
“Ini...... Di masa depan !!” seru Asteri dengan histeris.
Apa maksudnya ? Hanya itu yang ada di dalam pikiranku dan Ava saat ini. Butuh beberapa waktu lama untuk akhirnya menyadari maksud dari perkataannya itu. Waw, bukankah itu akan sangat....... Mengerikan ??
“Oi, bocah. Percuma kamu histeris begitu, ini nggak menakutkan sama sekali, tahu. Ya kan, Ava ?” tanyaku pada Ava.
Ava mengangguk setuju sebagai jawabannya. Memang sulit untuk dipercaya, orang yang penakut seperti dirinya menganggap kalau tempat ini tidak menakutkan sama sekali seperti aku. Dan karena jawabannya itu juga, si bocil ini sepertinya menjadi marah entah karena apa.
“Itu buat kalian, bodoh !! Buat aku, ada di tempat ini sama saja seperti mendatangi kematian itu sendiri, tahu !!”
“Oi, bukannya itu terlalu dilebih-lebihkan ? Tetap aja, kita masih harus keluar dari sini, bukan ?”
“Tidak !! Aku tidak akan ikut dengan babi seperti kalian, paham !!? Lebih baik aku tinggal di sini daripada ikut kalian kemudian mati di ujungnya !!”
Apa ?? Bocah ini baru saja menyebut aku dan Ava sebagai 'babi' ?? Dasar bocah kurang ajar........
Aku menghela nafasku, kemudian menoleh ke arah Ava.
“Sudah tidak ada jalan lain. Kita paksa bocah brengsek ini ikut dengan kita.”
“Mph mph, aku setuju.” jawab Ava sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Sepertinya Ava juga sepemikiran dengan aku. Begitulah kenyataannya, bocah, orang itu harus mengalah untuk kali ini. Aku menoleh ke arah Asteri lagi, dan melihatnya yang sepertinya sedang naik pitam lebih lagi daripada yang sebelumnya. Dasar bocah pengidap phobia.
“K-kalian mau melakukan apa !!?”
“Keputusan adalah keputusan, bocah. Jadi....... Jangan coba-coba kabur melarikan diri........” jawabku dengan nada yang terkesan mengancam.
Kami berdua mendekati Asteri secara perlahan, dan setelah dekat, aku dan Ava menahan bahunya dengan erat menggunakan kedua tangan kami. Asteri, tentu saja menjadi semakin histeris daripada sebelumnya.
“Dasar kalian bajingan !! Bodoh, lepaskan aku, babi-babi hutan !!”
Kami menolak permintaannya dengan hanya mendiamkannya saja, kemudian memaksa bocah brengsek yang menyebut kami sebagai babi-babi hutan itu. Tidak punya sopan santun ataupun itikad yang baik, itulah bocah ini sesungguhnya. Sebenarnya, apa yang pernah diajarkan oleh Niger itu kepada anaknya ?
“TIDAK.” ucap kami secara serempak, sambil menekannya dengan sebuah DOMINASI.
Dan begitulah jadinya. Tidak butuh terlalu banyak usaha untuk membuat bocah sialan ini berada dalam genggaman tangan kami berdua. Dia benar-benar seorang anak yang baik saat seseorang mengontrol dirinya. Aku akhirnya jadi mengerti apa yang diinginkan oleh si bintang merah itu kepadanya. Si bintang merah itu mau menjadikannya sebagai........ Anak yang baik ??
“Oi, bocah. Si bintang merah itu orangnya kayak gimana ?”
“Diam.”
Baiklah, yang kali ini aku tidak akan apa-apa dengan jawabannya. Berikan dia sedikit waktu lebih dulu, dan nantinya aku akan dapat jawaban darinya, kan ? Ya kan ?
Omong-omong, kami bertiga saat ini sedang berjalan di sebuah tempat yang tidak dapat dijelaskan seperti apa bentuknya. Semua lantainya dibuat dari papan kayu, dan semacam cahaya aneh berwarna biru bersinar di bawah lantainya. Entah tempat apa ini, tapi yang pasti, di depan sana adalah sebuah labirin sialan yang ukurannya sudah pasti sangat luas.
“Hei, mau sampai kapan kalian menjadikanku seperti boneka, hah ?”
“Tidak ada boneka di sini.”
“Kalian berdua membuatku seperti sebuah boneka, bodoh.”
“Kami tidak membuat boneka. Hanya bocah baik saja.”
