
“Evaaaaa !!”
“Diam lah, sialan !!”
Aku akhirnya menemukan meja kayu lain sebagai tempatku untuk bersandar dan beristirahat sebentar. Gila, ada banyak 'aku' di luar ruangan si Archon ****** itu, dan mereka semua tanpa henti terus-terusan mengejarku !! Dari samping kanan dan kiri, dua 'aku' yang lainnya muncul dari balik tembok, meneriakkan namaku dengan suara aneh mereka yang panjang sebelum kemudian jatuh mencium tanah lagi seperti 'aku' yang lainnya yang aku temui selama berlarian keluar dari tempat ini.
“Ouch !! Luka di perutku.........”
Sungguh pemandangan yang hebat untuk melihat lubang berukuran sedang di perut sendiri yang dipenuhi oleh darah merah punya sendiri juga. Tidak, itu justru sangat mengerikan, bodoh. Melihat keadaan tubuh 'aku' yang lain saat ini, membuatku benar-benar teringat dengan yang namanya kematian. Tidak mungkin aku akan jadi salah satu dari mereka, bukan ?
“Cih, sialan....... Aku masih mau makan burger, tahu !!”
Setelah beristirahat dengan bersandar di meja kayu hanya beberapa detik saja, aku langsung melanjutkan perjalananku kembali dengan berlari secepat yang aku bisa. Tetap saja, itu tidak bisa dibilang sebagai cepat menurutku. Sambil berlari, aku memegangi perutku yang tidak pernah berhenti untuk mengeluarkan darah dari dalamnya.
Sialan, aku butuh perban saat ini....... Sekarang juga !!
“Eva !!”
“Bajingan !!”
Aku mundur seketika, saat wajah seseorang yang mirip seperti wajahku muncul entah dari mana memanggil namaku. Yang barusan itu...... Agak berbeda. Di saat 'aku' yang lainnya memanggil namaku dengan suara yang terkesan putus asa, wajah sialan itu memanggilku dengan penuh semangat. 'Black hole' di perutku ini, benar-benar membuat pikiranku menjadi kacau sepertinya.
“Ugh...... Sialan.......”
Persetan dengan yang namanya kunci, aku akan lebih mengutamakan untuk mencari apapun itu yang bisa aku pakai untuk menghentikan pendarahan ini. Lagi-lagi, penglihatan ku mulai kabur, menandakan bahwa aku seharusnya sudah pingsan sejak tadi. Itu hanyalah masalah waktu, sebelum aku benar-benar pingsan di komplek penjara bawah tanah ini.
“Evaaaaa !!!”
“Diem lu, bajingan !!”
Tanpa sadar, aku langsung berbalik ke belakang dan menginjak kepala 'aku' yang lainnya yang merangkak di bawahku. Aku hanya salah pencet waktu itu, tidak disengaja.
“Uhhh....... Aku tidak perlu tanya 'kamu baik-baik aja', kan ??”
Kepalanya benar-benar hancur, sehancur-hancurnya sampai tinggal gumpalan berwarna kemerahan yang tersisa. Bahkan setelah melihat itu, entah apakah para 'aku-aku' yang lain ini bisa melihat atau tidak, mereka tetap saja masih merangkak mendekat ke arahku. Oh ya, kaki kananku yang aku pakai untuk menginjak kepalanya 'aku' yang malang itu juga harus merasakan adanya semacam gumpalan yang terselip ke dalam sepatuku. Untuk sementara, aku tidak akan mengambilnya walaupun rasanya sangat menggelikan. Untuk sementara waktu saja.......
“Oi, kalian para bajingan........ Aku pergi dulu, ciao !!”
Memang terlihat seperti orang bodoh untuk melambaikan tanganku kepada mereka, tapi mereka itu adalah aku sendiri sebenarnya. Dengan langkah yang terseok-seok, aku segera berlari meninggalkan mereka. Beberapa saat kemudian, aku melintasi sebuah obor yang diletakkan di permukaan tembok berbatu, bersama dengan sahabat obor-obor yang lainnya yang terletak di setiap beberapa meter di depan. Tanpa berpikir panjang lebih lama lagi, aku langsung mengambil obor tersebut dari tempatnya. Lumayan untuk jaga-jaga kalau ada tempat gelap aneh yang lainnya di depan nanti, juga bisa aku pakai buat ngeringin luka kalau seandainya saja nih, ada sebagian tanganku yang dipotong. Gak ke bayang rasanya bakal kayak apa.
