
“Menyingkir lah, Popo sialan !!”
Eva terus dihantui oleh kehadiran para Popo, baik di dunia nyata maupun di dalam mimpinya. Ia terus berada dalam ruangan gelap setiap kali para Popo menghantuinya. Eva memukul, membanting, dan bahkan sampai menusuk nusuk kepala mereka dengan pisau hanya untuk keluar dari kegelapan yang mengelilinginya, namun itu masih belum cukup untuk membebaskan dirinya dari teror Popo. Rasa penyesalan terus memenuhi dirinya, walaupun ia sebenarnya menolak perasaan itu. Eva seperti disuntikkan penyesalan dan ketakutan tersebut oleh Rigel, membuat dirinya tidak dapat membedakan antar realita dan fantasi. Ia berlari, terus berlari, hingga akhirnya Eva berhasil keluar dari kegelapan tersebut, hanya untuk menemukan dirinya berada di tengah tengah kerumunan dan berteriak dengan keras di antara banyak orang. Berkat hal itu, banyak orang menatapnya dengan iba, seakan sedang melihat orang gila.
“Orang itu kenapa sih ?”
“Gak tau. Kasian ya, padahal masih muda.”
Bisikan bisikan itu terus di dengar oleh Eva, membuatnya semakin tertekan dan ingin untuk segera pergi dari kerumunan. Ia terus berbicara pada dirinya sendiri, aku bukan orang gila, aku bukan orang gila ! Walaupun pada kenyataannya, ia sudah kehilangan seluruh akal sehatnya. Itu semua berkat Rigel, ayah tiri nya sendiri.
New York, Amerika Serikat, itulah tempat Eva tinggal saat ini. Ia sudah berpindah antar negara berpuluh puluh kali, tentu saja dengan merampok berbagai bank. Karena nya, ia kini bukan hanya dikejar oleh SCR Foundation dan juga Rigel bersama para Popo nya, namun ia juga menjadi buronan polisi dunia. Eva memasuki kamar apartemen yang di sewanya, kemudian membanting pintunya dengan keras. Hal pertama kali yang ia lihat bukanlah kasur putih yang nyaman ataupun kamar mandi untuk melepas penat, namun justru sosok Rigel yang berdiri membelakanginya. Eva menggeram, kemudian mengambil pisau dapur dari sakunya dan berlari menuju Rigel.
“Biarkan aku sendirian, Rigel bangsat !!”
Eva melompat dan menusukkan pisaunya ke kasur putih itu, namun Rigel telah menghilang dari kamarnya tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
“Arrgh !!”
Eva menarik pisaunya hingga merobek seprai dari kasur putih itu, kemudian membanting pisaunya ke lantai. Memang benar apa yang orang orang itu katakan, namun Eva terus menolak kenyataan yang sedang terjadi dalam pikirannya. Ia duduk di kasurnya dengan lesu, dan sekali lagi matanya mendapati bayangan bayang tentakel para Popo di lantai. Eva mengamuk sekali lagi dan beranjak dari kasurnya untuk mengambil sebuah vas bunga keramik di atas meja kayu kecil, kemudian membantingnya dengan keras ke lantai hingga vas bunga tersebut pecah. Suaranya tentu saja sampai terdengar hingga ke luar kamarnya dan menarik perhatian 2 orang yang sedang berjalan menuju kamar mereka. Salah satu dari orang tersebut kemudian membuka pintu kamar Eva, hanya untuk mendapati Eva yang kini membanting barang barang yang lainnya.
“Hei, kamu kenapa !?”
“Pergi dari sini, Rigel !!”
“Rigel ?”
“Bro, orang itu gila.” sahut orang yang lainnya sambil berjalan meninggalkan temannya itu di ambang pintu kamar Eva.
“Baiklah.” gumam orang itu sambil menutup pintu kamar Eva secara perlahan. Di saat itulah, Eva sadar bahwa dirinya sudah mengacau sekali lagi. Ia berteriak keras sambil menjambak rambut peraknya sendiri dengan kedua tangannya. Eva kemudian jatuh berlutut ke lantai dan memikirkan nasibnya. Pertanyaan pertanyaan tentang bunuh diri muncul dalam benaknya, dan Rigel selalu ada di sana, membujuknya untuk mengakhiri kehidupannya yang sudah kacau balau. Tidak ada masa depan lagi baginya, namun ia masih ingin hidup. Tidak peduli seberapa hancurnya ia, Eva hanya ingin tetap hidup di dunia ini saja. Ia memutuskan untuk tidur di atas kasurnya sudah sobek di mana mana, dan ia benar benar tidak memperdulikan hal itu.
Eva tertidur hingga malam menjelang, tidak ingin bangun dan bertemu dengan teror dari Rigel dan para Popo kembali. Namun tetap saja, bahkan sampai di tidurnya ia masih mengalami mimpi, sebuah mimpi tentang masa lalu nya yang suram. Eva bertemu dengan Javier di dalam mimpi itu, dan Javier terus menanyakan keberadaan saudaranya yang lain. Eva berusaha menjawab, namun seakan mulutnya terkunci. Ia mengigau dengan suara keras, bahkan hingga menggeliat kesana kemari di kasurnya sendiri hingga akhirnya terbangun kembali, dengan teriakan yang keras pastinya. Ia terperanjat hingga duduk lemas di atas kasurnya seketika, dan seperti yang sudah ia duga sejak awal, bayang bayang dari Rigel kembali menghantuinya. Eva berusaha menahan dirinya, takut akan diusir oleh orang lain yang tinggal di kamar kamar sebelahnya. Eva sudah sangat malas untuk mencari apartemen ataupun hotel yang lain. Karena hanya saat ia berada di luar lah para Popo akan menerornya dalam kegelapan itu lagi.
“Pergi dari sini, Rigel.” gumam Eva masih menunduk ke arah kasurnya. Bayangan itu masih berada di tempat yang sama, bahkan semakin mendekat. Kini Eva mengangkat kepalanya secara perlahan dan mulai meninggikan nada bicara nya.
“Aku bilang, pergi dari sini, Ri - gel.”
Hanya saat Eva mengangkat kepala sepenuhnya ke atas baru ia sadari kalau bayangan yang ada di depannya itu bukanlah Rigel, melainkan seorang agen S.W.A.T yang kini menodongkan senapan serbu miliknya ke kepala Eva. Bukan hanya seorang, melainkan beberapa agen S.W.A.T yang lainnya juga berdiri mengelilinginya.
“Nah, siapa Rigel ?”
****************
Tidak perlu untuk diinterogasi, Eva langsung dijebloskan ke dalam sel penjara wanita setelah ia di tangkap oleh para agen S.W..A.T itu. Beberapa tahanan menatap tajam ke arah Eva, namun tidak peduli se - menakutkan apa mereka, Eva lebih menakutkan dari seluruh tahanan yang ada di selnya. Para tahanan itu hanya butuh waktu satu detik saja untuk mengetahui siapa bos baru mereka, dengan cepat berdiri dan menyingkir dari tempat mereka, memberinya ruang yang jauh lebih luas daripada tahanan yang lainnya di sel itu. Eva mendengus kecil, kemudian menempati satu satunya kasur yang ada di dalam sel itu tanpa mengucapkan permisi sama sekali. Lagipula dia adalah bosnya di sini. Besok, ia mungkin harus berkenalan dengan para bawahan barunya itu.
Keesokan harinya, Eva dan tahanan yang lainnya dibangunkan oleh dentingan tongkat yang dipukulkan ke jeruji besi. Petugas tersebut berhenti sebentar, kemudian menoleh ke arah Eva.
“Hoi, rambut perak ! Ada tamu spesial yang mau bertemu denganmu hari ini. Bersiaplah.”
Eva menatap petugas itu dengan tajam tanpa berkata sedikit pun, dan itu saja sudah cukup untuk membuat petugas itu bergidik ngeri dan langsung pergi menuju sel yang lainnya. Eva kemudian beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju pintu dari sel nya, kemudian bersandar di sana sambil melipat kedua tangannya.
“Yo, salam kenal.” ucap Eva sambil menatap ke seluruh teman tahanan nya. Mereka tidak menjawab, bahkan ada yang tidur kembali dan tidak menggubris salam darinya itu.
“Apa kalian semua bisu ? Namaku Eva.”
Sebuah momen canggung yang ada di sana. Semua perkataan Eva terasa seperti angin lalu, tidak ada yang memperhatikannya sama sekali, membuka mulut pun tidak. Eva menghela nafasnya kesal, kemudian memutuskan untuk kembali ke kasurnya.
