
Selamat datang di rumah Mekhane. Semoga petualangan anda menyenangkan !!
Aku terbangun di dalam sebuah lift sempit sialan, yang sepertinya sedang bergerak naik ke atas. Rumahnya Mekhane ? Apa-apaan maksudnya itu ?
Uhhh, biar ku ingat-ingat dulu. Waktu itu......
“Sialan, kenapa ini tangga ga ada habisnya, bangsat !!?”
“Jangan tanya aku, bangsat !!”
'Itu lagi, itu lagi.'
Aku sedikit menoleh ke belakang, dan tidak melihat tanda-tanda keberadaan Asteri. Tapi aku tetap bertanya kepadanya.
“Asteri, kamu punya jawaban tentang ini ??”
“Dia udah hilang entah kemana, tahu.”
“Hah !!?”
Dan setelah itu, sebuah cahaya putih terang membutakan mata kami berdua.
Jadi begitu. Karena cahaya putih sialan itulah aku ada di dalam lift kuno bajingan ini sekarang. Beberapa saat kemudian, lift berhenti bergerak, dan sebuah suara 'ting' terdengar dari atas lift.
Sepertinya lift ini sudah sampai di tujuannya, tapi tujuan apa ?
Pintu lift pun terbuka, dan aku langsung disambut oleh pemandangan lorong rumah yang sangat, sangat, sangat mengerikan. Di tembok depan paling ujung sana, sebuah senyuman dari darah terlihat sangat jelas, cukup besar. Apakah aku benar-benar harus berpetualang di tempat ini ?
“Sialan, harusnya aku tidak mengatakan kalau cerita ini sudah tidak 'menyeramkan'.”
Tapi tidak terlihat ada satupun tombol untuk pergi kembali ke bawah di lift ini, jadi harus ku asumsikan kalau lift ini hanya pergi ke atas saja, ke lantai 'rumah Mekhane' sialan ini. Terpaksa, aku pun menapakkan kaki ku keluar dari lift kuno tersebut untuk pertama kalinya. Semakin lama berjalan, semakin dekat pula aku dengan senyuman dari darah itu. Bibir merahnya itu terlihat seperti sedang menyanyikan ku sebuah lagu. Saat mukaku akhirnya benar-benar sangat dekat dengan grafiti darah itulah, baru aku dapat mendengarkan lirik lagunya.
Happy Death day, to you........ !!!!
Suaranya sangat menyeramkan, seperti orang serak dengan lidah yang terluka sedang berusaha sekuat tenaganya untuk menghibur seseorang.
“Memangnya siapa yang lagi ulang tahun, bangsat !?”
Aku sudah muak terus mengamati senyuman grafiti yang bergerak-gerak membuka mulutnya itu. Terlihat seperti sebuah ilusi menyebalkan di mataku, jadi aku cepat-cepat pergi meninggalkannya menuju ke sebuah pintu yang ada jauh di ujung kananku. Terlihat seperti aku sedang memutuskan sebuah keputusan yang sangat buruk, tapi setidaknya pintu yang ada di sebelah kiri itu terlihat jauh lebih mengerikan daripada yang ini.
Singkatnya, aku berjalan sampai di depan pintu di sebelah kanan itu. Tertulis di sebuah kertas yang menempel di bagian kaca kecil pintu itu, adalah 'SHHHHT, MEKHANE WORK ROOM, BE QUITE !!'. Aku mengetuk pintunya beberapa kali, dan tiba-tiba saja terdengar suara seperti kunci pintu yang dibuka, sebanyak dua kali. Sialan, aku jadi tidak yakin kalau pilihanku untuk pergi ke pintu ini adalah pilihan yang tepat.
“Uh, ada orang di sana ??”
Tentu saja tidak ada jawaban. Aku secara perlahan membuka pintunya sambil melihat ke bawah, tidak terlihat ada kaki seseorang sama sekali. Lah terus yang buka kunci pintunya siapa ??
“Sialan, kenapa ini kayak referensi rumahnya Beneviento dari RE 8, huh ?” gumamku.
Sampai pintu terbuka lebar pun aku tidak melihat seseorang di balik pintu, atau bahkan di seluruh ruangan ini. Hal pertama yang paling menarik perhatian mataku adalah sebuah manekin yang berbaring di atas sebuah ranjang medis, ditambah dengan sebuah tanda panah yang tiba-tiba muncul dari atas langit-langit menunjuk ke arah perut manekin itu. Aku tidak perlu dikasih petunjuk buat menaruh perhatian ke manekin yang pura-pura sakit itu, sialan.
“Uhuh, kira-kira harus ku apain nih manekin sialan ?”
Awalnya aku dengan sengaja membiarkan pintu ruangan ini terbuka hanya untuk berjaga-jaga, tapi itu sepertinya tidak berguna. Aku langsung menoleh ke belakang saat mendengar pintu itu tertutup dengan sendirinya. Bukan itu saja, tapi termasuk terkunci dengan sendirinya juga. Selang beberapa detik kemudian, sebuah tulisan mulai terbentuk dari serbuk-serbuk berwarna emas muncul entah dari mana.
Work diligently, my slave......
“Hei, sialan. Aku bukan budak mu, bangsat.”
Tiba-tiba terdengar suara 'bzzzzt' dari arah radio yang berada di atas meja kayu sebelah kiri. Bukan pintu saja yang bergerak dengan sendirinya, tapi radio ini juga......... Sialan.
...... Bzzzt....... Bzzzt....
Selamat datang di rumah Mekhane, makhluk kotor Sakarette yang najis dan juga menjijikkan baginya....... Saat ini, kamu bukan lagi berada di genggamannya, melainkan dalam lindungan Dewi kami yang sungguh sempurna !!!
Tugasmu untuk saat ini adalah memperbaiki tentara Dewi kami yang malang itu, yang terbaring dengan kakunya tepat di hadapan netra mu. Untuk mengerjakannya, ikuti langkahku dengan seksama. Dan jangan ada yang terlewat, sama. Sekali !!
