
Pada awalnya, sebuah bintang hanyalah kekosongan. Namun saat gas dan debu-debu di luar angkasa saling bertemu, takdir dari bintang tersebut pun mulai ditenun satu per satu oleh ketiga Moirai. Ketika gas dan debu itu mulai bertumpuk, sebuah awan molekuler tercipta. Awan tersebut terutama terdiri dari gas hidrogen, dan beberapa unsur yang lainnya.
Di dalam awan molekuler tersebut, ada sebuah area dengan kepadatan lebih tinggi di mana gravitasi menyebabkan gas dan debu menggumpal. Saat gumpalan ini menjadi lebih padat dan masif, tarikan gravitasinya menjadi lebih kuat, menarik lebih banyak material ke arahnya.
Saat gumpalan gas dan debu terus berkontraksi karena gravitasi, ia membentuk apa yang dikenal sebagai protobintang, bintang muda yang sedang berkembang yang belum cukup panas untuk menjalani fusi nuklir pada intinya.
Selama keruntuhan, materi yang berputar-putar di sekitar protobintang membentuk piringan akresi karena kekekalan momentum sudut. Disk terus memberi makan protobintang yang tumbuh dengan lebih banyak massa.
Ketika protobintang bertambah semakin banyak massa dari piringan di sekitarnya, tekanan dan suhu pada intinya meningkat. Akhirnya, inti mencapai suhu sekitar 10 juta derajat Celcius, memulai fusi nuklir.
Suhu dan tekanan tinggi pada inti protobintang memicu fusi nuklir, di mana atom hidrogen bergabung bersama untuk membentuk helium, melepaskan sejumlah besar energi dalam proses tersebut. Ini menandai kelahiran bintang deret utama, bintang yang menggabungkan hidrogen menjadi helium pada intinya, jenis bintang paling umum di alam semesta.
Dan setelah semua proses yang cukup kompleks dan sulit untuk dipahami itu, sebuah bintang yang memancarkan sinar terangnya di antara kegelapan luar angkasa pun terlahir. Setelah bintang mencapai keadaan kesetimbangan antara tekanan keluar dari fusi nuklir dan gaya gravitasi ke dalam, ia memasuki fase stabil yang dikenal sebagai deret utama, di mana ia akan menghabiskan sebagian besar masa hidupnya.
Dia adalah Asteri, bintang baru ku yang paling berharga.
****************
Asteri menyeret tubuhnya sendiri menjauhi aku dan Ava. Tidak ada waktu untuk memikirkan dimensi macam apa ini, karena aku dan Ava sama-sama yakin kalau tubuh kami yang asli masih ada di ruangan aneh yang gelap itu. Aku dan Ava berjalan secara perlahan mendekati Asteri, sebelum akhirnya berhenti mendadak karena ada sebuah rerumputan berbunga tiba-tiba muncul di depan kami.
“Apa-apaan ini ?”
“Sepertinya, bocah ini melakukan itu lagi, tapi gagal.”
Begitu mendengar itu dari aku, Ava langsung menoleh ke arah Asteri sambil menyeringai dengan tajam. Sepertinya akan ada hal yang berbahaya terjadi tidak lama lagi.
“Heh, sudah tidak bisa apa-apa lagi, huh, bocah ?”
Walaupun topengnya masih belum hancur juga, tapi aku bisa melihat ketakutan yang luar biasa di wajahnya. Dugaanku memang benar, Ava bakalan melakukan sesuatu hal 'iblis' setelah ini. Aku harus menghentikannya !
“Jangan kira bisa lari sekarang, brengsek !!”
“Ava, jangan pukuli dia, bodoh !! Dia masih anak-anak !!”
“Anak-anak apanya !? Bocah ini sudah membunuh banyak orang tahu ! Ibuku mati gara-gara dia !!”
