Anomaly

Anomaly
SCR 204 : Mrs. Wood


__ADS_3

Malam itu adalah malam yang indah, dengan bintang-bintang berhamburan di atas sana. Hembusan angin dingin tidak membekukan orang-orang, melainkan justru menaruh senyum di beberapa wajah mereka. Di sanalah Ava, bersama dengan keempat temannya, baru saja merayakan pesta ulang tahun kecil-kecilan Ava yang akhirnya mencapai umur 20 tahun. Telpon Ava berdering, dan ia langsung mengangkatnya dengan wajah gembira.


“Mamah, ada apa ?”


“Cepetan pulang ! Jangan keasikan nongkrong di Starbucks aja, bocah ! Kita rayain ulang tahunmu di rumah juga.”


“Ngokeeyy !!”


Ava menutup teleponnya, dan kemudian mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal pada teman-temannya itu. Semuanya baik-baik saja, tidak sebelum ia akhirnya sampai di rumahnya yang kini terkesan seperti rumah horor.


Jendela yang penuh dengan darah, dan topeng kayu yang menunggu di depan pintunya.


Itulah...... Ingatan terakhir Ava tentang rumahnya, dan ibunya.


...****************...


“P, Ava ! Ava !!”


Akhirnya, setelah sekian lama aku memanggil namanya, orang ini bangun juga dari entah apa yang ada di pikirannya. Mimpi ? Dia masih bangun, berdiri, dan bahkan berjalan bersamaku selama ini. Halusinasi ? Nah, kalau itu mungkin saja. Sumpah, susah kali membuatnya kembali dari sesuatu seperti isekai.


“Oi ! Apa yang kamu pikirkan !? Ini jalan yang benar, tidak !?”


“Uh.... Oh....”


“Apa ?”


Ava masih kebingungan. Biarkan saja, setidaknya dia tidak berputar balik selama ia daydreaming atau apalah itu. Aku yang mengawasinya.


“Kita..... Semakin dekat, kok ! Tenang aja !!”


Bagaimanapun, Ava masih terlihat agak aneh. Lupakan saja, dia pasti sangat trauma karena teringat masa lalunya yang kelam lagi. Selama perjalanan, ia hanya fokus pada peta digital di tabletnya, yang ia curi. Aku tidak akan mengajaknya bicara lebih dulu, karena aku juga tahu bagaimana rasanya teringat kembali dengan masa lalu.


“4 lorong lagi. Kita semakin dekat.” gumam Ava.


Dia sedang tidak berbicara padaku ataupun tentangku, dia hanya bicara pada dirinya sendiri.


Javier, kita makan apa hari ini ?


Kenapa !? Kenapa itu tiba-tiba muncul kembali !? Aku sudah menguburnya dalam-dalam, bangsat !!


“Eva, ada apa ?”


Sebaiknya aku tidak membahas tentang itu lagi.


“Masa lalu, seperti biasa.”


Aku mengambil nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Sialan, selalu saja muncul di saat yang sangat tepat.


Ava hanya 'owh' saja, setelah itu memalingkan pandangannya dan lanjut berjalan kembali. Pikirannya, terlihat seperti kosong sekali. Mungkin saja kalau aku juga ikut mengosongkan pikiran, memori sialan itu juga tidak akan kembali.


...****************...


Rigel, kamu suka diem aja, huh ?


Kau tahu, Eva ? Ingatan masa lalu adalah yang paling buruk. Itu..... Sama seperti sebuah senjata.


Hmph, senjata !? Tidak mungkin bisa membunuh, kan ?


Bukan membunuh, Eva. Tapi menyiksa.


Pikiran Eva kosong, sama seperti Ava. Melewati lorong-lorong gelap beberapa kali, sebelum akhirnya tujuan mereka sudah dapat terlihat. Sebuah pintu otomatis berwarna putih abu-abu, terkunci dengan rapat seperti sebuah larangan bagi siapa saja untuk membukanya. Tepat di depan pintu itu, sebuah larangan tertulis dengan tulisan caps lock dan juga di tebali dengan sangat mencolok.


SCR 204 : MRS. WOOD, KETER.


REALITY BENDING


Huh ? Bukankah itu terdengar seperti sangat berbahaya ?


“Hei, Ava ! Kamu yakin ini yang membunuh ibumu ? Lihat tulisannya aja sudah bikin aku takut, tahu !!”


“Tenanglah, ga ikut juga gapapa.”