Terpotong........ Dagingku terpotong !!
Dan rasanya sangat menyenangkan !!!
“Itu siapa, woi !!?”
Aku menerangi ke sekitar lorong ini. Gak ada satu 'Eva' pun yang terlihat. Memangnya itu suara siapa, anjink ? Ngeri banget. Setelah mencari ke sudut-sudut ruangan, tetap saja aku tidak menemukan keberadaan orang gila yang mengatakan itu dengan keras. Orang gila telah menghilang dari lane saat ini. Aku pun kemudian melanjutkan untuk berlari secepat yang aku bisa lagi, hanya untuk bertemu dengan sebuah pintu besi berwarna hitam di samping kananku yang tiba-tiba saja terbuka dengan sendirinya. Aku yang kaget pun dengan cepat mengambil langkah ke belakang beberapa kali, kemudian menerangi ruangan tersembunyi itu dengan obor baru yang ada di tanganku.
“Ada-ada aja makhluk sialan di sini.........”
Setelah beberapa saat tidak ada hal aneh lainnya yang mengganggu obor ku, aku kemudian mulai mengintip ke dalam ruangan itu secara perlahan. Bagian dalamnya nampak seperti toilet-toilet jaman medieval menurutku, aku ingat pelajaran sejarah waktu kuliah dulu. Aku mulai masuk ke dalam, dan dengan mataku sendiri akhirnya aku melihat tempat-tempat dimana manusia biasanya membuang beberapa benda berwarna coklat ke dalamnya. Tiba-tiba saja, sebuah tangan muncul dari arah kiriku, membanting ku ke lantai begitu saja seperti titisan dari John Cena. Aku dengan cepat langsung mengancamnya dengan nyala api obor ku, dan lihatlah, si brengsek tersebut ternyata adalah 'aku' yang lain juga, tapi dengan wajah yang masih terlihat normal seperti manusia pada umumnya.
“Luka parah, harus diobati segera.”
“Dan lu baru aja buat itu lebih parah lagi, bodoh-, Arrrgh !!!”
“.........”
“Diam di sini, aku mencari bantuan.”
“FYI aja, tapi aku lebih mending ikut kamu daripada tinggal di sini sendirian, sial- Arrrgh !!!”
'Aku' tersebut kemudian berhenti berjalan dan berbalik ke arahku. Saat aku melihatnya kembali, dia sedang berusaha menenangkan ku dengan menunjukkan cara mengambil nafas dalam-dalam. Itu adalah pelajaran yang agaknya tidak berguna menurutku, tapi tetap saja aku mengikuti ajarannya. Bodohnya aku.
“Yeah, makasih buat tatapan peduli mu itu........ Cepetan pergi sana !!”
Layaknya seekor anjing yang setia, dia dengan cepat segera berjalan ke sisi kanan toilet ini dan menghilang dalam tumpukan barang-barang juga tembok kayu pembatas di depan sana. Luar biasa, sekarang aku hanya sendirian di dalam toilet ini.
Darah yang layak bagi Dewa !! Darah yang layak bagi Dewa !!
Tiba-tiba suara itu terdengar dari dalam toilet medieval ini. Ini benar-benar bukan bercanda, bagaimana bisa orang-orang itu ada di dalam sini secara tiba-tiba ??
Darah yang layak bagi-
Aku ingat siapa aku !! Aku adalah kelinci !! Bukan, aku adalah anjing !!
Diam !!
Aku melihat langit biru !! Aku ingin melompat di atas tanah berumput hijau, dan jatuh ke dalam jurang yang dalam penuh keputusasaan !!
Maka jatuhlah !! Aku hanya butuh d-d-d-darah !!!
