Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 53. BUKALAPAK


__ADS_3

Elea tak berkutik ketika Kayshan menariknya lebih dekat, mulai duduk berhimpitan hingga menautkan jemari saling membagi kehangatan.


Keringat dingin Elea muncul ketika Kay membantu melepaskan mukena yang enggan dia tanggalkan. Wajah oval itu menunduk, menyembunyikan rona jingga akibat interaksi intim, tanpa obrolan. Hanya sentuhan lembut yang sesekali Kayshan berikan pada bidadari dunianya.


Putri Efendi paham, malam ini mungkin Kay meminta sesuatu yang telah menjadi haknya. Namun, El merasa keringat yang mengucur kian deras, dia lantas menghindar dan bangun guna membersihkan diri lagi, ke kamar mandi.


Terdengar tawa kecil Kayshan melihat istrinya tersipu, dia lalu mengambil baju ganti untuk Elea dari goodie bag laundry. Kay membeli beberapa gaun tidur, gamis, hijab dan semua kelengkapan muslimah melalui Gisel, sekretarisnya, setelah melihat isi lemari Elea sewaktu di Bogor pagi tadi.


"Sya, lekas." Kay mengetuk pintu kamar mandi dan menggantungkan tas belanja di knop pintu.


Tak ada sahutan dari dalam, Kay pun menunggu sambil menyandar di tembok samping pintu. Ketika knop berputar perlahan, sudut bibir Kay mengulas senyum. Tangan putih yang terjulur mengambil tas, berhias butir air itu sungguh menggoda Kayshan untuk langsung menjamahnya.


Pria dewasa lalu meletakkan jemari tangannya menyentuh mulut, gigi putih Kay menggigit ujung bibir kanan, dia mulai gemas sendiri, menahan gejolak rasa.


"Eeeehhhh!" pekik El, terkejut kala tiba-tiba tubuhnya melayang di udara tepat saat dia baru saja keluar dari bathroom.


Setelah itu, suara penghuni kamar tak lagi terdengar. Hanya aura hangat yang menjalar perlahan di atas peraduan, merambat memenuhi udara master bedroom putra kebanggan Kamala.


Pukul tiga pagi, alarm jam meja berbunyi, Elea memicing sebab pupilnya masih menyesuaikan dengan cahaya minim di kamar.


Elea beringsut sangat pelan menjauhi suaminya. Dia mulai merasakan lagi nyeri di pinggang setelah aktivitas halal tengah malam tadi.


Saat selimut baru tersingkap, tangan kekar Kay menarik pinggangnya lagi. Lelaki itu tak mengizinkan Elea turun dari sana.


"Sejam lagi." Suara berat Kay terdengar. "Tinggal mandi karena udah wudhu 'kan tadi," imbuhnya.


"Qiyamullail."


"Ehm, kejap lagi. Tolong ambil tabku, Sya. Buka email atau e-commerce ... cek keranjang belanja, yang ku pilih sudah sesuai belum dengan kesukaanmu," gumam Kay. Kini dia menggeser posisi, menempelkan wajah ke panggul dan mengalungkan kedua lengannya melingkari pinggang Elea.


"Gimana ngambilnya? kan susah," kata Elea, menusuk lengan Kay yang melingkar, beberapa kali dengan telunjuknya.


"Nanti lagi kalau gitu," ujar Kay dengan nada malas.


"Mas, sakit. Ke rumah sakit dulu, ya, nanti," pinta Elea, lirih.


Kayshan menengadah, membuka paksa kelopak mata yang masih terasa berat.


"Ke rumah sakit bilang ke dokter habis bukalapak? gak malu apa?" kekeh Kayshan, menggigit kecil pinggang Elea.


"Ish, bukan itu ... pinggangku yang sakit, masa langsung HD, sih. Aku masih bisa keringetan, ke kamar mandi juga gak sesering dulu. Aku gak mau," cicit Elea, menunduk hingga surai yang menjuntai menutupi wajahnya.


Kayshan langsung bangun dari posisi berbaring. Dia mendadak dilanda cemas mendengar penuturan Elea barusan. Jemarinya menyingkap anak rambut dan menyelipkan ke belakang telinga sehingga wajah malu-malu itu terlihat.


