Anomaly

Anomaly
Spear of Hatred


__ADS_3

Aku tertidur kembali, dan di sanalah aku bermimpi. Sebuah mimpi tentang masa lalu dari seseorang yang bernama Uvukku.


Tahun 642 SM, Hutan Amazon


Uvukku dilahirkan oleh keluarga dari pemimpin suku di hutan Amazon. Walaupun begitu, kelahirannya tidak pernah dihargai oleh anggota suku yang lain ataupun keluarganya sendiri. Kulitnya hitam gelap, wajahnya jelek, tubuhnya sakit sakitan, dan mulutnya pun juga bisu. Ia jauh berbeda daripada kedua kakaknya yang sangat dihormati oleh anggota suku yang lainnya. Kakaknya yang pertama, Oru' ksuthsu, merupakan seorang pria yang tangguh dan juga sangat tampan. Ia terus diidam idamkan oleh para gadis yang ada di sukunya. Sementara itu, Oru' Yama, kakaknya yang kedua, adalah seorang perempuan yang cantik, baik hati, namun juga seorang pejuang yang tangguh. Oru' Yama telah berpartisipasi dalam berbagai pertarungan antar suku yang lainnya bersama dengan Oru' Ksuthsu, dan mereka telah menorehkan kemenangan yang sangat besar dan juga berharga bagi suku mereka. Nama keduanya dielu elukan sebagai pahlawan tiada tanding, sementara Uvukku sendiri dikurung di dalam sebuah kurungan seukuran anak anjing, dan hanya dibawa keluar oleh keluarganya saat mereka berpesta merayakan kembalinya Oru' Ksuthsu dan Oru' Yama dari pertempuran. Uvukku hanya dapat melihat orang orang dari sukunya itu menari dengan riang sementara dia hanya terduduk diam sambil tersenyum dari dalam kurungannya. Ini adalah hinaan paling keji yang dilakukan oleh keluarganya. Bahkan untuk menghukum seorang pengkhianat keluarganya hanya membuang orang itu dari sukunya. Setidaknya, mereka yang dianggap sebagai pengkhianat masih memiliki kebebasan, tidak seperti dirinya. Dia dianggap sama seperti anjing peliharaan, tidak memiliki nyawa, emosi, maupun keinginan tersendiri. Apapun yang dilakukannya hanyalah kehendak para dewa yang menciptakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.


Uvukku setiap 6 hari sekali, akan dikeluarkan dari dalam kurungannya dan dicambuk terus menerus supaya ia berlari ke dalam hutan dengan penuh luka di punggungnya. Jika ia tidak berlari, maka kakak perempuannya Oru' Yama, akan membujuknya dengan kata kata yang manis, seperti berjanji akan membebaskan dirinya dari dalam kurungan untuk selamanya. Tentu saja Uvukku menerima itu, walaupun pada akhirnya semua yang dijanjikan oleh Oru' Yama hanyalah omong kosong. Setelah berlari ke dalam hutan, luka pada punggung Uvukku akan menarik perhatian hewan hewan predator yang ada di sekitarnya, terutama para beruang. Di saat itulah, seluruh pria yang juga mengikutinya akan saling berlomba untuk membunuh hewan yang menyerang Uvukku, kemudian menguliti hewan tersebut dan menunjukkan kulitnya kepada Oru' Ksuthsu. Pria yang berhasil memenangkan perlombaan itu akan diberi penghargaan yang mewah oleh kepala suku, yaitu ayahnya sendiri dan dia akan diijinkan untuk ikut dalam pasukan khusus yang dipimpin oleh kedua kakaknya. Sementara itu, Uvukku akan terus dipaksa untuk menjadi umpan buruan jika hewan yang menyerangnya bukanlah seekor beruang. Keluarganya tidak peduli jika mereka akan kehilangan peliharaan seperti dirinya, karena mereka sendiri masih memiliki anjing peliharaan yang lainnya.


