
Di saat yang lainnya melawan Null, orang ini justru berada di toilet dan mencuci pistolnya. Dia memang layak untuk dibenci. Lupakan itu, aku benar benar kebelet pipis sekarang. Aku berjalan melewatinya dengan cepat, dan mata kami sempat saling bertemu satu sama lain. Mata birunya itu nampak seperti terbuat dari kaca asli. Cantik, tapi menyebalkan, selalu saja ada orang orang seperti itu.
Aku dengan cepat membuka pintu salah satu toilet, dan akhirnya aku merasakan momen momen melegakan selama beberapa saat. Aku harus cepat. Aku tidak bisa membiarkan Libya menunggu lama lama di luar sana. Setelah selesai, aku pun segera keluar dari kamar toilet itu, dan aku sepertinya melupakan sesuatu. Aku belum menyiramnya !! Aarrgh, ini benar benar memalukan. Apalagi si rambut biru sialan itu melirik ke arahku saat ini ! Lupakan saja. Lagian tidak mungkin ada orang yang akan ke toilet di saat saat outbreak seperti ini, kecuali si rambut biru itu dan juga aku sekarang. Anggap saja tidak terjadi apa apa.
Dengan penuh percaya diri, aku berjalan menuju wastafel yang ada tepat di samping kiri si rambut biru. Kemungkinan besar dia memang agen yang disebut Nova itu. Aku merasa terganggu saat ini. Lirik saja aku terus, sialan.
“Eva Rosenthal, huh ?” gumamnya.
“Nova. Sepertinya itu namamu, bukan ?”
Baguslah. Tidak perlu yang namanya perkenalan lagi. Dugaanku memang benar, dia mengangguk saat aku menyebut namanya. Itu berarti memang benar, kalau sialan yang ada di sampingku ini adalah Nova.
“Atau mungkin harus ku panggil kau dengan SCR 230 ?”
“Huh ?”
Aku menoleh ke arahnya secara perlahan dengan tatapan tajam. Omong kosong macam apa yang dia bicarakan ?
“Tentu saja, kau tidak akan pernah sadar.”
Orang ini kena dementia ? Sepertinya begitu.
“Apa yang kamu tahu tentang aku ? Tidak ada, kan ? Aku bahkan baru bertemu denganmu saat ini.”
“Sayangnya, aku tahu semua tentangmu, Eva bodoh. Masa lalu mu, kakakmu yang bernama Ivan, bahkan sampai hubunganmu dengan Rigel si SCR itu.” ucap Nova sambil berbalik membelakangi ku.
“Apa kau baru saja memanggilku bodoh !?” tanyaku dengan nada penuh amarah. Aku berjalan menghampirinya, namun dibuat berhenti seketika saat Nova berbalik dengan cepat dan sudah menodongkan pistolnya ke arahku. Dia bahkan terlihat jauh lebih terlatih daripada agen yang lainnya.
“Ini sudah menjadi misiku untuk mencegah Shan yang sedang menggila itu untuk mendapatkan mu, Eva.”
“Shan ? Sayang sekali aku tidak pernah kenal dengan orang itu. Lagipula, apa hubungannya denganku, bodoh ? Baik juga kau, mau menjauhkan ku dari orang yang kelihatannya sangat gila itu.”
“Itu artinya aku harus membunuhmu, bodoh.”
“Tidak ada cara lain, huh ? Oh, tentu saja, otakmu pasti dipenuhi oleh awan karena kamu adalah orang tidak pernah berpikir, bukan ?” ucapku dengan nada menyindir dan senyum sarkas. Dia benar benar kelihatan kena mental karena ucapan ku itu. Heh, aku bisa melakukan ini setiap hari, bahkan setiap detik sekalipun.
Aku dan Nova saling menatap satu sama lain dengan tatapan tajam. Sudah diputuskan, ini akan menjadi sebuah pertarungan yang epik.
“Ada satu lagi yang mau ku katakan padamu.”
“.....”
“Fuck you, Nova.”
