
Aku pun meraih tangan Danny yang langsung menarik ku untuk berdiri. Ia hanya tersenyum kecil ke arahku. Dengan SCR 520 yang ada di tangan kananku, kami melanjutkan perjalanan kami. Danny mulai berfokus ke arah lentera yang kupegang itu dan berjalan cepat ke samping ku.
“Eva, kamu tahu kalau lentera yang kamu pegang itu SCR, bukan ?”
Aku hanya menatapnya sekilas dan kemudian kembali menatap ke arah depan.
“Ini adalah peninggalan Luna, teman baruku itu.” jawabku sambil terus berjalan dibarengi oleh Danny di sampingku. Trauma ku terhadap kematian Luna masih membayang bayangi ku, sehingga saat ini, aku tanpa sadar berjalan satu langkah lebih cepat daripada Danny.
“Eva ! Tenanglah !” seru Danny dari belakang. Aku pun langsung menghentikan langkahku dan berdiam di tempat sejenak. Air mataku secara perlahan kembali mengucur deras dari mataku. Seberapa keras pun aku mencoba, tetap saja kematian keji yang dialami Luna masih terngiang ngiang di kepalaku. Danny pun langsung bergegas mendekat ke arah ku dan berdiri di depanku. Aku secara perlahan menyodorkan diriku untuk mendekap ke dadanya dan membiarkan tangan Danny memeluk tubuhku sambil terisak isak.
“Aku sudah tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang, dan itu memang menyakitkan.” ucap Danny yang berusaha untuk menenangkan ku. Aku terus membiarkan pikiranku kosong dan secara perlahan menurunkan tangan kananku yang membawa lentera SCR 520 itu. Tiba tiba secara sekilas, aku melihat sekejap bayangan putih yang melintas di depan mataku dari ujung lorong. Masih dalam posisi yang sama dan tanpa mengubah tampang lesu ku itu, aku berpikir apakah Danny juga melihat bayangan itu. Aku pun bertanya.
“Danny, ada monster di sekitar sini kah ?” tanya ku dengan pelan. Danny langsung mengangkat kepalanya dan melihat di sekitar.
“Kayaknya gak ada, tuh.” pungkasnya. Lalu bayangan putih yang tadi itu apa ? Apakah di dalam fasilitas penuh dengan makhluk horor ini masih saja ada hantu seperti kuntilanak ? Pikirku.
“Kamu pasti hanya terlalu memikirkannya, Eva. Mendingan kita lanjut untuk keluar dari tempat ini.” jawab Danny sambil menepuk nepuk punggungku. Aku hanya mengiyakan dan kami pun melanjutkan perjalanan kami.
“Setelah kita keluar dari lorong ini, kita akan sampai di ruang penahanan anomali bagian atas, jadi bersiap siaplah.” jelas Danny. Aku pun menoleh ke arahnya dengan wajah penasaran karena memang tidak tahu apa apa.
“Memangnya di sana ada anomali apa aja ?” tanyaku dengan penasaran.
“Kebanyakan dari mereka adalah makhluk anomali berwujud seperti manusia/ lebih sering kita sebut sebagai humanoid. Dan setengah dari mereka biasanya sangat agresif dan bermusuhan dengan spesies kita, manusia.” jelas Danny panjang dan lebar seperti biasanya. Aku pun meneguk ludahku dan kembali melihat ke arah depan. Tiba tiba, sebuah penglihatan tentang jalan yang ada di depan kiri muncul di dalam pikiranku. Penglihatan secara singkat itu seolah membawaku dengan cepat menuju ke lorong kiri yang ada di depan kami saat ini. Di ujung lorong tersebut terdapat sebuah monster humanoid yang menatap ke arah ku secara sekilas sebelum akhirnya penglihatan itu menghilang. Aku langsung tersadar dan menghentikan langkahku seketika sambil melepaskan teriakan kecil. Seketika Danny pun sedikit terkejut dan menoleh ke arah ku.
“Ada apa !?” tanya Danny kepadaku.
“Di lorong kiri ada monster kayak humanoid. Jangan ke sana.” jawab ku sambil memperingatkan Danny tentang penglihatan ku tadi itu. Aku pun memiringkan kepalaku sedikit ke kiri saat Danny menatapku dengan tatapan aneh seolah dibuat heran oleh pernyataan yang tadi itu.
“Dasar bodoh. Tadi saja aku datang ke sini melewati lorong itu. Di atas pintu sana terdapat sebuah alarm pendeteksi anomali. Jika saja ada anomali yang memasuki pintu itu, sudah pasti kita bisa mendengar alarm itu dari sini. Begitupun juga lorong yang ada di ujung sana. Kita aman selama alarm tersebut tidak berbunyi.” jelas Danny panjang lebar kepadaku. Aku hanya bisa dibuat malu karena perkataanku sendiri di awal tadi. Sial, betapa bodohnya aku.