1. Ambil (Static) di sebelah kananmu, kemudian lihatlah ke (Static) mu untuk mendapatkan hadiahnya.
2. Buka (Static) di perutnya dengan 'itu', kemudian ambil g-g-g-g-gir nya yang ada di dalam. Kamu bisa membuka lapisan girnya itu dengan sebuah cairan dari (Static) di pintu Utara.
3. Ada kunci di dalam gir itu, pakai untuk membuka pintu di sebelah barat.
4. Berhati-hatilah di pintu barat, karena semuanya sangat suka kesempurnaan di sana.
5. Setelah turun ke dalam sumur di sana, aturan yang selanjutnya akan aku berikan setelah itu.
Begitulah, selamat bekerja, budak Sakarette sialan !!
Aku. Mengawasi. Kamu. AHAHAHAHAHHAHA !!!
Setelah tawanya yang sangat keras dan mengerikan itu terdengar, tidak ada lagi suara yang terdengar dari radio itu. Sepertinya sudah mati total. Memperbaiki manekin sialan ini ? Sepertinya aku sudah tahu ini akan mengarah ke mana. Aku menoleh ke arah kanan sebentar karena tidak tahu mau memulai 'pekerjaan' bangsat ini dari mana, dan di sana, di balik celah-celah dinding yang agak lebar itu, terlihat sekelebat bayangan yang melesat dari Utara ke timur.
“Apa dia itu yang mengawasi ku ? Oi sialan, urutan perintahmu itu gak jelas sama sekali, tahu !! Mending betulin dulu tuh jaringan, bangsat !!”
Aku berteriak di dalam ruangan kosong seperti orang gila saja. Itu tidak akan membantuku sama sekali, jadi aku rasa 'pekerjaan' ini memang harus dilakukan.
Dasar Mekhane sialan. Liat aja tuh, bakal ku hajar kepalanya nanti kalo aku ketemu.
Kalau diingat-ingat lagi di perintah pertamanya, aku disuruh melihat ke kanan, bukan ? Jadi aku menoleh ke arah kanan, kemudian menunduk ke bawah saat sebuah pantulan cahaya terlihat dari sesuatu yang nampak seperti sebuah kotak kayu berkaca.
“Huh ? Kamera kuno ? Buat apa memangnya ??”
Tiba-tiba saja, mataku dibutakan selama beberapa detik karena cahaya putih yang sangat menyilaukan, hampir seperti kena flashbang. Gila, semuanya bergerak dengan sendirinya di ruangan ini !! Setelah penglihatan ku pulih dari efek 'flashbang' itu, aku menoleh kembali ke arah kamera kuno itu, yang dari lubangnya keluar fotoku yang sedang menutupi mata dengan tangan. Benar-benar terlihat memalukan.
Setelah melihat ke kanan, perintah itu mengatakan aku bakal dapat 'hadiah', bukan ? Sepertinya foto inilah hadiahnya. Benar-benar sangat simpel, dan tidak berguna. Aku mengambil foto itu, kemudian memperhatikannya selama beberapa saat. Uhhh, bagaimana menjelaskannya ya ? Di foto itu, ada sosok supranatural yang sedang bersamaku di belakang, memegang semacam ujung dari sekop besar di tangan kanannya. Hanya setengah badan bagian bawahnya saja yang tertangkap kamera, sementara sisanya sampai ke kepala nggak keliatan sama sekali.
“Itu, tidak mungkin kan ??”
Bagaimanapun, perintah kedua itu menyuruhku untuk melihat ke sesuatu, jadi aku pun menoleh ke belakang karena rasanya itu adalah benar. Yap, begitulah. Aku menoleh makhluk hitam yang berdiri diam seperti patung itu tepat di belakangku, sedang membawa ujung sekop hanya dengan jari jempol dan telunjuknya saja.
“Uh....... Terima kasih, mungkin ?”
Patung itu tidak bergerak. Memang sepertinya itu benar-benar sebuah patung. Tapi sejak kapan dia ada disini bersamaku ? Aku berdiri menghadap ke arah patung sialan ini, melihat wajahnya yang tersenyum lebar itu dengan sebuah topi ulang tahun warna-warni kecil di kepalanya. Postur badannya agak miring ke samping kanan, kena skoliosis kayanya.
“Oi sialan, senyum mu itu keliatan menjijikkan, tahu.” ucapku sambil mengambil ujung sekop di kedua jarinya itu, menutup kedua mataku juga.
Dan seolah dia mendengarkan dan juga tersinggung, ia berhasil mengejutkanku dengan senyumannya yang hilang setelah aku membuka mata kembali. Kedua matanya juga melebar, menatapku dengan tajam. Mungkin, aku akan menghiraukannya dan berpura-pura tidak lihat apa-apa.
Perintah kedua yang paling pertama itu adalah untuk membuka perut manekin ini dengan 'itu', jadi mungkin ujung sekop inilah yang dimaksud. Aku mendekati si manekin, dan begitu aku berhenti di dekatnya, sebuah lampu seperti lampu operasi menyala dari atas ku. Aku tidak perlu melihat dari mana arah lampu itu berasal. Semuanya benar-benar kacau dan tidak masuk akal di ruangan ini, jadi lupakan saja lampu itu. Aku mengangkat ujung sekop itu sambil meneguk ludah. Bagaimana kalau manekin ini tiba-tiba gerak dengan sendirinya juga ?
“Oi Dewi Chang' e, lindungi aku......”
Aku menancapkan ujung sekop yang tajam itu ke celah sempit yang ada di perut manekin itu, tepat di arah yang ditunjukkan oleh tanda panah di atas sana. Aku menekannya terus-menerus, tapi tidak ada perubahan sama sekali.
“Cih, melakukan hal sialan ini butuh tenaga juga ternyata......”
Aku menekannya semakin kuat, sampai kedua telapak tanganku mulai mengeluarkan darah yang cukup banyak. Kedua mata manekin ini berputar-putar tidak jelas, dan dari dalam mulutnya juga terdengar suara teriakan kesakitan buatan yang agak rusak. Sudah pasti itu berasal dari sebuah alat. Semakin kuat aku menekannya, semakin keras juga teriakannya, sampai-sampai membuatku merasa sebal karenanya.