Tiba-tiba aku mendapati sebuah wajah-, tidak, sebuah kepala, yang maju ke depan di samping kiriku ingin melahap sesuatu. Untung saja aku segera memiringkan kepala waktu itu. Secara perlahan aku melirik ke arah makhluk menjijikkan yang ada di sampingku itu. Tenang saja, dia kemungkinan bahkan tidak tahu apakah ada kepala seseorang di depannya waktu itu. Dari kepala sampai leher, yang terlihat adalah makhluk kekejian ini menggunakan kulit orang lain yang dijahit sampai menyerupai sebuah jubah untuk menutupi bagian kepala sampai lehernya itu. Postur badannya bungkuk parah, dan kepala besar seperti batu raksasanya itu kelihatannya akan selalu condong ke depan. Aku sudah tidak perlu lagi menjelaskan seberapa besar otot-otot di tubuhnya itu. Sudah pasti sangat cukup untuk menginjak seseorang hingga hanya cairan tubuhnya aja yang tersisa. Setidaknya, makhluk seperti dia masih tahu kalau bajingan kayak dia harus pakai sebuah penutup badan saat berjalan-jalan dan berpetualang.
“Dan aku sempet ngira kalau kalian adalah 'orang banyak'........” gumamku dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak bisa di dengar sama sekali rasanya.
Bisakah kita keluar dari tempat ini ? Aku mau keluar melihat-
Diam, bajingan menjijikkan !! Darah, adalah segalanya !!
__ADS_1
Makhluk ini seolah merupakan campuran dari banyak orang yang bergabung menjadi satu, dengan cara yang paling buruk. Makhluk itu, atau bisa juga dibilang orang-orang terkutuk itu, kemudian mulai berjalan mundur ke belakang. Sepertinya karena 'mereka' kira tidak ada apa-apa di sini. Di saat itulah, 'aku' yang tadi itu kembali, membawa sesuatu yang sangat berguna sampai-sampai aku mau menggampar isi kepalanya yang kosong itu. Aku memarahinya dengan bahasa isyarat, tapi dia masih saja tetap mengarahkan sebuah batu bulat berukuran sedang di genggaman tangannya itu tanpa memperhatikanku sama sekali. Apa itu yang dia maksud sebagai 'bantuan' ? Sebuah batu sialan !?
“Hei, tangkap ini !!”
“Nangkep apa, sialan !!?” tanyaku masih dengan bahasa isyarat.
Ternyata, dia tidak sedang mengajakku berbicara, tapi makhluk kekejian itulah yang dia ajak bicara. Aku sampai dibuat bersyukur masih punya otak yang gak semiring kayak punya nya.
Batu itu pun terlempar, kemudian mengenai tangan kanan besar punya makhluk tersebut. Terima kasih berkatnya, makhluk itu sekarang menghadap langsung ke arahnya.
“Dasar.......”
Kelinci !! Ada kelinci di sana !!
Kelinci !!!
'Aku' yang lain yang bodoh itupun mulai ketakutan, saat makhluk tersebut seketika berlari cepat menuju ke arahnya sambil lompat-lompat seperti kelinci. Jadi, siapa kelincinya di sini ?
“Dasar BODOH !!”
Tangan makhluk itupun menekan wajahnya langsung ke tembok, benar-benar menyisakan hanya cipratan darah dan badan bagian bawahnya saja di sana. Tunggu, apa aku tadi baru meneriaki kebodohannya ? Dengan suaraku sendiri ?
Ada dua kelinci di sini........
Dua kelinci !!
Ya, dua kelinci........ Hari ini kita memanen daging kelinci !!!
Daging kelinci !!
“Oh ****.......”
Makhluk itu kini berbalik ke arahku, kemudian mengeluarkan raungannya yang benar-benar memekakkan telinga sebelum akhirnya berlari sambil melompat menuju ke arahku. Dengan panik, aku mencoba untuk berdiri secepat mungkin dan segera menghindari larinya yang kayak kelinci itu, tapi itu masih sebuah rencana saja. Dan...... begitulah, semuanya sudah terlambat sebelum aku sempat mengubah seluruh rencana itu menjadi kenyataan.
“Arrrggh !! Aww...... Sialan, lukanya....... !!”
Seperti yang sudah bisa ditebak, aku dilemparkan oleh makhluk itu sangat jauh sampai-sampai kepalaku menghantam sebuah platform kayu panjang yang seharusnya adalah tempat dimana orang-orang medieval yang pengen berak duduk di atasnya. Saat aku lihat lagi luka di perutku, itu sudah makin besar aja, belum lagi ditambah oleh makhluk sialan itu yang masih saja melanjutkan serangannya, berlari lagi ke arahku. Kini, aku sudah tidak bisa menghindar lagi, juga tidak punya harapan untuk tetap hidup yang lainnya. Sebuah suara ledakan yang keras pun terdengar di telingaku, dan harusnya, itu adalah aku sendiri. Entahlah, mungkin alam masih pengen aku hidup lebih lama lagi di dunia sialan ini bersama dengan makhluk sialan yang lainnya.
