
Cahaya terang menusuk mataku, membuatku secara perlahan membuka mataku dan terbangun. Terang sekali, padahal aku ingat ruangan tempat aku tertidur gelap gulita, tidak ada cahaya sama sekali. Apa ini mimpi ? Sepertinya iya. Dengan terpaksa aku harus bangun dari tidur nyenyak ini. Hmm, tempat ini terasa sangat asing. Bukankah tempat di sekelilingku terlihat seperti hutan. Sejak kapan aku tertidur di dalam hutan ?
Aku mulai bangkit berdiri. Sudah pasti ini adalah mimpi. Mimpi yang terasa sangat nyata, sudah pasti begitu. Aku melihat ke bawah dan mendapati aku yang sedang telanjang. Memang sepertinya aku sedang bermimpi, hanya saja agak sedikit dewasa. Memangnya apa yang barusan aku alami tadi, sampai sampai bermimpi seperti ini. Lupakanlah, sekarang aku harus berjalan menyusuri jalan setapak di hutan ini, entah jalan ini menuju ke mana sebenarnya.
Aku dengan gusar terus melihat ke sekelilingku, siapa tau ada mata bejat yang mengawasi ku dari balik pohon lebat di sekelilingku. Sejak kapan ada orang yang secara sadar berjalan di alam mimpi sepertiku ini ? Benar benar aneh. Mataku terus beredar ke kiri dan ke kanan, dan juga depan belakang. Tidak ada apa di sekelilingku, kecuali hutan lebat dan jalan setapak tempatku berjalan saat ini. Aku pun kembali menoleh lurus ke depan, dan di situlah mataku terkunci pada sesuatu yang sedikit agak mengerikan. Sebuah tulisan 'Jangan tidur' terukir di sebuah pohon di sebelah kiriku. Sebenarnya apa masalah sang pengukir ini dengan tidurku ? Tidur adalah salah satu kebutuhan pokok manusia tahu. Aku tidak memedulikan tulisan itu, dan terus berjalan saja lurus ke depan. Semakin lama aku berjalan, semakin banyak pula tulisan tulisan gak jelas muncul di berbagai tempat di depanku. Ada yang nyuruh bangunlah, ngelarang tidurlah, dan masih banyak lagi. Ukiran ukiran ini benar benar mulai menyebalkan.
Pada akhirnya, jalan setapak berakhir di sebuah lahan yang agak luas dengan beberapa kayu untuk menyalakan api unggun diletakkan di tengah tengahnya. Memangnya aku pernah camping ? Rasanya tidak pernah. Aku berjalan mendekati api unggun itu. Sepertinya baru saja digunakan di malam malam sebelumnya. Aku menoleh ke arah kiri, dan disitulah aku mendapati sebuah tombak yang ternodai oleh darah tertancap ke tanah di sampingku. Baiklah, mimpi ini mulai sedikit menyeramkan. Aku bahkan masih ingat kalau tadi tidak ada tombak apapun di sekitar sini. Tiba tiba area di sekelilingku berubah menjadi kabut putih, dan beberapa saat kemudian aku sudah berpindah tempat di dalam sebuah rumah kayu reyot, sangat tidak layak huni bagiku.
Kuakui, mimpi ini mulai membuatku bergidik ngeri. Mungkin ini adalah perbuatan dari sebuah anomali tertentu. Sialan aku benar benar terkutuk saat ini. Sudahlah. Aku berjalan ke depan menyusuri rumah kayu ini. Mataku kemudian terkunci pada sebuah tulisan yang terukir di dinding kayu di sebelah kiri.
'Uvukku adalah seorang pria yang tampan'
Baiklah, tulisan tulisan ini mulai sedikit aneh. Pertama aku adalah seorang perempuan. Yang kedua, namaku bukanlah Uvukku tapi Eva Rosenthal. Jadi ingatlah namaku itu dasar tulisan bajingan. Mungkin ada seseorang yang bernama Uvukku ? Mungkin saja, tapi aku tidak pernah bertemu dengan orang bernama aneh seperti itu. Memang sepertinya ini adalah ulah anomali berwujud mimpi. Seram sekali. Aku berjalan kembali ke depan dan melewati sebuah meja kayu berukuran sedang. Mataku mendapati sebuah gambar seseorang yang mengangkat tombaknya ke arah seekor..... Beruang ? Sepertinya begitu.
“Hebat juga kalian, bisa menggambar seperti ini.” ucapku kepada diri sendiri.
