
Aku berlari kembali menuju ruangan staff tempat Libya beristirahat tadi. Pertarungan dengan Null bajingan yang tadi itu cukup memakan waktu yang lama. Semoga saja dugaan ku salah, tapi aku merasa kalau Null juga bisa membelah dirinya menjadi lebih banyak. Kini aku sudah sampai di depan pintu ruang staf, dan dengan segera aku membuka pintunya.
“Libya, kamu ada dimana !?”
Gawat ! Libya sudah tidak ada lagi di ruangan ini. Aku mencari ke sekeliling ruangan, dan di sanalah, di sebuah meja kecil aku menemukan secarik kertas terletak di atasnya. Aku menghampiri meja itu dan membaca isi tulisan yang ada di kertasnya.
Ini aku, Libya. Maafkan karena aku sudah pergi dari ruangan ini tanpa memberitahumu lebih dulu, Eva, tapi situasinya benar benar gawat di sini. Null ada dimana mana !!
Null ada dimana mana ? Apakah itu berarti dugaanku tidak salah sama sekali ? Sialan, kenapa Tuhan harus menciptakan makhluk OP sepertinya di dunia ini !? Aku harus segera mencarinya. Libya tidak boleh sendirian untuk saat ini. Kalau tidak, nyawanya akan benar-benar terancam.
Aku menoleh ke belakang dengan cepat, dan di situlah, di ambang ambang pintu ruangan ini, aku melihat satu Null sialan yang lainnya lagi sedang berdiri dan menatapku dengan tajam. Kapan berakhirnya kejadian seperti ini !?
Aku mengambil flamethrower ku dan segera mengarahkannya pada Negro di hadapanku ini. Ia berjalan dengan sangat lambat, sebelum tiba-tiba, beberapa tembakan tepat mengenai kepalanya hingga membuat Null itu jatuh ke lantai seketika.
“Eva, cepat keluar dari sana !!”
Orangnya tidak terlihat oleh mataku, tapi dari suaranya saja aku sudah bisa mengenalinya. Bukankah itu adalah suara Libya ? Bisa menembaki kepala anomali dengan presisi itu benar-benar sudah terlampau hebat, apalagi untuk seorang ibu hamil.
“Dalam perjalanan !” sahutku kepadanya.
Aku segera berlari keluar dari ruangan itu dan melewati Null yang masih tersungkur di lantai. Dan benar saja, Libya sudah menungguku di sisi kanan. Ia segera menurunkan pistolnya dan berbalik membelakangi ku, ingin kabur secepat-cepatnya meninggalkan Null itu sendirian.
“Ikuti aku. Aku tahu jalan yang menuju ke tempat aman di sini.”
“Tidak usah diberitahu pun aku akan mengikuti mu, Libya.”
“Baguslah.”
Dan begitulah, kami berdua berlari melewati beberapa lorong-lorong yang akhirnya mengantarkan kami ke sebuah ruangan yang sangat luas, dengan 4 cabang lorong yang mengarah ke pintu besi otomatis lainnya. Libya berhenti sejenak, dan napasnya terengah-engah. Dia pasti sangat kelelahan. Bukankah itu buruk ? Harusnya masih ada banyak Null yang lainnya yang sedang mengejar kami saat ini. Apalagi, Null yang terakhir tadi itu juga belum mati. Hanya dengan beberapa tembakan di kepalanya saja tidak akan dapat membunuhnya, aku sudah mengetahui itu dan juga mengalaminya sendiri barusan.
“Libya, apa kamu masih bisa melanjutkan ini ? Kawanan Negro itu masih mengejar kita, tahu.”
“Ah, benar juga. Sebentar saja.... Setelah aku bisa berlari lagi, kok.” jawab Libya sambil tersenyum lebar kepadaku, seperti mencoba untuk menenangkan ku kembali. Tetap saja, situasi ini masih membuatku khawatir berat. Kalau Libya bisa kelelahan dengan sangat cepat seperti ini, itu akan membuat kami terlalu sering terancam oleh bahaya.
“Aku akan menunggumu, sampai kapan saja.”
“Terima kasih, Eva.... Arrrgh !!”
“Hei, kamu tidak apa apa !?”
“Kontraksinya.... Jadi jauh lebih... Parah ! Arrrgh !!”
Pintu otomatis di belakang kami seketika terbuka. Jangan sekarang, bodoh ! Libya masih kesakitan saat ini ! Bagaimanapun, aku tetap harus memberitahunya sekarang juga.