“Baiklah, terserah kalian.” gumamnya.
Jam 7 pagi. Eva dan tahanan yang lainnya di arahkan menuju ke kantin untuk sarapan pagi. Setelah beberapa jam menunggu antrian dengan bersenandung lagu metal kesukaannya, bahkan sampai menirukan bermain drum, akhirnya tiba giliran Eva untuk mendapatkan sarapannya. Sebuah nasi kering, dan juga telur rebus sebutir, bahkan masih belum direbus sepenuhnya.
“Apa apaan ini ? Yang lainnya dapet kentang juga, kenapa gw enggak ?”
“Ambil atau buang, hanya itu pilihannya.”
Eva menoleh ke belakang di mana beberapa tahanan pria tersenyum sinis ke arahnya. Sepertinya ada sesuatu yang mereka perbuat sebelumnya.
“Spesial untuk tahanan baru.”
“Cih.”
Eva berjalan meninggalkan pelayan itu yang sedang tertawa kecil di belakangnya, kemudian menuju ke sebuah meja di tengah ruangan, dengan seorang teman satu sel yang ia ingat sedang makan sendirian. Eva kemudian duduk berhadapan dengan wanita itu, terus menatapnya dengan tajam, lebih tepatnya ke arah kentang yang ada di piring wanita itu. Eva terus mengawasi wanita itu yang awalnya sedang makan dengan lahap, namun secara perlahan mulai terganggu dengan tatapan tajam Eva. Wanita itu akhirnya mengangkat kepalanya dan berhenti memasukkan nasi ke dalam mulutnya, membalas tatapan Eva itu. Eva akhirnya menyadari kalau apa yang diharapkannya tidak akan pernah terjadi tanpa ia berbicara dengan mulutnya itu.
“Hmph, kayak lu bakal ngasih kentang lu ke gw.”
Wanita itu tidak bereaksi apa apa. Dari matanya saja bisa dilihat kalau wanita itu sedang sangat terganggu. Eva memasukkan nasi kering ke dalam mulutnya, dan lidahnya kini dapat merasakan apa arti neraka sesungguhnya.
“Cih, enak.” keluh Eva sambil menahan untuk memuntahkan nasi keringnya tepat di hadapan wanita itu. Hingga pada akhirnya, Eva sudah tidak tahan lagi dan memuntahkan nasi kering itu dari dalam mulutnya, cukup untuk membuat wanita itu kehilangan selera makannya dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
“Aku Stella. Dan jangan ganggu aku lagi.” ucap Stella sambil pergi meninggalkan Eva sendirian. Stella pergi membawa makanannya, kemudian pindah ke meja lain yang penuh dengan tahanan pria. Di sana, Stella terlihat sedang berbicara akrab dengan para tahanan itu, dan itu terasa seperti sindiran bagi Eva.
Hari pertama Eva di penjara terasa seperti di neraka yang sesungguhnya. Bukan hanya sarapan saja, namun juga makan siang hingga makan malam pun ia mendapatkan menu yang sama, nasi kering. Dalam hatinya, ia sudah bertekad, aku akan keluar penjara sialan ini, kalau bisa aku akan menghancurkannya juga !!
Hari kedua, semuanya berjalan seperti biasanya. Ia dan teman satu sel nya dibangunkan pada jam 4, berdiam diri bersama dengan tahanan lainnya dan terkadang mengganggu Stella, kemudian menuju ke kantin bersama dengan tahanan yang lainnya. Ia mendapatkan menu yang sama, nasi kering dan telur yang setengah rebus. Bukan hanya itu saja, kini ada seekor kecoa mati yang dijatuhkan ke atas nasinya, sebuah hiasan yang indah. Di belakang Eva, 2 orang tahanan pria tertawa kecil. Tanpa perlu melihatnya Eva sudah tahu kalau 2 orang bajingan itu adalah yang meletakkan hiasan indah di atas nasi keringnya. Eva menahan salah satu dari mereka dengan menarik baju tahanannya, kemudian menoleh ke orang itu dengan tatapan tajam.
“Ambil.... Itu..... Kembali !”
“Apa lu buta ? Tangan gw lagi bawa piring, ******.”
Hinaan dari tahanan pria itu seketika mengundang gelak tawa dari tahanan yang lainnya, membuat Eva menjadi sangat marah. Dengan cepat Eva berdiri di atas kursi panjangnya dan langsung menendang tahanan pria itu dengan sebuah tendangan berputar di udara, kemudian Eva mendarat kembali di lantai sambil menyemburkan ludahnya ke tahanan pria itu. Tahanan pria tersebut seketika jatuh ke lantai bersamaan dengan makanannya yang terlihat lebih layak daripada milik Eva. Sudah jelas orang melakukan sesuatu pada dirinya !
“Apa apaan cewek itu !? Titisan Kung Fu Panda !?”
Di hari itu juga, Eva berhasil menarik perhatian banyak tahanan beringas yang ada di penjara itu, dan mereka akhirnya mulai memanggil Eva dengan sebutan Queen of Prisoners.
Hari ketiga di penjara, Eva menjalani kehidupan narapidana nya dengan lebih tenang setelah kejadian kemarin itu. Ia kini mendapatkan nasi yang layak, dan juga kentang yang selama ini ia dambakan. Setidaknya, sudah tidak ada kecoa lagi yang terjun layaknya seorang bocah di langit Jepang ke atas nasinya. Hanya butuh beberapa hari saja bagi Eva untuk menyebarkan popularitasnya ke seluruh penjara. Kini, hari ke 15 Eva menjadi seorang tahanan, namun sudah tidak ada sama sekali yang berani menantang ataupun mengganggunya. Terima kasih berkat kecoa terjun itu, kini Eva telah berada di puncak sebagai ratu dari para tahanan, dengan kekuasaannya yang seperti tirani menindas para polisi polisi di penjara itu
****************
Tahun demi tahun telah berlalu, dan tamu spesial yang dikatakan akan datang pada hari pertama Eva menjadi seorang tahanan pun tak kunjung datang. Faktanya, Eva sudah melupakan tentang tamu spesial sialan itu sekarang. Ia sudah terlalu disibukkan oleh berbagai kesulitan yang dibuat oleh bawahan bawahannya yang terus memaksa dirinya melakukan sebuah pemberontakan untuk keluar dari penjara ini. Masa kurungan Eva pun tak pernah berkurang sama sekali, justru semakin lama semakin bertambah. Sampai sampai ia dibuat berpikir bahwa dirinya akan dipenjara untuk selamanya. Mungkin apa yang diinginkan oleh bawahannya itu adalah benar, dan juga berguna bagi dirinya sendiri. 3 tahun berada dalam penjara kini telah terasa seperti 300 tahun berada dalam kurungan beruang, dan percayalah, hidup 300 tahun dalam kurungan itu tidak enak sama sekali. Eva dan kawan kawannya harus bergerak. Jika tidak, bisa bisa ia akan mati membusuk di penjara ini bersama sama dengan rekan rekan seperjuangannya.
“Oi !! Men o' Wars kesayangan gw semuanya ! Dengerin gw !!”
Para tahanan bersorak sorai saat akhirnya mendengar Eva berbicara dengan suara keras untuk pertama kalinya dalam sejarah kepemimpinannya
“Ini adalah hari yang sudah kalian tunggu tunggu, hari dimana kita bakal bebas dari penjara sialan ini selamanya !! Bersiaplah, karena kita bakal hajar polisi polisi sialan itu sampai mereka sudah tidak berbentuk lagi ! Fight, Men o' Wars !!”
“Fight, Men o' Wars !!” seru para tahanan itu mengikuti Eva. Mereka mulai mengambil barang apa saja yang bisa mereka gunakan sebagai senjata, mulai dari batang besi, papan kayu, hingga sebuah pensil. Ya benar, sebuah pensil sialan bahkan sampai digunakan sebagai senjata pembunuh masal oleh para tahanan itu. Hanya butuh beberapa menit saja bagi mereka semua untuk menjatuhkan penjara tersebut ke dalam kekacauan. Dengan kerja sama dan juga penuh tekad, mereka akhirnya berhasil keluar dari penjara itu dipimpin oleh Eva, seorang wanita kurus kerempeng berusia 22 tahun itu. Eva dengan bangganya memimpin para tahanan itu keluar, melewati para penjaga yang roboh satu per satu ke tanah akibat kekuatan para tahanan yang tak terhentikan. Namun itu semua tidak bertahan begitu lama. Eva, Stella, dan juga tahanan yang lainnya dikejutkan oleh mobil van yang bertuliskan S.W.A.T berhenti di depan pagar besi penjara itu.
