Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
59. BERSIAP JALAN-JALAN


__ADS_3

Tenaga medis tengah sibuk memeriksa Elea saat Kayshan terjaga dari tidurnya. Seketika pandangan menantu Efendi itu melemah.


Dia ditarik Kamala menepi agar dokter Amaya leluasa. Sudah bukan masanya meneteskan air mata jika kondisi Elea drop. Pasangan ibu dan anak itu khusyu merapal doa.


10 menit dalam ketegangan, akhirnya dokter Amaya bersuara.


"HD nanti sore, ya. Beliau sudah siuman tapi sikonnya lemah. Ada bed kosong bada asar, seharusnya kan pagi tadi," tutur sang dokter tertuju pada Kayshan yang berdiri di dekat tirai penyekat ruangan.


Kayshan hanya mengangguk, fokusnya berubah-ubah. Sesekali melirik ke Elea, lalu bergantian melihat ke arah dokter.


"O-oke. Bagaimana kondisi istriku, Dok?"


"Hemodialisa adalah penyangga hidup para survivor, Pak Kay. Kondisi begini itu biasa dialami pasien ... satu-satunya booster adalah semangat juang, dan saya yakin Bu Elea memiliki itu," tegasnya, tersenyum kemudian berlalu pergi keluar ruangan.


Kamala mengantar sang dokter hingga ke ambang pintu sementara Kay langsung duduk di sisi ranjang.


"Sakit, ya?" ucap Kayshan, hati-hati saat mengusap lengan Elea.


"He em. Sakit semua, alhamdulillah berarti aku masih hidup," lirih Elea memaksakan senyum.


"Mau makan apa?" tanya Kay, mengabaikan ucapan Elea jika sudah menjurus ke sana.


"Gak ingin apapun. Bisa minta tolong jemput Oyi lebih cepat, Mas?"


Kayshan mengangguk, seraya membenarkan helai rambut yang menyembul dari sisi pashmina Elea yang tidak terikat dengan rapi.


"Buya juga. Tapi Mas jangan kemana-mana, minta tolong orang lain saja," sambung Elea lagi.


Helaan nafas Elea mulai sesak lagi, kepala pun didera pusing hebat. Dia beringsut mencari posisi nyaman meski tetap berbaring.


"Oke. Ada lagi?" Kay langsung berkirim pesan pada Efendi agar segera ke rumah sakit juga Gery untuk menjemput Gauri.


Elea tak menjawab, dia hanya memandang lekat wajah pria yang duduk menempelinya dari sisi brangkar. Jemari kanannya terangkat, membelai pipi kanan Kay.


'Dingin.' Kayshan merasakan sentuhan telapak tangan Elea sedikit lembab di pipinya tapi dia menepis rasa hati. Istrinya hanya sedang drop.


"Alhamdulillah ... masih inget kan syarat aku, Mas?" lirih Elea.


"Sya! aku gak suka kalau kamu mulai pesimis lagi," balas Kayshan, meraih tangan Elea dan mengecupnya.


"Kan dulu janji," desaknya.


"Iya, ingat. Sudah, ah. Besok kita jalan-jalan," ujar Kayshan, mengecup dahinya sekilas.


Elea diam, wajahnya terlihat sendu tapi sejurus kemudian dia tersenyum manis.


"He em. Jalan-jalan," lirih Elea, perlahan memejamkan mata.


Gauri tiba tepat ketika Elea baru saja terlelap. Gadis itu enggan melepaskan diri bahkan kala brangkar tantenya didorong ke ruangan HD, bocah tengil itu mengamuk.


Menjelang malam, Elea memohon ingin pulang dan dokter Amaya mengizinkan sebab tiba-tiba kondisi sang pasien bisa dikatakan lumayan baik dibandingkan sebelumnya.


Sesampainya di rumah.


Gauri langsung tidur di sisi Elea. Kayshan melarang sebab biasanya setelah HD, istrinya itu merasakan mual-mual apalagi sekarang ada janin bersemayam di tubuh Elea.


"Biar, cuma sampai besok, kok." Elea menahan lengan Kayshan yang akan memindahkan bocah kecil itu.


"Apanya yang sampai besok?"


"Tidur di sini."


Kayshan menggeleng samar, lagi-lagi dia susah payah menepis gundah di hati sepanjang hari ini.


Di luar kamar, keluarga Elea berkumpul menambah ketakutan Kayshan. Efendi bahkan meminta doa dari para alim kenalannya.


Suasana malam ini terasa mencekam bagi Kayshan. Dia bahkan tidak berani beranjak dari sisi ranjang.


"Kay, tidur gih. Gantian sama Buya," kata Emran masuk ke kamar mereka.


Kayshan menggeleng, dia lalu memindahkan Gauri ke tempat tidur yang disiapkan Kamala di lantai. "Aku gak ngantuk, Bang."


