
“Jadi..... Kamu bisa pake chakra nature atau semacamnya gitu, huh ?”
“Ini bukan Naruto.”
Luka di perutku sudah sembuh, dan itu sangatlah gila, seperti aku baru bermimpi saja. Hanz melakukan itu hanya dengan meletakkan kedua tangannya di atas perutku aja, dan kemudian sebuah cahaya biru terang muncul dari kedua telapak tangannya itu. Begitulah cerita bagaimana aku seolah di bawa ke dunia Naruto.
“Aku bisa mengubah semua yang aku pegang sesuai keinginanku, jadi bisa aja aku bikin black hole dari perutmu itu.” jelasnya sambil menarik tangannya dari perutku.
“Apa !!?”
Hanz kemudian berdiri sambil menghela nafasnya, dan setelah itu berjalan menuju meja panjang di belakangnya dan mengubah sesuatu menjadi...... Pistol ? Itu keren banget, sumpah.
“Udah selesai. Kita pergi dari sini sekarang juga.”
“Uhh........ Oi, aku juga pengen pistol kayak gitu, tahu.......”
Tanpa kata-kata ataupun menoleh ke arahku, Hanz meraih ke dalam saku celananya. Seketika itu juga, cahaya biru muncul dari dalam saku itu, dan tidak lama kemudian dia melemparkan pistol yang muncul dari kehampaan dunia. Dan itu persis kayak yang aku minta.
“Oi, ini pistol........ Dari apa ??”
“Upil ku.” jawabnya sambil berjalan menuju pintu kembar di bagian selatan ruang makan ini.
“........ Apa !!?”
...****************...
Aku dan Hanz keluar membuka pintu itu, keluar dari ruang makan sialan tersebut dan menyambut sebuah ruangan luas yang punya tiga pintu di sisi yang berbeda, kayak tipikal istana pada umumnya. Anggap itu menjadi empat pintu, termasuk yang ada di belakangku. Aku dan Hanz berhenti sejenak, mengamati sekitaran ruangan ini. Tidak ada yang unik di sini. Hanya ada laci kecil dari kayu di ujung ruangan, vas bunga keramik di atasnya, dan tentu saja, lantainya dari keramik juga.
“Gak ada yang aneh, kan ? Kita bisa pergi sekarang ??” tanyaku pada Hanz sambil menoleh ke arahnya.
“Sebenernya, kita kurang satu orang, kamu tahu ?”
“Dia berpencar. Aku masih gak lupa sama itu, bodoh.”
“Oh, bener juga.” gumam Hanz.
Sudah tidak sabar buat keluar dari istana sialan ini, aku pun berjalan mendahuluinya lebih dulu, menuju ke arah pintu yang ada di depan berdasarkan insting saja. Harusnya, itu memang akan membawaku keluar dari tempat bajingan terkutuk ini.
“Terus, kenapa dia ada di sini ??”
“Dia ?? 'Dia' siapa ??”
Kebingungan, aku pun langsung menghentikan langkahku dan menoleh ke arah Hanz. Wajahnya sama sepertiku, kebingungan juga. Di saat itulah, terdengar suara pintu terbuka dari arah kanan. Robin, adalah orang yang membuka pintu tersebut.
“Mungkin aja itu kebetulan.” ucapku pada Hanz untuk menenangkannya.
“Hei, Robin !!”
Tentu saja aku menyambutnya dengan gembira. Aku tanpa pikir panjang langsung menghampirinya dan sudah sangat dekat untuk memeluknya. Setidaknya, itu sebelum pintu yang ada di sebelah kiri ku terbuka juga.
“Dia bukan Eva yang asli, Robin. Dia gak punya pistol anti anomali mu.” katanya Eva si paling asli itu.
Aku yang gak terima pun langsung menoleh ke arah 'aku' yang sok paling asli itu. Yang dikatakannya ternyata memang benar. Dia punya pistol anti anomali sialan itu. Luar biasa........ Jadi sekarang, aku yang impostor saat ini ??
