Anomaly

Anomaly
I Am Who I Am


__ADS_3

3 tahun kemudian semenjak kejadian mengerikan itu, di mana monster misterius menghancurkan kota bawah tanah, banyak dari warga kota bawah tanah yang selamat mulai keluar dari bawah tanah dan berbaur dengan warga atas. Kemunculan mereka tidak dianggap aneh oleh para warga atas, namun itu tetap dianggap sebagai anomali bagi SCR Foundation. Berbagai agen spesial di kirim untuk menangkap dan menginterogasi orang orang yang dianggap 'muncul' dari bawah tanah. Penyelidikan masih terus berlangsung, dan saat ini, kota bawah tanah tersebut telah diklasifikasikan sebagai SCR 2134 -Underground City-. Pencarian orang orang bawah masih terus dilakukan, dan itulah yang sedang terjadi pada Ivan pada saat ini.


Ivan berlari menyusuri gang sempit, berusaha kabur dari kejaran agen spesial yang sedang mengincarnya.


“Hei, berhenti di sana sekarang juga !”


Beberapa peluru ditembakkan sebagai peringatan. Ivan terus berlari menghiraukan peringatan tersebut. Tanpa ia sadari, seorang agen sedang bersembunyi di balik persimpangan gang lainnya. Ivan seketika disergap oleh agen itu menggunakan pistol Taser yang melumpuhkan dirinya hanya dalam sekali tembak. Ivan lumpuh seketika dan terjatuh ke tanah, namun setruman semacam ini bukanlah apa apa baginya. Ia hanya beberapa detik mengalami kelumpuhan, kemudian telah mampu untuk membebaskan dirinya dari efek kejut Taser gun agen wanita tersebut. Ivan lanjut berlari sambil menyenggol agen tersebut. Agen wanita tersebut tidak menyadari bahwa ada orang lain yang sedang berlari di belakangnya. Pria itu dengan cepat mendorong agen wanita itu hingga jatuh tersungkur ke tanah dan membuatnya meringis kesakitan, kemudian berlari menyusul Ivan.


“Hei, Rico, ternyata lu masih selamat. Di mana yang lain ?”


“Yang lain udah ketangkep sama orang orang sialan ini. Mereka semua benar benar profesional.”


“Sialan.” keluh Ivan. Mereka berdua terus berlari. Beberapa meter di depan adalah akhir dari gang sempit ini. Sebentar lagi, mereka berdua kemungkinan dapat selamat dari kejaran agen agen spesial ini, namun harapan mereka hilang seketika. Seorang agen lain muncul dari atas atap rumah warga dan menembakkan aliran listrik terus menerus dari senapannya.


“Mau kemana kalian, dasar berandalan bawah tanah !” seru agen pria tersebut. Ivan dan Rico lumpuh seketika dan tidak berkutik saat itu juga. Mereka kemudian dijatuhkan dengan pukulan dan tendangan dari agen lain yang muncul secara tiba tiba dari persimpangan gang lain di sebelah kanan mereka. Agen itu dengan kerasnya kemudian menginjak tubuh Ivan yang sedang berusaha untuk berdiri kembali. Pengejaran itu akhirnya berhenti setelah berlangsung cukup lama.


“Stunner, lu gapapa, kan ?”


“Uh, hanya luka kecil aja kok.”


“Biar kuurus dia, Knocker. Setidaknya borgol dua berandalan itu, bodoh.”


“Cih, selalu saja menyebalkan.” dengus Knocker kesal. Ia berjalan mendekati Ivan dan Rico yang tersungkur di tanah dan merangkak secara perlahan. Ia menginjak Rico dengan kasar m, sama seperti saat ia memperlakukan Ivan.


“Jangan kira kalian bisa kabur, bangsat.” dengus Knocker kesal. Ivan dan Rico hanya bisa membiarkan tangan mereka di borgol oleh Knocker sambil merutuki nasib mereka saat ini.


“Sialan, kita benar benar di kutuk sekarang.” gumam Ivan.


****************


Ivan memasuki sebuah ruangan berwarna putih dengan diiringi oleh dua orang agen, Stunner dan Knocker. Setelah berjalan ke satu satunya meja yang ada di dalam ruangan, Knocker memaksa Ivan untuk duduk dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa, hingga hampir membuat Ivan terjatuh dari kursi lipat itu.


“Sialan, bisa gak sih kalian ga kasar sama orang laen !?”


“Cih, persetan sama lu, bangsat.”


Stunner yang melihat itu mengumpulkan keberaniannya untuk menegur Knocker yang terlihat selalu naik pitam, tidak peduli apa pun keadaannya. Walaupun begitu, keraguan masih terlihat dengan jelas di wajahnya.


“Knocker, hentikan itu. Kenapa kamu harus melakukan ini ?”


“Berkat orang ini, kamu harus ke tanah saat itu. Benar, kan ?”


“Knocker, itu hanyalah jatuh biasa. Aku bahkan tidak terluka sama sekali, sayang !”


Knocker seketika berhenti berbicara saat mendengar kata 'sayang' itu keluar dari mulut pacarnya. Pipinya memerah seketika, dan ia harus menahan malu sesaat karena panggilan pacarnya itu. Keberadaan Ivan terasa seperti angin lalu bagi mereka, tidak dihiraukan sama sekali. Dunia berasa hanya milik mereka berdua, setidaknya sampai seseorang yang menggunakan kaos hitam dan sebuah jas putih labnya memasuki ruangan dari pintu belakang, kemudian duduk berhadapan dengan Ivan.


“Kalian boleh keluar sekarang.” ucap pria itu. Knocker dan Stunner berjalan keluar sesuai perintah orang itu. Tangan Knocker merangkul bahu pacarnya, Stunner, kemudian melewati pintu keluar dan menutup pintu itu dengan keras. Perasaan tidak nyaman mulai tumbuh di dalam hati Ivan, bisa bisanya pasangan melakukan hal romantis semacam tepat di hadapannya.


“Begitulah, romantisme.” ucap pria itu memulai perbincangan dengan Ivan. Ivan tidak memberikan reaksi atau jawaban apa pun, terus menerus mengunci mulutnya. Lagi pula, buat apa dia berbincang dengan orang yang tidak dia kenal ini ?


“Kenalkan, nama ku Shan Oliver. Panggil saja dengan Shan.”


Ivan masih tidak ingin berbicara dengan Shan. Dia benar benar tidak sudi untuk berteman dengan orang yang akan menginterogasinya saat ini. Shan masih dengan sabar menunggu Ivan untuk setidaknya mengucapkan sepatah kata dari dalam mulutnya, membuat suasana menjadi hening, tidak ada suara sama sekali. Setelah beberapa saat menunggu dan di rasa bahwa Ivan tidak akan mengatakan apa pun, Shan pun akhirnya memutuskan untuk membahas topik utama pembicaraan ini.


“Baiklah, langsung masuk ke intinya.”


Shan mengeluarkan sebuah foto seorang wanita berjaket hitam dan meletakkannya di dekat Ivan.


“Namamu Ivan kan ? Kamu kenal siapa orang ini ?” lanjut Shan menginterogasi.


Sosok di balik foto itu terasa begitu familiar di mata Ivan, apalagi rambut pendeknya yang berwarna perak, namun tetap saja ia tidak begitu mengenalinya. Setelah sekian lama tidak berbicara, Ivan akhirnya membuka mulutnya kembali.