Penuh dengan tekad, huh ? Tidak mungkin aku meninggalkannya sendirian.


“Paling gak, aku sudah nonton Scream berkali-kali.”


"Itu film murahan.”


“Bangsat, kamu bilang apa !?”


Ava berjalan meninggalkan Eva, tidak mendengarkannya sama sekali. Itu saja sudah sangat cukup untuk membuat Eva memanyunkan bibirnya, kemudian menyusul Ava sambil mengeluh kesal.


Oh sial, ini benar-benar mengerikan. Seperti apa makhluknya ? Bisa apa dia ? Dan, sukanya apa ? Entahlah, nanti pun semuanya bakal terjawab. Ava mengambil sebuah kartu hitam dari kantong celananya, terlihat bukan seperti kartu bank atau yang lainnya. Aku dan Ava menunggu dalam diam di depan pintu itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya itu terbuka, namun hanya setengah saja.


“Nah, sialan, kan ? Pastinya bukan aku dulu yang masuk.” ucapku sambil sedikit menilik masuk ke dalam. Mengejutkan, seperti hanya ada bayangan hitam saja, tidak ada yang lainnya. Ava kemudian menyimpan tablet itu di belakang celananya, kemudian masuk meninggalkan ku sendirian di sini tanpa kata-kata. Orang ini bisa menyebalkan juga kalau lagi serius, cih !


“Ava, kamu liat apa aja tuh di sana !?”


Hening, tidak ada jawaban sama sekali. Baiklah, hanya perlu menunggu sedikit lebih lama, kan ? Bukan masalah sih menurutku.


Tunggu...... Dipikir-pikir lagi, kenapa senternya Ava gak keliatan sama sekali di ruangan ini ? Tidak mungkin ruangan ini menyerap cahaya, kan ? Ya kan, ya kan ?


“Ava, jawab aku dong !!”


Luar biasa, rasanya seperti aku tinggal di dalem gua saat ini, sendirian saja. Apa yang terjadi pada Ava ? Perasaan aku masih bisa melihat badannya sekilas beberapa detik setelah dia masuk ke ruangan ini. Tapi kenapa sekarang, aku gak bisa lihat apa-apa ? Jangan bilang aku juga harus nyusul dia.


“(Sigh) Lindungi aku, Chang' e.” gumamku, sambil berusaha melewati celah pintu otomatis brengsek yang hanya setengah terbuka ini. Setelah bergumul beberapa lama dengan yang namanya 'kesesakan' sialan, aku akhirnya masuk di di ruangan ini. Ingat ini, pintu otomatis bajingan, aku akan selalu mengutuk mu, selamanya !!


Putri ku sepertinya sudah besar.


Huh ? Bukannya dia mati umur 5 tahun ?


Jangan banyak ngehalu, Rigel. Lagian, aku ini memangnya apa mu sekarang ?


Aku tidak mau ingat tentang si Negro itu lagi ! Aku tidak mau !!

__ADS_1


Kenapa ini harus terjadi !? Rigel sialan ! Aku bakal- tunggu..... Ini dimana ?


Menoleh ke kanan dan kiri pun tidak akan pernah mengubah apa yang sedang kulihat saat ini. Brendy's food, Pafilo Kaj Soduloj, Gumo-Gumo Barbo, aku pernah melihat semua nama toko itu. Bukan di atas sini, tapi....... Di kota bawah tanah.


...****************...


Oi, Rigel ! Anak perempuan mu namanya siapa ?


Asteri.


Wawww, itu boleh juga...... Dia sukanya apa ?


Topeng kayu, pemberianku.


Kota bawah tanah, mimpi buruk ku. Akan selamanya begitu. Dan di sinilah aku sedang berjalan, melewati berbagai toko dan bangunan yang masih sama persis seperti dulu. Nostalgia ? Bah, aku mulai benci dengan yang namanya nostalgia karena saat ini !


Jauh di depanku, di sisi kanan, itu adalah rumahku bersama dengan Javier dan yang lainnya waktu itu. Hanya satu nama lagi yang terlintas di ingatanku, Leonora. (Sigh) Aku, sepertinya akan mengambil sedikit kunjungan kembali ke rumah pertamaku.