“Gaes, ini tuh bisa dijelasin, tahu !! Oke !? Ada Archon sialan yang gorok leherku di perpustakaan waktu itu, dan habis itu aku bangun di penjara, dikejar-kejar sama BOW dari Resident Evil, ketemu doppelganger sendiri, terus gini-gitu, habis itu- Bah !! Pokoknya semua momen sialan itu kejadian ke aku sampai akhirnya gw ketemu sama satu sialan lagi yang ninggalin aku dan gak balik-balik waktu aku panggil !!”
“Kamu nyalahin aku sekarang !?”
“Yap !! Emangnya siapa lagi kalo bukan lu yang ninggalin aku waktu itu !!?”
“Aku balik lagi, bodoh !!”
“Kalo emang balik, harusnya gw udah bareng sama lu sejak lama, bangsat !!”
Tiba-tiba saja, Robin mengarahkan panahnya ke arah Hanz. Jangan bilang, dia juga sempat menodongkan panahnya ke kepalaku sejak tadi.
“Robin, lu gak kayak kamu yang biasanya banget sih ??”
“Ada ancaman di sini, oke ? Aku cuma jaga-jaga doang. Dan jangan lupa, kamu juga bisa jadi Eva yang palsu saat ini !!” ucapnya sambil mengarahkan busur panahnya kembali ke muka ku.
“Robin yang aku kenal orangnya kalem, anjir !!”
“Dia bukan Robin yang asli, Eva.”
Dan sekarang, ruangan sialan ini punya dua Eva, dan juga dua Robin sialan yang saling mengatakan bahwa mereka adalah yang asli dan lainnya adalah yang bukan. Ini semua benar-benar menyebalkan. Di tengah keributan brengsek yang terjadi di ruangan itu, aku pun diam, memutuskan bahwa siapapun itu Robin yang ada di dekatku saat ini, aku harus segera keluar bersama dengannya. Ruangan di istana ini, benar-benar kacau dan sudah tidak tertolong lagi kayaknya.
__ADS_1
Ketika Robin sedang lengah karena semua kekacauan dan keributan itu, aku dengan cepat langsung mengambil salah satu panah peledaknya, dan kemudian segera mengarahkannya ke si 'aku' palsu yang sialan itu.
“Pinjem dulu !!”
“Ay yo, what the f*ck !!?”
Seruan Robin yang kaget itu membuat 'aku' yang palsu itu menoleh ke arahku, tapi itu semua sudah terlambat. Begitu panah itu aku lemparkan dan mendarat di samping kanannya, sebuah ledakan pun terjadi, membuatnya terlempar entah kemana, meninggalkan istana dan dunia ini seketika itu juga. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung menggenggam tangan Robin dan berlari menuju pintu di kanan. Dia sangat kebingungan, itu sudah pasti, tapi setidaknya aku dibuat yakin kalau Robin yang aku ajak kabur barengan ini adalah dia yang asli, ketika Robin yang satunya tiba-tiba saja menembaki aku dan Robin dengan panah peledaknya.
“Jadi itu kamu yang palsu ternyata !!”
Sementara aku dan Robin kabur ke pintu kanan, Hanz di latar belakang melesat dan menghajar pantat doppelganger sialan itu dengan ultimate drop kick nya. Terima kasih berkatnya, aku dan Robin akhirnya bisa masuk ke ruangan di balik pintu kanan itu dengan selamat dan kemudian menutup pintunya seketika. Akhirnya, ruangan lainnya yang memberiku kesempatan bernafas lega.
“Yang tadi itu kayak apa yang bakal dilakuin sama Eva yang asli, tahu.”
“Yah, kayaknya kamu juga Robin yang asli, sih........”
Aku dan Robin diam di atas tangga menurun yang ada di depan pintu kanan itu, dan di sebuah ruangan yang kecil dan gelap juga. Beberapa suara berantem bisa terdengar secara samar-samar di luar sana. Ada ledakan dari panahnya Robin, juga tembakan keras dari pistol anti anomali punya 'aku' yang palsu sialan itu.
“Oi, Eva 2.0 itu pake pistol anti anomali nya kamu, tahu. Kamu yakin dia bakal gapapa ??”
“Dia pastinya ga bakal kena apa-apa. Harusnya........”
Yah, lagian dia itu kan anaknya dewa atau apalah gitu, jadi aku milih buat percaya apa katanya Robin aja. Dia pastinya ga bakal mati. Kita bertiga pastinya bakalan keluar dari istana sialan ini, dan setelah itu balik ke dunia nyata bareng Ava sama Asteri. Itu, pastinya bakalan kejadian, bukan ?
