
Setelah bersembunyi di balik sebuah lorong, aku mengepalkan tanganku sambil menatapi tanganku sendiri masih dengan emosi yang meluap luap. Berbagai kata kata kasar mengalir di dalam pikiranku yang sedang menghina Ozma karena aku yang tidak terima dengan kematian Danny. Berbagai metode pembunuhan kejam telah kupikirkan untuk membunuh bajingan yang satu ini. Hingga pada akhirnya aku menyadari sesuatu. Kedua tanganku yang seharusnya telah membusuk kini kembali seperti semula, seolah tidak pernah terjadi apa apa. Ini membuatku sedikit senang, dan juga sedikit membuat emosi ku mereda. Aku memutuskan untuk melupakan dendamku itu sementara waktu dan berjalan melewati lorong tempatku berdiri saat ini.
Langkah demi langkah berlalu, dan lorong ini terlihat sangat sepi dan membosankan. Aku masih membiarkan pikiranku kosong sambil berjalan menghadap lurus ke depan. Hingga pada akhirnya, kaki ku tersandung oleh sesuatu. Aku pun melihat ke bawah dan mendapati sebuah gundukan yang sangat aku kenali. Aku mendecih kesal. Rasanya aku ingin menarik langsung monster tersebut yang saat ini sedang bersarang di dalam gundukannya, kemudian menusuk jantungnya dan membunuhnya. Namun aku lebih memilih untuk pergi menjauh melewatinya mengingat saat ini aku tidak punya senjata apapun, bahkan SCR 520 pun telah kutinggalkan bersama dengan psikopat sialan tersebut. Aku mulai berjalan dengan lebih cepat setelah melewatinya, sambil menolehkan kepalaku ke belakang untuk mengamati gerak geriknya. Gundukan tersebut mulai meninggi, dan suara hembusan nafas keras dan juga kasar terdengar dengan jelas oleh telingaku.
Aku kemudian memutuskan untuk berlari, yang langsung diikuti oleh makhluk tersebut dari bawah tanah. Lantai lantai di belakangku mulai hancur akibat pergerakan monster tersebut. Aku mempercepat lari ku, begitu juga dengan monster itu yang mempercepat pergerakannya. Aku mulai kelelahan hanya dalam beberapa langkah kemudian, yang membuatku untuk berhenti sementara mengambil udara secepat cepatnya. Makhluk itu seketika melompat dari bawah lantai menuju ke arahku sambil mengaum dengan keras. Aku menatapnya dengan tajam dan bersiap untuk mendaratkan sebuah pukulan dengan tangan kananku saat dia mulai mendarat.
Namun seseorang tiba tiba berlari ke arah monster itu dari belakangku dan langsung menghalau terkaman monster itu dengan perisai besinya, kemudian melempar monster itu dengan sekuat tenaga hingga punggungnya terluka akibat terseret beberapa langkah dan mengenai retakan retakan lantai yang tajam akibat pergerakan di bawah tanahnya sendiri.
Pria berkulit hitam itu menoleh ke arahku setelah memastikan bahwa monster itu tidak akan bergerak untuk sementara waktu akibat luka di punggungnya. Dia kemudian menanyakan kabarku.
“Hei kamu baik baik saja ?” tanya pria berkulit hitam itu kepadaku. Aku hanya mendengus pelan sebagai jawaban. Herannya, pria itu langsung memahami jawabanku dan berjalan ke belakang.
“Bukan cewek yang suka banyak bicara, huh ? Ayo ikut aku, di sini bahaya.”
Aku pun berjalan mengikutinya dari belakang. Bajunya yang dilengkapi rompi militer berwarna hitam membuatku yakin bahwa dia adalah orang yang seangkatan dengan Danny, dan juga memiliki tugas yang hampir sama dengannya. Selama perjalanan, kami berdua hanya diam, tidak mengucapkan sepatah kata pun kecuali yang pertama tadi. Orang itu terus mengawasi lorong lorong lain yang kami lewati dengan waspada sambil menutupi bagian depannya dengan perisai besi miliknya. Sepertinya dia adalah orang yang protektif, bahkan melebihi Danny. Setelah beberapa lorong yang kami lewati di rasanya aman, ia mulai menurunkan penjagaannya dan menatap ke arahku.
__ADS_1
“Hei cewek cantik. Siapa namamu ?”
“Eva.”
Aku menjawabnya dengan singkat sambil memasang wajah jijik. Baru kenalan aja udah genit, sindir ku dalam hati. Pria itu langsung memalingkan perhatiannya kembali ke depan saat melihat tatapanku yang jijik sekaligus sinis itu. Dia langsung bergumam meminta maaf. Hmph, dengusku.
