Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 55. SEBUAH RASA DI MALAM TAK BIASA


__ADS_3

"Kay!" sebutnya lagi seraya berlari tergesa-gesa.


"Bang!" sahut Kayshan, terkejut ketika melihat Emran menyusulnya.


"Kenapa lagi dia? acara amal aman? aku saja yang nemenin El di ambulance. Mobilmu ngikut di belakang jadi biar langsung pulang ke Jakarta" ujar Emran bergegas naik ke mobil bersirine itu.


Kayshan mengangguk. Dia pamit pada Elea di sisa kesadaran istrinya. Ada rasa tak tega tapi saran Emran lebih efisien dan efektif.


Saat iringan dua mobil mulai berjalan meninggalkan rumah sakit, Elea melirik ke arah dimana kakaknya duduk. Jemari yang lunglai itu bergerak-gerak halus berharap Emran peka.


Usaha Elea berhasil, Emran mencondongkan tubuhnya dan mendekati wajah Elea.


"Titip dia. Jangan biarkan jatuh terpuruk jika aku tiada nanti." Suaranya sangat lirih dan lemah disertai sorot mata sendu.


Emran menepuk pipi sang adik pelan. Dia mengira Elea hanya berhalusinasi.


"Gak boleh ngomong gitu. Kan lagi berusaha sembuh, ikhtiar dengan herbal ... kamu kuat seperti biasanya, El!" kata sang kakak, menatap lekat adiknya yang terkulai.


"Sakit semua, Kak. Udah gak kuat," balas Elea, tanpa suara.


Wajah ayu yang terlihat sangat teduh malam ini perlahan menutupkan kelopak matanya, menyisakan butir bening yang luruh di sisi pelipis Elea.


Emran ikut merinding, dia menunduk seraya tak lepas bersalawat. Lelaki itu ikut menjatuhkan satu tetes pilunya melihat adik bungsu mengikuti jejak mendiang ibu mereka, sebagai seorang Kidney survivor.


"Jangan ambil dulu, adikku belum bahagia. Namun, andai menurutMu baik, kami bisa apa," gumam Emran, bergetar menahan pedih nan melingkupi kalbu.


Atmosfer kepiluan menyertai perjalanan hingga mereka tiba di Jakarta satu jam kemudian.


Kayshan panik saat dokter mengatakan bahwa kondisi Elea drop. Dia meminta Kamala membawa Gauri ke rumah sakit malam itu juga.


Entah apa yang melatari keputusan Kayshan itu, dia hanya merasa sesuatu bakal terjadi malam ini. Hatinya gelisah, meski dokter mengatakan akan berusaha mengupayakan hal terbaik bagi istrinya.


Sementara di Bogor.


Efendi panik bukan kepalang ketika mengetahui Elea pingsan dan kini telah ada di Jakarta. Dia langsung pamit pada semua kawan serta alim yang berada di sana.


Bayangan buruk itu kembali menghantui. Jika istrinya tak pernah merasakan gejala apapun dan langsung di vonis sebagai pasien ~Gagal Ginjal Kronis~ stadium lima, sehingga hanya dapat bertahan hidup selama dua bulan setelah melakukan Hemodialisa, lain hal dengan Elea.


Anak bungsunya justru terdeteksi lebih awal sehingga memungkinkan melakukan pengobatan lebih panjang. Peluang sehat untuk Elea masih terbuka tapi kondisi fisiknya ringkih, menjadi faktor lain yang harus dipertimbangkan.


Elea kerap kontradiktif dengan obat-obatan medis. Hanya mengandalkan kemampuan analisis kondisi tubuh yang kini dia lakukan, terhadap semua bahan makanan yang masuk.


Panggilan kilat pun tersambung pada Emran sebab Kay tak merespon. Nada dering sang menantu kerap terdengar sibuk atau bahkan lama tak dia jawab. Putra sulungnya menceritakan kondisi terkini Elea membuat Efendi kian gelisah.