Aku tetap menahan tangan kirinya supaya dia tidak bisa berjalan menghampiri Asteri selain dengan menyeret aku bersama dengannya. Aku terus menghiraukan tatapannya yang tajam dan penuh kekesalan itu, yang ia arahkan padaku. Ava masih saja kekeh, dan akhirnya berjalan sambil menyeret ku bersama dengannya menggunakan kekuatan penuh miliknya. Aku tidak mungkin menahannya dengan kekuatan super ku. Tangannya bisa-bisa malah hancur lebur nanti.
“Pastiin jangan pukul kepalanya itu, bangsat !! Kalau nggak, pantatmu nanti yang bakal jadi korbannya !!”
“Lu ini kenapa sih, anjing !! Bocah pembunuh kurang ajar kayak dia memang pantes buat dihajar, bego !!”
“Aku begini gara-gara kamu udah kayak masuk ke mode iblis, bangsat !! Dia itu..... Masih anak-anak !!!”
Ava mengeluarkan sebuah teriakan frustrasi yang keras. Aku bahkan bisa merasakan tekanan mentalnya yang sangat kuat dari sini. Kalau saja aku tidak menahannya sampai mati-matian seperti saat ini, mungkin saja Ava sudah memukuli Asteri sambil kehilangan kewarasannya.
“Aku tahu lu udah dendam kesumat sama ni bocah, tapi kita bisa selesaiin ini baik-baik, kan!?”
“Selesaiin baik-baik gimana, kimank !? Dia bukan pembunuh biasa yang bisa diajak ke pengacara, bodoh !! Kalo pun pake pengacara, pasti ga bakal diurusin karena semuanya korupsi, tahu !!”
“Kenapa sekarang malah bahas tentang korupsi, bangsat !?”
Benar-benar kacau. Pertengkaran kami berdua begitu hebat hingga konflik perang dunia kedua pun kalah hebatnya dengan ini. Setidaknya, itu memberi waktu bagi Asteri di bocah bajingan yang tidak tahu diri ini untuk menjebak kami berdua di dimensi yang lainnya lagi. Sesuatu yang lebih mengerikan, pastinya.
“Oi, Ava..... Ini dimana ?”
“Jangan tanya aku, bodoh !! Semuanya gara-gara kamu, tahu !!!”
“Uh...... Hehe.”
Ku akui, aku memang yang bersalah dan yang paling bodoh saat ini. Karena aku menahan Ava untuk mengebom kepala Asteri dengan pukulannya itu, di sinilah kami berdua akhirnya berakhir sekarang, di sebuah dimensi aneh yang seluruhnya berwarna kemerah-merahan.
“Panas sekali...... Ini neraka ?”
“Ini neraka.”
Penuh dengan keyakinan sekali jawabannya itu. Tapi memang sepertinya, ini adalah neraka. Sangat-sangat mengerikan. Di kejauhan, aku melihat ribuan manusia yang berada di bawah sebuah lereng gunung sedang berjalan sambil mengangkat sesuatu seperti karung besar di punggung mereka. Aku menoleh ke arah Ava, dan Ava pun sepertinya juga tidak tahu apa yang ada di bawah sana itu.
“(Sigh) Mau gimana lagi ? Kita terpaksa harus ke sana, bukan ?”
“Tapi aku atut !!!!” ucapku sambil menatap wajah Ava dengan wajah manja, menempelkan diri ke lengan kirinya. Seketika itu juga, Ava menatapku dengan jijik disertai sebuah decihan kesal, kemudian mendorongku ke belakang dengan kekuatan penuh. Itu..... Sangat wajar untuk dia lakukan.
“Lu kira gw gak takut, hah !?” serunya.
Sialan, Ava benar-benar mengerikan kalau sudah marah besar seperti ini. Sebaiknya aku hanya mengikutinya dari belakang dan menjadi seorang teman yang diam, baik, dan juga penurut.
Dan begitulah. Perjalanan kami menyusuri apa yang sepertinya neraka ini pun dimulai.