Dengan gerakan secepat kilat, aku menepis pistolnya dari kepalaku, dan sedetik kemudian ia menarik pelatuknya dan menembak lantai. Dia bisa saja menembak kepalaku barusan. Tapi entahlah, dia terlihat seperti orang bodoh dengan pistolnya itu.
“Reflek mu sangat lambat, huh ?”
“Aku hanya membiarkan semuanya berlalu, seperti yang kau inginkan, bodoh.”
Aku hanya melihat omong kosong di ucapannya itu. Lupakan saja, aku harus menyerang sesering mungkin. Aku berniat untuk menyikut kepalanya dengan tangan kanan, namun ia berhasil menangkisnya. Dia sepertinya membiarkan hal itu terjadi. Menyebalkan, beraninya dia meremehkan ku.
“Rasakan ini, bangsat !!”
Masih dengan tangan kananku, aku mendorong tangkisannya itu, dan berhasil mengunci kepalanya. Kalian kira aku ini petarung amatir ? Tentu saja tidak ! Walaupun aku ini kurus kerempeng seperti shy guy, tapi aku sudah berkali kali melakukan smack down ke ribuan orang, tahu. Setidaknya aku sudah paham dasar dasarnya untuk melakukan hal ini. Aku berhasil membuat Nova jatuh ke lantai dengan menyandung kaki kanannya. Demi Tuhan, orang profesional seperti dia harusnya tidak akan jatuh terbaring ke lantai dengan mudah seperti ini.
“Dimana hasil latihanmu selama ini, bodoh !?”
Nova sekarang sudah berada dalam kendaliku. Dia tidak bisa apa apa selain menerima pukulan kerasku secara bertubi tubi. Keadaan sangatlah baik selama ini untukku, setidaknya sebelum dia akhirnya menembakkan peluru dari pistolnya kepadaku. Aku berhasil menghindari tembakan yang pertama, begitu juga dengan tembakannya yang kedua. Sudah kubilang, dia tidak akan bisa melakukan apa apa di posisi seperti ini.
“Diam lah, bodoh !!”
Dengan cepat aku menahan kedua tangannya yang sedang memegang pistolnya, kemudian kembali menyikut wajahnya dengan kuat. Sikutan ku itu berhasil membuatnya mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku terus menahannya dengan sikut ku. Pertarungan ini sudah berakhir, mungkin ?
“Jangan berhenti... Dulu, bangsat.”
__ADS_1
Sebuah bilah pedang tiba tiba menggores rusuk kiri ku. Sial, aku lupa kalau dia ini adalah agen spesial ! Nova menggulingkan ku dengan sekuat tenaga, dan kini keadaanku menjadi terbalik. Nova berada di atasku sekarang, dan dia menusukkan pedang energinya yang berwarna biru ke arahku berkali kali. Aku terus menghindarinya sebisa mungkin dengan menggerakkan kepalaku ke kanan dan kiri. Aku harus menghentikan serangannya sekarang juga.
“Rasakan ini, ****** !”
Pukulan ku berhasil mendarat di wajahnya. Bukan hanya itu, aku juga berhasil menyingkirkannya dariku dengan menarik rambutnya dan kemudian melemparkannya ke kanan. Aku pun bangkit berdiri dengan cepat.
“Kita bermain gulat, huh ?”
“Fuck you.”
Aku mengarahkan pukulan sekali lagi ke arah Nova, namun dia menyandung kaki kiriku dan membuatku hampir terjatuh, kemudian Nova bangkit berdiri dengan cepat. Nova melanjutkan serangannya kembali, namun pukulan ku sudah mendarat terlebih dahulu di perutnya. Nova mengerang kesakitan dan sempat berjalan mundur beberapa langkah. Aku pun melanjutkan serangan ku kembali.
Pertarungan berlangsung dengan sangat sengit. Hingga akhirnya aku berakhir dalam cekikannya.
“Mau menyerah ? Ini adalah kesempatan terakhir mu.”
“Diam lah. Aku masih belum kalah disini, ****** !”
