Anomaly

Anomaly
SCR 6000 : World Editor


__ADS_3

Sebuah cahaya lampu yang terangnya kebangetan menyinari kelopak mataku. Sejak kapan ruang di bawah tanah itu seterang ini ? Apa jangan-jangan di sana juga ada tukang lampunya ??


“Oh, akhirnya. Kamu bangun juga ternyata.”


Aku membuka mataku, dan di sana, tepat di hadapan wajah sialan ku, ada seorang pria dengan wajah yang ku kenal sama sekali mengamati ku. Wajahnya ganteng juga sih, hehe. Begitu orang itu mengetahui aku sudah membuka mata, dia menoleh ke arah belakang, sepertinya ada orang lain di sana.


“Oi, Robin !! Pacar mu dah bangun, tuh !!” seru pria kepada seseorang.


Orang ini tahu siapa itu Robin ?? Dan dia nyebut aku sebagai pacarnya !? Ini orang siapa sebenernya, bangsat !!? Minta di tendang aja bijinya.


“Dasar editor bajingan. Minggir lu.” jawab seseorang dari arah belakang si orang yang disebut 'editor' itu. Gak tau juga maksudnya apa.


Itu benar-benar suara dari Robin. Pria itu kemudian langsung menyingkir dari hadapanku setelah Robin menjawabnya. Akhirnya, setelah sekian lama aku berpisah dengan Robin, aku dapat melihat wajahnya kembali dengan mata kepalaku sendiri. Begitu melegakan ketika aku mengetahui Robin tidak apa-apa selama perpisahan ini berlangsung.


“Kamu keliatan depresi, Eva.”


“Oi, bajingan ini siapa ??” tanyaku sambil menunjuk ke 'editor' itu.


“Bajingan !!?”


Dia terlihat seperti syok berat, dan tidak akan pernah pulih selamanya dari penyakit mental itu. Aku kemudian berdiri, setelah sekian lama duduk di atas lantai sampai-sampai pantat ku sakit. Aku dan Robin saling menatap satu sama lain selama beberapa saat. Pipiku memerah, dan si bajingan 'editor' itu, ada di tengah-tengah kami dengan wajah datarnya.


“Robin, bisa kamu bunuh bajingan ini ??”


“Apa !!?” seru si 'editor' dengan suara keras tepat di telinga kiri sialan ku.


Robin menoleh ke si 'editor', menghela nafas kesalnya dan kemudian menjauhkannya dari ku beberapa langkah. Robin menepuk pundak si 'editor', dan kemudian membisikkan sesuatu semacam kata-kata bijak kepadanya. Kira-kira seperti ini yang dia katakan :


Diam, bajingan.......


Yup, benar-benar bijak, bukan ? Semangat hidup si 'editor' itu langsung hancur seketika, bisa dilihat dari dirinya yang langsung lemas tepat setelah dia mendengar perkataan Robin itu. Aku ingin berduka untuknya, tapi sepertinya itu tidak perlu juga, bukan ?


“Omong-omong, Robin. Napa kamu manggil dia 'editor' ?”


Robin menoleh ke arahku kembali. Mukanya itu, aku bisa mengatakan kalau ekspresi berubah seketika saat aku tanya kepadanya. Sungguh sebuah perubahan yang luar biasa.


“Yah, karena dia memang si 'editor'. Editor dunia lebih tepatnya. Dia itu........ Anomali.” jawab Robin dengan santai.


“....”


“Hah !!?”


Aku seketika menoleh ke arah bajingan yang menyebut dirinya sebagai editor dunia itu, menatapnya dengan sangat tidak percaya. Aku, baru saja diliat-liatin sama anomali !!?


“Mati lu iblis !!”


“Aww, what the f*ck !!!?”


Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi kanannya seketika. Sebenarnya, itu adalah tanganku sendiri yang menamparnya. Setelah itu, aku langsung mendekap ke tangan Robin.


“Kenapa aku harus ditampar, ****** !!?”


“Soalnya lu anomali, bangsat !!”


Tamparan yang lain mendarat di pipi kanannya kembali. Yang kali ini jauh lebih keras, bahkan sampai si editor menyemburkan ludahnya ke tembok. Robin hanya menatapnya dengan miris, sementara aku semakin mendekap erat dengan tangan kirinya Robin. Dari namanya saja, aku sudah tahu kalau bajingan ini adalah ancaman tingkat Avenger.


“Sialan, napa lu nampar gw dua kali, bangsat !!?”


“Soalnya lu setan, brengsek !! MATI, MATI, MATI !!!”