Namanya adalah Umpuntu, adik perempuan Uvukku yang juga sama sama tidak diinginkan oleh keluarga besarnya. Jika Uvukku dijadikan sebagai umpan dalam perlombaan, maka Umpuntu akan dijadikan sebagai 'hadiah' dari perlombaan tersebut. Umpuntu akan dipaksa untuk berhubungan dengan sang pemenang lomba, dan jika ia kedapatan hamil, maka Oru' Yama akan membelah perutnya, mengambil janin yang ada di dalamnya, kemudian menjahit perutnya kembali. Semua itu dilakukan dengan paksaan oleh Oru' Yama, dan jika Umpuntu memberontak maka Uvukku lah yang akan menjadi korbannya. Ia akan disiksa oleh Oru' Ksuthsu dan orang orang bawahannya di depan mata Umpuntu sampai dirinya teralihkan, dan saat itu juga Oru' Yama akan menghujam perutnya tanpa basa basi. Hal ini dilakukan terus menerus hingga Umpuntu mengalami kecacatan pada rahimnya secara permanen, dan juga kelumpuhan di kaki kanannya. Umpuntu terbaring tanpa memiliki tenaga yang tersisa sama sekali selama sisa hidupnya. Ia mampu berbicara, dan itulah yang ia gunakan untuk terus membuat Uvukku bersabar kepada seluruh anggota keluarganya.


Walaupun sudah kehabisan suara, namun Umpuntu tetap berusaha untuk terus berkomunikasi dengan Uvukku dari balik dinding kayu pemisah di dalam sebuah rumah kayu reyot tempat dimana mereka dikurung. Tidak pernah ada makanan yang disediakan bagi mereka, karena itulah Umpuntu selalu keluar dari rumah tua itu untuk menangkap berbagai serangga seperti kecoa, lebah, ataupun semut. Mereka berdua menikmati makanan itu, sekalipun di hati mereka yang paling dalam ada rasa jijik setiap kali harus memakan serangga itu hidup hidup. Hanya suara dari sang adik lah yang terus membuat Uvukku terus berusaha untuk bertahan selama ini, dan ia terus berjanji pada dirinya sendiri untuk terus menjaga sang adik dari tangan tangan jahat milik anggota sukunya dan orang lain di dunia ini.


Suatu hari, suku mereka dilanda oleh perang besar. Bersama, Oru' Yama dan Oru' Ksuthsu berangkat dari rumahnya menuju ke medan perang dan juga meninggalkan Uvukku dan Umpuntu sendirian. Kepergian Oru' Yama dan Oru' Ksuthsu selalu membuat orang orang di suku itu cemas karena tidak ada yang dapat melindungi mereka. Hari demi hari berlalu, dan keduanya belum juga kembali dari peperangan tersebut. Hingga pada akhirnya, yang ditakutkan pun tiba. Ribuan pasukan musuh berdatangan dari segala arah dan membantai suku mereka semua. Tidak ada yang selamat dari pembantaian tersebut, kecuali dua orang, yaitu Umpuntu dan Uvukku yang berada di dalam rumah reyot tempat mereka dikurung. Umpuntu menyaksikan pembantaian keji tersebut dengan kedua matanya sendiri dari dalam rumah tua itu ditemani oleh kakaknya yang berada di dalam kurungan anjing, Uvukku. Mata mereka berdua tidak menunjukkan rasa takut ataupun sedih, justru mereka sangat senang dan penuh dengan harapan. Mereka akhirnya bisa keluar dari penyiksaan yang mereka alami selama ini. Dengan diam diam, Umpuntu berjalan melewati pasukan musuh yang terus berjaga di area sekitar menuju rumah utama mereka, tempat di mana Oru' Yama menyimpan kunci dari kurungan Uvukku. Umpuntu pun berhasil menemukan kunci itu, dan beberapa saat kemudian mereka berdua berhasil kabur dengan berlari menuju ke arah yang selalu di tuju oleh Uvukku setiap kali ia dilepaskan layaknya seekor anjing liar, yaitu ke kedalaman hutan. Uvukku menggendong Umpuntu dengan kedua tangannya dan terus berlari sekuat tenaga. Setelah bertahun tahun melewati jalan yang sama ini, Uvukku sudah hafal tentang semua yang ada di kedalaman hutan. Uvukku akhirnya menemukan gua yang sudah ia tandai selama ini dengan sebuah tombak pemburu yang di curi oleh Umpuntu untuk membantunya melindungi diri dari ancaman kekerasan Oru' Ksuthsu dan Oru' Yama. Mereka berdua akhirnya tinggal di dalam gua tersebut selama bertahun tahun dan Uvukku terus berlatih dengan tombak pemburu itu agar menjadi lebih kuat. Setiap harinya, Uvukku akan berburu dengan melempar tombaknya ke arah beruang betina ataupun hewan lainnya dari kejauhan. Ia kemudian akan kembali dengan menutupi tubuhnya menggunakan kulit hewan tersebut yang sudah ia kuliti. Tanpa disadari oleh Umpuntu bahwa sebenarnya daging yang selalu mereka makan adalah orang orang dari sukunya sendiri yang telah tersebar di seluruh hutan.

