
Eva dan Leonora dapat mendengar dengan jelas raungan itu. Mereka seketika berdiri bersamaan mulai penasaran, apa sebenarnya suara itu ? Eva kemudian berlutut di hadapan Leonora sambil menaruh kedua tangannya di pipi Leonora untuk menenangkannya.
“Dengarkan aku, Leo. Kembalilah ke kamar, aku akan melihat suara apa itu sebenarnya, oke ?”
“Berarti kakak akan pergi ke tengah kota ?”
“Tentu saja.”
Suara lubang palka yang terbuka terdengar dari belakang mereka. Saat itu juga, Javier dan yang lainnya memanjat keluar dari bawah dan menemukan Eva dengan Leonora.
“Ternyata kalian di sini.” ucap Javier dengan lega.
“Javier, apa yang sebenarnya terjadi ?”
“Entahlah, tapi tiba tiba lantai mulai retak sendiri nya.”
“Gempa ?”
“Sepertinya bukan.” jawab Ivan.
Eva menghela nafasnya sebentar, kemudian mengambil ancang ancang untuk melompat ke bawah.
“Kalo gitu, aku akan pergi melihat sumbernya, bye !!” ucap Eva sambil melompat ke bawah.
“Eva !”
“Hei, Ivan. Cepat susul Eva !” seru Javier. Ivan menghela nafasnya kesal, kemudian menyusul Eva yang kini sedang berlari di atas atap rumah rumah orang.
Eva dengan lincahnya melompat dari atap rumah yang satu ke yang lainnya. Ia menoleh ke belakang, dan mendapati Ivan yang sedang berlari sekuat tenaganya untuk menyusulnya. Ia tersenyum menghina ke arah Ivan yang terlihat kesulitan untuk mengejarnya.
“Tangkap aku kalau bisa, Ivan bodoh !” seru Eva sambil meningkatkan kecepatan larinya. Ivan juga tidak mau kalah, apalagi oleh adik perempuannya sendiri.
“Bajingan !!” seru Ivan dari belakang.
Pemandangan kota bawah tanah terlihat riuh sekali. Para warga, baik pria, wanita, hingga anak anak mulai keluar dari rumahnya karena raungan misterius tersebut. Semuanya terlihat kebingungan.
“Ternyata bukan aku dan Leonora saja yang mendengarnya.” gumam Eva.
Beberapa saat kemudian, Eva dengan Ivan yang menyusulnya di belakang sudah dekat dengan tengah kota. Banyak sekali orang orang yang berkerumun di sana, saling berbisik satu sama lain mendiskusikan suara raungan tadi. Eva berhenti berlari dan terus melihat kerumunan itu dari kejauhan disusul oleh Ivan yang terengah engah karena kelelahan.
“Sialan, kenapa lari mu bisa secepat itu ?” tanya Ivan. Eva tidak menjawab. Justru ia menyuruh Ivan untuk diam dengan jari telunjuknya.
“Kenapa ?” tanya Ivan kebingungan. Ia kemudian menuruti perintah Eva itu. Ia kemudian memasang telinganya tajam. Walaupun samar samar, ia masih dapat mendengar suara di bawah tanah itu. Terdengar seperti ada seekor monster yang bergerak di bawahnya. Ia menoleh ke arah Eva sebagai tanda mengerti. Kota ini sedang dalam bahaya.
“Kenapa mereka tidak mendengar suara itu ?”
“Entahlah, mungkin karena mereka ribut sendiri.”
Raungan yang keras kembali terdengar. Kini suaranya hampir membuat semua telinga menjadi tuli saking kerasnya raungan itu. Para warga mulai berjalan mundur menjauhi sumber suara, sementara itu mereka yang memiliki senjata mulai bersiap siap menyerang makhluk apa pun itu yang akan meneror kota ini. Ivan ingin berteriak untuk memperingatkan para warga itu, namun Eva justru menghentikannya.
“Bodoh, kita selamatkan diri kita sendiri saja, kak. Ingat betapa jauhnya kita saat ini dari ujung kota ? Tidak ada waktu untuk menyelamatkan yang lain selain keluarga kita sendiri !” bisik Eva dengan nada serius. Ivan menoleh kembali kepadanya sambil berpikir sejenak. Memang benar apa yang dikatakan oleh Eva. Bahkan untuk keluar dari kota bawah tanah ini harus memanjat berbagai pondasi kayu yang menempel di dinding dinding jurang, dan itu pastinya akan sangat memakan banyak waktu. Ivan akhirnya mendengus kesal. Walaupun ia saat ini setuju dengan adik perempuannya itu, namun di sisi lain dirinya tidak rela meninggalkan para warga di serang oleh makhluk mengerikan yang ada di bawah tanah saat ini.