“Libya, Negro itu datang lagi ! Dan bahkan sekarang.... Ada dua dari mereka...”
Mataku tidak salah melihat, Null yang awalnya ada satu kini jumlahnya bertambah menjadi 2, bahkan 3 !? Sejak kapan mereka membelah diri secepat ini !? Dan kenapa harus sekarang, bajingan !?
“Maafkan aku, Libya, tapi kita harus lari sekarang juga. Negro itu bisa pakai kagebunshin no jutsu, tahu !” seruku sambil menarik tangan kanan Libya agar segera lari bersamaku.
“Kalau begitu, ikuti arahan ku.”
“Sudah kubilang, tidak usah diberitahu pun aku akan mengikuti mu, Libya ! Aku tahu kamu yang paling hebat di sini, oke !?”
“Kalau begitu, ke pintu yang ada di depan, Eva.”
“Baiklah.”
Aku dan Libya pun segera berlari melewati pintu yang ada di depan kami itu. Dengan mengikuti arahan dari Libya, kami akhirnya sampai di sebuah lorong dengan tulisan EUCLID CHAMBER tertulis di tembok kanannya. Lupakan saja, tapi sepertinya aku dan Libya sedang berada di rute B saat ini, entah bagaimana caranya. Kecepatan lari kami tidak seberapa, karena kontraksi yang sedang dialami oleh Libya. Sementara itu, mereka semakin mendekat. Situasi kini menjadi lebih menegangkan, karena tiga Negro sialan ini semakin mempercepat langkah mereka.
“Eva, ke kanan !”
Tiba-tiba saja Libya menyuruhku untuk pergi ke arah kiri, dan di sanalah aku mendapati sebuah celah lorong kecil di tembok. Mungkin itulah yang dia maksud. Aku pun segera memasuki celah itu sambil menarik Libya masuk ke dalamnya. Agak sedikit kasar memang, tapi setidaknya, aku dan Libya jauh lebih aman di dalam lorong aneh ini. Ketiga Null itu hany terus berjalan ke depan melewati lorong tempat kami berdua bersembunyi saat ini, padahal seharusnya mereka dapat dengan jelas melihat kami yang masuk ke dalam lorong ini.
“Apa yang terjadi, Libya ? Kenapa mereka melewati kita begitu saja ?”
“Mata mereka tidak bisa melihat dalam kegelapan, namun sangat peka dalam mengetahui ruangan gelap yang ada di sekitar mereka, sama seperti Blight. Karena itulah, mereka bertiga lebih memilih untuk membiarkan bersembunyi di sini sambil mencari jalan lain untuk melakukan penyerangan berikutnya.”
“Sigh, itu terdengar agak mengerikan. Dan juga, Blight itu apa ?”
“Kelas Keter, sama seperti Null yang asli. Aww !”
Libya tiba-tiba meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
“Masih sakit kah ? Apa kita tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghilangkan kontraksinya ?”
“Tanpa obat, mungkin itu tidak akan bisa.”
Sialan, keadaan kali ini benar-benar sulit. Dengan Libya yang kontraksi parah, rute B yang katanya dipenuhi gas beracun, dan Null yang akan mempersiapkan untuk serangan selanjutnya.... Apa-apaan ini !? Kenapa aku selalu dihadapkan dengan pilihan sulit seperti ini !?
“Tenanglah, Eva. Kita pasti bisa mengatasi semuanya. Percaya saja padaku. Ini adalah hal yang paling biasa yang selalu aku dan agen spesial lainnya hadapi di tempat ini, bahkan sudah jadi kebiasaan kami semua. Semuanya akan berlalu... Percayalah padaku.”
“Tapi sampai kapan ?” tanyaku dengan nada putus asa. Setelah sekian lama, Libya tidak menjawab juga. Dia, sedang tertidur ? Ah, sudahlah, lagipula para Negro itu juga tidak bisa melihat di kegelapan, bukan ? Sepertinya tidur sejenak bukanlah sebuah keputusan yang begitu buruk.
Aku menyandarkan kepalaku di pundak Libya, dan perlahan memejamkan kedua mataku. Namun sebelum aku sepenuhnya jatuh ke dalam alam mimpi, aku sekilas melihat sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Libya. Roknya, dipenuhi oleh noda darah ? Seketika aku tersadar kembali saat itu juga. Libya tidak sedang tidur, bodoh, dia saat ini sedang pingsan karena pendarahan !!
“Hei, Libya !! Bangunlah ! Bangunlah !!”