“Apa kamu punya foto yang lebih jelas ?”


“Huh ? Apa maksudmu ?”


“Foto di mana mukanya kelihatan dengan jelas maksudku.”


Shan menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya kecewa dan terlihat sedikit kesal.


“Sayangnya tidak. Kamu terlihat seperti kenal wanita ini, huh ?”


“Dia..... Terlihat seperti adik perempuan ku.” jawab Ivan. Sontak Shan menyodorkan tubuhnya ke depan mendekati Ivan karena terkejut akan pernyataan Ivan barusan. Secercah harapan dapat terlihat di matanya.


“Apa yang kamu bilang tadi !?”


“Huh ? Orang ini, mirip sama adik perempuan ku.”


Ivan dibuat kebingungan oleh Shan yang secara tiba tiba menjadi begitu bersemangat saat mendengar jawabannya yang kedua. Dia menyeringai begitu tajam. Walaupun begitu, tidak ada niatan jahat sama sekali yang terlihat di wajahnya.


“Terima kasih, Tuan Ivan.”


Beberapa saat kemudian, Ivan justru dimasukkan ke sebuah ruangan kecil yang ia yakini semacam sel penjara. Kini ia menaruh kebencian terhadap orang yang bernama Shan itu. Dia terlihat seperti orang sangat menyebalkan di matanya.


“Ini kah yang orang itu sebut sebagai ucapan 'terima kasih' ? Benar benar orang yang baik.” keluhnya dalam hati.


Sudah berminggu minggu hingga beberapa bulan telah berlalu, namun tetap saja Ivan masih dijadikan sebagai tahanan di tempat ini, yang disebut sebagai SCR Foundation. Ia bahkan tidak pernah tahu tentang keberadaan tempat ini, yang ia tahu hanyalah bahwa tempat ini dipenuhi oleh makhluk makhluk film horror. Ia bahkan sudah lebih dari 10 kali mengalami teror dari makhluk makhluk yang mengerikan itu.


“Ucapan terima kasih mu itu benar benar bermakna, huh ?”


“Maafkan aku soal itu. Tapi berkat jawabanmu 5 bulan yang lalu, aku terbebas dari stres ku yang sudah muncul 4 tahun lalu.”


“Persetan dengan stres mu, Shan.”


“Oh, akhirnya kamu memanggilku dengan nama juga ! Bukankah itu adalah sedikit kemajuan dalam hubungan kita ?”


Ivan menatap Shan dengan jijik seketika.


“Kalau yang kamu maksud 'hubungan' itu adalah pertemanan, pergi lah ke alam mimpi, bangsat.”


“Oh, jangan terlalu kasar begitu, Ivan. Di sini kita saling membantu. Bukan kah kamu ingin bebas dari sini bersama dengan pacar baru mu itu ?”


Ivan terkejut hingga mencondongkan tubuhnya ke depan dan melotot ke arah Shan. Sindiran Shan itu terasa begitu menusuk hingga ke jantungnya dan hampir membuat jantungnya terlepas.


“Bagaimana bisa kamu tahu tentang itu ?”


“Pake nanya. Semuanya berada dalam pengawasan ku, Ivan. Ingat kalau aku adalah admin di sini.”


Ivan masih bersabar, karena tangannya saat ini ingin memukul wajah Shan dengan sangat keras. Jika saja ia memukul wajah Shan yang selalu terlihat menyebalkan itu, dirinya sudah pasti dalam bahaya.


“Baiklah, masuk ke inti wawancara kali ini.”


Shan mengeluarkan foto sama yang sempat ia keluarkan 5 bulan lalu. Ia kemudian meletakkannya di dekat Ivan.


“Jadi, seberapa dekat kamu dengan orang yang bernama 'Eva' ini ?” lanjut Shan. Ivan menghela nafasnya kesal. Ingatan buruk tentang masa lalu kelam bersama dengan adik adiknya kembali menyerang dirinya.


“Aku, selalu bermusuhan dengannya.”


“Oh ? Apa kamu tahu alasan 'Eva' melakukan hal keji seperti saat ini ?”


“Entahlah, mungkin trauma masa lalu.”


“Trauma masa lalu macam apa ?”


Ivan merenung sejenak sambil mengingat kembali apa yang telah ia perbuat pada adik perempuannya, Eva. Itu adalah sebuah aib yang sangat memalukan baginya, dan dosa yang mungkin tidak akan pernah bisa dimaafkan. Ia membunuh Leonora dengan sengaja, hanya karena perasaan iri yang menjalar di tubuhnya.


“Ivan ?”


Ivan tidak menjawab. Ia masih merenung dalam penyesalan tiada akhirnya.


“Ivan, apa kamu bisa dengar aku ?”


“Hei, Ivan. Aku tidak memaksa mu untuk jawab, tapi setidaknya jelaskan apa yang terjadi pada mu.”


“Ivan, kamu tidak apa apa ?”


“Ivan ?”


“Ivan ?”


“Ivan ?”


Shan terus memanggil namanya berkali kali hingga itu mendengung di dalam telinganya. Panggilan Shan mulai terdengar seperti panggilan setan yang memaksanya untuk masuk ke dalam neraka dan menebus dosanya di masa lalu. Ivan berusaha untuk menyuruh diam bisikan bisikan setan itu, walaupun sebenarnya tidak ada yang berbisik padanya. Itu hanyalah Shan yang sedang memastikan keadaan Ivan saat ini. Ivan mulai dipenuhi emosi, hingga akhirnya ia berdiri seketika sambil menggebrak meja hingga membuat Shan terkejut dan menggerakkan kursi putarnya sedikit ke belakang.


“Bisa kah kamu diam sekarang !?”


Suasana menjadi hening sejenak. Shan kemudian menghela nafasnya, memecah keheningan sejenak tersebut.


“Bawa dia kembali ke sel nya. Kita selesai di sini.”


Pintu otomatis pun terbuka dan menampakkan Shocker yang sedang berdiri di depan balik pintu. Shocker kemudian berjalan ke arah Ivan kemudian membawanya kembali ke sel tahanannya. Shan menghela nafasnya kembali sambil memutar kursinya itu ke belakang.


“Trauma masa lalu, huh. Dasar motif yang ketinggalan jaman.” gumamnya.


****************


Shan berjalan melewati kerumunan personel SCR Foundation ditemani oleh Shava sekretaris sekaligus istrinya. Mereka berdua kemudian berhenti tepat di depan sel penjara dengan pintunya yang terbuka. Di dalamnya terdapat mayat seorang pria tergeletak bersimbah darah dan tulisan 'Aku Tahu Kamu Ada Di Sini' di tulis menggunakan darahnya di dinding. Salah satu agen spesial bernama Prodder kemudian datang menghampirinya.


“Ada apa ini, Prodder ?”


“Seorang penyusup wanita membunuh tahanan kelas D ini beberapa saat yang lalu. Bisa di katakan kalau orang itu memiliki atribut anomali.”


“Oh, begitukah ? Kenapa aku tidak tahu apa apa 5 menit yang lalu ?”


“Wawancara mu dengan Ivan Rosenthal dianggap penting dan tidak boleh diganggu untuk sementara waktu. Setidaknya dia sudah memberitahu ku lebih dulu.” jawab Shava.


