangunkan Gauri yang masih setengah terjaga.
"Sayang, turun bentar, yuk. Besok daddy mulai sibuk karena project om Sam harus segera dikerjakan," ujar Kayshan sebelum turun dari mobilnya.
"Mau apa?" tanya Gauri, melihat sekelilingnya.
"Minta ditemani main ke Lele pekan depan setelah Oyi kontrol. Kamu jangan aneh-aneh kayak tadi di toko," pesan sang paman.
Gauri mengangguk antusias, Kayshan beberapa kali mengajaknya ke sini sejak menjejakkan kaki di Indonesia lagi.
Penerus Ghazwan Enterprise menemui Hariri Salim sebab Ahmad masih dalam perjalanan pulang dari Majlis di kampung lain. Dia mengatakan akan menyampaikan pada putranya tapi melihat jadwal Ahmad, Hariri mengatakan semoga ada waktu luang yang cukup untuk pergi ke luar kota menemani Kay.
...***...
Malam hari, bada isya di Sentul.
Habrizi datang menjenguk Elea dengan sang ayah. Mereka langsung bertemu Efendi di kamar perawatan rumah sakit tapi tidak diizinkan melihat putrinya.
Tirai pembatas itu tertutup rapat sehingga tiada celah bagi para tamu guna melihat kondisi terkini Elea ataupun sebaliknya.
Hanya pembicaraan di sofa saja yang dapat Elea dengar. Pria yang dipanggil pak dokter itu sekali lagi mengajukan diri pada Efendi secara langsung.
"Buya paham, Nak Reezi akan sangat telaten mengurusi Elea karena memang bidangnya, kan. Tapi, di sisi lain, Nak Reezi juga punya beberapa tanggung jawab yang tak kalah penting dari Elea," kata Efendi memberikan isyarat halus.
"Ana paham, Buya. Tapi hal tersebut bukan kendala berarti. Jika masalah pekerjaan, ana pasti bisa memilah mana yang penting dan tidak," jawab Reezi.
"Kak, ishbir," cegah Hasbi menepuk paha putra sulungnya. (sabar)
"Tapi, Yah. Kita kan sudah sepakat," elak Reezi.
Hasbi menenangkan putranya. Isyarat Efendi jelas, menangguhkan pengajuan Reezi sebab alasan medis. Intinya Elea tidak akan diserahkan pada Reezi saat ini meski sang anak mumpuni.
Efendi menunduk. Dia tidak bisa menggunakan alasan serupa dengan saat keluarga Abrisam berkunjung karena Reezi adalah seorang profesional di bidang medis.
Hanya argumen kesehatan saja, yang akan dia suguhkan untuk menahan Reezi. Pada dasarnya, Efendi tak ingin Elea menjadi istri siapapun untuk saat ini meskipun Kayshan juga bakal datang meminta si bungsu.
Hasbi mengutarakan niatan Reezi dengan lebih luwes. Masalah hadir keturunan atau tidak bukanlah penghalang utama, telah ditegaskan oleh pemilik bisnis obat-obatan di Singapura ini. Tapi tampaknya keinginan Efendi telah kukuh, pimpinan As-Shofa itu tetap menolak secara halus.
"El akan ana bawa ke Zurich. Studi dan beasiswa yang dia dapat pun sedang di ajukan penangguhan oleh Emran ... juga, status Elea masih menggantung sebab jawaban nadzor seorang pria belum turun. Ana menerima antum tujuannya silaturahim saja. Berkenaan dengan niatan khitbah baiknya menunggu dulu," beber Efendi pada Hasbi.
"Sesungguhnya ana tidak ingin waktu El jadi sia-sia kala menempuh pendidikan. Semoga dapat diselesaikan semua, baru menikah. Namun, apalah daya manusia. Elea diberi nikmat seperti ini. Alhamdulillah jadi bisa istirahat ... kiranya jawaban kami jelas, alafu ya Akhi," pungkas Efendi.
Efendi menunduk, dia segan ditatap Hasbi meski usia pria itu lebih muda darinya. Bukan hanya masalah ilmu, status, juga kewibawaan tapi ini tentang rasa empati. Pimpinan As-Shofa juga meminta maaf karena langsung memberikan keputusan.
__ADS_1
"Ya kheir, fahimtu. Kami berterima kasih, telah diterima dengan baik. Tentang niatan, Reezi jelas menjabarkan ... harapan kami, jika suatu hari Elea berkenan, semoga ada jalan agar ibadah keduanya sempurna," pungkas Hasbi menutup obrolan serius mereka.
Habrizi terlihat tak bersemangat setelah sang ayah bangkit berdiri dan pamit pada Efendi. Pemilik As-Shofa itu memeluk Reezi, menepuk bahunya lembut seakan meminta maaf sekaligus memberi kekuatan padanya.
Setelah kepergian para tamu, Efendi menghela nafas lega, beban beratnya telah lepas. Dibandingkan dengan Abrisam, menolak Habrizi jauh lebih sungkan sebab dia unggul secara medis dan itulah yang Elea butuhkan.
Namun, mengingat Reezi adalah putra sulung keluarga ternama, keturunan orang saleh, tentu banyak hal yang dia emban. Efendi tidak ingin putrinya memikul beban terlalu berat.
Tirai pembatas brangkar itu akhirnya dibuka Efendi. Dia mendapati Elea tengah memegang tasbih seraya memejam. Lirih terdengar salawat dari bibir semerah Cherry.
"El, maaf ya. Buya jahat sama kamu," kata Efendi. "Kemarin ngasih Farshad ke Eiwa, sekarang menolak Reezi yang mumpuni segalanya. Tampan, kaya, saleh, cerdas dan punya pekerjaan mulia," ujar Efendi, mendekat dan duduk di ujung ranjang.