“........ What the......... ??”
Fakta bahwa aku masih baik-baik aja sekarang ini, sangatlah mengejutkanku. Saat aku menoleh ke arah kananku, di sanalah mataku akhirnya melihat arti dari kebodohan yang sesungguhnya. Makhluk itu justru justru menghancurkan toilet yang berjarak beberapa jengkal dariku. Kasian banget toiletnya. Seolah baru aja mukul sesuatu yang imajinatif, makhluk itu kini berputar di tempatnya kebingungan, sambil menggaruk-garuk kepala mirip bakso beranak nya itu dengan jari telunjuknya. Apa yang sebenarnya sedang aku lihat saat ini ?
Di mana kelinci itu ? Aku tidak memanen apa-apa.
Mungkin ada di balik sawah yang lebat ? Di jurang yang dalam ? Di atas langit biru ?
Kelinci tidak terbang, bodoh !! Ugh !!
“Kenapa lu ada di sini, sialan !?” tanyaku kepada 'nya' sambil bergumam dan juga sangat kesal.
Kelinci ??
Aku menoleh ke belakang, dan seperti yang sudah aku tebak, makhluk bajingan kini mengetahui keberadaan ku lagi.
DARAH !!!
“You little ****...... !!”
Singkatnya, aku main kejar-kejaran bersama dengan monster bajingan itu. Tangannya terus mengayun ke kanan dan ke kiri, menghancurkan seluruh toilet viking yang ada di kedua sisinya. Setelah hampir ditangkap berkali-kali olehnya, aku akhirnya sampai di ujung ruangan toilet itu, berbelok ke arah kanan karena hanya itu saja satu-satunya jalan yang ada, dan berhasil membuat makhluk bodoh itu menghajar kepalanya sendiri (lagi) dengan menabrak tembok di ujung ruangan. Mengikuti lorong sempit sekaligus gelap itu, aku akhirnya tiba di depan sebuah pintu besi berwarna hitam, dan sialnya, pintu itu tidak bisa terbuka.
“Plis, kebuka plis !!!”
Darah yang layak bagi Dewa !! Darah yang layak bagi Dewa !!
Makhluk itu akhirnya datang menyusul ku. Walaupun aku sudah tahu kalau pintu ini tidak bisa dibuka, tapi aku tetap saja berusaha untuk mendorongnya dengan seluruh badanku. Aku katakan ini, sekujur tubuhku seketika mati rasa karena melakukannya. Paling tidak, usahaku tidak sia-sia. Setelah menghantamkan tubuh bagian kiriku sendiri ke pintu besi tersebut, itu akhirnya terbuka juga. Cuma macet aja ternyata.
“Sial, lu akhirnya kebuka juga !!”
Darah ! Darah, darah, darah, darah !!
Tanpa menoleh ke belakang sedikitpun, aku segera bergegas untuk keluar dari dalam ruangan itu, dan kini aku berakhir di sebuah area semacam lorong tempat pertambangan bawah tanah. Aku belok ke arah kiri, dan di saat itulah, 'mereka' si sialan itu ikut keluar juga dan kemudian mengawali detik baru di area pertambangan ini dengan sebuah tubrukan dahsyat ke tembok, membuat lampu-lampu yang menerangi di lorong ini menjadi mati beberapa detik kemudian. Setelah merasakan sakit di kepala beberapa saat, mereka akhirnya menemukan sebuah ide cemerlang sepertinya.
Kita bisa menjebaknya ?
Kita bisa menjebaknya.
“Oi, anjing yang baik, jangan lakuin itu, plis.......”
Lakukan itu.
Lakukan itu !!
Makhluk itupun akhirnya melakukannya, menabrak tembok yang sama sekali lagi hingga seluruh lampu di lorong ini padam sepenuhnya. Aku sempat berbicara dengan mereka........ Bodoh sekali sosok Eva Rosenthal ini.
“Bajingan kalian semua........ Arrrgh !!”