“Terbukalah, bajingan !!!”
__ADS_1
Aku mengangkat ujung sekop itu sekali lagi, dan kali ini dengan kekuatan yang sangat besar, aku menghantamkannya hingga perut bagian luar manekin itu hancur lebur berkeping-keping. Teriakan manekin itu sudah tidak terdengar lagi, seolah seperti sudah mati seperti dihantam oleh sesuatu yang membunuhnya. Sekarang, aku hanya perlu mencari gir nya, bukan ? Ini sangat mudah.
Oh tidak, kamu sudah membunuh satu tentara kami !! Apa yang telah kamu lakukan, ****** !!?
Dewi Mekhane, benar-benar akan menghukum mu setelah ini !! Ingat itu !!!
Radio itu terdengar kembali, tapi aku tidak menghiraukannya sama sekali. Persetan dengan yang katanya hukuman dari Mekhane itu, aku hanya perlu keluar dari tempat ini dan bertemu kembali dengan yang lainnya di SCR. Tanganku ku masukkan ke dalam perut manekin itu, dan mengejutkannya, perut dalamnya berisi darah manusia !! Dan terima kasih berkat kubangan darah di dalam perutnya, si gir itu jadi lebih susah dicari, ditambah dengan serpihan-serpihan perut dari manekin itu yang membuat tingkat kesulitannya menjadi hardcore.
“Di mana lu, gir sialan !!?”
Pada akhirnya, setelah beberapa lama yang terasa seperti selamanya itu, si gir akhirnya kutemukan juga. Penuh dengan lumuran darah, begitu juga dengan kedua tanganku. Lalu setelah ini, di perintah kedua bagian kedua, aku bisa membuka gir dua lapis ini di dalam ruangan pintu Utara. Jadi aku pergi ke pintu Utara, tapi saat aku mencoba untuk membuka pintunya, itu terkunci. Bajingan, tidak ada yang bilang tentang ini, bodoh. Aku mencari-cari ke sekeliling ruangan, tapi tidak ada sama sekali yang terlihat seperti gantungan kunci ataupun sebuah kunci di dalam ruangan ini. Dan di saat itulah, aku teringat dengan celah yang ada di tembok kanan. Mungkin saja, kuncinya ada di sana.
Terkutuk kau, Mekhane.
Aku mengintip ke arah kiri dari celah tembok itu, dan di ujung sana ada pintu yang lainnya lagi dengan sebuah emblem seperti bintang emas dengan 4 sisi tajam di masing-masing ujungnya, sepertinya menunjukkan arah angin. Teror masih belum selesai, karena selama aku mengintip lewat celah ini, kepalaku rasanya seperti diterpa oleh angin keras setiap saat. Benar-benar menyebalkan. Tidak ada pilihan lain selain mencoba terlebih dahulu. Aku akhirnya melewati celah tembok itu, berjalan di lorong lurus yang sangat gelap, walaupun ada lampu beberapa terpasang di langit-langit.
Oh, lihatlah. Tikus ini ternyata menemukan jalan lain, dan ternyata dia sangat pintar. Satu jempol untukmu, tikus ******.
Radio itu masih terdengar dengan sangat jelas bahkan dari sini ? Bagaimana bisa ?
Tanpa memperdulikan pesan suara singkat dari radio itu, aku tetap berjalan lurus ke depan sambil menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang juga. Di belakang sana sepertinya ada pintu juga, dengan emblem bintang biru dan tiga sisi tajam saja, menghadap ke arah utara, timur, dan barat. Aku juga jadi penasaran dengan isi ruangan itu, tapi sepertinya nanti saja. Pintu emblem bintang emas itu aku buka, dan tidak dikunci sama sekali. Ruangannya gelap, dan hanya diterangi oleh lampu sorot dari sebuah mesin roll kamera kuno yang menunjukkan sebuah film fabel pendek di layarnya. Film fabel itu sangatlah pendek, bahkan sepertinya hanya berlangsung selama beberapa detik saja.
Rumput dimakan babi, babi dimakan serigala, serigala dimakan macan, macan diburu manusia, manusia dimakan alam.
Hanya itu saja yang kudengar dari film tersebut, tapi sepertinya aku tahu harus melakukan apa berdasarkan kalimat aneh itu. Di mesin roll tersebut, ada lima roll gambar, yang masing-masing adalah gambar serigala, manusia, rumput, macan, dan babi. Nampaknya, aku hanya perlu mengurutkan gambar-gambar roll acak itu menjadi sesuai dengan kalimat dari film tersebut. Seharusnya begitu.
Pertama adalah rumput dimakan babi, jadi aku memutar tuas di samping kiri dan mengubah gambar di roll pertama menjadi gambar rumput. Di gambar roll itu, aku bukan hanya melihat rumput-rumputan, tapi juga pemandangan alam seperti gunung dan yang lainnya. Apakah rumput dan alam digabung menjadi satu di sini ?
Pindah ke roll kedua, aku memutar gambarnya menjadi babi. Entah kenapa ada satu babi dengan muka seperti manusia di tengah-tengah gambar itu. Apalagi, mukanya terlihat seperti sejenis patung hitam yang ku lihat beberapa waktu yang lalu. Apa-apaan maksudnya ? Si patung hitam itu awalnya adalah babi berdasi ? Yah, lupakan saja.
Pindah ke roll ketiga, aku memutar roll nya menjadi gambar serigala, kawanan serigala lebih tepatnya. Yah, gambar yang kali ini cukup normal, kecuali beberapa saat kemudian saat aku mulai mendengar suara statis dari radio sialan itu lagi. Bahkan setelah beda ruangan pun, suaranya masih sama jelasnya seperti itu disetel di dalam kepalaku.
Ini benar-benar tidak terduga, budak najis, tapi aku harus akui kamu jauh lebih pintar daripada budak yang lainnya. Apa kamu sebenarnya sudah diberkati oleh dewa daging yang sesat itu ?
“Apa maksudmu, sialan !!? Aku gak nyembah dewa apalah itu selama hidupku, bajingan !!”
