
Benar juga, kenapa aku bisa melupakan tentang tekadku itu ?
Aku dan Libya berjalan menyusuri lorong lorong yang dipenuhi oleh mayat yang bergeletakan. Lorong lain yang pernah ku lewati tidak pernah separah ini.
“Libya, kenapa banyak sekali mayat mayat disini ?”
“Null, dia adalah anomali paling mengerikan yang ada di yayasan ini.”
“Huh, kenapa ?”
Libya berhenti tepat di depan salah satu mayat, kemudian menunjuknya dengan tangan kiri.
“Aku tidak bisa menjelaskannya. Periksa saja sendiri mayat ini.”
Aku pun menuruti perkataannya dan memeriksa kondisi mayat tersebut. Mengejutkan, jariku yang menyentuh tangan mayat itu merasakan tidak ada tulang sama sekali di dalam tangannya. Padahal sekilas, kondisi mayat di depanku ini terlihat baik baik saja. Apa apaan ini ? Inikah alasan seluruh agen spesial bersama dengan Robin dan Rook sangat mementingkan keselamatan Libya ? Sepertinya aku juga sudah mengetahui betapa mengerikannya makhluk bernama Null ini.
“Kamu ingat apa yang dikatakan oleh Robin ?”
“Tentu saja. Jangan melihat ke matanya, tapi kenapa ?”
“Null, dia bisa menghilangkan apa saja yang kau miliki asalkan kamu menatap ke arah matanya.”
“Itu berarti dia juga bisa menghilangkan rekening bank ku. Mengerikan. Libya, bukankah Robin menyuruh kita untuk kabur ?”
“Benar juga, aku lupa akan hal itu.”
“Sebaiknya kita pergi sekarang juga.”
Aku dan Libya pergi menuju sebuah tempat yang dikatakan merupakan tempat D class berkumpul. Ini masih berada di tengah perjalanan, dan sungguh, banyak sekali mayat mayat di sini. Kalau sudah seperti ini, bukankah para D class harusnya juga sudah ikut terbantai ? Aku tidak yakin mereka masih bisa hidup saat ini. Bagaimanapun, itulah yang diperintahkan oleh Robin. Entah bagaimana bisa, yang pasti ada beberapa dari mereka yang berhasil bertahan hidup.
“Libya, masih jauh kah ?”
“Iya.”
“Sialan, sampai kapan kita harus berlari seperti ini ?”
Libya menghela nafasnya setelah mendengar gumaman ku. Ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang sepertinya. Aku dan Libya berjalan kembali, namun baru beberapa langkah saja kami telah dikejutkan oleh seorang agen yang berlari ke arah kami berdua dengan langkah pincang seperti telah mengalami patah tulang di kakinya.
“Tolong.... Tolong aku.”
“Oi, ada apa !?”
Aku dengan cepat menyanggah agen itu yang hampir terjatuh ke lantai. Padahal tidak ada luka yang terlihat di sekujur tubuhnya, namun kondisinya terlihat cukup parah
“Eva, lihat ke depan.” ucap Libya. Aku melihat ke depan seperti yang disuruh oleh Libya, dan dari lorong samping kanan, ada seorang humanoid berkulit hitam yang berjalan keluar secara perlahan. Dia kah yang bernama Null ?
“Sialan, kita kabur sekarang juga, Libya !”
“Aku akan memperlambat dirinya sebentar saja.”
“Apa !?”
Libya menembakkan satu peluru tepat ke kepala makhluk itu. Tak kusangka, dia ternyata juga hebat dalam menggunakan senjata api. Walaupun makhluk tersebut tidak mati seketika, apa yang dikatakan Libya memang benar. Makhluk itu seketika diam menjadi patung. Mungkin hanya untuk sementara waktu. Aku dan Libya mengambil kesempatan itu untuk lari secepatnya meninggalkan Null.
__ADS_1
“Libya, bagaimana bisa makhluk itu muncul di hadapan kita tadi !? Bukankah ia harusnya mengejar kita dari belakang ?”
Libya menghentikan langkahnya dan mengambil nafasnya dalam dalam karena kelelahan. Maklum saja, dia sedang hamil. Aku dan Libya saat ini telah sampai di sebuah dengan tulisan SUITE - 6, entah apa artinya itu. Yang pasti, si Null itu sudah tertinggal jauh di belakang.
“Pikirkan baik baik, Eva. Dia mengejar kita dengan berjalan di atas langit langit, jadi dia bisa muncul dimana saja dengan menghancurkan langit langit itu.”
“Ah, benar juga.”
Kenapa aku bisa sebodoh ini, sialan !?