****************
Neraka pertama : Lereng gunung.
Aku dan Ava telah menuruni jalan hingga ke lereng gunung, memasuki sebuah area dengan sebuah papan kayu bertuliskan Mons Clivo, entah apa artinya itu. Seperti yang kami lihat dari atas barusan, pemandangan di sini tetap sama saja, hanya saja terlihat lebih mengerikan karena melihatnya dari dekat. Manusia-manusia yang ada di sini, hanya berjalan ke arah barat, mengangkat sebuah karung dengan batu bara terbakar di dalamnya, dan kaki mereka, secara langsung menginjak-injak batuan lava seraya mereka berjalan ke arah yang sepertinya tanpa tujuan sama sekali, dan tanpa henti pula. Aku..... Aku tidak bisa membayangkan apa yang mereka rasakan saat ini !!
“Ava..... Kamu tidak kasihan dengan mereka ??”
Ava tidak menjawab. Aku menoleh ke arahnya, dan ternyata dia sedang menutup matanya saat ini, jauh lebih tidak tahan melihat siksaan mereka daripada aku.
“Jangan tanya, bodoh.” jawabnya beberapa saat kemudian, masih dengan menutup matanya.
Neraka kedua : Ruang makan.
Aku terpaksa berjalan melewati barisan orang-orang yang disiksa di atas batuan lava itu sambil menuntun Ava berjalan ke area selanjutnya karena dia tidak akan pernah membuka matanya selama ada hal yang mengerikan di depannya. Satu-satunya tempat yang bisa kami masuki saat ini adalah sebuah bangunan yang berbentuk seperti kubah berwarna merah, sementara jalan yang lainnya hanya terlihat seperti jalan memutar saja. Setelah mengatakan permisi berkali-kali sambil melewati mereka yang tersiksa dan juga mendapatkan tatapan mereka yang begitu tajam, kami berdua akhirnya tiba di depan pintu kubah merah tua tersebut.
“Kamu sudah bisa membuka mata sekarang, Ava.”
__ADS_1
“Gak akan. Aku bakal pura-pura buta selama ada di tempat ini. Aku berpegang teguh padamu, Eva.”
“A-apa !? Jangan buat aku melihat semuanya sendirian, ******......”
Terpaksa, aku benar-benar terpaksa untuk melihat semua adegan horor di tempat ini sendirian. Setidaknya, masih ada Ava di sampingku saat ini, walaupun ia tidak ikut melihat semuanya bersamaku. Aku membuka pintu kubah itu, kemudian berjalan masuk sambil menggandeng tangan Ava menuju ke dalamnya. Tepat di atas langit-langit setelah pintu masuk, ada sebuah papan kayu yang bertuliskan Festum Daemoniorum. Setelah berjalan beberapa langkah, tibalah kami di ruang utamanya, yang penuh dengan meja makan panjang dan manusia-manusia hidup yang berada di atas piring sesaji.
Para manusia di piring-piring itu...... Masih hidup. Sementara di bagian kursi, banyak makhluk-makhluk aneh yang menusukkan garpu dan pisau mereka untuk mencabik-cabik tubuh para manusia itu, kemudian memakan daging mereka begitu saja !! Teriakan kesakitan ada dimana-mana, memenuhi gendang telinga ku dan juga Ava pastinya. Ava terlihat sangat kebingungan dan juga ketakutan, dan dengan cepat, ia langsung memeluk tanganku yang sedang menggandengnya.
“Ada apa disini !? Kenapa semuanya teriak-teriak, ****** !!?”
Walaupun aku sedang dilanda oleh rasa takut yang begitu dahsyat saat ini, tetap saja, ini adalah waktunya bagiku untuk membalas dendam pada si brengsek yang tidak mau menderita bersamaku saat ini. Santai saja, ini hanya akan menjadi sebuah prank kecil-kecilan, sangat kecil dan manusiawi menurutku.