Setelah berjalan beberapa langkah ke depan, akhirnya aku sampai di depan pintu kayu yang sudah bobrok, penuh dengan lubang besar dan bercak darah. Ah, saat itu. Saat aku dan Ivan berlari meninggalkan para warga sendirian bersama dengan makhluk-makhluk brengsek itu. Aku tidak tahu jelasnya. Jadi, rumahku juga ikut dihancurkan, huh ? Apakah ini termasuk dosa ? Karena secara tidak langsung, aku membiarkan banyak korban melayang, hampir seperti membunuh mereka semua.


Pintu kayu terbuka sepenuhnya, dan kini, yang ada di depanku adalah ruang tamu dengan lantai kayunya yang sudah berlubang tiga. Hanya untuk memastikan saja, apakah kursi santai tempat duduk Javier yang biasanya masih ada di tempatnya selama ini, tepat di kiri pintu masuk. Ah, ternyata itu juga masih ada. Bukankah aku sempat membangunkannya dari tidur karena menendang pintu ini terlalu keras ? Aku masih ingat dengan baik momen itu.


Di depanku, hanya beberapa meter dari pintu masuk ini, adalah kamar tidurku dan Leonora. Aku.... Benar-benar merindukannya. Sebelum memasuki kamar tidur itu, di samping kiri adalah sebuah lorong yang aku, Javier, bersama dengan yang lainnya gunakan untuk keluar dari rumah ini, menuju jurang yang membatasi kota bawah tanah ini. Sepertinya, pintu itu sudah menghilang. Baiklah, saatnya masuk ke kamarku.


Sebuah pin granat masih terletak di tempatnya, di atas lantai kayu dengan posisi yang sama persis seperti awalnya. Itu adalah saat aku dengan penuh keberanian menerobos masuk ke kamar ini, mengambil beberapa granat, kemudian keluar lagi dan sedikit meledakkan ketiga tentakel brengsek itu dengan granat rangkaian ku dan Leonora. Sekitar lima atau sepuluh langkah dari pin itu, adalah ranjang bertingkat kami berdua, penuh dengan kekacauan karena selimut dan bantal-bantal yang berserakan dimana-mana. Aku dan Leonora sering bermain Perang bantal waktu kecil, bahkan sampai empat belas tahun. Melihat ke kanan, ada banyak stiker dan poster-poster penuh motivasi yang tertempel di dinding kayu. Kebanyakan dari poster-poster itu adalah hasil curian ku dari kota atas sana, dan hanya ada satu yang aku buat sendiri bersama dengan Leonora.


WE'RE GOING TO THE MOON AND THE STARS, YOU BASTARD !!!


Bersama dengan sebuah gambar dua astronot perempuan di bawah tulisannya. Ini adalah mimpiku dan Leonora bersama, menjadi perempuan yang hebat dan pergi ke bulan, menginjakkan kaki kami bersama di atas sana. Aku menghampiri poster kami berdua itu, dan sedikit menyentuhnya.Sialan, ini membuatku hampir menangis, tahu.


Kak Eva. Di bulan, memangnya ada apa ?


Di sana, ada sebuah bendera. Tanda kalau siapapun yang melihat bendera itu dan berdiri di depannya, adalah orang yang luar biasa hebat.


Benarkah begitu ??


Benar.


Aku memejamkan mata, mulai membayangkan seperti apa rasanya berdiri di atas sana, di atas bulan. Pastinya gelap, itu sudah pasti. Tapi, kegelapan itu tidak ada bandingnya dengan pemandangan yang jauh lebih luar biasa di sana. Planet biru, bumi kita, kita bisa melihatnya dari atas bulan. Mengingat kembali seberapa jauh manusia telah berkembang selama ini. Sejak api pertama itu ditemukan, takdir manusia sebagai penguasa di bumi ini telah ditentukan. Leonora mungkin tidak tahu seperti apa rasanya waktu itu, namun aku..... Aku akan memberitahunya di masa depan. Bahwa seluruh manusia, serendah apapun kastanya, semuanya terlahir sebagai 'orang hebat'.


Tunggu saja aku, Leo. Aku akan memberitahumu segalanya yang ada di bulan nanti. Jadi, dengarkan lah kisah ku ke depannya.


Aku keluar dari kamarku, kemudian menoleh ke arah kiri. Di atas sana ada loteng, tempat Ivan dan yang lainnya tinggal. Aku, dan terkadang Leonora, harus menyusup terlebih dahulu melewati kamar mereka untuk bisa sampai di atap sana, memandangi hampir seluruh kota hingga ke ujung-ujungnya. Aku merindukan pemandangan di atap itu, jadi mungkin, aku akan sedikit mengintip ke dalam kamar mereka juga.