“Aku tahu jalan lain menuju kelas D. Ikuti aku, Eva.”
Baru saja kami membalikkan badan, tiba tiba Null sudah ada di hadapan kami. Apa apaan dia ini ?
“Libya, kamu yakin dia menghancurkan langit langit ?”
“Sepertinya tidak.”
Null mulai berjalan menghampiri kami berdua. Tidak melihat ke matanya, hanya itu saja yang aku mengerti, tapi bagaimana cara menghadapi makhluk OP ini, bangsat ? Aku menodongkan flamethrower ku ke arah makhluk berkulit hitam ini. Sialan, kenapa banyak sekali orang negro di tempat ini ?
“Libya, sembunyi di belakangku !!”
“Kau ingin melawannya. Itu tidak akan berguna, Eva !”
“Diam lah. Aku tahu apa yang sedang kulakukan kepada makhluk negro ini, Libya !”
Aku menarik pelatuk flamethrower milikku, namun tidak ada semburan api yang keluar sedikit pun. Tidak mungkin, padahal aku tidak pernah menggunakan flamethrower ini sebelumnya, bagaimana bisa pelurunya habis saat ini ?
“Sialan, menjauh lah dari Libya !!”
“Sudah kubilang itu tidak akan berguna, Eva !!”
Percuma saja kami kabur dari makhluk sialan ini, karena dia hanya akan muncul secara tiba tiba seperti tadi. Aku harus membunuhnya dengan caraku sendiri, supaya Libya tidak terancam bahaya lagi. Aku memegang flamethrower ku dengan dua tangan, bersiap untuk menggunakannya sebagai alat pemukul.
“Mendekat lah, negro bangsat... !”
“Jangan lakukan itu, bodoh !!”
Tiba tiba kakiku menjadi sangat lemah dan membuatku jatuh ke lantai saat itu juga. Tidak mungkin ! Tenagaku habis seketika ! Menggerakkan tangan saja susahnya minta ampun, apalagi untuk berdiri tegak. Cih, andai saja aku mendengarkan omongan Libya, mungkin keadaan tidak akan menjadi seburuk ini. Makhluk itu semakin dekat denganku. Apa yang akan dilakukannya padaku ? Persetan dengan makhluk ini. Kalau saja dia membunuhku, aku bersumpah akan menghantuinya seumur hidup ! Null terus berjalan, bahkan hingga.... Melewati ku ? Sialan, ternyata bukan aku yang yang dia incar, namun admin yang ada di belakangku !
“Libya !”
Aku memaksakan diriku untuk menoleh ke arah Libya. Libya mundur secara perlahan, dan kedua kakinya gemetaran dengan hebat. Aku harus melakukan sesuatu ! Robin dan yang lainnya telah memercayakan keselamatan Libya di tanganku. Aku, tidak bisa membuat kepercayaan mereka hilang begitu saja karena aku yang tidak becus dalam melindunginya. Seketika aku teringat akan cahaya hijau yang kumiliki sejak dulu. Benar, hanya itu yang bisa ku gunakan untuk melindungi nyawa Libya.
“Arrrgh, keluarlah, cahaya sialan !!”
Libya pasti melihatku yang sedang mengerang tanpa alasan yang jelas ini, benar benar memalukan. Mau sekeras apapun aku mencobanya, tubuhku ini tidak mau mengeluarkan kekuatan aneh itu. Sebentar lagi nyawa Libya akan melayang, bangsat, Keluarlah !!
“Aaarrrgh !!”
Tiba tiba sebuah ledakan angin tercipta di sekelilingku. Hei, ini akhirnya berhasil juga. Aku dapat merasakan seluruh tenaga dan kekuatanku kembali lagi hanya dalam satu detik, bahkan justru meningkat berkali kali lipat ! Aku berdiri kembali dan menoleh ke belakang. Baguslah, si negro itu dibuat berhenti setelah mendengar ledakan angin itu. Aku mengepalkan tanganku, kemudian berlari dengan cepat ke arahnya.
“Rasakan ini, botak bangsat !!”
__ADS_1
Aku berhasil memukul kepalanya dari belakang, tapi, kenapa ini terasa jauh lebih lemah daripada saat aku memukul Rigel ? Oh sialan, makhluk ini sekarang menoleh ke arah ku. Begitu ia menatapku dengan tajam, aku dapat merasakan bahwa kekuatanku menghilang seketika. Makhluk ini, dia benar benar overpower !
“Jangan lihat matanya, Eva !!”
Sayangnya itu sudah terlambat, Libya. Lihatlah, aku saat ini sudah jatuh ke lantai tanpa sebab. Mungkin karena tulang kakiku yang hilang entah kemana. Yang pasti, itu semua berkat makhluk sialan satu ini.
