
“Maafkan aku, 'aku' yang lain !!”
Aku menusukkan pedang rusak ke punggung 'aku' yang palsu, membuatnya mengeluarkan semacam raungan kesakitan, dan kemudian akhirnya meninggal setelah menggeliat beberapa saat. Darahnya berwarna hitam gelap dan lengket, aku beri 100 untuk rating kejijikan nya.
“(Sigh) Gimana bisa ada 'aku' yang lain di sini ??” gumamku sambil menarik pedang itu kembali dari punggungnya, menyelesaikan pekerjaan kotorku.
'Aku' yang palsu itu sudah kehilangan kaki kanannya, jadi bagaimana mungkin orang ini bisa muncul secara tiba-tiba di depanku sini. Tidak mungkin aku tidak melihatnya merangkak di depanku kan ??
“Baiklah, saatnya jadi detektif Conan.”
Aku mulai mencari-cari di sekelilingku, dan saat aku mendongak ke atas, terlihat sebuah lubang seukuran tubuh manusia terletak tepat di atas sel penjara ku. Aku bertaruh kalau lubang itulah alasan kenapa dia ada di sini secara tiba-tiba waktu itu. Tapi tetap saja, aku tidak melihat ada yang jatuh atau apa waktu itu. Apakah ini adalah saatnya untuk aku 'concern' ??
“Oi, sebenernya kamu ini dari mana, bangsat ??”
Aku membalikkan tubuh 'aku' yang palsu itu sehingga mukanya menghadap ke atas. Anggap saja dia akan melihat surga setelahnya. Wajahnya putih pucat, tidak berbentuk, dan banyak bagian dari wajahnya itu sudah menghilang menjadi lubang kosong berwarna hitam. Tulang tengkorak sudah tidak dapat ditemukan di sini.
“Kayaknya, kamu gak bakal takut sendirian, kan ? Aku tinggal dulu...... Bye !!!”
Dan begitulah akhirnya. Aku berjalan lurus ke depan meninggalkan penjara-penjara sialan itu di tempat mereka masing-masing. Setelah melewati berbagai belokan berliku dan lubang kecil brengsek yang ada di tembok-tembok, aku akhirnya bertemu dengan pintu besi pertamaku di tempat ini. Tidak tahu apakah ini adalah pintu yang benar untuk keluar dari bawah tanah ini, yang penting buka saja lebih dulu.
Aku mendorong pintu itu secara perlahan, penuh dengan iman bahwa pintu itu tidak akan berada dalam keadaan terkunci. Tidak lupa, aku juga melakukannya sambil memejamkan mata, mendalami prosesnya dengan sungguh-sungguh.
'Klak'
“Yap, sudah ku duga. Sudah pasti terkunci, sialan.”
Terpaksa, aku harus mencari jalan lain dari sini, atau mungkin mencari kunci pintunya. Aku menoleh ke arah kiri dari pintu ini, dan di sana ada sebuah tangga yang menurun lebih dalam ke kegelapan. Aku bisa merasakan kalau 'horor' dari cerita ini akan segera kembali berkat tangga sialan itu. Lagipula, hanya itu saja satu-satunya jalan yang tidak berbalik lagi ke tempat awal aku berada. Jadi, mau tidak mau, aku tetap harus menuruni tangga 'horor' itu. Tanpa pencahayaan sama sekali.
Dan begitulah. Aku akhirnya menuruni tangga yang semakin ke bawah semakin gelap itu. Di tembok sebelah kananku, ada sebuah tulisan besar dari darah manusia. Sudah biasa, tipikal tempat-tempat horor pada umumnya.
'Harus cari kuncinya......”
Sepertinya ada yang lain yang juga ikut mencari kunci pintu itu. Entah kenapa, tapi sepertinya pintu itu adalah satu-satunya jalan keluar dari sini. Layak untuk dicatat.
Setelah menuruni tangga itu beberapa langkah lagi, akhirnya aku sudah tiba di lantai dasar. Setelah melihat-lihat selama beberapa saat, akhirnya aku paham. Ternyata ini adalah sebuah tempat penyulingan anggur. Aku anggap kalau itu berarti aku masih berada di sekitaran istana Archon sialan itu.