Robin seketika menahan pundak ku karena aku yang sudah lepas kendali. Kalau saja tidak ada Robin di sini, sudah pasti bajingan yang satu ini telah menghilang dari muka bumi karena tamparan beruntun ku. Hei, kalian tidak bisa menyalahkan ku sebagai orang kasar, karena itu hanyalah insting bertahan hidup milik ku.


“Eva, sebenarnya dia yang menyelamatkan mu dari mimpi buruk itu, tahu.”


Aku langsung menoleh ke arah Robin dan menatapnya dengan tajam. Yang dia katakan barusan, sudah pasti hanya candaan belaka, bukan ??


“Uh, yeah !! Kamu harusnya berterima kasih sama aku, bangsat !!” ucap si 'editor' dengan penuh kebanggaannya.


Tanpa basa-basi lagi, aku langsung menunjukkan jari tengahku kepadanya. Terus lah bermimpi, setan 'editor' sialan !!

__ADS_1


“Oi, kalian berdua. Kenapa kita tidak lanjut perjalanan kita aja ??”


“Gak bakal kalau ada dia, bangsat !!” seru ku kepada Robin, sambil bersembunyi di belakangnya.


Robin menghela nafasnya, sambil menatap ke arah si 'editor' yang ada di depannya itu. Terlihat, dia sudah sangat kelelahan dengan semua kebodohan ini. Nampaknya sih begitu.


“Baiklah, 6000. Kamu sudah tahu apa yang harus kamu korbankan, bukan ??”


“Huh ? Pengorbanan apa ??”


...****************...


Aku dan Robin berjalan berdampingan melewati lorong-lorong SCR yang seperti biasanya. Pemandangan di sekitar benar-benar berbeda dengan yang namanya rumah Mekhane sialan itu, jauh banget perbedaannya. Sementara itu, si makhluk 'editor' bajingan tersebut berjalan di belakang kami berdua, menggumamkan sesuatu yang entah apa sebenarnya itu. Cuma, hanya satu yang pasti, yaitu dia sedang kesal saat ini.


“Oh, omong-omong, kamu bisa memanggilku dengan nama Hanz........ Nona, nyonya, ****** ?? Entah siapa namamu.”


Aku mengacungkan jari tengahku ke belakang, teracung tinggi-tinggi di atas udara. Sudah pasti dia bisa melihat tanda perdamaian itu dengan sangat jelas, tidak mungkin tidak.


“Oh ya, atau mungkin aku bisa memanggilmu dengan f*cker.”


Bajingan ini....... Apakah di kamus kehidupannya itu tidak ada pengertian untuk diam ?? Aku berhenti melangkah seketika, menatapnya dengan tatapan yang tajam seperti pedang. Robin pun sepertinya juga ikut berhenti karena kesal dengan bajingan yang satu ini.


“Selama ada mulutnya, bajingan ini gak akan pernah berhenti ngomong, Eva. Lupakan saja dia.” bisik Robin kepadaku.


“(Sigh) Memang keliatannya kayak begitu.”


“Oh, aku juga bisa buat mulut yang lain kalau kalian mau, tahu.”


“Kalo gitu, bakal gw jahit mulutmu yang satunya, bangsat !!”


Berbicara dengan makhluk humanoid ini saja sudah sampai membuat nafasku terengah-engah. Luar biasa, sebenarnya siapa sih yang ngelahirin beban dunia kayak dia ini ??


Aku membelakangi si 'editor' itu, kemudian kembali berjalan dengan Robin lagi. Dia tentu saja mengikuti kami berdua dari belakang.


“Omong-omong, kenapa disini rasanya sepi banget dah ??” tanyaku setelah melihat ke sekeliling lorong ini.


“Tempat ini sedang dalam kekacauan total. Recitativo di momento sudah tercipta, berkat seorang maniak pembawa gergaji yang berlarian kesana-kemari di tempat ini.”


“Hah ? Resi...... Restitu....... Retribusi ?? Apaan tuh ??”


Hanz seketika menginterupsi, membuat jantung ku sempat hampir copot beberapa saat.


“Itu adalah waktu yang hancur. Singkatnya, kita terjebak di antara masa lalu, masa sekarang, tapi juga di masa depan saat ini. Semuanya hilang begitu saja, entah kemana mereka yang hilang itu.”


“Oh, kamu pinter juga ternyata.”


“Yeah, kamu bisa memujiku lebih lagi, tahu.”


“Dan aku lagi gak bercanda, bangsat !!”


Hanz diam seketika, kemudian menghela nafasnya untuk kembali ke topik seriusnya. Dasar bajingan, kenapa orang seperti dia harus ada di dunia ini ?


“Kalo gitu, kenapa cuma aku doang yang di selametin dari sana ? Gimana dengan teman-temanku ?”