Setelah berjalan menaiki tangga yang berputar, di sanalah, tepat di sebelah kiri tangga, adalah kamar dari orang yang paling menyebalkan, Ivan. Aku menghela nafas, kemudian membuka pintunya. Sekilas tidak ada yang berbeda di sini, kecuali banyak kertas yang berserakan di atas meja belajar kayu. Yup, si brengsek ini adalah satu-satunya di antara kami yang memiliki meja belajar. Aku berjalan menghampiri meja tersebut, dan kemudian membaca seluruh omong kosong yang tertulis di seluruh kertas di mejanya itu. Si brengsek itu tidak pernah menggunakan mejanya untuk belajar sama sekali.


Aku hanya akan membaca beberapa dari kertas-kertas nya. Memilah beberapa dari mereka saja sudah membuatku sakit mata.


Ini yang paling atas.


Eva sialan itu, sudah ngajak-ngajak buat maling, dia malah cuma ngambil poster aja !! Bangsat bener gak tuh !!


Lah, emang apa salahnya nyuri poster ? Paling tidak, itu juga termasuk barang, kan ? Aku ingat hari itu, emosi Ivan sudah seperti bom kacang meledak di atas langit jepang.


Javier menawariku buat masuk dan belajar di sekolah. Tapi gimana dengan uangnya ?


Aduh, kertasnya masih ada banyak yang kosong, tuh. Kenapa kamu buang-buang kertas kayak begini, sengklek ?


Sudah sulit sekali dihitung, berapa kertas yang aku lewati. Anggap saja ini yang ketiga.


Valentine ? Rodric menanyai ku siapa yang aku sukai, tapi aku tidak tahu sama sekali. Mungkin..... Eva ? Kita bukan sedarah juga, sih.


Eh ??


.....


Cih, anggap saja aku tidak membaca apa-apa barusan. Aku keluar dari kamar Ivan, kemudian sedikit berjalan ke depan dan kemudian mengintip ke dalam kamar Rodric. Yah, dia adalah orang yang lurus. Gak ada yang aneh atau spesial sama sekali di kamarnya. Kecuali satu, jaket Hoodie dengan motif berlubang hampir di seluruhnya. Yang membuat itu, tidak tau siapa.


Baiklah, kita lewati saja kamarnya Rodric. Sedikit berjalan ke depan lagi, di sana adalah kamar si paling gendut sedunia, Igor-kun. Aku sering memanggilnya seperti itu sejak dulu. Dan tanpa sadar, aku sudah menyeringai duluan saat wajah bulet kecilnya yang lucu itu terlintas kembali di pikiranku. Sudahlah, kita langsung intip saja kamarnya. Aku tidak pernah berkunjung sama sekali ke kamar-kamar manusia berbiji kuda ini, jadi sekarang, saat aku sudah bisa memasuki kamar mereka dengan begitu leluasa seperti ini, aku benar-benar merasa senang. Lagipula, aku sudah berumur 25 an, jauh lebih dewasa daripada aku yang waktu itu.


Aku sedikit menendang, sedikit sekali, pintu kamar Igor. Waw, banyak Snack yang terbengkalai di dalam sini. Jadi, selama ini, dia benar-benar menyembunyikan semua Snack yang kita curi ? Itu benar-benar bangsat Igor !!


Aku sudah tidak tahan melihat tumpukan Snack itu dengan mataku sendiri. Jadi sebelum tanganku yang jahil memaksa seluruh tubuhku mengambil salah satu dari mereka, aku langsung pergi ke kamar yang paling ujung, kamar Javier.


Semua pintu di rumah ini tidak pernah sedikitpun terkunci sama sekali. Pintunya hanya didorong saja tanpa ada kenop. Begitulah kenyataannya. Kamar Javier yang paling luas di rumah ini, dan hal yang paling mencolok adalah meja panjang ala-ala di bar itu. Setiap kalinya aku dan Leo naik ke atas, itu hanyalah untuk menghabiskan waktu bersama dengan Javier di kamarnya, duduk bersama di kursi meja panjang tersebut. Javier meninggalkan satu gelas bir sepertinya di sini. Masih bisa diminum kah ?