Beberapa saat kemudian, mata Libya akhirnya terbuka kembali, dan ia meringis kesakitan. Beruntung dia bisa bangun secepat ini, kalau tidak, aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan padanya !
“Kamu tidak apa-apa, Libya !?”
__ADS_1
Libya mengambil nafas dalam-dalam, dan terlihat seperti sedang menahan rasa sakit yang begitu luar biasa di bagian perutnya.
“Sepertinya... Aku akan melahirkan prematur, Eva.”
“APA !?”
...****************...
“Aku tidak bisa membantumu melahirkan di tempat yang katanya penuh dengan gas beracun seperti ini, Libya ! Jadi, bertahanlah sebentar saja !”
“Memang, aku bisa menahannya... Tapi hanya sebentar saja.”
“Hanya itu saja sudah cukup bagus. Kita harus pergi dari tempat ini secepatnya !”
Libya menjawab ku hanya dengan anggukan kecil. Dengan segera aku langsung bangkit dan juga membantunya untuk berdiri, setelah itu keluar dari lorong kecil ini. Libya mengarahkan ku untuk tetap lurus ke depan, jadi aku berbuat seperti apa yang dikatakannya. Hingga akhirnya kami sampai di sebuah pintu otomatis besar yang hanya bisa dibuka dengan akses kartu khusus. Entah apa itu, yang pasti, Libya memilikinya.
“Eva, aku sarankan jangan menatap pintu ini secara langsung seperti itu.”
“Kenapa ?”
“Percayalah, ada sesuatu yang mengerikan bersembunyi di balik ruangan ini.” jawab Libya sambil menggesek 'kartu spesial' nya itu.
“Oh, baiklah.”
Seperti yang dikatakannya, aku pun bersembunyi di balik tembok dekat pintu ini, begitu juga dengan Libya. Pintu pun akhirnya telah sepenuhnya terbuka, membuatku menjadi semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam sebenarnya.
“Libya, apa aku boleh mengintip sebentar ?” tanyaku dengan berbisik.
“Tentu saja, karena kita harus melewati ruangan ini sebenarnya.” jawab Libya sambil berbisik juga.
Apa yang mengerikan dari ruangan ini sebenarnya ? Begitulah pikiranku. Aku mengintip ke dalam ruangan ini, dan seketika aku langsung bersembunyi kembali setelah melihat apa yang ada di dalamnya. Apa-apaan itu !? Banyak sekali si Negro yang berkeliaran di sana. Kenapa harus seperti ini ?
“Libya, kita harus melewati semua Negro itu !? Kamu sama saja membahayakan diri sendiri, bodoh !!” seruku, masih dengan berbisik kepadanya.
“Aku sudah agak membaik. Aku bisa menahan ini beberapa waktu, sebelum rasa sakitnya kembali lagi dan menjadi lebih parah.”
Kalau yang dikatakan Libya memang benar, berarti aku harus segera melakukan ini. Tenang saja, puluhan Null itu hanya bisa membelah diri dan memanjangkan lengan mereka saja. Benar, sebelum keadaan Libya menjadi lebih parah.
“Kalau begitu aku akan melindungi mu di depan, bertahanlah lebih lama lagi, Libya !” ucapku sambil memasuki ruangan tersebut mendahului Libya secara diam-diam. Libya mengikuti di belakangku, bersembunyi di balik tumpukan barang yang ada di dekat depan pintu. Ada banyak sekali tumpukan barang di penjuru ruangan ini, seolah memang sudah dirancang untuk menjadi seperti platform game Stealth. Sangat mencurigakan.
Puluhan Null itu berkeliaran kemana-mana, entah apa yang sebenarnya mereka sedang cari. Setelah memastikan semua Negro itu tidak mengalihkan perhatian mereka ke arah yang lainnya, aku memberi sinyal pada Libya untuk berpindah tempat persembunyian ke depan, di bagian kanan. Semuanya berjalan lancar, namun ini hanyalah awalnya saja. Ruangan sialan ini benar-benar panjang sekali, bangsat ! Kalau aku ingin, aku sebenarnya bisa saja mempertanyakan pada Libya kalau di ujung ruangan sana benar-benar sebuah tempat yang sangat aman, tapi kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk saat ini.
Waktu terasa berlalu begitu lambat di ruangan ini. Entah sudah berapa lama aku dan Libya berpindah dan bersembunyi di tumpukan barang yang lainnya, namun setidaknya itu membuahkan hasil di akhir. Kami sudah ada di depan pintu keluar, dan ada sebuah tuas untuk membuka pintu ini. Aku ragu dan sedang berpikir keras sekarang, apakah menggunakan tuas ini akan membuat Null di ruangan ini sadar akan keberadaan kami selama ini ?