"Apa tadi itu memperparah kondisi kamu, ya? salahku gak konsul dulu ... mana lagi yang sakit, Sya?" kata Kay, meraih dagu Elea agar bersitatap dengannya.


Meski Elea menggeleng pelan tapi Kayshan mulai mengusap pinggang sang istri dan memintanya berbaring miring.


Nyeri yang dulu, mulai kambuh lagi. Kadang terasa kuat tak jarang hanya sekilat sakit bagai tersengat. Perjumpaan dengan Herbalis rujukan dokter Amaya pun belum terlaksana akibat pernikahan dadakan mereka.

__ADS_1


Menantu Efendi menata tilam agar lebih tinggi sehingga istrinya nyaman berbaring. Meski Elea menghindari kontak mata dengan Kay, lelaki itu berpura acuh. Dia malah menunjukkan semua persiapan yang direncanakan Kamala petang tadi.


"Iya sudah, itu saja," cicit Elea memejam, menahan nyeri.


"Oke, aku selesaikan satu perkara dulu. Rabu malam pembukaan acara amal Sam dan Habib Muh, kita stay di Bogor ... aku daftarkan kamu untuk konsul besok," tutur Kayshan, gerak cepat menyelesaikan semua urusannya.


"Mas, kalau HD gimana nanti?"


"Sssttt, nanti ketemu sama Afja, hasil konsul dokter kita bawa ke istri Sam. Banyak cara, Sya," kata Kay, meyakinkan istrinya agar tetap optimis.


"A-ku bisa ha--."


"Bisa, Sya. Bisa! kalaupun enggak ya sudah, ngurangin tanggung jawab di akhirat. Inget arsitek Bahrain gak? dia malah mendedikasikan diri untuk menjadi orang tua asuh bagi ratusan anak yatim hingga mereka sukses. Kayak SidoGeni Edustar, ActZi juga YazZi ... aku ikut andil di salah satu yayasan Sam itu. Yang penting kita sama-sama, kan?" pungkas Kayshan, ikut berbaring disampingnya.


"Mama?"


"Ada Oyi! ... gak usah mikir yang aneh-aneh. Dengerin, cinta itu haknya Allah, yang nurunin, datengin, dan bolak balik hati. Kalau kita diberikan cinta, tujuannya dua ... menguji apakah akan lebih dekat padaNya atau sebaliknya, ngikutin nafsu, padahal Rosulullah pun tidak melakukan asbab hal tersebut."


"Tapi, Mas ... kan boleh, ehm po--."


"Mustahil bisa adil, Sya. Jelas loh, kata-kata Allah, boleh jika sanggup. Namun, adil versi istri, bukan suami. Gimana cara menakarnya? Ya susah."


"Memang boleh tapi aku 'kan punya pilihan. Banyak yang lupa ayat setelahnya ... dan sungguh kamu tidak akan sanggup meskipun ingin berlaku adil. Para pria pura-pura amnesia di situ. Padahal segala perbuatan Rosulullah dibimbing Allah. Gak bisa alfaqr macam kita sok-sokan nyamain," pungkas Kay.


Elea hanya menyimpul seulas senyum manis mendengar Kayshan menjabarkan sudut pandang tentang mendua. Lelaki itu kemudian merangsek memeluknya dan meminta izin membuka ponsel Elea.


Kecurigaan Kayshan terbukti, istrinya bersikap dingin siang tadi ternyata karena sebuah foto dan video dirinya saat bermesraan dengan Katrin.


Putri Efendi diam-diam tersenyum, tangan kirinya mengusap lembut rambut yang menempel di bahunya.


"Apalagi yang mau kamu ketahui, Sayang? tanya aja, jangan kayak siang tadi. Jujur, aku bingung kudu gimana ... anaknya Buya itu kayak porselen, kesenggol bisa pecah," sambung Kay.


"Nanti tanya kalau Allah buka aib Mas lagi. Mau qiyamullail malah gak jadi. Udah tahrim," balas El.


Keduanya lantas bersiap menjelang subuh. Kay yang telah terbiasa mengurus Gauri kini cekatan membantu istrinya bersiap ibadah fajar.