Asteri berhenti seketika di saat itu juga, dan badan sialannya itu sudah tidak bisa digerakkan lagi, seperti sudah tertanam secara permanen di atas tanah. Dia menoleh ke belakang, menatapku dengan tajam dan mengeluarkan suara-suara yang sangat menyebalkan. Aura dominasinya...... Cukup hebat juga.
“Sampah sialan.”
Perkataannya begitu menusuk hatiku yang paling dalam. Rasanya seperti baru saja di sambar oleh petir gledek bajingan. Bocah ini...... Benar-benar menyebalkan !!
“(Chuckles) Omong-omong, kenapa kita tidak lanjut jalan aja ke sana ??”
“Terserah.” jawab Ava dan Asteri secara bersamaan.
Kami pun akhirnya berjalan menuju labirin besar di depan sana. Memasuki gerbang pertama, kami bertiga langsung disambut oleh ribuan ruangan yang seluruhnya terbuat dari kayu, dengan kebanyakan pintunya tertutup sangat rapat. Asteri masih berada dalam kendali ku, berjalan di paling depan sementara kedua tanganku memegangi pundaknya. Seolah aku bisa merasakan semua yang dirasakan oleh Asteri hanya dengan memegangnya seperti ini saja. Tubuhnya gemetaran dengan hebat, sangat ketakutan. Tapi bocah yang satu ini masih berusaha untuk menyembunyikannya dari kami. Beralih dari Asteri ke Ava, Ava saat ini sedang biasa-biasa saja. Sifat keduanya serasa seperti tertukar saat ini. Apa yang sedang terjadi sebenarnya ?
“Oi, kalian berdua. Lihat gambaran yang ada di tembok itu.” ucap Asteri secara tiba-tiba.
Aku dan Ava menoleh ke arah tembok yang ditunjukkan oleh Asteri saat itu juga. Di tembok sebelah kiri itu, di bagian bawahnya yang agak dekat dengan lantai, terdapat dua gambar figur aneh yang dibuat dengan kapur. Kedua figur itu saling berhadap-hadapan, yang satu sepertinya laki-laki, dan yang satunya lagi kemungkinan besar adalah perempuan. Selalu saja ada yang seperti ini. Entah kenapa, setiap kali aku berpindah dimensi karena sesuatu, ada saja gambar yang dibuat di atas tembok. Apakah itu artinya, banyak orang yang suka vandalisme di dunia ini ? Bercanda.
“Apaan tuh ?” tanya Ava.
__ADS_1
“Dewa Sakarette dan Dewi Mekhane. Dua bajingan itu yang selalu ada di pikiranku selama ini, menghantuiku setiap saatnya.”
“Hah ? Menghantui ? Maksudmu apa, bocah ?” tanyaku penasaran.
Asteri kemudian menghentikan langkahnya, bersamaan dengan aku dan Ava. Ia menghela nafasnya, terlihat seperti sedang tidak ingin mengingat-ingat masa lalu. Bocah ini benar-benar ketakutan dengan masa lalunya, huh ?
“Sakarette, si bintang merah itu....... Kalian berdua pasti sudah tahu banyak tentangnya. Dan untuk Mekhane, dia yang selalu dibisikkan oleh si bintang merah bejat itu untuk aku bunuh. Entah dimana si Mekhane itu berada, maunya apa, dan apa alasannya, yang pasti dia sering mencoba untuk berkomunikasi dengan aku berkali-kali. Dewi sialan, itulah nama lainnya.”
“Mekhane, huh ? Apa dia itu jahat, atau baik ?”
“Lupakan saja. Kalian tidak perlu tahu banyak tentang dewa-dewi yang ada di dunia ini. Kalian hanyalah manusia biasa lagipula.” ucap Asteri sambil lanjut berjalan lebih dulu, meninggalkan kami berdua di belakangnya.
Aku pun menatap ke arah Ava. Memang benar, sepertinya untuk seorang manusia biasa, mencoba mengulik informasi tentang dewa-dewi yang mungkin belum tentu ada adalah hal yang bodoh dan tidak berguna. Di saat itulah, sebuah suara yang kedengarannya agak familiar terdengar cukup jelas di belakang kami.
“Benar juga, aku baru keinget sesuatu. Bukannya kita sampe sekarang masih lari dari 'seseorang' saat ini ?”
“Ah, iya juga tuh. Kenapa bisa kelupaan, yak ?” gumam Ava.