__ADS_1


Uvukku selalu berkeliling ke area sekitar hutan untuk membunuh gadis yang berasal dari sukunya yang telah berpisah menjadi 12 suku yang berbeda. Itu semua ia lakukan karena kebenciannya terhadap perempuan, terutama kakak keduanya, Oru' Yama.


Suatu hari, saat Uvukku pulang dari perburuannya, ia dikejutkan dengan hilangnya Umpuntu dan juga kehadiran Oru' Ksuthsu di depan gua nya. Oru' Ksuthsu bersama dengan orang orangnya kemudian menyerang dan menangkap Uvukku. Ia kemudian di bawa pergi ke tempat tinggal sukunya yang sudah lama hancur, dan kini kembali seperti semula. Uvukku mendapati orang orang dari sukunya telah kembali menjalani hidup seperti semula dan bukan hanya itu saja, Oru' Yama kini sudah diangkat menjadi seorang ratu dari suku tersebut. Matanya melotot tajam saat melihat kepala Umpuntu yang berada di depan Oru' Yama. Uvukku menjadi sangat marah dan mulai memberontak, namun ia terjatuh seketika saat kaki kanannya di tusuk oleh tombak Oru' Ksuthsu. Oru' Yama kemudian berdiri dari singgasana nya kemudian mulai berbicara.


“Lihatlah, wahai orang orang yang ku kasihi dan ku lindungi. Tujukan matamu kepada sang iblis yang ada di tengah tengah kalian ! Orang ini adalah seorang pengkhianat yang membuat suku kita mengalami kehancuran 5 tahun yang lalu, dan mulai sekarang ia akan menjadi seorang budak perang. Siapa pun yang dengan beraninya menolong orang ini, akan mengalami siksaan yang sudah dia rasakan seumur hidupnya dulu.”


Perkataan Oru' Yama itu memancing perhatian banyak orang di sekitarnya. Mata mereka tertuju langsung pada kulit hitamnya, dan berbagai cemoohan pun dilontarkan kepadanya. Bukan hanya itu saja, berbagai macam senjata seperti pisau, belati, kerikil, hingga batu panas pun dilemparkan kepadanya. Uvukku sudah tahu dengan jelas bahwa kedua kakaknya lah yang sebenarnya berkhianat. Entah bagaimana caranya, mereka berdua berhasil menjalin hubungan kerja sama dengan suku lain di luar hutan, kemudian menyuruh suku tersebut untuk menghancurkan suku mereka sendiri. Dengan adanya propaganda bahwa mereka sedang dijajah, Oru' Yama dengan mudahnya mempersatukan suku suku yang terpisah itu menjadi satu kembali, dengan begitu mereka berdua dapat menghancurkan suku yang tersisa dalam satu serangan sekaligus.


“Demi sang Mahadewa Impundulu, aku Oru' Yama, bersumpah akan membawa suku ini kembali ke masa kejayaan mereka !!”


Seluruh warga bersorak sorai kepadanya, sementara itu, dendam Uvukku terhadap kakak perempuannya semakin membara. Ia tersenyum dengan sangat lebar sambil membayangkan berbagai cara untuk menyiksa kakak perempuannya itu hingga ia mati terbunuh dengan wajah memohon.


13 tahun kemudian, Uvukku berdiri di tengah tengah medan pertempuran masih sebagai budak perang. Selama ini, dia terus berjuang mati matian untuk terus bertahan hidup dan melampiaskan dendamnya kepada kakak perempuannya itu, namun tidak pernah berhasil. Ia kembali dipenjara ke dalam kurungan yang kali ini seukuran dengan seekor beruang. Ia selalu dihina oleh gadis gadis dari sukunya yang juga terus memanaskan kulitnya dengan besi berapi. Sudah 13 tahun juga ia bertarung dalam peperangan sebagai orang yang maju paling pertama, menghadapi musuh musuhnya tanpa perlengkapan perang sama sekali. Sudah 13 tahun ia terus dikorbankan dan juga ditinggalkan di medan perang, sementara pasukan yang lainnya kabur menyelamatkan diri mereka sendiri. Dan sudah 13 tahun juga ia terpaksa harus kembali ke sukunya yang terus membenci dirinya tanpa akhir. Kali ini dia sedang bertatap muka dengan kakak pertamanya, Oru' Ksuthsu di medan pertempuran yang dipenuhi oleh darah dan mayat yang berjatuhan. Suasana hening sejenak, dan keduanya saling menatap dengan penuh kebencian di mata mereka. Setelah beberapa saat terus berdiam diri sambil menatap satu sama lain, akhirnya Uvukku mengamuk dan langsung berlari ke arah Oru' Ksuthsu dengan tombaknya terhunus ke depan. Hanya butuh tiga serangan beruntun bagi Oru' Ksuthsu untuk membuatnya terjatuh ke tanah.