Suara dari radio itu sudah tidak terdengar lagi. (Sigh) Mendingan aku lanjut menyelesaikan puzzle sialan ini lebih cepat.
Roll keempat aku putar, mengubah gambarnya menjadi gambar macan. Cukup normal juga yang kali ini. Setelah itu, aku pindah ke roll kelima, kemudian memutarnya beberapa kali untuk mengubah gambarnya menjadi gambar manusia.
“Tunggu dulu....... Kenapa manusianya harus pake foto ku, bangsat !!!?”
Yap, itu adalah fotoku yang terambil oleh kamera kuno itu pertama kali, waktu mataku seperti dibutakan oleh flashbang. Aku lihat-lihat lagi, dan aku yang ada di foto itu sepertinya dapat bergerak, bisa dilihat dari dadanya yang seperti sedang bernafas. Tiba-tiba saja, tangannya yang menutupi kedua matanya itu menghilang seketika, menampilkan kedua matanya yang bercahaya terang dan menatapku dengan tajam. Sebuah tulisan kemudian mulai di atasnya secara perlahan, yang hanya membuat foto 'aku' yang palsu itu menjadi terlihat lebih mengerikan.
This is fake
It is fake
Everything is fake
Foto 'aku' yang palsu itu kemudian menggunakan tangan kirinya untuk menunjuk ke roll film yang sebelum-sebelumnya, dan entah kenapa kepalaku seolah bergerak dengan sendirinya mengikuti arahnya menunjuk itu. Entahlah, tapi sepertinya aku harus berterima kasih kepada 'aku' yang palsu itu. Karena berkatnya, aku akhirnya dapat mengetahui bahwa roll-roll film yang lainnya pun juga ikut melirik ke arahku.
“(Sigh) Baiklah..... Aku lebih mending bunuh diri aja, anjink......”
Tapi kata ibuku, bunuh diri itu nggak baik. Jadi daripada aku ngelakuin itu, kabur dari sini jauh lebih baik. Namun, bahkan kabur dari ruang sialan ini pun susahnya minta ampun, bangsat !! Begitu aku menoleh ke belakang, si patung topi ulang tahun itu sudah ada persis di hadapanku, masih dengan posenya yang sama.
“Kenapa harus ada yang kayak beginian, bangsat ?”
Aku berjalan ke arah kanan secara perlahan-lahan, sambil menutup mataku rapat-rapat. Saat sudah beberapa langkah terlewati, aku membuka mataku kembali, dan patung itu ternyata masih ada di tempatnya. Yah, itu memberiku sedikit kesempatan untuk menghirup nafas lega sesaat, tapi hanya untuk memastikan saja, aku melakukan hal yang aneh itu beberapa kali. Sampai di hitungan yang kelima, aku masih mendapati patung orang negro itu berada di tempatnya yang sama. Dengan begini, aku sudah sangat yakin kalau patung itu tidak akan bergerak ketika aku memalingkan pandanganku darinya. Aku benar-benar menghela nafas lega sambil menutup mata saat itu, ketika aku akhirnya bisa berjalan meninggalkan patung negro sialan tersebut. Tapi saat aku membuka mataku kembali, seperti ada seseorang yang mengalungkan kedua tangannya di leherku.
Tangan itu berwarna hitam gelap, dan juga berminyak. Apa-apaan ini sebenarnya !? Padahal kan dia nggak gerak tadi !!
Aku menoleh ke belakang, dan di sanalah, senyum lebar sialannya menyambutku dengan sangat mengerikan. Bola matanya kemudian mulai berputar putar hingga ke belakang, dari atas ke bawah. Ketika bola matanya itu berhenti, barulah aku sadar, kalau itu adalah bola manusia asli !!
Ahahahahahha !!!!
“Tunggu...... Hei, hei, sialan !! Akhhh !!”
...****************...
“Aw...... Aww....... Sialan, badanku sakit semua......”
Aku dibangunkan oleh rasa sakit yang sungguh luar biasa di sekujur tubuhku, seolah seluruh tulang-tulang di dalamnya telah remuk semuanya. Saat mataku terbuka, yang kulihat hanyalah ruangan yang jelas berbeda daripada ruangan yang sebelumnya. Banyak aksesoris-aksesoris perayaan ulang tahun ditempel di dinding dan langit-langit, termasuk beberapa kertas lipat segitiga yang jika digabung menjadi satu dibaca 'YOUR 20TH BIRTHDAY'. Entahlah apa maksudnya, tapi umurku sudah 25 tahun saat ini, jadi perayaan ulang tahun ini sepertinya bukan buat aku.
Hei hei hei !! Akhirnya si tikus nakal ini terbangun juga dari tidurnya, huh !?
Seperti yang bisa dilihat di atas sana, ini adalah perayaan ulang tahun seseorang yang dekat denganmu. Dia adalah seorang tuan putri yang jahat, jadi dia ingin semuanya sempurna di matanya. Seharusnya manekin itulah yang mengurus tuan putri kita yang lucu dan imut itu, tapi kamu justru membunuhnya dengan begitu kejam !!
Jadi begitulah. Selamat berjuang menjadi pengurus tuan putri kita. Dan juga, jangan lupa memberikannya yang terbaik.
Ciao !!
Radio sialan itu lagi. Jangan-jangan itu bukanlah sebuah radio, tapi sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada yang kuduga. Omong-omong, jauh di depanku sana, adalah sebuah pintu dengan lampu kelap-kelip di seluruh bingkainya, dan sebuah tanda 'HERE' baru saja muncul entah dari mana. Ruangan ini benar-benar seperti sebuah playgroup buat anak-anak, melihat ke samping kiri pintu 'HERE' itu adalah sebuah tempat luas yang dipenuhi oleh hiasan ulang tahun dan mainan anak-anak, sekaligus dibatasi oleh pagar plastik yang bahkan tingginya tidak sampai 1 meter. Aku bisa saja mengintip ke sana atau bahkan melompatinya, tapi mengingat kalau si 'tuan putri' ini adalah orang yang kejam, sepertinya aku tidak akan melakukan hal itu sama sekali.