__ADS_1
“Kayaknya kamu sudah terkena efek dari SCR 520 itu.” sambung Danny sambil menunjuk ke arah lentera di tangan kanan ku itu. Aku pun bergidik ngeri saat akhirnya tahu bahwa efek SCR 520 hanya akan muncul setelah kematian seseorang di depannya.
“Jangan pernah percaya terhadap sebuah anomali Eva.” ucap Danny.
“Baiklah.” jawabku dengan pelan akibat malu. Namun semua itu berakhir saat tiba tiba, alarm yang dimaksud oleh Danny berbunyi kencang dan mengalihkan perhatian Danny seketika.
“Tidak mungkin.” gumam Danny. Dia mengeluarkan pistol dari sakunya dan memperhatikan ke area di sekitarnya. Tiba tiba dari lorong kiri, seorang manusia berlari secara agresif dan juga menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sebelum akhirnya mendapati kami berdua yang berdiri sedikit jauh di sebelah kirinya. Gila, penglihatan itu benar benar terjadi secara akurat, ucapku dalam hati. Danny mengarahkan pistolnya ke makhluk itu dan menembakinya berkali kali dan membuat makhluk itu terjatuh ke tanah dan meninggal. Danny langsung berjalan ke arahku dan menarik tangan kiriku sambil berlari lurus ke depan. Aku melihat mukanya, terlihat mukanya masih kebingungan seolah tidak percaya bahwa peringatanku yang tadi itu benar benar terjadi.
“Hei, Danny, sepertinya kamu tidak tahu secara detail tentang SCR 520 di tanganku ini.” duga ku sambil terus melihat ke arah mukanya itu.
“Memang. Aku adalah agen spesial yang hanya bertugas untuk menjaga anomali humanoid di lantai atas. Jadi aku tidak terlalu menaruh perhatianku kepada anomali yang ada di ruang bawah tanah.”
“Kalo gitu, gimana bisa kamu tahu detail SCR 012 itu ?” tanyaku sekali lagi kepada Danny.
“Sama kayak SCR 520. Namun setidaknya sedikit lebih detail.”
Itu berarti, semua yang dijelaskan oleh Danny kepadaku tentang SCR 012 itu bukanlah penjelasan lengkapnya. Ternyata orang sepertinya juga memiliki kelemahan, toh. Setelah perbincangan singkat kami itu, kami terus berlari tanpa ada anomali pasti yang mengejar di belakang kami. Aku tidak tahu kenapa harus berlari panik seperti ini bersamanya, yang pasti aku hanya mengikutinya saja. Penglihatan itu muncul kembali, dan kali ini menunjukkan ku sebuah bahaya yang akan muncul dari lorong sebelah kiri lainnya.
Danny mendecih sebelum akhirnya berhenti di depan lorong sebelah kiri tersebut. Tidak ada apapun, sebelum akhirnya ada seseorang yang muncul dari balik lorong tersebut. Danny pun langsung menembak orang tersebut. 'Melihat masa depan ? Apa itu benar benar bisa dilakukan ?' tanya Danny dalam hati.
“Eva, terus lari !”
Aku menjawabnya hanya dengan mengangguk dan terus berlari seperti yang dikatakan olehnya. Danny pun masih disibukkan untuk bertarung dengan gerombolan orang gila yang aku tidak tahu sebenarnya apa mereka yang mengejar ku di belakang. Beberapa saat kemudian Danny juga menyusul ku sambil sesekali kembali menoleh ke belakang dan menembaki gerombolan yang mengejar kami tersebut. Yang jelas, mereka bukanlah boneka mayat dari SCR 008, karena tidak ada benang yang menggerakkan mereka dan juga tidak ada benang benang yang menempel di tembok tembok yang kami lewati di sepanjang jalan.
“Danny, mereka itu apa ?”
“Hasil produk dari SCR 016. Gampangannya kita sebut aja mereka sebagai zombie.” jawab Danny. Kami terus berlari sambil ditemani oleh kerasnya alarm pendeteksi anomali di lorong ini. Tiba tiba aku berhenti berlari saat aku melihat sosok Luna yang sedang diselimuti oleh cahaya putih berdiri di depanku. Danny pun juga berhenti berlari saat menyadari bahwa aku tiba tiba berdiam diri dengan tatapan kosong.
“Eva, ada apa !?”
__ADS_1
Aku tidak menghiraukan Danny dan justru mendengarkan sosok Luna yang berbicara denganku.