__ADS_1


Akhirnya Uvukku dibawa kembali ke sukunya oleh Oru' Ksuthsu, dan di sanalah untuk terakhir kalinya ia melihat Oru' Yama kembali. Oru' Ksuthsu kemudian tunduk kepada Oru' Yama dan berkata.


“Pengkhianat ini telah menyerang ku.”


Oru' Yama kemudian menatap Uvukku dengan sinis. Ia kemudian tersenyum mengejek ke arahnya dan menyuruh para algojo wanita yang duduk di sekitarnya berdiri.


“Kuliti dia.”


Dan begitulah Uvukku meninggal. Dirinya dikuliti oleh para algojo wanita dengan pedang bergerigi yang bukan hanya menyobek kulitnya, namun juga menembus dagingnya. Teriakan adalah hal terakhir yang bisa dilakukan oleh Uvukku. Sambil berteriak kesakitan, ia terus mengingat apa saja yang pernah ia alami semasa hidupnya. Ia terus dihina oleh para gadis yang ada di sukunya. Ia tidak pernah mendapat kasih sayang dari keluarganya. Ia dikurung layaknya seekor anjing oleh sukunya. Ia harus menyaksikan adiknya, satu satunya orang yang mengasihinya dipenggal kepalanya. Ia dijadikan sebagai budak perang oleh saudara perempuannya sendiri. Dan saat ini, tubuhnya dikuliti hidup hidup oleh para algojo wanita. Seluruh kebencian dan kekecewaannya hanya tertuju pada satu orang yang ada di depannya, yaitu Oru' Yama. Dia terus mengingat ingat wajahnya itu, sampai sampai terbayang di kepalanya. Hingga ia melihat para algojo wanita yang mengulitinya itu adalah Oru' Yama. Oru' Yama dan Oru' Yama saja. Dia bersumpah kepada sang Mahadewa Impundulu, bahwa setelah kematiannya, ia akan menghajar seluruh wanita yang telah diciptakannya dan yang telah terlahir ke dunia. Matanya tidak akan pernah sekalipun melewatkan buruannya itu. Jika orang orang yang lain menunjukkan kehebatannya dengan kulit beruang, maka ia akan menunjukkan kehebatannya dengan kulit seorang wanita. Ia tidak akan pernah berhenti membunuh, hingga seluruh Oru' Yama yang ada di dunia ini, baik di masa lalu, masa kini, hingga masa depan telah mati terbunuh oleh tangannya sendiri.


Uvukku berakhir dengan seluruh kulitnya habis oleh siksaan para algojo. Oru' Yama kemudian pergi dari hadapannya sambil menyuruh para algojo untuk mencambuk dirinya yang hanya menyisakan daging dan otot itu. Tiap cambukan ia terima tanpa perlawanan. Ia ingin memberontak dengan kata kata, namun ia terlahir sebagai orang bisu. Ia sudah ditakdirkan hidup dalam cengkeraman orang orang yang lebih kuat darinya tanpa perlawanan apapun. Sesaat kemudian, Oru' Yama kembali dengan beberapa orang membawa ember penuh dengan besi cair panas. Oru' Yama kemudian menyuruh orang orang itu menuangkan besi panas itu ke tubuhnya. Di saat itulah, saat besi cair itu dituangkan ke atas tubuhnya, Uvukku merasakan lidahnya yang kaku dapat digerakkan secara tiba tiba. Ia kini dapat berbicara, dan satu kata yang selalu ia ingat ingat dalam pikirannya. Satu satunya kata yang selalu ingin ia ucapkan dari dalam mulutnya sendiri. Setidaknya, sang Mahadewa mengabulkan salah satu keinginan yang sudah dimilikinya sejak dulu.


“Um ..... Pu....... Tu.”

__ADS_1


__ADS_2