Aku berjalan dan membuka pintu 'HERE' itu, dan baru saja membukanya, aku sudah disambut oleh sebuah boneka kayu penuh dengan jahitan aneh di wajahnya yang menatapku dengan tajam, duduk di atas sebuah singgasana dan berhiaskan pakaian ala-ala bangsawan. Di depannya adalah sebuah meja, lengkap dengan kue ulang tahun dan beberapa mainannya yang berbentuk seperti....... Kepala manusia ?
“Uhh.......... Anda tuan putri, kan ? Anda mau aku melakukan apa ?”
Seketika itu juga, mata si tuan putri itu melotot tajam ke arahku, seolah menuntut ku untuk segera menyadari sesuatu yang janggal di sekitarnya. Oh, benar juga, kue ulang tahunnya itu sedang kekurangan sesuatu yang sangat krusial untuk sebuah kue ulang tahun ! Itu adalah lilin !! Sialan, kenapa aku baru sadar dengan itu ??
“Tuan putri, anda mau lilin ??”
Boneka itu langsung menggebrak meja kayunya, terkesan sedang marah dan mengatakan 'tentu saja' kepadaku. Boneka ini benar-benar menyebalkan, huh !!? Beberapa saat setelah keheningan sejenak, boneka itu menunjuk ke arah pintu yang ada di samping kanannya. Itu pasti menuju ke arah tempat playgroup itu, kan ? Mencari lilinnya di sana ? Kelihatannya bakal ada hal buruk yang terjadi sebentar lagi.
Aku menunduk untuk memberi hormat kepadanya, kemudian sambil membungkuk dan mengucapkan 'permisi', aku keluar lewat pintu playgroup itu. Begitu aku baru saja keluar, pintu itu langsung terkunci rapat begitu saja, terdengar dari suaranya yang keras seperti dibuat-buat oleh sesuatu. Apa pintunya benar-benar dikunci ? Aku pun tidak mau memeriksanya.
Area playgroup itu cukup luas. Aku lihat ada banyak mainan anak-anak di sini. Rumah-rumahan yang berantakan, perosotan, boneka-boneka yang kecil nan 'lucu', serta masih banyak yang lainnya.
“Baiklah, aku mulai dari mana dulu sekarang ?”
Setelah melihat-lihat sekeliling sebentar, mata ku sekilas menangkap bayangan seorang perempuan berlari di balik jendela paling ujung di depanku sana. Aku sempat ingin menghiraukannya, tapi entah kenapa seperti ada perasaan kalau bayangan itu sedang ingin menunjukkan ku sesuatu. Dia berlari dari arah selatan ke utara, jadi aku berjalan melewati beberapa pagar plastik mainan dan berbelok ke utara. Setelah berjalan agak cukup jauh, ternyata memang benar kalau bayangan itu sepertinya ingin menunjukkan ku sesuatu, yaitu sebuah pintu dengan emblem bintang putih di bagian tengahnya, memiliki dua sisi tajam saja, sementara sisi yang lainnya seperti dihancurkan oleh sesuatu. Saat aku ingin membukanya, tentu saja pintu itu masih terkunci.
“Kakak, apa kamu butuh kunci ?”
Aku seketika menoleh ke belakang, tapi tidak ada seorangpun di sana. Aku menoleh ke berbagai arah sekali lagi, tapi masih tidak kutemukan seorangpun di sekitar ku. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk menoleh ke arah kiri bawahku, dan di saat itulah aku akhirnya menemukan 'seseorang' yang mengajakku bicara barusan. Itu adalah sebuah boneka perempuan yang 'lucu', dengan gaun putih kusam sebagai bajunya. Dari dalam mulutnya, terdapat sebuah ujung kunci bergerigi yang mencuat ke luar. Aku pun mulai jongkok di hadapannya secara perlahan, seolah aku sedang bersikap ramah kepadanya. Padahal jujur saja, aku sebenarnya mau menendang kepala boneka sialan ini sampai dia menghilang ke yang tidak terbatas.
“Tentu saja. Bisa kamu berikan itu kepadaku ? Aku butuh itu untuk melayani si 'tuan putri'.”
Boneka itu mengangguk sebagai jawabannya, dan kemudian berjalan beberapa langkah mendekatiku sambil mengangkat kepalanya. Aku rasa itu artinya adalah ambil saja, jadi aku pun mulai memegang ujung kunci itu dan bersiap untuk menariknya. Tapi, baru saja kedua jariku menyentuh kuncinya, boneka bajingan ini langsung bergetar tidak beraturan seolah sedang kerasukan sesuatu.
“Tidak, kakak menarik kuncinya terlalu keras !!”
“Oi !! Aku bahkan belum mulai narik, sialan !!”
Boneka itu lanjut berteriak kesakitan selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia kehilangan kepalanya karena sebuah ledakan aneh yang bahkan tidak aku lihat dan tidak aku rasakan sama sekali. Yang dia tinggalkan hanyalah keseluruhan kunci itu yang kini berada di pegangan kedua jariku, serpihan-serpihan kepalanya yang sangat menyebalkan, dan juga badannya yang kini tergeletak di atas lantai. Cih, sungguh akting yang luar biasa, pura-pura jadi korban kekerasan. Suasana di playgroup itu seketika berubah menjadi mengerikan, dan aku langsung berdiri karena menyadari sesuatu yang brengsek akan segera terjadi tidak lama lagi. Sebuah teriakan kebencian terdengar dari ruangannya si tuan putri itu, penuh dengan emosi kesedihan juga sepertinya. Sialan, bukan aku yang melakukannya, bodoh.
Oh tidak !! Apa yang baru saja kamu lakukan, tikus busuk !!? Kamu baru saja membunuh adik kesayangan sang tuan putri, dan kini dia ingin menuntut balas dendam !!
Teman-temannya akan segera menuntut balas dendam !!!
__ADS_1
boneka-boneka 'lucu' yang lainnya mulai melayang di kejauhan dengan tubuh mereka yang awalnya lesu, seketika langsung menjadi kaku dan menoleh ke arahku. Mulut mereka semua mulai membuka tutup dengan kecepatan yang sangat tinggi, seperti sebuah gertakan yang dilakukan dengan penuh amarah.
