Anomaly

Anomaly
Bab 1. Jatuh cinta?


__ADS_3

Namaku Yuu, siswa kelas 2 SMA di Tokyo, Jepang. Di sekolah, aku bukanlah seorang siswa yang mencolok seperti siswa siswi pada umumnya atau bisa dibilang pendiam.


Aku juga berusaha keras menghindari setiap konflik yang terjadi di sekolah terutama di kelasku yang diisi oleh orang-orang yang tidak tahu cerminan diri mereka.


Bertingkah baik didepan orang yang kita butuhkan dan berbicara buruk dibelakang mereka adalah hal yang sudah biasa kulihat di sini. Sebagai seorang pengamat yang tak pernah ikut campur dalam urusan apapun, aku tahu siapa saja yang bisa dipercaya dan juga tidak.


Di posisi pertama yang paling bisa dipercaya di kelas ini adalah Nanase sang bendahara kelas kami. Penampilannya yang anggun serta berkharisma membuat dia populer di kalangan laki-laki, meskipun begitu dia punya sesuatu yang janggal dalam perilakunya seperti ... Seseorang yang tengah menahan diri.


Walaupun begitu, dia juga lumayan populer di kalangan siswa senior yang membuat pengaruhnya semakin kuat. Dan untuk posisi kedua ada Sagiri sebagai ketua kelas sekaligus satu-satunya sahabatku. Kami telah berteman sejak SMP kelas 1 dan menjadi teman dekat di kelas 2.


Berbicara soal pengaruh jelas pengaruh Nanase jauh lebih kuat darinya, walaupun punya jabatan sebagai ketua kelas tapi pengaruhnya benar-benar sangat kecil. Dia bahkan tidak bisa membuat kelas ini diam tanpa bantuan dari Hirito wakilnya yang populer di semua kalangan karena wajahnya yang tampan.


Tapi, kalau begitu kenapa bukan Hirito saja yang menjadi pemimpin? Yah, soalnya saat itu metode yang kelas ini gunakan sebagai pemilihan adalah sistem undi dan Sagiri yang tertidur saat itu dipilih langsung oleh guru sebagai ketua kelas.


Sungguh nasib yang buruk, dengan diangkatnya sebagai ketua kelas dia sangat dibenci di kalangan siswi kelas kami. Tapi Sagiri tidak tinggal diam, dia kemudian mulai membentuk suatu sistem yang bisa dibilang adalah langkah yang cukup mengejutkan.


Itu adalah sistem pengurangan nilai dengan persyaratan yang cukup ekstrim. Sistem itu berisi.




Siapapun yang melakukan kekerasan di dalam kelas akan mendapat pengurangan nilai sebanyak 4 poin.




Siapapun yang tidak mengerjakan tugas piket akan mendapat pengurangan nilai sebanyak 4 poin.




Bagi yang menolak akan mendapat pengurangan nilai sebanyak 10 poin.




Melakukan tindakan pencabulan akan mendapat pengurangan nilai sebanyak 40 poin.


__ADS_1



Pengurangan nilai berlaku untuk di setiap ulangan harian dan siapapun yang berhasil mempertahankan nilai 100 atau tidak melakukan pelanggaran sama sekali akan diberikan nilai tambah sebanyak 5 di setiap mata pelajaran.




Sagiri membuat peraturan ini sehari setelah dia diangkat menjadi ketua kelas dan secara pribadi memberikannya pada wali kelas kami dengan syarat wali kelas kami harus menyembunyikan tentang dirinya.


Besoknya, peraturan itu mulai dijalankan oleh pihak sekolah yang mencangkup seluruh kelas tanpa terkecuali. Itu membuat banyak siswa terkejut setelah mati, ada yang senang dan ada yang kesal. Tentu saja yang kesal hanyalah para pembuli disini.


9 bulan kemudian 


"Haa~*menghela nafas. Hei Yuu*menoleh kearahku. kapan ya aku bisa mengatakan perasaanku pada Nanase, padahal sebentar lagi kita akan naik kelas, bagaimana jika dia ada di kelas lain nantinya? Bagaimana ini?! Apa aku akan seperti ini selamanya?! Memendam perasaanku padanya?!" Ucap sambil memegang kedua bahuku dengan erat.


"Oh begitu ya." Balasku tak acuh.


"Apa-apaan kau ini, apa kau senang melihat temanmu ini sengsara dan menjadi perjaka seumur hidupnya? Sial, aku benar-benar sedih dengan sikapmu." *Menangis.


"Hentikan sandiwaramu itu, aku tau kau orang seperti apa dari pengalamanku bersamamu sejak SMP, aku sadar bahwa kau sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya cinta. Jadi, apa sebenarnya rencanamu? Apa kamu ingin menggunakan kepopulerannya? Bukankah kau sudah punya Hirito sebagai pionmu?"