Aku langsung menyambar gelas itu dan meneguknya sampai habis. Sekali-kali tidak masalah juga, bukan ? Javier memang sungguh legenda. Ada setengah puntung rokok tergeletak di asbaknya saat, tepat di samping kanan gelas yang baru saja aku minum. Aku mengambil rokok itu, bersama dengan korek api yang ada di kiri meja. Lumayan juga kembali jadi perokok. Sekali ini saja.


Oi, Javier. Bener-bener bapak yang bisa jadi panutan, ya ? Ngerokok di depan dua bocah perempuan seperti kita ?


Itu bukan masalah apakah aku ayah yang baik atau tidak, tapi apakah kamu akan meniru ku atau tidak.


Eh ? Dikit lagi jadi kata-kata bijak, tuh.


Yah, setidaknya ada yang meneruskan kebiasaan buruknya itu. Javier tidak pernah mengajariku untuk menjauhi rokok atau apa, dan beginilah jadinya aku sekarang. Sendirian di kamar Javier, rasanya tidak buruk juga. Kadang-kadang, aku melihat Javier menulis beberapa hal sebagai diari nya. Aku kayaknya agak sedikit mengingat di mana dia selalu menyembunyikannya. Sepertinya, di rak buku yang jauh ada di kanan ku itu.


Lagi nulis apa, Javier ?


Entahlah. Mungkin hanya menuangkan perasaan ku saja.


Eh ? Pantes aja si brengsek Ivan itu suka nulis juga. Ternyata gara-gara niru kamu, toh ?


Hahah, memang aku yang mengajarinya, jauh sebelum kamu ada di rumah ini, Eva. Kamu juga lakukan ini setelah dewasa, Eva. Karena hanya dari masa lalu saja seseorang bisa belajar. Sejarah itu ada untuk dikenang, bukan untuk dibuang.


Rigel dan Javier, keduanya mengajariku dua sisi yang berbeda tentang masa lalu. Rigel berkata bahwa masa lalu adalah sebuah senjata, yang bisa menyakiti hati seseorang. Namun berbeda dengan Javier, yang selalu mengatakan bahwa kenangan itu adalah hal yang paling berharga dari kehidupan seorang manusia, siapapun itu.


Aku mengambil sebuah buku tebal, yang judul aslinya sudah ditimpa oleh sebuah kertas kecil bertuliskan Javier's Life. Benar-benar sebuah buku yang tersembunyi. Aku membuka buku itu, dan mulai membaca isinya satu per satu.


Ini aku, Javier. Entahlah apa yang ingin aku tulis di sini. Mungkin, sebuah warisan ? Memang tidak ada yang berharga di rumah bongsor di bawah tanah ini. Tidak ada yang berharga sama sekali. Tidak ada uang yang bisa kuberikan pada mereka. Tidak ada mobil, motor, atau hal mewah lainnya yang bisa kuberikan saat aku mati nanti. Aku dan kelima bocah itu bahkan tidak punya hubungan darah sama sekali. Hanya saja, ada satu hal yang ingin kukatakan pada kelima bocah itu. Yang akan ku berikan, sebagai warisan dariku.


Ivan, kamu adalah bocah yang kuat. Yang paling tua di antara mereka. Yang paling bijak juga di antara mereka. Kamu yang nantinya akan jadi pengganti ku di masa depan nanti. Jagalah adik-adik mu, selamanya. Hari ini aku bertemu dengan orang aneh yang bertopeng kayu. Dia mengatakan bahwa akan meminjamkan ku banyak uang, dengan sebuah persyaratan. Entah apa itu, yang pasti, aku hanya terpikirkan untuk menyekolahkan mu. Jadilah orang yang dewasa, Ivan, karena mereka semua membutuhkan seseorang sepertimu.


Rodric, yang paling pendiam. Satu hal yang akan selalu ku katakan padamu, bertemanlah dengan orang lain sebanyak mungkin. Dunia bukan hanya milikmu sendiri, tapi semua manusia. Dan satu lagi. Ini tentang hal yang aku sukai darimu. Kamu adalah orang yang penyabar, jadi pertahankan lah itu.


Igor. Sedikit sekali kata-kata yang bisa ku tuliskan di sini. Jaga kesehatan mu, dan jangan makan terlalu berlebihan. Itu tidak baik, tahu. Dan yang terakhir, jangan takut dengan perempuan. Jangan biarkan Eva-Eva yang lain juga ikut menjahili mu karena sifat penakut itu. Berani lah.