“Sialan, S.W.A.T ada di sini ! Berpencar sekarang juga !!” seru salah seorang tahanan pria yang membuat para tahanan berlari berhamburan di sekitar lapangan penjara. Namun Eva menyadari ada sesuatu yang aneh dengan mobil S.W.A.T tersebut. Hanya ada satu mobil van, sedangkan biasanya, agen S.W.A.T membawa 5 mobil atau lebih. Stella yang menyadari Eva hanya berdiam diri pun langsung menghampirinya dengan panik.
“Hoi, Eva ! Ngapain lu diem di sini !? Cepetan lari, paling gak ikut bareng gw, bangsat !!”
Eva memberikan gestur tangan yang menyuruh Stella untuk berhenti. Stella pun menjadi heran akan tingkah laku bos nya itu.
“Mereka bukan S.W.A.T, mereka adalah monster.”
“Apa maksud lu monster ? Ga ada monster di dunia.... Ini.”
Mata Stella membelalak saat mendapati seseorang berpostur tubuh raksasa dengan sebuah minigun keluar dari dalam mobil van tersebut.
“Lu bener. Mereka adalah monster.”
Raksasa misterius tersebut kemudian berdiri menghadap ke arah Eva dan Stella sambil mengarahkan minigun nya ke arah mereka. Hanya perlu waktu satu detik bagi Eva untuk menyadari bahwa raksasa tersebut sedang mengincar nyawanya.
“Stella, lari !!”
Mereka pun berlari dengan sekuat tenaga menuju ke arah parkiran mobil mobil polisi yang ada di samping kiri mereka, sementara raksasa berbaju besi tersebut mulai berjalan lambat mengejar mereka berdua sambil menembakkan hujan peluru dari dalam minigun nya. Tembakan asal asalan dari minigun raksasa tersebut seketika telah merenggut banyak nyawa para tahanan yang berhamburan kesana kemari tanpa arah, sementara Eva dan Stella terus berlari sambil terkadang menunduk saat beberapa peluru hampir mengenai kaki mereka.
“Eva ! Apa apaan itu !?”
“Jangan tanya gw, bangsat !!”
Mereka berdua terus berlari hingga akhirnya mereka sudah dekat dengan sebuah mobil polisi kuno mercedes benz. Eva pun mulai merogoh saku celananya, dan mendapatkan sebuah kunci mobil yang baru saja ia curi dari polisi yang malang beberapa saat yang lalu. Ia kemudian memasukkan kuncinya tersebut ke dalam pintu dengan tergesa gesa.
“Eva, cepetan !!”
“Sabar dikit, bangsat !!”
Dalam hatinya, Eva berdoa agar kunci mobil yang ia masukkan ke dalam pintu adalah benar. Ribuan peluru terus melesat melewati mereka, bahkan hampir menembus telapak kaki belakang Eva.
“Sialan !!”
Eva semakin panik, hingga akhirnya kunci tersebut membuka keempat pintu mobil yang lainnya. Eva dan Stella menghela nafas mereka karena lega untuk sesaat.
“Heh, ternyata dewi fortuna masih berpihak pada kita. Stella, masuk !”
Seru Eva sambil memasuki mobil tersebut sambil mengambil kembali kuncinya. Stella dengan cepat berguling di atas kap mesin mobil polisi tersebut dan langsung masuk ke dalamnya dan menghela nafas lega sekali lagi.
“Akhirnya.”
“Kita masih belum aman, bangsat. Menyala lah !”
Eva dengan penuh emosi berusaha untuk men - starter mobil kuno tersebut. Ia dan Stella bahkan hampir terkena sebuah peluru yang melesat dan menembus kaca jendela mobilnya.
“Arrggh !!”
Setelah berkali kali mencoba, mesin mobil tersebut akhirnya menyala juga. Eva dan Stella pun bersorak kegirangan. Ia langsung menyetir mobil polisi tersebut meninggalkan sang raksasa jauh di belakang sendirian. Mereka berdua tertawa dengan keras, akhirnya mereka bebas juga.
“So long, motherfucker !!” seru Eva sambil menjebol palang masuk dari penjara tersebut dengan menabraknya.
“Habis ini kita mau ke mana ? Nevada ? Colorado ?”
“Terserah, asal bensinnya cukup aja.”
“Oke !!”
Dan begitulah, Eva dan Stella pergi menuju ke Nevada hanya dengan mobil polisi curian mereka dari New York. Itu adalah perjalanan yang sangat panjang, namun mereka selalu menikmati perjalanan itu bersama sama. Tidak akan pernah ada yang dapat memberhentikan perjalanan mereka, kecuali salah satu dari mereka sendiri.
****************
__ADS_1
Nevada, Amerika Serikat
Mobil mereka berhenti di sebuah pom bensin dekat sebuah jalan dengan gurun gersang. Siang itu adalah hari terpanas yang pernah dirasakan oleh keduanya. Stella mengipas ngipas dirinya sendiri dengan tangan kanannya. Tubuhnya telah dipenuhi oleh basah keringat, begitu pun juga dengan Eva yang bahkan lebih parah saat ini.
“Sialan, kenapa ac nya ga nyala, sih ?”
“Diem. Bau lu kecut, tau.” ucap Eva sambil membuka pintu mobil dan keluar dari dalamnya.
“Lu juga, bangsat !”
Eva mengintip ke arah super market yang sedikit terbengkalai di depannya. Tidak ada orang yang menjaga kasir saat ini, itu berarti ia tidak perlu mengganti bajunya dengan seragam polisi lagi sebagai penyamaran.
“Akhirnya, ga ada kasir sialan yang lain.” gumamnya.
Eva pun mengisi bensin mobilnya sambil bersenandung lagu rock nya. Ia juga terus mengawasi super market yang ada di depannya. Seorang dengan badan yang gendut dan juga besar kemudian berjalan menuju ke meja kasir, sudah jelas orang itu adalah sang penjaga kasir. Eva pun bersembunyi di balik mobil polisinya dan berbisik pada Stella.
“Oi, Stella ! Seragam polisi gw !”
“Sabar, bangsat !”
Penjaga kasir tersebut menyadari ada sebuah mobil polisi yang terparkir di pom bensinnya. Orang itu dibuat sedikit keheranan saat melihat tidak ada seorang pun yang terlihat keluar dari dalam mobil tersebut, cukup untuk membuatnya menjadi curiga dan mengambil pistolnya secara perlahan. Namun semua kecurigaannya itu sirna seketika saat akhirnya Eva muncul di balik mobil polisi nya. Walaupun sedikit aneh bagi orang itu, ia tetap tidak memperdulikannya. Orang seketika membuang pistolnya ke lantai dan kembali membaca koran.
Eva menghela nafas lega, dan beberapa saat kemudian, bensin mobilnya sudah penuh. Ia kembali masuk ke dalam mobil, melepaskan seragam polisi curiannya, dan seketika di buat terkejut saat sebuah mobil van S.W.A.T yang pernah ia lihat di penjara waktu kini terparkir di pinggir jalan beberapa meter di depannya. Ia menoleh ke arah Stella, yang sepertinya juga agak ketakutan sama sepertinya.
“Oi, sudah sejak kapan van sialan itu ada di sana ?” bisik Eva.
“Gak tau. Tiba tiba aja mobil itu udah ada di sana.”
Kini Eva sedang berpikir keras. Bagaimana caranya ia keluar dari pom bensin ini tanpa ketahuan oleh van sialan itu. Eva meletakkan tangannya di gigi mobilnya. Semoga saja mobil ini lebih cepat daripada van sialan itu, ucapnya dalam hati.
“Stella, pegangan erat.” ucapnya dengan nada serius. Stella mengangguk paham. Ia mengencangkan sabuk pengamannya, dan bersiap untuk aksi kejar kejaran yang akan terjadi. Eva melajukan mobilnya dengan cepat, seketika melewati mobil van yang ada di depannya. Van kemudian juga mulai mengikuti mobil Eva dari belakang, dan itu terlihat memiliki kecepatan di atas normal. Eva menginjak gasnya lebih lagi, namun tetap saja van itu masih mampu mengejarnya, bahkan menabrak bumper belakangnya dengan keras.
“Sialan ! Stella, lakuin sesuatu ke van sialan ini, bangsat !”
“Liat nih, pertama kalinya gw nembak.”
Stella dengan cepat mengambil sebuah pistol dari bawah kursinya. Eva agak sedikit terkejut, dia kira tidak ada apa apa di mobil polisi kuno ini.
