
“Ibuku...... Kamu yang membunuhnya ?”
Apa-apaan ini ? Bukankah Rachette tadi bilang kalau Ava menyuruhnya untuk menyelamatkanku ?
Aku dapat merasakan amarah Ava yang mulai meledak-ledak hanya dengan melihat ke wajahnya saja. Entah apa alasannya, tapi aku seperti yang bersalah di sini.
“Aku tidak punya waktu lagi, brengsek ! Mau lari bersamaku atau tidak, itu terserah kamu !!” ucapku sambil menoleh ke belakang sebentar saja.
Asteri, sepertinya, ia masih berjalan sangat lambat, seolah dia sangatlah yakin kalau aku tidak akan bisa kabur dari kejarannya. Bocah bajingan ini, aku akan membuktikan seberapa cepat aku bisa lari darinya.
“Oi, Ava ! Aku lari sekarang. Kamu masih mau hidup nggak !!?”
Ava terlihat sedikit agak terpaksa, sebelum akhirnya lari keluar rumah mendahuluiku. Aku berbalik dan menghadap ke arah Asteri, dan setelah mengacungkan jari tengah ku kepadanya, aku langsung menyusul Ava, yang kelihatannya jauh lebih muda.
“F*ck you !!” itulah yang kukatakan sebelum berlari meninggalkannya.
Setelah berlari beberapa saat, aku dan Ava sudah sampai di sebuah kota yang penuh cahaya dari lampu-lampu dari bangunan. Ini, kelihatannya adalah Las Vegas. Dan pertanyaannya adalah, bagaimana bisa aku ada di Las Vegas ?
“(Sigh) Lupakan saja...... Sekarang apa ?”
Aku menoleh ke arah Ava, yang sepertinya sedang mengamati aku sejak lama. Mungkin, sejak aku berhenti berlari barusan ? Aku dapat dengan mudah menebak dari ekspresinya saat ini, kalau dia sedang berusaha menerka-nerka siapa aku sebenarnya. Ada yang aneh dengan dia.
“Kamu...... Kenal aku ?”
“Hah ? Kamu nanya apa ? Bukannya kita sudah temenan sejak lama ?”
“Sejak lama kapan ?”
Ava tidak mengenaliku ? Jadi bagaimana caranya dia menyuruh Rachette untuk menyelamatkan aku ?
“Dia bukan Ava yang asli, bodoh !!”
Seketika aku dan Ava langsung menoleh ke belakang. Di sana, adalah Ava.
...****************...
Sekarang, ada dua Ava di sini. Dan itu berarti, karena saking miripnya mereka dengan aku, aku ada dua juga sekarang !! Keduanya sama-sama memakai baju yang identik, begitu pun juga dengan wajah mereka. Jadi sebenarnya, apa yang membedakan Ava yang ada di hadapanku saat ini, dengan Ava yang ada di sampingku sekarang ?
“Ini peristiwa doppelganger ? Mana yang asli sebenarnya !!?”
“Pastinya aku.” jawab Ava yang ada di samping.
“Oi, bajingan ! Yang asli itu aku, bodoh !!” seru Ava yang ada di depanku.
“Ava yang asli tidak mungkin berkata kasar.”
“Bah !! Mana mungkin ! Ava yang asli gak pernah ingat jadi senaif ini, brengsek !!”
“Ava yang asli tidak pernah ingat jadi seliar ini sebelumnya.”
“Itu karena Ava yang asli gak pernah anemsia, bajingan !!”
“Kalian berdua diamlah, BANGSAT !!”
Seketika itu juga, tidak ada suara sama sekali yang terdengar. Hanya ada keheningan. Sialan, saking kerasnya aku berteriak, sampai-sampai aku kehabisan suara dan ngos-ngosan saat ini. Paling tidak, itu setimpal dengan hasilnya. Dua bocah brengsek ini diam dan tidak lanjut membingungkan otakku setelahnya.
“Kalian berdua...... Kenapa kita tidak berjalan bersama aja ?”
“Cih ! Ava yang asli gak mungkin sudi, ****** !!” ucap keduanya secara serempak.