__ADS_1


Leonora. Mimpi mu itu sangatlah besar, dan tekad mu itu benar-benar tidak pernah hilang. Sebuah hal yang luar biasa, di balik tubuhmu yang kecil itu. Aku dengan sumpah berani mengatakan, bahwa mimpi mu untuk pergi ke bulan itu, akan benar-benar terjadi. Kamu tidak perlu takut dengan yang namanya masa depan. Tidak perlu terlalu bersedih saat kehilangan. Tidak perlu merasa sendirian, karena selalu ada kami di sini. Jangan lagi mengatakan kalimat yang menyedihkan itu. 'Aku bukan orang yang hebat !', 'aku tidak bisa melakukan ini dan itu' dan yang lainnya. Aku ada disini untuk membantumu, selalu. Ada Ivan, Rodric, dan Igor. Percayalah, kalau aku dan semuanya, akan selalu mendukungmu.


.......


.......


.......


Eh ? Tunggu !! Kenapa aku tidak ada di sini !? Tidak mungkin Javier melupakan tentang aku, bukan !? Hei, bangsat !! Aku juga diangkat jadi anakmu, tua bangka !! Kamu yang melakukan itu sendiri !!


Aku membolak-balik halaman itu. Tapi sampai berapa kali pun aku melakukannya, tetap saja aku tidak muncul dan disebutkan namanya. Sejenak, aku seketika menumbuhkan rasa benci pada Javier. Apa aku ini tidak dianggap sebagai anaknya juga ? Terus selama ini aku dia anggap sebagai apa !?


Aku terus menanyakan dua pertanyaan itu sambil terus membalik buku itu ke halaman yang selanjutnya. Halaman dua belas, tiga belas, empat belas. Bahkan sampai halaman yang ke lima puluh pun aku tidak dapat menemukan kata-katanya yang dia tujukan untuk aku.


“Javier sialan !!”


Aku membanting buku sialan itu ke kiri ku. Aku menatapnya dengan penuh kebencian, namun juga air mata. Tunggu, sepertinya aku salah besar barusan. Setelah aku banting buku itu, halaman yang paling terakhir terbuka, dan sebuah tulisan yang benar-benar rapi tertulis di sana. Itu bukan seperti tulisan Javier, tapi di saat yang sama, itu adalah tulisannya.


Eva, aku menyayangimu. Kau adalah anak yang spesial bagiku. Jadi bukalah ke halaman lima puluh. Di sana, aku menuliskan banyak hal tentangmu. Tentang asal-usul mu.


Halaman ke Lima puluh ? Padahal aku baru saja melewatinya, dan sekilas membacanya. Isinya hanyalah sebuah omong kosong belaka, penuh dengan gambar-gambar yang aneh tentang anatomi tubuh manusia dan apalah itu. Apa maksudnya dengan asal-usul ku ?


Aku berjongkok, dan mengambil buku itu lagi. Dengan sedikit rasa bersalah, aku mulai membalik halaman halaman buku itu kembali dengan sedikit kelembutan. Hingga akhirnya aku sampai di halaman yang kelima puluh. Lagi-lagi, yang ku lihat hanyalah tulisan semacam karangan sci-fi.


Tanggal 12/8/2002, aku bertemu dengan seorang wanita yang sedang terluka parah, sambil membawa bayi perempuan yang ada dalam pelukannya. Aku panik, berusaha mencari pertolongan. Namun, wanita itu justru memintaku untuk tinggal di dalam rumahku sendiri. Pada akhirnya setelah sekian lama menanyainya, aku terpaksa harus membawanya bersama dengan bayi perempuan itu ke dalam rumah.


Nama bayi itu adalah Eva Rosenthal, dan wanita itu Venus Caspia. Mereka berdua bukanlah ibu dan anak, sama sekali bukan. Dari yang Venus katakan, ia awalnya bekerja pada sebuah organisasi misterius bernama Ozma Corps. Aku tahu ini terdengar nyeleneh dan tidak masuk akal, namun dia sendiri yang mengatakan hal itu. Bayi tersebut, Eva Rosenthal, adalah salah satu produk eksperimen mereka. Seorang manusia buatan murni. Tanpa ibu, tanpa ayah, tanpa DNA, dan tanpa apapun itu. Singkatnya, bayi perempuan itu, Eva Rosenthal, diciptakan ke dunia ini, bukan dilahirkan ataupun ditemukan.