“Terserah saja kalau kamu mau menyelamatkan mereka semua. Aku sih lebih memilih buat menyelamatkan Leonora dan pak tua itu.” ucap Eva sambil berjalan kembali ke arah rumah Javier secara perlahan.
“Aku ikut bersama mu.” ucap Ivan.
“Terserah lah.”
Eva seketika berlari kembali menuju rumah Javier dengan cepat, melompat dari atap yang satu ke yang lainnya, menghindari kabel kabel, dan memanjat apapun yang menghalangi jalannya. Sementara itu Ivan kembali berpikir sejenak sambil menoleh ke arah para warga yang masih berkerumun seolah tidak menyadari bahaya yang sedang merangkak keluar dan akan meluluh - lantakkan kota bawah tanah tempat tinggal mereka itu. Ivan berusaha melupakan semuanya, dan memutuskan untuk meninggalkan para warga tanpa peringatan bahaya sama sekali. Ia berlari menyusul Eva, dengan pikirannya penuh dengan penyesalan dan rasa bersalah yang sangat besar.
Di sisi lain, Eva terus berlari sambil mengawatirkan tentang nasib Leonora dan Javier beserta teman yang lainnya. Ia menyadari keberadaaan Ivan yang sedang berlari menyusulnya, namun ia tidak menoleh ke arah Ivan sama sekali. Pikirannya terus dipenuhi tentang masa lalunya saat ia masih tinggal sendirian tanpa Leonora dan juga Javier. Tanpa Javier, ia tidak mungkin memiliki tempat untuk tinggal. Dan tanpa Leonora, ia tidak mungkin memiliki kebahagiaan dan menjadi orang yang ceria seperti saat ini. Keduanya berperan sangat penting bagi kehidupannya, dan ia bertekad untuk selalu menjaga keselamatan mereka berdua. Ivan dengan cepat dan dengan menggunakan seluruh tenaganya akhirnya berhasil sedikit mengimbangi kecepatan lari Eva.
“Hei, teror nya sudah di mulai.” bisik Ivan.
Eva menoleh ke belakang dan mendapati banyak rumah rumah mulai runtuh secara perlahan dan digantikan strukturnya menjadi daging daging dan ribuan tentakel mulai bermunculan dari bawah tanah. Melihat pemandangan itu, bulu kuduknya berdiri tegak. Di tambah dengan kemunculan tentakel tentakel yang acak di berbagai tempat. Ia memikirkan apa yang sedang terjadi di rumahnya Javier.
“Kita segera ke rumah pak tua sekarang !”
“Aku tahu itu.” jawab Ivan.
Mereka segera berlari dengan lebih cepat lagi. Insting Eva tiba tiba mendeteksi bahaya, dan saat menoleh ke belakang, ia mendapati salah satu tentakel yang baru muncul dan sedang dalam perjalanannya menyerang Ivan.
“Kak Ivan, awas belakangmu !” seru Eva. Ivan menoleh ke belakang sambil terus berlari. Ia tidak sempat menghindar, atau mungkin memang tidak dapat menghindar sejak dulu. Eva yang sudah menduga hal itu akan terjadi langsung berbalik lari dan menangkap tangan Ivan yang saat ini tubuhnya sudah ditarik ke atas oleh tentakel raksasa itu. Ia berusaha dengan sekuat tenaga mempertahankan Ivan dengan menarik balik tubuh Ivan dengan kedua tangannya.
“Bertahanlah, kak Ivan !” seru Eva sambil terus berusaha mempertahankan tubuh mungilnya untuk tidak ikut tertarik oleh tentakel itu. Ivan yang pada sedang dirundung oleh kepanikan secara tiba tiba mendapati secercah harapan. Matanya mendapati sebuah tongkat besi yang tergeletak di dekat Eva. Ia berusaha menenangkan dirinya di tengah situasi yang dekat dengan akhir hayatnya itu.
“Eva ! lihat ke tongkat besi di bawah kiri mu !”