“Para iblis makan manusia hidup-hidup...... Dan semuanya itu adalah kamu, Ava.”
“A-....... APA !!?”
Matanya terbuka lebar di saat itu juga, dan teriakannya langsung menggema hingga ke bagian paling ujung dari bangunan ini. Dan yang lebih buruknya lagi, adalah hal pertama yang dilihatnya setelah membuka matanya itu. Tenang saja, tidak ada yang menoleh ke arah kami....... Tidak ada, sama sekali tidak.....
****************
“Apakah ini pilihan terakhir mu, bintang biru ?”
Rigel tidak menjawab. Ia tetap berjalan meninggalkan sang bintang merah yang ada di belakangnya, pergi dari apa yang terlihat seperti neraka. Itu adalah awal mula dari kehidupan baru Rigel sebagai seorang iblis di dunia manusia. Semua manusia mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Dia adalah sang penghancur, sang pembunuh, dan sang pembawa keputusasaan. Perang besar dideklarasikan hanya untuk memerangi dirinya. Setiap kali Rigel menahan dirinya dari membunuh manusia, siksaan yang hebat lah yang datang menimpanya.
Pada akhirnya, ia terpaksa harus membunuh seorang manusia yang dia anggap sebagai seorang yang hebat. Ia memandang manusia itu sebagai raja yang paling bijak, dan keputusannya untuk mengejar Rigel habis-habisan memang adalah pilihan yang baik. Rigel, memberikan kematian yang tidak menyakitkan bagi raja bijak tersebut.
Seumur hidupnya, ia hanya dirundung oleh keputusasaan yang kekal, dan yang mutlak. Namun itu semua hilang seketika saat ia mengembara hingga ke dalam hutan, dan akhirnya bertemu dengan seseorang. Seorang wanita yang bukan hanya cantik, namun juga menerima dirinya bagaikan Rigel adalah seorang manusia biasa, sama seperti yang lainnya. Rambut pirang keemasannya yang indah, dan senyuman lembut wanita itu yang terlihat di setiap harinya, adalah apa yang membuat Rigel akhirnya mampu untuk keluar dari masa lalunya yang kelam. Bagaikan gas dan debu yang saling bertemu di kehampaan ruang angkasa, hutan kecil yang kosong itu terasa hidup seketika saat mereka berdua saling bertemu dan memutuskan untuk hidup bersama. Takdir mereka mulai ditenun satu per satu oleh ketiga Moirai, dan mereka seperti hidup di atas awan, seakan seluruh dunia adalah milik mereka sendiri.
Rigel hanya membutuhkan wanita itu untuk hidup, begitu juga dengan sebaliknya. Benih cinta mulai tumbuh di antara mereka, dan akhirnya pada suatu hari, wanita itu jatuh sakit bagaikan ditarik oleh kekuatan gravitasi yang hebat di dalam awan molekuler. Namun keduanya bukan sedih ataupun menangis. Mereka berdua justru berbahagia, karena di dalam rahim wanita tersebut, sebuah protobintang mulai terbentuk.
Setelah selama 9 bulan menunggu, teriakan kesakitan terdengar begitu keras hingga hampir di seluruh hutan. Protobintang itu, akhirnya lahir ke dalam dunia ini, di sebuah hutan yang sunyi dan senyap, di antara kehampaan ruang angkasa.
Namanya Asteri, sang bintang muda yang masih naif, tidak tahu tentang apa-apa. Ia hanya berlarian kesana-kemari, berteman dengan banyak hewan-hewan liar di hutan, dan menyapa siapapun manusia yang ia temui di hutan itu. Ia kekurangan material untuk memicu fusi nuklir. Asteri masih belum cukup panas untuk memahami betapa kejamnya dunia yang saat ini ia tinggali.