Ketiga pria saling pandang, Emran memutuskan tidur lebih dulu. Hatinya juga sama gundah entah mengapa. Sementara Efendi, menekuk lutut di tepi ranjang, membelai wajah ayu putrinya yang kian tirus.

__ADS_1


"Maafin buya, ya, El."


Penyakit kronis tidak serta merta hadir. Sebetulnya tubuh telah memberikan signal. Hanya saja kita kerap mengabaikan.


Selain itu, trauma masa lalu, luka batin, kekecewaan, kebencian, yang belum tuntas bisa menjadi pemicu. Untuk itulah, muslim yang baik diminta untuk selalu menghindari hasad atau penyakit hati.


Efendi terus membacakan ayat ruqyah di sisi putrinya. Dia sesekali menyeka butir sedih yang perlahan luruh begitu saja.


'Jangan datang malam ini,' batinnya.


Menjelang tengah malam, Emran gantian melanjutkan apa yang ayahnya baca sejak bada isya tadi. Sementara Kayshan tak luput bersalawat sembari memeluk istrinya.


Tepat pukul tiga dini hari, Elea terjaga. Dia membangunkan Kayshan.


"Mas, mandi, yuk," bisiknya manja mengguncang lengan Kay.


Emran tak sengaja terlelap, bersama Gauri. Kondisi kamar saat itu mendadak damai.


"Sudah mau subuh, ya?" kata Kay, dengan suara khas bangun tidur.


Elea mengangguk. Dia lantas bangun lebih dulu, melepas pengait dan penahan bekas kasa rembesan darah di kedua lengannya. Lalu perlahan turun.


"Aku siapkan air untuk mandi, ya. Tunggu di sini," titah Kay, beranjak menuju bathroom.


Elea mengangguk meski tatapannya tertuju ke lemari. Dia perlahan melangkah dan membukanya, lalu mengeluarkan gamis yang belum pernah dipakai.


Netranya lalu tertuju ke rak bawah, dia pun mengeluarkan satu bundel pakaian syar'i terakhir para wanita, yang belum terjahit dari sana. Benda itu ialah syarat pernikahan mereka dulu. Jemari Elea membelainya lembut.


"Mau kemana?" tanya Kayshan heran saat melihat Elea termangu mematut diri di depan lemari yang pintunya terbuka.


"Jalan-jalan," ujarnya sumringah. Elea mengeluarkan kotak yang dia pegang tadi dan meletakkannya di depan lemari.


"Masa sepagi ini dah siap-siap." Kay menuntun Elea ke kamar mandi, matanya sekilas mengenali kotak besar di lantai.


Deg.


"Kan sekalian mandi biar wangi," ucap Elea sumringah.


Kayshan meneguk saliva susah payah. Jantungnya bergemuruh hebat. Dia tanpa sadar memeluk wanitanya erat.


Elea mengajak suaminya serta saat shower mulai mengguyur tubuhnya. Kayshan pasrah, dia mengikuti segala keinginan sang istri.


Wangi semerbak memenuhi kamar pasangan Ghazwan. Mulai parfum, bukhur, semua menguarkan aroma menenangkan.


"Ngapain dandan jam segini, Sayang?" tegur Kayshan lagi. "Kan mau qiyamullail doang," sambungnya ketika melihat Elea di depan meja rias sedang memakai make-up.


"Ish, aku pengen syantik lah. Jarang-jarang badan enakan dibawa ini itu sepagi ini."


Lagi-lagi Kayshan hanya diam, kemudian keduanya menunaikan ibadah. Elea sudah menyiapkan mushaf di sisi ranjang dan menuntaskan juz 30 tepat saat adzan subuh terdengar.


"Ayo cepat salat, Mas." Elea sangat semangat, dia seperti bukan seorang survivor pagi itu.


Emran terbangun kala Kayshan menepuk lengannya pelan. Wajah kakak Elea itu sedikit lega melihat adiknya sudah di atas sajadah tapi sejurus kemudian cemas kembali.


"El, pucet amat." Emran bangkit seraya mengusap pucuk kepala adiknya sebelum keluar kamar.


"Lah, pucet. Dia seger gitu, kok, Bang," tampik Kayshan, menyangkal ucapan kakak iparnya.


Elea hanya tersenyum. Keduanya lantas menunaikan salat subuh berjamaah. Elea masih sempat dzikir pagi sebelum suaranya mulai melemah.


Kayshan sadar, dia berbalik badan dan langsung mendekap istrinya. "Sya!" suaranya parau.


"Mas, bukan terapinya atau pengobatan medis yang gagal ... tapi aku yang menyerah. Jadi jngan sesali apapun."


"Enggak, Sayang. Kamu kuat, demi kita, kan," lirih Kayshan mulai berkaca-kaca.


Lagi-lagi senyum wanita ikhlas itu terulas. "Menyerah bukan sama penyakitnya ... tapi membaur, aku ingin berjuang demi kamu dan anak kita, tapi waktuku habis," balas Elea, menjulurkan tangan menghapus satu butir bening yang jatuh di pipi Kayshan.