"Hm? Seperti yang kuduga, kau hebat dalam memprediksi apapun. Tapi* melihat ke atas langit-langit. Aku benar-benar... Jatuh cinta padanya Yuu. Yah, terserah padamu mau percaya atau tidak lagipula ini bukan urusanmu."


" .... Begitu, kah. Kalau begitu ikutilah dia saat pulang sekolah."


"Hoi ketua kelas! Kamu terlalu berisik!" Teriak sakura, yang merupakan salah satu siswi terpintar di sekolah.


" .... Cih, iya-iya, maaf." Jawab Sagiri dengan nada agak kesal.


"Jadi Yuu, kenapa aku harus mengikutinya sepulang sekolah?" Lanjut Sagiri bertanya.


Sebenarnya dia betulan suka atau tidak sih, padahal perubahan sikap Nanase sangat jelas. Aku jadi kasihan pada Nanase jika dia sampai pacaran dengan mahluk ini. Nanase yang seperti malaikat dan*aku melihat Nanase sebelum melihat Sagiri.


Ugh ... Sungguh buruk.


"Kau sedang mengejekku, kan? Terlihat jelas dari wajahmu yang menjijikan itu."


"Haha*tertawa kecil."


"Sudahlah, cepat katakan mengapa aku harus mengikuti Nanase sepulang sekolah?"


"... Itu-"*terpotong.

__ADS_1


"Oi! Sagiri! Pergi ke perpustakaan untuk mengambil buku matematika!" Teriak seorang wanita yang berdiri di depan semua orang, dia adalah wali kelas kami bu Kushida.


"Baik"jawab Sagiri dengan nada sopan yang kemudian berdiri*menoleh ke arahku.


Aku menatapnya balik lalu bertanya. "Apa?"


"Hari ini kau yang menemaniku ke perpustakaan, aku juga ingin menyelesaikan pembicaraan tadi."


" .... "Aku berdiri. "Baiklah, ayo."*berjalan.


Setelah keluar dari kelas, Kami kemudian mulai berjalan menuju perpustakaan sambil menyelesaikan pembicaraan yang sedari tadi tertunda.


"Jadi? Apa yang akan terjadi padanya?" Tanyanya dengan rasa penasaran.


Apa ini? Apa dia benar-benar jatuh cinta? Tidak biasanya Sagiri mengkhawatirkan orang lain.


"Ini hanyalah pendapat pribadiku. Tapi, aku yakin sekali bahwa dia sedang mengalami kesulitan entah itu karena penguntit atau ancaman dari senior kita. Dan untuk membuktikan prediksiku benar atau tidak akan ku lakukan saat membagikan buku matematika padanya." Jelasku.


"Penjelasanmu sulit di cerna otakku. Tapi, aku paham intinya. Kau mencoba memaksa kegelisahannya muncul, kan."


"Ya, dengan begitu kita bisa melihat apa kita perlu mengikutinya hari ini atau tidak. Sungguh merepotkan haaa~"


"Sungguh jarang melihatmu terlibat dalam sebuah masalah, ini sungguh langka."


"Memangnya ini salah siapa." Ucapku sambil menatap wajah Sagiri.


"Haha, maaf ya jadi merepotkan mu."


Di kelas 


"Permisi." Sagiri berjalan masuk lebih dulu sebelum diriku, dia membungkuk ke arah guru lalu mulai membagikan buku paket yang baru saja kami ambil.


Dia mulai membagikan buku dari bagian belakang sedangkan aku bagian depan. Aku berjalan menuju meja Nanase, mengeluarkan selembar foto dari sakuku dan dengan cepat meletakkannya di hadapannya.


Melihat itu, matanya melebar karena terkejut, dia mengangkat tangan kanannya lalu menggunakannya untuk menutup mulutnya.


Reaksinya lebih buruk dari yang kuduga, sepertinya dia sudah mendapat ancaman dari pelaku yang menguntitnya. Ini buruk.


"Permisi Nanase-san, ini fotomu yang belum sempat kamu ambil kemarin, ibu Kushida memintaku memberikannya padamu."ucapku sambil tersenyum ramah.


Mendengar penjelasanku Nanase keluar dari rasa syoknya lalu dengan cepat melihat foto yang ku taruh di depannya.


"Haa~ maaf merepotkan mu Yuu-kun."

__ADS_1


"Tentu, tidak masalah."


Sepertinya, aku dan Sagiri tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini, aku akan meminta seseorang yang lebih berpengalaman dalam hal ini untuk menyelesaikannya. 


__ADS_2