Sementara itu, di luar sana.
Hanz terhempas ke belakang dan menghantam sebuah tembok pilar saat ledakan dari panah 'Robin' meledak di dekat mukanya.
“Cih, sialan !!”
Hanz mengubah pistolnya menjadi sebuah pedang, setelah itu bangkit kembali dan berlari ke arah 'Robin' sekali lagi, walaupun saat ini keadaan sedang tidak berpihak di sisinya. Dari mulutnya, darah merah telah menetes sejak lama, dan sekujur tubuhnya pun juga dipenuhi oleh luka lebam dan juga bakar. Tidak lama kemudian, ia hampir berhasil untuk menebas 'Robin', namun sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi. Sebuah peluru anti anomali baru saja menembus dada kanannya, ditembakkan oleh 'Eva'. Ia pun jatuh ke lantai, tidak dapat merasakan adanya kekuatan super yang mengalir di dalam nadinya. Ia bagaikan seekor rusa yang menjadi mangsa, dan kedua orang replika itu adalah pemangsanya.
“Kroco sialan.......”
'Eva' dan 'Robin' mulai berjalan mendekati Hanz dengan senyuman mengerikan mereka. Sesosok wanita kemudian muncul di belakang mereka dari balik bayangan. Kedua tiruan tersebut kemudian berhenti, sambil memberikan jalan pada wanita berjubah hitam itu untuk meraih kepala Hanz dengan tangan bercakar panjang miliknya. Hanya dengan melihatnya sekali saja, Hanz sudah tahu siapa dan apa wanita yang ada di depannya tersebut.
“Archon bayangan, huh ?........ Harusnya aku sudah tahu ini semua ulah sialan darimu.......”
Archon itu kemudian tersenyum saat mendengar namanya disebutkan oleh Hanz. Ia menarik tangannya dari wajah Hanz, dan setelah itu tersipu malu selama beberapa saat, sebelum akhirnya, kesadarannya itu kembali lagi ke permukaan. Ia menatap ke arah Hanz, kemudian mendekatkan tangannya ke wajah Hanz untuk yang kedua kalinya. Hanya saja kali ini, ia tidak menggunakan cakar-cakar tajamnya.
Ambil nafas dalam-dalam, anak dewa. Ini tetap saja akan terasa menyakitkan........
...****************...
“Ada apa ?” tanyanya padaku sambil kembali berjaga-jaga dengan busur panahnya.
“Gak ada, tuh. Jalan aja lagi........”
“Cognitohazard mereka kecil, tidak terlalu mengganggu.”
“Nah, apa-apaan lagi itu ??”
“Cuma istilah efek anomali. Gak usah pikirin kalo gak mau jadi agen spesial di SCR.”
“Gak bakal pernah.” gumamku seraya memeluk punggungnya lebih erat lagi.
Setelah menghela nafasnya sejenak, Robin akhirnya lanjut jalan ke lagi, dengan aku berjalan sambil berpegangan pada bajunya erat-erat. Kami berdua melewati lorong pameran patung yang sunyi tersebut seperti sudah berlangsung untuk selamanya. Lorong ini tanpa ujung, kayaknya. Patung-patung yang ada di sisi kanan dan kiri pun juga semakin bertambah aneh. Mereka nampaknya berevolusi, tapi mundur ke belakang.
“Apa itu monyet bermuka manusia ?? Aneh banget, jir.....”
“Semuanya sudah aneh sejak tadi, tahu.”
Aku juga setuju dengan perkataannya tadi. Lagian, buat apa ada orang yang bikin patung monyet tapi mukanya muka orang kayak gitu ?? Ngomongin tentang monyet itu nenek moyangnya manusia, huh ?
“Eva, sudah berapa lama kita jalan di lorong sialan ini ?”
“Lu tanya aku ?? Mana tau, bangsat.......”
“Kayaknya harus ngelakuin sesuatu buat keluar dari sini. Eva, minggir dulu.”
“Hah ? Mau ngapain lu, anjir ??”