“Teman-temanmu yang mana, bangsat ??” tanya Hanz sambil menyipitkan kedua matanya.


“Oh, aku belum kasih tau kalian ternyata. Lupa.”


Aku, Robin, dan Hanz masih berjalan melewati lorong-lorong yang sangat kosong ini, begitu datar tanpa ada yang spesial sama sekali. Pintu otomatis yang harusnya ada di setiap perbatasan antara lorong yang satu dengan yang lainnya, sudah terlihat seperti sebuah spesies langka bagiku. Kalau dari yang dikatakan oleh Hanz, saat ini aku ada di........ Entah di mana ?? Lupakan saja, aku pun juga sudah tidak peduli lagi dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia ini.


“Singkat aja, gimana caranya kita keluar dari 'entah tempat apa ini' ?”


“Memang mudah untuk dipahami, tapi akan susah untuk dilakukan. Kita harus tendang pantat si maniak itu.” jawab Robin.


“Hah ??”


“Dia agak sedikit melenceng, tapi paling tidak, dia dapet intinya.” lanjut Hanz.


Lama-lama, dua orang ini bisa membuat aku jadi gila beneran. Kami bertiga masih terus berjalan lurus melewati lorong-lorong yang rasanya tidak ada ujungnya itu. Beneran deh, ini bosenin banget, tahu. Tidak ada belokan, jalan menanjak atau menurun, atau jalan yang ditutup oleh sesuatu sekalipun. Dan selama perjalanan sialan yang membosankan itu, aku menghabiskan waktuku dengan berbincang-bincang bersama Robin dan Hanz. Semua waktu obrolan yang ku habiskan itu, terasa seperti sebuah siksaan mental untukku.

__ADS_1


Intinya, ini adalah event Recitativo, sebuah event anomali yang terjadi karena ada seseorang bajingan yang bermain-main dengan ruang dan waktu menggunakan kekuatan mereka. Ada dua situasi yang terjadi selama event ini dimulai, dan keduanya itu sama-sama buruk menurutku. Situasi yang pertama, adalah kita sebagai manusia tidak terjebak di dalam ruang waktu. Seluruh kejadian yang terjadi di luar ruang waktu Recitativo itu akan terus terjadi secara berulang-ulang, jadi tidak akan ada yang namanya mati di luar sana. Bayangkan saja, ada orang yang disiksa dengan sengaja di luar lorong waktu itu, maka dia akan terus disiksa bagaikan sebuah rekaman kamera yang di replay berkali-kali, hanya saja terjadi secara real life.


Sedangkan, situasi yang kedua adalah terjebak di dalam ruang waktu Recitativo, seperti yang aku, Robin, dan Hanz sedang alami saat ini. Sesuai dengan yang selalu aku lihat selama di dalam sini, tidak ada apa-apa sama sekali. Tidak ada yang namanya jalan keluar, ataupun jalan masuk. Hanya saja di dalam ruang waktu ini, orang yang terjebak di dalamnya bisa menemukan sebuah celah waktu berdasarkan kehokian mereka. Celah waktu itu kemudian akan langsung mengarahkan orang yang hoki tersebut kepada si dalang di balik semua kekacauan ini, dan itulah yang sedang kita harapkan untuk terlihat di mata kami sekarang. Bisa-bisa, si celah waktu atau apalah itu sudah terlewat jauh di belakang sana.


“Robin, aku bisa-bisa sampai pingsan karena kecapekan kalau begini terus, tahu.”


“Hei, aku suka rela buat gendong kamu, kalau mau.” ucap si Hanz sialan itu.


“Gak boleh !! Najis, najis !!”


“....... Uh, okey.”


Hanz langsung diam seketika di saat itu juga. Akhirnya, sebuah keheningan sesaat yang memberiku kesempatan untuk bernafas lega. Aku menunggu jawaban kepedulian Robin selama beberapa saat, namun yang ku dapatkan justru jauh berbeda dari apa yang kuinginkan. Saat aku melirik kepadanya, Robin terlihat menyipitkan kedua matanya, sebelum akhirnya bergegas menuju ke arah depan entah karena apa. Yang aku lihat di depan sana padahal cuma tembok aja, sama kayak yang lainnya.


“Hanz, sepertinya aku menemukan sesuatu !!” ucap Robin dengan suara agak tergesa-gesa.


“Apa ? Kamu menemukan kalau tembok itu terbuat dari tembok ??”


“Dasar bodoh, itu si celah waktu, tahu !!” seru Robin lebih keras lagi karena sudah kehabisan kesabarannya. Sepertinya dia juga bosan terjebak di tempat ini.


“Hah ?? Celah !? Di mana itu, anjink !!?”