Eva dengan cepat melakukan perintah kakaknya itu dan mendapati tongkat besi yang dimaksud oleh Ivan. Ivan menggenggam tangan Eva dengan sangat kuat sementara Eva berusaha meraih tongkat besi itu. Eva kemudian mengambil tongkat besi itu dan bersiap untuk melempar tongkat itu ke arah tentakel yang menarik tubuh Ivan.
“Lepaskan Kakak Ivan... Monster jahanam !!” seru Eva sambil melemparkan tongkat besi itu ke arah tentakel yang menarik Ivan. Tentu saja tongkat itu tidak mengenai targetnya, hanya menggores bagian tengahnya sedikit saja. Untung saja tentakel itu masih melepaskan Ivan, membuat keduanya terjatuh secara bersamaan. Tentakel itu secara perlahan turun ke bawah dan meninggalkan Ivan bersama dengan Eva.
“Terima kasih.”
“Lupakan itu. Menjauh lah sekarang.” ucap Eva sambil memalingkan wajahnya dari Ivan. Butuh waktu bagi Ivan untuk menyadari bahwa saat ini tubuhnya sedang menimpa Eva. Ia segera berdiri, dan saat itu juga Eva langsung melanjutkan untuk berlari menuju rumah Javier. Ivan pun menyusulnya.
“Kita sudah menghabiskan waktu terlalu lama di sini.”
“Benar juga.” jawab Ivan masih sambil terus berlari. Eva memutuskan untuk turun dari atap dan berlari di jalanan yang saat ini sudah penuh dengan retakan. Ivan juga melakukan hal yang sama, kemudian terus menyusuri jalan setapak itu bersama dengan Eva. Di tengah kekacauan yang sedang terjadi, Eva masih saja sempat sempatnya mengambil sepotong roti yang terjatuh ke tanah.
“Kamu bilang kita sudah menghabiskan waktu terlalu banyak, tapi kamu sendiri tetap saja menghabiskan waktu yang lainnya dasar bodoh.” gerutu Ivan.
“Terserah apa katamu. Aku kecapekan dan butuh tenaga lagi tahu.” jawab Eva sambil berlari kecil dan memakan roti yang baru saja dipungutnya itu.
“Cepat lah, mereka semua sedang dalam bahaya, Eva !”
“Oke, oke.”
__ADS_1
Eva dengan segera memasukkan roti yang sudah hampir habis itu ke dalam mulutnya, dan segera berlari secepat mungkin meninggalkan Ivan sendirian.
“Tidak mungkin dia kelelahan.” gumam Ivan.
----------------
Eva membuka pintu rumah Javier dengan sangat keras dan menemukan Javier yang sedang melindungi Igor, Rodric, dan Leonora yang berdiri di belakang Javier sambil meringkuk ketakutan. Tiga tentakel berwarna merah dengan bilah pedang di ujungnya muncul dari tanah dan saat ini sedang menyerang mereka sementara Javier hanya memegang sebuah papan kayu kecil untuk membela dirinya sendiri.
“Pergi dari sini sekarang juga, Eva ! Di sini berbahaya !” seru Javier.
Eva menggelengkan kepalanya, tidak mungkin ia meninggalkan seseorang yang sudah mengasuhnya sejak lama sendirian, apalagi Leonora dan yang lainnya juga bersamanya. Ia mengambil sebuah kursi kayu kecil dan berlari ke salah satu tentakel yang berada tepat di depannya kemudian memukul tentakel itu dengan sekuat mungkin, walaupun sepertinya itu tidak berefek apa pun.
“Eva !”
Eva tidak memperdulikan teriakan javier. Ia kemudian beralih ke tentakel yang lainnya dan memukul dua yang lainnya. Begitu tentakel tentakel itu teralihkan pandangannya, Eva dengan cepat menuju ke Javier melalui sela sela di antara ketiga tentakel itu.
“Javier, kita bisa keluar dari kota ini bersama sekarang juga. Bukankah begitu ?”
Javier berlari sebentar bersama dengan Igor, Rodric, dan juga Leonora sebelum akhirnya berhenti kembali dan menoleh ke arah Eva yang juga mengikutinya dari belakang.
“Di mana Ivan ?”
Eva melihat ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Di sanalah Ivan baru saja sampai di ambang ambang pintu sambil terengah engah melihat ke arah tiga tentakel yang kini justru menarget dirinya. Eva tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia membuka pintu kamarnya dan segara bergegas mengambil bom rakitan yang selalu ia buat bersama dengan Leonora. Ia mengambil beberapa bom dan melemparkan salah satunya ke arah tiga tentakel tersebut.