Sang pemotong pohon, si pemilik bordir, dan si koki yang ramah. Mereka bertiga berteman sangat dekat dengan Asteri, namun mereka jugalah yang membunuh gadis yang naif itu bersama dengan ibunya. Sebuah keruntuhan terjadi, menciptakan piringan akresi yang pada akhirnya memicu fusi nuklir pada sebuah bintang baru. Ketiga orang itu mengatakan rahasia yang disimpan oleh Asteri selama ini, yaitu bahwa ayahnya adalah setengah dewa. Orang-orang yang mendengar itupun langsung datang ke dalam hutan, membakar habis rumah kecil-kecilan keluarga Rigel yang selalu harmonis selama ini. Begitu Rigel pulang dari pekerjaannya mencari bahan makanan, yang ia lihat hanyalah sebuah reruntuhan dari rumahnya, yang hancur lebur dan jatuh ke tanah akibat tarikan gravitasi.
Gadis yang tidak punya salah ataupun dosa selama hidupnya, dilemparkan dan dijatuhkan ke neraka tanpa sebab. Ia disiksa tanpa henti di neraka kelima, tempat dimana orang-orang terus menggeliat di atas batang besi yang terpasang di antara tebing-tebing curam, yang menusuk lubang ***** mereka dan akhirnya muncul kembali dari lubang mulut mereka yang terpaksa menganga dengan lebar untuk selamanya. Asteri, memiliki kasus yang spesial, dimana setiap harinya, sang bintang merah akan selalu membisikkan hal-hal yang jahat ke telinganya. Material itu semakin lama semakin tercukupi, hingga akhirnya, sebuah fusi nuklir pun terbentuk.
Sang bintang merah memberikannya kekuatan absolut, untuk memutar waktu yang terjadi di seluruh dunia. Bagaikan sebuah bom yang menghanguskan apa saja yang ada di sekitarnya saat menyentuh daratan, Asteri membunuh siapa saja yang ia temui di dunianya yang baru ini. Rasa benci, ketakutan, dan traumanya yang hebat, itulah bahan bakar yang membuat dirinya menjadi pembunuh seperti saat ini. Ia membenci semua manusia, semua orang yang mengkhianati nya dan yang membunuhnya juga. Ia rela menjadi tangan kanan sang bintang merah untuk membantunya dalam memenuhi keinginan sang cahaya utama, pembantaian.
Itukah, masa lalu Rigel dan Asteri ?
****************
“Aw, sakit juga......”
“Sudah bangun, hah !? Ini semua gara-gara kamu, bangsat nn”
Yah, prank yang kecil itu...... Entah kenapa, tapi seperti ada yang menyuntikkan keinginan balas dendam itu ke dalam otakku. Benar-benar keterlaluan, melakukan prank di antara para iblis di neraka.
“Jangan tanya aku, brengsek !!”
Kalimat itu lagi. Kalau aku coba ingat-ingat, Ava sudah mengatakan kalimat itu sebanyak tiga kali atau lebih mungkin. Lupakan saja tentang frase favoritnya itu, saat ini aku dan Ava sedang berada di sebuah hutan yang gelap sangat. Di sebelah kiri hutan depanku, ada papan kayu bertuliskan impalement ad desperandum unum. Yang kali ini panjang sekali namanya.
“Oi, Ava. Tangan kita dirantai ?”
“Yup, tangan kita dirantai.”
Waw, nasib sial macam apa ini ? Sudah dirantai di batang pohon, di dunia lain lagi.
“Jadi, kita matinya di neraka, huh ?”
“Sialan, itu sangat mengerikan.”
Begitulah, kami berdua hanya duduk diam menunggu nasib kami yang mengerikan di sini. Tapi tiba-tiba, otakku seperti dicerahkan oleh sesuatu yang seperti cahaya ilahi.
“Tunggu, bukannya aku punya kekuatan super ?”
“(Sigh) Dasar bodoh.”