Tangisan Gauri terdengar setelah pasangan Ghazwan selesai salat. Keponakan Kay menerobos masuk ke ruangan mereka dan menarik Elea menuju kamarnya.


Rutinitas nyonya muda Ghazwan bertambah manakala Kamala memintanya meladeni suguhan sarapan saat di meja makan. Meski Kay melarang, tapi Elea justru merasa dianggap oleh sang mertua karena dilibatkan dalam urusan rumah.


Tiba waktunya mengantar Gauri ke sekolah. Gadis cilik itu antusias saat melambaikan tangan pada Elea.


"Dadah Bunda, Daddy!" seru Gauri dengan suara nyaring.


"Bye Salihah." Elea membalas lambaian bocah tengil itu sembari melirik ke arah Shaka yang tersenyum padanya saat melintas.


"Ganjen, masih kecil dah cengar-cengir, tau aja tuh bocah ada cewek cakep," gerutu Kay, langsung mendorong tubuh istrinya menjauh dari gerbang sekolah.


"Bocah kok ya di cemburuin!"

__ADS_1


Wakil CEO GE melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Dokter Amaya mengenalkan Elea dengan seseorang yang membuat Kay melongo.


"Afja! ya ampun, kalau tau Herbalis itu kamu, aku gakkan antar istriku ke sini," keluh Kayshan.


Afjameha tertawa renyah. "Ya mana tahu. Ini istri Pak Kay? yolo, syantiknya," sapa Afja, menyalami Elea.


"Halo Mbak Afja, saya El."


"Afja saja."


Kay lalu mendengarkan analisa dokter Amaya tentang Elea. Mengunjungi room HD dan sebagainya.


"Pilihan. Jika masih sanggup, dan kondisi Kidney pada pemeriksaan akhir masih bisa Anda tolerir, silakan. Mengkonsumsi jus sehat bisa mengurangi dampak setelah HD," ungkap sang dokter pada pasangan Ghazwan di depan Afja.


"Semangat sehat!" ujar Afja, memberi genggaman kuat pada jemari Elea.


Kedua wanita tampak langsung akrab membuat Kay tak perlu risau jika Elea menjalin komunikasi khusus dengannya.


...***...


Kesibukan pasangan Ghazwan akhirnya menemui puncak. Keluarga Kayshan mengunjungi kediaman Efendi untuk prosesi lamaran meski Elea datang dengan rombongan suaminya.


Kesepakatan tercapai, resepsi bakal di gelar satu pekan kemudian di dua tempat berbeda. Saat akan pamit, sebuah kalimat tak mengenakkan terdengar Elea.


"Mertuamu keliatannya judes gitu, semoga sayang sama kamu, El."


"In sya Allah sayang, lah. El 'kan mantu satu-satunya," jawab Deeza menatap sinis pada Eiwa.


Elea tak menanggapi, dia hanya diam. Namun, ketika Kamala akan pamit, putri Efendi menyongsongnya.


"El, mama pulang duluan sama Gauri. Jangan capek-capek, karena acara kalian padat pekan depan ... titip Kay, ya. Lekas pulang ke rumah lagi, mama gak ada teman," tutur Kamala, memeluk menantunya dan meminta pada Efendi agar menjaga kesehatan Elea.


"Iya, Ma. Setelah malam amal, langsung pulang, kok," balas Elea, mengusap lengan sang mertua.


"Tentu, Nyonya, jangan cemas," sahut pemilik As-Shofa.


Deeza menyenggol lengan Eiwa yang berdiri di belakang Efendi.


"Noh, baeeekkkk bener, kan? tampang aja bar-bar hati Hello Kitty," bisik Deeza melirik Eiwa sekilas sebelum dia bergabung dengan Elea yang telah melangkah ke depan mengantar rombongan pulang.


"Ya 'kan aku cemas adikku diperlakukan gak baik, Za!" bela Eiwa untuk dirinya.


Sementara di tempat lainnya.


"Kok gini, sih! harusnya kan tengkaaarrrr! aarrghhh!" serunya melempar gawai ke atas meja.


.


.

__ADS_1


...______________________...


__ADS_2