“Pistol ?”
“Sudah pasti lu gak tau, kan ? Ini mobil polisi, tahu !!” seru Stella sambil memecahkan kaca jendela mobilnya dan menembakkan beberapa peluru ke arah van yang ada di belakangnya. Semua peluru itu dengan tepat mengenai kaca depan van tersebut, membuktikan keulungan Stella dalam menggunakan senjata api. Kecepatan van itu mulai melambat, kemudian menghilang entah kemana.
“Oi, apa apaan yang tadi itu !?” tanya Stella sambil kembali ke tempat duduknya. Eva tidak menjawab dan hanya meneruskan untuk mengemudi mobilnya. Ia tidak ingin Stella mengetahui tentang keberadaan Rigel dan anomali yang lainnya.
Mobil mereka terus melaju hingga mereka akhirnya sampai di bendungan Nevada. Stella sudah tertidur dan masih memegang pistol yang diambilnya itu, sementara mata Eva masih tertuju pada jalan yang ada di depannya. Ia menyadari keberadaan bayangan Rigel yang sedang duduk manis di kursi belakangnya. Eva tidak mengusir keberadaan dari bayangan Rigel karena tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Stella. Bayangan Rigel mulai menjulurkan tangannya kepada Stella, namun langsung ditepis oleh cahaya hijau redup yang keluar dari dalam tubuhnya. Rigel pun tersenyum kecil, kemudian menghilang seketika dari dalam mobil itu.
“Jangan beraninya mengganggu orang ini, Rigel.”
****************
“Apa kau tahu apa yang terjadi pada Vera, Ivan ?”
“Aku tidak tahu apa apa, bangsat !!” seru Ivan sambil menggebrak meja dengan keras. Shan tidak terkejut sama sekali, dan ia justru mengambil minuman soda yang ada di depannya. Sudah bertahun tahun Ivan ditanyai pertanyaan yang sama oleh Shan. Ia tak kunjung dibebaskan dari SCR Foundation, bahkan ia sudah memiliki label sebagai D class saat ini. Itu berarti, ia akan tetap tinggal sebagai tahanan D class di tempat ini, dan harus bersiap untuk menghadapi anomali apapun sebagai eksperimen tertentu.
“Kapan aku akan di bebaskan dari tempat sialan ini, Shan !?”
“Tentu saja sampai SCR 230 tertangkap.”
Ivan diam sejenak. Apa yang barusan saja ia dengar pasti adalah salah, pikirnya.
“Begitu kah kalian memanggil adikku sekarang ?”
“Dia sudah bukan adikmu lagi, Ivan. Mulai sekarang, dia adalah aset kami.”
“Aset !?” tanya Ivan sambil menggebrak meja sekali lagi. Ia menggeram, tidak percaya akan apa yang baru saja dikeluarkan dari mulut Shan dengan santai.
“Lupakan tentang Eva, Ivan. Dia sudah tidak punya hubungan lagi dengan-”
“Memanggil seorang manusia sebagai aset itu terlalu kejam. Bukankah begitu, Ivan ?”
Ivan dan Shan menoleh ke belakang seketika. Seorang wanita yang cukup familiar di mata Shan, namun sangat asing bagi Ivan. Wanita itu kemudian berjalan menuju ke samping kiri Ivan dan menatap Shan dengan tajam.
“Alihkan penahanan SCR 230 itu ke situs 35, sekarang juga. Biar aku yang mengurus wanita ini.”
“Biar ku tebak. Kamu ingin menyiksa makhluk ini dengan Suzaku, bukan ? Kamu tidak jauh berbeda dengan ku, Libya.” ucap Shan sambil meminum soda nya kembali. Libya berhasil dibuat geram oleh perkataan Shan, dan ia menggebrak meja Shan sama seperti yang Ivan lakukan barusan.
“Jangan panggil dia sebagai makhluk, Shan !!”
Shan masih duduk santai di kursi putarnya, seolah semua yang diucapkan oleh Libya dan Ivan hanyalah angin lalu baginya.
“Lama lama meja ku bisa hancur karena ulah kalian, tahu.”
Libya semakin naik darah, hingga ia menginjak meja Shan dengan kaki kanannya. Ivan pun tersentak melihat Libya yang dipenuhi emosi. Walaupun tampangnya terlihat seperti ibu muda yang kalem, ternyata wanita yang ada depannya itu bisa se - barbar ini.
“Apa aku harus menghancurkan fasilitas mu yang lainnya ? Aku bisa melakukan ini setiap hari, Shan.”
Libya mendecih kesal, kemudian menurunkan kakinya dari meja Shan dan berjalan keluar dari ruangan wawancara itu disertai oleh beberapa agen spesial. Ada yang memegang busur panah, sebuah palu dan perisai, dan yang terakhir yang menarik perhatian Ivan adalah yang memegang sebuah flamethrower. Sambil berjalan keluar, Libya menggerutu agak keras hingga terdengar oleh Ivan dan juga Shan, yang menyamakan ambisi Shan dengan milik seseorang bernama Nova. Pintu ruangan pun di tutup dengan keras, namun dibuka lagi oleh agen spesial yang lainnya.
“Jangan samakan aku dengan bintang biru itu, sialan.” gumam Shan sambil memutar kursi putarnya ke belakang, kemudian beranjak dari kursi itu.
“Wawancara selesai. Bawa Ivan kembali ke sel nya, Tacet.”
“Lebih seperti interogasi menurutku.” gumam Ivan.
Tacet menyuruh rekannya yang lain untuk membawa Ivan kembali ke dalam selnya, sementara ia masih berdiri menatap ke arah Shan yang membelakanginya.
“Aku mempercayakan orang itu padamu, Tacet.”
“Dimengerti.”
****************
Ibukota Jakarta, Indonesia.
Setelah berhari hari bahkan berbulan bulan dikejar oleh mobil van misterius itu, Eva dan Stella telah memutuskan bahwa negara Indonesia jauh lebih aman daripada Amerika. Mereka bahkan baru tau bahwa negara bernama Indonesia ini benar benar ada di bumi. Eva dan Stella yang sedang berjalan di bandara ini terus disambut oleh tatapan terpesona orang orang Indonesia. Bagi orang orang pribumi, kehadiran mereka bak seperti bidadari jatuh dari surga.
“Gila, coklat semua.” bisik Eva pada Stella.
“Gak ada yang peduli sama warna kulit, bangsat. Sekarang, apa lu tahu cara ngomong pake bahasa mereka ?”
“Persetan dengan itu. Orang orang kayak mereka memangnya punya bahasa ?”
Stella menghela nafasnya kesal. Eva memang selalu seperti ini terhadap orang orang yang tidak pernah ia kenal ataupun temui, apalagi yang berbeda ras.
“Dasar rasis.”
Sifat rasis Eva memang sudah tidak tertolong lagi. Semenjak ia menjadi pimpinan tertinggi para tahanan di penjara itu, ia sudah tidak mengenal lagi apa itu menghargai dan menghormati sesama. Berjam jam sudah dilewati oleh mereka, berkeliling menyusuri kota Jakarta yang tidak mereka kenali sama sekali. Semuanya berkat Stella, hingga mereka berdua akhirnya mendapatkan sebuah tempat untuk tinggal. Sebuah kos kosan di desa terpencil, yang katanya penuh dengan hantu dan dedemit yang terbilang mengerikan.
“Apa kamu yakin mau tinggal di tempat ini ?”
“Pastinya. Ga ada yang namanya hantu di bumi ini.” jawab Eva dengan santai. Lagipula, kos kosan tersebut terlihat masih cukup layak untuk dihuni, bahkan kata terbengkalai pun tidak cocok disandang oleh tempat ini. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali, semuanya terawat dengan sangat baik, dan juga banyak penghuninya, bisa dilihat dari berbagai mobil dan motor yang terparkir di halamannya. Stella menghela nafasnya karena sudah tidak tahu lagi bagaimana cara mengurus Eva yang sudah tidak tahu apa artinya takut.
“Baiklah. Kita coba saja beberapa hari-”
Stella menghentikan kalimatnya seketika saat menyadari Eva yang sudah tidak ada di sampingnya. Benar benar bangsat, ucapnya dalam hati. Stella masuk ke dalam pagar dari kos kosan tersebut, dan lihatlah, Eva sedang berbicara akrab dengan seorang pria bertubuh agak kekar. Bagaimana bisa Eva melakukan hal semacam ini ? Padahal dia sendiri sudah menjauhi orang lain bertahun tahun yang lalu.