Venus memberitahuku tentang semuanya. Tentang sebuah eksperimen mengerikan yang disebut sebagai Ozma Projects. Projek tersebut menggunakan kekuatan dari sesuatu yang mereka sebut sebagai bintang merah, yang katanya berasal dari seorang dewa penghancur segalanya yang bernama Scarlet King. Benar-benar tidak masuk akal, bukan ? Tunggu dulu, karena ini masih belum semuanya.


Dengan bahan utama dari red star itu, bintang merah maksudku, bayi perempuan ini memiliki kemampuan yang jauh berbeda dengan manusia biasa. Setiap bayi yang diciptakan dari bintang merah itu, memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Eva sendiri contohnya, yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka apa saja hanya dengan melihat luka orang itu ataupun dilihat matanya oleh orang yang terluka. Aku berusaha untuk tidak menjadi gila dan mempercayai perkataan-perkataan anehnya itu. Bagaimanapun, Venus benar-benar memaksaku untuk percaya kepadanya. Dia mengatakan, bahwa semua manusia yang diciptakan dengan bintang merah, akan memiliki emosional yang luar biasa mengerikan. Biasanya semacam psikopat dan teman-temannya yang lain.


Pada akhirnya, Venus meninggal, walaupun aku telah merawat luka-lukanya dengan baik. Aku akhirnya merawat Eva seperti dia adalah manusia normal. Aku berusaha untuk melupakan seluruh perkataannya itu tentang Eva. Asal-usulnya, kemampuannya, dan sifatnya. Namun sialnya, semua yang Venus katakan itu ternyata adalah benar. Eva tumbuh menjadi seorang gadis yang saat marah, begitu mengerikan. Ia tidak pernah merasa bersalah sama sekali, bahkan saat dirinya sempat membuat anak kecil dari tetanggaku terluka begitu parah karena perbuatannya sendiri.


Pada akhirnya, aku memutuskan untuk pindah ke sebuah kota bawah tanah, kota yang tidak pernah ku dengar dan ku ketahui ada sebelumnya. Aku mengatakan pada anak-anak, kalau aku sudah tidak memiliki uang lagi, walaupun sebenarnya, itu hanyalah sebuah kebohongan besar. Aku pindah ke kota yang aneh itu, supaya aku dapat menjauhkan Eva dari orang lain. Benar-benar kejam dan tidak manusiawi, itulah yang aku lakukan kepadanya. Ada banyak orang berandal di kota ini, dan itu membuat anak-anak dalam bahaya setiap harinya. Namun berkat kehadiran Eva, semuanya merasakan hal yang sama, sebuah perlindungan. Sejak kecil, tanpa ia sadari, Eva sudah melakukan apa saja yang bisa dibilang cukup heroik untuk melindungi kakak-kakaknya. Badannya memang kurus kecil dan terlihat mudah untuk dipukul, namun itu semua berbeda dari kenyataannya.


Aku selalu merawatnya, mengajarinya, dan menyayanginya. Walaupun Eva terlihat seperti tidak peduli sama sekali dengan apapun yang aku lakukan, itu tidak akan pernah membuatku membencinya, bahkan membuangnya. Dia diciptakan oleh manusia, bukan dilahirkan. Ia tidak pernah memiliki orang tua sejak lahir. Ia tidak pernah mengetahui apa itu rasanya memiliki rasa sayang dari orang tua. Ia diciptakan sebagai senjata biologis, bukan untuk hidup normal seperti manusia yang lainnya. Hanya ada satu hal yang selalu kulihat dengan jelas dari matanya, kebingungan. Ia tidak tahu apa-apa. Apa sebenarnya dia ini, kenapa orang tuanya membuangnya, dan kenapa kekuatan yang aneh itu ada di dalam dirinya. Dia hanya ingin hidup normal seperti orang-orang yang ia lihat di depan matanya. Seperti saudara-saudaranya. Ivan, Rodric, Igor, dan adik kecilnya, Leonora. Karena itulah aku ada di sini.


Eva, ini adalah apa yang ku inginkan selama ini. Yaitu menyayangimu, sebagai seorang ayah. Sebagai orang tuamu yang sebenarnya. Anggap saja bahwa Venus berperan sebagai ibumu. Kamu selalu mengatakan bahwa kau sendirian, tidak punya teman, orang tua, dan apapun itu, namun itu semua adalah salah besar. Aku akan selalu di sini sebagai ayahmu. Tidak peduli kau menyebutku sebagai tua bangka atau yang lainnya. Tidak peduli berapa kali kamu membangunkan ku dari tidur karena mendobrak pintu. Tidak peduli berapa kali kamu membuat kekacauan di manapun kau berada. Aku akan selalu ada di sisi mu, sebagai ayahmu.