“Rasakan ini, dasar monster jahanam !” seru Eva yang seketika mengalihkan perhatian ketiga tentakel itu kembali kepadanya. Beberapa saat kemudian, bom itu menciptakan ledakan yang kecil, namun masih cukup untuk membuat mereka menghilang kembali ke bawah tanah. Ivan segera berlari menuju Eva dan menemukan Javier dan yang lainnya selamat. Ia menghela nafas lega dan menghampiri Javier diikuti oleh Eva.
“Bocah hebat.” ucap Javier sambil mengelus kepala Eva yang mungil. Eva tersenyum karena senang, mendapat pujian dari ayah asuhnya.
“Tapi, jangan coba coba untuk membahayakan dirimu lagi seperti tadi. Mengerti ?”
“Oke !”
“Kak Eva hebat !” seru Leonora sambil lompat kegirangan.
“Baiklah anak anak, kita keluar dari kota ini sekarang juga.”
Semuanya mengangguk secara bersamaan. Mereka terus berlari, menghindar dari serangan serangan monster tentakel yang mengerikan, dan juga saling melindungi satu sama lain. Seluruh rintangan dapat mereka lalui dengan mudah, semua berkat rasa kekeluargaan mereka yang teguh. Walaupun di tengah tengah pelarian mereka kaki kanan Igor sempat terluka, setidaknya mereka sudah berhasil sampai dengan selamat ke dalam jurang tempat dimana mereka dapat keluar dari dalam kota terkutuk ini. Eva menghela nafasnya dengan lega. Sebentar lagi, mereka akan selamat. Tidak perlu ada korban yang harus terjatuh di antara mereka, begitu pikirnya. Walaupun itu semua terjadi dengan banyak nyawa para warga yang melayang, namun yang terpenting bagi dirinya saat ini adalah keluarganya.
Mereka berjalan melalui lembah yang curam, dan dari kejauhan, terlihat susunan pondasi pondasi kayu berdiri dari kejauhan. Beberapa terlihat seperti tangga yang naik ke atas, dan yang lainnya hanyalah pondasi pondasi tanpa lantai untuk di pijak. Itulah yang harus mereka panjat untuk sampai ke atas sana, dan sebagian dari mereka semua sudah terlalu sering melewati itu, kecuali Javier dan Leonora.
“kak, apa tidak ada jalan keluar lain selain lewat sini ? Aku takut ketinggian.” rengek Leonora. Tidak ada yang menjawab, bahkan Javier sekalipun. Pikiran mereka semua saat ini sedang tertuju pada tangga tangga kayu yang berdiri tidak jauh di depan mereka saat ini.
“Kak Eva ?”
“Tenang lah, Leo. Aku akan menggendong mu.” ucap Eva. Eva kemudian menghentikan langkahnya dan menggendong Leonora di belakang punggungnya. Leonora merasa lebih tenang setelah itu.
“Setiap hari nya, kalian.... Lewat sini ?” tanya Javier.
“Tentu saja.” jawab Ivan sambil berlari ke depan mencari sesuatu yang biasanya tergeletak di tanah. Ia tidak menemukan benda itu.
“Sialan, tali pengamannya menghilang !”
Sontak semuanya terkejut mendengar itu, begitu juga dengan Eva. Eva, Igor, dan Rodric saling menatap satu sama lain. Kondisi mereka sedang tidak baik baik saja saat ini. Mengingat kaki Igor yang terluka, Leonora yang takut ketinggian, dan juga pondasi kayu itu yang terlihat sudah agak lapuk, membuat mereka semua agak ngeri kalau harus memanjat struktur struktur kayu tersebut tanpa tali pengaman.
“Hei, kalian masih mau memanjat itu ?” tanya Javier.
“Tentu saja tidak, aku sendiri agak ngeri buat memanjat itu tanpa tali pengaman.” jawab Eva.
“Aku juga.” sahut Rodric dengan suara pelan.
“Jadi bagaimana ?” tanya Leonora. Javier terlihat berpikir sejenak. Ia kemudian berjalan menuju tembok jurang dan bersandar.
“Mau bagaimana lagi, untuk sementara kita tinggal di sini saja terlebih dulu.”
Itu adalah jalan keluar yang terbaik tanpa perlu menjatuhkan korban jiwa untuk saat ini. Semuanya terlihat setuju, baik Eva, Igor, Rodric, maupun Leonora, kecuali satu orang, dia adalah Ivan.