Aku dan Ava melirik ke belakang sana. Hanya sekilas saja, tapi si pembawa gergaji mesin sudah jelas ada di belakang kami, seolah sedang menunggu kami sejak pembicaraan tadi bersama dengan Asteri. Demi tuhan, bagaimana caranya si brengsek itu bisa ada di sini secara tiba-tiba ? Lupakan itu. Saat ini, yang terpenting bagi kami adalah.......
“LARI !!!!” seru kami berdua secara bersamaan.
Seperti yang kami serukan secara bersama-sama barusan tadi, kami pun melarikan diri dari pembawa gergaji mesin sialan itu. Raungan gergaji mesinnya terdengar menggelegar keras di belakang sana, bahkan saat aku dan Ava sudah sangat jauh dari tempatnya ia berdiri. Hanya beberapa langkah saja dan kami akhirnya bertemu dengan Asteri kembali, yang masih berjalan santai sembari mengamati seluruh gambar-gambar yang ada di tembok kayu di sekelilingnya itu. Aku langsung menarik tangan kanannya, membuat dia langsung terkejut seketika.
“Apa-apaan kalian ini !!?” serunya, dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
“Itu harusnya adalah pertanyaan ku, bodoh !! Bisa-bisanya kamu masih jalan santai saat ini, waktu kamu jelas-jelas denger suara dokter Salvador bajingan itu di belakang sana !!?”
Asteri menoleh ke belakang, seperti tidak mengetahui apa-apa sebelum aku menarik tangannya. Yang dia lihat pastinya adalah si dokter Salvador itu, yang sedang meraung keras bersamaan dengan suara dari gergaji mesinnya yang menggelegar di sekitarnya. Asteri mengamatinya sesaat, sebelum akhirnya menatap kembali ke depan.
“Maafkan aku. Aku sedang daydreaming waktu itu.”
“Gak usah dipikirin, bodoh ! Yang paling penting sekarang adalah gimana caranya nyelametin diri dari maniak sialan itu secepatnya !!” seruku kepada Asteri.
Mau bagaimanapun aku mencari jalan berbelok di dalam labirin kayu sialan ini, tetap saja tidak ada satupun jalan berbelok kecuali dengan memasuki sebuah ruangan tertentu. Terpaksa aku berhenti di depan sebuah pintu, kemudian menendang pintu itu supaya terbuka. Pintunya bisa dibilang tertutup cukup kuat untuk sepantaran pintu kayu pada umumnya, sangat luar biasa sampai-sampai mengharuskan aku mendobraknya bersama dengan Ava. Begitu pintu terbuka, yang kami lihat paling pertama di dalam ruangan ini adalah beberapa pagar pembatas kayu dalam bentuk persegi besar, yang sepertinya dibuat untuk membatasi seseorang untuk terjun ke lubang besar di bawah sana. Lagi-lagi, ada cahaya berwarna biru terang yang terpancar di bawahnya, seperti yang aku lihat di celah-celah lantai sebelumnya.
“Apa-apaan sebenarnya cahaya biru aneh itu !?”
“Uhuh ? Gimana caranya kamu tahu itu, bocah ?”
“Karena aku lihat gambar-gambarnya !”
Terkadang, melihat gambar-gambar aneh di tembok itu bisa berguna juga, huh ? Lupakan saja. Setelah Ava memutuskan untuk masuk ke ruangan itu sebagai orang yang pertama, aku dan Asteri pun ikut menyusulnya di belakang. Terima kasih berkat suara dari gergaji mesinnya yang terdengar sangat keras itu, aku bisa mengetahui seberapa dekatnya dia saat ini dengan posisi kami. Si maniak itu benar-benar memilih untuk membunuh dengan cara barbar, huh ?
Masih berlari terus ke depan, kami bertiga disambut oleh sebuah pintu kayu yang lainnya. Aku dan Ava tidak memperdulikannya, dan langsung mendobrak pintu itu tanpa berpikir panjang sama sekali. Begitu kami bertiga masuk, pintu tersebut tertutup dengan sendirinya, dan yang kami bertiga lihat adalah sama. Sebuah manekin kayu yang saat ini sedang menatap kami bertiga.
“Tunggu, apa kita aman di sini ?”
“Yang kamu tanyain itu salah, Ava. Harusnya, apa-apaan si manekin brengsek di depan sana itu ? Siapa yang menaruhnya di sana, bangsat !?”
Asteri ikut masuk dalam perbincangan kami tidak lama setelah itu.
“Itu adalah boneka Asteri. Seperti yang kubilang, kita saat ini ada di masa depan dimana Sakarette berperang melawan Mekhane. Dan itulah fungsinya di sini, mengawasi siapapun yang menyusup ke tempat ini.”