Yap, aku dilempar lagi oleh 'mereka' untuk yang kedua kalinya. Badanku menghantam tanah, dan luka di perut ini semakin parah sepertinya. Dalam kegelapan lorong ini, aku tidak bisa melihat apa-apa, itu sudah pasti. Aku menyeret tubuhku untuk melanjutkan pelarianku dari sini, tapi itu semua sudah terlambat. Makhluk sialan itu entah sejak kapan sudah ada di dekatku, mengangkat tangan dan tubuhku hingga aku akhirnya bisa melayang di atas tanah. Mulut lebarnya terbuka, siap untuk menelanku kapan saja.
“Lain kali, sikat gigi dulu kalo mau makan orang, anak ****** !!!”
__ADS_1
Orang-orang mengatakan kalau adrenalin bakal mengalir di dalam tubuh kalau seseorang sedang dekat dengan kematiannya, dan itulah yang sepertinya terjadi padaku saat ini. Dengan di dorong oleh respon pertahanan diri 'fight or flight', atau semacamnya, aku tanpa sengaja menendang wajah jelek makhluk itu sangat keras, sampai-sampai dia melepaskan ku begitu saja dari genggamannya. Itu sangat membantu, membuatku lari menjauh darinya beberapa langkah sebelum makhluk itu mengejarku kembali.
Jangan lari, kelinci kecil !!
Kurang ajar, layak untuk dihukum !!
Potong tangannya !! Hancurkan semuanya !! Hancurkan semuanya !!
“Coba itu kalo kalian sudah punya mata yang baru, bodoh !!”
Setelah lari bersama 'teman' bermain baru ku itu selama beberapa saat, aku kemudian melihat secara samar-samar sebuah balok kayu yang bersandar di tembok sebelah kananku. Sebuah bantuan dari dewa yang lainnya, sepertinya. Dengan cepat, aku langsung menjatuhkan balok kayu itu saat sudah berada di dekatnya, sambil sedikit menyingkir ke arah kiri. Itu adalah garis finish, dan mereka melewatinya begitu saja.
Di mana kelinci itu !?
Entahlah, kita ikuti pencerahan dari Dewa saja !!
Pencerahan dari Dewa !!
“Ucapkan selamat buat teman bodoh kita yang satu ini, guys.” gumamku pada diri sendiri, kemudian mengamati balok kayu penyelamat ku yang sudah terpotong jadi dua itu sebentar.
Terukir di atas permukaannya adalah sesuatu yang sangat........ Luar biasa menghibur.
Pakai ini untuk menghajar 'burung' seseorang.
Sangat efektif, sudah tiga kali dicoba secara langsung !!
“Oh, yang bener aja......”
Seseorang, siapapun itu, sudah memakai balok kayu ini tiga kali untuk menghajar burung seseorang yang lainnya. Selegendaris itukah balok kayu ini ?
Selesai dengan membaca humor dibawakan oleh sosok misterius pengguna balok kayu legendaris ini sebelum-sebelumnya, aku kemudian membuangnya ke atas tanah di dekatku, setelah itu menoleh ke kanan hanya untuk sedikit dikejutkan dengan penampakan seorang wanita berjaket hitam yang menyodorkan sebuah kunci, banyak kunci maksudku, kepadaku. Dilihat-lihat lagi, dia ternyata hanya 'aku' lainnya yang normal, tidak berbahaya.
“Bantuan. Keluar dari sini, sekarang.” ucapnya, sambil menyodorkan kembali puluhan kunci itu kepadaku. Itu benar-benar sebuah kunci yang...... Sangat banyak untuk seseorang.
“Oh, buat pintu yang ada di lantai atas sana ? Uhh, pastinya....... Makasih....... Banyak.”
Tidak yakin apa dia benar-benar rela untuk memberikan kunci pintu sebanyak ini kepadaku begitu saja. Bukankah itu berarti dia bisa saja terkunci di sebuah ruangan, apapun itu, karena memberikan sebanyak ini padaku.
Dengan ragu-ragu, aku meraih kunci itu sebentar, namun menarik tanganku kembali, menatapnya dengan penuh ketidakyakinan. Sebuah momen keheningan berlangsung sesaat di antara kami, sebelum akhirnya dia benar-benar memaksaku untuk mengambil puluhan kunci itu, menaruhnya di dadaku sambil mendorongku sedikit ke belakang. Aku akan anggap itu sebagai sebuah paksaan, sepertinya ?