“Lakukan itu, Eva. Aku masih bisa berlari untuk saat ini. Aww !”
“Kamu yakin ? Kelihatannya tidak seperti yang kamu omongkan, tahu.”
“Uh, baiklah... Kalau itu yang kamu katakan.”
Aku berjalan secara diam-diam menghampiri tuas itu, dan beberapa saat kemudian, aku segera menarik tuas tersebut, yang seketika juga ikut menarik perhatian dari seluruh Null kepadaku. Sialan, seperti yang kuduga ! Ini hanya akan membuat para Null mengejar aku dan Libya lagi !
“Libya, sekarang juga !”
Tanpa menjawab, Libya pun segera bangkit berdiri dan lari mendahului ku, sementara aku menahan semua Null sialan ini dengan semburan api dari flamethrower milikku.
“Menjauh lah, Negro bajingan !!”
Mereka semua terlihat sangat ketakutan terhadap api, dan berusaha sebisa mungkin untuk menghindar dan juga menjauhi semburan api flamethrower ku. Ini mungkin akan memberi cukup waktu bagi kami berdua untuk lari dari tempat sialan ini. Aku pun segera menyusul Libya yang sudah berada di tengah-tengah lorong. Seperti yang dia katakan, ia masih berlari, bahkan agak cepat untuk ibu hamil pada umumnya. Dia memang selalu di atas rata-rata manusia normal menurutku.
“Libya, perhatikan langkahmu !”
“Aku tahu.” jawab Libya dengan singkat. Aku menoleh ke belakang kembali, dan Negro sialan itu tiba-tiba sudah agak dekat dengan kami. Sialan, cepat juga mereka larinya.
“Rasakan ini, bajingan !!”
Mereka lagi-lagi berusaha untuk menjauhi semburan api flamethrower ku. Sepertinya memang api adalah kelemahan mereka semua.Berkali-kali aku melakukan ini sambil berjalan menghadap ke belakang terus-menerus untuk menyerang mereka semua. Akhirnya, aku dan Libya sampai di ujung lorong ini juga.
“Libya, cepat buka pintunya !”
“Aku sedang melakukannya, tahu !”
Aku dan Libya pun segera keluar dari lorong ini, hanya saja.... Di luar terasa begitu gelap ? Apa-apaan yang sebenarnya sedang terjadi ?
“Uh, Libya.... Ini dimana ? Kok gelap ? Pake banget lagi.”
“Aku pun.... Juga tidak tahu.”
Lampu pun segera menyala beberapa saat kemudian, dan walaupun begitu, tempat ini masih bisa dibilang cukup gelap dengan bantuan cahaya dari lampu. Tidak mungkin ini adalah tempat aman yang dimaksud oleh Libya, bukan ?
“Libya ? Apa ini benar-benar tempat yang kamu maksud ?”
“Sayang sekali, tapi rasanya aku tidak pernah mengarahkan mu ke KETER CHAMBERS.”
“Uh...... Whaaaaat !?”
...****************...
“Hei, Robin kamu bisa dengar suara ku ?”
“Uh, ya.... Bisa, sangat jelas malahan. Sampai-sampai aku sedikit ragu tentang dimana posisi mu saat ini.” jawab Robin dari HT nya. oh, ini sangatlah gawat.
__ADS_1
“Kondisi Libya saat ini sedang sangat buruk, bahkan dia mau melahirkan prematur saat ini.”
“.... Kalau begitu mau bagaimana lagi. Kamu bisa membantunya melahirkan, bukan ?”
“Nggak bisa, tuh. Aku bahkan tidak tahu apa-apa sama sekali tentang itu.”
“Tapi kalian sesama cewek, bukan ?”
“Gw gak pernah ngelahirin, bangsat !!”
Ups, aku melakukannya lagi, bahkan di hadapan Libya yang sedang kesakitan saat ini. Ia hanya menghela nafasnya saja.
“"Oh ya, lagian kita saat ini ada di.... KETER CHAMBER ? Aku rasa begitu namanya.”
“....... Kamu bilang apa ?”
Aku bisa mengetahui betapa terkejutnya Robin saat ini, hanya lewat suaranya saja. Maafkan aku, Libya, tapi aku harus memberitahukan ini segera pada Robin.