Begitu aku mundur ke belakang, Robin secara perlahan mengarahkan busur panahnya ke sebuah patung monyet dengan badan bocah perempuan kecil dan hidungnya dari belalai gajah. Bener-bener gak beraturan. Gak ada nilai karya seninya sama sekali. Dalam hati, aku sudah mikir kalau ini adalah ide paling anti-mainstream yang pernah dibuat di sepanjang sejarah manusia, membuat kekacauan di tempat horor kayak gini. Robin pun juga kayaknya gak terlalu yakin. Tapi dengan sebuah leap of faith momennya, dia pun akhirnya mulai menarik panahnya lebih lagi, semakin menjauh dari busurnya.
Dan di saat itulah, si anomali itu akhirnya muncul secara tiba-tiba dari balik salah satu tembok di sebelah kiri Robin. Benar-benar sebuah jumpscare momen buat kami berdua saat kemunculannya itu.
__ADS_1
“Oi, jangan lakuin itu, sumpah.”
“Emangnya kenapa ?? Kalo gak ada jalan, setidaknya bikin sebuah lubang. Itu quote dari bapakku, yang pernah eksis sebelumnya.”
“Apa-apaan quote itu, anjir !!? Aneh banget, tau !!”
Hanz memang kembali, tapi lengkap dengan satu anomali yang lainnya. Benar-benar sebuah keanehan buat kami berdua. Robin pun secara perlahan menurunkan panahnya sambil menatap ke arahku, penuh tidak keyakinan.
“Jangan tanya aku, sialan. Aku juga gak tau, bangsat.......” bisik ku pada Robin.
“Ikut aku. Aku tau jalan keluarnya.” ucap Hanz, kemudian berbalik dan berjalan ke depan lebih dulu.
Aku dan Robin saling menatap satu sama lain sejenak. Aku sudah tahu pertanyaan apa yang ada di kepala Robin saat ini. Bagaimana bisa sialan itu muncul dari balik tembok seketika ? Aku pun juga gak tau jawabannya.
“Baiklah, kalau itu yang dia bilang........” gumam Robin sambil berjalan menyusulnya dari belakang.
Aku pun juga tidak punya pilihan lain, kecuali dengan mengikuti Robin dan si editor dunia itu juga. Setelah berjalan beberapa saat, Robin memberi sebuah isyarat tangan padaku untuk berjalan bersama dengannya di sampingnya. Rasanya, itu adalah tanda bahwa dia benar-benar sedang tidak percaya pada Hanz saat ini. Aku pun mengikuti isyaratnya itu, berjalan berdampingan dengannya. Dalam diam, Robin secara perlahan mengambil salah satu panahnya, menaruhnya di busur dan mulai menariknya. Sialan....... Sepertinya aku akan melihat sebuah pembunuhan dari Assassin Creed tidak lama lagi.
Dan tiba-tiba saja, Hanz menghentikan langkahnya. Bayangan hitam mulai menyelimuti seluruh tubuhnya, dan sekilas, sebuah karambit muncul dan menghilang di genggaman tangan kirinya. Dia, sudah menyadari apa yang akan Robin lakukan kepadanya baru saja.
“Aku tahu apa yang kalian lakukan, bodoh. Dasar makhluk fana.”
“Eva, mundur sekarang juga.......” bisik Robin kepadaku.
Tentu saja aku langsung mundur, karena yang aku lihat dari Hanz saat ini, itu seperti sebuah pertanda bahwa dia bukanlah Hanz yang asli. Robin dengan cepat menodongkan panahnya ke arah Hanz, yang tidak lama kemudian, berbalik ke arahku sambil tersenyum miring. Anomali sialan ini, sedang tidak baik-baik saja sepertinya.
“Hanz, kamu tahu rasanya diledakkan sama panah ku rasanya kayak apa, bukan ?? Mundur, atau kamu bakalan jadi hantu panggang gak lama kemudian........”
Archon........ Tidak pernah takut dengan senjata kalian para makhluk fana.......
“Archon ??”
Masih kebingungan dengan apa maksud dari perkataannya Hanz barusan, tiba-tiba saja Hanz sudah menghilang dari pandangan kami berdua. Robin seketika itu juga menjadi panik, mengarahkan busur panahnya ke segala arah untuk mencari keberadaan Hanz saat ini. Tapi aku tidak begitu, karena aku sudah tahu dimana si sialan itu berada sebenarnya.