“(Chuckles) Di sini ga ada yang aneh-aneh kan ??” gumamku.
Bagaimanapun juga, tidak ada jalan yang lain kecuali maju ke kedalaman atau kembali ke permukaan untukku saat ini. Agak sialan sedikit emang, tapi aku tidak punya pilihan lain lagi. Aku juga tidak mau kembali ke atas lagi dengan tangan kosong pula. Akan menjadi sia-sia semua 26 langkah itu menuruni tangga barusan tadi. Aku pun melangkahkan kaki kananku ke depan, dan tepat di saat itu juga, aku mendengar suara bising yang muncul dari ujung depan sana, dari arah kanan ke arah kiri. Terdengar seperti sfx dalam game horor menurutku.
Kelinci, kelinci mana yang menghilang ?
Kelinci ku !! Kelinci ku yang menghilang !!
Maka bawa lah kembali kelinci yang menghilang itu !! Kembali ke hadapan sang dewa !!
Bawa kembali !! Bawa kembali !!
Dialog aneh antar dua orang atau lebih itu terdengar menggema hingga sampai ke telingaku. Baiklah ? Aku rasa sekarang aku dapat benar-benar mengatakan kalau orang-orang di istana ini adalah sekumpulan orang autis dan punya kelainan jiwa tingkat tinggi. Setelah menelan ludahku sendiri, aku pun berjalan kembali, dan kemudian berbelok ke arah kanan setelah mencapai ujung, melewati sepasang jeruji penjara yang tidak ada pintunya. Percakapan tersebut datang dari arah kiri, jadi tidak mungkin aku akan menghampirinya begitu saja, dengan pedang yang sudah rusak pula. Menyusuri lebih jauh, berbagai peralatan yang digantung di atas tembok pun mulai aku temukan, termasuk puluhan tong-tong yang memenuhi lorong yang sempit ini. Beberapa bahkan harus aku pindahkan sendiri ke pojok, karena sebagian dari tong-tong sialan itu terletak di tengah jalan juga.
“Sialan, berat banget sih !! Gak kayak tong yang biasanya !!!”
lewat beberapa saat kemudian, aku menyingkirkan satu tong lainnya yang jauh lebih berat daripada yang lainnya. Tong itu bahkan tidak bergerak sama sekali, jadi aku terpaksa untuk menjatuhkannya ke samping. Suara hantaman ke tanahnya begitu keras, menggema di seluruh lorong-lorong ini. Semoga saja aku tidak melakukan sebuah kesalahan konyol hanya karenanya. Tong yang aku jatuhkan itu ternyata menyembunyikan sebuah celah kecil di tembok belakangnya, cukup untuk dilewati oleh manusia normal dengan cara merangkak. Aku mengamati celah tersebut selama beberapa saat, sebelum akhirnya dikejutkan oleh darah manusia yang mengalir ke segala arah, menggenangi sekitarku dengan cepat. Darah manusia itu, berasal dari tong tersebut.
“Tsk, sialan banget bau nya.”
Keinginanku untuk melewati celah kecil itu seketika musnah, digantikan dengan rasa penasaran dengan isi dari tong yang sudah hampir sama seperti batu itu. Berkat hantaman keras ke tanah tadi, kini tong tersebut sudah punya banyak retakan di seluruh bagiannya. Hanya perlu beberapa hantaman lagi, sebelum aku akan segera melihat isi dari keseluruhan tong sialan tersebut. Aku menghantam tong itu menggunakan kaki ku dengan cukup keras, dan hanya dalam beberapa injakan saja, tong itu sudah hancur tidak berbentuk lagi. Mayat seorang wanita yang pernah aku lihat sebelumnya, berada di dalam tong tersebut sambil meringkuk, membuka tutup mulutnya dan sempat terseret oleh genangan darah beberapa inci dari tempatnya saat itu.
“Evaaaa.......”