Satu satunya cara untuk membebaskan diri dari keadaan seperti ini adalah dengan menggunakan kekuatanku. Aku menghentakkan kaki kananku, dan seketika sebuah ledakan angin yang kuat menghempaskan Nova ke belakang. Sepertinya aku harus mulai untuk membiasakan diri dengan menggunakan kekuatan ini sesering mungkin.
“Lihatlah, akhirnya SCR itu keluar juga.” gumam Nova yang baru saja mendarat di lantai dengan tajam. Cih, orang ini menyebalkan sekali.
“Baiklah, ronde kedua. Kali ini kau akan babak belur, Eva.”
“Benarkah ? Aku tidak merasa kalau itu bakal terjadi.”
Nova mendengus kesal, dan beberapa saat kemudian dia tiba tiba saja sudah berada di dekatku dan bersiap untuk menusukkan pedang energinya. Dia bisa berteleportasi ? Apa apaan itu ? Aku dengan cepat mengunci tangan kanannya kembali saat dia masih berada di udara, kemudian menatapnya dengan tajam.
“Kamu kira kau juga bukan anomali, Nova !?”
“Hmph, ini benar benar 100% murni berkat teknologi, bodoh.”
Nova berpindah ke belakangku seketika, kemudian melancarkan sebuah serangan. Aku berhasil menghindari serangannya, dan pertarungan sengit pun kembali terjadi. Aku terus menepis tembakan dari pistolnya, dan setelah beberapa pukulan brutal terjadi, Nova berhasil membuatku berhenti seketika dengan menodongkan pistolnya ke kepala ku sekali lagi. Aku hanya terkejut saja. Pistolnya itu tidak akan menjadi ancaman lagi bagiku.
“Pelurumu sudah habis, tahu.”
Pistolnya mulai memancarkan cahaya biru terang di sekelilingnya, dan secara tiba tiba sebuah bilah pedang energi muncul dan hampir menusuk wajahku. Untungnya refleks ku sangatlah cepat, secepat makhluk yang bernama Alan. Aku hanya menerima goresan kecil saja, dan itu sudah membuatku marah. Bajingan, kulit putihku ini belum pernah menjadi kasar selama bertahun tahun, tahu !
“Itu sakit, ****** !!”
Aku mengeluarkan flamethrower ku, kemudian memukul perutnya dengan menggunakan flamethrower tersebut. Sudah saatnya untuk membakar orang ini menjadi debu. Setelah Nova mundur ke belakang beberapa langkah, aku mengarahkan flamethrower ku kepadanya dan mulai membakar apa saja yang ada di dalam toilet ini. Sungguh liar, seperti Larry. Bahkan saat aku menggila sekalipun, Nova masih menghindari serangan ku dengan mudah. Jadi begitu, ternyata orang ini susah untuk diprovokasi, huh ? Kalau begitu, aku hanya perlu menggila lebih lagi. AHAHAHAHA, dia terlihat seperti tikus kecil tak berguna yang terjebak di perangkap tikus ! Lihatlah, dia hanya bisa berlari, terus berlari hingga tidak ada tempat lagi yang bisa dia pijak karena semuanya sudah dibakar oleh api ! Senjata ini benar benar MENYENANGKAN !!
“Aakh !”
Sialan, sejak kapan dia sudah berada di belakangku !? Aku harus membakarnya sekarang juga ! Kalau tidak, aku bisa kena tendang sekali lagi.
Braaakk !
Dan itu semua terjadi. Aku terkena tendangan berputar oleh orang sialan ini hingga jatuh menghancurkan pintu salah satu toilet. Harusnya aku lebih baik menghindar daripada menyerang balik tadi. Bah, lupakan saja ! Semuanya sudah berlalu. Kali ini dia memang menang telak, tapi selanjutnya, ini tidak akan terjadi lagi !
“Sudah kuduga. Kau memang harus dibunuh secepat mungkin. Sebelum menggila seperti tadi.” ucap Nova sambil menodongkan pistolnya yang sudah dia isi kembali ke arahku.
“Sayang sekali, ini belum waktunya buat aku untuk mati, bodoh.”