“Menjauh lah dari Eva, Null !!”
Libya berhasil menembakkan sebuah peluru yang tepat mengenai kepala Null. Itu tembakan yang luar biasa, Libya ! Aku menyayangimu !!
Tanpa bada basi, aku pun langsung lari berlari bersamaan dengan Libya. Entah bagaimana, tapi tulang kakiku telah kembali seperti semula. Apakah itu yang namanya plot armor ?
...****************...
Aku dan Libya telah tiba di lorong yang lainnya. Setelah lari terus menerus hingga beberapa menit terlewati, ini adalah momen yang sangat tepat untuk beristirahat sejenak. Si negro bajingan itu pasti tidak mengetahui keberadaan ku dan juga Libya, kan ? Jangan sampai dia mengetahuinya. Libya mengelus perutnya dan juga terlihat sedikit kesakitan. Sepertinya ini akan menjadi misi yang paling menyebalkan sepanjang hidupku.
“Hei, Libya. Kau tidak apa apa ?”
Libya menoleh ke arahku dan menatapku dengan tajam. Sepertinya, dia juga agak marah kepadaku. Hehe.
“Eva, apa kau paham arti dari kata kata ‘jangan gegabah’ !?”
Libya menanyakan itu dengan nada tinggi dan juga menarik kaosku. Oke, memang aku salah dan sangat bodoh saat itu, tapi aku tidak menduga dia bisa menjadi segalak ini.
“Maaf.... Tapi setidaknya, aku berusaha melindungi mu, benar kan ?” tanya ku dengan senyum canggung. Libya menghela nafasnya panjang, kemudian melepaskan tangannya dari kaosku. Dan juga, dia pasti juga mengetahui tentang kekuatan cahaya hijau ini. Sialan, cahaya hijau ini bahkan masih menyala sampai sekarang, padahal barusan itu telah padam berkat si negro bajingan itu.
“Eva, kontrol kekuatanmu itu. Jangan sampai kau menunjukkannya di hadapan agen yang lain. Terutama Suzaku, Nova, Rook, dan juga Robin”
Sudah kuduga dia akan membicarakan tentang kekuatan ini. Setidaknya, aku mengetahui 1 nama asing lagi dari Libya.
“Umm, siapa Nova ? Jangan bilang dia adalah satu orang menyebalkan lainnya yang dibicarakan Robin waktu itu.”
“Dugaanmu benar. Rambut biru itu sangat membenci anomali, sampai sampai aku juga dibenci olehnya.”
“Ehhh, kamu juga anomali !?”
“Begitulah.” jawab Libya sambil bersandar ke tembok dan menahan rasa sakit di perutnya. Ini sangat tidak masuk haikal, di luar nurul, dan sungguh menghermankan ! Bagaimana bisa dia yang terlihat sangat normal ini ternyata seorang anomali, bahkan pemimpin di tempat ini !?
“Kamu benar benar tidak apa apa, Libya ?” tanya ku sekali lagi.
“Hanya kontraksi kecil saja. Sebentar lagi juga akan sembuh.”
Kalau begitu lupakan saja kondisinya. Aku juga ingin mengeluarkan sesuatu dari tubuhku saat ini.
“Libya, apa yang di depan itu benar benar toilet ? Aku mau pipis sebentar saja.”
“Kau bisa melihatnya sendiri.”
Sepertinya Libya sangat yakin kalau yang di depan itu adalah toilet, berbeda denganku. Jangan sampai kejadian yang sama saat aku bersama dengan Danny terulang kembali.
“Kalau begitu aku ke toilet dulu, Libya. Sampai jumpa !! Dan berhati hati lah !!”
“Kamu juga, Eva !” seru Libya saat aku berlari secepat kilat menuju toilet itu. Kini aku sudah berada di ambang ambang toilet, dan cahaya ini tidak mau padam juga.
__ADS_1
“Hei, menghilang lah, cahaya bangsat.” gumamku. Cahaya hijau di tubuhku kemudian menghilang seketika, seolah mendengarkan perkataanku barusan tadi. Sungguh anak yang baik. Aku berjalan memasuki toilet, toilet wanita pastinya, dan hal pertama yang kulihat adalah seorang agen wanita dengan rambut ponytail berambut biru sedang mencuci pistolnya. Ngapain juga ada orang yang mencuci pistolnya, bangsat ?
Tunggu dulu, bukankah Libya menyebut rambut biru setelah aku menanyakan tentang siapa Nova itu ? Jangan jangan, agen wanita yang ada di depanku saat ini adalah dia !