"Enggak, Sya. Jangan berani lakukan ini sama aku," jawab Kay, tak lagi peduli, dia mulai terisak.


Pandangan Elea melirik ke arah kanan, dia seakan menyambut seseorang dengan senyuman ayunya.


"Semua sudah aku tunaikan, bukan? ... Oyi sudah lancar bicara, utang gelar sarjana pada buya, menikah dengan pria yang ku cintai, serta mengandung buah cintanya," ucap Elea. Kali ini air matanya ikut jatuh.

__ADS_1


"Juga mme-maaf-kkan Eiwa dan Farshad."


Elea memejam, menahan sesuatu yang mulai menusuk di ujung kaki.


"Sya, please. Kasihani aku," tutur Kayshan kian deras mengeluarkan lelehan pedih.


"Semoga aku jadi kenangan terindahmu, ya, Mas ... Ma-af. Maaaa-aafff!"


Kayshan berkali menggeleng kuat. Dia memeluk, tak peduli jika Elea kesakitan sebab enggan mendengar ucapan selanjutnya.


Elea mendorong bahu suaminya dengan tenaga tersisa. Peluh mulai menghinggapi sebagian dahi yang tertutup mukena.


Kedua tatapan mata pasangan Ghazwan saling menelisik lekat, meski sama berhias lelehan air mata.


Tangan Elea kembali terjulur, membelai wajah cinta terindahnya. Dia memejam, meluruhkan segala genangan yang menghalangi pandangan.


"Ma-af aku bawa dia. Bukan tidak percaya padamu, tapi dia adalah cermin dirimu dan obat rinduku ... pada M-maass."


Kayshan mengecup semua bagian wajah istrinya, dia memeluk Elea lagi, kian erat. "Enggak, Sya!"


Tangisan Elea sedikit mengejan, disertai napas tersenggal.


Putra Kamala mulai sadar, waktu mereka kian sempit. Dia menegarkan diri. "Allah, Sayang ... Allah," bisik Kayshan menepis isakan sekuat tenaga, sembari masih memeluknya.


"Allaahh."


"Lagi, Sya. Allah ... Allah," tuntun Kayshan jelas.


"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad ... Allah ... Allaaaaaaah."


Perlahan, tangan dalam dekapan itu terasa lemas. Kayshan merasakan begitu lembut tarikan akhir Elea. Tanpa kesakitan.


Bahu tegap itu tergugu. Air matanya kian deras mengalir.


"Ee-ll ...." Dia berucap kepayahan.


"Elea Narasya bintu E-eeffeendii ... aku ikhlas dan ridho padamu, Sayang ... aku saksinya, ya Allah. Dia istriku yang sempurna," ucap Kayshan mengelus pucuk kepala Elea.


Kayshan memandang wajah Elea dan mencium bibir semanis chery, lalu menumpahkan tangis di bahu wanitanya. Sungguh, istri cantiknya ini membawa semua yang dia punya.


"Sayang, selamat jalan-jalan. Kamu sudah gak sakit lagi," bisiknya di sela isak. "Tega, kamu, Sya!" Tubuh Kayshan terguncang hebat.


"Leleeeeeee!" teriakan Gauri mendorong paksa pintu kamar pamannya. Kamala dan Efendi pun tergesa mengikuti bocah gempal itu.


Pemandangan pilu mereka dapati. Gauri meraung menarik baju Kayshan. Namun, Kamala langsung menggendong sang cucu dan menenangkannya.


"Kay ... E-eell?" tanya Efendi terbata.


Tangisan Gauri menggema sehingga Kamala keluar kamar kemudian Emran ikut masuk.


Efendi menekuk lutut, duduk bersimpuh di dekat Kayshan yang masih memeluk putrinya sembari menangis.


Tangan tua itu gemetar, saat meraih pergelangan tangan Elea yang terkulai di sisi tubuh Kay.


"Allahu Akbar." Pria tua itu menunduk dalam, seketika menutup wajahnya. Efendi ikut terisak.


"El! maafin buya!"


Emran tak kuasa menunggu lagi, dia ikut berjongkok di sana, ikut menyentuh tangan adiknya.


Tak lama, butir beningnya jatuh, suara beratnya kian parau saat mengucap, "Innalilahi wa inna ... ilaihi rojiun."


Kamala masuk lagi dengan menggendong Gauri yang sudah lebih tenang. Dia terpana. "E-eell? ... K-kaayyy?"


"Lelee!" Gauri memeluk leher neneknya erat. Dan tak lama, gadis itu diam.


"Gauri!" pekik Kamala panik. Dia lantas berlari keluar meski sendi lututnya terasa sakit.


.


.


..._________________...

__ADS_1


Maaf kalau susunan kalimatnya gak bagus. Typo dsb. Gakkan di revisi, bisa kelar nulis bab ini aja Alhamdulillah.


__ADS_2