“Nova !!” seru seseorang dari luar sambil diikuti oleh satu tembakan yang hampir mengenai kepala Nova. Suara itu adalah Libya, aku sangat mengenalinya. Hehe, aku masih sangat beruntung, bahkan sampai saat ini sekalipun. Libya memang orang terbaik yang pernah ku temui.
“Sialan, aku tidak pernah menduga ada admin di saat saat seperti. Sedang hamil, tapi kau masih rela menerobos api seperti ini. Apa yang terjadi, admin Libya ? Anomali ini mencuci otakmu ?”
“Eva tidak pernah melakukan itu, bangsat !!”
Omagaaadd, aku akhirnya mendengar Libya mengumpat ! Ini adalah pertama kalinya aku mendengar Tante Libya berbicara sekeras itu. Benar benar momen langka !
“Lupakan saja. Yang seperti ini tidak akan terjadi di selanjutnya.” ucap Nova sambil menghilang entah kemana. Walaupun aku tidak benar benar membakarnya, dia memang berubah menjadi debu di akhir waktu. Kini yang ada di hadapanku bukanlah Nova, melainkan Libya.... Dengan wajah seramnya. Aduh, sepertinya aku akan kena ceramah lagi olehnya.
“Kekacauan apa yang kau buat kali ini, Eva ?”
__ADS_1
“Uh, maaf keun. Hehe.”
Hanya bisa tersenyum canggung. Begitulah keadaan ku saat ini.
“Urrgh !”
“Eh kamu masih kontraksi sampai sekarang, Libya !?”
“Kontraksi ku jadi lebih parah gara gara ulahmu, tahu.” jawab Libya sambil menahan rasa sakit yang ada di perutnya.
“Ah.... Lagi lagi maaf.”
...****************...
Beberapa saat kemudian, aku mengistirahatkan Libya di tempat aman. Kini ia sedang berada di sebuah ruangan staff, sedangkan aku, masih berkeliling mengitari lorong lorong gak jelas ini. Aku punya firasat buruk tentang pertemuan menyebalkan yang lainnya. Ozma ? Suzaku ? Pasti salah satu dari mereka. Petualangan melintasi lorong lorong ini tidak akan lama, jadi aku harus melakukan dengan cepat, atau Libya akan ada dalam bahaya tanpa penjagaanku.
Seperti biasa, aku berjalan melalui lorong lorong ini dipenuhi oleh keheningan, kesepian, kesengsaraan, dan juga kebosanan. Selalu merasa sengsara saat bosan, itulah kelemahan terbesarku. Omong omong, seluruh lorong yang sudah ku lewati sebelumnya itu dipenuhi oleh cahaya lampu berwarna merah karena alarm bahaya, kecuali satu, lorong di depanku. ‘Sigh’ benar benar aneh, tapi aku tetap akan pergi ke sana. Karena aku (akan) selalu hidup seperti Larry.
Akhirnya, setelah melakukan beberapa langkah yang cukup melelahkan (sebenarnya tidak), aku sampai di lorong dengan cahaya lampu putih terang itu, seterang cahaya ilahi. Dan benar saja, firasat buruk ku benar benar terjadi. Aku bertemu dengan seseorang yang menyebalkan, yaitu Suzaku. Dan kini ia sedang berhadap hadapan bersamaku dengan tatapannya yang penuh kejutan, sama seperti aku juga. Sepertinya, bukankah 9 chapter yang lalu aku ingin menjambak rambut merahnya yang menyebalkan itu ? Mungkin aku akan melakukannya sekarang.
“Jadi, apa yang lu lakuin di sini, mbak Eva ?”
“Aku juga punya pertanyaan yang sama denganmu. Apa yang lu lakuin di sini, bocah merah ?”
“Jalan jalan, seperti biasa.”
“Menyebalkan. Tapi, apa kita punya pikiran yang sama ? Soalnya aku juga lagi jalan jalan sekarang.”
Luar biasa, bocah ini baru saja mengatakan ‘Jalan jalan’ tanpa rasa bersalah sedikitpun. Pake ‘seperti biasa’ lagi.
