
Dia adalah seorang penebang kayu yang rajin. Setiap harinya, ia bekerja keras bersama dengan sang bintang biru untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Hidupnya bisa dibilang sangat tidak berkecukupan. Sang penebang kayu dan keluarganya hanya makan nasi dan garam setiap harinya, atau bahkan hanya nasi saja jika sedang tidak beruntung.
Ia bertemu dengan Asteri suatu hari, dan mereka berdua berteman dengan sangat dekat tidak terlalu lama kemudian. Kondisi keluarganya yang sulit, sekaligus bisikan-bisikan jahat dari orang-orang di sekitarnya, adalah yang membuat dirinya rela membunuh Asteri dan ibunya, besertakan rumah mereka.
...****************...
Aku dan Ava dapat mendengar suara dari sebuah gergaji mesin yang semakin lama semakin mengeras. Jujur saja, itu terdengar sangat mengerikan, tapi tidak mungkin aku minta bantuan sama bocah kecil brengsek ini. Aku tidak akan kalah dengan bocah pembunuh ini !!
“Kalian berdua ketakutan ?”
Apa-apaan bocah ini !!? Dia sudah seperti seorang dewa, tahu !!
Sulit untuk diakui, tapi sepertinya aku memang kalah hebatnya kalau dibandingkan sama bocah ini. Kalau begitu, aku akan menyerahkan semuanya kepadamu, Asteri !!
“Oi, bocah. Kita mau ke mana sekarang ?” tanya Ava.
“Apa kamu bodoh ? Kalian berdua mau pergi ke kelas D itu, kan ? Pake tanya segala.”
“Cih, kecuali...... Kamu kayak pengen pergi ke sesuatu yang laen.” dengus Ava dengan sangat kencang.
Ups, sepertinya emosi Ava sudah terbakar kembali. Tidak perlu waktu lama lagi, aku akan melihat mereka berdua saling berantem satu sama lain pakai mata kepalaku sendiri. Sepertinya aku harus segera melakukan sesuatu, tapi apa ??
Perjalanan kami masih berlangsung dengan santai, namun itu semua berubah seketika saat Asteri tiba-tiba menyuruh kami untuk berhenti berjalan dan juga diam dengan isyarat tangannya. Ia kemudian menoleh ke arahku.
“Si pemotong kayu itu ada di dekat sini.”
“Siapa maksudnya, bangsat !!?” tanya Ava seketika sambil bergidik ketakutan.
Seperti biasa, Ava yang selalu merespon untuk pertama kalinya dengan ketakutan yang sangat berlebihan. Walaupun aku juga sebenarnya agak ngeri, tapi setidaknya, aku masih bisa menahan diri. Lagipula aku jauh lebih hebat daripada Ava (INGAT ITU).
“Jadi, kita ngapain sekarang ?” tanyaku pada Asteri.
“Tentu saja kabur, menyelamatkan diri.”
“Aku sudah tahu itu, bodoh. Tapi rencananya apa ?”
“Kita pergi dari rute tujuan awal kalian.”
Sialan. Itu memang bisa menyelamatkan kami, tapi sepertinya...... Menolong kelas D itu bakalan jadi lebih susah kelihatannya. Siapapun, tolong aku.
“Gimana ? Setuju ?”
__ADS_1
“Terserah lah. Kamu kan yang paling kuat di sini.”
“Memang. Kalau begitu ikut aku.” ucap Asteri dengan santainya.
Ia pun berjalan ke arah kanan, dan baru beberapa langkah saja, ia sudah berhenti kembali karena pintu otomatis di depan kami yang terbuka di saat itu juga. Yah, sepertinya orang yang ada di situ adalah yang Asteri sebut sebagai si pemotong kayu.
Pemotong tubuh manusia lebih tepatnya.
“Cih, sialan.” gumam Asteri.
Mata kami bertiga sama-sama mengarah ke makhluk humanoid bertopeng besi yang ada di depan sana. Orangnya memang agak mirip dengan Ironman, hanya saja dia membawa gergaji mesin yang ia bawa dengan kedua tangannya. Bagaimana aku harus menjelaskannya ya ? Intinya, dia adalah trope psikopat gila di film horor yang selalu membawa gergaji mesin di tangannya. Begitulah singkatnya.
“Hei, kita lari sekarang juga.” ucap Asteri.
“Eh ? Lari ? Bukannya lebih mending bunuh dokter Salvador ini secara langsung daripada lari darinya ?”
