
“Hei, lu tau cara ngebunuh bajingan ini, kan ?”
“Ada yang beda sama yang satu ini, ******.”
“Beda apaan ? Dia tetep negro yang sama, kan ?”
“Orang bodoh kayak lu ga bakal ngerti yang beginian.”
“Cih, persetan sama lu.”
...****************...
Aku dan Suzaku menatap Null yang berjalan mendekati kami dengan tajam. Sampai sekarang, tidak ada hal aneh yang dia lakukan kepada tubuhku atau si ****** di sampingku ini, semuanya baik baik saja. Ini hanyalah masalah waktu sampai salah satu dari tulang di tubuhku atau si ****** rambut merah ini menghilang entah kemana.
“Oi, sampe kapan lu mau natap matanya terus terusan kayak gitu, bodoh !? Gw sih gak bakal ngelakuin itu, ye...”
“Udah gw bilang ada yang beda sama dia, tolol !” seru ****** rambut merah itu kepadaku sambil terbang seketika ke arah Null. Sialan, kalau saja aku juga punya keberanian barbar sepertinya, tapi aku tidak akan melakukan itu, tidak setelah Libya menegur ku sampai sebanyak 2 kali waktu itu. Suzaku melakukan pukulan pertamanya, namun Null berhasil menghindari itu dengan membengkokkan badannya ke belakang hingga hampir menyentuh lantai. Apa apaan itu !? Aku tidak pernah menyangka kalau si Negro ini punya badan yang selentur itu. Dia terlihat seperti ancaman tingkat Avengers bagi Libya, dan itu berarti aku harus membunuhnya sekarang juga. Tunggu, bukankah itu berarti aku juga harus bekerja sama dengan ****** rambut merah ini ? Persetan dengannya.
“Oi, Eva bajingan ! Jangan berdiri doang di sana, anjing !!”
Ah, sepertinya aku merenung terlalu lama, sampai sampai aku tidak menyadari apa yang terjadi selama beberapa detik waktu itu. Dia saat ini sudah berhasil menahan serangan Negro itu dan sedang berjuang keras sekarang. Sulit dipercaya, tapi si rambut merah ini tidak terlihat kehilangan apa apa sama sekali, bahkan seluruh tubuhnya terlihat normal. Negro itu tidak bisa menggunakan kekuatan OP nya lagi ? Bukankah itu adalah hal yang bagus ?
“Jangan jadi beban, bangsat-”
“Bisa gak sih lu diem sekali aja, ****** merah !”
Begitulah.... Aku memotong kalimat si rambut merah itu dengan seketika melesat ke arah Null sambil mengayunkan pisau komando ku ke arah wajahnya. Aku yakin kalau aku bergerak lebih cepat daripada si rambut merah ini, terbukti dengan Null yang tidak sempat bereaksi sama sekali terhadap serangan ku. Walaupun itu hanyalah sebuah luka sayatan kecil, setidaknya.... Itu agak sedikit membantu ?
“Jangan cuma sayat dia, bodoh !!“
“Sialan, berhentilah mengeluh... Bangsat !!!” seruku sambil memanjat ke punggung Null dan menusuk leher belakangnya menggunakan pisau. Null mengerang kesakitan seketika, dan aku dapat melihat kalau kekuatan tangannya itu agak sedikit menurun.
“Sekarang lu yang bunuh dia, ****** !!“ seruku sambil menusukkan pisau komando ku lebih dalam lagi ke leher Null.
“Ga usah nyuruh nyuruh gw, bangsat!”
Suzaku mendorong kedua tangan Null ke belakang dengan sebuah pukulan, kemudian ia mengambil ancang ancang untuk menyerang Null.
“Cepat lakukan itu, bangsat !!”
“Diam lah, rambut perak bajingan !!”
Suzaku memukul perut Null bertubi tubi, namun Null tidak kelihat melemah sama sekali. Dasar Negro keras kepala... Kau sendiri yang memaksaku melakukan ini. Setidaknya, dia mungkin akan menjadi lebih lemah lagi setelah menerima dua serangan beruntun dari depan dan belakang.
