Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 34. PARA PENGGANGGU


__ADS_3

Geisha datang ke rumah sakit tepat dini hari saat Kamala telah terlelap. Dia membuka pintu kamar di antar oleh suster. Langkahnya pendek-pendek, berharap penghuni kamar tidak terbangun kala dia mendekat ke brangkar Gauri dan duduk di sana.


"Gauri, ini mama," lirih Geisha mengusap pelan telapak tangan kiri yang sudah tak terpasang infus.


Dia menelisik ke setiap bagian muka dan tubuh putrinya. Gauri sudah lebih montok dibandingkan beberapa bulan lalu saat mereka kali pertama bertemu. Senyum samar pun melukis rona sendu di wajah seorang model ternama.


Pandangannya kini menyapu sekeliling, dia melihat Kamala yang berbaring di ekstra bed. Keriput mulai menghias wajah senja wanita ini. Meski sangat merawat diri tapi tetap saja guratan halus tercetak jelas, tak dapat melawan masa.


Geisha lalu beralih ke sofa dimana Kayshan tidur, senyumnya kembali muncul. Sosok pria itu sangat berbeda dengan Ken, sang kakak. Kayshan terlihat lebih kalem, pendiam dan lembut. Pantas bila Gauri menempel ketat padanya.


Ibu kandung Gauri turun dari sisi ranjang, menyambar selimut yang tidak digunakan putrinya. Dia mendekati sofa berniat menutupi tubuh Kayshan.


"Tak payah lah, kau bagi care. Nak paut hati aku?" sergah Kayshan, menyindir Geisha menggunakan bahasa melayu, dia terbangun dan menepis selimut yang hendak tersampir.


Glek. Geisha mundur selangkah membuat selimut itu luruh ke lantai. Dia terkejut akan reaksi mantan adik iparnya.


"Buruk sangka melulu, sama seperti Mama ... lagian pede amat sih, gue naksir lo, Kay," cicit Geisha, duduk di sofa single.


"Kalau kau punye pikir. You ni kan wanita dah berkawin, Ghe. Tak patut lah, besikap macam tu. Tepi tepi," kata Kay, mengusir mantan iparnya.


Kayshan baru saja bermimpi pada masa dia masih memegang pekerjaan lamanya saat di perusahaan otomotif. Di kelilingi wanita cantik, entah mengapa membuat hati gusar dan seketika terbangun.


Putra Kamala menuju kamar mandi, bersiap subuh lalu mengambil obat Gauri sebelum pulang. Hari ini jadwal kerja pun padat. Kemarin dia tak sempat hadir di pernikahan Sam sebab menjaga Gauri dan hal itu membuat dirinya kesal.


Saat sarapan.


Kamala mengindahkan kehadiran Geisha, begitupun dengan Kayshan. Hanya Gauri yang tersenyum padanya tapi dia segan mendekat sebab sikap Kay seakan tak memberi izin untuk menghampiri sang mama.


Kayshan sedang cemburu karena Gauri terlihat rindu pada Geisha, dia tak ingin balita menggemaskan ini mengalihkan perhatian selain untuknya.


"Daddy, don't be sad. Aku tetap luv Daddy," bisik Gauri, menepuk pelan lengan Kayshan sembari tersenyum dan mengunyah makanannya.


"Nyengir mulu, dasar anak Lele!" sungut Kayshan tanpa suara, saat menyuapinya.


Gauri terkekeh, dia menepuk berkali serving table karena bahagia disebut sebagai putri Elea. "Anak Lele, Oyi anak Lele," ulangya lagi.


Kamala yang melihat keceriaan cucunya jika nama sang pengasuh disebut menjadi kian yakin bahwa sosok gadis itulah yang akan Kayshan pilih sebagai pendampingnya nanti.


Lelaki tampan yang sudah rapi, menggendong Gauri menuju lobby diikuti Geisha. Semua keperluannya telah rampung, dia berencana akan mencari sekolah bagi si kecil agar dapat bersosialisasi dengan banyak anak sebaya.


Nampaknya, awal hari Kayshan sungguh berat. Satu wanita belum menyingkir, malah datang lagi lainnya. Dia berjalan cepat meninggalkan Geisha juga sang mama.


"Gauri, hallooo!" sapa Katrin, membawa boneka panda juga coklat, menyongsong si pria tampan.

__ADS_1


Kayshan memutar bola mata jengah, dia melengos mengambil jalur pintu sebelah, menghindari Katrin.


"Kay! ya ampun, judes amat muka Pak Bos pagi ini," ucap Katrin mengekori Kayshan.


Tiada sahutan, Kay terus melangkah ke parkiran dimana BMW X1 nya berada. Bip. Bip.


Gauri dia dudukkan di car seat depan, lalu Kay memutar arah menuju pintu kemudi. Seperti biasanya, gadis dengan pakaian seksi itu ikut masuk begitu saja. Namun, agaknya kali ini dia bertemu lawan sepadan.


"Eh, mau apa?" kata Geisha, berlari kecil dan tergesa menarik lengan Katrin saat akan duduk di jok belakang.


"Heh, siapa lo!" tanya Katrin sinis, menepis cekalan sambil memicingkan matanya menatap Geisha dari atas ke bawah.


"Mamanya Gauri, gak sopan ya, lo! main samber aja," jawab Geisha, berdiri memegang pintu dan menaikkan satu lengannya ke pinggang.