“Oi, Eva. Ternyata kamu sudah berevolusi juga, huh ? Siapa dia ?” tanya Stella dalam bahasa inggris.
Eva tidak menjawab. Ia terlihat sedikit kesulitan untuk mengucapkan nama dari orang yang ia ajak bicara. Eva menoleh ke arah pria itu, dan berhasil membuat pria itu sedikit malu malu.
“Nama ku Rangga.” jawab pria itu, dalam bahasa Indonesia.
“Huh ?”
“My name is Rangga.” jawab pria itu sekali lagi, kali ini diikuti dengan senyuman ramah. Stella masih menatapnya dengan tajam. Nama seperti itu tidak pernah ia ketahui akan di dunia ini sebelumnya, begitu juga dengan Eva. Semuanya berubah menjadi canggung seketika. Dan begitulah, awal pertemuan Eva dan Stella dengan sang pemilik kos kosan ini, Rangga.
Hari hari mereka berjalan dengan sangat damai, dan mereka berdua mulai terbiasa dengan nama nama orang Indonesia. Fitri, Choirul, Narendra, Herman, Nurul, Haikal dan yang lainnya. Mereka semua mulai menjadi teman dekat saat itu juga. Namun, kehidupan Eva tidak berakhir sampai di sini saja, karena semuanya belum berakhir.
****************
Malamnya, Eva terbangun pada jam 3 subuh. Orang orang mengatakan itu adalah pertanda buruk, namun Eva tidak memperdulikan itu semua. Lagipula, dia bukan orang yang berasal dari negara ini, untuk apa dia ikut percaya dengan takhayul semacam itu. Ia melihat sekeliling, dan nampaknya tidak ada bayangan Rigel yang menghantuinya. Itu berarti adalah hal yang lain. Eva masih terduduk diam, membiarkan kesunyian mengelilinginya. Stella masih tertidur dengan nyenyak, bahkan sampai ngorok dengan keras. Mungkin itulah yang membuatnya terbangun di jam jam seperti ini. Eva kembali membaringkan tubuhnya di kasur, dan baru saja ia memejamkan matanya, ia mendengar suara ketukan dan juga ucapan ‘Permisi’ di jendela kacanya. Kuntilanak, genderuwo, atau apapun itu ia sudah tidak peduli lagi. Ia hanya ingin tertidur nyenyak saat ini, namun ada saja teror dari makhluk lain yang mengganggu tidurnya. Eva dapat merasakan kabut dingin mulai menjalar masuk ke kamarnya, dan ingatan ingatan masa lalu tentang kematian Leonora menghantuinya kembali, hanya saja kini, Leonora telah digantikan oleh Stella. Eva langsung membuka matanya saat itu juga. Sebuah perasaan buruk yang berhubungan dengan Stella seketika muncul dalam benaknya. Dia tidak bisa membiarkan Rigel mengambil Stella darinya dengan seenak jidat. Eva berjalan dan membuka pintu kamarnya, dan hal pertama yang membuatnya terkejut adalah fakta bahwa halaman kos kosan nya benar benar kosong, tidak ada mobil ataupun motor yang terparkir sama sekali.
“Orang orang ini, ngapain sih pergi keluar pagi banget ?” gumamnya.
Beberapa suara benda yang terjatuh sempat membuatnya tersentak kaget, namun itu bukanlah apa apa baginya. Semuanya kelihatan benar benar normal, kecuali hilangnya seluruh kendaraan yang terparkir di sana. Setelah sekilas mengucek - ngucek kedua matanya, Eva pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dan tidur kembali. Dan saat ia sudah sampai di ambang ambang pintu, Eva menyadari seseorang yang sedang berdiri di tengah halaman. Ia pun menoleh ke belakang, dan kehadiran pria dengan pakaian serba hitam itu seketika membuat Eva menggeram.
“Rigel... !”
Rigel secara perlahan berputar menghadap ke arah Eva. Tangan kanannya sedang membekap seorang bocah kecil yang tidak dikenal oleh Eva.
“Apa mau mu, Rigel !?”
“Aku hanya mengingatkan. Orang orang yang mengejar mu itu tidak pernah tahu apa artinya belas kasihan.”
“Heh, terima kasih sudah mengingatkan. Lalu bagaimana dengan bocah yang kamu bekap itu, bangsat ?”
“Hanya sebuah hadiah kecil untuk melepas rindu. Bukankah kamu sempat bermimpi tentang Leonora barusan tadi ?”
Rigel melepaskan bekapannya itu dan membiarkan sang bocah laki laki secara perlahan menoleh ke arah Eva. Eva bergidik ketakutan seketika, dan matanya membelalak saat melihat sang bocah. Wajah Leonora telah terjahit secara kasar menggantikan wajah asli dari bocah itu. Bukan hanya itu saja, sang bocah kini tersenyum riang, membuat Eva teringat akan kedekatannya bersama dengan Leonora saat dia masih kecil. Eva mundur ke belakang, dan kedua tangannya terentang menghalangi pintu saat bocah itu mulai berjalan mendekati dirinya.
“Rigel.... Pergilah ke neraka, sekarang juga !!”
Eva berusaha untuk mengeluarkan cahaya hijau dari dalam tubuhnya seperti dulu, namun ia jatuh tersungkur karena kesakitan. Darah keras seperti batu mulai berjatuhan dari dalam telinga dan matanya, membuat kedua telinga dan matanya itu terluka cukup berat.
“Aaakh !”
Eva menjerit kesakitan. Seakan kini, ada sebuah pedang yang menusuk di bagian perutnya. Mulutnya kemudian disekap dari belakang, dan ia melihat bahwa bocah laki laki dengan wajah Leonora itu sudah menghilang dari hadapannya.
“Masa lalu memang yang terburuk, karena kamu tidak akan pernah bisa lari dari hadapannya. Bukankah begitu, Eva ?”
__ADS_1
Eva berusaha untuk membebaskan dirinya bekapan orang misterius yang ada di belakangnya, namun tubuhnya kini sudah dipenuhi oleh berbagai luka goresan tajam dan juga darah yang mengalir dengan deras. Mulutnya sudah tidak tahan untuk mengumpat, namun ia seakan menjadi bisu seketika. Yang hanya bisa ia lakukan hanyalah menggerakkan bola matanya untuk mengetahui siapa orang misterius yang ada di belakangnya ini, dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa Stella sendiri lah yang melakukan itu. Bukan Stella lagi, karena wajahnya telah tergantikan oleh wajah bocah laki laki dengan ekspresi ketakutan yang sama sekali tidak ia kenal.
“Mmph, mmph !!” ( Stella, Stella !!)
Tidak mungkin Stella mati begitu saja, itulah yang sedang ia pikirkan. Namun semuanya telah terjadi, wajah cantik Stella yang sangat ia kenal kini telah tergantikan oleh wajah bocah kecil yang bahkan tidak pas di kepala Stella. Beberapa daging merah dapat terlihat dengan jelas, dan Eva benar benar ketakutan saat itu juga. Ia berusaha untuk memberontak, namun Rigel telah muncul tepat di depannya, seketika melakukan sebuah tendangan di perut Eva. Mayat Stella melepaskan bekapannya, dan membiarkan Eva jatuh tersungkur ke lantai sambil memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya.
“Rigel... Bajingan ! .... Apa yang sudah kau lakukan... Pada Stella !? ‘Cough cough’.”
Rigel tidak menjawab, dan ia justru jongkok di samping kanan Eva. Ia kemudian menyodorkan sebuah pistol terhadap Eva.
“Aku akan memberitahu mu sesuatu yang penting. Mereka sedang mengejar mu, menginginkan mu sebagai aset bagi kepentingan mereka sendiri. Aku ada di sini untuk membantumu, Eva. Ambil ini dan pergilah. Dan jangan lupa untuk kembali kepada ku setelah semuanya selesai.”
Eva menatap Rigel dengan tajam. Setelah semua yang sudah dilakukan oleh Rigel kepada dirinya itu, kini Rigel ingin membantu dirinya ? Benar benar tidak masuk akal. Namun Eva tetap mengambil pistol yang diberikan oleh Rigel itu dengan cepat. Rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya mulai menghilang secara perlahan, namun luka lukanya masih terbuka lebar. Rigel kemudian berdiri dan menatap sebuah lampu sorot yang berasal dari kejauhan. Ia sudah tahu siapa pemilik lampu sorot itu. Tacet, seorang agen spesial dengan keahliannya dalam membutakan seseorang. Rigel kemudian berhasil mengejutkan Eva dengan menggendong tubuhnya tanpa kata kata.
