Anomaly

Anomaly
Riddles of God


__ADS_3

Selamat datang di Istana Archon !!


“Apaan lagi tuh !? Waktu itu selamat datang di rumah Mekhane, sekarang istana Archon !??”


“Kecilin suaramu, sialan. Kamu bisa saja membangunkan sesuatu, tahu.”


“Hah !? Membangunkan apa !!?”


Aku menoleh ke arah Hanz seketika, sekaligus menarik tangannya secepat kilat, membuatnya tersentak dan hampir saja jatuh ke lantai keramik. Beberapa saat yang lalu, aku, Hanz, dan Robin, memasuki portal celah waktu yang ada di tembok itu. Dan di sinilah aku dan Hanz berada sekarang, di sebuah interior istana dengan lantai keramik. Entahlah ini ada di bagian mana, tapi yang pasti, ini bukan bagian utama dari istananya.


“Dengerin aku, bajingan. Ini bukan tempat bermain, tahu !!”


“Uh, yah..... Baiklah !! Kecuali kalo ada jumpscare........”


Sifat Hanz rasanya langsung berubah menjadi 180° derajat menurutku, entah kenapa. Dia menatapku dengan sangat tajam, dan juga mengerikan. Dia keliatan seperti mau menghajar ku karena kesal, tapi nampak itu menghilang seketika saat Robin akhirnya masuk dari portal itu juga, berjalan di belakangku sambil memegang busur panah di tangan kirinya. Untunglah, aku akan selalu aman kalau ada Robin !!


“Robin, kamu datangnya agak lama juga, huh ?? Kenapa ?”


Aku mengamatinya secara terus-menerus, sudah menunggu pertanyaanku untuk mendapatkan jawabannya, namun Robin bahkan tidak melihat ke arahku sedikitpun. Aku....... Sudah kayak hantu di hadapannya !! Robin melihat ke area sekitar selama beberapa saat, sebelum akhirnya, dia melihat ke arahku untuk pertama kalinya setelah jeda waktu yang sangat lama itu.


Tapi tetap saja, mukanya itu masih terlihat menyebalkan menurutku. Kenapa sih semua orang kayaknya berubah seketika sifatnya habis masuk ke sini ??


“Tempat ini terlalu luas, kita berpencar.” ucap Robin sambil berjalan pergi, menuju ke arah sebuah pintu kayu coklat yang ada di sisi kanannya.


“Tunggu, apa kamu marah ?? Aku cuma milih dia buat kali ini aja, tahu !”


“Bukan itu masalahnya, Eva !!” jawab Robin dengan sangat keras.


Sepertinya, emosi Robin sudah meledak saat ini, dan aku memang bertindak terlalu bodoh. Singkatnya, aku membiarkan Robin pergi menuju pintu kayu itu, sementara aku dan Hanz mengelilingi area istana yang lainnya, sampai akhirnya, kami berdua tiba di sebuah di sebuah ruangan luas yang katanya Hanz adalah sebuah ruang perpustakaan. Aku bahkan tidak melihat ada satu pun buku di sini. Bagaimana ini bisa disebut sebagai perpustakaan ?


“Oi, kamu keliatannya kok serius banget sih di sini ? Padahal waktu di luar, lebih kayak badut daripada anomali.......”


Hanz mendiamkan ku sejenak, masih lanjut berjalan melewati lorong-lorong ruangan yang katanya perpustakaan ini bersama dengan ku. Hanz kemudian menyeret tangannya di tembok sebelah kiri, seperti sedang mencari sesuatu dengan sentuhannya. Aku pun mulai mengamati gerak-geriknya yang aneh itu, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menjawab pertanyaan ku secara tiba-tiba.


“Archon, sudah lama aku gak denger nama itu. Mereka adalah ras psikopat bajingan dari si ****** Mekhane, bisa di bilang sebagai anak pertama dari garis keturunannya secara langsung. Mereka adalah penjaga, walaupun sebenarnya lebih tepat kalau disebut sebagai iblis yang sesungguhnya. Kamu lebih baik diem aja, manusia.”


“Oh, waw. Panjang kali lebar banget omongan mu........”