Shan menatap tajam Prodder dan Shava. Ia merasa bahwa ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh keduanya saat ini. Ia bahkan tidak pernah mengeluarkan perintah untuk tidak mengganggunya saat wawancara dengan Ivan.


“Apa yang sedang kalian rahasiakan ?” tanya Shan sambil mendekati sel penuh darah tersebut. Setelah beberapa saat tidak mendapatkan jawaban dari keduanya sudah cukup untuk membuat dirinya menaruh curiga kepada mereka berdua. Shan kemudian menoleh ke arah istrinya, Shava. Rasa bersalah dapat terlihat dengan jelas di mukanya. Shava pun akhirnya mengungkap kebenaran yang sebenarnya terjadi.


“Penyusup itu....... Mengincar mu.”


Shan menghela nafasnya lega karena tidak perlu mencurigai istrinya lagi. Walaupun begitu, gundah gulana kini menyerang dirinya.


“Harusnya kalian mengatakan itu dari tadi. Sekarang aku tahu kalau nyawa ku sedang dalam bahaya.” ucap Shan sambil berjalan pergi meninggalkan tempat kejadian serta Shava bersama dengan Prodder. Ia kemudian berhenti melangkah sejenak karena sebuah pertanyaan yang terbesit di kepalanya.


“Apa kalian tahu siapa penyusup itu ?”


“Dari rekaman CCTV yang terlihat, ada kemungkinan besar kalau dia adalah sosok adik perempuan yang sering disebutkan oleh Ivan, 'Eva Rosenthal'.” jawab Prodder.


Shan pun sudah menduga kemungkinan jawaban itu adalah benar. Sosok yang selama 4 tahun telah meneror kota Puerto Rico, kini mulai beraksi hingga ke lingkungan pekerjaannya. Tentu saja dengan motif kriminalnya itu, trauma masa lalu.


“Gadis sialan itu.” gumam Shan agak keras.


****************


1 minggu kemudian, Ivan dan kawan kawan barunya dibebaskan dari SCR Foundation dengan satu misi : CARI EVA ROSENTHAL HINGGA KE SELURUH PUERTO RICO DAN SEKITARAN SCR 2134. JIKA ADA KEHARUSAN UNTUK MEMASUKI AREA ANOMALI ITU, IJINKAN MEREKA MASUK DI DAMPINGI OLEH GUGUS TUGAS SATUAN BETA 12 'HYPER SHOCK'. Misi itu sudah sangat jelas dan juga sangat mudah untuk dipahami. Intinya adalah untuk mencari Eva Rosenthal hingga ke seluruh Puerto Rico dan juga area di sekitar SCR 2134 mau pun area di dalam SCR 2134.


Siang itu, Ivan dan Rico memasuki sebuah bar kecil untuk mengusir penat yang mereka alami selama 5 bulan berada di dalam penjara horor SCR Foundation. Akhirnya bebas juga, ucap Ivan dalam hati. Ivan dan Rico kemudian mengambil tempat duduk di sebuah meja panjang.


“Dua gelas Champagne, buat dua orang.”


“Segera datang !” jawab seorang pelayan wanita dari kejauhan. Ivan kemudian menunduk dan memijat kepalanya dengan tangan kanan. Walaupun sudah bebas, namun itu hanyalah untuk sementara. Kemungkinan bagi dirinya bebas secara permanen sangatlah kecil, mengingat orang yang bernama Shan terlihat menaruh rasa penasaran yang tinggi padanya, entah apa itu sebenarnya. Di sisi lain, Rico juga terlihat mengalami hal sama seperti yang dialami oleh Ivan. Berhubungan terus menerus dengan seorang agen spesial bernama Knocker yang tidak pernah berhenti mengamuk itu telah membuat seluruh tubuhnya mengalami rasa sakit yang luar biasa. Beruntung, di detik detik terakhir sebelum ia di beri misi sialan ini oleh Shan, Knocker telah digantikan oleh pacarnya sendiri, Stunner, yang jelas berbeda 180° dengan pacarnya sendiri. Apalagi Stunner adalah seorang wanita, cukup untuk membuat Rico mampu tidur nyenyak untuk beberapa hari.


“Benar benar 5 bulan yang menyebalkan, huh ?” ucap Rico memecah keheningan di antara mereka berdua.


“Shan sialan itu tidak akan pernah membiarkan kita hidup normal lagi sepertinya.”


“Lu bener.” jawab Rico kembali. Beberapa saat kemudian, champagne yang mereka pesan sudah berada di hadapan mereka berdua. Ivan langsung meneguk champagne itu tanpa perlu menunggu lama dan rasanya, seperti champagne murahan. Mau bagaimana lagi, ini adalah bar kecil yang baru saja ia ketahui dari rekomendasi teman teman barunya. Mereka sudah tidak bisa dipercaya lagi baginya.


“Sialan, minuman macam apa ini !?” keluh Rico seketika.


“Kita punya rasa yang sama, bro.”


Ivan sudah tidak berniat untuk tinggal berlama lama di bar kecil ini lagi. Ia memutar kursi putarnya ke belakang, namun ia dikejutkan oleh seorang pria berpostur tegak dan menggunakan jas dan celana serba hitam. Pria itu menaruh tangan kirinya di pundak Ivan seakan menahannya untuk beranjak dari tempat duduknya, membuat Ivan dan Rico kebingungan secara bersamaan. Pria itu kemudian duduk di samping kanan Ivan dan diam sejenak, sebelum akhirnya melepaskan kacamatanya yang juga hitam gelap. Penyuka negro, pikir Ivan. Pria itu kemudian mulai berbicara.


“Kalian berdua sedang mencari seseorang, bukan ? Dia pasti adalah anakku, bukankah begitu ? Kembali lah ke kota bawah tanah, dan kami akan menyambut kalian berdua.”


“Lu pasti salah orang, dasar negro. Gw dan temen gw lagi nyari adik perempuan gw, bukan anak lu. Lagian bukannya kota bawah tanah udah-”


Pria itu menaruh jari telunjuknya di depan mulut Ivan, menyuruhnya untuk berhenti berbicara.


“Lakukan saja apa yang ku katakan, kalian pasti akan menemukan orang yang kalian cari. Oh ya, dan namaku Rigel, jadi jangan panggil aku dengan sebutan negro lagi.” ucap Rigel sambil beranjak dari tempat duduknya sambil menggunakan kacamata hitamnya lagi. Rigel kemudian keluar dari dalam bar itu tanpa mengucapkan salam apa pun.


“Dasar negro aneh.” Ucap Ivan dengan nada sinis. Ia kemudian menoleh ke arah Rico yang sedang menatap pintu bar itu dengan sinis. Ia pasti juga memikirkan hal yang sama dengan dirinya.


“Apa yang kita lakukan sekarang ?” tanya Ivan.


“Gw sudah dibuat stres terlalu sering akhir akhir ini. Kita hajar aja tuh orang kalo omongan nya ga bener.”

__ADS_1


“Kayaknya seru juga tuh.” jawab Ivan sambil mendengus kencang.


Ivan kemudian merogoh ponsel yang ada di saku celananya, menghubungi teman temannya yang lain yang juga mendapatkan misi sama dari Shan admin sialan itu.


“Anita, kita ke kota bawah tanah, sekarang juga.”


“Woke !” jawab Anita penuh semangat dari balik telepon itu.