“Kejam !!”
“Tidak manusiawi, tidak punya moral !!”
“Bersalah ! Bersalah !!”
Tanpa perlu menunggu waktu lama, aku langsung memasukkan kunci yang baru saja ku dapat itu ke dalam pintu bintang putih di sampingku. Di dengar dari bisikan kematian mereka saja, aku sudah tahu boneka-boneka situ bakalan memutilasi badanku sampai seribu bagian, atau bahkan lebih mungkin. Aku memutar-mutar kunci itu beberapa kali, tapi tetap saja pintu sialan ini tidak terbuka. Barulah aku sadar kalau kunci ini, bukanlah kunci yang benar !!
“Boneka sialan itu !!!”
Kunci yang baru ku dapat itu punya sebuah emblem di bagian lingkarannya, berbentuk sebuah lingkaran merah dan satu sisi tajam yang mencuat ke atas. Terpaksa aku berlari melawan arus boneka-boneka psikopat itu untuk mencari pintu dengan emblem yang sama. Mereka semua seketika mengerumuni dan menghalangi pandanganku dengan jumlah mereka yang sangat banyak. Di setiap detiknya, tidak ada satu kesempatan sekalipun buat badanku tidak terkena tusukan dari besi tajam berkarat mereka yang sangat tajam. Benar-benar menyakitkan, sampai-sampai aku mau mati saja rasanya.
“Aw ! Aww !! Itu sakit beneran, sialan !!”
“Kejam !! Pembunuh, pembunuh !!”
“Bukan aku yang ngancurin kepalanya, bangsat !!”
Setelah beberapa waktu melewati perjalanan yang begitu menyiksa, aku akhirnya berhasil lepas dari kerumunan brengsek itu, walaupun sebenarnya aku masih dikejar-kejar sama mereka. Banyak pintu dari kayu mewah yang harus ku lewati, dan setiap kalinya aku membuka banyak pintu itu, badanku rasanya sakit semua. Terima kasih berkat gerombolan boneka brengsek itu, kulitku warnanya sudah berubah warna jadi merah darah sekarang. Beberapa pintu sudah aku tutup, jadi semoga saja para psikopat terbang itu sudah kehilangan jejak ku. Aku langsung mengambil nafas sebanyak mungkin di saat itu juga, dan jantungku berdetak dengan sangat cepat, sudah secepat cahaya bergerak sepertinya.
“Urkh, aww !! Terima kasih buat hadiahnya, boneka sialan.” gumamku sambil menoleh ke arah depan.
Akhirnya, sebuah oasis di tengah padang gurun. Pintu dengan emblem merah berduri satu itu benar-benar nyata adanya memang. Di samping kiri ada sebuah tangga yang mengarah ke atas, tapi aku langsung melewatinya begitu saja. Tidak mungkin aku mengambil jalan naik dengan kondisiku yang berlumuran darah dan penuh dengan luka seperti ini. Hanya berjalan menuju pintu emblem merah yang hanya berjarak beberapa meter itu saja sudah seperti sebuah siksaan di neraka bagiku, membuatku langsung bersandar di pintunya saat aku sudah mencapainya. Badanku yang bersandar itu tidak butuh waktu lama untuk membuat pintu itu ternoda dengan darahku sendiri. Darah merah untuk emblem merah, begitulah sepertinya.
Setelah mengambil nafas sejenak, aku pun memasukkan kunci itu ke dalam lubang kunci di pintunya. Setelah memutar kuncinya sebanyak dua kali, pintu emblem merah ini benar-benar terbuka. Sungguh sebuah keberuntungan, jadi aku tidak perlu mencari kunci-kunci sialan yang lainnya lagi setelah ini. Begitu masuk, aku langsung dihadapkan dengan sebuah tembok panjang dan jalan kanan yang buntu, jadi aku memutuskan bahwa hanya ada jalan ke kiri saja di ruangan ini. Aku pun menoleh ke arah kiri, dan sebuah manekin kayu yang cukup familiar di mataku langsung berhenti berlari seketika ke arahku.
“Boneka Mekhane sialan. Kenapa itu harus ada di sini sekarang ??”
Pintu emblem merah itu tertutup dengan sendirinya secara tiba-tiba, tapi aku tidak terkejut atau menoleh ke arahnya sama sekali. Yang paling penting untuk aku lakukan saat ini adalah untuk terus mengamati manekin brengsek di depanku sekarang, jadi dia tidak akan bergerak mengejarku kemudian membunuhku. Aku terus memperhatikannya, dan terpaksa harus berjalan mundur begitu aku melewatinya. Terkadang aku menoleh ke belakang untuk melihat apakah aku sudah sampai di ujung ruangan, dan begitu aku menatap manekin itu kembali, dia sudah mulai memutar tubuhnya ke arahku. Sebuah perjalanan yang terasa sangat panjang hanya untuk mencapai ujung ruangan dengan jendela kaca dan gorden putih setengah transparan itu. Sempat membuatku ingin melihat pemandangan di luar rumah si ****** Mekhane ini, tapi ada manekin sialan itu di hadapanku sekarang. Hanya ada satu jalan ke kanan setelah mencapai ujung ruangan tersebut, jadi aku berjalan mundur ke kanan, dan membiarkan manekin itu berlari sampai terlihat oleh mataku kembali. Caranya berlari terlihat cukup mengerikan bagiku, seperti zombie yang baru saja menemukan mangsanya. Aku diam di tempat sejenak, masih terus mengamati manekin itu yang kini kepalanya sedang menghadap ke arah jendela kaca di depannya, dan tiba-tiba, sebuah boneka 'lucu' datang mengejutkanku dari atas, berhenti tepat di hadapan wajahku.
“Hai !”
“Anjing, babi, monyet, sialan !!!”