Dengan kekuatanku yang perkasa, rantai yang mengikat tanganku itu bisa ku patahkan dengan mudah, sangat mudah seperti menyobek kertas. Ternyata nasib kami masih belum ditakdirkan mati di neraka seperti ini. Bukankah itu adalah momen 'awikwok' yang sangat lucu ?
“Ava, aku datang menolong mu !!!!”
“Cepat lakukan saja, bodoh !!”
“Baiklah, baiklah.....”
Singkatnya, aku membebaskan Ava juga, kemudian berjalan menyusuri neraka berbentuk hutan ini. Dan lagi-lagi seperti biasanya, Ava menutup mata, menaruh seluruh hidupnya pada tanganku. Membiarkan seluruh langkahnya, dituntun oleh aku......
Ava sialan !!!!!
Di neraka bagian ini, banyak batang besi yang ditancapkan secara horizontal di antara pohon-pohon dan beberapa di batu-batu besar. Manusia di sini ditusuk seperti sate, dan mereka masih hidup, masih sadar sepenuhnya. Kalau aku memberitahu Ava tentang ini, dia pasti langsung pingsan, karena mereka semua melihat ke arah Ava seperti dia adalah teman mereka sendiri.
Entah sampai kapan perjalanan di neraka manusia sate ini akan selesai. Dari yang awalnya hutan, sekarang sudah berubah menjadi tebing-tebing tinggi, dan manusia-manusia masih ditusuk seperti yang ada di hutan sebelumnya. Ava mulai bosan, sama seperti aku.
“Eva, ini sudah di tempat laen ?”
“Yup, kita sudah balik ke SCR lagi.”
.......
“Gak mungkin.”
Trauma, huh ? Sepertinya prank yang seperti itu tidak akan berguna lagi sekarang. Sialan, perjalanan ini jadi jauh lebih membosankan karena kamu, Ava.
__ADS_1
“Kalian tidak takut, huh ?”
“Siapa itu, anjink !!?” seru Ava sekeras mungkin yang dia bisa.
“Jangan tanya aku, bangsat !!”
Rasain tuh Uno reverse card dari aku. Omong-omong, Asteri saat muncul di hadapanku (karena Ava tidak melihatnya) secara tiba-tiba. Ia menutupi wajahnya hanya dengan tudung Hoodie, tidak menggunakan topeng kayunya lagi. Apakah ini tanda dari klimaksnya ?
“Kalian bertanya kenapa aku menjadi pembunuh, jadi aku membawa kalian ke sini.”
“Ke neraka ? Apa maksudmu sebenarnya !?”
Asteri membuka tudung Hoodie nya, secara sengaja memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan luka sayatan dimana-mana.
“Orang seperti kalian yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya di neraka, tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ada di neraka. Pembunuh yang ada di depan kalian berdua saat ini, lahir karena keputusasaan setelah tinggal hampir selamanya di neraka.”
Mimpi yang aku lihat sebelum terbangun di sini. Jadi memang benar kalau Asteri dilemparkan ke neraka setelah meninggal ? Kenapa si bintang merah itu, sampai sebegitu nya ??
“Ava, tetap disini.” bisikku kepadanya.
“Hah !? Memangnya kenapa !? Ini dimana !?”
“Ada sesuatu yang harus ku bicarakan dengan bocah pembunuh ini.”
“Si pembunuh ibuku itu katamu !? Biarkan aku menggampar kepalanya sekali saja, bangsat !!”
“Hush, mereka mengamatimu, tahu.”
Seketika itu juga, Ava langsung diam dan tidak berani bicara keras-keras lagi. Setelah memastikan kalau Ava sudah tidak berani bergerak selama beberapa saat, aku mulai berjalan mendekati Asteri yang tingginya mungkin hanya sebahuku saja. Mata kami saling menatap satu sama lain, dan Asteri sepertinya, juga tidak berniat menyerang lagi.
“Bintang merah itu..... Dia kan yang menyiksa mu di neraka selama ini ? Di neraka kelima ?”
