
Kayshan mengajak Elea ke cafetaria sembari menunggu Asar. Mereka lantas duduk berseberangan di meja tengah, agar leluasa melihat ke luar ruangan jika ada suster yang mencari keduanya.
Sejak tadi, Elea terus diam dan menunduk karena sering memergoki Kayshan tengah mencuri pandang diam-diam. Ada sekelumit rasa yang hadir tapi tak berani dia simpulkan. Ternyata sikapnya ini mengundang reaksi gemas Kayshan.
"Hih, manisnya. Jadi gemeeesss sendiri. pengennya sih nanti ngebuka status tapi kayaknya sudah mendesak, daripada dia kabur."
"Bismillah. El ... Katrin itu hanya teman biasa. Aku tidak menjalin hubungan dengan siapapun saat ini, termasuk Geisha. Dia istri almarhum kakak sulungku, Ken. Artinya status beliau adalah mantan kakak ipar dan Roger itu suami Ghe yang baru," jelas Kayshan, masih menatap lekat gadis yang menunduk di hadapannya.
Elea menengadah. "Eh, jadi?" lirih sang gadis, melihat ke arah Kay, dan terburu menunduk lagi untuk menyembunyikan senyum samar.
Kayshan tersenyum. "Kok eh, kenapa hayo?" godanya.
"Enggh, m-maksudnya kenapa menjelaskan hal ini pada saya, Pak? kan ini urusan pribadi," elak Elea, gugup takut isi hatinya terbaca Kayshan.
"Biar kamu gak salah paham apalagi cemburu. Katrin dan aku pernah bersama tapi karena permintaan mama yang ingin aku pulang demi menjaga Gauri, kami pun putus. Dia tadi meminta CLBK cuma ku tolak," jujur Kayshan, masih memandang wajah ayu yang sesekali menunduk.
"Kenapa di tolak," sambar Elea, menengadahkan wajah. Dia penasaran.
Kayshan mengulas senyum menawan, tatapan matanya melembut membuat Elea seketika merona dan kembali menunduk.
"Ma-maaf, Pak." Elea kian tak enak hati sudah lancang bertanya. Jemarinya kini memilin ujung hijab, berharap Kay tidak tersinggung.
"Gemesin, ya." Kayshan terkekeh. "Hatiku mulai terisi seseorang. El, aku takkan menjalin hubungan dengan gadis manapun dan menjadikannya sebagai pendamping hidup jika bukan Gauri yang memilihkan untukku," ungkap Kayshan, sambil memainkan kotak tisu di atas meja.
"Kenapa?" tanya Elea lagi, kali ini tak mengangkat kepala. Dia takut terjebak oleh pandangan Kayshan.
"Karena aku sayang Gauri, andai nasabnya bisa diubah, sudah ku lakukan agar dia menjadi putriku lahir batin. Gauri obat lelah meski sangat pendiam. Dia hanya mau bicara jika ada hal penting, bahkan padaku ... tapi anehnya, tidak berlaku padamu," ungkap Kayshan.
Elea tak menanggapi. Hatinya menghangat atas semua pengakuan Kayshan barusan. Dia lalu pamit undur diri sebab sudah terlalu lama meninggalkan Gauri. Terpenting, dirinya kini tahu bahwa tidak merusak hubungan sang majikan dengan siapapun.
Kayshan mengangguk, menyilakan Elea pergi karena dia akan memesan makan malam bagi mereka dan membeli sesuatu di toko aksesoris. Malam ini, suster wanita akan menemani Elea gantian berjaga sehingga Kay leluasa berada di dalam kamar tanpa khawatir fitnah.
Saat menyusuri lorong.
Senyum manis terlukis di wajah ayu keturunan alim, Elea Narasya merasa bagai disiram air pegunungan nan sejuk. Hatinya ikut merasa tenang.
"Alhamdulillah, aku gak jadi tertuduh telah merusak hubungan orang," lirih Elea, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
"Eh, berarti Mas Kay bukan duda, ya. Lah iya ya, kan Oyi keponakannya," gumam Elea lagi, berhenti melangkah sambil menepuk jidatnya.