“Jangan bercanda terus, bodoh. Aku lagi cari jebakan-jebakan sialan mereka sekarang.”


“Hah ? Jebakan ?”


Tiba-tiba saja, ada sebuah suara dari jubah yang tertiup oleh angin terdengar di belakangku. Aku dan Hanz menoleh ke belakang seketika, dan seperti film-film horor biasanya, tidak ada siapapun di belakang sana.


“Mereka menemukan kita.......”


“Maksudmu ? Aku gak paham sama sekali, sialan !!”


“Cih, harusnya di perpustakaan lebih aman daripada di sini. Ikut aku !!”


“Hah !? Kayak aku bakal berani keliling di sini sendirian.”


Aku tidak punya pilihan lain selain membiarkan tanganku ditarik oleh Hanz, berlari bersama-sama lurus ke depan melewati lorong dengan lantai keramik berwarna emas itu. Memang pemandangan di sekitar sangat mewah dan juga terlihat cukup terawat, tapi itulah yang membuat istana ini jadi lebih seram. Hanya beberapa langkah berlari saja, dan tiba-tiba kami berdua sudah dikelilingi oleh kabut hitam yang sangat pekat. Aku berasa seperti cosplay jadi orang buta saat ini.


“Jebakannya......”


“Apa maksudmu ?? Ini jebakannya ???”


Kalau dilihat-lihat lagi, lantai tempat kami berdiri pun juga ikut berubah, menjadi sebuah lantai kayu dengan cahaya biru terpancar terang di bawahnya. Ini kembali ke area labirin itu lagi ?


Aku dan Hanz melihat ke sekeliling kami, walaupun sebenarnya tidak ada yang bisa terlihat di sini. Di sekitar ku, terdengar suara-suara seseorang atau apalah itu, yang sepertinya bergerak dengan sangat cepat mengelilingi aku dan Hanz berkali-kali. Mereka tertawa, dan beberapa saat kemudian mulai berkata-kata kepada kami berdua.


Lihatlah, lihatlah !! Ada penyusup najis masuk ke dalam istana Archon yang suci ini !!


Kalian sudah terjebak, kalian sudah terjebak di dalam sini !!


Mau itu sebuah ancaman, gertakan gigi, atau pedang dan panah sekalipun, itu semua tidak akan pernah membantu kalian keluar dari istana ini !!

__ADS_1


Kalian, adalah mangsa para Archon......


Kalian, adalah mangsa kami semua !!


“Mereka itu Archon !?”


“Sepertinya memang begitu.” jawab Hanz sambil meraih sesuatu di dalam saku celananya.


Tiba-tiba saja, seluruh kegelapan itu menghilang seketika. Lantai pun sudah kembali menjadi keramik. Aku dan Hanz sepertinya masih ada di lorong yang sama pula. Tidak ada apa-apa yang terjadi pada badanku, maupun badannya Hanz. Oh liat deh, siapa yang sebenernya ngancam doang di sini.


“Jadi, itu cuma sambutan mereka aja ??”


“Yup, sambutan yang buruk memang. (Sigh) Well, kayaknya ini waktu yang tepat buat lanjut ke perpustakaan sekarang juga.”


Setelah mengatakan itu dengan helaan nafasnya yang panjang, Hanz seketika menarik tanganku dan berlari ke arah depan dengan sangat cepat, seperti sedang terburu-buru untuk menemukan sesuatu yang tanda tanya.


“Oi, ngebet banget sih lu ke perpustakaan !! Memangnya di sana ada apaan, bangsat !?”


Hanz pun menoleh ke arahku sejenak, sebelum akhirnya kembali menghadap ke depan sambil masih terus berlari tanpa mengurangi kecepatannya sedikitpun.


“Kamu gak tau tentang Archon itu apa, kan ? Di sana ada banyak buku tentang mereka.”


“Itu sebuah ejekan buat aku !!? Dasar bajingan !!”


“Bercanda. Tempat sialan ini punya banyak teka-teki sialan juga, dan kebanyakan dari mereka disebut di buku-buku perpustakaan. Selagi kita masih belum berpetualang jauh di tempat ini, kita bakal cari clue sebanyak-banyaknya di sana.”