“Oi, rambut merah ! Pukul Negro ini lebih kuat lagi setelah gw nebas leher.... Sialan... Miliknya !!”
Dengan usaha yang sangat keras, aku akhirnya berhasil menarik pisau komando ku kembali. Sialan, padahal tadi, kulitnya itu sangat mudah ditembus, namun kenapa saat aku ingin menarik pisau ku kembali, itu susahnya minta ampun ?
“Rasakan ini, Negro bajingan !!”
Aku menebas leher belakangnya berkali kali, membuatnya berteriak kesakitan. Tanpa perlu kusuruh lagi, si rambut merah itu memukuli perut Null kembali, dengan kekuatan yang lebih besar pastinya. Luar biasa rambut merah, ternyata orang ini punya kecerdasan juga. Dugaanku ternyata memang benar. Null menjadi lebih lemah setelah menerima serangan beruntun dari dua sisi secara bersamaan.
“Rasakan ini juga, Negro bajingan !!”
“Bodoh ! Apa yang mau lu lakuin, bangsat !?”
Setelah memutar mutar tangan kanannya beberapa kali, Suzaku sialan itu memukul Null dengan kekuatan yang luar biasa, hingga menghempaskannya beberapa meter ke belakang. Padahal aku masih berada di atas punggungnya, sialan !
“Kyaaa !”
Setelah berada di udara bersama sama dengan si Negro ini beberapa saat, akhirnya gravitasi menjatuhkan kami berdua ke lantai juga. Si rambut merah itu, dia tidak punya kecerdasan sama sekali.
“Oi, Eva bajingan !! Lihat ke kirimu, bodoh !!”
Orang masih belum disadarkan oleh kebodohannya saja. Baiklah, aku akan menurutinya saat ini. Aku menoleh ke kiri, dan seketika Negro sialan itu sudah mengejutkan ku dengan tatapan matanya yang tajam.
“Bajingan. Menjauh lah, bangsat !!”
Aku seketika bangkit berdiri dan berjalan ke belakang menjauhinya, dan lihatlah, Negro sialan ini akhirnya berdiri dengan cara yang tidak manusiawi. Maksudku, dia memang bukan manusia.... Tapi, bagaimana bisa tubuhnya selentur itu !? Ia baru saja membengkokkan setengah tubuhnya ke kanan, kemudian memutar tubuh bagian atasnya dan akhirnya berdiri sambil menatapku lagi ! Itu benar benar melawan hukum alam !!
Oi, Suzaku !! Bukankah Null yang satu ini terlihat aneh !?”
“Memang itu yang gw omongin ke lu beberapa menit yang lalu, tolol !!”
Benar juga, aku baru saja menyadarinya, kalau Null ini memang sangat aneh. Setahuku, dia berjalan dengan tubuh yang agak kaku saat aku dan Libya pertama kali bertemu, dan baru saja saat ini, ia membengkokkan setengah dari tubuhnya seolah tidak punya tulang sama sekali. Seakan tulang dan kerangka manusia hanyalah sebuah bahan tertawaan baginya.
“Dan juga.... Awas belakangmu, tolol !!”
Berkat teriakannya yang sangat menyebalkan itu, aku pun mau tidak mau menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya aku saat seluruh wajahku telah ditutupi oleh telapak tangan Null yang sangat hitam itu. Apa dia baru saja, memanjangkan tangan kanannya !?
“Jangan biarin badan lu itu ketarik sama tangannya juga, bodoh !!”
Orang di belakang ku ini, dia benar benar menyebalkan !! Sekarang aku sudah berhadap hadapan dengan Negro sialan ini, dan ia membuka mulutnya lebar-lebar seperti ada sesuatu yang akan keluar dari dalamnya. Sontak aku langsung menusuk dadanya dengan pisau komando ku, dan sialan.... Itu keras sekali ! Hampir sama seperti batu.
Suzaku seketika terbang ke arah Null dan memukul wajahnya, membuat Null terhempas ke belakang dan menghantam tembok besi. Ia kemudian berhenti dan berdiri di sampingku serta menatapku dengan tajam.
__ADS_1
“Jangan berdiri sambil diem aja, bodoh ! Minimal lakuin sesuatu sama tuh orang Negro, bangsat !”