Dua orang ini !!!!
Beberapa saat kemudian, ketika aku sedang berjalan di antara gedung-gedung tinggi Las Vegas dan juga dikelilingi dua Ava yang tidak henti-hentinya bertengkar bukan tanpa sebab. Mereka sedang memperjuangkan keaslian diri mereka terhadap satu sama lain. Keduanya saling menyerang dengan pedang, dan keduanya saling berlindung dari balik perisai. Tidak peduli mana Ava yang asli ataupun yang palsu, dua-duanya tetap sama, sangat berisik, bangsat !!
“Cih, lupakan saja. Toh, kita berdua memang mirip.”
“Baiklah.”
Akhirnya, sebuah kedamaian !
“Kenapa nggak dari tadi aja, bangsat !?” seruku sambil memukul kepala Ava yang ada di kiri ku.
Ia hanya meringis kesakitan, namun tidak membalas balik dengan kata-kata mutiara atau apa. Kami bertiga berhenti saat itu, dan Ava yang ada di kanan menoleh ke arahku sambil menatap dengan tajam.
“Apa ? Mau balas dendam ? Kalian berdua yang membuatku kesal, tahu.”
“Bukan itu, bodoh. Kita disini malah lupa dengan orang yang meneror kita barusan.”
“Oh, benar juga. Asteri namanya......”
“Kamu kenal dengan si pembunuh itu ?” tanya Ava yang ada di kananku.
Sialan, aku malah keceplosan. Tapi itu tidak apa-apa, semuanya harus bekerja sama untuk saat ini. Kami bertiga, sedang diteror oleh orang yang sama.
“Anggap aja itu adalah rahasia dariku. Kalian berdua, tahu apa tentang orang itu ?”
Kedua Ava mulai berpikir, dan sepertinya Ava yang ada di kananku mau menjawabnya duluan. Setelah menaruh jari telunjuknya di dekat mulut sambil mengingat-ingat sesuatu, Ava yang ada di kanan mulai berbicara.
“Sepertinya, aku terbangun di tengah-tengah jalan, dan semuanya kosong, tidak ada apa-apa. Entah kenapa, tapi tiba-tiba aku merasakan seperti ada yang memaksaku untuk berjalan ke rumah, padahal tidak ada siapapun di sekitar.”
Sialan, itu aneh sekali. Kemudian aku menoleh ke arah Ava yang ada di kiri. Dari wajahnya, dia sepertinya tahu banyak tentang Asteri, entah apa itu. Ia membuka mulutnya.
__ADS_1
“Aku..... Terbangun di sebuah restoran bersama teman-temanku, saat aku berulang tahun yang ke dua puluh tahun.”
“APA !!?”
Aku dan Ava yang ada di kanan sontak menanyakan hal yang sama, membuat Ava yang di kiri terkejut dan langsung keluar dari keseriusan miliknya saat itu.
“Cerita ku belum selesai, bodoh !!”
“Uh, maaf.” ucap kami berdua.
“Ehem ! Bagaimanapun, aku hanya mengikuti alurnya saja, sampai pesta ulang tahun itu selesai seperti biasanya. Setelah aku keluar dari restoran itu bersama teman-temanku itu, aku sempat menjauhi mereka sebentar, kemudian menelpon ibuku.”
“Dan saat itu, kamu menyuruh ibumu menyelamatkanku dari si pembunuh, Asteri itu, bukan ?”
“Benar. Awalnya itu hanyalah perasaanku saja, jika kamu ikut masuk ke ruangan itu mengikuti aku, maka kamu seharusnya mengalami hal yang sama. Ibuku tidak peduli sama sekali tentang itu, dan ia justru menyuruhku untuk pulang ke rumah. Selain merayakan ulang tahun bersama dengannya, sekaligus juga menemaninya yang sedang sendirian.”
“Ava, apa ibumu mengalami hal yang aneh saat itu ?”
“Benar juga, aku ingat sesuatu. Waktu itu, ibuku menelpon sambil berjalan menuju pintu rumah. Katanya, setelah dia keluar dari kamarnya, ia sudah menemukan pintu rumah yang terbuka lebar. Seperti ada seseorang yang keluar dari rumahnya saat dia masih berada di dalam kamar.”