“Oh, speedrun banget tuh.”


Hanya sesaat kemudian, setelah berlari dengan kecepatan luar biasa sampai kehabisan nafas bersama-sama, aku dan Hanz akhirnya tiba di depan sebuah pintu kayu yang di sebelah kirinya terdapat sebuah tangga berputar menuju ke atas. Tangga itu bagaikan sebuah properti di game saja, ada di sana hanya sebagai hiasan biasa yang tidak bisa dipakai oleh siapapun. Hanz langsung mendobrak masuk pintu itu, dan dia pun masih menarik tanganku, membuatku hampir jatuh terjerembab ke atas lantai.


Anjing banget emang......


“(Yawn) Nampaknya, mereka cuma membual doang. Kamu ke atas, aku keliling di bawah.”


Aku diam sejenak, memikirkan sesuatu yang selama ini terasa janggal menurutku. Dia tiba-tiba saja muncul di hadapanku waktu itu, dan seolah dia sudah sangat dekat dengan Robin sejak lama. Memangnya dia itu siapa ?


“Oi, tunggu dulu.”


“Selama ini, kamu seolah nyebut dirimu sendiri sebagai semacam dewa, setengah dewa ? Anak dari dewa ?? Kamu tuh sebenernya siapa sih ??”


“Itu...... Susah buat dijelaskan.“


Hanz hanya menjawab itu saja, kemudian melanjutkan petualangannya di sekitaran perpustakaan lantai satu itu. Barusan, Hanz menyuruhku ke lantai dua, bukan ? Aku pun pergi ke lantai dua, menaiki sebuah tangga berputar yang terbuat dari semacam kayu mahal. Singkatnya, aku sudah ada di lantai, menaiki 26 anak tangga lebih tepatnya. Aku berjalan sambil mengamati tulisan-tulisan berbentuk aneh yang agak sedikit memancarkan cahaya berwarna putih dari permukaannya di atas sebuah meja kayu berwarna keemasan. Dari atas sini, aku pun juga bisa melihat Hanz yang sedang mencari-cari buku pilihannya. Mungkin saja, ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan tentang tulisan macam apa ini kepadanya. Dia kan anak dewa yang menghilang (kata Robin), jadi dia pasti tahu tentang keanehan macam apa ini. Harusnya sih begitu.


“Oi, Hanz !! Orang-orang di sini tulisannya pada aneh semua !! Kamu tahu mereka nulis apa !!?”


“Dewa-dewa pada pakai tulisan itu semua. Taumaturgi namanya.”


“Tau...... Tau...... Namanya apa !? Susah banget sih......”


Hanz cekikikan di bawah sana, kemudian pergi ke arah kanannya dan lurus ke depan. Benar-benar menyebalkan. Tapi hanya tau tentang tulisan aneh ini aja masih belum cukup. Aku masih mau menguras pengetahuannya tentang 'dewa-dewi', jadi aku mulai berjalan mengikutinya dari lantai dua ini. Aku mulai melihat beberapa buku yang berserakan di atas meja. Pasti pustakawan nya sangat baik dalam melakukan pekerjaannya, ya kan ?


Semua buku yang ada di sini sangatlah tebal, membuatku jadi penasaran apa isinya sebenarnya. Aku pun mengambil salah satu buku yang ada di tumpukan paling atas, kemudian membukanya di halaman yang paling tengah. Itu sudah seperti hukum alam untuk selalu membuka halaman paling tengah saat mengecek buku yang baru. Entah ini sebuah keajaiban atau apa, tapi aku menemukan kalau buku ini pakai bahasa inggris. Pasti itu adalah sebuah keajaiban.


“Anak keenam ? Siapa tuh ?” tanyaku pada Hanz.


“Jangan tanya soal anak keenam, kalau anak ketiga aja belum tahu.” sahut Hanz dari bawah, sambil membaca sebuah buku dengan tulisan paling aneh sedunia.


“Hah ? Jokes mu itu lucu banget sih, tapi napa harus anak ketiga ?”