“Persetan sama lu ! Kenapa gak lu aja yang bunuh Negro sialan itu sekarang !? Bukannya lu yang agen spesial di sini !?”
Suasana menjadi hening sejenak, dan Suzaku mematung seketika sambil menatap ke arah Null. Lagi lagi, aku berhasil membuat seseorang menjadi terpojok hanya dengan kata kata saja. Heh, sembah diriku ini, makhluk rendahan.
...****************...
Masih di saat yang sama. Aku dan Suzaku mengamati Null dari kejauhan. Padahal kalau dilihat-lihat lagi, bentuknya sangat mirip dengan yang aku temui bersama Libya pertama kali, tapi kemampuannya.... Itu jelas jelas berbeda. Beberapa saat kemudian, Null mengangkat kembali kepalanya dan menatap kami berdua dengan tajam.
“Tentu saja. Makhluk kayak dia ga bakal langsung mati cuma dengan pukulan aja.” gumam ku.
“Lu barusan ngejek pukulan gw, hah !?”
“Ga ada yang ngejek pukulan lu, bangsat !”
Null bangkit berdiri kembali, dan beberapa detik kemudian, tubuh bagian atasnya, jatuh ke lantai ! Tidak mungkin.... Tidak mungkin si rambut merah yang tingginya hanya sepundak ku melakukan itu hanya dengan satu pukulannya.
“Sekuat itukah tangan kecilmu ?”
“Huh ?”
Dia menatapku balik, kebingungan. Baiklah, sepertinya dia sendiri juga tidak merasa kalau pukulannya yang terakhir itu membuat tubuh bagian atas Null terpisah dari bagian bawahnya. Jangan jangan.... Negro ini melakukannya dengan sengaja !?
“Luar biasa. Dia bahkan masih bisa bergerak setelah badannya terpisah.”
“Dan ada sesuatu juga yang mau tumbuh dari bekas potongannya.”
Itu benar..... Mataku yang jeli ini sudah pasti tidak salah lihat. Ada sesuatu yang tumbuh dari bekas potongannya.
“Ah, aku tahu. Kayaknya itu adalah pembelahan diri. Kekuatan paling menyebalkan yang banyak dimiliki anomali lain kayak dia ini.”
Jarang sekali aku mendengar orang brengsek ini berbicara tanpa kata kata mutiara.
“Terus kita harus ngapain ?”
“Pake nanya... Sudah pasti kita bunuh lah ! Orang mati kalau dia terbunuh.”
Huh ? Barusan dia ngomong apa ? Gak jelas banget sih ni orang...
“Lu bikin semuanya kedengeran gampang, tolol.”
“Karena itu memang gampang buat gw, ****** !" seru Suzaku sambil terbang ke arah Null yang baru. Sudah ada dua Null yang sama persis sekarang, dan aku tidak dapat membedakannya sama sekali. Sepertinya aku juga harus menyerangnya dengan liar seperti Larry, kayak si rambut merah bajingan ini. Setidaknya aku tidak akan melihatnya mati dengan cara yang bodoh. Semoga saja dia mati dengan cara yang bodoh.
Aku berlari menuju Null yang satunya. Terlihat ada sesuatu seperti gumpalan berwarna hitam abu-abu yang muncul di dadanya. Entah benar atau tidak, tapi aku merasa kalau itu pasti adalah kelemahannya. Tanpa ragu ragu, aku langsung menusuk gumpalan menjijikkan itu dengan pisau ku, dan Null terlihat sangat kesakitan. Heh, insting dari keluarga Javier memang tidak pernah salah. Itu berarti, aku hanya perlu menyerang titik ini, bukan ? Itu terlihat sangat mudah. Aku menarik pisau ku kembali, kemudian menebas gumpalan itu secara terus-menerus, tidak peduli darah macam apa yang keluar dari gumpalan berwarna hitam yang menjijikkan itu. Aku kemudian mengayunkan pisau ku dengan sekuat tenaga, namun, gumpalan itu sudah tidak ada lagi.