Ava yang ada di kanan berjalan ke sampingku, dan menatap Ava yang satunya dengan tatapan yang serius juga. Ini mulai aneh. Seseorang, keluar dari rumah Rachette ? Jangan-jangan.....
“Apa itu hanya kebetulan ? Karena saat aku berjalan ke rumah, aku bertemu dengan seseorang yang berjalan dari arah rumah.”
“Orang itu seperti apa !?” tanyaku kepadanya.
“Hoodie hitam, dengan sesuatu seperti topeng....”
Topeng kayu. Itu berarti, Asteri sudah keluar dari dalam rumah sebelum aku terbangun. Mungkin sebelum itu, dia ada di dalam rumah Rachette untuk menaruh tubuhku di dalam kamar Ava, dan secara diam-diam, keluar dari dalam sana ? Terus kalau begitu, yang aku lihat di tangga dan juga yang membunuh Rachette siapa ?
“Eva, sepertinya kita bisa menyimpulkan sesuatu. Orang itu, dia bisa mengulang waktu ke masa lalu.”
Kalau memang itu adalah jawabannya, berarti yang aku dan Rachette lihat selama ini hanyalah bayangan dari masa lalunya saja. Semua yang ia lakukan di dalam rumah, seperti berjalan dengan santai, dan berhenti di atas tangga sambil mengamati aku dan Rachette, itu bukanlah dia. Itu masuk akal. Asteri bukan sedang mengamati aku dan Rachette saat itu. Dia, sedang mengamati apakah rumah sedang kosong atau tidak ! Dia kemudian berjalan ke arah kamar yang ada di belakang, dan setelah itu apa ? Jangan-jangan, dia tidak membuka pintu kamar belakang itu. Dia keluar lewat pintu utama, kemudian berputar ke belakang jendela kamar tersebut ? Mengangkat tangannya yang membawa pemukul, dan kemudian memperkirakan kekuatan pukulannya ? Itu berarti, saat kaca jendela tersebut masih utuh, itu sebenarnya sudah tidak utuh lagi. Asteri, memutar kembali waktu agar kaca jendela tersebut kembali seperti semula, dan kejadian itu akan terus berulang kembali ! Dan tibalah saat Rachette berdiri di depan jendela itu, sebelum akhirnya, kejadian yang terulang tersebut, saat Asteri memukul kaca jendela, pemukulnya juga mengenai kepala Rachette ? Jangan bilang, Asteri yang asli sudah ada di kota ini sejak lama !?
“Kalau begitu.....”
Aku dan kedua Ava sepertinya telah menyimpulkan hal yang sama, bahwa si pembunuh bertopeng kayu itu, telah menunggu di kota ini.
“Ava, kalau memang benar orang itu bisa mengulang masa lalu dan meninggalkan bayangan masa lalunya untuk melakukan hal yang berulang, apa itu berarti dia sudah melakukan banyak hal di kota ini dan meninggalkannya sebagai jebakan ?”
“Sepertinya begitu.”
Kota ini, tidak aman sama sekali.
...****************...
“Ava, di mana restoran mu itu ?”
“Kamu ngerayain ulang tahun di restoran yang kayak gini ?”
“Memang apa masalahnya, bodoh !!?”
“Bukan begitu. Maksudku- Lupakan saja. Kita mulai dari sini dulu. Mungkin saja, si topeng kayu itu mulai dari sini.”
Dipikir-pikir lagi, Ava yang sukanya emosian ini, adalah Ava yang asli. Nama lengkap Ava waktu itu, adalah Ava Lunae. Jadi mulai sekarang, aku akan memanggil Ava yang asli dengan nama Ava, sementara yang satunya lagi dengan Lunae. Nah, itu jauh lebih mudah bagiku. Aku berbalik ke arah mereka berdua, sambil menaruh kedua tanganku di pinggang.
