
•••
Bumi
"5 hari setelah peristiwa bom bunuh diri di sebuah gang sepi, menarik cukup banyak perhatian orang-orang sekitar.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu namun, seorang siswa sekolah menengah atas bernama Yuu menderita luka bakar yang sangat serius di seluruh tubuhnya.
Siswa itu tidak sadarkan diri selama dua hari penuh di rumah sakit yang tidak jauh dari tempat kejadian. Pelaku merupakan senior korban, yang menurut korban ( Nanase ) sudah beberapa kali mengirim surat ancaman padanya.
Sampai saat ini, penyelidikan masih dilanjutkan oleh pihak kepolisian guna memenuhi tugas mereka-" Jelas seorang wanita yang menjelaskan semuanya tentang kejadian yang terjadi lewat Tv.
Matikan! aku mematikan televisi yang sudah cukup lama ku tonton dengan santai, selama 3 hari terakhir, aku hanya berdiam diri ditempat tidur yang sudah nyaman ku gunakan ini. Sebagai tambahan, yang membiayai rumah sakit ini untukku adalah sakura, meskipun aku merasa kurang enak padanya tapi ...
"Aku benar-benar kekurangan uang." Ucapku pada diri sendiri. Menatap langit-langit yang sudah biasa kulihat sejak pertama kali terbangun.
Buka! pintu terbuka, seorang gadis dengan pakaian perawat memasuki ruangan, dia adalah perawat yang merawat ku selama dirawat di sini. Gadis itu melihatku, memastikan kalau aku sedang tertidur atau tidak, setelah memastikan bahwa aku terbangun dia lalu berkata. "Permisi, teman-teman anda datang berkunjung, apa anda tidak keberatan?" tanya si perawat dan sebagai tanggapan akan hal itu, aku bangkit dari tempat tidur lalu mengangguk pelan.
"Baik." Perawat itu kemudian membelakangiku lalu melangkah keluar dari ruangan.
Tak lama berselang, beberapa orang datang, memasuki ruanganku yang biasanya sunyi satu persatu dengan pelan. Aku melihat mereka satu persatu secara menyeluruh lalu tersenyum, ini adalah senyuman yang selalu ku gunakan dalam keadaan terpaksa dimana pun aku berada.
Orang pertama yang mendekatiku adalah wali kelas ku, ibu Kushida. Dia mendekat perlahan, menyentuh wajahku yang masih dililit perban dengan mata yang berkaca-kaca, tangannya yang lembut entah mengapa dapat kurasakan menembus perban yang ada di wajahku.
Matanya yang berkaca-kaca menatapku. Sebagai tanggapan untuknya aku menatapnya balik, dan saat aku melihat wajahnya, mataku melebar karena terkejut. Dalam hidupku, tidak pernah sekalipun aku memikirkan akan ada orang yang akan menangis untukku.
Dadaku menjadi sesak melihatnya, aku tidak bisa berkata apa-apa, aku diam, seluruh tubuhku serasa akan tumbang dan tanpa kusadari, topeng yang selama ini ku pasang untuk menutupi masa lalu mulai retak. Air mata keluar dari kedua bola mataku.
Aku menunduk, tak sanggup menatap wajahnya lalu berkata dengan tergagap. " ... maa ... maaf ... sudah membuatmu khawatir ibu Kushida!!"
Semua teman sekelas ku entah mengapa ikut sedih dengan apa yang terjadi di depan mereka.
"Um, tidak apa-apa Yuu, semua pasti akan baik-baik saja." balas Kushida, menjatuhkan ku kedalam pelukannya yang sangat-sangat sesak.
Aku! ... tidak! bisa bernafas! seseorang tolong!! siapapun itu tolong!! teriak Yuu dalam hati meminta pertolongan pada Sagiri yang berada di belakang ibu Kushida.
20 menit kemudian
Banyak dari mereka telah pergi dari sini, orang-orang yang tersisa hanyalah, Nanase, Sagiri, Sakura dan juga Lili.
__ADS_1
Sagiri menatap ku dengan tatapan tajamnya, melihatnya, aku tahu apa yang ia ingin Katakan. "Bukankah kau sudah menjadi pembohong yang sangat hebat? kurasa seperti itu."
Seperti yang kuduga dari Sagiri, dia sama sekali tidak tertipu dengan sandiwara yang kulakukan tadi. Sebagai tanggapan untuk tatapannya, aku mengangguk ringan dengan sedikit senyum dibibir ku.
Melihat itu, Sagiri memeluk dirinya sendiri dengan senyum tipis dan dengan mata terpejam menunduk sedikit ke bawah, seolah-olah puas dengan apa yang ia harapkan.
"Bisakah kalian menghentikan pembicaraan pribadi kalian yang tanpa sekata katapun keluar dari mulut kalian?" jelas Sakura. jelas kesal dengan apa yang aku dan Sagiri lakukan.
"Baiklah." balas Sagiri dengan santai yang kemudian mundur beberapa kali kebelakang untuk bersandar di dinding ruangan. Dia mengarahkan pandangannya ke arah Nanase sekilas sebelum memejamkan matanya kembali. Entah dia akan tidur atau tidak.
Melihat Sagiri yang melangkah ke belakang, Sakura dan Lili mengikutinya. Sepertinya Nanase mencoba mengatakan sesuatu padaku secara langsung, meski begitu ...
Aku mengalihkan pandanganku ke arah Lili, menatapnya dengan tatapan aneh, seingat ku dia bukanlah tipe orang yang pendiam apalagi mengingat orang yang terluka adalah diriku, tunangannya. Meskipun pertunangan ini diputuskan oleh sepihak oleh ayah Lili namun, aku tak keberatan sama sekali dengan hal itu.