Tentu saja dia sangat marah, Eva bodoh ! Aku seketika menunduk untuk menghindari ayunan tangannya yang lentur seperti cambuk sialan itu, kemudian menemukan tempat baru dimana gumpalan itu berpindah. Itu sekarang ada di betis kanannya.
“Menyusahkan saja !”
Aku melakukan yang sama dengan biasanya. Menusuk titik lemahnya, menarik pisau ku kembali, kemudian menebasnya terus menerus. Itu sangatlah mudah bagiku, ya, sampai sampai aku tidak melihat tendangan dari kaki kirinya.
“Aw, kaki macem apaan tuh !? Keras banget sih !”
Aku masih bergumam, dan tiba-tiba tubuhku sudah ditarik oleh tangannya yang memanjang itu. Dia tidak pernah memberi kesempatan buat musuhnya bernafas. Setelah aku ditarik dan mendekatinya, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menusuk belikatnya. Itu berhasil ! Pisauku menembus belikat kirinya dengan mudah, dan sekarang aku sedang dibuat kesulitan menariknya kembali.
“Lepaskan pisau ku..... Sialan !!”
Aku terpaksa memotong dari belikatnya hingga ke bawah perutnya, dan setelah itu, pisauku akhirnya kembali juga. Lebih hebatnya lagi, sekarang aku dapat melihat bagian dalam dari tubuhnya yang tidak punya tulang sama sekali itu, hanya ada gumpalan gumpalan berwarna abu abu yang sama seperti titik lemahnya. Apakah itu berarti setiap kali aku menyerang titik lemahnya, aku juga menyerang organ dalamnya ? Pantas saja dia sangat kesakitan setiap kali aku melakukan itu. Null berjalan mundur beberapa langkah, kemudian tangan kirinya Tremor hebat seketika. Beberapa saat kemudian, tangan kirinya terlepas seketika, digantikan oleh yang baru.
“Tangannya itu lepas sendiri ? Mengerikan.”
Null berlari dengan cepat ke arahkuz kemudian membuka mulutnya lebar lebar sambil menahan pundakku dengan kedua tangannya. Aku seketika menahan kepalanya itu dekat denganku. Tidak mungkin aku akan membiarkan makhluk bajingan seperti dia menggigit ku. Namun, yang kulakukan itu hanyalah sia sia belaka. Sialan ini tidak ingin menggigit ku dengan mulutnya yang asli, namun dengan mulut yang lain yang lebih besar, dan lebih panjang. Itu terlihat sama seperti terong milik laki-laki, dan itu sangat dekat dengan wajahku saat ini.
“Sialan, menjauh lah dariku !!” seruku sambil menebas bagian bawah dari mulut abu-abu itu. Hanya butuh beberapa tebasan saja untuk membuat itu kembali ke dalam mulutnya dan juga sekaligus membebaskan ku dari cengkeraman kedua tangannya. Mulutnya masih memiliki gumpalan abu-abu itu, jadi aku langsung menusuknya tanpa basa-basi. Beberapa saat kemudian, setelah titik lemahnya itu hampir menghilang, aku menggunakan pisauku untuk menjatuhkan Null ke lantai dan menariknya. Seolah tidak pernah ingin menyerah, Null bangkit berdiri kembali dan mendorongku hingga jatuh ke lantai, dan sebagai balasannya, aku juga menendang kepalanya hingga ia jatuh juga ke lantai. Aku dan Null sama sama sedang berbaring di lantai sekarang, sebuah posisi yang equal equal. Null sedang tidak menyerang sekarang, jadi ini mungkin saatnya mengambil nafas dalam dalam. Entah kenapa ini melelahkan sekali.
“Oi, butuh bantuan kah, Eva bodoh !?” seru Suzaku sambil menjatuhkan Null kedua dengan tendangan berputarnya. Kenapa ****** rambut merah ini terlihat jauh lebih kuat daripada ku sekarang ?
“Cih, aku juga bisa melakukan itu, bangsat !!” seruku sambil bangkit berdiri kembali dan langsung menyerang Null yang berbaring di lantai.
“Mati sekarang, Negro sialan !!”