“Kalian berdua, aku ada ide brilian ! Bagaimana kalau aku memanggil kamu dengan Ava....(sambil menunjuk ke arah Ava yang di kiri) dan kamu adalah Lunae ? (sambil menunjuk ke arah Ava yang ada di kanan). Sama-sama Ava, kan ?”
“(Sigh) Terserah. Setidaknya bukan Ava satu dan Ava dua.” gumam Ava.
Otakku memang selalu dipenuhi dengan ide-ide jenius, itulah aku. Sepertinya mereka berdua tidak apa-apa dengan itu, jadi aku lanjut berjalan ke dalam Wendy's, bersama dengan mereka berdua juga.
Aku membuka pintu dorongnya dengan hati-hati. Siapa tahu ada sesuatu di sini. Memang seharusnya ada sesuatu yang terjadi di sini. Baik di luar maupun di dalam restoran ini, tidak ada siapapun kecuali kami bertiga. Walaupun begitu, masih ada burger dan kentang goreng yang hangat di beberapa mejanya. Ini membuatku berpikir, apa yang terjadi pada para pelanggan dan orang yang lain sebenarnya ?
“Oi, Eva. Burger ini baru saja dipesan kayaknya.” ucap Ava sambil mengambil sebuah burger yang terletak di meja bagian kiri pintu masuk.
Aku sendiri dapat merasakan hawa hangat dari burger itu, memang seperti baru saja selesai digoreng. Lalu kemana orang yang memesannya.
“Aku lebih suka kentang sebenarnya.” ucapku sambil memungut beberapa kentang goreng dari tempatnya, dan kemudian berjalan ke arah tempat pemesanan.
“Oi, mau kemana ?” tanya Ava.
“Mencari sesuatu pastinya.” jawabku sambil masuk ke dalamnya.
Baik Ava ataupun Lunae, tidak ada satupun dari mereka yang mengikuti ku. Lupakan saja, lagipula tempat ini juga agak sempit buat tiga orang masuk secara bersamaan. Setelah melewati beberapa tempat penyimpanan makanan, akhirnya aku sampai di dapurnya. Di sana, ada sebuah topeng kayu yang terletak di atas kompor paling ujung.
“Apa maksudnya sebenarnya ?”
Aku menghampiri topeng kayu tersebut, kemudian mengambilnya dan memutar ke bagian belakangnya. Terlihat sebuah tulisan dari darah tertulis di sana.
Kenapa kamu meninggalkan ayah ?
Luar biasa. Jadi Asteri juga mengenalku ? Hanya ada satu pertanyaan lagi sekarang. Kenapa Asteri bisa hidup saat ini ? Padahal Rigel sendiri yang mengatakan bahwa putrinya meninggal saat umur 5 tahun. Bagaimanapun juga, aku harus segera memberitahukan ini pada mereka. Si pembunuh itu, aku punya perasaan kalau dia sepertinya akan segera beraksi saat ini juga.
Aku berjalan kembali dari dapur sambil membawa topeng itu dan akan segera keluar dari sana. Namun, dialog antar Ava dan Lunae membuatku berhenti sejenak dan ingin mendengarnya dari kejauhan.
“Aku hanyalah pecahan dari masa lalu mu sebenarnya. Kamu seharusnya sudah menyadari hal itu sejak lama. Ava, di masa depan itu, aku jadi apa nantinya ?”
Mereka jadi seperti kakak beradik sekarang. Biarkan saja mereka berdua saling berbicara saat ini. Aku tidak akan mengganggu mereka sebentar saja.
“Sangat buruk, sampai-sampai aku juga mau kembali ke masa lalu. Hanya ada depresi, dan sakit-sakitan saja.”
__ADS_1
Ava selama ini sakit-sakitan ? Kenapa dia terlihat sangat normal saat ada di SCR ? Aku tidak pernah melihatnya muntah darah atau apa selama ini. Dia justru terlihat jauh lebih sehat malah daripada aku. Apa semua tawa dan senyum lebarnya itu hanyalah untuk menutupi seluruh penyakitnya ?
“Sakit apa ?” tanya Lunae.
“Kadang-kadang, aku merasa seperti sudah mati, dan kemudian hidup lagi. Begitulah seterusnya.”