“Mungkin aku juga harus mengantarmu juga hari ini.”
****************
Eva berlari sambil terseok seok, meninggalkan bercak darah di sepanjang jalan setapak menuju ke sebuah desa dengan sebuah papan nama bertuliskan ‘Desa Sekar Sari’. Eva tidak mementingkan nama dari desa yang ada di depan matanya saat ini, yang lebih ia pentingkan adalah fakta bahwa Rigel benar benar memindahkannya ke desa yang lain. Ia benci, namun juga berterima kasih kepada Rigel pada saat yang bersamaan.
“Kamu telah berhutang kepada ku sebanyak dua kali kali ini, Eva. Ingatlah itu.” begitulah yang diucapkan oleh Rigel sesaat setelah ia memindahkan Eva ke jalan yang mengarah pada desa ini. Kini Eva telah memasuki desa, dan semuanya terlihat begitu sepi di sini. Matanya hanya tertuju pada sebuah rumah yang agak besar di dekatnya. Eva dengan cepat memasuki rumah itu melewati jendela, tanpa mengetuk ataupun mengucapkan permisi sama sekali.
“Siapa di sana !?”
Eva seketika terkejut dan mengarahkan pistolnya ke sumber suara tersebut. Matanya dapat melihat secara samar samar seorang wanita dengan jilbab berwarna ungu atau biru gelap juga sedang terkejut akibat kehadirannya.
“Menjauh lah ! Atau aku akan menembak mu !” ancam Eva terhadap wanita yang ada di hadapannya. Wanita itu terlihat sedikit ketakutan saat menyadari bahwa Eva membawa sebuah pistol di tangannya, namun ia tidak segera berteriak minta tolong. Ia juga sadar akan tubuh Eva yang dipenuhi oleh luka sobekan seakan baru saja dicambuk berkali kali.
“Kamu..... Terluka ?”
Eva menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri dari penglihatan yang mulai kabur. Dia dengan sekuat tenaga berusaha untuk menstabilkan tangannya yang mulai bergetar dengan hebat. Wanita itu perlahan mendekati Eva dengan kedua tangannya sedikit terangkat ke atas, dan saat itulah Eva jatuh pingsan dan kehilangan kesadarannya.
“Astagfirullah ! Mak, mak !”
“Ada apa, nduk !?”
Paginya, Eva dibangunkan oleh cahaya matahari yang menusuk matanya. Dirinya telah dipenuhi oleh perban, dan ia sadar akan hal itu. Sambil menahan rasa sakit yang tersisa, Eva berusaha untuk mengingat ingat kembali apa yang barusan terjadi semalam, dan akhirnya ia menemukan alasan yang membuatnya berada di dalam rumah misterius ini.
Pintu kamar terbuka, dan kini Eva dapat melihat dengan jelas sosok wanita berjilbab yang ia temui malam itu. Wanita itu tersenyum ramah kepadanya sambil membawa sebuah nampan dengan makanan dan teh hangat di atasnya.
“Apa kamu baik baik saja ?”
Eva agak sedikit mengerti dengan apa yang diucapkan oleh wanita ini, namun bahasa Indonesia nya masih belum lancar. Eva tidak menjawab dengan kata kata, dan hanya mengacungkan jempolnya saja.
“Dasar bule.” gumam wanita itu sambil menghela nafasnya. Ia meletakkan nampan tersebut di sebuah meja di samping.
“My name's Arum.”
Eva diam sejenak sambil memalingkan wajahnya dari Arum.
“Eva.”
Eva seketika ingin beranjak dari tempat tidurnya, membuat Arum harus menghalangi Eva.
“My wounds healed already.” ucap Eva sambil berusaha untuk berdiri dari kasurnya. Dia kira regenerasinya sudah bekerja tadi malam, namun ternyata tidak. Eva seketika diserang oleh rasa sakit yang luar biasa dan hampir membuatnya jatuh ke lantai. Beruntung Arum sudah ada di sana untuk menahan tubuh Eva.
“Don't be reckless. Just stay here, okay ? At least for a few days.”
Mengetahui bahwa Arum mampu berbicara bahasa inggris dengan lancar, Eva sedikit mengurungkan niatnya untuk tidak keluar dari desa itu sekarang. Setidaknya dia akan tinggal di sini untuk beberapa hari.
Beberapa hari telah berlalu, dan Eva menjalani kehidupan nya dengan menjauhi orang orang yang ada di desa ini. Berkat Rigel, Eva sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan orang lain, atau mereka akan mengalami hal sama yang dialami Stella, temannya. Ia sudah tidak dapat mempercayai orang lain lagi, karena bisa saja itu adalah mata mata dari organisasi yang menginginkan kekuatannya. Ia berbicara dengan kasar, namun seluruh warga desa tidak ada yang membencinya sekali pun. Hingga akhirnya, hari yang sudah ditunggu tunggu oleh Eva telah tiba, hari dimana lukanya sudah sembuh dan ia bisa keluar dari desa ini.
...****************...
Jakarta, 19.00
Eva sedang menginap di apartemen yang baru saja ia sewa. Kini ia sedang merenung, apakah ia harus mencuri uang dari bank lagi ? Itu tidak mungkin, karena hal itu hanya akan menambah pihak yang mengejarnya saat ini. Hal yang sama terjadi kembali. Eva dilanda oleh depresi dan trauma akan masa lalu. Ia dirundung oleh penyesalan akibat tidak bisa melindungi orang yang sayanginya. Pertama Leonora, dan sekarang Stella. Andai saja ia memberitahu Stella tentang keberadaan Rigel dan organisasi misterius yang mengejarnya, Stella pasti tidak perlu mati secara mengenaskan. Walaupun selama sisa perjalanannya akan dipenuhi oleh kesepian, setidaknya ia masih bisa bertemu dengan Stella kembali. Ia mulai berpikir, apakah kekuatan yang muncul dari dalam tubuhnya itu adalah sebuah berkat, atau justru sebuah kutukan ? Ia sendiri tidak dapat menjawabnya.
Agama yang awalnya tidak dianggap penting oleh Eva, kini menjadi sesuatu baginya. Ia berteriak kepada Tuhan, entah siapapun Tuhan itu. Namun jawaban Tuhan tentu saja tidak langsung dalam bentuk kata kata, melainkan sebuah suara langkah kaki yang sangat ia benci. Itu adalah orang orang yang terus mengejarnya. Eva dengan cepat mengambil pistolnya dan menatap ke arah satu satunya pintu masuk yang ada di kamar sewaannya. Namun hal yang tak terduga terjadi, karena seorang agen justru masuk lewat jendela kaca yang ada di belakangnya. Eva seketika menoleh ke arah agen tersebut dan menembakkan beberapa peluru.
“Bajingan !!”
Agen tersebut menghindar, kemudian berhasil mengejutkan Eva dengan melompat tinggi di atas batas kemampuan manusia biasa. Pertarungan jarak dekat pun sempat terjadi, sebelum akhirnya pintu kamar Eva di dobrak dan beberapa agen yang lainnya masuk. Kini Eva benar benar terkepung, namun ia tidak kehabisan akal. Dengan susah payah, Eva akhirnya berhasil mengeluarkan cahaya hijau itu kembali dari tubuhnya disertai dengan ledakan yang dahsyat, membuat agen agen yang mengepungnya terhempas seketika. Eva tanpa pikir panjang memilih untuk terjun dari ketinggian apartemennya, dan kemudian mendarat di atas atap bangunan lainnya dan terus berlari. Tiga agen spesial juga mengikuti Eva dari belakang, namun mereka bukanlah tandingan bagi Eva. Ia sudah melakukan hal ini sejak lama, lama sekali. Rentetan peluru yang ditembakkan oleh mereka bukanlah suatu hal lagi bagi Eva. Ia dengan lincah menghindari itu semua, kemudian lompat dan menjatuhkan seseorang yang sedang naik motor cbr. Eva dapat menghindar dari kejaran mereka dengan sangat mudah, namun itu semua belum selesai. Masih ada satu agen lagi yang sedang mengejarnya dengan motor balap sama seperti motor yang baru saja ia curi.
“Cih, menyebalkan !”
Agen tersebut adalah Rider, salah satu bawahan dari Tacet. Rider menembakkan duri duri tajam dari motornya, namun itu bukanlah suatu halangan bagi Eva, bahkan macet sekalipun dapat ia hindari dengan mudah. Aksi kejar kejaran tersebut berlangsung selama berjam jam, hingga akhirnya Tacet berhasil menjatuhkan Eva dari motornya dengan menjatuhkan sebuah drone tepat di depan motornya. Eva terseret beberapa meter ke depan, dan seketika ia telah dikepung oleh Rider dan juga Tacet.