Aku melompat ke arahnya dan menusukkan pisauku ke leher Null dengan kekuatan penuh. Lebih menyebalkannya lagi, Negro ini masih bisa menyerang balik dengan kedua tangannya.
“Masih sempat menyerang balik, hah !?”
Aku dengan sangat terpaksa menggunakan kekuatanku itu kembali. Tidak peduli separah apa aku menggila setelah ini, yang penting Negro ini mati dulu. Aku menebas kepala Negro ini dengan begitu keras, hingga membuat pisauku itu hampir hancur. Bertahanlah sebentar lagi, pisauku. Ini belum saatnya kau untuk hancur.
Aku menarik Null untuk berdiri kembali, kemudian langsung berpindah ke belakangnya. Sudah kuduga titik lemahnya berpindah ke belakang punggungnya. Aku menusuk punggungnya itu dengan pisauku, kemudian membelahnya dengan paksa. Null berteriak kesakitan hingga ia jatu berlutut ke lantai. Setelah ini pisauku pasti akan hancur lebur, jadi aku hanya bisa memanfaatkan pukulan sama yang ku gunakan untuk menghajar Rigel hingga hampir mati itu. Aku hanya berharap kekuatannya akan sama seperti saat aku menyerang Rigel saat itu.
“Pecah kepalamu, botak !!!”
Dan itu berhasil ! Aku memukul kepala botak Negro ini dari belakang dengan sangat keras hingga ia akhirnya jatuh ke lantai dan tidak bangun lagi. Sebaiknya jangan bangun lagi, Negro bangsat. Aku menoleh ke arah Suzaku yang ada di belakang, dan dia juga baru saja selesai menendang kepala Null 2 hingga tidak bangun lagi, sama sepertiku.
“Hei, butuh bantuan ?”
__ADS_1
“Sialan ! Gw sebenernya bisa ngebunuh monster ini lebih cepet, tahu !!”
Pffft, hanya bisa beralasan, huh ? Itulah yang selalu kuinginkan darinya.
“Dan juga, Negro mu itu masih hidup, tau.”
“Huh ?”
Baru saja si brengsek ini mengucapkan itu, seseorang menahan kaki kananku dengan lemah. Negro ini masih !?
“Sekarang matilah, bangsat !”
Aku menginjak kepala Null dengan keras, dan saat itu juga ia tidak bergerak lagi.
“Sekarang sudah selesai.”
“Hmph !!”
“Sekarang apa ?”
“Gak tau. Tapi-”
Suzaku terlihat sangat terkejut sampai sampai tidak melanjutkan kalimatnya itu lagi.
“Tapi apa, bangsat !?”
“Negro mu itu... Lagi lagi bangkit.”
Menyebalkan ! Apa benar ada makhluk hidup di dunia ini yang bisa menolak kematian ? Aku menoleh ke arah tubuh Null yang ada di bawahku, dan tubuh bawahnya kini sudah menghilang entah kemana. Bukan, bukan menghilang.... Lebih tepatnya baru saja berdiri dengan sendirinya. Dia.... Memisahkan dirinya kembali ? Sialan, Negro ini benar benar mengerikan. Dan sekarang, tubuh bagian bawah itu berlari lurus menuju Suzaku hingga membuatnya berteriak histeris ketakutan. Memang, siapa yang tidak ketakutan melihat bagian bawah tubuh seseorang berjalan dengan sendirinya mendekati mereka ? Aku sendiri juga sepertinya akan melakukan hal yang sama. Tapi masalahnya bukan hanya itu saja, karena aku juga melihat pergerakan dari Null kedua di bawah Suzaku.
“Oi, ****** rambut merah ! Punyamu juga bangkit, tahu !!”
“Apa - !? Kyaa !!”
Dia benar benar terkejut saat itu, dan sudah pasti harga dirinya sebagai pembunuh hilang saat itu juga, sama seperti yang aku alami. Tubuh atas Null kedua itu kemudian merangkak ke tubuh bawah Null yang pertama, dan setelah itu, seluruh gumpalan abu-abu yang ada di dalamnya bergabung menjadi sebuah tentakel panjang yang meletakkan tubuh bagian atas itu kembali ke posisinya semula. Apa apaan makhluk ini !? Apakah dia benar benar bisa mati ? Aku harus menyerangnya dengan lebih kuat lagi sekarang !