“Bukannya aku tidak setuju dengan perkataanmu itu, Javier. Tapi sepertinya, kita tetap harus memanjat pondasi sialan itu.” ucap Ivan sambil menunjuk pondasi kayu yang ada di belakangnya. Sontak semua pandangan mengarah kepada Ivan.
“Kenapa ?” tanya Eva.
Suasana yang damai itu tiba tiba berubah menjadi menegangkan saat gerombolan tentakel mulai bermunculan dan mengejar mereka dari belakang. Javier pun beranjak dari sandarannya sambil perlahan mendorong Rodric dan Igor ke depan.
“Anak anak, kalian keluar dari sini sekarang juga !”
Semuanya dengan cepat berlari menuju ke arah pondasi kayu yang berada beberapa meter di depan mereka, begitu juga dengan Eva. Namun ia berhenti berlari seketika dan menoleh ke arah Javier saat menyadari Javier tidak ikut kabur bersama mereka.
“Bagaimana dengan mu, Javier ?” seru Eva.
Javier tetap berdiri diam menghadap ke arah gerombolan tentakel yang sedang menuju ke arahnya itu.
“Kabur dari sini, Eva. Bawa Leonora bersamamu. Aku akan mengulur waktu kalian dengan monster monster sialan ini.”
Air mata secara perlahan mulai berjatuhan. Awalnya, ia mengira bahwa mereka semua akan selamat dan masih bisa melanjutkan hidup penuh dengan kedamaian mereka sama seperti biasanya.
“Tidak mungkin ! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi !”
“Lari dari sini, Eva. Lakukan lah seperti yang kamu lakukan tadi. Lindungi kakakmu dan adikmu itu. Aku yakin kamu bisa melakukannya. Benar, kan ?” ucap Javier sambil menoleh ke arah Eva dan Leonora yang ada di belakangnya.
“Tidak ! Bukan kah kita sudah berjanji untuk selalu bersama !? Lagipula aku bukan orang yang sekuat itu, Javier !”
“Ingat apa yang pernah aku bilang pada mu, Eva ? Jangan menjadi orang pesimis. Ketahui lah kalau kamu sebenarnya lebih hebat daripada yang kamu kira, lebih kuat daripada yang kamu bayangkan. Kamu pasti bisa, Eva.”
Gerombolan tentakel itu semakin dekat dengan Javier.
“Kenapa kau harus melakukan ini ?”
Javier merenung sejenak. 15 tahun sudah ia jalani bersama dengan kelima anak buangan itu. Mereka semua tidak memiliki orang tua, baik Ivan, Rodric, Igor, Eva, maupun Leonora. Mereka bahkan tidak memiliki nama saat ia pertama kali bertemu dengan mereka. Ivan, yang paling pertama ia angkat sebagai anaknya, adalah seorang yang pemberani. Walaupun begitu, ia juga selalu ber hati - hati saat akan melakukan sesuatu. Seorang yang bijak dan waspada, dan juga kakak yang menyayangi adik adiknya. Lalu Rodric, anak kedua yang ia angkat. Seorang yang pendiam dan acuh tak acuh, namun bukan berarti berhati dingin. Ia akan begitu ramah terhadap orang lain yang sudah ia kenal dengan baik, terutama pada Eva. Ketiga ada Igor. Seorang yang penakut dan juga punya reaksi yang lambat. Walaupun begitu, ia suka membantu orang lain, bahkan jika dirinya sendiri harus terluka karenanya. Sifatnya itulah yang membuat kaki kanannya terluka saat ini. Keempat, ada Eva. Awalnya dia adalah seorang gadis yang mudah marah, bahkan bisa di bilang agak sedikit psikopat, namun hari silih berganti, ia mulai berubah menjadi seorang yang paling ceria di antara mereka dan juga yang paling pintar. Dan yang kelima, yang paling terakhir, adalah Leonora. Saat itu, Eva sendiri lah yang membawanya ke rumah Javier untuk menginap. Awalnya hanya untuk semalaman, namun semakin lama Eva mengulur waktu semakin lebih banyak hingga akhirnya Javier memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak. Sempat terjadi perdebatan yang luar biasa panjang antara Eva dengan Ivan saat itu, hingga mereka berdua tidak berkomunikasi satu sama lain sampai satu minggu berturut turut. Selama waktu itu juga Leonora terus menghibur Eva, membuat hubungan mereka berdua menjadi semakin dekat. Semua ini ia lakukan, bahkan sampai rela kehilangan banyak hartanya hingga memutuskan untuk tinggal di kota bawah tanah ini, karena ia merasa bahwa anak anak seperti mereka membutuhkan cinta yang layak. Semuanya ia korbankan, karena dia lah satu satunya, sosok ayah yang di miliki mereka.