“Cih, kesamaaan itu bikin gw kena demam, tahu ?”
“Heh, dan gw juga dibuat iritasi gara gara itu, bangsat.”
Tunggu, apa aku dan bocah merah ini benar benar punya kesamaan pola pikir ? Menyebalkan.
“Sigh, gw punya satu pertanyaan lagi buat lu. Sebagai agen, bisa banget ya jalan jalan sebebas ini ?”
“Gw bukan cuma jalan jalan doang, Eva bodoh. Gw juga ngebunuh beberapa orang, tahu.”
“Membunuh.... Beberapa orang ? Bukankah kalian semua jadi agen buat melindungi orang lain !? Dasar munafik !!” seruku sambil menjambak rambut merahnya itu. Akhirnya, aku melakukan hal ini juga.
“Aarrrgh ! Lagian, gw gak pernah bilang pengen ngelindungin orang laen, bangsat !!” berontak Suzaku sambil menarik rambutku juga. Menjambak balik ? Beraninya bocah ini.
“Pantes aja lu dibenci se yayasan ini, bodoh !!” lanjut ku sambil menghantam kepalanya dengan kepalaku. Suzaku mengerang kesakitan dan dibuat mundur ke belakang seketika. Heh, kepalaku ini memang sangat keras, tahu. Sekeras punya Tanjiro. Kini, dia menatapku penuh dengan kebencian. Memang bocah yang menyebalkan. Tidak pernah tahu salahnya dimana.
“Yang tadi itu sakit, bangsat !!”
Oh tidak, dia mulai mengembangkan sepasang sayapnya yang berwarna merah itu. Beberapa saat kemudian, ia melesat ke arahku dan mendorongku terus menerus, membuatku terbang bersama dengannya selama beberapa waktu. Tidak pernah menyangka kalau akhirnya manusia benar benar bisa terbang menggunakan sayap. Mungkin saja, orang ini adalah orang paling pertama dalam sejarah yang dapat terbang menggunakan sepasang sayap. Apakah aku harus dibuat kagum oleh rekornya ? Sepertinya tidak.
Suzaku mendorongku hingga akhirnya menabrak tembok besi. Baiklah, itu benar benar menyakitkan. Apapun yang orang ini lakukan sepertinya memang bisa menyulut emosi dengan mudah, huh !? Dia, sangat menyebalkan !
“Aakh ! Pukulan yang bagus, bajingan !”
Suzaku mengepalkan tangannya, dan kemudian, duri duri tajam nan kecil muncul dari kepalannya. Ia memukul ku dengan keras, namun aku menghindarinya di saat yang tepat. Beberapa pukul pukulan sempat terjadi sementara aku masih terpojok di dekat tembok besi sialan ini, membuat adrenalin naik dengan drastis seketika.
Masih dalam keadaan pertarungan yang mendebarkan, aku terpaksa harus menahan tangan kirinya karena sesuatu yang tidak enak dipandang melewati kedua mataku. Aku dibuat berhenti menyerang karena melihat makhluk sialan itu melintas tepat beberapa meter di belakang Suzaku, dan kini sedang menoleh ke arah kami berdua. Yah, Suzaku masih tidak menyadari kehadirannya memang.
“Kenapa berhenti, bangsat !? Udah nyerah, hah !?”
“Lihat belakangmu, bocah bodoh !!”
Suzaku seketika memberhentikan pukulan tangan kanannya yang hampir mengenai wajahku, kemudian menoleh ke belakang sesuai apa yang ku teriakkan. Kalau saja tidak ada anomali, orang ini pasti mudah untuk ditipu. Naif sekali dia.
Matanya seketika melebar saat melihat seorang anomali sudah berdiri beberapa meter di belakangnya. Ternyata orang macam dia bisa takut juga, bahkan takutnya separah seperti aku. Bukan hanya menyebalkan, namun juga menyedihkan.
__ADS_1
Null, negro sialan ini selalu saja muncul di saat saat yang tepat. Herman banget, sih.