“Apa Uvukku seorang pemburu beruang ?” tanyaku pada diri sendiri lagi. Aku kemudian menoleh ke belakang dan mendapati sebuah tulisan terukir di tembok kayu di belakangku.
'Benar. Uvukku seorang pemburu beruang yang hebat.'
Apa apaan tulisan ini. Aku mulai gemetar ketakutan. Seolah tulisan ini sedang berbicara kepadaku.
“Apa kalian sedang menjawab aku ?” tanya ku kepada diri sendiri.
Aku menoleh kembali ke tembok kiri. Dan di atas sana, sebuah tulisan baru muncul.
'Kami mengawasimu'
Apa apaan tulisan ini. Mereka benar benar mulai membuat diriku yang penakut saat aku masih kecil kembali.
“Tolong ..... Siapapun kalian, jangan hantui aku seperti ini.” ucapku sambil gemetaran. Aku menundukkan kepalaku ke bawah dan tulisan yang baru muncul kembali.
'Uvukku menikmatinya dan kami juga menyukainya'
Aku melihat ke ujung depan berharap tidak ada apapun di sana. Namun tetap saja tulisan itu muncul kembali menghantuiku.
'Uvukku berjalan kemari'
“Sebenarnya siapa Uvukku sialan itu !?” tanyaku sambil berteriak dengan kencang karena ketakutan ku yang semakin menjadi. Sebuah tulisan muncul kembali di tembok kiri sebelahku.
'Uvukku pemburu beruang betina yang handal. Tidak pernah ada beruang betina yang dapat mengalahkannya setelah tombaknya menancap di tanah'
__ADS_1
Tombak yang menancap di tanah ? Apakah tombak yang sempat kulihat itu adalah tombak milik Uvukku ? Itu berarti bukan beruang betina yang selalu ia buru, melainkan seorang wanita sepertiku ! Tulisan lain mulai bermunculan di tembok tembok.
'Uvukku menandai mangsanya dengan tombaknya'
'Uvukku akan menguliti korbannya'
'Uvukku akan menunjukkan kekuasaannya dengan kulit korbannya'
Aku semakin ingin berteriak sekeras yang ku bisa karena semakin mengerikan berada di sini. Namun niatan ku langsung dibuat terbungkam saat aku melihat tulisan itu mulai menunjukkan aktivitas yang sedang dilakukan Uvukku sialan itu.
'Uvukku semakin dekat'
Aku melihat tulisan yang ada dibawahnya itu. 'Uvukku berjalan kemari'
Sialan aku sudah melupakan bahaya itu. Aku harus keluar dari mimpi ini sekarang juga.
Sambil terus waspada akan sekitarku, aku berjalan cepat melewati lorong lorong kayu rumah reyot ini.
“Siapapun tolong aku, siapapun tolong aku.” gumamku sambil terus berjalan. Tak lupa, aku juga terus memerhatikan tulisan tulisan yang terus bermunculan di dinding dinding sebelahku.
'Uvukku mengambil tombaknya'
'Uvukku dekat dengan rumahnya'
Aku langsung menghentikan langkahku saat mendengar suara pintu terbuka dari kejauhan.
'Uvukku memburu mangsanya, Uvukku memburu mangsanya'
“Jangan buru aku bodoh !!” ucapku sambil berlari secepat mungkin. Aku berusaha untuk terus tidak menatap ke arah tulisan tulisan yang mulai menjadi lebih seram itu.
'Uvukku mendapatimu'
'Uvukku mengawasi pergerakanmu'
'Uvukku berjalan di belakangmu'
“Diam lah kalian semua !!” ucapku sambil terus berlari melawati lorong yang berkelok kelok ini. Telingaku mulai mendengar suara langkah kaki yang berjalan di belakangku. Langkah kaki itu lambat, namun suaranya keras.
'Betina, betina'
Tulisan tulisan itu mulai semakin mengerikan. Aku mengangkat kepalaku dan mendapati sebuah pintu, nampaknya sebuah pintu kamar.
__ADS_1
'Uvukku sangat senang melihat betina'
'Para betina tidak dapat kabur darinya'
“Diam kalian semua !!” seruku sambil berlari sekencang kencangnya menuju pintu kamar tersebut. Aku langsung bersembunyi di balik pintu dan menutupnya seketika. Aku berusaha untuk mengatur nafasku yang terengah engah. Tiba tiba sebuah tulisan muncul di tembok yang ada di depanku.