“Ga usah nyari dia lagi, Robin. Bajingan itu sudah ada di depanku sekarang........”
“Apa maksudmu !?”
Tidak ada seorangpun yang terlihat, tapi aku mulai meneteskan darah dari mulut dan belikat kiriku. Awalnya tidak terasa apa-apa, tapi semakin lama, rasa sakit itu akhirnya terasa semakin nyata. Karambit yang dipegang sama sialan itu tadi, kini sudah tertancap di belikat kiriku. Yang melakukannya pun secara perlahan menampakkan dirinya sendiri. Dia, adalah si Archon pertama yang aku lihat dari atas lantai dua di perpustakaan waktu itu. Si ****** itu, dia akhirnya berhasil menangkap ku, huh ?
Darah !!
“Jalang sialan !! Lepasin dia, bajingan !!”
Yah, sialan itu benar-benar melepaskanku dari tusukannya di saat itu juga, membuatku jatuh ke lantai sambil menahan semua rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhku seketika. Bodohnya, dia justru tertawa terbahak-bahak sambil mengamatiku yang sedang kesakitan di atas lantai sana. Berkat otak Senku nya itu, dia pun harus ngerasain amukannya Robin yang gak pernah aku lihat sebelumnya, menghujani tubuhnya dengan tembakan panah peledaknya berkali-kali tanpa ampun. Setidaknya, aku bisa mendengarkan suara bagaimana si ****** itu mati dengan ledakan bertubi-tubi dari panah Robin.
Itu, terasa sangat memuaskan, tahu........
“Matilah, bawahan dewa bajingan !!” seru Robin.
Sebuah ledakan besar yang terakhir pun terdengar di telingaku. Ada suara tembok yang hancur juga, bersamaan dengan teriakan si ****** itu yang kayaknya jatuh ke kedalaman. Bisa ku katakan, kalau seperti itulah cara Archon yang kedua itu mati di tangan makhluk yang mereka sebut sebagai makhluk fana itu. Rasain tuh, bajingan.......
Robin mengamati bagaimana si ****** itu jatuh ke bawah selama beberapa, kemudian menyempatkan dirinya untuk membuang ludahnya sebagai penghinaan terakhir sebelum akhirnya menghampiri aku. Aku sempat kehilangan kesadaran selama beberapa detik sebelumnya, tapi aku memaksakan diri untuk tetap sadar selama mungkin. Dan karena itu, aku akhirnya merasakan sesuatu yang 'bangkit' dari dalam tubuhku. Bukan di bawah kulit, ataupun di antara organ-organ tubuhku. 'Itu', berada di 'jiwa' ku.........
“Eva, kamu gapapa !!? Ngerasain sesuatu !!?”
“Ada yang......... Hidup......... Di badanku........”
“Cih, sialan.......”
Robin pun berjalan sambil membopongku di kedua tangannya. penglihatan ku mulai memudar. Darah yang keluar dari badanku menghitam, dan sekujur tubuhku rasanya sudah kehilangan panasnya. Mungkin saja, aku bakalan mati sebentar lagi, karena ini adalah luka yang paling serius yang pernah aku alami selama bersama dengan orang-orang dari SCR sampai saat ini. Tapi setidaknya, aku bisa melihat Robin sekali, dan untuk selamanya.
Itu semua, sudah cukup buatku.........
Lewat semua yang pernah aku alami bersama dengan para anomali-anomali sialan itu, aku sempat berpikir apakah mereka mengamuk karena ditahan oleh orang-orang seperti Robin dan yang lainnya.
Aku sempat mengira, apakah dengan sesuatu yang hanya dimiliki oleh manusia, para makhluk lain yang disebut sebagai anomali itu bisa menjadi makhluk yang lebih damai daripada yang sebelumnya.
Aku sempat bertanya-tanya karena ada beberapa dari mereka yang bisa membantu orang lain.
Sebuah pertanyaan, apakah kita bisa hidup berdampingan dengan mereka semua ?
Bertemu dengan Hanz, seolah memberiku sebuah harapan kalau pertanyaan itu akhirnya bisa terjawab.
Memang, itu pada akhirnya terjawab di istana sialan ini.
__ADS_1
Dan jawabannya adalah..........
Tidak.