"El, kuat, ya. Bertahan sebentar lagi, sampai buya lihat kamu senyum, tertawa lepas. Dikiiiiiiit lagi, El. Setelah itu, kalau kamu mau pulang, maka pulanglah."


Netra tua Efendi mengembun, hatinya sesak dan pilu. Banyak penyesalan yang timbul untuk anak emasnya itu.


"Lagi-lagi buya terlambat. Ampun, El, ampuni buya," cicitnya.

__ADS_1


Lelaki senja itu melepas kopiah, jemarinya mengusap wajah kasar teriring getaran bahu yang sebisa mungkin dia tahan.


Tubuh renta Efendi membungkuk, kedua lengan menopang kepala bertumpu menyentuh lututnya. Dia seakan meluapkan segala sesal nan tak terucap. Tarikan napas mulai terasa berat disertai tetes cairan yang menetes dari ujung hidungnya.


Khidmah yang berada dibalik kemudi, menyodorkan tisu untuk yai-nya. Dia pun cemas, seakan ikut merasakan gundah sang guru.


Menjelang tengah malam, Efendi tiba bersamaan dengan Kamala dan Gauri yang baru menyentuh lobby rumah sakit.


Kedatangan mereka disongsong Kay yang terlihat kusut. Wajah lelah dan gundah itu kentara, terlebih ketika Gauri meminta gendong padanya.


"Daddy, bunda?" tanya gadis kecil yang terlihat mengantuk.


"Di dalam, lagi bobok. Kalau mau masuk, Oyi harus diam, oke," ujar Kayshan.


Gauri mengangguk. Lelaki yang masih mengenakan koko dan sarung itu menyalami sang mama dan mertuanya lalu masuk ke dalam ruangan bersama-sama.


Bukan pertama kalinya Elea berbaring lemah di atas brangkar tapi malam ini suasananya terlihat berbeda.


Wajahnya sangat tenang, hembusan napas pun lembut membuat pergerakan dada naik turun secara halus.


"Bundaaaaaa," lirih Gauri. Wajah bulatnya seketika sendu. Rengekan menyentuh brangkar pun mulai datang.


"Biarkan Oyi disampingnya," kata Efendi, ikut trenyuh dengan gestur teman kecil putrinya ini.


Kayshan mengikuti arahan sang mertua, meletakkan Gauri di sebelah Elea. Dia mematung di sisi brangkar, memandang lekat wajah yang malam ini ingin dia rangkum lebih lama.


"Tidur, Kay. Biar buya yang jagain El malam ini."


"Baiknya ditunda, kondisi Elea gak memungkinkan untuk hadir di sana," saran Kamala berbisik lirih.


"Jangan. Lakukan saja, aku ingin mengikuti gaya Sam dan Afja, gak menunda sesuatu yang bisa kulakukan saat ini." Kayshan memejam, dia menghela nafas panjang dan berat.


"Nanti gimana?"


"Apapun itu, kita lihat nanti. Jangan cemas, aku akan menemukan cara agar El bisa hadir di sana. Ma, meskipun dia gak bilang tapi aku tahu impian Elea adalah diakui oleh Mama, dikenalkan pada keluarga besar dan kolega Ghazwan ... untuk urusan kuliah, sisa yudisium lalu wisuda. Aku sudah minta kawan buat bantu El."


Kamala melihat keputusasaan juga ketergesaan dalam kalimat Kayshan. Dia kali ini mengalah.


"Kay!" sebutnya ikut khawatir melihat Kayshan seperti ini.


"Aku gak tahu sampai kapan kita sama-sama. Dokter Amaya bilang semua tergantung kekuatan fisik dan mindset Elea untuk terus bertahan hidup ... andai kondisi ini membawa pada garis akhir GGK, waktuku kian sempit untuk mewujudkan semua impian Elea yang bahkan belum kuketahui."


"Kay!" Lagi, Kamala kini mere-mas erat lengan putranya.