Hanz pun menutup bukunya, kemudian mendongak ke arahku. Akhirnya setelah sekian lama waktu berlalu, muka brengseknya itu terlihat juga.


“Kamu mulai mencari sesuatu yang harusnya gak boleh kamu ketahui, huh ? Kamu harus hati-hati, Eva. Atau kamu bakal jatuh ke lubang yang lebih dalam.”


“Waw, satu makasih buat inponya. Sekarang kasih tau tentang tuh anak ketiga......”


Hanz menutup buku yang baru saja dia baca itu, kemudian berjalan mengitari rak-rak buku yang ada di depannya. Aku yang penasaran pun, juga mengikuti langkahnya dari lantai dua ini.

__ADS_1


“Yaldabaoth, si anak ketiga dari bintang merah. Dia yang menguasai segalanya. Anak ketiga itu, yang menjatuhkan anak keenam ke dunia manusia. Dan akhirnya, anak keenam itu sudah menghilang entah kemana, hidup bersama dengan manusia sebagai teman-temannya.”


“Oh, waw. Bisa dilanjut gak ceritanya ??”


“Tunggu dulu, aku mencari sesuatu di sini.”


Hanz pun mengangkat tangan kanannya ke atas, kemudian menjetikkan jarinya sekali.


“Oi, kenapa tiba-tiba banget sih !!? Aku nya gimana, bangsat !!?”


“Ciao !!”


Dan Hanz pun berjalan ke arah kiri, menghilang saat sosoknya melewati lantai tempatku berpijak saat ini. Aku akhirnya sudah tidak bisa melihat sosoknya lagi, dan yang hanya bisa ku lakukan saat hanyalah menunggu, bersandar di pagar pembatas lantai yang terbuat dari kayu mewah juga, sama seperti yang lainnya.


“Sialan banget tuh orang....... Ninggalin aku sendirian di sini ??” celoteh ku dengan suara yang agak keras.


Tapi tunggu dulu, karena sepertinya, aku sedang tidak sendirian di lantai dua perpustakaan ini. Saat aku menoleh ke arah kiri menuju ke sebuah rak buku, mataku melihat salah satu buku yang secara perlahan terlihat seperti sedang ditarik oleh seseorang. Aku menatap buku itu dengan tajam, sebelum akhirnya buku itu jatuh ke atas lantai dengan sendirinya. Apakah ini adalah sebuah referensi scene dari film-film horor yang seperti biasanya ?? Karena itu terlihat sangat persis bagiku.


Oh, lihatlah, bagaimana anak keenam itu meninggalkanmu sendirian di sini !!


Apa kamu kira, ini adalah tempat yang aman untuk berleha-leha dan tidak melakukan apapun !!? Dasar bodoh !! ****** bodoh !!


“Siapa yang kalian panggil dengan ******, bangsat !!?”


Aku seketika beranjak dari tempatku bersandar itu. Rasanya, aku sudah ngebet banget buat mukul kepala si bajingan itu. Ada suara, tapi tidak ada siapapun yang berbicara. Itulah yang terjadi kepadaku barusan. Tiba-tiba, pintu yang ada di bawah lantai itu terdengar seperti dibuka oleh seseorang. Jangan-jangan, Hanz sudah kembali ?


“Hanz, apa itu kamu !!?” seru ku dengan suara yang agak lantang.


Hanz masih belum menjawab di bawah sana, jadi aku berteriak kembali dengan suara yang jauh lebih keras daripada yang sebelumnya.


“Hanz !!? Terornya sudah mulai, tahu !!!”


Lagi-lagi, Hanz tidak menjawab seruan ku. Setidaknya aku mendengar sebuah suara langkah kaki dengan sepatu di bawah sana. Awalnya aku hanya menunggu, dan itu sepertinya adalah kesalahan yang paling bodoh yang pernah ku lakukan. Mataku membelalak seketika, saat yang keluar dari pintu itu ternyata bukanlah Hanz, melainkan seorang wanita samar-samar yang menggunakan jubah berwarna hitam. Dia mendongak ke atas, dan dari senyumannya saja aku sudah tahu kalau yang diincarnya saat ini adalah aku sendiri.