Demi Tuhan apapun itu, bagaimana caranya mayat yang wajahnya sudah tidak berbentuk itu masih bisa menyebutkan namaku !? Aku berjalan mendekati wajah mayat 'aku' itu, kemudian jongkok di hadapannya, dan mengamatinya selama beberapa saat. Wajahnya berwarna putih pucat dan kebanyakan dari kulitnya telah berkumpul menjadi satu gumpalan besar di sisi kanan, sementara area yang sudah tidak memiliki kulit, berubah menjadi kehampaan berwarna hitam pekat. Sebenarnya apa yang bisa membuat wajah seseorang hingga menjadi seperti ini ? Dan kenapa aku ada banyak di sini ??
__ADS_1
Kelinci memanggil !! Ada kelinci yang memanggil !!
Suara itu terdengar dari belakangku, membuatku langsung menoleh ke arah sumber suaranya seketika. Yap, sudah ku duga. Aku melakukan sebuah kesalahan berkat tong sialan ini.
Kini, ada dua jalur yang bisa aku gunakan untuk kabur. Jalan yang lurus ke depan, cukup luas dan tidak ada hal-hal sialan yang lainnya. Sementara itu, jalan yang ada di samping kananku, adalah sebuah celah di tembok yang tujuannya entah akan ke mana. Dan itu juga sangat sempit sekaligus dipenuhi dengan genangan darah. Dua pilihan ini membuatku harus berpikir keras selama beberapa saat, tapi kalau dipikir-pikir lagi, jalan yang sempit ini pasti akan sulit untuk ditemukan, bukan ? Apalagi yang mengejarku sudah keliatan dengan jelas gak punya IQ yang mencukupi untuk menjadi orang yang berotak seperti Senku.
“(Sigh) Kotor dikit gak bakal ngaruh, kan ?” gumamku pada diri sendiri.
Setelah mengumpulkan niat untuk 'beberapa saat' yang lainnya lagi, aku merayap di atas tanah yang penuh dengan darah manusia, kemudian memaksa tubuhku yang tidak terlalu muat itu masuk ke dalam celah di temboknya. Sungguh sebuah pengalaman yang sangat menyiksa, sampai-sampai aku mencela diriku sendiri karena telah melakukan hal yang 'bodoh' seperti ini. Celahnya begitu sempit, dan cahaya pun sudah tidak dapat ditemukan di dalam sini. Hilang, bagaikan ditelan oleh kegelapan. Sambil merayap di atas tanah berlumpur yang menjijikkan melewati celah sialan ini, aku akhirnya mendengar tanda-tanda dari keberadaan makhluk apapun itu yang mengejarku dari belakang. Derap kaki mereka mengatakan kepadaku kalau mereka itu tidak dalam jumlah yang sedikit.
Darah yang berharga bagi Dewa !! Darah yang berharga bagi Dewa !!
Itulah yang terus mereka ucapkan secara serentak. Aku ingin menoleh ke belakang untuk melihat seperti apa makhluk berotak monyet yang mengejarku sebenarnya, tapi celah di tembok ini tidak pernah membiarkanku untuk menggerakkan kepala sedikit saja ke arah yang lainnya, selain ke arah depan. Aku terpaksa untuk terus menatap ke arah kegelapan yang ada di depanku itu. Benar-benar sialan rasanya. 'Kotor dikit gak bakal ngaruh'. Rasanya aku menyesal telah mengucapkan kalimat bodoh seperti itu. Ini jauh lebih kotor daripada yang pernah aku pikirkan.
“Sialan....... Siapapun, tolong perpendek celah brengsek ini. Aku mau mati gara-gara sesak nafas, tahu.”
Suara-suara para makhluk berotak monyet itu masih kedengaran sebagai musik latar belakang, memberiku semangat untuk segera keluar dari neraka sialan ini secepatnya. Lanjut untuk merayap di dalam celah itu kembali, aku akhirnya berhasil keluar dari sana, dan tibalah aku di ruangan yang lainnya. Sialan, merayap di dalam celah itu terasa seperti aku sudah menjadi orang buta selama bertahun-tahun !! Yang namanya cahaya akhirnya kembali lagi, dan kali ini jauh lebih terang berkat dua lentera yang terpasang di dalam sebuah kurungan tanpa pintu di depanku. Ruangan baru ini, terlihat seperti ruang kerja menurutku. Ada meja di ujung sana, ada gelas kayu dimana-mana, tong penyimpanan entah buat apa itu, dan...... Gergaji kayu !!? Entahlah, tapi aku tidak melihat gergaji itu lagi.