****************


Ivan, Rico, dan beberapa temannya kini telah berada di pos keamanan yang dibangun tepat di dekat jalan masuk kota bawah tanah yang merupakan jurang dalam itu. Mereka di hadang oleh Shocker seketika.


“Ini adalah hari pertama kalian diberikan misi, dan kalian sudah memutuskan untuk mencari orang itu di kota bawah tanah. Bukan kah itu terlalu cepat ?”


“Ada orang aneh yang menyuruh kita mencarinya di sini, bangsat.” jawab Rico.


“Uhuh ? Jelaskan, orang aneh macam apa dia ?”


“Kulitnya coklat, pakaiannya serba hitam, dan juga badannya terlalu tinggi buat di sebut sebagai manusia. Oh ya, namanya Rigel.” jelas Ivan.


“SCR 3111. Apa yang dilakukannya di sini ? Mencurigakan.” gumam Shocker.


“Apa kamu bilang ?”


“Lupakan saja, itu adalah rahasia buat tahanan seperti kalian.” jawab Shocker sambil berjalan meninggalkan Ivan dan kawan kawannya sendirian. Ia berjalan menuju rekan satu timnya yang saat masih terus mengawasi SCR 2134 dari dalam pos keamanan itu.


“Sudah gw duga, kita masih jadi tahanan sampe sekarang.” dengus Rico kesal.


“Orang orang macam mereka ga bakal ngelepasin kita dengan gampang, Rico.” sambung Ivan.


“Tentu saja.”


Beberapa saat kemudian Shocker kembali menemui Ivan bersama dengan seluruh anggota timnya. Ia juga membawa beberapa alat komunikasi jarak jauh di genggaman telapak tangannya.


“Kalian semua, ambil ini. Pastikan hubungi kami jika ada masalah tertentu.” ucap Shocker sambil membuka telapak tangannya. Ivan dan teman temannya kemudian mengambil alat itu satu per satu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, kemudian meletakkannya di telinga mereka.


“Baiklah, kita sudah siap turun ke bawah.” ucap Shocker kepada seseorang lewat alat komunikasi nya. Mereka kemudian berjalan menuju jurang SCR 2134 bersama sama. Shocker dan Prodder sempat mengintip ke bawah jurang itu. Tidak ada apapun yang bisa mereka gunakan untuk turun ke bawah selain dengan menggunakan pilar fondasi kayu yang sudah hampir setengah rusak. Tidak mungkin mereka menggunakan fondasi kayu itu untuk turun ke bawah, terlalu beresiko.


“Oi, bagaimana caranya kita turun dari sini ?”


“Entahlah. Siapa pun yang selalu keluar masuk lewat sini sudah pasti adalah penantang alam sejati.” ucap Prodder yang mengundang gelak tawa beberapa orang, kecuali Ivan. Baginya itu adalah sebuah hinaan pada dirinya di masa lalu. Salah satu teman wanita Ivan kemudian berjalan mendekati Shocker dan Prodder. Dia adalah Vera, seorang wanita dengan mukanya yang selalu serius dan terlihat galak setiap harinya. Kalau bisa dibandingkan, Vera adalah versi perempuan dari Knocker.


“Aku tahu jalan lain buat masuk ke kota ini. Tidak usah menantang alam melewati jalur ini.” ucap Vera.


“Hei, itu sangat membantu, nona. Terima kasih.” sahut Prodder seketika. Setidaknya mereka tidak perlu menjadi My Trip My Adventure saat ini.


“Hmph.” dengus Vera kesal. Entah apa yang terlihat menyebalkan baginya sampai membuat dirinya kesal saat ini. Vera kemudian memimpin rombongan itu memasuki sebuah lereng kecil, yang pada akhirnya menuntun mereka untuk sampai di kota bawah tanah.


****************


Ivan sedikit terkejut mengetahui jalan baru ini. Namun yang lebih penting lagi adalah fakta bahwa beberapa rumah di kota ini masih memiliki lampu yang menyala terang, walaupun terkadang meredup atau mengeluarkan percikan api. Kini Ivan bersama dengan gugus tugas BETA 12 dan juga teman temannya yaitu Vera, Anita, Rico, Pete, dan juga Pietro menyusuri kota bawah tanah ini, tempat yang merupakan bagian masa lalu kelam Ivan. Ingatan ingatan itu selalu muncul dan mulai menghantui pikirannya semenjak ia memasuki kota ini. Sambil berjalan menyusuri kota bawah tanah yang telah hancur lebur ini, Ivan mulai bernostalgia akan tempat tempat yang sering ia kunjungi bersama adik adiknya saat masih kecil.


“Kalian semua dari kota ini, kan ? Harusnya kalian lebih familiar dengan kota ini daripada kami.” ucap Shocker.


“Tentu saja. Di seberang sana ada warung makan kecil tempatku sering nongkrong bersama. Lalu di sebelah kanan sana ada tempat penginapan, dan bla bla bla.” jelas Ivan panjang lebar. Ia terus menunjukkan tempat tempat familiar yang sering ia kunjungi sewaktu masih kecil pada anggota gugus tugas BETA 12.


“Hanya saja aku baru mengetahui tentang jalan baru itu.” lanjut Ivan dengan nada yang menunjukkan kebingungan. Ia tidak pernah ingat ada jalan seperti itu sejak kecil hingga sampai sekarang. Dari belakang, terdengar Vera yang mendecih kesal. Ia kemudian menyamakan kecepatan jalannya dengan Ivan, lalu menuangkan seluruh rasa kesalnya saat ini pada Ivan tepat di hadapan yang lainnya.


“Jalan itu baru muncul setelah kota ini benar benar sudah dihancurkan seluruhnya. Sementara itu, kamu yang keluar lebih dulu bersama dengan pak tua itu sekarang telah kehilangan hampir seluruh saudara saudara mu. Memang pantes sih.” ucap Vera dengan nada penuh sindiran keras. Ucapannya itu menusuk hati Ivan dengan sangat dalam, hingga membuatnya tidak bisa berkata kata apa pun.


Mereka semua terus menyusuri kota ini tanpa berbicara sama sekali. Semuanya hening, dan tidak ada yang ingin memecah keheningan itu, kecuali satu orang. Seseorang yang bahkan tidak ada di antara mereka.


“Ehem, selamat datang di kota ini, siapa pun kalian di sana !”


“Eva ?” gumam Ivan saat mendengar suara dari sound sistem itu. Seluruh anggota BETA 12 menjadi siaga seketika.


“Jadi, apa yang kalian cari di sini ? Makanan ? Tempat tinggal ? Atau mungkin ingatan kalian hilang ? Tidak peduli apapun itu, aku akan menemani kalian di sini. Bersama dengan anggota keluarga ku yang baru, semoga perjalanan kalian jadi lebih menyenangkan ! Bye !!”


“Eva ! Apa itu kamu !?”


“Tidak ada yang mendengar panggilan mu itu selain kita sendiri di sini, Ivan. Berhentilah memanggil terus menerus orang yang ada di balik sound sistem.” ucap Prodder.


“Anggota keluarga ? Terdengar sangat seperti apa yang selalu dikatakan oleh orang itu.” gumam Shocker.


“Orang itu ? Siapa ?” tanya Anita.


“Rigel.” jawab Shocker sambil menurunkan senjatanya.