Elea membuka matanya, tersenyum ke arah sang ayah yang berada di ujung brangkar.
"Alhamdulillah. Allahumma khoiron fii kulli amrin antaziruh ... pada akhirnya, aku akan hidup dengan akhlak dan karakter dia, Buya. Bukan tampan dan dunianya," jawab Elea menatap manik mata sang ayah.
"Lelah menanti jodoh tiada sebanding dengan letihnya menikahi pria yang salah, Buya. Tidak perlu risau, bukankah jodoh itu tak jauh dari siapa kita?" sambung Elea.
Efendi mengangguk. Tersenyum penuh arti pada putrinya. Enam bulan lebih tidak bersua, ternyata membawa banyak perubahan besar di diri Elea.
"Jodohmu kelak gak sekedar baik, tapi tepat. Untuk rezekimu, sekitarmu juga masa depan kalian. Pada saat itu bukan lagi nangis karena disakiti tapi terharu sebab terlalu dicintai ... dia punya ruang maaf yang besar dan pelukan yang nyaman. Gak perlu jadi siapa-siapa, ya El," tutur Efendi, mendoakan putrinya.
"Aamiin ... Kayshan Ghazwan, aamiin," sahut Elea mengangguki ucapan ayahnya.
Efendi lalu mulai bebenah, dia masih memiliki jadwal kajian jam sembilan malam nanti. Sementara Elea melanjutkan aktivitas malamnya seperti biasa. Mengerjakan tugas kuliah yang masih bisa dijangkau sebelum dia libur lagi.
'Ya Allah, aku letakkan orang yang ku sayangi di bawah penjagaanMu. Pelihara lah dan lindungi lah di setiap langkah serta perbuatannya.'
'Murahkan rezekinya serta mudahkanlah segala urusannya, aamiin.'
'Kayshan Ghazwan, aku bisa saja mencuri masa untuk menghubungimu atau merengek pada manusia agar menyambung komunikasi secara sembunyi. Tapi cinta kita tidak serendah itu bukan? kau yang mengajariku untuk bersabar dan menahan diri. Sampai jumpa dalam untai lengkingan doa di setiap malam, ya Habibi.'
...***...
Lusa.
Efendi menerima panggilan video dari sahabatnya Haji Emran. Tampak gurat serius menggelayut di sana sebelum rona bahagia terpancar.
Elea memperhatikan seksama perubahan ekspresi sang ayah hingga panggilan itu berakhir dan Efendi memeluk Elea erat.
"Kita bebas, alhamdulillah bisa pergi berobat dengan tenang ya, El," ucap Efendi, mengusap pucuk kepala putrinya.
"Alhamdulillah," sahut Elea, sumringah. Langkahnya lebih ringan kini. Dia pun ingin sehat agar ketika kembali nanti, lebih siap di segala situasi.
__ADS_1
'Maaf, aku pergi dulu, ya. Gak lama, kok,' batin Elea menggenggam tasbih pemberian Kayshan.
Sementara di Jakarta, sore hari.
Gauri merengek terus menerus sepanjang hari, dia membujuk Kayshan bahkan Kamala untuk menemui Elea segera.
Balita yang mulai berangsur gendut lagi itu tidak mau turun dari mobil bahkan mengunci dirinya di sana. Kali ini Kayshan panik akan perbuatan Gauri. Dia tersulut emosi sebab terlampau cemas akan keselamatan keponakannya itu.
"Buka OYI!" seru Kayshan, mengetuk kaca mobil dengan keras.
Tuk. Tuk. Brag.
"Huwwaaaaaaa, Lele! Daddy jahat!" tangis Gauri makin jadi.
Gauri malah kian bersembunyi di dalam mobil, dia takut sebab dibentak Kayshan. Kamala akhirnya menyerah, dia mengangguk pada si bocah akan menemani menemui Elea besok pagi.
"Buka, Gauri. Iya, iya ke Elea. Buka dulu," bujuk Kamala seraya tersenyum dan mengangguk dari luar mobil.
"Ma, aku belum dapat izin. Jangan gitu, lah," cegah Kayshan. Dia tak ingin gegabah menghadapi Efendi yang jinak-jinak kambing.
"Sekarang Oma, sekarang aja!" rengek Gauri.
Kamala tak mengindahkan ucapan Kayshan, yang penting Gauri keluar dari mobil sebab khawatir keracunan karbondioksida seperti kebanyakan kasus di televisi.
Gauri menekan panel kunci, Kayshan membuka pintu dan langsung menyambar tubuh keponakannya. Dia peluk dan ciumi Gauri lalu tergesa membawa ke kamar.
"Ada yang sakit? Oyi pusing tidak?" cemas Kay memeriksa setiap jengkal badan Gauri.
Putri Ken menggeleng. "Lele Daddy. Maaf, Leleeeeee Daddy," tangisnya kembali pecah.
Kayshan tak menjawab, dia hanya menggendong Gauri dan memeluknya seraya mengusap lembut punggung si bocah.
"Daddy gak mau ngemis dan jadi pencuri, Sayang. Lele juga pasti ngerti usaha daddy. Kita akan jemput Lele dengan cara terbaik, oke? sabar ya," bisik Kayshan.
Gauri hanya mengangguk, dia lalu mendekap erat pamannya seakan saling menguatkan.
'El, ternyata ada yang lebih redup dari senja. Hati yang dibalut rindu tanpa temu. Wakafa billahi Syahida.'
.
.
...___________________________...
__ADS_1
...Haiyyah, 4 jam untuk 1341 kata. Hapus ketik mulu, 😵. Perjuangan demi like dan komen 😅. Syukron buat kesayangan yang selalu aktif jempolnya 😘😘....