"Ma, baru kali ini aku merasa takut," cicit Kayshan. Dia menyerah, menjatuhkan diri guna meleburkan sedih di atas pangkuan kaki Kamala.


Kamala mengangguk, sorot matanya ikut sendu dan mulai berkaca-kaca. Dia berniat bakal meloloskan segala keinginan mereka.


Tepukan lembut di bahu oleh sang mama membuat Kayshan nyaman hingga tanpa sadar terlelap didalamnya.

__ADS_1


Sementara di dalam kamar.


Elea perlahan membuka mata, dia menoleh ke kanan. Bibirnya tanpa sadar mengulas senyum, ada bocah gembul disamping yang sudah terlelap. Dia juga melihat ayah dan kakaknya duduk di sofa tapi enggan mengganggu mereka.


Putri bungsu Efendi memejam, lalu menarik napas panjang, susah payah hingga dia merasa tenaganya habis.


Sekali, dua kali. Sesak dan dingin mulai intens menyentuh raga.


"El!" sebut sebuah suara.


Wanita ayu perlahan membuka lagi kelopak mata yang tertutup. Dia menoleh ke kanan sedikit demi sedikit. Netra sipit Elea mengerjap beberapa kali pada sosok yang tersenyum sambil duduk di kursi samping brangkar.


Lamat, bibir tipis itu mengulas senyum samar dan bergetar menyebut sebuah nama. Air matanya ikut tumpah kala sosok tadi menanyakan sesuatu.


"Sakit, ya?"


"Iya, sakit semua, Ummaaaa. El gak kuat, sakit," lirih Elea, menumpahkan keluh kesah hingga dadanya naik turun cepat.


"Mau pulang aja?" tanyanya dengan suara lembut. Dia mengusap wajah sang putri bungsu dengan jemarinya.


"Gak bisa. Mas Kay dan Oyi bagaimana nanti?" imbuhnya, air mata Elea kian deras mengucur.


"Banyak yang jagain Masmu. Oyi juga akan baik-baik saja."


"Aku sayang Mas, Ummaa. Sayang Oyi juga. Aku, aku." Tangis Elea pecah. Matanya tiba-tiba tak dapat menangkap objek dengan benar saat ini. Dia pun mulai sesak kembali, tangan kiri yang terpasang infus menggapai udara seakan meminta dukungan sang ibu.


Dadanya terhimpit sesuatu hingga peluh mulai terasa luruh dari dahi.


Jemari mereka bertaut, Elea menyambut dan menggenggam erat meski merasakan nyeri di pergelangan tangan. Beberapa kali matanya memejam rapat hingga dahinya mengernyit saat gelombang sakit itu datang.


"El, sudah siap?" tanya suara lembut lagi, kini menyeka keringat putrinya.


Jeda. Hanya suara tarikan napas tersengal-sengal yang terdengar di seluruh ruang.


"Gak apa, El. Kamu boleh pergi kalau sudah capek," suara umma perlahan terdengar berubah, tapi tautan jemari enggan Elea lepaskan.


Elea menoleh ke arah kanan lagi dengan sisa tenaga meski masih berlinang air mata. Pandangan sosok ibunya mulai kabur berganti perlahan menjadi wajah teduh seseorang yang juga sedang menangis sepertinya.


"Buyaaaa!" lirih Elea, nyaris tanpa suara, memejam sekilas guna meluruhkan butir bening.


"Pulanglah. Kayshan akan kami jaga. Bu-buya ikhlas."


"Buya!" sentak seseorang dari ujung ranjang, tak terima akan ucapan Efendi.


"He em--" Suaranya tercekat di tenggorokan, anggukan samar menjadi tanda jika dia setuju dengan ucapan Efendi. Pandangan penuh cinta serta senyuman menawan disuguhkan untuk Elea meski hatinya remuk.


.


.

__ADS_1


..._____________________...


__ADS_2