“Kita berpencar mulai dari sini. Kota ini terlalu luas untuk kita jelajahi dalam satu kelompok besar seperti ini.” lanjutnya. Semuanya nampak paham akan apa yang dikatakan oleh Shocker tanpa perlu bertanya kembali. Mereka semua mulai memilih pasangannya sendiri. Pete dengan Pietro, Rico dengan Anita, Shocker dengan Prodder, dan tentu saja Knocker dengan Stunner. Hanya tersisa satu lagi yang belum mendapatkan pasangan, yaitu Vera dan juga Ivan.


“Apa apaan ini ? Aku bersama dengannya ? Tidak mungkin !” keluh Vera.


“Mau bagaimana lagi ? Ga ada yang milih lu, Vera.” sergah Ivan sambil meraih tangan Vera dan menariknya menuju ke sebuah gang yang bersebelahan dengan rumah kecil.


“Oi, lepasin gw, sialan !!”


Vera terus memberontak, tidak ingin menjelajahi kota ini bersama dengan Ivan, orang yang selalu dibencinya sampai saat ini. Teman temannya hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan Vera yang kekanak-kanakan itu.


“Kita mulai berpencar sekarang.” perintah Shocker sambil berjalan dengan Prodder. Semuanya mulai berpencar, begitu juga dengan Ivan dan Vera.


Ivan dan Vera sampai di sebuah komplek warung makan yang penuh dengan reruntuhan bangunan. Ivan kemudian mulai berjalan mencari cari sesuatu, sementara Vera hanya berdiri diam belakangnya sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Hei, Vera. Sepertinya kita harus meluruskan sesuatu saat ini. Apa yang bikin lu benci sama gw ?”


“Hmph, bukan kah semuanya sudah jelas ?”


Vera berjalan ke samping kanan Ivan yang masih mencari sesuatu di antara reruntuhan.


“Lu ninggalin semua orang di sini termasuk gw waktu itu. Berkat lu, keluarga gw udah pada mati semua hari ini.”


“Terus gw harus apa ? Gw juga kehilangan Javier, Rodric, dan juga Igor waktu itu. Kita semua ngalamin hal yang sama Vera !”


“Mendingan kita berbaikan aja deh.”


“Hmph, gak sudi !”


Vera diam sejenak sebelum akhirnya menatap ke arah Ivan sekali lagi.


"Baiklah, gw maafin lu-"


“Hei, hei, hei ! Aku lihat kalian lagi ada di area kuliner, nih. Pilihan yang bagus buat berduaan, apalagi pacaran. Benar, kan ?”


“Biar kencan kalian makin seru nih, aku sudah minta bantuan Popo buat nemenin kalian ! Semoga kalian bisa jadi temen dekat barunya, ya !!”


“Huh, Popo siapa ?" gumam Ivan. Kebingungannya itu seketika terjawab saat dia dan Vera melihat sesosok pria berdiri di depan mereka di bawah bayang bayang sebuah warung kecil.


“Apa apaan makhluk itu ? Dia jelas jelas bukan manusia.”


“Ga ada yang bilang kalau si Popo ini manusia, Vera.”


Makhluk yang disebut sebagai Popo itu berbentuk seperti humanoid dengan kepalanya yang sangat besar dan tidak manusiawi. Mulutnya terus tersenyum kecil, lehernya sangat pendek hingga sulit untuk dilihat dengan mata telanjang. Matanya hitam bulat hampir seperti titik kecil tanpa kelopak mata, alis, retina, maupun iris sama sekali, hanya bola mata saja. Popo terus berdiam diri di bawah bayang bayang menatap Ivan dan Vera yang sedang kebingungan sekaligus sedikit ketakutan itu.


“Apa yang lu lakuin ? Cepetan panggil team force sialan itu, bangsat !”


“Tunggu, dia kelihatan ga berbahaya.”


“Apa !?”


Vera dibuat sangat kebingungan oleh jawaban Ivan. Bagaimana bisa makhluk yang jelas bukan manusia ini tidak terlihat berbahaya di matanya. Pasti ada yang salah orang di sampingnya itu.


Vera dan Ivan bersama dengan Popo di depan mereka berjalan menyusuri jalan kota bawah tanah yang penuh dengan retakan dan puing puing bangunan. Ivan tetap mengikuti Popo dari belakang dengan tenang seakan makhluk bernama Popo yang ada di depannya itu adalah manusia sesungguhnya, sedangkan Vera dipenuhi rasa gelisah dan ketakutan saat ini. Dia sangat ingin untuk lari sejauh jauhnya dari sini, namun tidak mungkin ia meninggalkan Ivan sendirian. Mereka baru saja berbaikan.


“Hei, kenapa kita harus mengikuti makhluk ini, sih ?”


“Entahlah, insting gw berkata kalo orang ini bakal nganterin kita ke Eva.”


“Gak mungkin, dia pasti bakal bunuh kita di tengah perjalanan, bodoh.”


“Kalau gitu, dia harusnya bisa ngelakuin itu dari tadi, bangsat.”


“Lu mau berantem sama gw lagi, hah !?”


“Diam lah, Vera ! Makhluk sialan itu bisa denger kita kalo kita debat terus kayak gini !”


Ivan dan Vera terus berdebat secara diam diam di belakang Popo. Popo tentu saja tidak menyadarinya, karena telinganya terlalu kecil untuk seukuran manusia biasa. Popo secara tiba tiba berhenti mendadak di tengah jalan, berhasil membuat Ivan dan Vera bergidik ketakutan untuk sesaat. Di hadapan Popo, berdiri sesosok pria dengan pakaian serba hitam membelakangi mereka bertiga. Sosok itu terlihat sangat familiar di mata Ivan, walaupun ia sebenarnya baru saja berkenalan dengan orang itu.


“Rigel.” gumam Ivan. Popo seketika menghilang dari hadapan Ivan dan Vera, membuat keduanya terkejut bukan main saat melihat kejadian itu. Rigel kemudian berbalik dan menatap Ivan dan Vera dengan kedua tangannya saling memegang satu sama lain di belakang tubuhnya.


“Sudah ku bilang. Aku akan menyambut tamu ku dengan baik, walaupun temanmu saat ini berbeda. Bukankah begitu ?”


“Apa mau mu, negro sialan ?” tanya Ivan dengan geram.


“Jaga omonganmu, Ivan. Kalau tidak, Popo bisa membunuh teman wanita mu itu kapan saja.”


Ivan seketika menoleh ke arah Vera yang lehernya kini sedang terikat oleh beberapa tentakel berwarna merah dari belakang.


“I - Ivan.... Tolong, aku.” ucap Vera ketakutan. Bulu kuduknya berdiri tegak, dan air matanya hampir tumpah ke tanah.


“Sialan, lepaskan dia, Rigel !”


“Kalian semua saja, selalu memberontak dan tidak mengindahkan perkataanku. Yah, alhasil mereka semua, mati di tangan boneka imut ku ini.”


“Apa kamu bilang !?”


“Shocker, Prodder, Knocker, Stunner. Semuanya adalah agen yang sangat pemberani. Begitu memilukan saat mereka semua harus mati di tanganku.”


ivan menggeram sambil mengepalkan tangannya. Ia berusaha untuk tidak memukul Rigel tepat di wajahnya mengingat Vera yang saat ini sedang dalam bahaya.


“Tapi, teman temanmu itu. Sigh, apa yang bisa kubilang ? Mereka semua benar benar menyebalkan. Tidak ada satu pun dari mereka yang layak untuk hidup di dunia ini, ataupun hidup sebagai anggota keluarga ku.”


