Anomaly

Anomaly
Oath of Fortress


__ADS_3

Dia tahu segalanya.


Apa artinya itu ? Tidak ada penjelasan sekalipun. Apakah Robin marah padaku ?


Aku saat ini ada di luar ruangan Outpost. Di tanganku, adalah pistol anti anomali pemberian Robin. Hanya itulah yang ditinggalkannya padaku. Juga beberapa magazine pastinya. Apa yang harus kulakukan sekarang ? Balas dendam ? Tapi aku tidak tahu kemana si Negro itu pergi. Kalau bukan itu, lalu aku harus kemana ? Robin bahkan tidak mengatakan apapun kepadaku. Hanya tiga kata sialan yang tanpa arti itu.


Robin, kalau kamu benar-benar marah..... Aku minta maaf ! Aku benar-benar minta maaf !!


Baiklah, mungkin aku hanya akan meneruskan perjalanan dari sini. Berjalan ke arah kanan dari Outpost, memasuki area Keter ini jauh lebih dalam. Walaupun aku tahu ini akan jauh lebih berbahaya, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi saat ini. Yang terbesit di dalam kepalaku hanyalah 'melanjutkan keinginan Libya', entah apa itu sebenarnya. Mungkin menyelamatkan orang-orang kelas D itu, atau mungkin.... Entahlah, keluar dari tempat ini dengan selamat ? Apakah itu benar-benar mungkin ?


Aku memasuki pintu otomatis pertama di lorong ini. Hal pertama yang ku lihat, hanyalah lorong yang gelap, tidak ada lampu yang terpasang sama sekali bahkan. Kenapa ini harus mereka lakukan ? Orang-orang yang lewat sini menggunakan lampu petromax ? Atau senter, mungkin. Pemandangan yang aneh pertama juga. Tidak terlalu gelap juga, sih. Masih bisa melihat dengan mata telanjang. Mari kita lihat, ada makhluk aneh apa saja yang ada di sini.


...****************...


Kesan pertamaku setelah beberapa saat berjalan melewati lorong-lorong di area ini adalah, sangat aneh. Ada tempat untuk memasang lampu, namun tidak ada lampunya. Itu mulai membuatku berpikir, apa yang sebenarnya mereka coba dapatkan dengan tidak memasang lampu di lorong-lorong ini ? Tidak mungkin mereka melakukan hal ini tanpa alasan. Dan aku juga tidak peduli dengan alasan apapun itu, yang penting bagiku adalah dimana tempat persembunyian para kelas D sialan itu. Apakah lorong ini mengarahkan ku ke sana ?


Aku sudah tidak peduli dengan yang namanya arah lagi. Aku hanya berjalan, dan terus berjalan lurus ke depan sambil memegang pistol anti anomali Robin. Pintu otomatis kedua akhirnya ku lewati, dan di sanalah akhirnya pemandangan jadi sedikit lebih 'menarik'. Hanya beberapa langkah saja di depan ku, terdapat sebuah reruntuhan dari tembok sisi kanan seperti baru saja dijebol oleh seseorang, atau mungkin sesuatu. Dan masih ada di dekat reruntuhan tersebut, terdapat sebuah benda yang menarik perhatianku. Ku akui, aku memang seperti burung gagak, selalu saja tertarik pada benda yang berkilap.


Aku menghampiri 'benda' tersebut, dan rupanya itu adalah sebuah kalung tag bertuliskan.... 'Luna' ? Jadi kalung tag ini punya Luna ? Bagaimana bisa dia kehilangan kalungnya di sini, sementara aku bertemu dengannya di ruang bawah tanah ? Seberapa lama kekacauan ini terjadi sampai Luna bisa mencapai bawah tanah ? Dan apa yang sebenarnya ingin ia lakukan di sana ? Sumpah, otakku rasanya ingin meledak hanya untuk memikirkan hal ini.


Aku mengutak-atik tag itu, dan ternyata tag tersebut bisa dibuka. Sebuah foto yang memperlihatkan seorang wanita dan pria yang berusaha untuk menyentuh jari satu sama lain, terpisahkan oleh jarak. Di belakang wanita tersebut ada bulan, sementara di belakang pria tersebut, adalah matahari. Dilihat dari gambarnya, ini membuatku teringat dengan cerita mitos Hou yi dan Chang' e, bukankah begitu ? Sepertinya memang seperti itu.