“Kita lihat ada apa aja di sini........”
Aku sedikit berkeliling di dalam ruangan ini, dan akhirnya, aku menemukan apa yang selalu muncul di adegan-adegan seperti ini. Sebuah kertas !! Seperti biasa, orang-orang selalu saja menulis informasi dirinya tanpa alasan yang jelas kemudian meninggalkannya begitu saja di tempat tinggalnya entah untuk apa sebelum film horornya dimulai. Apakah itu sudah menjadi ritual tertentu sebenarnya ?
Untuk membuat sang dewa menikmati kelinci korban kita lebih lagi, tambahkan saja sedikit mata si pemanah dan tangan si pengubah yang tidak berguna itu.
Dan juga, jangan lupa berikan darah para kelinci yang sudah kehilangan harapan sebagai minumannya.
Oh, sang dewa pasti akan sangat menghargai hidangan ku yang kali ini.
Banyak kelinci yang sudah tidak layak untuk dijadikan sajian bagi sang dewa, tapi kita tidak perlu khawatir.
Lagipula....... Ada satu kelinci yang tersesat di sini.
“........”
“Darah ?”
Aku seketika menoleh ke arah sumber suara tersebut, ke arah kiri lebih tepatnya. Di sanalah, seorang wanita sengklek berjubah merah berdiri sambil memiringkan kepalanya, tersenyum lebar ke arahku. Wajahnya, terlihat agak mirip dengan si Archon yang pertama kali aku temui waktu masih di istana itu. Hanya saja yang kali ini, mata kanannya sudah digantikan mulut yang lain, dan itu punya taring yang tajam juga !!
“Oi, sialan....... Kamu tahu jalan keluar dari sini ??”
“Tentu saja ! Darah yang berharga bagi Dewa !!” ucap wanita itu sambil mengeluarkan sebuah karambit dari belakang tubuhnya.
Sudah ku duga, ****** macam dia ini pastinya tidak bisa di ajak bicara baik-baik !! Dia berlari kencang ke arahku, jadi tentu saja aku langsung berbalik lari darinya. Aku masih tidak yakin kalau pedang yang ada di tanganku saat ini adalah sebuah pedang untuk membunuh ****** seperti dirinya. Aku terus berlari melewati lorong-lorong kecil nan sempit, sementara itu dari belakang sana, aku diteriaki oleh ****** gila ini tanpa alasan yang jelas, untuk dijadikan musik latar belakang sepertinya.
“Aku sangat tahu !! Aku sangat tahu kalau kau adalah kelinci yang paling baik selama ini !! Sebuah hidangan lezat yang layak untuk disajikan kepada sang Dewa !!”
“Aku bukan kelinci, bangsat !!”
Aku berlari melewati sebuah balok kayu panjang yang bersandar di tembok sebelah kananku, mengingatkanku untuk melakukan sesuatu sebelum berlari meninggalkannya di tempat sialan ini.
Aku berbalik sambil mengambil balok kayu itu, dan saat si ****** itu berhenti untuk mengambil ancang-ancang nya, yang dia dapatkan adalah sebuah balok kayu yang mendarat tepat di muka sialannya itu.
“Rasain tuh, bajingan !!”
“Cih, demi Dewa !! Kelinci yang baik tidak boleh melawan balik, tahu !!”
“Sudah kubilang........ Aku-bukan-kelinci, ****** !!”
****** merah itu maju sambil mengangkat karambit miliknya, membuatku secara spontan langsung mengayunkan pedang rusak milikku ke arah pipinya. Seketika suasana menjadi hening sejenak, saat aku dan si ****** ini menyadari sesuatu. Pedangku, memberikan sebuah luka sobekan di pipi kirinya !!