“Bajingan...”


“Betapa malangnya nasib mu itu, Ivan. Harus kehilangan teman teman sama seperti di masa lalu, dan juga di tempat yang sama.”


Rigel berjalan mendekati Ivan sambil mengeluarkan sebuah pedang besi panjang berwarna putih dari belakang tubuhnya, padahal awalnya tidak ada sarung pedang apa pun yang terlihat di belakang tubuhnya.


“Aku akan dengan sangat senang membunuh teman terakhir mu ini kalau kamu ingin keluar dari tempat ini dengan selamat sekarang juga, tanpa ada gangguan sedikit pun. Bukan kah itu juga yang dilakukan oleh ayah dan juga saudaramu waktu itu untuk membuatmu selamat dari sini ? Aku dengan senang hati ingin merekayasa adegan yang sangat mengharukan itu sekali lagi, dan kamu adalah aktor utamanya.”


“Jangan ..... Jangan bunuh aku.” Vera memohon dengan ketakutan yang luar biasa. Pedang panjang Rigel saat ini terhunus ke leher Vera yang terikat oleh tentakel milik Popo.


“Apa yang lu mau sebenarnya, Rigel !?”


Rigel menoleh ke arah Ivan. Di dalam kepalanya ia berusaha untuk mengingat ingat apa yang ingin dilakukannya barusan.


“Oh iya, aku lupa satu lagi perkataanku waktu itu. Bukankah kamu ingin bertemu dengan anakku ? Dia ada di sini sekarang.”


“Aku sedang mencari adikku, bukan anakmu, bangsat-”


Belum selesai berbicara, Ivan telah jatuh ke tanah setelah kepalanya dipukul dengan tongkat besi panjang dari belakang. Kepalanya sempat hancur di bagian belakang, namun lukanya menutup seketika saat gadis berjubah hitam itu menatap ke arah lukanya.


“Adikmu itu sekarang adalah anakku, Ivan.” gumam Rigel.


Masih berada dalam posisi yang sama, kini Vera bergidik lebih ngeri saat melihat luka yang menganga di kepala belakang Ivan menutup secara perlahan. Ia menatap ke arah gadis berjubah hitam itu dengan melotot tajam. Melihat poni rambutnya yang berwarna putih saja sudah memberitahu Vera siapa gadis ini sebenarnya.


“E - Eva.”


****************


Sebuah setruman kejut membangunkan Ivan seketika dari pingsannya. Dia dengan panik melihat ke sekelilingnya, hanya untuk mendapati mayat mayat temannya dan juga mayat anggota BETA 12 duduk di sebuah kursi meja makan panjang, dengan di hadapan masing masing mayat terdapat sebuah piring dan juga gelas kaca terletak di atas meja. Hanya Vera yang terlihat masih hidup, walaupun saat ini dia sedang duduk lemas karena sedang pingsan. Ruangan di sekitar sangatlah gelap, hanya dilengkapi oleh cahaya dari beberapa lilin yang terletak di tengah tengah meja tersebut.


“Di mana ini !?”


Ivan terkena setruman lagi di bagian kepalanya. Kini ia sadar kalau dirinya sedang dikenakan electric stunner di bagian kepalanya, alat yang digunakan untuk melumpuhkan hewan ternak.


“Apa kamu lupa dengan rumahmu sendiri, Ivan ?”


Suara itu muncul dari balik bayangan, entah darimana asalnya. Suara gadis itu terdengar penuh dengan kekecewaan, dan juga diiringi oleh suara pisau yang sedang di asah.


“Apa itu kamu, Eva !?”


“Arrrgh !!”


Ivan di setrum kembali oleh alat di kepalanya itu. Tubuhnya menjadi semakin lemas tak berdaya hanya untuk sesaat, sebelum akhirnya secara tiba tiba ia mendapatkan ledakan energi dari dalam tubuhnya saat matanya itu melihat ke arah cahaya berwarna hijau terang yang bersembunyi di balik kegelapan di depannya.


“Kamu lupa sama suara adik perempuan mu sendiri ? Benar benar keterlaluan. Tidak dapat diterima.”


“Arrrgh !”


Ivan tersengat listrik kembali. Kali ini tegangannya justru lebih tinggi daripada sebelum sebelumnya.

__ADS_1


“Apa kamu ingat momen momen terakhir itu, Ivan ? Saat aku bersumpah akan membunuhmu dengan suara nyaring ?”


“Aku ingat ! Aku ingat dengan jelas, Eva !!”


“Baguslah kalau begitu, aku akan membuatmu mengingat momen itu dengan lebih detail lagi.”


Ivan kembali di sengat oleh tegangan listrik tinggi yang sangat mematikan. Walaupun begitu, kesadarannya terasa tidak akan hilang asal dirinya terus melihat ke arah cahaya hijau di depannya itu.


“Apa mau mu, Eva !?”


“Cih, kamu bertanya apa mau ku ? Dasar kakak bodoh.”


Untuk terakhir kalinya, Ivan di sengat listrik sekali lagi. Lampu kemudian menyala dengan sangat terang, menyinari seluruh ruangan itu dengan cahaya yang hampir membutakan mata Ivan. Terlihat Eva sedang duduk berhadap hadapan dengan Ivan di kursi paling jauh saat ini. Hanya menggunakan bra berwarna putih sebagai penutup tubuh, Eva duduk sambil menyangga kepalanya dengan tangan kiri, menatap Ivan dengan tatapan sinis. Tubuhnya dipenuhi oleh tato berbentuk naga cina, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah puntung rokok yang sudah setengah terbakar.


“Eva, kamu sudah sangat berbeda sekarang.”


“Tentu saja. Setidaknya aku berubah, ga kayak kamu yang masih sama bodohnya seperti dulu.” sindir Eva. Eva kemudian membuang puntung rokoknya ke lantai dan menginjaknya dengan kaki kanan, kemudian mengambil sebuah pisau yang terletak di sebelah kirinya dan berdiri. Ia terus berjalan santai mengelilingi Ivan sambil memutar mutar pisau di tangan kanannya itu, menatap Ivan dengan wajah merendahkan.


“Kira kira, sudah berapa tahun sejak Leo terbunuh ya ?”


“3 tahun. Dan saat itu aku juga memukul dengan sangat keras, sampai sampai membuatmu muntah darah.”


“Bener banget ! Itu salah satu yang membuatku dendam sama kamu, Ivan !” seru Eva sambil mengagetkan Ivan dari belakang kursinya yang terkesan seperti singgasana. Eva kemudian lanjut mengitari meja itu sambil berjalan dengan santai.


“Waktu itu, kamu dengan bangganya mengakui alasanmu membunuh Leo. Bukankah begitu ?”


“Aku sudah keterlaluan, Eva.”


Tiba tiba, pisau yang tadinya berada di tangan kanan Eva melesat dengan cepat dan menancap di kursi tidak jauh dari mata kanannya.


“Memangnya siapa yang bilang kamu tidak keterlaluan, bangsat !?” ucap Eva dengan geram.


“Hentikan ini, Eva !!”


“Oh, lihatlah, ratu kita sudah bangun ternyata.” ucap Eva saat mengetahui Vera yang sudah tersadar dari pingsannya.