Aku menutup tag itu kembali, dan kemudian menyimpannya di dalam saku celana ku. Kapan lagi aku bisa mendapatkan peninggalan terakhir dari Luna setelah berjalan sejauh ini. Teringat akan masa lalu selalu saja menjadi hal terburuk bagiku. Baiklah, mulai saat ini, aku bersumpah akan melindungi semua orang dengan sekuat tenagaku !! Monster apapun itu, mereka akan ku buat berlari ketakutan dan menjauhi semua orang yang aku sayangi ! Ingat itu, monster-monster bajingan !!


...****************...


Hal-hal mulai menjadi lebih membosankan lagi sekarang. Puing-puing bangunan, darah berceceran dimana-mana, dan bekas cakaran di tembok-tembok. Bukankah itu hal yang paling normal untuk terlihat di tempat yang penuh dengan monster seperti ini ? Sekarang, apakah aku boleh mulai meremehkan area bernama Keter ini ? Maaf, tapi si Negro itu jauh lebih mengerikan daripada makhluk-makhluk yang ada di sini, atau bahkan tidak ada sama sekali. Jarang sekali aku melihat pintu ruangan di area ini, seperti seolah pintu-pintu dan ruangan sudah hampir punah dari dunia.


Tidak ada lampu yang terpasang, sama sekali. Apa mereka kira, semua orang di sini adalah hewan nokturnal !? Kalaupun ada senter, itupun tidak cukup membantu, bodoh !! Lorong seluas ini, dan hanya menggunakan senter sebagai alat bantu penglihatan !? Itu benar-benar keterlaluan ! Bagaimana kalau ada monster yang menyerang dari samping atau belakang ? Bukankah itu akan sangat berbahaya !?


Yah, sialan juga. Kenapa aku malah jadi mempedulikan tentang infrastruktur dari tempat ini juga ? Lorong-lorong sekarang sudah mulai gelap total, dan lebih buruknya lagi, aku tidak punya senter sama sekali. Inilah yang ku takutkan sekarang. Bayanganku sendiri saja sudah tidak dapat terlihat pula, dan berdoa pada dua dewa sekaligus di tempat seperti ini sepertinya juga sebuah pilihan yang bagus menurutku. Maksudku, si Hou yi dan juga Chang' e, setidaknya berdasarkan logika ku, berdoa pada dua dewa sekaligus jauh lebih baik daripada berdoa pada satu dewa. Makan tuh pemikiran seorang atheis.


Tiba-tiba, aku melihat sebuah cahaya dari belakang. Seperti sebuah sorot lampu senter ? Siapa !?


“Agen spesial ?”


Cewek bajingan ini.... Entah siapa yang ada di belakang ku saat ini, yang pasti dia sedang menodongkan pistolnya ke kepala ku. Dari suaranya, dia sedang memegang revolver. Terserahlah. Aku menyerah saja untuk sekarang. Lagipula, aku bukan seorang John Wick.


“Santai, sis. Bisa turunkan revolver mu sebentar ? Aku bukan agen spesial, tahu.” ucapku sambil mengangkat kedua tangan.


“Kamu kira orang sepertiku ini tidak bisa melihat dalam gelap ? Jangan bodoh !”


Cih, entah kenapa semua orang yang ada di tempat ini selalu saja menyebalkan untuk pertama kalinya. Kecuali Rook, Robin, dan Libya. Oh ya, Luna juga.


“Apa masalah mu sebenarnya ? Kamu ini orang kelas D, bukan ?”

__ADS_1


“Sudah kuduga, dasar agen spesial bajingan !! Membunuh kelas D yang lain lalu lepas tangan begitu saja !!”


“Apa maksudmu membunuh kelas D lain !? Aku bukan agen spesial, dan aku pun tidak pernah membunuh orang, brengsek !!”


Bocah ini, harus dihajar dengan bukti nyata, huh !? Ada saja orang semacam dia..... !