“Oi, kamu mau kemana habis ini ? Satu kunci mungkin bakal membantu, kan ?” tanyaku kepadanya yang sudah mau berjalan meninggalkanku, sambil menunjukkan salah satu kunci secara random dari gantungan kunci lingkaran itu.
“Jangan ikut, banyak bahaya di penjara.”
“Penjara ? (Sigh) Terserahlah, makasih udah diingetin. Penjara sialan apapun itu gak bakal ku deketin lagi mulai sekarang.......”
Aku sempat mengambil jalan berpisah dengan varian multiverse ku itu, sebelum akhirnya teringat kembali kalau aku masih belum berterima kasih soal kuncinya, dengan kepercayaan penuh maksudnya. Aku pun menoleh ke belakang lagi, dan seperti orang bodoh, mengatakan hal yang sama untuk yang ketiga kalinya.
“Oi, makasih buat kuncinya sekali........ Lagi.......”
Varian ku yang lain itu sudah menghilang dari tempat awalnya. Entah sejak kapan, atau bagaimana bisa secepat itu.
“Waw, kalian bener-bener berubah jadi Flash waktu di sekitaran gelap, huh ? GG.”
“Bejibun banget sumpah kuncinya.”
...****************...
“Tangga sialan, area bawah tanah sialan, fanatik sialan, varian multiverse sialan juga. Semuanya bener-bener sialan di bawah sana, huh ?” keluhku.
Akhirnya, setelah sekian lama, setelah apa yang rasanya seperti siksaan abadi di neraka untuk menaiki kembali 26 anak tangga itu, aku akhirnya sampai di pintu sialan penyebab dari semua teror brengsek selama ini. Dengan cepat, aku langsung memasukkan kunci random ke dalam lubang di pintu besi itu, memutarnya beberapa kali, dan akhirnya menemukan kalau kunci sialan itu adalah kunci yang salah.
“Uhuh ? Kalian bener-bener suka nyiksa orang lemah, huh ? Baik banget, sialan.”
Sebuah fenomena coba-mencoba pun akhirnya terjadi secara dramatis di depan pintu itu, dan setelah waktu yang tidak dapat ditentukan, akhirnya pintu besi sialan ini terbuka juga, hanya untuk memberitahuku sialan yang lainnya yang ada di baliknya. Itu adalah, sebuah tangga yang lainnya lagi, mengarah menuju cahaya ilahi yang ada di atasnya.
“(Sigh) Bilang aja kalo kalian suka yang namanya tangga kematian.......”
Karena tidak ada jalan yang lainnya di sekitar sini, dengan terpaksa aku harus melewati tangga sialan tersebut dengan luka di perut yang bahkan belum aku tangani. Waktu dan orang-orang brengsek di lingkungan sekitar benar-benar bisa membuat seseorang jadi amnesia, huh ?
Tangga itupun akhirnya terlewati, dan setelah membuka sebuah pintu keramik yang ada di depannya, pemandangan istana itu akhirnya kembali terlihat oleh dua mataku, dan orang brengsek yang ku kenal pun juga ada di ruangan yang sama pula. Dari apa yang kelihatan, ruangan yang baru ini adalah ruang makan, dan di tengahnya adalah sebuah meja kayu panjang.
“Oi, kamu gapapa di sana ?”
“(Sigh) Kamu gapapa juga ? Soalnya aku liat ada satu orang buta di depanku saat ini- Arrrgh !!”
Rasa sakit di perutku kembali, membuatku jatuh berlutut seketika ke atas lantai, juga membuat Hanz segera bergegas menghampiriku dengan panik.
“Kamu gak tau yang namanya basa-basi, huh ?”
“Ke orang yang hampir mati !!? Bangsat juga lu...... !!”
Hanz menepuk pundak kiriku, kemudian duduk bersamaku di atas lantai sambil menghela nafasnya lega, entah mau ngapain dia. Kenapa aku keliatan kayak mau pacaran sama si bangsat ini sekarang ?
“Santai aja dulu, kita aman di sini.”
“Maksud mu buat sekarang aja, kan ?”
Tidak ada tempat aman di SCR, kata si pewawancara di awal aku sampai di tempat ini.
__ADS_1
Dan sekarang, aku mulai sadar kalau yang orang itu katakan kayaknya memang benar. Tidak terkecuali di istana sialan ini.