"Bodoh, El. Bodoh. Ku kira duda, gak tahunya perjaka, aaahhh," kekeh Elea, melanjutkan langkah sembari menggelengkan kepala pelan.
Elea Narasya tak henti mengulas senyum samar, hatinya bahagia entah karena apa sebab dia belum berani mengakui perasaan nyaman tersebut. Langkah sang pengasuh sesekali berjinjit manakala lorong terasa sepi. Jemari lentik itu bahkan menyentuh dinding sambil lirih mendendang lagu yang ditujukan untuk guru malah Elea gunakan sebagai ungkapan hati.
"Man ana man ana laulakum." Lagi-lagi dia bersikap konyol hingga tak menyadari bahwa langkahnya hampir menabrak seseorang.
"Eehh! maaf." Suara Habrizi, terpaksa menarik lengan Elea agar tak jatuh.
__ADS_1
"Eh, pak Dokter. Maaf," balas Elea, segera menepis cekalannya.
"El? Ehm, Gauri kok ditinggalin? tumben," ujar Reezi, berdiri di luar cluster.
"Ke cafe sebentar nyari pak Kayshan. Pak Dokter, sudah selesai?" tanya Elea, melihat Reezi membawa clutch ditangannya.
Habrizi mengangguk, lalu mengajak Elea berbincang sejenak di teras cluster. Mereka mengobrol tentang peristiwa perjumpaan yang tak disengaja hingga membahas film kartun kesukaan Elea.
"Gara-gara ditahan Pak Dokter, aku telat nonton Doraemon di bioskop. Bajuku juga basah, dimarahin Buya," kekeh Elea diikuti dokter tampan.
"Aku akan ke majlis saat haul nanti, kamu pulang, kan?" tanya Reezi padanya.
Elea hanya mengangguk. Dia enggan menjawab, sebab hati kerap berdenyut hebat manakala melihat pria itu di sana. Seseorang yang berhasil membuat Elea menjalani hidup dengan menjauhi keluarga sementara waktu.
Dari kejauhan, Kayshan melihat keakraban antara Elea dan Habrizi. Dia menduga sikap ramah sang pengasuh pada pria itu lantaran merasa nyaman atau bahkan menaruh suka.
"Apakah dokter Habrizi adalah lelaki yang Elea suka? akrab banget gitu, sih," gerutu Kayshan sambil berjalan ke arah mereka.
"El, tolong siapkan ini," pinta Kay, menyerahkan tas jinjing berisi makanan, agar Elea masuk ke kamar. Dia cemburu.
Elea menerima uluran bingkisan dari Kayshan dan pamit pada Reezi untuk masuk lebih dulu.
Paman Gauri, menyapa Reezi sebelum memasuki cluster. Dia mendengar penuturan beliau tentang perkembangan keponakannya setelah dokter muda itu memeriksa. Tak lama, Habrizi pun pamit.
Saat tengah menyajikan makan malam mereka di mini pantry, Kay menghampiri Elea.
"Tolong buatkan kopi ya, El. Aku kerja sebentar melihat laporan keuangan," ujar Kay sambil melihat ke arah ranjang Gauri.
Tak ada keluhan atau penolakan dari Elea. Hatinya sedang riang sehingga ketika Kay mengajaknya bicara bisnis pun, Elea menanggapi.
"Leleee!" rengek Gauri, dia baru bangun tidur menjelang Maghrib. "Leleee!"
"Ya, Sayang. Mandi yuk lalu makan. Daddy sudah siapkan menu kesukaan Oyi, krim sup di sana," kata Elea muncul dari balik tirai, mendekat ke brangkar dan menunjuk ke meja pantry.
Gauri mengangguk dan segera merentang lengan. Dia meminta pelukan.
Kayshan melanjutkan pekerjaan di sofa sementara Elea mengurus Gauri. Tawa canda sang pengasuh dengan si keponakan, menjadi mood booster bagi Kayshan sehingga dia tak sabar bergabung bersama mereka.