“Liat nih !!” seruku sambil melipat baju lengan panjangku. Di baliknya, tentu saja terdapat baju lain yang berwarna oranye, khas kelas D sepertinya. Si brengsek itu seketika terkejut dan langsung menurunkan revolver nya dengan muka yang memerah. Sulit dipercaya, namun saat aku berbalik ke si brengsek ini, wajahnya terlihat seperti aku.


“Ma-maaf....”


Cih, tidak mungkin aku memaafkan dia secepat itu. Setidaknya satu tamparan keras saja di wajahnya yang mirip denganku itu sudah cukup, sangat cukup bahkan. Rambutnya sendiri bahkan juga pendek dan berwarna perak seperti punyaku. Orang ini plagiat penampilan ku, kah !?


“Oi, brengsek. Kenapa kamu sangat mirip denganku ?”


“Entahlah. Kamu kira aku kaget juga karena apa ?”


Oh ? Jadi siapa sebenarnya yang original di sini ? Benar-benar membingungkan bagiku. Apa-apaan yang sebenarnya terjadi di sini ?


“Dan apa juga maksud mu agen spesial membunuh kelas D ? Karena aku dikirim oleh mereka, dan yang ada adalah mereka mau menyelamatkan kalian dari sini malahan.”


“Benarkah ? Kalau begitu tidak semua dari mereka adalah orang baik-baik. Ada satu dari mereka yang bersayap, dan bajingan itu baru saja hampir menghancurkan punggung ku !!”


Bersayap ? Sepertinya aku sedikit mengenalnya. Bukankah itu adalah Suzaku ? Jadi orang-orang yang dia bunuh itu adalah kelas D, bukan anomali. Bangsat sekali cewek itu.


Aku bisa melihat ketidakpercayaan di wajahnya, benar-benar menyebalkan.


“Kamu hampir mati karena bajingan itu, kan ? Aku juga sama-sama benci bajingan itu, dan rasanya kalau kita bersama, menggampar wajahnya itu akan jauh lebih mudah.”


“Menggampar wajahnya ? Itu akan jadi lebih menyenangkan kalau dilakukan dengan puluhan orang. Sepertinya aku bisa berteman baik denganmu.”


Cewek itu kemudian berjalan mendahuluiku ke depan, entah mau kemana dia ini.


“Ikut aku.”


“Huh ? Kemana ?”


“Tempat orang-orang seperti kita berkumpul.”


Tempat orang-orang kelas D berkumpul ? Gila, itu sangat tepat pada waktunya !! Bagaimana bisa kebetulan seperti ini terjadi ? Tidak mungkin karena berdoa pada Hou yi dan Chang' e itu, kan ? Karena aku masih tidak mau percaya dengan adanya Tuhan. Lebih baik aku segera menyusul cewek ini dan segera menanyakan namanya !


“Hei, namamu siapa ?”


Cewek itu menoleh ke arahku.


“Ava.”

__ADS_1


Ini tidak mungkin adalah sebuah kebetulan. Dan aku sangat menolak kalau ini memang sebuah kebetulan. Tidak pernah ada yang namanya kebetulan di dunia ini, itulah yang aku selalu percaya.


“Bagaimana mungkin kita seperti kembaran yang terpisah ? Aku Eva.”


Ava menghentikan langkahnya, dan terkesan baru saja terkejut dalam hati.


“Sepertinya kita memang kembaran, huh ?”


Dan begitulah. Hanya dalam beberapa menit saja bertemu, kami berdua sudah tertawa bersama-sama. Entah kenapa, tapi aku punya perasaan kalau aku dan Ava, kembaran baru ku, akan menjadi teman dekat yang tak terpisahkan, tidak akan pernah. Mungkin ini adalah kesempatan kedua bagiku, untuk melindungi orang lain.


...****************...


Tidak terasa, aku dan Ava sudah berada di area yang berbeda. Lorong-lorong yang gelap tak bercahaya sama sekali itu bukanlah apa-apa bagi kami. Aku terus bercanda ria dengan Ava selama perjalanan yang seharusnya terkesan membosankan itu. Namun karena kehadirannya, itu menjadi perjalanan horor paling menyenangkan bagiku.