“Kamu akhirnya mengerti juga. Dan coba tebak, siapa yang membuatku mati semuda ini dan akhirnya masuk neraka ?”
Jawabannya sudah pasti manusia. Karena hal yang sama itulah yang selalu dikatakan oleh Rigel, juga Asteri sendiri barusan lewat mimpi yang diberikannya padaku. Entah kenapa, tapi aku seperti bisa mengerti apa yang dirasakannya selama ini. Mungkin saja, itu karena mimpi tersebut.
“Asteri, kamu..... Tidak bisa lepas dari jeratan si bintang merah itu, kan ? Apa karena itu, kamu mulai membunuh manusia ?”
“Apakah menanyakan hal yang sudah kamu tahu jawabannya itu berguna ? Sudah pasti karenanya. Mau bagaimanapun aku berlari, bintang merah itu akan selalu menemukan aku. Tidak ada tempat persembunyian yang aman selain di neraka ini sendiri, karena di saat aku ada disini lah, dia tidak akan mencari ku.”
“Dan karena kekuatanmu juga, seluruh dunia ini menjadi kacau balau. Aku sudah pernah tinggal bersama dengan ayahmu, dan selama itu juga, dia selalu saja mengatakan hal yang sama setiap harinya. Dia merindukanmu, dan juga, dapat merasakan kamu masih hidup di dunia ini. Saat aku mengingat lagi tentang apa yang dibicarakannya itu sekarang, itu semua mulai masuk akal. Kamu menggunakan kekuatanmu sendiri memutar ulang waktu di saat kamu masih hidup, tapi karena itu juga seluruh dunia menjadi kacau sekarang. Itulah yang hanya bisa aku simpulkan setelah melihat apa yang bisa kamu lakukan dengan pemberian si bintang merah itu. Jadi, aku mohon..... Kembalikan dunia ke aslinya, yang seperti semula, Asteri !!”
Aku dengan aneh memohon-mohon kepadanya seperti sedang berdoa pada seorang dewi. Tetap saja Asteri tidak mengabulkan keinginanku begitu saja. Setidaknya, aku bisa menyimpulkan bahwa apa yang kukatakan sebelumnya ternyata memang benar, bisa terlihat dari wajah Asteri yang sedikit terkejut karena kepintaran logika ku itu.
“Tapi itu berarti, aku akan mati. Aku tidak mau mati di neraka ini, apalagi untuk selamanya. Bintang merah itu..... Dia..... Dia sangat menyeramkan !!”
Padahal awalnya tenang-tenang saja, tapi Asteri tiba-tiba berubah menjadi sangat ketakutan seperti ini ? Sebesar itukah ketakutannya dengan si bintang merah, sampai-sampai Asteri rela membunuh banyak manusia dan menjebak seluruh dunia di timeline yang baru ?
“Jangan kira, hanya karena kamu bisa berbicara santai denganku saat ini, itu akan menghentikan aku membunuh manusia lain setelahnya. Karena aku juga masih benci manusia, aku benci kalian semua !!”
Bocah ini..... Keras kepala sekali dia.
“Kalau begitu, pukuli saja aku berkali-kali sampai puas !! Jangan bilang kamu lupa dengan Ava, orang yang ada di belakangku saat ini !? Dia sangat membencimu karena kamulah yang membunuh ibunya yang tidak bersalah sama sekali padamu !! Asteri, dengarkan aku sekarang..... Tidak semua manusia itu jahat seperti yang kamu kira, bocah !! Aku, dan Ava, kami berdua sama-sama kehilangan seseorang yang kami sayangi. Aku pernah merasa dendam, begitu juga dengan dirinya yang sangat ingin menghajar mu, seperti yang kamu lihat barusan. Orang-orang yang tidak berdosa mati karena ulahmu dan ulah si bintang merah brengsek itu, kan ? Kalau begitu, aku akan menghajar si bintang merah sialan itu dengan tanganku sendiri ! Aku akan melindungi mu dari kejaran si brengsek itu. Kita, akan melawan si brengsek itu bersama-sama !! Asalkan kamu tidak membunuh orang lain lagi..... Aku, akan membantumu sebisa mungkin, bahkan kalau itu berarti aku kehilangan nyawaku sendiri !!”