Robin seketika menarik tanganku, sedikit berjalan cepat melewati sebuah bingkai pintu otomatis, kemudian berhenti di depan sebuah tembok yang nampaknya memancarkan cahaya biru yang sedikit redup. Hebat juga Robin, bisa tahu kalau tembok ini adalah celah waktu tersebut. Jangan-jangan, ini mengarah kembali ke rumah Mekhane itu ?


“Oi, beban dunia !! Kamu harusnya bisa periksa ini kan ?”


“Aku gak pernah jadi beban, bangsat.” keluh Hanz pada Robin.


Aku selalu bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya membuat si bajingan satu ini disebut sebagai editor dunia, sampai pada akhirnya, aku melihat kekuatannya dengan mata kepalaku sendiri. Hanz mendekati tembok bercahaya biru itu dengan malas, terlihat sangat tidak menarik bagiku, pada awalnya. Namun semua ketidaktertarikan ku itu pada akhirnya menghilang, setelah Hanz kemudian menghela nafasnya dan menaruh tangan kirinya ke tembok bercahaya biru itu. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi seluruh tubuh Hanz kemudian juga jadi ikut mengeluarkan cahaya biru. Hanz bercahaya terang layaknya sebuah cahaya ilahi di hadapan mataku seketika itu juga, dan seluruh dosaku seolah sudah dibaptis oleh kesuciannya.


“Robin, apa-apaan cahaya ilahi ini !!?”


“SCR 6000, dia bisa mengubah apa saja yang ada di dunia ini sesuai dengan keinginannya. Memang luar biasa kuat, tapi tetap saja dia sering kewalahan kalau sedang bertarung.”


“Oi, siapa yang bilang kayak begitu, bangsat !?” tanya Hanz secara tiba-tiba, masih dalam wujud cahaya ilahi miliknya.


“Mendingan kamu fokus aja ke cahaya ilahi mu itu, atau kamu bakal beneran dianggap sebagai beban dunia setelah ini.” ucap Robin dengan nadanya yang terkesan sangat mengejek.


Dua orang ini punya hubungan teman tapi musuhan, huh ? Rada-rada unik juga keliatannya.


Beberapa saat telah berlalu, dan pada akhirnya, yang awalnya itu hanyalah tembok bercahaya, kini sudah berubah menjadi sebuah portal menuju ke dunia lain, masih terlihat seperti bagian dari rumah Mekhane menurutku.


“Harus ku akui, insting mu hebat juga, manusia.”


“Heh, kamu bisa memujiku lebih lagi, anak dewa yang terbuang.” balas Robin dengan sebuah seringai kecil di mulutnya.


Mereka berdua kemudian langsung saling menatap satu sama lain, seperti sebuah pertanda kalau dua orang ini bakalan baku hantam tidak lama lagi. Gila, Robin dalam mode sarkas nya benar-benar mengerikan !!


“(Sigh) Jadi, kita mau cari apa di sini ? Si gergaji maniak ? Temen-temennya Eva ? Atau jalan keluar ??” tanya Hanz sambil memalingkan pandangannya ke arah portal dunia lain yang baru saja dibuatnya itu.


“Kita bakal cari semuanya, bodoh. Pake nanya.” jawab Robin.


Sialan, sepertinya ini bakalan jadi petualangan ku yang paling panjang di dunia lain. Kedengarannya sangat mengerikan, sampai-sampai aku menelan ludahku sendiri tanpa sadar. Melihat itu, Robin pun menawarkan tangan kirinya kepadaku untuk ku peluk erat, sama seperti biasanya kalau aku ketakutan.


“Kita bisa lakukan ini bersama-sama, Eva.” ucap Robin.


Ada dua orang pria yang bersama ku saat ini. Robin, yang skill panahannya itu sangat hebat, dan kemudian ada Hanz. Si anomali bajingan yang bisa mengubah apa saja sesuai dengan keinginannya sendiri. Bukankah itu berarti, kekuatan mereka berbanding sangat jauh !!?


“.......”


Maafkan aku, Robin, tapi aku harus memilih Hanz kalau yang situasinya se-mengerikan ini !! Aku bersembunyi di belakang Hanz, memegangi kedua pundaknya sambil menjauhi tangan kiri Robin yang terulur sedikit ke bawah, menungguku untuk memeluknya. Hanz pun menyeringai balik ke arah Robin seketika.


“Terkadang, aku menyebut diriku sendiri sebagai pemenang absolut. Pffft !!”


“Diam, potter.”


“Aku bukan potter.” jawab Hanz.


Apakah bagi Robin, ini adalah instan karma untuknya ??

__ADS_1


__ADS_2