'Uvukku dekat di belakangmu. Sembunyi di sini'
Tulisan itu juga membentuk sebuah tanda panah besar yang mengarah ke sebuah lemari kayu yang lumayan besar. Tanpa perlu menunggu lama, aku langsung berlari ke arah lemari itu dan membuka pintunya, kemudian bersembunyi di dalamnya dan menutup pintu lemari itu kembali. Aku terus berusaha untuk terus mengatur nafasku yang tidak beraturan itu. Pintu kamar tersebut pun akhirnya terbuka dan secara samar samar melihat dari balik celah pintu lemari ini, aku dapat melihat seseorang berkulit hitam berjalan masuk. Aku langsung menutup mulutku sendiri dengan tangan kananku. Aku berusaha untuk menahan suara apapun yang akan keluar dari mulut sialan ini. Aku menoleh ke kanan dan mendapati sebuah tulisan terukir di tembok lemari ini.
'Tenanglah'
Bagaimana caranya aku bisa tenang di saat saat seperti ini, bodoh !? Ucapku dari dalam hati. Tulisan yang sama kembali muncul di belakangku. Baiklah, aku akan berusaha setenang mungkin sebisaku. Dasar tulisan aneh, tadi mereka dengan ngerinya mendukung si Uvukku sialan itu untuk membunuhku, dan sekarang mereka ini datang untuk membantuku bersembunyi darinya ? Sebenarnya siapa orang orang bodoh di balik ukiran yang sama bodohnya ini ?
'Kami tidak sama'
Apa maksud kalian tidak sama, bajingan !? Tanyaku dari dalam hati.
'Kami adalah korban makhluk itu, mencegah mu menjadi korban selanjutnya'
Begitukah ? Terima kasih kalian semua. Aku kembali melihat dari balik celah pintu lemari ini keluar. Sepertinya sudah tidak ada orang sialan itu lagi.
'Jangan keluar'
Tulisan itu muncul kembali di belakang tembok lemari. Aku terus melihat ke sekeliling lewat celah kecil dari pintu lemari ini. Sepi, tidak ada siapapun.
“Hmph, kalian pasti tidak punya mata kan ? Tidak ada siapa siapa kok di luar sana.” ucapku dengan nada menyindir. Aku sudah sangat ingin bangun dari mimpi sialan ini, bodoh. Aku membuka pintu lemari ini kembali, kemudian mulai beranjak keluar sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. Dugaanku benar, tidak ada siapapun di sini. Orang hitam itu sudah pergi, entah kemana perginya dia. Aku dengan diam diam mulai berdiri dan saat aku menoleh ke arah kiri, aku dikejutkan oleh sesuatu yang terletak di atas meja kayu berukuran sedang. Sebuah kulit manusia segar. Aku sedikit terkejut dan hampir teriak sekencang kencangnya, namun aku masih dapat menahan teriakan tersebut. Aku berjalan mendekati meja itu dan berusaha sebisa mungkin untuk menahan rasa takutku itu. Bulu kuduk ku berdiri, dan saat aku menyentuh kulit segar itu, aku dapat merasakan darah yang menempel di kulit manusia itu.
Tunggu, kenapa ada hawa dingin terasa di belakangku ? Aku melihat ke arah tembok di belakangku, dan sebuah ukiran tertulis di atasnya.
'Jangan lihat ke belakang'
Walaupun disuruh untuk tidak melihat ke belakang, tetap saja tubuhku yang bandel ini menoleh ke belakang. Dan di saat itulah aku melihat sosok bayangan itu lagi berdiri di belakangku sambil tersenyum lebar dan menunjukkan deretan gigi gigi tajamnya.
“Aaaaaah !”
Aku sontak terbangun dari mimpi itu dan berteriak dengan sangat keras. Keringatku mulai bercucuran membasahi keningku. Apa yang terjadi ? Tubuhku tidak bisa digerakkan. Aku saat ini berada dalam posisi terlentang dan menatap ke atas. Sebuah ukiran tertulis di atas langit langit ruangan ini.
'Sesalilah perbuatanmu itu !'
“Baiklah baiklah, aku menyesal sekarang ! Apakah itu belum cukup !?” seruku dengan suara sekeras mungkin. Ruang kesehatan ini mulai diselimuti oleh kegelapan. Mataku mulai melotot tajam saat seorang humanoid hitam muncul dari balik bayangan dengan tersenyum sangat lebar sambil membalas balik tatapanku itu. Saat itu juga aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di seluruh bagian kulit luar ku. Rasanya ingin terkelupas saja. Aku terus mengerang kesakitan. Rasanya aku mau hampir mati saat ini.
__ADS_1
“Siapapun ....... Tolong aku.”