“Heh, kedengaran masuk akal...... Dan juga mengerikan.” balasku.
Sudah jelas ada yang tidak beres dengan manekin bodoh itu. Mulai dari posenya yang seperti baru saja bergerak, dan fitur di wajahnya terutama di bagian mulut, yang seolah dibuat untuk menggigit seseorang menggunakannya. Sudah pasti, ada sesuatu yang sus dengan manekin sialan itu.
“Salah satu dari kita harus ada yang merelakan dirinya untuk terus melakukan kontak mata dengannya, atau kalau tidak, boneka itu akan mulai bergerak mengejar kita bertiga.”
“Apa !?” seruku dan Ava secara bersamaan, dibuat syok karena perkataan-perkataannya itu.
Bukankah itu artinya, pergerakan kami akan melambat hanya untuk mengawasi manekin sialan ini saja ? Jangan lupakan kalau masih ada si dokter Salvador gila di belakang sana, yang saat ini sedang memotong pintu di belakang kami menggunakan gergaji mesinnya secara barbar. Tempat ini tidak begitu menakutkan, huh ? Bukankah itu yang pertama kali aku pikirkan ?
“Tidak ada waktu lagi, kita harus bergerak sekarang.” ucap Asteri sambil berlari mendahului kami melewati manekin sialan itu.
Memang tidak ada cara lain lagi selain melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Asteri. Kalau memang yang dikatakannya itu adalah benar, berarti harus ada seseorang yang berjalan mundur sambil terus mengamati manekin sialan itu, bukan ? Aku pun merelakan diri untuk melakukan itu dengan membiarkan Ava berlari mendahuluiku. Omong-omong, pintu itu tetap tidak hancur atau terbuka sama sekali bahkan setelah si topeng besi itu mencobanya dengan sekuat tenaganya. Rasakan itu, bangsat !!
Singkatnya, aku menyusul Ava sambil berjalan mundur cepat mengawasi manekin sialan itu. Manekin itu tidak bergerak sama sekali saat aku menatapinya. Begitu aku sampai di bingkai pintu yang tidak ada pintunya sama sekali, aku pun langsung berlari menyusul mereka berdua. Ava terlihat sangat khawatir saat itu, dan begitu ia melihatku mendatanginya, wajahnya langsung terlihat menjadi sangat lega begitu saja.
“Eva, kamu masih hidup juga ternyata !!”
__ADS_1
“Maksudmu apa, bangsat !?”
Ava hampir tertawa terbahak-bahak saat itu, namun ia segera menutup mulutnya dengan cepat. Suara 'pffft' pun terdengar darinya. Namun berbeda dengan Ava yang sedang santai saat itu, Asteri kelihatan sedang tidak baik-baik saja. Tentu saja, tipikal orang paranoid.
“Kita masih belum selamat dari sini, bodoh ! Lihat ke belakang !!”
Aku dan Ava pun menoleh ke belakang, dan di saat itulah si manekin brengsek itu menghentikan larinya yang terlihat sangat aneh dan mengerikan, tepat di hadapan kami. Aku melihatnya sendiri. Si manekin itu baru saja berlari menuju kami dengan kedua tangannya sedikit terentang ke samping, seperti berlari ala-ala Shinobi dari Konoha.
“Sialan itu benar-benar bergerak ?”
“Keliatannya memang begitu.....” jawab Ava sambil gemetaran, secara perlahan berjalan mundur menjauhiku dan Asteri.
Sudah jelas Ava ingin kabur lebih dulu meninggalkanku dan Asteri sendirian bersama dengan si manekin ini. Itu jelas akan berbahaya buat dirinya sendiri yang merupakan seorang manusia biasa. Jadi sebelum Ava membunuh dirinya sendiri karena itu, aku pun ikut berjalan mundur bersamanya.
“Asteri, ini giliranmu.”
“Apa !? Apa maksudmu giliranku, sialan !!?”
“Kamu harusnya tahu dengan jelas, kan !? Liatin tuh manekin sialan !! Aku udah ngelakuinnya duluan, tahu !!”
“Bukan begitu cara kerjanya, bodoh !!”
“Kita lakukan ini bareng-bareng bisa, kan !!?” seru Ava dengan suara yang memekakkan telinga kami berdua.