“Tidak mungkin........ Apa aku....... Adalah fana sekarang ??” gumam si ****** merah itu.
__ADS_1
“Heh, ini bisa motong ternyata........ MATI LU, SIALAN !!”
Setelah menyadari kalau aku sebenarnya tidak membawa senjata yang tidak berguna selama ini, aku langsung memanfaatkan momen membagongkan bagi ****** merah tersebut untuk menghajarnya habis-habisan di pipi kirinya, hingga ia jatuh ke tanah dan menghantam tembok batu dengan kepalanya sendiri. Aku sudah tidak peduli lagi dengan erangan kesakitannya itu, dan terus membacoknya karena luka yang dihasilkan oleh pedang rusak sialan ini terlalu kecil untuk benar-benar membunuhnya. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menyerang lehernya, kemudian membacok bagian pertengahan rahang atas dan bawahnya. Tidak lama kemudian, bajingan itu akhirnya sudah tidak bergerak lagi.
“Heh, cukup mudah, huh ??”
Aku menarik pedang rusak ku itu kembali dari rahangnya, kemudian berjalan meninggalkan tubuhnya di tempat yang sama. Baru beberapa langkah saja, dan tiba-tiba aku langsung berhenti kembali saat seseorang sepertinya baru berdiri sekali lagi di belakangku.
“Makhluk fana sialan...... !! Jadi lah pengorbanan yang diperlukan milikku........ Sekali saja !!!”
“Oh **** !!”
Saat aku berbalik, aku langsung dikejutkan oleh ****** merah itu yang telah berada tepat di depanku, hampir menusuk leherku dengan karambit miliknya yang terangkat ke atas. Beruntung aku berhasil menahan serangannya, tapi tidak dengan serangannya yang selanjutnya. Mulutku mengeluarkan darah seketika saat tangan kirinya menembus perutku, membuatku dengan tanpa sadar menjatuhkan satu-satunya senjata yang aku punya itu ke atas tanah. Dengan kekuatannya yang di luar nayla, ****** itu kemudian mendorongku sangat jauh hingga aku mendobrak masuk sebuah pintu besi berduri dengan keseluruhan tubuhku sendiri, dan setelah itu terseret di atas tanah tidak jauh dari ambang-ambang pintu.
Rasa sakit yang seperti ini, sepertinya sudah ku lupakan cukup lama semenjak makhluk-makhluk di SCR yang aku temui itu semakin aneh dan tidak mengerikan lagi kemampuannya. Dan ****** ini, barusan saja mengingatkan ku kembali pada momen-momen yang mengerikan itu !! Aku mengerang kesakitan sambil berusaha untuk bangkit berdiri kembali, dan di saat itulah, aku melihat dengan jelas si ****** itu muncul secara tiba-tiba di ambang-ambang pintu dari balik bayangan hitam. Dia berjalan menghampiriku dengan cepat, kemudian menarik bagian belakang bajuku ke arah sebuah meja kayu yang ada di tengah ruangan sambil mengeluhkan sesuatu. Sesuatu yang sangat menyebalkan, yang membuatku langsung ingin melakukan fatality kepadanya di saat itu juga.
“Akhirnya, setelah sekian lama mencari kelinci-kelinci sialan yang layak untuk dihidangkan pada sang bintang merah itu, aku akhirnya menemukan satu yang cocok untuknya. Sebuah darah murni, darah yang dapat memuaskan hasrat sang dewa dan mengembalikan ku ke sisinya sebagai pelayannya yang setia.......”
“Memangnya kenapa harus aku, bangsat- !!?”
Bajingan itu melemparkanku ke sisi panjang meja kayu tersebut, membuat kepalaku menghantam bagian atasnya. Untung saja, aku masih belum pingsan karena itu. Masih ada waktu, untuk menghajarnya balik.
“Jadi, matilah untukku, makhluk fana menjijikkan. Kamu adalah batu pijakan ku, batu pijakan untuk mengembalikanku menjadi Archon pertama miliknya kembali !!”