"Putri daddy dah wangi," ucap Kayshan mendekati ranjang kala Elea menaruh handuk basah bekas pakai.
Gauri tersenyum hingga gigi ompong itu terlihat. Dia membuka lengan dan meminta Kayshan memeluknya.
"Bun, makan yuk," kata Kayshan, berbisik ke telinga Gauri sebelum mendaratkan banyak kecupan basah di pipi si gembul.
"Bundaaaaa, makan," kata Gauri, di sela kekehan. Anak genius, mengerti isyarat Kayshan.
Kayshan tersenyum, dia mengajak Gauri tos lalu keduanya tertawa. Elea datang, mendorong serving table mendekati ranjang Gauri. Dia juga telah menyiapkan pinggan untuk Kayshan lengkap dengan minumnya.
__ADS_1
"Baca doa dulu," ujar Elea saat akan menyuapi Gauri.
Kayshan memperhatikan gadis itu, diam-diam meletakkan banyak makanan dalam pinggan yang masih kosong.
"Makanlah, biar aku yang melanjutkan. Bentar lagi Maghrib, kita salat jamaah di sini saja," ucap Kayshan, meminta mangkok Gauri dari Elea.
"Sudah habis kok," balas sang pengasuh. Dia lalu mendorong meja kecil tadi kembali ke sisi pantry.
"Habis, Daddy. Alhamdulillah." Gauri bersorak riang, makan malamnya menyenangkan.
Kayshan duduk di kursi samping ranjang, dia mengeluarkan sesuatu dari kantung celana bagian belakang.
"Daddy, itu apa?" lirih Gauri, melihat benda di tangan sang ayah sambung.
"Sssttt. Untuk Lele," bisik Kay, cengengesan dengan keponakannya.
"El!" panggil Kayshan kemudian saat melihat gadis itu selesai bebenah.
"Ya?" jawab Elea, menghampiri sang majikan. Dia melupakan makanannya.
"Ini, pakailah. Kayu gaharu asli, bisa sebagai aksesoris," kata Kayshan, menyodorkan benda berwarna coklat.
"Maa sya Allah, cantiknya. Buat Pak Kay saja, aku pernah pakai itu, kok," timpal Elea menolak pemberian Kay.
"Aku beli dua. Samaan," sahut Kay lagi, menunjukkan miliknya. "Sini, aku pakaikan," pancingnya.
Elea melihat benda tersebut, mirip bagai couple. Eh, memang berpasangan. Dia tanpa sadar menjulurkan pergelangan tangan kirinya.
Kayshan menahan senyum, wajah Elea terlihat berbinar saat melihat gelang kayu penuh ukiran indah di tangannya. Kay membuka telapak tangan bersiap menerima uluran Elea.
"Eh!" Elea menarik lengannya cepat. Dia menyadari kesalahan, akibat terlalu bahagia mendapat gelang mirip miliknya yang hilang dulu.
Bukan tak mampu membeli, tapi yang dibelikan Kayshan sangat indah karena untaian gelang kayu itu mempunyai bandul kecil dengan lafadz Allah. Mungkin Elea bakal melepas gantungannya nanti, agar tenang ketika akan memasuki toilet.
"Aku bisa sendiri." Elea membuka telapak tangannya berharap Kayshan menjatuhkan benda itu tepat di sana.
Kayshan lagi-lagi menggoda. Dia lama menggantung gelang itu di udara, hingga wajah Elea memerah karena malu. Tangan Kay terulur berpura akan mencubit pipi Elea tapi gadis itu mundur selangkah.
"Lele ish Lele," Gauri cengengesan, mulai menepuk sisi ranjangnya tanda dia gemas.
"Iiiihhh, Pak Kay. Cepat dong," cicit Elea merajuk dengan menghentakkan kaki kirinya pelan.
"Panggil Mas dulu," kekeh Kayshan sementara Gauri cekikikan melihat tingkah konyol sang pengasuh.
"Hah?" wajah Elea sukses melongo membuat Gauri tertawa renyah.
.
__ADS_1
.
...______________________...