Itu berhasil membuat aku dan Asteri menoleh ke arahnya seketika. Benar-benar sebuah ide yang jenius, untuk membuat kami bertiga mati bersama-sama. Atau mungkin, bukan itu maksudnya. Aku dan Asteri seketika sadar bahwa pandangan kami sudah tidak berada pada manekin sialan itu sekarang. Tidak ada yang sedang melihatnya, karena Ava pun menunduk ke bawah karena baru saja mengeluarkan seluruh suara miliknya. Dengan cepat, aku dan Asteri menoleh ke arah manekin sialan itu lagi, yang membuatnya berhenti seketika. Beruntung sialan itu masih belum terlalu dekat dengan kami, karena itu akan sangat mengerikan. Jauh di belakang manekin sialan itu, aku, Ava, dan Asteri, sama-sama melihat si topeng besi itu baru saja menerobos tembok kayu dari sebelah kiri. Benar-benar sebuah momen sialan.
“Ava, masih yakin ngelakuin ini bareng-bareng ?”
“Ng-nggak !! Itu cuma bagian paling bodoh ku, oke !?”
“Tetap saja, kita masih harus lari, bukan ?” ucap Asteri.
Si topeng besi itu mulai menoleh ke arah kami bertiga, dan tidak lama kemudian mengeluarkan tawa yang mengerikan. Yang benar saja, kenapa hal bajingan seperti ini harus terjadi sekarang ?
“Asteri, kita harus ngapain !!?”
“Ah, aku punya ide jenius baruan saja.”
“Oh, apaan tuh ??” tanyaku dan Ava secara bersamaan karena penasaran.
Baru kali ini aku melihat Asteri dengan ide briliannya. Aku sangat penasaran dengan ide macam apa itu.
“Tentu saja, semua waktu yang sudah lewat itu juga termasuk masa lalu, sampah rendahan.”
“Hah ? Aku jadi lebih penasaran lagi dengan apa maksudnya, bocah bajingan.“
Tiba-tiba saja, kami bertiga sudah ada di luar ruangan pertama itu, tepat saat aku sedang mengangkat kaki dan hampir mendobraknya. Luar biasa, bocah ini benar-benar op dan harus di nerf dengan segera. Aku menurunkan kaki ku, dan memutuskan untuk tidak mendobrak pintu sialan itu lagi.
“Kita hanya perlu mencari pintu yang lain setelah ini.” ucap Asteri sambil berjalan maju dengan santai.
“Tapi kita masih harus harus lari dari si topeng besi sialan itu, kan ?”
“Aku masih belum lupa dengan sialan itu, tahu. Setidaknya kita tidak berhadapan dengan boneka sialan itu juga.”
Memang bener sih, kalau berkat ide jeniusnya itu, pelarian kami menjadi lebih mudah daripada yang tadi. Walaupun masih dikejar-kejar oleh si topeng besi itu, setidaknya kami tidak harus mengamati manekin sialan itu juga. Sampai akhirnya, tibalah kami di depan sebuah tangga yang menurun ke bawah, dengan sebuah tulisan 'exit' berwarna merah tertulis di atasnya.
“Eh ? Begini aja ?”
“Sialan. Bagian menantangnya cuma waktu bareng si manekin sialan itu kayaknya.” balas Ava.
Tetap saja, masih ada satu hal yang belum terjawab sampai saat ini. Aku menoleh ke arah Asteri, kemudian mulai bertanya.
“Oi, bocah. Kenapa orang itu bisa muncul tiba-tiba di sini ?”
Asteri menatapku dengan tatapan yang merendahkan. Aku bisa mengetahui apa yang sedang dikatakannya dalam hati hanya dengan melihat matanya itu. Dasar makhluk rendahan, begitulah kira-kira isi pemikirannya saat ini.
“Masa depan adalah abstrak, dan masih belum terjadi sama sekali. Dengan memanipulasi masa depan yang belum terjadi itu, dia si topeng besi bisa melakukan apa saja seenaknya. Hanya saja, dia terlalu bodoh untuk menggunakannya hingga mencapai batasnya.”
Aku sudah tidak peduli lagi dengan penjelasannya itu. Lupakan, karena aku melihat sebuah kebebasan di depan sana. Sepertinya cerita ini sudah kehilangan bagian utama dari horornya. Tanpa basa-basi, Ava langsung berlari menuruni tangga itu, disusul oleh aku, dan kemudian Asteri sebagai orang yang paling terakhir.
Ini memang sangat mudah. Tapi kenapa aku melihat Asteri yang sepertinya agak tidak yakin dengan sesuatu waktu itu ??
__ADS_1