Suasana kembali menjadi diam selama beberapa saat, sebelum akhirnya pria itu mulai memperkenalkan dirinya.
“Kenalin, namaku Rook. Bukan nama asli sebenarnya.”
“Bersembunyi lah di belakangku.” suruh Rook. Aku pun hanya mengangguk dan langsung melakukan perintahnya. Monster itu langsung muncul ke permukaan.
“Kemari kau, 037 sialan.”
Ternyata monster itu bernama SCR 037, monster yang dapat berjalan melewati tanah. Aku pun sedikit bergeser keluar ke kiri untuk dapat melihat SCR 037 itu bergerak dan menyerang. SCR 037 pun seketika merangkak dengan sangat cepat ke arah kami, dan Rook langsung mencondongkan tubuh di balik perisainya ke arah depan. SCR 037 melompat ke depan dan langsung menyerang kami, namun Rook dapat menahan serangan SCR 037 menggunakan perisainya. Rook dan SCR 037 pun saling beradu kekuatan. Sudah dapat terlihat jelas bahwa kekuatan Rook tidak dapat bersanding dengan kekuatan yang dimiliki oleh SCR 037. Secara perlahan, Rook dipaksa untuk terdorong ke belakang. Rook mengeluarkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk mempertahankan posisinya sementara, sebelum akhirnya mendapat hasil yang sama, dirinya secara perlahan terdorong ke belakang kembali.
__ADS_1
“Eva, ambil shotgun yang ada di belakang punggungku dan kemudian, tembak bajingan ini !” seru Rook kepadaku. Aku pun langsung mendapati shotgun yang dimaksud oleh Rook dan mengambilnya kemudian mengarahkannya kepada SCR 037. Namun, saat aku menarik pelatuknya, tidak ada tembakan apapun yang terjadi.
“Kamu harus mengokang nya terlebih dulu, bodoh ! ”
SCR 037 langsung mengayunkan rantainya dan membuat Rook terlempar ke belakang bersama dengan perisainya itu. Aku secara perlahan mundur ke belakang sambil terus mencoba untuk menembakkan setidaknya satu peluru dari shotgun sialan ini saat SCR 037 perlahan mulai mendekati ku sambil menggeram dan menunjukkan deretan gigi gigi tajamnya. Setelah mencoba berkali kali namun tidak bisa, aku memutuskan untuk melepaskan tangan kananku dari pelatuk shotgun ini dan memegang bagian tengah larasnya menggunakan kedua tangan, bersiap untuk menggunakannya sebagai senjata pemukul alih alih menggunakannya sebagai senjata api.
“Tidak, tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkan makhluk kayak lu ini melukai seorang wanita cantik sepertinya, bajingan !”
Aku menoleh ke belakang saat mendengar Rook berteriak dengan keras sambil berlari menerjang ke arah SCR 037 dengan kencang. Orang ini benar benar tidak tahu malu, kataku dalam hati. Sambil berlari, tangan kanan Rook meraih sesuatu dari kantong kirinya dan seketika itu juga, sebuah palu besar muncul di tangan kanannya. Rook memutar mutar palunya itu sambil terus berlari, dan saat jaraknya dengan SCR 037 sangat dekat, ia memukulkan palunya itu yang dengan tepat mengenai dagu SCR 037 dan membuatnya terlempar dengan sangat jauh ke belakang. Rook mengambil shotgun nya yang ada di tanganku kembali kemudian mengokang nya dengan satu tangan setelah menyimpan palunya ke belakang punggungnya. Ia terus menembaki SCR 037 dan kemudian mengokang shotgun nya kembali, terus berulang hingga peluru shotgun nya habis. Setelah tidak terkena tembakan shotgun Rook kembali, akhirnya SCR 037 berlari merangkak dengan cepat ke arahnya, namun reaksi Rook ternyata juga sangat cepat. Ia mengangkat perisainya dan saat SCR 037 sudah berada di dekatnya, Rook menghantam tengkorak SCR 037 dengan bagian bawah perisainya yang sangat keras. Serangan itu hampir menghancurkan tengkorak SCR 037 kurasa, bisa dilihat saat SCR 037 pingsan seketika setelah terkena serangan Rook itu.
“Kita kabur dari sini sekarang juga. Dia tidak akan pingsan terlalu lama.” seru Rook sambil berjalan menjauhiku dan tubuh SCR 037 yang sedang terkapar di lantai.
Aku pun langsung menahan bahunya dan menatap ke arahnya dengan wajah serius saat Rook menoleh kembali ke arah ku.
“Aku punya ide lain Rook. Berikan palumu padaku, dan biarkan aku membunuh monster sialan ini.”
__ADS_1