“Aku mau tahu sesuatu dari mu, Eva. Siapa sebenarnya Rigel sialan itu ?”


Eva menghela nafasnya dan duduk kembali di kursinya.


“Singkatnya, dia adalah ayahku yang baru. Dan juga .....”


Seketika Eva berguling di atas meja dan mengambil pisau di meja Stunner menuju ke Ivan, berakhir mengancam Ivan dengan pisaunya di leher Ivan.


“Jangan panggil dia 'sialan', bangsat.”


“Ayah kita hanyalah Javier, Eva !”


“Yah, walaupun pak tua itu sudah mati ?”


“Tentu saja.”


Eva menendang kepala Ivan dengan kaki kirinya, membuatnya menyemburkan ludah ke lantai. Setelah itu, Eva kembali menaruh kakinya di atas meja.


“Pak tua itu hanyalah orang biasa, sementara Rigel, orang negro itu. Dia punya kekuatan yang luar biasa.”


“Sepertinya aku harus meluruskan pikiranmu tentang Javier, Eva.”


“Hmph, coba saja.”


Ivan menatap Eva dengan tajam, dan saat itulah kedua tangannya seketika melesat dan langsung mencekik leher Eva. 'Bagaimana bisa !? Aku sudah mengikat tangan sialannya tadi !, ucap Eva dalam hati.


“Bangsat, gw berhak buat milih apa yang gw mau.”


“Tapi bukan yang salah, Eva !!”


“Sialan !!”


Kulit Eva seketika mengeluarkan 2 garis yang bercahaya hijau. Ia kemudian menendang Ivan dengan keras hingga terjungkal ke belakang bersama dengan kursi yang ia duduki tadi. Eva kemudian memegangi lehernya yang sakit sambil mengambil nafas panjang panjang, sebelum akhirnya berdiri sambil menggebrak meja.


“Ini bukan kamu yang asli, Eva ! Bangunlah dari tidur panjang mu !”


“Heh, gw bener bener normal tahu. Bener bener normal. Cuma ada satu Eva di dunia ini, dan itu aku. Beraninya lu manggil gw 'palsu', bangsat !!” seru Eva sambil menendang Ivan lebih keras lagi. Darah keluar dari dalam mulut Ivan saat tubuhnya menghantam sebuah peti kayu kosong di belakangnya.


“Kamu membuatku melakukan ini, Eva.” gumam Ivan sambil menghapus darah yang ada di tepi mulutnya. Ivan kemudian bangkit berdiri kembali. Ivan menatap Eva yang ada di hadapannya dengan tajam.


“Kamu memilih Rigel sebagai ayah baru mu adalah kesalahan besar, Eva.”


“Tidak, Rigel bukan sebuah kesalahan bagi ku.”


Eva berlari menuju Ivan dengan pisau mentega yang terangkat di tangan kanannya. Eva menyerang Ivan dengan brutal, menebas kesana kemari dengan pisau kecilnya, namun semuanya dapat dihindari dengan mudah oleh Ivan.


“Maafkan aku untuk ini, Eva.” gumam Ivan sambil memukul perut Eva. Eva meringis kesakitan, namun ia kembali menyerang Ivan kembali seakan tidak pernah merasakan apapun. Ivan menangkap tangan Eva, kemudian menendang perutnya dengan kuat hingga membuat Eva menghantam meja makan di belakangnya. Melihat Eva yang berniat menyerang kembali membuat Ivan dengan terpaksa mengumpulkan seluruh kekuatan yang ia miliki di kepalan tangannya.


“Harus berapa kali aku memukulmu, hanya untuk menjadikan mu normal kembali, Eva.” gumam Ivan. Eva kemudian berlari sambil mengangkat pisau kecilnya kembali ke atas sambil berteriak dengan kencang.


“Aku benar benar normal saat ini, bangsat !!”


Tanpa basa basi, Ivan langsung memukul wajah Eva dengan seluruh kekuatan yang terkumpul di tangannya, namun Eva bahkan tidak terjatuh ke lantai sama sekali. Ivan dengan terpaksa harus menjadi lebih kasar terhadap adik perempuannya. Ia berlari dan mengangkat tubuh Eva yang ringan ke atas, kemudian membantingnya ke atas meja. Tangannya mencekik leher Eva sambil berlari menyeret tubuhnya di atas meja makan itu kemudian melemparkan Eva hingga menjatuhkan mayat Stunner yang duduk di kursi kayunya. Bahkan sampai saat itu juga, Eva masih berdiri kembali dan berniat untuk menyerang Ivan sekali lagi.


“Kamu membuatku menjadi seorang penjahat, kak Ivan.”


“Lalu apa ? Bahkan seorang penjahat bisa berubah kembali menjadi orang yang lebih baik.”


“Aku tidak akan berubah. Tidak akan pernah !!”


Eva berlari kencang ke arah Ivan. Namun tepat sebelum ia sempat menyerang Ivan, Ivan telah membanting Eva ke lantai.


“Ini adalah kesempatan terakhir mu, Eva. Sebelum aku menjadi lebih kasar lagi padamu -”


“Sialan !!”


Eva kembali berdiri dan menyerang Ivan. Dengan sangat sangat terpaksa, Ivan harus melakukan hal yang tidak ia inginkan itu. Ivan menangkap tangan kanan Eva yang menyerang, kemudian mendorong tubuhnya dan membenturkan kepala Eva ke tembok kayu. Saat itu juga, Eva pingsan seketika dan terjatuh ke lantai. Cahaya hijau yang menyala terang di sekujur tubuhnya juga padam seketika.


“Sial, aku terlalu berlebihan menghajarnya.”


“Tentu saja.” jawab Vera dari kursinya.


“Setidaknya dia masih bernafas saat ini. Vera, kita keluar dari kota ini sekarang juga !” seru Ivan sambil menoleh ke arah Vera. ia mengambil pisau yang digenggam Eva dan menggunakannya untuk memotong tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya.


Mereka berlari menuju sebuah pintu yang ada di depan mereka kemudian membukanya, hanya untuk menemukan Popo yang sedang berdiri diam di balik pintu itu.


“Popo sialan.” gumam Ivan.


“Hey, makhluk ini punya teman juga ternyata.” sambung Vera saat melihat Popo Popo yang lainnya muncul dari berbagai arah. Kepala para Popo tersebut kemudian meledak dan menampakkan tentakel tentakel yang ada di dalamnya.


“Kita tidak punya waktu buat melawan mereka semua. Vera kita kabur sekarang juga.”


“Tidak usah disuruh pun aku sudah tahu, bangsat.”


Ivan dan Vera berlari melewati kerumunan para Popo itu dengan cepat. Mereka akhirnya sampai di sebuah ruang tamu yang agak luas dengan beberapa lorong mengarah ke ruang tertentu tidak jauh dari ruang tamu utama. Beberapa tulisan yang ditulis menggunakan kapur dapat terlihat di beberapa tembok, dan salah satunya yang menarik perhatian Ivan adalah 'Rigel's Room' yang mengarah ke lorong yang ada di depan mereka saat ini.


“Vera, kamu keluar dari sini lebih dulu. Gw punya urusan pribadi di sini.”


“Hah, urusan pribadi ? Apa apaan itu !?”


“Gw harus ngehajar si brengsek itu sekarang.” ucap Ivan sambil menuju ke lorong 'Rigel's Room' di depannya.