“Mangsa !!” seru wanita brengsek itu dengan tiba-tiba.


Aku langsung terkejut saat itu, membuatku secara tanpa sadar melangkah ke belakang hingga menyentuh tembok. Itu, harusnya adalah si Archon !!


Hal yang terakhir aku ingat adalah sepasang tangan yang menggorok leherku dengan sebuah pisau.


Bagaikan ada seseorang, yang muncul dari balik tembok itu.


...****************...


“(Gasp) Leherku !! Masih utuh ???”


Aku terbangun di sebuah ruangan yang terlihat seperti sebuah sel penjara. Ini adalah sebuah hal yang sulit untuk aku percayai. Perasaan yang terakhir itu waktu leherku digorok oleh seseorang, itu terasa benar-benar nyata. Bagaimana bisa aku masih terbangun lagi sekarang ??


“Sialan........ Dasar Archon sialan !!”


Aku menoleh ke sekelilingku, dan di sebelah kananku, di sana sepertinya bersandar sesuatu yang berguna untuk aku pakai keluar dari penjara sialan ini. Aku berdiri dengan nafas yang terengah-engah, kemudian berjalan ke benda yang merupakan satu-satunya harapanku untuk keluar itu. Dan itu ternyata adalah sebuah parang !! Atau sebuah pedang keliatannya. Aku pun tanpa pikir panjang langsung mengambilnya. Kalau dilihat-lihat, pedang ini penuh dengan karat, dan banyak dari sisinya pun sudah tidak rata lagi. Ini membuatku akhirnya menoleh ke arah gembok yang mengunci sel penjara ini. Keliatannya tidak mungkin aku bisa memotongnya pakai pedang ini.


“Tapi, semuanya harus di coba dulu kan ??”


Aku mengangguk dengan penuh keyakinan, dan dengan cepat langsung menghampiri pintu yang dikunci dengan gembok itu. Kalau aku amati bentuk gemboknya, bagian lubang di antara shackle nya itu sangat cukup untuk dimasuki oleh bilah pedang ini. Apakah itu hanyalah sebuah kebetulan atau tidak, hanya tuhan dan orang yang memasukkan aku ke dalam sel penjara ini saja yang tahu.


Aku pun memasukkan bilah pedang ini ke lubang shackle gembok itu, kemudian menggerakkannya naik-turun dengan sangat keras berharap itu akan segera menghancurkannya.


“Ayolah, kunci bangsat !!”


Sangat tidak terduga, kalau hanya untuk melakukan ini saja susahnya minta ampun, dan juga posisiku pun sangatlah...... Mengurangi tenaga. Aku menggerakkan bilah pedang semakin keras, hingga suara gemboknya dapat terdengar di seluruh penjara bawah tanah ini. Paling tidak, itu semua akhirnya membuahkan hasil yang boleh juga kalau ku bilang. Suara 'klang' terdengar, dan di saat itulah, gemboknya sudah terpisah dari shackle nya sendiri.


“Waw. Gembok aja bangsatnya udah kayak gini......” gumamku sambil menyingkirkan shackle tersebut dari lubang kunci pintunya.


Akhirnya, setelah perjuangan yang terasa seperti akan berlangsung untuk selamanya itu, aku bisa keluar dari sel ini juga. Aku langsung menghadap ke arah kiri, dan di sana, lantainya penuh dengan reruntuhan tembok. Sepertinya ini adalah sebuah penjara bawah tanah yang sudah terbengkalai cukup lama. Kenapa dipakai lagi kalau gitu ?


“Eeeeeeva !!!”

__ADS_1


Suara yang memanggil namaku itu seketika membuatku melihat ke bawah. Ada seorang wanita dengan wajah yang tidak berbentuk baru saja jatuh terjerembab tepat di hadapanku, dan ia kemudian menjulurkan tangan kirinya kepadaku minta tolong. Aku mengamatinya selama beberapa saat, dan semakin lama lama aku melihatnya, perasaan merinding pun semakin menyeruak di dalamku.


Kenapa orang itu, mirip aku !!?


__ADS_2