...atau...
Tidak, mari lupakan masalah itu. Pertama-tama aku akan mendengar apa yang ingin dikatakan Nanase kepadaku.
Setelah berdiam diri selama satu menit, dia akhirnya membuka mulutnya. "M maafkan aku Yuu-kun!! karena diriku!! kamu!! kamu!" ucapnya dengan serempak menunduk di hadapanku.
Jika itu masalahnya, maka apa boleh buat.
"ahh~ ayolah Nanase, anggap saja ini sebagai bantuan dariku."
Aku menatap Nanase, seperti yang kuduga dia benar-benar menyalahkan dirinya akan hal ini, itu terpancar jelas dari sorot matanya yang tampak putus asa.
Aku mencoba menggunakan otakku, mencari solusi yang cukup baik untuk menstabilkan kondisi mentalnya... setelah beberapa saat aku akhirnya menemukannya, aku tersenyum ringan lalu menatap Sagiri yang masih bersandar di dinding.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau begini saja Nanase. Kalau kau mau menjalin hubungan romantis dengan Sagiri maka aku akan memaafkanmu?" ujarku dengan suara yang cukup jelas.
Semuanya orang terkejut kecuali Lili yang masih terdiam. Orang yang paling terkejut adalah Sakura, meskipun sebenarnya aku kira orang yang akan paling terkejut adalah Sagiri atau Nanase.
"Ha?! apa yang baru saja kau katakan Yuu!! Apa kau ingin membayar biaya rumah sakit sendiri?!!"
Mendengar itu, aku menelan ludah, sedikit takut dengan ancaman Sakura yang terlihat sangat serius. Tapi, yang Ku butuhkan bukanlah pendapat Sakura melainkan Nanase.
Dengan begitu, Aku bisa menjatuhkan 2 burung dengan satu batu. Ini adalah rencana paling konyol yang pernah terpikirkan olehku, sepertinya kemampuan berpikirku masih belum pulih sepenuhnya.
Meskipun begitu, bukan berarti rencana ini tidak berguna, berguna atau tidak berguna itu bergantung pada Nanase seorang. Sedangkan untuk Sagiri dia kembali diam, menyilangkan tangannya di dada. Itu artinya dia juga setuju dengan rencana ini.
__ADS_1
Nanase tampaknya mulai memikirkannya.
"Hei Nanase!! jangan pedulikan perkataan orang ini! sudah sakit, tolol lagi!!"
"Hei, itu menyakitkan Sakura." Jawabku lesu.
"Hei-" sebelum sakura kembali melanjutkan perkataannya, Nanase memotong.
"Baiklah, aku akan melakukannya." jawabnya tegas, matanya kembali memancarkan perasaan hidup dalam dirinya.
"a a apa!!! apa otakmu melenceng Nanase!!!" teriak Nanase yang kemudian pergi meninggalkan ruangan tanpa menatap seorangpun dari kami.
Melihat itu Nanase mengikutinya pergi.
Sagiri yang sedari tadi cuma diam, bangkit dari tempat dia duduk lalu melihat ke arahku. "Itu jelas bukan seperti dirimu yang biasanya, tapi yah ... kurasa hal tadi bukanlah sesuatu yang buruk, jadi beristirahatlah." setelah mengatakan itu, Sagiri pergi.
Meninggalkanku dan Lili di dalam ruangan, Aku melihat Lili sejenak sebelum kembali meletakkan tubuhku di kasur, aku mengalihkan pandanganku darinya. Aku benar-benar tidak suka dengan situasi ini.
Sunyi, dan sunyi. Tanpa kusadari, Lili kini berdiri di sampingku, apa dia akan memukulku atau melakukan hal lain aku tidak keberatan selama hal itu tidak akan membunuhku.
"hiks! hiks"
saat aku menoleh, aku melihat Lili yang mencoba menahan air matanya yang terus keluar dari kedua bola matanya dengan tangan lembutnya.
Aku mengigit bibirku, memaksa tubuhku yang sudah tidak kuat lagi untuk bagun, memeluknya dengan erat. Dia adalah satu-satunya orang yang selalu bersamaku sejak dulu, mungkin tanpanya aku sudah mati kelaparan di jalanan.
Saat memeluknya air mataku tumpah, ini bukanlah sandiwara seperti yang kulakukan seperti tadi, ini benar-benar dari perasaanku yang selalu bersembunyi di dalam diriku yang bodoh.
Aku semakin erat memeluknya sambil mengucapkan hal-hal yang hanya kukatakan padanya seorang seumur hidupku. "Maafkan aku, Lili, aku benar-benar mencintaimu. Jadi tenanglah, aku pasti akan selalu bersama mu
10 menit berlalu
Lili tetap tinggal untuk menemani malam ini, dia juga sepertinya sudah meminta ijin dari ayahnya.
Dan entah mengapa, aku teringat dengan mimpi-mimpi anehku beberapa hari terakhir. "Lili, apa kamu ingin mendengar mimpi apa saja yang kualami beberapa hari ini?"
" hm? memangnya ada apa?"
"Entahlah, tapi, entah kenapa mimpi-mimpi itu sangat aneh."
__ADS_1
"Begitu kah, kalau begitu coba ceritakan."
dengan begitu aku mulai menceritakan tentang mimpi yang kualami beberapa hari terakhir. Mulai dari menjadi tentara bayaran dengan hidupku yang selalu berada di ujung tombak sampai bergabung dengan Dna serangga.