__ADS_1
Javier menatap Eva dan Leonora yang digendong di punggungnya dengan berderai air mata.
“Ini semua sudah menjadi tugas ku ....”
Gerombolan tentakel tersebut kini sudah bersiap untuk menyerang Javier dan menghancurkan tubuhnya.
“Sebagai ayah kalian.”
“Ayah !!” teriak Leonora histeris melihat Javier yang mati di depan matanya sendiri.
Gerombolan tentakel itu menghujam tubuh Javier seketika, meninggalkan kepulan asap yang menutupi tubuhnya yang sudah hancur menjadi potongan potongan daging. Ivan, Rodric, dan Igor tersentak kaget dan menoleh ke belakang hanya untuk menyaksikan sosok yang sudah mereka anggap sebagai ayah mereka sendiri mati di tangan monster. Eva menundukkan kepalanya melihat kejadian itu, berusaha menahan derasnya air mata yang akan jatuh. Ayahnya sudah mempercayakan keselamatan saudara saudaranya, termasuk Leonora, adik perempuan satu satunya. Ia harus menjadi sosok yang kuat, sama seperti yang diinginkan oleh ayahnya. Setidaknya, ia harus keluar dengan selamat bersama dengan yang lainnya.
“Pegangan yang erat, Leo.” ucap Eva sambil membalikkan dirinya dan berlari menyusul ketiga kakaknya yang sudah berada jauh di depan. Leonora menangis dengan keras, memohon Eva untuk menolong ayah mereka, namun Javier sudah tidak tertolong lagi. Ia mengorbankan dirinya, bukan untuk melihat anak angkatnya meninggal di tangan monster tentakel itu. Eva terus berlari, sementara pikirannya di penuhi oleh ingatan ingatan masa lalu. Tanpa sadar, ia sudah melewati Igor, Rodric, kemudian Ivan yang kemudian juga berlari mengikutinya di belakang. Hanya saja, Igor masih saja berdiri diam di tempat. Perasaan yang sama menghantui Eva kembali, membuatnya tersadar akan Igor yang bersiap untuk menjadi korban yang selanjutnya.
“Apa yang kamu lakukan, Igor bodoh !?” seru Eva yang kembali berhenti berlari bersamaan dengan Ivan dan Rodric.
“Aku rasa, luka di kaki ku ini hanya akan menghambat kalian. Jadi, kabur lah sekarang. Aku akan menghentikan monster aneh ini.”
“Javier mengorbankan dirinya bukan untuk melihat kita mati di tangan monster sialan itu, bodoh !”
“Benar yang dikatakan Eva, Rodric. Javier mengorbankan dirinya untuk melihat kita terus hidup sampai kita tua nanti.” sambung Ivan.
“Karena itulah, aku akan membuat monster ini berhenti mengejar kalian, supaya tidak tidak banyak korban yang lainnya.”
“Apa apaan dengan pemikiran kosong mu itu, Igor !? Kita sudah sampai sejauh ini, dan kamu juga sudah melindungi kami tadi, kenapa kamu harus melindungi kami lagi !?”
Igor menoleh ke arah Rodric sambil tersenyum.
“Maafkan aku karena selalu mengambil jatah makan mu, Rodric. Akibatnya kamu jadi kurus krempeng sampai saat ini.”
“Apa apaan yang kamu katakan itu, sialan !? Kemari lah, aku akan membawa kita semua keluar dari tempat terkutuk ini, dan aku akan menjamin kita semua selamat dari monster brengsek itu-”
Eva yang sedang berbicara pada Igor sambil berjalan ke arahnya berhenti seketika saat melihat salah satu tentakel muncul dari bawah jurang dan menusuk tubuh gempal Igor dengan cepat, kemudian menghempaskan tubuhnya ke tembok jurang itu dan menusuk tubuhnya berkali kali. Eva tidak sanggup melihat semua kejadian ini, begitu juga dengan Leonora. Eva seketika membisu, melihat sang kakak yang sering ia jahili itu mati tepat di depan matanya karena mengorbankan diri. Ia bahkan belum sempat untuk meminta maaf untuk yang terakhir kalinya.