Archon itu mengangkat karambit miliknya, kemudian menusukkannya dengan cepat ke arahku. Aku masih beruntung, karena tangan kananku yang seketika bergerak sendiri untuk menghalau serangannya dengan telapak tanganku. Itu sangat menyakitkan memang, karena ujung karambitnya menembus daging telapak tanganku, tapi setidaknya....... Aku masih bisa hidup saat ini.
“Aku perintahkan kau....... Jangan....... Mengelak !!”
Sialan itu menarik karambitnya dengan keras, membelah telapak tanganku dan menyingkirkannya dari tubuhku. Sekarang, aku benar-benar akan menghadapi kematian kalau karambit itu menusuk jantungku.
“Mati !!”
Entah karena bodoh atau apa, tapi yang dia tusuk itu bukan jantungku, melainkan sekedar belikat saja. Walaupun aku berteriak keras karena kesakitan, tapi setidaknya....... Masih ada kesempatan yang ketiga untukku menyerangnya balik saat ini......
“Darahku........ Terkuras !!?”
“Itu benar ! Aku adalah sang Archon darah !! Takutlah kepadaku, karena sebentar lagi, posisi itu akan kembali kepadaku, sialan !!” seru si ****** tersebut sambil terkekeh seperti orang gila.
“Brengsek, gak bakal secepat itu......”
“Huh ??”
Aku dan Archon itu seketika menoleh ke arah kiriku, di mana sebuah pedang panjang yang lainnya tersimpan dengan baik di tempatnya, tidak ada sarung yang menutupi bilahnya sama sekali. Aku sudah tahu apa yang akan kulakukan dengan pedang itu selanjutnya, begitupun juga dengan Archon darah sialan atau apalah itu, sepertinya.
“Jangan...... Jangan !! Kamu harus mati di tanganku !!”
“Diem lu, bajingan !!”
Dengan cepat, aku langsung memukul pipi kanannya hingga dia terjatuh sebentar. Aku sempat mencoba untuk meraih pegangan pedang yang sebenarnya tidak terlalu jauh itu, namun si ****** tersebut sudah berdiri kembali lagi sambil menusukkan karambitnya lebih dalam ke belikat ku.
“Arggh...... Sialan !!!”
Kali ini pukulanku jauh lebih keras, membuatnya terdorong ke kiri beberapa langkah dan membuat pegangannya terlepas dari karambitnya yang tertancap di belikat ku. Dia mengambil nafas sebentar, dan tanpa basa-basi, aku langsung meraih pedang yang sudah terlihat seperti harta karun itu dan kemudian mengayunkannya ke arah leher si bajingan itu.
“Jangan coba-coba- !!”
Entah karena bodoh atau apa, dia baru saja mencoba untuk menarik karambitnya kembali dari belikat ku, dan itulah yang membawanya pada kematian konyolnya sendiri. Pedang yang baru saja ku ayunkan itu, menancap seketika di lehernya, cukup dalam sampai-sampai aku sudah tidak bisa melepaskannya kembali. Tubuhnya pun akhirnya terjatuh ke lantai, dan aku langsung berbalik menghadap ke permukaan meja kayu itu untuk mengambil nafas lega sesaat.
“Itulah kenapa....... Jangan simpen pedang di dalem ruangan sendiri, bangsat.......”
Rasanya, aku sudah bisa melihat kematian itu sendiri mulai datang menghampiriku saat ini. Luka parah di perutku itu, yang membuatku hampir kehilangan kesadaran saat ini. Tapi aku masih bisa menahannya dengan sedikit mendongak ke atas menghadap ke depan, hanya untuk melihat teror lain yang selanjutnya.
__ADS_1
Tubuh Eva yang lain, tergantung di tembok menghadap ke arahku sambil membuka tutup mulutnya, dan hanya ada tubuh bagian atasnya yang tersisa. Hanya dengan melihat bagaimana dia menggerakkan mulutnya saja..... Aku sudah tahu kalau 'aku' yang lain di sana masih 100% hidup.
“Sialan....... Ini tidak akan pernah berakhir, huh ??”