“Itu..... Agak mengerikan.”
Tidak mungkin. Dia justru terlihat seperti memiliki kehidupan yang jauh lebih menyenangkan daripada aku. Sejak pertama kali aku mulai dekat dengannya, aku sangat tahu kalau dia adalah anak yang dimanja sama orang tuanya. Dia jauh lebih hidup dengan sifatnya itu daripada aku sendiri. Dan sekarang, saat aku mengetahui bahwa Ava juga tinggal di rumah mewah, aku menjadi sangat yakin kalau kehidupannya itu selalu dipenuhi kebahagiaan. Tidak punya masalah sama sekali, dan punya kehidupan normal seperti manusia yang pada umumnya. Apa yang membuat dirinya harus mengatakan bahwa selama hidupnya ia seperti sangatlah tersiksa seperti itu ?
Sudah cukup ngupingnya. Aku keluar dari tempat persembunyian ku, sambil menunjukkan topeng kayu ini pada mereka.
“Hei, kalian berdua. Aku menemukan ini- tunggu, dimana Lunae ?”
Lunae sudah tidak ada lagi di dekat Ava. Kemana perginya si bocah itu ?
“Seperti yang dia bilang, dia hanyalah pecahan dari masa lalu ku, dan setelah itu dia menghilang begitu saja, menjadi debu. Sepertinya, itu juga hal yang sama dengan orang-orang yang ada di kota ini. Mereka hanyalah bagian dari masa lalu, jadi wujud mereka bukanlah manusia yang sebenarnya.”
“Lunae..... Menghilang ? Padahal aku belum akrab dengannya.....”
“Jangan sedih gitu, Eva. Masih ada aku disini, kan ?” ucapnya sambil berjalan mendekati aku.
“Bagaimana bisa aku tidak sedih, kalau kamu...... Ternyata sakit-sakitan !?”
“Oh, kamu dengar semuanya.”
Ava terlihat sangat santai, bahkan saat aku dengan jelas mengatakan secara tidak langsung aku sempat menguping pembicaraannya dengan Lunae. Bukannya marah, justru senyuman di wajahnya yang aku lihat. Seolah dia sudah terbiasa dengan penyakitnya, apapun itu.
“Aku tidak apa-apa kok, Eva !”
Yah, semoga saja yang dikatakannya itu benar, dan dia hidup lebih lama lagi. Semoga saja, penyakitnya itu sembuh. Karena, aku merasa sudah seperti saudara saat bersama dengannya.
Namun tiba-tiba, seluruh senyumannya itu menghilang seketika digantikan dengan ekspresi yang sangat terkejut. Dia, seperti baru saja melihat hantu.
“Eva, belakangmu !!”
“Apa !?”
Aku dengan cepat menoleh ke belakang, dan hampir saja kepalaku kena pukul lagi oleh serangan seseorang. Aku menangkis serangan dari pemukul kayu itu dengan kedua punggung tanganku, yang membuat aku kini terpojok di dinding selagi berhadap-hadapan dengan si pelaku brengsek selama ini.
“Asteri, apa itu benar-benar kamu !!?”
“Diam saja, dan matilah, brengsek !!”
Asteri menekan pemukul kayunya ke kedua tanganku lebih kuat lagi. Jadi sebelum tulang-tulang tanganku hancur karena ulahnya, terpaksa aku harus menggunakan kekuatan itu lagi, untuk menghempaskannya ke ujung tembok dari tempat pemesanan. Aku menghela nafas lega, sebelum kemudian menoleh ke arah Ava.
“Ava, lari dari sini, sekarang !!”
Ava terlihat sangat kebingungan dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Tentu saja, karena dia tidak tahu aku punya kekuatan super dan semacamnya. Setelah ragu selama beberapa saat, dia pun akhirnya lari keluar dari restoran ini secepat kilat.
Sementara itu, setelah meringis kesakitan selama beberapa saat, Asteri bangkit berdiri kembali dan menatapku sambil menggeram. Ada yang salah dengan mental anak ini sepertinya.
“Asteri, apa mau mu sebenarnya, bangsat !?”