“Eva, itulah yang dia inginkan, agar kita semua selamat dari sini. Kita harus lari sekarang.” ucap Ivan. Dengan tidak rela Eva meninggalkan Igor yang disiksa habis - habisan oleh monster itu. Eva, Ivan, Rodric, dan juga Leonora yang berada di gendongan Eva terus berlari menjauhi monster tentakel mengerikan itu. Mereka akhirnya sampai di bagian terakhir, yang merupakan sebuah mimpi buruk bagi mereka untuk saat ini. Sebuah pondasi pondasi kayu yang menjulang tinggi ke atas hingga mencapai ke puncak jurang. Mereka harus berjalan di atas papan papan kayu terlebih dahulu, sebelum akhirnya memanjat ke atas dengan berpegangan pada rangkaian fondasi kayu tersebut.
Dengan berhati hati, mereka semua berjalan menapaki papan papan kayu yang terus mengantarkan mereka ke atas. Tidak ada pagar pembatas yang dapat mencegah mereka terjatuh dari ketinggian, dan itu lah yang dialami oleh Rodric saat ini. Ia terpeleset hingga hampir terjatuh dari ketinggian. Untungnya ia masih sempat untuk berpegangan pada ujung papan kayu yang dipijaknya barusan.
“Sialan, aku akan mengangkat mu Rodric ! Bertahanlah !” seru Ivan dan Eva secara bersamaan. Sudah pasti mereka tidak ingin kehilangan saudara mereka yang lainnya lagi.
“Ini sudah sering terjadi, bukan ? Terus lah berlari, aku bisa... Melakukannya ...... Sendiri-”
Rodric dengan cepat disambar oleh tentakel yang lainnya dari kanan. Tubuhnya menghilang begitu saja entah kemana, hanya menyisakan semburan darah yang terciprat dari dalam perutnya. Monster tentakel itu sudah bergerak lagi, bahkan kali ini dua kali lebih cepat dari pada awalnya. Mau tidak mau, mereka harus terus berlari sekarang. Waktu terus berjalan, begitu juga dengan gerombolan tentakel itu. Eva dan Ivan terus menaiki papan kayu hingga akhirnya sampai di bagian di mana tidak ada lagi papan kayu untuk mereka pijak. Setelah ini, mereka harus memanjat naik ke atas.
“Apa kak Eva kecapekan ? Aku bisa melakukan ini sendirian. Lagipula aku tidak mau membebani kakak lagi.” ucap Leonora.
“Bukannya tadi kamu bilang takut ketinggian ?”
“Aku lebih takut kehilangan kakak daripada ketinggian.” jawab Leonora dengan tegas. Eva menghela nafasnya, kemudian menurunkan tubuh mungil Leonora dari punggungnya.
“Baiklah.”
Ivan kemudian mulai memanjat pilar pilar penghubung yang terbuat dari kayu itu sebagai yang pertama, di susul oleh Leonora, dan yang terakhir Eva. Mereka terus memanjat, memanjat, dan memanjat. Hingga akhirnya mereka sudah sangat dekat menuju ke puncak, keluar dari dalam jurang yang mengerikan ini. Namun di detik detik terakhir, pilar pilar fondasi itu mulai bergetar dengan hebat, dan di saat itulah, kedua mata Eva menangkap Leonora yang terjatuh dari ketinggian. Matanya berkaca - kaca karena ketakutan. Eva sangat ingin menggapai tangannya, namun Leonora terlempar jauh darinya, sementara kedua tangannya saat ini sedang berpegangan dengan erat ke sebuah pilar penghubung yang basah dan juga lapuk. Ia hanya bisa memperhatikan adik perempuannya itu terjatuh, sementara ia hanya terdiam dan tidak dapat melakukan apapun. Eva memalingkan wajahnya ke Ivan. Melihat Ivan yang tidak bereaksi apapun saat Leonora terjatuh dari ketinggian, membuatnya menyadari sesuatu. Ia menggeram, dan di dalam hatinya ia telah terbakar oleh emosi yang sangat besar. Walaupun begitu, ia tetap berusaha untuk terlihat tenang di luar, dan terus melanjutkan untuk memanjat hingga akhirnya berhasil menapakkan kedua kakinya di tanah, tempat orang orang atas tinggal dengan aman tanpa gangguan monster sama sekali.