Saking kagetnya, aku sampai jatuh ke lantai dan menyeret badanku di lantai kayu ruangan itu menghadap ke depan, meninggalkan manekin sialan itu tidak terawasi olehku. Boneka itu kemudian terbang ke arah kiri sambil tertawa jahat menaiki sebuah tangga, dan aku langsung menoleh ke arah manekin itu kembali di saat yang sangat tepat. Kalau saja aku tidak melihatnya kembali, kepalaku sudah kena pukul pastinya.
“Kejar aku untuk mendapatkan kunci biru, tikus rendahan !!” seru boneka itu dari lantai atas.
Kunci biru ?? Memangnya buat apa ? Untuk saat ini aku hanya akan mengurusi manekin SCP 173 ini dulu saja. Persetan dengan kunci biru, kunci merah yang sebenarnya ada di tanganku saat ini.
“Jadi, gimana aku berdiri sekarang ?”
Aku mengambil jarak beberapa langkah dari manekin itu, baru aku berdiri dan langsung menatapnya kembali dengan cepat. Beruntung aku mengambil jarak, manekin itu jadi lebih cepat larinya, keliatannya sih begitu. Aku dan manekin itu saling berhadap-hadapan selama beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan mundur ke kanan kembali, tempat dimana ada tiga pintu putih berbeda di ujungnya dan satu tangga yang menurun ke bawah, lagi-lagi di sisi kanan juga. Manekin itu berlari lagi, dan kemudian berhenti seperti seharusnya saat dia berada dalam jarak pandangku. Setelah beberapa saat berjalan mundur, aku akhirnya melewati pintu yang seharusnya ada di kiri ku kalau aku menghadap ke depan, dan setelah mencoba membukanya beberapa kali, itu terkunci. Masih terus mengawasi manekin sialan itu, tangan kiri ku meraih kenop pintu tengah, dan akhirnya, sebuah pintu yang tidak terkunci berhasil aku temukan. Pintu tengah terbuka, dan aku langsung memasukinya dan menutupnya kembali dengan cepat.
“(Pant) Apa manekin sialan itu bakal menerobos ke sini ?” gumamku cemas.
Beberapa saat aku masih bersandar di pintu putih itu, dan sepertinya yang aku cemaskan tidak terjadi, entah bagaimana caranya bisa begitu. Yah, itu sangat membantu, jadi aku bisa berkeliling di ruangan ini dengan tenang. Aku berjalan menuju ke sebuah meja kayu panjang, dimana terdapat sebuah kertas dengan coretan gambar konsep makhluk humanoid di atasnya. Tunggu, bukannya ini si manekin itu ??
Doll of Mekhane : kayu
Ciptaan dari tuan putri yang sangat bijak dan luar biasa. Diciptakan untuk membuat para pemuja dewa kenajisan Sakarette tak berdaya dalam peperangan, unit ini hanya akan bergerak ketika tidak ada yang mengawasinya. Pergerakannya akan bertambah semakin cepat saat emblem Mekhane berada di dekatnya, sekitar 15 meter atau lebih, namun mereka tidak akan menyerang orang yang memegang emblem nya ataupun kaiju memasuki tempat dimana itu disimpan.
Walaupun memang punya kelemahan, namun unit ini adalah sebuah terobosan yang hebat dari tentara-tentara suci Dewi Mekhane. Kami sangat bangga telah menciptakannya, dan Dewi pun cukup menghargainya.
“Emblem Mekhane ? Berarti itu ada di sekitaran sini ?”
Sebuah berita yang cukup mengejutkan. Akhirnya, aku punya sesuatu untuk menghajar manekin sialan itu. Aku harus mencarinya sekarang juga !!
Pencarian pun dimulai, dan aku memulainya dengan membuka laci-laci di meja kayu tersebut. Tentu saja itu tidak disimpan di dalam laci-laci seperti ini, tapi setidaknya aku mendapatkan beberapa barang yang kelihatannya cukup berguna. Aku mendapatkan sebuah senter, kamera DSLR yang entah buat apa fungsinya, dan satu set pembuka kunci pintu. Aku memang tidak bisa menggunakan alat kunci ini, tapi tetap saja, aku akan mencobanya.
Melewati sebuah bingkai pintu kosong di sebelah kanan meja kayu itu, aku memasuki sebuah ruangan yang sama kosongnya dengan bingkai pintu itu, tidak ada apa-apa sama sekali.
“Huh, memangnya apa yang bisa dicari di sini ?”
Aku tidak melihat apa-apa kecuali satu bagian tembok yang di cat hitam di antara tembok putih lainnya. Lebih anehnya lagi, aku cukup penasaran dengan tembok itu, benar-benar herman. Aku menghampiri bagian tembok yang di cat hitam itu, kemudian sedikit mengusapnya dengan tiga jari. Itu ditutupi oleh debu tebal atau mungkin semacamnya, dan sebuah grafiti kecil berwarna merah pun terungkap di baliknya. Aku kaget, dan langsung mengusap-usap tembok hitam itu sampai keseluruhan dari grafiti merah tersebut terlihat sepenuhnya. Itu adalah sebuah emoji wajah tanpa hidung dan garis luar, yang mulutnya tersenyum 'ramah', kepadaku.
“Smile.”
Yang aku dengar barusan tadi memang tidak salah. Emoji itu baru saja mengatakan 'smile' kepadaku, bahkan meninggalkan tulisan smile di bawahnya, agak miring ke atas. Beneran deh, semuanya yang ada di sini tidak ada yang lain kecuali horor kayaknya. Aku menoleh ke belakang, dan di tembok belakang pun ada kembarannya. Yang ini jauh lebih besar malahan.
“Sebenarnya apa-apaan emoji ini ??”
Mulut dari emoji besar itu membuka tutup seperti menyanyikan sesuatu. Aku duga itu adalah happy birthday seperti yang ada di luar juga. Tiba-tiba lampu yang menerangi ruangan kosong ini menjadi redup selama beberapa saat, dan ketika lampunya menyala kembali, semuanya telah berubah seketika. Seluruh tembok berwarna merah darah, dan juga dipenuhi oleh emoji tersenyum yang menyanyikan lagu happy birthday kepadaku. Gila, ini semua terjadi hanya dalam beberapa detik saja !? Apa-apaan ini sebenarnya !!?