“Eva, jangan berjalan lurus ke depan, kamu akan bertemu dengan anomali yang lebih berbahaya lagi daripada orang orang yang ada di belakangmu itu.”
“Eva !!”
Aku dibuat tersadar kembali setelah Danny berteriak di samping kiri ku sambil mengarahkan pistolnya ke gerombolan zombie zombie SCR 016 yang satu per satu muncul dari balik lorong di belakangku.
“Kita harus keluar dari sini secepat mungkin, Eva !!” seru Danny sambil terus menerus menembaki SCR 016 yang ada di belakangku.
“Jangan ikuti orang bodoh ini, Eva.” sosok Luna yang kulihat tadi kembali muncul di belakangku. Aku pun menoleh ke belakang. Wajahnya terlihat cemas dan terlihat sangat berharap supaya aku mengikuti sarannya itu. Tanpa aku sadari, lorong ini semakin dipenuhi oleh gerombolan SCR 016 yang haus akan darah kami berdua. Ketika aku kembali melihat ke arah Luna, disaat itulah aku sadar bahwa ia sebenarnya tidak secara nyata hadir di sini.
“Kita harus cepat. EVA !!”
Suara teriakan Danny kembali memanggilku untuk segera kabur dari lorong ini. Aku harus memilih salah satu dari mereka, antara Danny yang selalu berada di sisi ku atau Luna yang merupakan teman pertamaku di tempat ini. Dan aku memutuskan untuk mengikuti Danny. Aku menggenggam tangannya dan membiarkan dia menarik tubuh ku menjauh dari kejaran SCR 016 sambil terus memandangi sosok Luna yang bercahaya tersebut memasang wajah sedih.
“Maafkan aku Luna. Tapi kamu sudah mati.”
Ucapanku itu membuat sosok Luna yang perlahan aku tinggalkan itu memasang wajah kecewa. Kulihat dari kejauhan ia mulai menjatuhkan air mata dari kedua matanya. Luna mulai berputar membelakangi ku, dan sebuah suara yang aku duga berasal dari lentera SCR 520 di tanganku berbicara dengan nada kekecewaan.
“Selamat tinggal, Eva.”
Aku pun tersadar bahwa sosok Luna itu berasal dari SCR 520 ini. Lentera ini menyimpan jiwa orang yang sudah meninggal tepat di depannya masuk ke dalam lentera ini. Saat sang pengguna, yaitu aku sendiri berada dalam situasi yang tidak jelas atau dalam bahaya, Luna akan datang dan memberiku sebuah penglihatan atau peringatan sama seperti yang ia lakukan barusan denganku. Luna selama ini berusaha untuk memperingatkan ku akan bahaya yang ada di depan, namun barusan saja aku telah membuatnya kecewa dan meninggalkanku. Betapa bodohnya aku ini, sesalku.
Kami akhirnya sampai di ujung lorong dengan sebuah tangga yang akan mengantarkan kami ke sebuah pintu yang berada di atas kami. Setelah kami menaiki 1 anak tangga, Danny menekan sebuah tombol yang ada di tembok kiri, seketika menyemburkan 4 pasang semburan api secara horizontal dan membuat para SCR 016 mundur ke belakang dan ada juga yang sempat terbakar oleh tembok api itu.
“Sistem pertahanan yang bagus, bukan ?” tanya Danny kepadaku dengan bangga. Sepertinya ia sedang menyombongkan yayasan tempatnya bekerja ini kepadaku.
“Entahlah.” jawabku secara singkat. Kami berlanjut untuk menaiki anak tangga tersebut sembari meninggalkan gerombolan SCR 016 yang kewalahan dengan tembok api di hadapan mereka. Setelah menaiki tangga tersebut, kami akhirnya tiba di sebuah lorong yang terlihat sama persis dengan lorong lorong yang kami lewati sebelum secara tiba tiba berpindah ke area bawah tanah. Lorong dengan tembok besi abu abu cerah ini kembali mengingatkanku dengan teror dari SCR 008 yang pertama kali hampir merenggut nyawaku. Danny kembali berjalan santai sambil menggenggam tanganku lurus ke depan.
__ADS_1
Saat kami tiba di ujung lorong dengan sebuah pintu otomatis yang langsung terbuka, langkah kami dihentikan saat melihat seorang wanita dengan pakaian gaun merah polos dan juga rambut berwarna campuran hitam dan merah, membawa sebuah pedang besar yang bilahnya juga berwarna merah darah. Danny menodongkan pistol ke arah wanita itu dengan wajah serius. Danny kemudian bergumam pada dirinya sendiri.
“SCR 038 : Ozma Hollis.”