“Bagaimana bisa kalian ada di KETER CHAMBER sekarang, bodoh !?”
“Aku juga nggak tahu, bangsat !! Tiba-tiba aja kita sudah ada disini, entah gimana caranya !!”
Robin diam sejenak, kelihatannya sedang berpikir keras sampai-sampai sebagian dari otaknya meluap saat ini.
“218 sialan. Eva, bawa Libya ke ruangan apapun di sana, tapi jangan terlalu jauh. Kebetulan aku dan yang lainnya juga sedang ada di dekat sana, jadi aku akan menghampiri kalian berdua setelah ini. Hanya saja beritahu dimana tempatnya, oke ?”
“Mudah dipahami. Oh hei, satu lagi ! Apa tempat ini benar-benar mengerikan ?”
“Blight ada di sana.”
“uh.... Oke ? Itu terdengar agak aneh, tapi Libya juga sempat bicara tentang Blight sialan itu padaku. Apakah ini hanya kebetulan ?”
“Hanya kebetulan.” jawab Robin dengan singkat.
“Aku tidak yakin soal itu.”
Seperti yang dikatakan oleh Robin kepadaku, aku dan Libya berjalan mencari sebuah tempat aman. Kesan pertama ku tentang tempat bernama KETER CHAMBER ini adalah gelap, suram, dan juga menakutkan. Dari nampaknya saja aku sudah tahu kalau seluruh bagian dari tempat ini benar-benar sebuah ancaman untuk Libya. Apakah itu artinya aku harus lebih protektif terhadap Libya saat ini ? Sepertinya begitu.
“Eva, kita berhenti di sini. Semua orang pasti tahu yang namanya Outpost Room, termasuk Robin.”
“Oh, baguslah kalau begitu. Berhati-hatilah, dan jangan sampai jatuh, Libya. Aku akan menghubungi Robin sekarang.”
“Tentu saja.”
Libya memasuki ruangan Outpost tersebut sambil menahan rasa sakit di perutnya. Apakah hal yang sama juga akan terjadi padaku saat aku hamil ? Semoga saja tidak. Aku harus menghubungi Robin sekarang juga.
“Robin, aku dan Libya ada di Outpost Room.”
“Hei, itu keputusan yang bagus, Eva. Kamu yang memutuskannya ?”
“Libya.”
“Oh, tentu saja.”
Entah kenapa aku merasa agak kesal karena pertanyaannya itu. Seolah sedang merendahkan ku.
“Kita selesai di sini.”
“Hei, Eva, ada apa - ?”
Setelah menghentikan komunikasi lewat HT, aku pun segera masuk ke ruang Outpost menyusul Libya. Dia terlihat sedang memeriksa sebuah kotak yang terletak di lantai.
“Itu.... Kotak medis ?”
“Benar. Bisa sangat berguna untuk saat-saat seperti ini. Kau bisa membawanya ?”
“Ah, tentu saja. Bagaimana dengan perutmu saat ini ?” tanyaku sambil mendekatinya.
”Sakit, tapi masih belum saatnya.”
Aku diam saja, karena tidak mengerti apa yang diucapkannya barusan. Tiba-tiba saja, Libya menyipitkan kedua matanya. Kelihatannya ia sedang mencoba untuk mendengarkan sesuatu, entah apa itu.
“Eva, kau dengar itu ?”
“Huh ? Dengar apa ?”
Aku dan Libya diam sejenak. Padahal aku tidak mendengar apa-apa, tapi Libya seketika terlihat sangat ketakutan saat ini.
“Eva, di belakangmu !!”
Aku dengan cepat segera menoleh ke belakang, dan benar saja, ada seseorang yang menghampiri kami berdua di ruangan, dan dia bukanlah seorang manusia. Seorang Null, berjalan dengan langkahnya yang kaku dan menatap ke arah kami dengan tajam.
“Negro sialan. Libya sedang akan melahirkan, bodoh !!”
Aku pun langsung mengarahkan flamethrower ku kepadanya. Namun saat aku mencoba untuk menarik pelatuknya, tidak ada apapun yang terjadi, seolah pelurunya sudah habis seketika.
“Libya, menjauhlah dari sini, sekarang juga !!”
Tanpa jawaban apapun, Libya segera melakukan perintah ku. Aku berdiri di depan Libya, bersiap untuk menyerang si Negro bajingan ini walaupun sudah tidak punya apa-apa lagi untuk menyerangnya, kecuali dengan kekuatan regenerasi ku.
Benar, dia adalah Null yang asli.
__ADS_1