"Kenapa lagi ini ribut-ribut? Bukannya bantuin mama, ya," tegur Kamala, saat mengetuk kaca mobil belakang agar Kay membuka bagasi.


Kliik. Kamala menarik tuas pintu kabin.


"Pagi, Maaaa," sapa Katrin, tersenyum manis menghampiri Kamala dan menyalaminya.


"Ehm, Pagi. Ngapain kamu ke sini? mau numpang sarapan lagi sama Kay?" kekeh Kamala saat melihat Katrin.


"Ah, Mama. Jenguk Gauri, lah," balas Katrin cengengesan.


Bluk. Suara pintu mobil di tutup Geisha.


"Ghe, ngapain di situ? kamu pulang dulu sana," ujar Kamala, sembari menutup pintu bagasi dan mengetuk kaca mobil Kay dua kali.


Kayshan menyalakan mesin mobilnya, paham isyarat Kamala meski tatapan Gauri mulai mengiba.


"Eh, kan mau ikut Gauri, Ma," jawab Geisha, menurunkan kakinya dari jok mobil.


"Ada Kayshan yang ngurusin anakmu. Jangan mendadak sok peduli. Kamu boleh jenguk dia tapi hak asuh ada pada Kay ... ingat kan pesanku semalam?" imbuh Kamala.


"Tapi, Ma?" bantah Geisha, menatap iba dan gelisah saat lengannya ditarik sang mantan mertua.


Kamala menutup pintu mobil putranya dan tak lama kendaraan Kayshan meninggalkan pelataran rumah sakit.


"Pulang ke orang tuamu dulu. Sapa mereka, lagipula kamu masih berstatus istri Roger ... dan kamu, hoy, Katrin ya? kamu kerja dimana? jam segini kok belum ngantor?" tegur Kamala untuk kedua wanita muda di depannya.


"Eh, i-iyaa Ma. A-aku berangkat sekarang," gagap Katrin, terburu berbalik badan meninggalkan mereka.


Istri Ghazwan Khalid itu melenggang menuju mobilnya. Dia juga masih memiliki kewenangan, tanggung jawab pekerjaan di GE dan hari ini ada beberapa rapat yang harus dihadiri.

__ADS_1


"Ma!" sebut Geisha berusaha ikut dengan Kamala.


"Biar kata udah sepuh, mama ini masih kerja, Ghe. Sudah, sudah ... jangan buat mama telat," imbuh Kamala, naik ke mobilnya dan menutup pintu begitu saja.


Geisha menggigit bibir, dia bingung ingin pergi kemana. Apartemen peninggalan Ken telah dia sewakan sementara hunian orang tuanya bukanlah tempat nyaman untuk beristirahat sebab Roger pasti menyogok mereka dan mendesak Geisha agar lekas kembali.


"Gara-gara Raline! apa sih istimewanya gadis itu, cuma pake hijab doang!" sungut Geisha kesal ketika mendapati foto gadis cantik dengan biodata lengkap, tersimpan apik di laci meja kerja Roger.


...***...


Sementara itu, di belahan bumi Eropa.


Efendi bertemu seseorang yang akrab dengannya selama beberapa bulan ini, sebab dirinya terlibat dalam proyek amal sang habaib.


Kebetulan, sosok beliau yang sulit di temui ini akan melakukan lawatan dimana dia berada. Efendi menunggu habib Muh di resto sebuah hotel.


"Assalamualaikum, Bib," sapa Efendi menyambut habib Muh tiba.


"Wa 'alaikumsalam. Langsung saja ya, waktu ana gak banyak. Kemarin ke lokasi dan taklim, aksesnya harus di perbaiki agar mobil aman melintas ... untung yang bawa kendaraan kemarin itu ahlinya, jadi nyaman-nyaman aja meski bukan pergi dengan Nak Sam," ungkap Habib Muh.


"Ya kheir. Akan ana sampaikan ke pengurus operasional ... launching kapan, Bib? baliho, iklan dan sebagainya?" sambung Efendi lagi.


"Kalau masalah itu, tunggu konfirmasi dari Nak Sam. Dia juga merekomendasikan agency top untuk backup izin periklanan ... nah, Nak Sam baru zuad kemarin. Beri jeda waktu dua hari saja bagaimana? antum sudah kembali ke indo belum?" beber sang habib. (nikah)


Efendi pun mengutarakan rencananya dalam dua hari ke depan. Dia juga bersedia berkoordinasi dengan nama pria yang baru saja di sebut oleh Habib Muh.


Keduanya lantas bercengkrama sejenak sebelum Efendi pamit.


"Bib, doain putri ana dapat jodoh yang baik," imbuh Efendi seraya bangkit.


"Eh? bukannya calon di sekitar antum banyak, Ji? ... kesayangan ana sudah sold out. Cari yang kayak apa, sih?" kekeh beliau.


"Barangkali ada pandangan lain, Bib," timpal Efendi sebelum benar-benar berpisah.


"Ada beberapa, tapi ana belum yakin," balas Habib Muh, melepas senyuman penuh arti saat tatapan Efendi menyiratkan rasa penasaran.


.


.


...________________________...


Revisi edit nanti ya kalau ada typo atau kalimat kurang pas. Jangan lupa subscribe, rate dan support mommy. Luv ❤️

__ADS_1



__ADS_2