Berbeda dengan yang sebelumnya, di sini, lampu-lampu dipasang seperti biasanya. Akhirnya, setelah beberapa waktu yang terasa seperti keabadian tinggal di dalam kegelapan yang abadi, aku dan Ava akhirnya bisa melihat cahaya lampu lagi. Sialan, mataku hampir dibutakan saat pertama kalinya memasuki area ini.


Aku dan Ava akhirnya melanjutkan perjalanan dalam diam, karena sudah kehabisan bahan pembicaraan. Setidaknya, aku dan Ava masih saling menyenggol dan cekikikan satu sama lain. Dia adalah orang yang paling menyenangkan yang pernah aku temui di tempat ini. Kalau saja ini bukanlah tempat penuh makhluk horor, kami masih bisa bercanda lebih lama lagi.


Suara tembok hancur lah yang membuat kami semua berhenti seketika. Entah apa itu, yang pasti, itu adalah makhluk horor yang lainnya. Aku dan Ava saling menatap satu sama lain, kemudian mengeluarkan senjata kami masing-masing. Aku sudah siap untuk ini. Terima kasih pada pemberian Robin, aku jadi jauh lebih yakin untuk menghadapi monster sialan yang lainnya sekarang.


“Apa-apaan yang tadi itu ?”


“Jangan tanya aku, bodoh. Aku juga tidak tahu apa yang barusan itu.


Aku dan Ava menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya monster sialan yang berikutnya pun akhirnya muncul, menampakkan dirinya dengan gaya. Ia meloncat dari balik tembok di depan kami, menghancurkan tembok itu sepenuhnya. Makhluk itu seperti humanoid, seluruh kulitnya putih pucat, dengan beberapa dari ujung tangan dan kakinya berwarna hitam mutlak. Yang paling mengerikan darinya menurutku adalah wajahnya, karena dia tidak punya mata, hidung, ataupun telinga. Benar-benar mulutnya saja yang terbuka dan meraung ke arah kami. Itu terlihat seperti satu-satunya lubang yang terlihat di wajahnya.


“Oi, Ava. Dia melihat ke arah kita ?”


“Emtahlah, tapi harusnya tidak mungkin. Mata saja dia tidak punya.”


Kami masih berbisik-bisik saat itu, sebelum akhirnya makhluk itu mulai berjalan mendekati kami. Aku segera menghentikan bisik-bisik itu, dan barulah dia berhenti melangkah. Dia bisa mendengarnya ? Bagaimana mungkin !? Dia bahkan tidak punya telinga !!


“Eva, karena dia ga punya mata, mungkin kita bisa menyelinap melewatinya.”


“Eh ? Itu ekstrim sekali. Berhati-hatilah.”


Satu langkah saja dari Ava, dan makhluk itu langsung meraung keras dan melompat ke arahnya. Aku bahkan tidak mendengar sedikitpun suara dari langkah kaki Ava. Bagaimana bisa makhluk ini sadar kalau Ava mulai melangkahkan kakinya !?


“Ava !!”


Ava hanya mematung di sana, menatap ke arah cakar makhluk itu yang sedang terangkat kepadanya. Aku harus menyelamatkan Ava. Tidak mungkin aku membiarkan orang lain yang dekat denganku mati mengenaskan kembali ! Aku mendorong Ava hingga terjatuh ke lantai di sisi kiri, dan dengan cepat menembakkan peluru dari pistol yang katanya anti anomali ini. Benar-benar efektif seperti namanya. Dengan cepat, cakar dari makhluk itu berhenti, dan kemudian monster tersebut mundur ke belakang sambil meraung keras kesakitan. Walaupun asal-asalan, tembakan ku yang pertama kali tadi ternyata mengenai bagian kepala yang seharusnya adalah mata kanan, bahkan hingga membuat sebuah lubang besar di kepalanya. Kini aku bisa melihat isi dari kepalanya yang mengerikan sekaligus menjijikkan itu.


Tidak peduli seberapa mengerikan makhluk aneh yang ku hadapi, aku sudah bersumpah akan menjadi benteng pelindung bagi orang-orang terdekatku. Walaupun sudah hancur sehancur-hancurnya, aku masih akan melakukan hal yang sama, yaitu....


Melindungi orang lain !!

__ADS_1


__ADS_2