“Hei, kesayangan Rigel. Ada kata kata terakhir sebelum ditangkap ?”
“Yang tadi itu kejar kejaran yang bagus. Oh ya, dan juga... Terima kasih buat manggil bapak bangsat gw.”
Tacet dan Rider saling menatap satu sama lain, dan saat itu juga, mereka berdua disergap oleh Rigel seketika. Rigel mencekik keduanya dan membuat mereka terseret di jalan raya beberapa meter ke belakang sambil menggeram.
“Rigel !!”
Rider berusaha menyerang balik dengan ingin memukul Rigel menggunakan senapan serbu nya. Namun sebelum itu berhasil, Rigel telah menekan mereka ke tanah dengan kuat, hingga jalan raya tersebut hancur di sekeliling mereka. Eva yang sudah bangkit berdiri sejak kemunculan Rigel melihat kedua agen spesial yang malang tersebut dibuat babak belur oleh Rigel dati kejauhan. Seharusnya, jika ini bukan jalan raya, dia bisa mengambil kursi plastik, membeli es teh manis beserta jajanan, kemudian duduk dengan santai sambil memperhatikan pertarungan yang nampak seperti adegan di film action tersebut. Namun banyak sekali mobil yang berlalu lalang saat ini, jadi ia harus menyingkir ke sisi jalanan dan melihat kedua agen tersebut dibantai habis habisan oleh Rigel. Rider telah tumbang, dan kini tinggal Tacet saja yang terlihat sudah sangat kelelahan melawan Rigel. Tacet melemparkan sebuah granat kejut ke arah Rigel. Bahkan walaupun dirinya telah dibutakan untuk sementara waktu, Rigel masih dapat menahan pukulan dari Tacet dengan tangan kanannya. Rigel terus menahan tangan kanan Tacet, memaksanya untuk menatap ke arah Rigel. Seketika hiruk pikuk jalan raya berubah menjadi keheningan yang aneh bagi mereka berdua.
“Ah, betapa canggungnya momen ini.” gumam Rigel. Rigel kemudian menekan tangan kanan Tacet hanya dengan sedikit gerakan saja, kemudian membantingnya ke belakang hingga menghancurkan kap mobil yang sedang melaju ke arah Rigel tanpa sengaja, sekaligus menghentikan mobil tersebut. Kesadaran Tacet sudah menghilang bak ditelan bumi sesaat setelah dirinya menghantam kap mobil tersebut. Rigel berjalan meninggalkan Tacet sambil mendengarkan cacian sang pengemudi mobil dari kejauhan. Itu bukanlah sebuah masalah besar bagi Rigel, karena dia sendiri juga tidak mengerti bahasa Indonesia.
Rigel menghampiri Eva yang seketika mundur ke belakang secara perlahan. Walaupun awalnya dia terlihat sangat kagum melihat Rigel membantai kedua agen tersebut, namun kini wajahnya dipenuhi oleh ketakutan. Eva menodongkan pistolnya ke arah Rigel, namun Rigel dengan santainya menurunkan pistol Eva tersebut kembali. Dia sudah paham kalau anak kesayangannya itu tidak akan menembaknya di tempat. Eva menggeram, namun di bukanlah hewan buas yang hanya dengan geraman saja bisa membuat orang lain takut. Ia hanyalah manusia dengan regenerasi super di mata Rigel. Namun entah kenapa Rigel sendiri tidak bisa membiarkan Eva sendirian tersiksa oleh manusia. Belas kasihnya telah tumbuh kembali setelah sekian ratus tahun yang lalu kehilangan putrinya. Dan Eva telah mengingatkan dirinya pada sang putri sekali lagi.
“Aku ingin berbicara sebentar denganmu. Tidak di sini.” ucap Rigel sambil membelai rambut perak Eva.
“Huh ?”
...****************...
Rigel dan Eva telah berpindah sekali lagi ke desa Sekar Sari. Eva merasakan ada sesuatu yang akan dilakukan oleh Rigel kepada desa tersebut saat ini. Eva mengawasi tiap gerak gerik Rigel, namun semua yang dilakukan oleh Rigel hanyalah gerakan halus seperti ayah kepada putrinya. Apa apaan ini ? Tanya Eva dalam hati. Beberapa saat kemudian, Rigel pun menghentikan langkahnya, tepat di depan gerbang masuk desa.
“Eva, apa kau ingin kembali menjadi anakku ?”
Eva melihat ke seluruh tubuhnya yang dipenuhi oleh garis lengkung bercahaya hijau. Dia akhirnya tahu apa yang membuat Rigel sebaik ini.
“Mengincar kekuatan ku, huh ? Hanya saat aku tidak bisa membangkitkan kekuatanku kamu menjadi jahat padaku. Bukankah begitu ?”
Rigel tidak menjawab pertanyaan Eva. Ia terlihat seperti sedang menyesali perbuatannya dulu.
“Kamu, mengejar ku dengan Popo sialan itu hingga ke ujung makam, bahkan sampai membunuh teman ku, hanya untuk membuatku berniat membangkitkan cahaya sialan ini, bukan ?”
“Apa apaan yang sebenarnya kamu mau !?” seru Eva sambil mendorong Rigel. Penyesalan selalu datang di akhir, begitulah yang orang orang bilang. Eva sudah tidak dapat menahan emosinya. Ia sangat ingin untuk meluapkan seluruh kekesalannya kepada orang yang paling ia benci di dunia ini.
“Dan sekarang kamu ingin aku menjadi putri mu ? Bah, tidak mungkin !!”
Air mata terlihat mulai bercucuran di mata Rigel. Warnanya hitam gelap, mengungkapkan bahwa Rigel memang bukanlah manusia.
“Aku duga kamu juga melakukan hal yang sama pada putri mu di masa lalu, Ya kan !?”
Semua perkataan Eva benar benar menusuk hati Rigel hingga ke bagian yang paling terdalam. Sampai ia mulai teringat kembali ke masa lalunya yang kelam, tidak jauh berbeda dengan Eva.
“Eva, what's going on ?” tanya Arum dan ibunya, Ningsih sambil berlari keluar dari gerbang desa. Eva mengingat semua yang telah mereka lakukan kepadanya saat itu. Arum, Ningsih, dan bahkan warga desa yang lainnya rela merawat luka lukanya tanpa pamrih. Mereka mengajarinya bagaimana berbicara bahasa Indonesia, melakukan hal yang baik kepada orang lain. Apapun yang diajarkan oleh mereka kepada dirinya terasa sangat berarti bagi dirinya saat ini. Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa ia harus meninggalkan desa ini setelah ia sembuh ? Bahkan dengan cacian yang membuat siapa saja bisa tersinggung ?
“Kamu lihat sendiri, Rigel. Aku sudah punya keluarga yang baru, bahkan seorang kakak perempuan sekarang.”
“Pergilah dari sini. Dan sesali lah perbuatanmu sama seperti yang sudah ku alami saat itu.”
Melihat Eva yang berjalan menuju ‘keluarga baru’ nya membuat Rigel dirundung oleh keputusasaan sekali lagi. Ia harus kehilangan keluarga yang ingin ia lindungi sekali lagi. Ia mencoba, dan terus mencoba hingga ratusan tahun telah berlalu. Namun, semuanya hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Ia berusaha mengirimkan ingatannya saat dirinya menceritakan masa lalunya kepada Eva, namun Eva menatapnya dengan sinis dan tajam. Ia pernah mengatakan bahwa, ia sedang belajar untuk menjadi sesosok ayah yang baik bagi keluarganya. Sebagai seorang iblis, ia benar benar di benci oleh para manusia, namun hanya ada satu orang yang mencintainya. Dia adalah sang istri. Hari demi hari berlalu, dan mereka akhirnya memiliki seorang anak, seorang anak perempuan yang cantik jelita. Rigel berjanji pada istrinya, bahwa ia akan melindungi putri satu satunya itu, entah apapun yang terjadi, dan sang istri bertanya kepadanya : Apa yang terjadi jika kami berdua pergi meninggalkanmu ? Apa kah kamu tetap akan menjadi orang yang sama seperti saat ini, atau kamu akan kembali kepada dirimu yang dulu, seorang iblis yang kejam ? Pertanyaan itulah yang terus terngiang ngiang di kepalanya hingga saat ini. Apakah dirinya tetap sama seperti saat ia tidak kehilangan keluarganya ? Apapun yang ia lakukan hanyalah belajar, namun tidak pernah ia dapatkan hasilnya. Sebuah kesia-siaan dan keputusasaan belaka, itulah yang membuat dirinya melakukan hal yang keji terhadap Eva selama ini.