“Dasar bodoh, logika macam apa itu ? Kekuatan fisik ku lebih rendah daripada punya dia, tahu.”
“Oh, jadi begitu.”
Aku menoleh ke arah Ava dan saling bertatapan satu sama lain, sebelum akhirnya, memutuskan untuk langsung lari meninggalkan Asteri sendirian secepat kilat.
Raungan suara mesin gergaji milik pria bertopeng besi itu memenuhi seluruh ruangan di sekitarnya. Pria bertopeng besi tersebut berjalan secara perlahan menghampiri Asteri, yang terlihat sangat ketakutan saat berhadap-hadapan dengan pria bertopeng tersebut. Asteri memegang erat pemukul kayunya dengan kedua tangan, sebelum akhirnya menatap pria tersebut dengan tatapan tajam.
“Akhirnya kita bertemu kembali, huh, tuan penebang kayu ?”
...****************...
Di sebuah pagi yang cerah, saat Asteri terbangun dari tidurnya yang panjang semalaman kemarin. Ia menyambut sinar matahari yang menembus kaca jendela rumah kayunya dengan membuka jendela kacanya. Begitulah kesehariannya selama ini. Ia keluar dari dalam kamarnya, dan kemudian bertemu dengan seorang wanita cantik, yang merupakan ibunya. Clara, adalah nama ibunya. Asteri berbincang-bincang sebentar dengan ibunya sambil sarapan pagi, sebelum akhirnya pergi dari rumah menuju ke kedalaman hutan untuk bertemu dengan ayahnya.
Selama perjalanan, Asteri bertemu dengan banyak hewan liar yang menyambutnya. Ada singa, kelinci, monyet, dan juga rubah kecil yang nakal. Udara yang menyejukkan berhembus dan meniup rambut pirangnya yang panjang, yang dapat membuat siapapun menjadi tertarik kepadanya. Gadis kecil berumur 3 tahun itu sudah kenal begitu sangat dekat dengan yang namanya hutan, seakan hutan adalah teman baiknya. Kicauan burung-burung terdengar dimana-mana, begitu merdu dan menenangkan jiwa siapapun yang mendengarkan nyanyian mereka. Sambil diikuti oleh hewan-hewan 'peliharaan' nya, Asteri berjalan dengan riang melewati pohon-pohon yang besar nan tinggi.
Namun tiba-tiba, sebuah kesadaran lain merasuki dirinya. Asteri kemudian menoleh ke arah kiri, dan di kejauhan sana, terlihat seorang pria sedang duduk di bawah pohon sambil memeluk kaki kirinya. Setelah mengamati pria itu beberapa saat, Asteri mulai berkeliling kesana-kemari mencari apapun itu yang bisa ia gunakan untuk memukul sekaligus membunuh seseorang, dan ia benar-benar menemukannya. Sebuah cabang kayu besar yang cukup kuat sepertinya, cukup kokoh untuk menghajar seseorang menggunakannya. Asteri kemudian berjalan menghampiri pria yang sedang dilanda depresi tersebut, dan ia tersenyum ramah kepadanya.
“Uh, anu....... Anda kenapa ?”
Mendengar seseorang berbicara dengan dirinya, pria tersebut mendongak ke atas. Wajahnya yang saat itu masih muram, seketika disambut oleh senyuman ramah Asteri yang bagaikan sinar matahari yang membutakan mata seseorang.
“Siapa ?” tanya pria itu.
“Aku Asteri. Kamu...... Caesuri, bukan ?”
__ADS_1
“Huh ? Bagaimana kamu bisa tahu namaku, gadis ?”
“Karena aku mengenalmu dari masa depan, bodoh !! DASAR PEMBUNUH SIALAN !!!”
Cabang kayu kokoh yang disembunyikan di belakang punggungnya itu mengayun dengan cepat dan kuat, menghancurkan kepala Caesuri di saat itu juga. Asteri tersenyum lebar, sangat puas setelah melakukan hal itu di masa lalu buatan miliknya sendiri. Darah merah segar bercipratan kemana-mana, bahkan hingga menodai baju biru laut miliknya. Namun itu semua bukanlah sesuatu hal yang ia pentingkan sama sekali. Yang penting baginya adalah, kenikmatan saat berhasil membalas dendam salah satu pembunuhnya itu di masa lalu.
Hutan yang luas tersebut berubah kembali menjadi lorong-lorong di SCR seperti sediakala, dan Asteri langsung menghela nafasnya karena kelelahan. Pria bertopeng besi tersebut jatuh berlutut di lantai seketika, namun bukan itu yang sebenarnya diharapkan oleh Asteri.