Kamu layak untuk mendapatkan ini, sayang. Ini dari Javier, ayahmu. Dari Ivan, kakak tertua mu. Dari Rodric, yang selalu mendiamkan mu. Dari Igor, yang selalu kau bully. Dari Leonora, yang selalu tertawa bersamamu. Dan dari Venus, yang menginginkanmu untuk memiliki hidup yang sama seperti manusia normal pada umumnya. Yang ingin menyelamatkan mu.


Kami semua di sini, ingin mengatakan, bahwa kamu tidak pernah sendiri. Kami semua menyayangimu, untuk selamanya.


Benar...... Selamanya.


Terima kasih, Javier, sudah membuatku menangis seperti ini. Setidaknya, dugaanku itu ternyata salah. Kamu, adalah ayah yang terbaik.


Selamanya......


Aku rasa sudah cukup di kamar Javier. Sekarang, saatnya pergi ke atas sana, tempat yang selalu kupakai untuk menghabiskan malam bersama dengan Leonora. Sebuah atap. Aku membuka lubang palka yang ada di luar kamar Javier, kemudian melompat ke atas dan memanjatnya.


Memanjat sungguh melelahkan, huh ? Tidak butuh waktu lama, untuk aku akhirnya mengenang malam terakhir itu bersama dengan Leonora. Walaupun pemandangan kota terlihat sangat hancur, itu masih sama saja. Sebuah kota luas, yang tidak pernah melihat bintang sama sekali. Aku berjalan hingga ke ujung atap, kemudian duduk di sana sambil menghela nafasku. Benar juga, aku dan Leo saat hanya punya mimpi yang sangat simpel, yaitu melihat bintang dan bulan.


Tunggu, kak. Memangnya bulan itu kayak apa ? Aku tidak bisa menggambarnya kalau begini.


Santai aja, aku tahu semuanya !


.......


Cuma bulat begitu ?


Yup ! Setidaknya itu bercahaya terang, dan beda sama bumi kita.


Bedanya apa ? Kan sama-sama bulet.


Nanti, kita bakal carinya bareng-bareng, oke ?


Yeeeeayy !!!


“Kak Eva ?”


“Leonora !?”


Aku terkejut, dan aku langsung menoleh ke belakang. Itu adalah suara Leonora yang kuingat, dan di mataku, itu adalah Leonora sendiri. Apa-apaan ini ?


“Leo...... Kamu masih hidup !!”


Aku langsung berlari dan memeluknya, hingga aku dan Leo terjatuh ke ke lantai atap berbarengan. Aku menangis sejadi-jadinya. Ini.... Yang selalu aku harapkan...... Bahwa Leo masih hidup.


“Kak Eva, sudah besar ya ?”


“Benar..... Aku sudah besar.....”


Tidak terpikirkan sama sekali olehku kenapa tubuh Leo masih sekecil dulu. Yang aku pentingkan hanyalah fakta bahwa aku akhirnya bisa bertemu dengan Leo lagi. Aku bisa memeluknya seperti sebuah guling, dan bermain bersamanya sepanjang malam. Aku..... Bisa ke bulan bersama dengannya.


“Ternyata.... Manusia memang bodoh, ya ?”


“Leo ?”


Jleb !


Tiba-tiba, ada sesuatu yang menusuk punggungku dari belakang. Leo tidak mungkin melakukan itu. Itu..... Tidak mungkin, kan ?


“Mudah terbuai oleh masa lalu, seperti yang ayahku bilang.....”


Leo yang ku peluk seketika menghilang, membuatku akhirnya jatuh tersungkur dan merasakan sakit yang benar-benar nyata. Mulutku mengeluarkan darah sebanyaknya, dan pandanganku, mulai kabur.


“Masa lalu, adalah sebuah senjata mematikan.”


“Siapa kau !?”


Aku sempat menoleh ke belakang, namun itu semua sudah terlambat. Kepalaku dipukul oleh pemukul kayu.


Yang terakhir aku lihat, adalah seorang wanita misterius...... Dengan topeng kayu.

__ADS_1


__ADS_2