“Heh, kalo gitu, semoga beruntung. Hajar si brengsek itu sampe babak belur ya !!” seru Vera yang berlari ke lorong si sebelah kiri, dengan tulisan kapur 'Exit'.


Ivan berlari dengan kencang menuju satu satunya pintu di lorong ini. Ia kemudian mendobrak pintu dan menemukan Rigel yang sedang berdiri jauh darinya membelakangi Ivan.


“Rigel !!”


Teriakan Ivan berhasil memancing perhatian Rigel dan membuatnya menoleh ke arahnya. Ivan berlari ke arah Rigel dan melayangkan pukulan ke wajahnya, namun serangan itu berhasil di tahan oleh Rigel dengan tangan kirinya. Rigel membalas tatapan tajam Ivan.


“Di mana sopan santun mu, Ivan ?”


“Apa yang lu lakuin sama adik perempuan gw Eva, bangsat !?”


“Dia hanya ingin ayah yang baik, dan aku hanya ingin anak perempuan ku kembali. Kita punya keinginan yang sama, Ivan.”


“Lu bukan bapak yang buat dia, bangsat !!”


Ivan melanjutkan serangannya, namun ia justru terkena serangan balik Rigel. Tendangan belakang Rigel seketika melemparkan Ivan ke atas. Ia jatuh ke lantai dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Rigel berjalan santai mendekati Ivan yang saat ini sedang kesusahan untuk berdiri.


“Sekarang pikirkan, apa kamu pernah sekali saja menjadi kakak yang baik sekali saja untuknya ?”


“Itu bukan urusanmu, bangsat. Javier, ga bakal pernah bisa digantikan sama orang negro brengsek kayak lu, Rigel !”


Ivan kembali menyerang Rigel yang dengan cepat menghilang dari hadapannya.


“Sialan, di mana lu !?”


Ivan menoleh kesana kemari, namun Rigel tidak dapat ditemukan. Sementara itu, Rigel tanpa disadari telah berada di udara tepat di belakang Ivan. Rigel menginjak Ivan dengan kaki kanannya, kemudian melompat ke depan Ivan dan kembali mendekatinya.


“Apa kamu tahu apa yang sudah dialami oleh Eva, adikmu sendiri ? Kamu bahkan tidak pernah berada di sampingnya sejak kota ini hancur, Ivan !!”


Rigel menendang dagu Ivan dan membuatnya terlempar kembali ke udara. Rigel kemudian terus menghajar Ivan dengan menendangnya di udara terus menerus. Ivan jatuh kembali ke lantai dan memuntahkan darah dari mulutnya.


“Aku harus bilang, kalau usaha kerasmu itu sia sia belaka. Manusia sepertimu, tidak akan pernah bisa mengalahkan ku yang setengah dewa ini.”


“Apa kamu bilang ? Setengah dewa ? Lucu sekali.”


Ivan menyerang Rigel sekali lagi, dan serangan itu pun dapat ditahan dengan mudah oleh Rigel menggunakan tangan kanannya.


“Kuakui, kamu punya tekad yang cukup besar. Tapi itu saja tidak akan cukup untuk membuatku jatuh ke tanah, Ivan.”


Rigel mendorong Ivan kemudian membelakanginya.


“Cukup sampai di sini saja. Aku akan membiarkanmu keluar dengan selamat untuk saat ini.”


“Oh ya, menurutku, kamu punya banyak potensi untuk bergabung dengan anggota keluarga ku, Ivan.”


“Persetan dengan keluarga monster mu, Rigel.”


Rigel menghilang dari hadapan Ivan, meninggalkannya sendirian di ruangannya. Ivan mengambil nafas sejenak, kemudian keluar dari dari ruangan itu dan memutuskan untuk menyusul Vera yang pastinya sudah ada di atas Kota bawah tanah ini. Ia pergi menyusuri jalan keluar baru yang ditemukan oleh Vera waktu itu, dan di sana matanya mendapati Vera yang sedang duduk berlutut di tanah.


“Vera, ada apa !?”


Ivan berlari mendekati Vera dari belakang. Matanya mendapati seluruh tubuh Vera dipenuhi oleh dua garis yang bercahaya merah terang, hampir mirip dengan apa yang dialami oleh Eva waktu itu. Vera bergeming ketakutan, tidak dapat menerima fakta bahwa dirinya sama seperti Eva.


“Tidak, tidak mungkin !”


Vera kemudian menoleh ke arah Ivan dan menunjukkan kedua matanya yang dibasahi oleh air mata.


“Ivan, percayalah. Aku bukan monster seperti Eva. Aku bukan seorang monster !”


Walaupun begitu, bukti sudah ada di depan mata. Tubuh Vera saat ini bercahaya merah terang sama seperti Eva. Tidak mungkin bagi Ivan untuk tidak menganggap Vera sebagai monster. Ivan secara perlahan mundur ke belakang, tidak percaya akan apa yang dilihatnya sendiri.


“Kenapa ? Kenapa kamu mundur ke belakang ?”


Ivan tidak menjawab. Dia tidak tahu harus melakukan apa pada teman satu satunya yang tersisa saat ini.


****************


Eva membuka matanya dan mendapati Rigel sedang jongkok di hadapannya. Tatapan Rigel dipenuhi oleh rasa kecewa yang berat saat mengetahui tubuh Eva sudah tidak bercahaya lagi. Di tambah Eva yang saat terlihat sedang kebingungan, seolah kehilangan ingatannya.


“Uh, siapa kamu ? Dan ini dimana ?”


“Aku sudah tahu kalau kekuatanmu itu hanya akan bertahan sementara sejak dulu.”


“Apa yang kamu katakan ? Terus, siapa yang membunuh orang orang ini ?” tanya Eva sambil menoleh ke arah mayat orang orang yang duduk di kursi meja makan di sebelah kanannya.


“Apa kamu lupa ? Dengan tanganmu sendiri kamu membunuh orang orang ini. Kita sedang menyambut kedatangan kakakmu kembali ke kota bawah tanah waktu itu.”


“Ini di kota bawah tanah ?” tanya Eva kebingungan.


“Tentu saja. Kamu sudah tinggal lama di sini bersama dengan keluarga besar ku. Kamu menamai mereka dengan sebutan Popo. Bukankah begitu ?”


Melihat Eva yang tidak mengerti sepatah kata pun dari ucapannya membuat Rigel menjadi lebih kecewa lagi. Ia memutuskan untuk memberi Eva pilihan terakhir dari dirinya.


“Jadi, apa kamu masih ingin menjadi anak perempuanku ?”


“Hah, apa apaan itu bangsat !? Memangnya siapa kamu, berhak untuk menggantikan Javier sebagai ayahku !? Pergi dari sini, bangsat !!”


Rigel berdiri dan dipenuhi oleh kesedihan mendalam. Walaupun begitu, ini sudah menjadi akhir dari hubungannya bersama dengan Eva. Perannya sebagai ayah yang baru telah dilupakan oleh Eva.


“Jadi begitu. Sayang sekali, tapi kamu memilih jalan yang salah, Eva.”

__ADS_1


Di saat itulah, Eva telah menyadari sesuatu. Selama ini, secara tidak sadar ia telah terjerumus ke dalam kegelapan dan berpihak pada orang yang salah. Ia sadar bahwa dirinya tidak akan bisa keluar dari dalam sana dengan mudah. Tidak akan pernah.


__ADS_2