“Kenapa ? Kenapa dia tidak menghilang ? Bukannya aku sudah membunuh dia di masa lalu !?”
Tidak butuh waktu lama bagi pria bertopeng besi tersebut untuk bangkit kembali dan menghampiri Asteri. Asteri berjalan mundur ke belakang, sangat ketakutan saat menyadari apa yang dilakukannya tadi hanyalah sia-sia belaka. Seluruh kekuatan yang ia gunakan barusan tidak membuat Caesuri mengalami apa-apa sama sekali. Pria tersebut nampaknya justru semakin kuat dan semakin marah berkat serangannya barusan. Bagaimanapun juga, mental di dalam tubuh Asteri hanyalah seorang gadis kecil seperti yang lainnya. Ia benar-benar ketakutan, sangatlah ketakutan. Sampai-sampai ia mulai menangis sambil menutup matanya dari gergaji mesin yang sedang menyala tersebut.
“Menjauh lah, aku mohon !!”
Caesuri tidak menggubris permohonannya sama sekali. Ia mengangkat gergaji mesinnya sambil meraung keras layaknya seorang maniak, sebelum kemudian berlari dengan beringas mendekati Asteri sambil menghunuskan gergaji mesinnya ke depan. Beruntung saat gergaji mesin itu sudah hampir memotong leher Asteri, sebuah peluru anti anomali menembus topeng Ironman miliknya.
Nah, yang menembak itu adalah aku, Eva si protagonis paling baik dan juga paling hebat sejagat raya. Singkatnya, aku dan Ava memutuskan untuk kembali lagi menjemput Asteri saat itu. Memang melakukannya agak terlambat, tapi setidaknya aku dan Ava tiba di waktu yang tepat. Asteri langsung membuka matanya dan menoleh ke arahku, juga Ava yang baru saja datang. Matanya seperti penuh dengan harapan hidup kembali, seperti melihat cahaya terang dari atas surga datang untuk menjemputnya dan menyelamatkan dirinya dari kegelapan dunia. Ah, lupakan itu. Masih ada sesuatu yang lebih penting untuk dilakukan saat ini, yaitu kata-kata heroik ku.
“Jangan beraninya nyerang bocil aja, bangsat !!”
“Bener tuh, anjink !!” sahut Ava yang kemudian menembakkan beberapa peluru dari revolver miliknya.
Pandangan si Ironman abal-abal itu teralihkan kepada kami, memberi kesempatan pada Asteri untuk langsung lari menyelamatkan dirinya. Asteri benar-benar ketakutan. Aku bisa merasakannya dengan jelas saat Asteri seketika bersembunyi di belakangku sambil menangis tersedu-sedu. Ada iblis brengsek yang hanya berani menghajar anak-anak saat ini, dan kami berdua akan menghajarnya detik ini juga !!
“Nyerah aja sekarang, bangsat !! Sekali tembak lagi, tuh topeng mamank Ironman bakal punya lubang, tau !!”
“Nah, dengerin tuh, dasar pedo !!” sahut Ava lagi.
Bagaimanapun, kata-kata bijak kami sepertinya tidak berpengaruh ataupun membuatnya merasa terintimidasi sedikitpun. Si Ironman itu meraung keras sambil mengangkat gergaji mesinnya lagi seperti seorang maniak, sebelum semuanya berubah seketika.
“Tunggu, dimana ini ?”
“Lebih tepatnya, apa yang baru aja dia lakuin ?” balas Ava mengkoreksi pertanyaan ku sebelumnya.
Seluruh lorong SCR yang sempit itu, semuanya berubah seketika menjadi puing-puing bangunan. Aku dapat melihat sebuah jantung besar sedang berdetak jauh di depan sana, terhubung oleh urat nadi super raksasa yang tersebar kemana-mana. Sementara itu, Asteri yang masih bersembunyi di belakangku memegangi bajuku dengan lebih erat lagi, menjadi lebih ketakutan daripada di awal. Sepertinya, dia tahu sesuatu.
“Asteri, ini dimana ?”
Asteri melepaskan pegangannya dari bajuku, kemudian mengambil langkah mundur seperti ingin lari dari sesuatu yang begitu mengerikan baginya. Aku dan Ava sama-sama menatapnya dengan kebingungan. Maksudku, ayolah, jantung raksasa di depan sana tidak terlalu mengerikan, tahu.
“Ini...... Di masa depan !!”
__ADS_1