
"Teman kecil? mana ada di sini," ujar Elea, dia urung pergi dan duduk di kursi dekat brangkar.
Panggilan Bun yang ditujukan padanya oleh Kayshan sungguh mengganggu pendengaran Elea. Dia tidak ingin salah tafsir ataupun menampung harapan terlalu cepat dari orang tua Gauri.
Dia tak ingin merusak hubungan Kayshan dengan Geisha meski ada pria lain disamping ibu kandung Gauri itu. Elea masih tidak paham keterikatan hubungan di antara mereka semua.
"Ada, Daddy punya sahabat yang punya toko jualan teman kecil, kan?" jawab Gauri asal, sambil melirik ke arah Kayshan yang kini berdiri di ujung ranjang. Dia masih membelakangi Elea.
"Ehhhhmmmm, ada. Tapi daddy gak tahu teman kecil yang Oyi minta macam mana. Kamu masih belum boleh banyak gerak, Sayang. Daddy ajak siapa dong, buat bawain teman kecil kamu?" tanya Kayshan, tersenyum melihat putrinya.
Elea bingung. Dia tak paham apa yang sedang mereka bicarakan. Teman kecil seperti apa? bayi ataukah hal lainnya. Pikir sang pengasuh.
"Maksudnya gimana, sih?" tanya Elea beralih pandang pada keduanya.
Bukannya menjawab, pasangan paman dan anak malah cekikikan. Kayshan justru ingin menggoda Elea lagi.
"Kamu pikir teman kecil yang dimaksud Oyi, apa?" ujar Kay, melihat ke arah Elea masih sambil tersenyum.
"Entah. Baby?" jawab Elea seraya menunduk malu.
Jika Kayshan mengembangkan senyuman penuh arti, lain halnya Gauri. Dia kegirangan, sebab memang menginginkan bayi. Gadis cilik itu bahkan tertawa riang, Elea paham isi hati dan meminta Kayshan segera membawakan apa yang dia mau.
"Yeeaaa, baby, baby. Daddy lekas," sorak Gauri bertepuk tangan pelan.
"Kamu tuh ya, pikirannya nyampe ke baby. Yuk bikin," pancing Kayshan lagi, menggoda Elea yang masih menunduk.
Mendengar kata ajakan, sontak membuat kepala gadis ayu terangkat. Elea mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali dengan cepat.
"Apa?" kata Elea, membola. Dia menilai Kayshan tak sopan padanya.
"Eh, salah. Maksudnya ayo ikut aku," ajak Kay.
"Enggak. Maaf Pak, saya bukan gadis se--," bantah Elea, dia tersinggung.
Gauri masih cengengesan melihat pengasuhnya merajuk. Sementara Kay mulai gelisah, Elea salah paham terhadap ucapannya.
"Canda, Mbak El. Tahu kok, Anda wanita berprinsip. Ikut saja, ini jauh dari ekspektasi yang kamu pikirkan. Nanti juga tahu, lagipula kita akan menuju sebuah tempat di keramaian. Masih di rumah sakit kok," pungkas Kayshan, memilih pergi lebih dulu.
"Lele, Daddy gak jahat. Ayo, ikuti Daddy dan bawa teman kecil buat aku," lirih Gauri, melihat dari ekor matanya.
Elea bingung, tapi dia bangkit dan mengikuti Kayshan keluar kamar. Kamala yang melihat interaksi mereka hanya menggelengkan kepala. Putranya mulai sering bersikap sok akrab di depan Elea.
__ADS_1
Langkah kaki panjang Kayshan diikuti oleh Elea. Lelaki itu memilih menuruni tangga berjalan daripada menggunakan lift. Kay sengaja ingin mengajak Elea berjalan jauh dengannya.
Tibalah mereka di satu toko penjual mainan anak. Kini, Elea paham arti dari teman kecil. Dia merasa bersalah pada Kayshan telah menuduhnya macam-macam.
"Nah, tolong kamu pilihkan. Kesukaan Gauri seperti apa," ujar Kay saat berada di ambalan yang memajang aneka boneka bayi.
Elea melihat sekeliling, banyak pilihan bagus di sana hingga dia mengambil satu boneka yang memiliki fitur lebih canggih dengan manik mata bagai Gauri.
"Ini saja." Elea menyerahkan boneka tersebut pada Kayshan.
"Bawalah ... aku gendong yang betulan saja nanti," kata Kay sambil lalu.
Elea makin tak enak hati. Sepanjang jarak menuju kasir, dia berpikir hingga pada akhirnya Elea menyembunyikan senyum manis di belakang Kayshan.
Setelah keluar dari toko, keduanya berpapasan dengan Habrizi yang akan menuju ke kamar Gauri. Sapaan hangat sang dokter pada Elea membuat Kayshan mendadak jengah.