“Aku, disuruh oleh bintang merah untuk membasmi produk gagal sepertimu, bangsat !! Jadi..... Matilah !!”
Dia tidak se-profesional seperti yang aku kira. Ia berlari ke arahku, yang membuatku semakin mudah untuk menyerang balik dirinya. Seharusnya dia tahu kalau aku sedang menggunakan kekuatan super saat ini, tapi entahlah. Setidaknya kebodohannya itu sangat membantuku untuk melemparkan dirinya hingga keluar dari jendela besar restoran ini.
“Semoga saja si brengsek itu tidak mengejar Ava !!”
Setelah memanjat meja pemesanan, aku melompat hingga keluar dari Wendy's lewat jendela yang sama juga, seketika menyambar Asteri yang baru saja berdiri kembali. Itu..... Benar-benar tidak disengaja.
“Jangan coba-coba sentuh Ava, bocah !!”
“Aku bukan bocah !!”
“Diam !! Kelakuanmu memang kayak bocah, bangsat !!”
Setelah berguling-guling di atas jalanan sebanyak tiga kali sepertinya, aku memukul pipi Asteri hingga ia terlempar jauh ke belakang dan menabrak sebuah display promosi di trotoar. Wajahnya masih tertutup oleh topeng kayunya yang sangat keras, yang mana berarti, topeng kayu yang barusan saja aku ambil itu juga merupakan bayangan dari masa lalunya. Buat apa dia melakukan itu, bodoh !?
Aku bangkit berdiri dan menatap Asteri yang sedang meringis kesakitan dengan tajam. Ava ada di kananku saat ini, dan dia diam saja. Entah karena saking ketakutannya atau apa, sehingga dia mematung untuk saat ini. Bagaimanapun, aku tidak boleh membiarkan bocah yang tidak diajari sopan santun ini memukul Ava yang sakit-sakitan.
“Aku tahu kamu sudah membunuh banyak orang di luar sana kan, bocah !? Buat apa, bangsat !!?”
“Aku benci manusia..... Aku benci manusia !!”
Asteri berteriak sekencang mungkin, namun suaranya itu seperti tidak berpengaruh sama sekali terhadap telingaku. Ia berlari dengan cepat ke arahku, sambil mengangkat pemukul kayunya.
“Cih, kelakuanmu itu memang seperti bocah, bangsat !!”
Di saat ia mengayunkan pemukul kayunya ke kepala ku, aku sudah ikut menggenggam gagang pemukul kayunya itu dengan tangan kanan, sementara tangan kiri ku menahan kedua tangannya yang memegang senjatanya dengan erat-erat. Dengan sebuah dorongan yang kuat, aku menghempaskan Asteri kembali ke belakang, sekaligus berhasil mengambil alih senjatanya di tanganku saat ini. Sekarang, ini adalah kesempatanku untuk menghajar balik bocah kurang ajar ini dengan sekuat tenaga. Aku berlari ke arahnya, sambil berteriak karena kemarahan yang membludak.
“Harusnya pembunuh seperti kamu yang mati, bocah !!”
Dengan cepat, aku mengayunkan pemukul kayunya tepat ke bagian depan topeng kayu Asteri, yang membuat dirinya berteriak kesakitan dengan kencang. Tepat di saat itu juga, sebuah kejadian aneh terjadi di area sekitarku, dan sepertinya Ava juga menyadarinya. Mataku, dapat melihat retakan-retakan kaca mulai bermunculan di seluruh kota Las Vegas ini, sebelum akhirnya seluruh kota yang megah tersebut digantikan oleh sebuah dimensi lain bersamaan dengan jatuhnya Asteri ke lantai dimensi lain ini.
“Sialan..... Dimana ini ?”
Nafasku terengah-engah. Aku dan Ava melakukan hal yang sama, yaitu melihat ke sekeliling. Apa yang kami lihat tetaplah sama saja.
Baik depan, belakang, kiri, kanan, maupun bagian bawah berwarna sama. Hanya ada cahaya putih redup yang muncul dari atas sana. Sisanya...... Semuanya adalah abu-abu.
__ADS_1