“Eva, kenapa kamu harus sampai sebegitu nya membantu bocah pembunuh ini ?”
Ava tiba-tiba saja sudah ada di sampingku. Ia sudah membuka matanya ternyata. Benar-benar mengejutkan, tapi setidaknya, Ava akhirnya bisa menahan dendamnya itu pada Asteri setelah melihat bagaimana wajah Asteri selama ini. Asteri kemudian mendongak ke arah Ava karena badannya yang pendek itu, dan wajahnya terlihat penuh rasa penyesalan yang mendalam. Jangan bilang, ceramah no jutsu ku berhasil mencerahkan hatinya itu ?
“Kakak Ava, itukan namamu ? Aku..... Minta maaf.”
“Minta maaf doang ga bakal cukup, bocah !! Hmph !!”
Asteri kemudian membuka telapak tangan kanannya sambil mengamatinya, dan dari sana, muncul cahaya putih terang yang membuat aku dan Ava terpaksa menutup mata kami, begitu membutakan dan juga menyilaukan.
“Apa-apaan ini, Asteri !?”
“Eva, soal tentang mengembalikan bumi seperti semula yang kamu katakan itu..... Aku mungkin harus memikirkannya kembali. Tapi, asalkan apa yang kamu katakan itu memang benar...... Mungkin juga aku akan melakukannya. Asalkan, ada yang menemaniku saja......”
Tepat setelah Asteri selesai dengan kalimatnya, aku dan Ava melihat hal yang sama, sebuah kegelapan total. Yah, ini benar-benar mengerikan.
“Ava !!! Ini ada dimana, bangsat !!?”
“Tenang dulu, bodoh !! Kita sepertinya tidak sedang menginjak tanah !!”
“Eh !?”
Karena barusan aku panik sepanik-paniknya sampai lompat-lompat gak jelas, aku tidak mendengar dengan jelas suara yang ku hasilkan saat kakiku menginjak daratan berkali-kali. Setelah memastikan ulang dengan beberapa hentakan kaki, aku akhirnya sadar bahwa yang kami pijak saat ini adalah lantai besi.
“Oh, sepertinya kita sudah kembali ke SCR.”
Aku dan Ava seketika menghela nafas secara bersamaan. Itu adalah sebuah hal yang sangat melelahkan. Dalam kegelapan, aku menoleh ke ke segala arah, sebelum akhirnya menemukan sebuah celah bercahaya yang seperti berasal dari pintu otomatis yang setengah terbuka. Itu.... Itu adalah pintu otomatis sama yang membuat semua ini terjadi !!
“Sialan. AVA !!! KITA MASIH HIDUP TERNYATA !!!”
“Berhenti teriak-teriak, bodoh !! Kamu lupa ini tempat apa !?”
“Hehe.....”
Saking ngerinya aku sempat berkunjung ke neraka, sampai aku tidak sadar telah meneteskan sedikit air mata. Untung saja, bukan nasibku dan juga Ava untuk masuk ke sana. Aku mau keluar dari ruangan gelap brengsek ini sekarang juga !!!
“Akhirnya..... Eva, kita lanjut ke tempat persembunyian kelas D mulai sekarang.”
“Oh, itu tujuan kita selanjutnya ?? Akhirnya..... Kelas D, aku datang !!!!!”
“Berisik banget sih lu !!”
__ADS_1
Dan begitulah. Akhirnya, kami meninggalkan ruangan sialan itu bersama-sama..... Dan kemudian berjalan menuju tempat yang selanjutnya......