"Hai El, Pak Kay. Wah, El, lagi latihan nimang bayi?" goda Reezi sembari mengulas senyum menawan.
"Halo Dokter. Jadi bolak balik, nih," balas Kay.
"Demi Gauri. Saya juga punya pasien berstatus dalam pengawasan di sini, jadi sekalian," ungkap Reezi melihat sekilas pada Kayshan.
Kayshan hanya ber-O ria atas pernyataan Reezi.
"Ya kan latihan dulu," imbuh sang dokter, terkekeh melihat sikap Elea.
"Au ah. Aku duluan," pungkas Elea melangkahi keduanya.
Habrizi tertawa renyah dibuatnya. Sikap ramah dokter muda dan respon santai yang diberikan Elea, sukses membuat Kayshan merasa jomplang. Elea sangat formal terhadapnya, sehingga terkesan memiliki dua sisi kepribadian bertolak belakang.
"Anda sepertinya kenal dekat dengan Elea," selidik Kayshan.
"Alhamdulillah, masih berhubungan baik bahkan dengan kakaknya. Dia gigih meski keras kepala, tapi itulah Elea, sempurna," puji Habrizi, tersenyum mengingat perkenalan pertama kali mereka.
"Benar. Sempurna, calon istri idaman," imbuh Kayshan.
"Orang seperti kita, hanya beruntung jika mendapatkan sosok bagai Elea. Dia sulit dijangkau," ungkap Habrizi.
"Maksudnya, Dokter?" balas Kay, penasaran.
Reezi hanya tersenyum, mengendikkan bahu lalu masuk ke kamar Gauri. Dia juga mengincar Elea sejak dulu tapi usahanya tertahan sebab gadis itu menyiratkan penolakan secara halus.
__ADS_1
Gauri amat bahagia mendapat boneka bayi yang dia idamkan dari Elea. Dia melupakan sikap judes untuk Habrizi kala dokter tampan itu memeriksanya.
Kayshan lagi-lagi mendapati sikap hangat Elea pada Habrizi. Dia makin terusik hingga meninggalkan keduanya dan memilih duduk dengan Kamala di sofa.
"Pilih calon istri yang benar. Jangan seperti Geisha. Inget umur sudah mendekati bujang lapuk," ucap Kamala lagi, meski tak melihat Kay sebab tengah melihat majalah.
"Baru tiga dua belum pat puluh. Pasti milih yang salihah dong. Bukan AMS," sahut Kayshan, memejam dan bersandar di sofa.
"Apa itu AMS," tanya Kamala, dia berhenti membalik halaman majalah.
"Asal Mama Senang." Kayshan lalu melipat kaki dan bersedekap. Dia tiba-tiba merasa lelah sebab memikirkan pekerjaan juga banyak hal lainnya.
Kamala tertawa kecil mendengar ocehan sang anak. Dia menggelengkan kepalanya dan melanjutkan membuka katalog mode.
Beberapa menit kemudian.
Habrizi pamit pada Kay dan Kamala. Dia mengatakan akan datang kembali lusa nanti dan meminta agar Elea atau Kayshan melaporkan setiap perkembangan Gauri.
Putra bungsu Kamala lalu mengantar sang dokter sekaligus menuju cafetaria. Dia berniat membelikan menu makan malam untuk sang mama dan Elea.
Ketika Kay kembali ke kamar, Gauri telah tertidur. Waktu yang pas untuk bicara dengan Elea.
"Mbak El, silakan dimakan. Mama sedang keluar nyari kopi," ajak Kayshan, duduk di meja mini pantry kamar Gauri.
Elea mengangguk lalu mengambil menu miliknya. Dia menyiapkan minum untuk Kayshan dan duduk di sofa, membelakangi sang majikan.
"Mbak El. Jangan merasa sungkan jika ada hal yang ingin kau sampaikan. Kita kan sudah kenal lumayan lama. Anggap saja aku partner dalam memantau tumbuh kembang Gauri," tutur Kayshan, melihat punggung mungil gadis di hadapannya.
"Baik," kata Elea. "Maaf untuk yang tadi pagi, Pak," imbuhnya.
"Aku panggil nama boleh? Lele atau El?" balas paman Gauri. "Tadi pagi? sudah lupa, bukan perkara penting," sambungnya masih menatap punggung sang gadis.
"Alhamdulillah, terima kasih. Boleh panggil apa saja, bebas kok," jawab sang pengasuh.
Kayshan tersenyum simpul. "Oke. Bunda saja kalau begitu," ucap Kayshan, dia menutup mulutnya agar senyum menawan itu tak terlihat Elea.
"Uhuk. Uhuk."
.
.
__ADS_1
...________________________...
...Elea belum tahu status Kay, ya. Dia hanya menduga dia duda sebab ada Gauri....