Baru saja kedua tubuh Null yang terpisah itu kembali bergabung, aku sudah melesat dan menggampar pipi kirinya dengan sangat keras. Walau begitu, kulitnya tidak sekuat seperti biasanya. Jadi begitu.... Setelah dia memisahkan atau menggabungkan badannya, pertahanan kulitnya pasti akan melunak. Aku berhenti di sisi kanan Suzaku, dan kami berdua terus mengamati Null yang ada di hadapan kami ini.
“Apa yang terjadi, brengsek ? Kenapa dia masih bisa hidup setelah semua serangan yang dia terima selama ini ?”
“Dia cuma balik ke badan aslinya, goblok.”
Hmmm, kalau diingat-ingat benar juga. Bukankah saat itu aku melawan Null di belakang yang menumbuhkan tubuh baru dari bagian tubuh bawahnya ? Pantas saja yang bergerak saat itu adalah tubuh bagian bawahnya.
“Itu berarti, tubuh aslinya juga harus mati ?”
“Heeh”
“Baiklah, kita hancurkan si brengsek ini bersama-sama.”
“Cih, untuk pertama kalinya gw harus setuju sama lu.”
Aku sebenarnya juga tidak mau melakukan ini bersama dengannya, tapi, ada yang lebih menyebalkan lagi saat ini. Dengan cepat, kami berdua langsung mengeluarkan pukulan terkuat kami secara bersamaan ke wajahnya itu.
“Kenapa lu gak mati ae, BANGSAT !!?” seru kami berdua di waktu yang sama.
Seketika itu juga, pukulan kami berdua langsung melemparkan Null yang tidak sempat bergerak itu hingga jauh ke belakang. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang hancur di dalam kepalanya, entah apa yang hancur itu.
“Kepalanya belum hancur, tahu !” seru Suzaku sambil terbang menuju Null meninggalkanku sendirian di sini. Ah, aku punya firasat buruk tentang ini. Suzaku akhirnya sampai di dekat Null, dan benar apa dugaanku, Suzaku memukuli kepala Null itu hingga hancur berantakan dan tak berbentuk. Aku sudah tidak mau melihat hal yang seperti itu lagi.
...****************...
Beberapa saat kemudian, Suzaku sudah kembali dari pekerjaan menghancurkan kepala Null nya. Bagaimanapun, dia terlihat jadi lebih baik kepadaku saat ini ? Jangan bilang dia mau berteman denganku sekarang ? Tidak mungkin aku akan berteman dengan seseorang yang membunuh orang lain hanya karena bosan.
“Bagaimana dengan si Negro brengsek itu ?”
“Udah mati. Bahkan udah ilang, tuh. Liat aja sendiri.”
Aku menatap ke arah tempat terakhir kalinya Null terhempas oleh pukulan kami berdua, dan benar saja, dia sudah menghilang dari tempatnya menjadi debu. Mungkin itu bisa ku jadikan sebagai patokan bahwa Null benar benar mati jika saja ada yang lainnya seperti dia menyerang ku dan Libya setelah ini.
“Eh, beneran ngilang, huh ?”
“Aku pergi dulu.” ucap Suzaku sambil berjalan melewati ku.
“Apa lu pengen ngebunuh orang lain lagi, rambut merah ?”
“Orang orang yang gw maksud itu adalah anomali, bodoh.”
“Jujur saja, gw gak yakin dengan itu, brengsek.”
Suzaku berhenti melangkah seketika dan menoleh ke arahku kembali.
“Terserah lu mau ngomong apa ke gw, yang pasti ini semua gw lakuin buat ngelindungin dunia dari anomali, bangsat.”
Setelah ia mengucapkan itu dengan nada penuh amarah, Suzaku pergi meninggalkan ku kembali. Melindungi dunia ini dari anomali, huh ? Apakah itu benar benar bisa dilakukan seorang diri ?
__ADS_1
Kalau memang itu memungkinkan, aku akan melakukanmya juga..... Setelah semua ini selesai.