Eva menyadari bahwa Rigel sedang berusaha mengingatkannya pada cerita masa lalu Rigel. Ia berhenti melangkah, dan sadar bahwa Rigel akan berubah menjadi wujud iblisnya saat ini. Emosi, itulah yang tidak bisa di kontrol oleh Rigel.
“Kenapa ? Kenapa kamu tidak membiarkanku untuk belajar sekali ini saja, Eva ?”
Eva menoleh ke arah Rigel dengan tatapan merendahkan miliknya. Keluarga, itulah yang diinginkan oleh Rigel. Namun dia sama sekali tidak pernah berjuang untuk mempertahankan keluarganya itu.
“Karena, kamu tidak pernah belajar, Rigel.”
Rigel kehilangan seluruh kontrol atas emosinya, hingga ia akhirnya terpaksa menunjukkan wujud aslinya itu kepada Eva, Arum, Ningsih, dan warga desa yang lainnya. Mereka semua ketakutan, namun tidak untuk Eva. Ia telah belajar untuk melindungi orang lain. Apakah ia sekuat seperti yang dikatakan oleh Javier, ia tidak yakin akan hal itu. Namun itu bukanlah untuk menghibur saja. Javier mengucapkan hal itu sebagai sebuah ajaran terakhir bagi Eva. Eva mulai menyadari sesuatu, bahwa melindungi seseorang bukan hanya memerlukan sebuah kekuatan super ataupun senjata canggih yang luar biasa, namun juga sebuah tekad untuk melakukannya. Ia telah belajar sesuatu dari segala yang telah ia alami. Apapun yang bertahan di dunia semuanya hanyalah sementara, jika itu hanya karena kerja keras ataupun usaha sendiri tanpa dibarengi dengan tekad. Ia telah memutuskan, bahwa kekuatan regenerasi miliknya, yaitu cahaya hijau yang muncul di sekujur tubuhnya ini, adalah sebuah beban yang harus ia tanggung untuk melindungi orang lain. Jika memang kekuatan ini adalah sebuah kutukan, maka ia akan terus belajar untuk mengubahnya menjadi sebuah perisai. Dan jika memang kekuatan ini adalah sebuah perisai bagi orang orang yang tak berdaya, maka ia akan terus belajar untuk terus mengasahnya dan membuat perisai itu menjadi lebih kuat, seperti apa yang Javier inginkan.
Eva dan Rigel saling menghajar satu sama lain. Ini adalah akhir dari ujian tekad Eva, dan ia benar benar serius untuk menjalani ujian itu, melewatinya hingga mencapai akhir dari garis finish. Semua kejadian yang dialaminya hingga sampai saat ini telah membuat Eva menjadi sosok yang lebih baik, lebih kuat daripada yang sebelumnya. Suatu saat nanti, ia pasti akan menjadi sekuat seperti apa yang dikatakan oleh Javier. Suatu saat nanti, ia bukan hanya melindungi saudara saudaranya saja, namun juga seluruh orang yang membutuhkan pertolongannya.
Pertarungan telah berakhir, dan Rigel berhasil dibuat mundur oleh Eva. Hanya dengan pukulannya saja, Rigel berhasil dibuat babak belur hingga hampir mati. Seluruh warga desa sedikit menahan kegembiraan mereka. Mereka ingin bersorak sorai, namun mereka terlalu tercengang akan apa yang mereka lihat barusan dengan mata kepala mereka sendiri. Eva menatap Arum dan Ningsih. Ia hampir jatuh ke tanah, namun dengan seketika disanggah oleh Arum. Kata kata terakhir yang diucapkan oleh Rigel sebelum ia meninggalkan desa ini adalah : Selamat tinggal putriku. Aku, telah belajar sesuatu darimu.
Eva tidak bisa menahan tangisnya. Ia dengan cepat memeluk Ningsih erat erat sambil menangis dengan kencang. Akhirnya, seluruh kepahitan yang dialami dalam hidupnya telah berlalu. Ia berhasil mengakhiri ujian ini, dan ia benar benar telah lulus. Dua sosok ayah yang mendampinginya selama ia hidup, dan juga seorang ibu yang ia peluk saat ini, ketiganya benar benar bangga akan dirinya. Javier, sosok ayah yang kuat. Ia mengajari Eva untuk menjadi pribadi yang kokoh dan teguh. Kemudian Rigel, ayah yang kejam. Ia mengajari Eva untuk berubah dan belajar dari masa lalu, terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Sementara itu, Ningsih yang saat ini berada dalam pelukannya, mengajarkan dirinya untuk mengampuni semua perbuatan jahat orang lain, terlepas dari seberapa buruk perlakuan mereka itu.
“Maafkan aku. Maafkan aku karena selalu kasar pada kalian selama ini !” seru Eva sambil terisak isak dalam bahasa Indonesia. Walaupun agak sedikit kacau, semua orang termasuk Arum dapat menerimanya. Arum kemudian juga ikut memeluk Eva bersama dengan ibunya.
“It's okay. We always open our heart to your sorry.” bisik Arum kepada Eva.
“ Begitulah, aku tetap akan berada di sampingmu, Eva. Tidak peduli akan apa yang memisahkan mu dariku. Tidak peduli berapa kali kau mengecewakanku. Aku akan tetap menyayangimu seperti saat kita bertemu pertama kali. Kasih sayangku tidak akan pernah pudar, walau dimakan oleh waktu maupun kegelapan, aku tetap akan menyayangimu. Karena kau adalah anakku, dan aku adalah ibu mu. Kita semua akan menjadi keluarga, sekarang dan untuk selamanya.”
Seluruh warga desa yang melihat itu mulai terharu dan berderai air mata. Awalnya mereka agak sinis terhadap perilaku dan kata kata kasar Eva selama ini. Namun, setelah mengetahui apa yang dialami oleh Eva dari Arum dan Ningsih, mereka mulai memaafkan Eva dan segala perlakuan kasarnya. Seluruh sorak sorai yang selama ini tertahan kini mereka keluarkan dengan keras keras. Semuanya berbahagia, sekaligus tersentuh hanya karena tiga orang yang luar biasa di hadapan mereka ini. Sekecil apapun dirimu, percayalah bahwa kamu bisa menghasilkan apa yang lebih besar dari bumi ini sendiri.
“Mereka kenapa ?”
“Anggap saja sebagai sambutan kedatanganmu.” jawab Arum dengan senyum ramahnya yang khas.
“Benar juga. Kami tidak menyambut mu sama sekali sejak pertama kali kamu datang ke desa ini, Eva.”
Mendengar itu, Eva akhirnya senyum kembali. Senyuman yang telah lama menghilang itu akhirnya kembali bersinar setelah lama dikurung dalam kegelapan.
“Terima kasih, kalian semua.” gumam Eva.
Dan begitu lah. Eva akhirnya diterima sebagai warga baru di desa yang kecil itu. Walaupun begitu, ia tetap bersyukur. Apapun yang telah dialaminya, itu semua terjadi untuk mengubah pribadinya menjadi sosok yang lebih baik lagi. Eva, yang awalnya seorang yang gampang emosian dan suka menghina orang lain kini kembali menjadi seorang gadis yang ceria. Itu semua berkat Arum, saudari nya. Ningsih, ibunya. Dan juga, seluruh warga desa yang telah menerima kehadirannya dalam hati mereka. Bahkan dengan kekuatannya itu, Eva tidak lagi merasa terkutuk dan membahayakan orang lain. Ia hanya melihat bahwa kekuatan ini adalah untuk melindungi orang lain. Ia, telah belajar sesuatu dari kekuatannya.
...****************...
Vera berjalan menyusuri hutan, hingga akhirnya ia menemukan desa tempat dimana Eva tinggal, desa Sekar Sari. Tubuhnya mengeluarkan garis garis bercahaya merah, dan kini ia membawa sebuah pedang besar di punggungnya yang juga berwarna merah darah. Ia menggeram, mengetahui fakta bahwa Eva sebentar lagi akan melupakan tentang tekadnya itu dan terbuai oleh kehidupan damai desanya. Ia melihat desa tersebut dari kejauhan dan bergumam.
“Lari lah. Terus lah berlari dari kenyataan, Eva.”
__ADS_1