Eva terus berjalan mengikuti Ivan dari belakang yang tampak sangat kelelahan. Matanya terus menatap tajam ke arah kakak pertamanya itu, menunggu dengan sabar hingga mulut kakaknya mengeluarkan omong kosong yang luar biasa tidak masuk akalnya. Ivan kemudian menoleh ke belakang dan memulai aksinya itu, berpura pura tidak mengetahui keberadaan Leonora. Inilah momen momen yang di tunggu oleh Eva.
“Eh, tunggu. Leo ada di mana ?”
“Dia terjatuh tepat di depan mataku, dan aku tidak bisa melakukan apa apa selain melihatnya jatuh ke bawah.” jawab Eva dengan raut wajah sedih yang palsu.
“Sejak kapan !?”
“Sejak kapan ? Kamu menanyakan itu kepadaku !? Beraninya kau, bangsat.”
Eva tidak dapat menahan emosinya lagi. Ia membiarkan perasaan amarah itu meledak hingga ke luar permukaan.
“Apa kamu kira aku buta !? Aku dengan kedua mataku sendiri jelas melihat kaki mu menginjak tangan kecilnya itu, Bangsat !!”
“Apa yang kamu katakan ?”
“Jangan pura pura bingung. Aku memang sudah tahu ini sejak dulu. Sebuah kesalahan besar buat ku membiarkannya sampai saat ini.”
Eva dengan penuh emosi menarik kaos putih yang dipakai oleh Ivan dengan penuh amarah.
“Aku tahu kamu sudah menaruh dendam pada Leo sejak pak tua itu mengangkatnya sebagai anak, benar bukan !? Jangan kira aku tidak menyadari gerak gerik mu yang benar benar mencolok itu.”
Ivan sudah tidak dapat menyembunyikan rahasia itu lagi. Ia menyeringai ke arah Eva, dengan menunjukkan kebenaran akan apa yang dikatakan oleh Eva barusan.
“Memangnya kenapa ?”
“Sudah lama aku tahu kamu membenci Leo sejak Javier sialan itu mulai lebih memperhatikannya daripada kamu, brengsek !!”
“Selalu saja menyuruhku menjadi lebih dewasa, padahal kamu sendiri masih sama seperti anak TK !!” seru Eva sambil menendang biji milik Ivan dengan sekuat tenaga. Ivan seketika meringkuk kesakitan. Namun, tanpa rasa kasihan sedikit pun, Eva melanjutkan untuk memukul Ivan dengan sekuat tenaga, namun Ivan berhasil menahan pukulan itu. Eva mendecih kesal dan mendorong Ivan sekuat tenaga ke hingga hampir jatuh ke tanah, namun ia masih dapat mempertahankan dirinya untuk tetap berdiri. Eva kembali mengamuk dan melanjutkan untuk menuangkan kekesalannya itu kepada Ivan.
“Memangnya, apa yang salah dari Leo, brengsek !? Dia bahkan tidak pernah menyentuh mu sama sekali !”
“Karena dia, kita harus pindah ke kota bawah tanah yang terkutuk ini, Eva !!”
“Jangan kira, kamu juga tidak ikut menghabiskan uang pak tua itu, bangsat !!” seru Eva sambil kembali menyerang Ivan dengan tinjunya.
Kini Ivan menyerang balik. Pertarungan antar mereka berdua berlangsung dengan sangat lama. Keduanya saling bertukar pukulan, menerima semua serangan yang mengarah ke tubuh mereka tanpa menghindar atau pun berlindung sama sekali. Hingga akhirnya, Eva dibuat jatuh berlutut ke tanah, sementara Ivan berdiri di belakang Eva, membelakangi punggungnya. Eva terus merutuki kekalahannya itu. Ia tidak akan pernah melupakan dendamnya hingga ia berhasil membunuh kakaknya itu.
“Maafkan aku, Eva.”
“Tidak akan. Tidak akan pernah. Aku tidak pernah memaafkan mu, Bangsat !!” seru Eva sambil memukuli tanah dengan kedua tangannya sendiri.
“Memang begitu lah seharusnya.”
__ADS_1
Ivan kemudian pergi meninggalkan Eva sendirian yang masih terus meratapi kematian adik perempuan satu satunya, Leonora. Emosinya kian bertambah, dan di saat itu lah, tubuhnya mengeluarkan sebuah cahaya.
Cahaya berwarna hijau terang, yang dengan seketika memulihkan luka lukanya.