Aku berlari ke bingkai pintu kosong itu, dan dari sana aku melihat semuanya sudah berubah menjadi 180°. Tidak ada lagi meja kayu itu, juga pintu putih yang ada di tengah. Semuanya telah berubah menjadi semacam area penambangan di bawah tanah, hanya ada terowongan-terowongan gelap dan lantai kayu merah saja di seluruh bagiannya.
“Ini..... Tempat yang beda lagi ??”
Berpetualang di tempat yang seperti ini jauh lebih mengerikan daripada dikejar-kejar oleh manekin sialan itu. Beruntung ada si senter yang sedang bersamaku saat ini, walaupun cahaya di tempat ini juga termasuk terang sih. Omong-omong, luka di sekujur tubuhku sudah mulai tidak terasa sepertinya, kering dengan cepat begitu saja. Apa ini bakal jadi infeksi setelahnya ? Karena aku di tusuk dengan besi berkarat waktu itu.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday, happy birthday
........
Happy Death day, to you
Lagu itu lagi. Aku sudah mendengar lagu itu sebanyak tiga kali sepertinya, dan semuanya itu suara yang menyanyikannya selalu saja berbeda. Yang ketiga ini suaranya adalah seorang wanita, terdengar seperti suaranya..... Ava ? Jangan bilang Ava ada di dekat sini !?
Aku langsung berlari walaupun sebenarnya tidak tahu mau lari kemana. Setidaknya aku lebih cepat mencari Ava saat ini daripada mencarinya sambil berjalan. Jumlah terowongan yang ku lewati sudah tidak terhitung lagi sepertinya, dan aku pun juga melupakan jumlah pastinya. Pada akhirnya, setelah berjam-jam aku mencari dan sampai tersesat di dalam area penambangan ini, Ava pun tidak dapat kutemukan. Berlari kesana-kemari itu sangat melelahkan, dan juga membuat semua luka di sekujur tubuhku menjadi terasa kembali, jauh lebih parah malahan. Tanpa sadar, aku ternyata sedang berdiri di dekat sebuah lubang di pojokan lantai dan tembok kayu, yang diisi oleh cairan berwarna merah darah dan gumpalan-gumpalan aneh yang menjijikkan. Di atas lubang di bagian temboknya, ada sebuah tulisan dari darah manusia, 'HERE COMES THE RESCUE'. Tidak tahu apa artinya itu, tapi aku hanya menganggapnya sebagai sebuah kobokan untuk membersihkan luka-luka ku ini, terutama di bagian tangan. Tidak peduli warnanya seperti apa, yang paling penting itu adalah sebuah cairan.
Aku mencelupkan tangan kananku ke dalamnya, dan seketika menghela nafas lega dengan sendirinya. Tidak terduga sama sekali olehku, kalau cairan berwarna merah aneh dan menjijikkan ini sangat menyejukkan dan bisa menghilangkan rasa sakit di luka ku juga. Seandainya lubang ini jauh lebih besar, aku pasti sudah langsung menceburkan diri ke dalamnya.
“Uhh, apaan nih ?”
Di dalam cairan merah itu, jariku seperti sempat meraba sesuatu. Sesuatu seperti kulit manusia ? Bukan, itu lebih terasa seperti tangan manusia, yang hidup pula....... Yap, siapapun pemilik tangan itu, dia kini menggenggam tanganku dengan sangat erat, seketika membalikkan seluruh rasa sakit luka itu seperti awalnya.
“What the hell !!?”
Sontak aku langsung berdiri dari posisi yang awalnya jongkok itu, dan secara spontan berusaha untuk melepaskan genggaman tangan itu dari tanganku. Aku menarik tangan ku berkali-kali, dan tangan manusia itu akhirnya muncul ke permukaan juga. Sekuat apapun aku menariknya, tangan itu masih memegang tanganku dengan sangat kuat. Terpaksa, dengan terpaksa sekali aku harus menendang tangan itu dengan sapuan dari kaki kiriku, hingga akhirnya genggaman tangan itu terlepas dari tanganku juga. Bukan terlepas sebenarnya, tapi terpotong karena tendangan ku barusan. Sepertinya aku baru saja menggunakan kekuatan super ku secara tanpa sadar. Dari dalam cairan merah itu, aku sekilas dapat mendengarkan teriakan kesakitannya, terdengar seperti suara seorang wanita muda.
“Uh...... Maafkan aku.”
Sebagian tangannya masih tergantung di tanganku, sebelum akhirnya bagian yang tergantung itu jatuh kembali ke dalam cairan merah tersebut. Aku hanya bisa menghela nafas dalam rasa penuh penyesalan, dan kemudian memutuskan untuk berjalan kembali entah kemana itu akan menuntunku.
...****************...
Sudah lebih dari beberapa jam aku berkeliling di sini. Aku bertemu dengan si gergaji sialan itu lagi, dikejar-kejar olehnya, dan juga di teror oleh temannya yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Seorang pria kurus dengan pakaian Hoodie hitam dan muka tanpa wajah. Hanya ada mata dan senyuman buatan yang terbuat dari potongan pisau secara kasar.
Mau berapa lama pun aku berkeliling di tempat ini, tidak ada satupun jalan keluar yang bisa aku temukan. Hanya ada jalan berputar, berputar, berputar kembali ke tempat yang sama. Seolah aku akan terjebak di dalam sini untuk selamanya.
“Demi Tuhan, sampai kapan ini bakalan selesai, sialan !!!?”
Pada akhirnya, aku hanya bisa duduk bersandar di tembok kayu merah itu sendirian, meringkuk memeluk kakiku dengan kedua tangan dan hanya menunggu waktunya datang. Yah, sepertinya aku bakal mati dibunuh sama dua brengsek itu tidak lama lagi.
__ADS_1
Dalam keputusasaan, aku akhirnya mendengar sebuah suara dari balik dinding. Sebuah suara, yang kedengaran seperti sedang menyatakan kemenangannya.
Bagaimana, tikus nakal rendahan ?? Bukankah berpetualang di rumah Dewi kami Mekhane sangatlah menyenangkan ???