
Tahun 1967, Louisiana, Amerika
Seorang gadis berjalan melewati kerumunan orang orang yang berkumpul di jalan dengan aktivitas mereka masing masing. Gadis itu kemudian berbelok dan memasuki sebuah gang kecil yang merupakan tempat dimana rumahnya berada. Bukanlah sebuah rumah sebenarnya, melainkan hanyalah sebuah kardus kecil yang ia gunakan sebagai tempat untuk tidur. Di sekeliling kardus itu, terdapat berbagai sampah menumpuk, yang biasanya ia jadikan sebagai tempat untuk mencari makanan sisa. Namun, hari ini ada sesuatu yang membuatnya sedikit agak marah karena ada seseorang yang sedang tidur di atas kasurnya itu. Gadis itu mengambil sebuah pipa besi yang tersandar di sebuah tembok bangunan di sebelah kanannya dan kemudian berjalan mendekati pria tua yang tak dikenalnya itu.
Gadis itu kemudian melihat pria tua yang sedang tertidur itu dengan tajam. Mukanya penuh dengan amarah, dan emosinya membara. Tangannya menggenggam pipa besi yang baru saja ia ambil itu dengan erat erat bersiap kapan saja untuk memukul kepala pria tua di hadapannya itu.
“Woi, kakek bajingan ! Bangun gak !!”
Seruan gadis itu langsung membuat sang kakek terbangun seketika. Ia menatap ke arah muka gadis itu dengan mata sayu.
“Hah, siapa kamu ?” tanya kakek itu. Gadis itu melotot ke arah sang kakek dengan tajam.
“Lu tau kalo ni tempat gw kan ??” tanya gadis itu sambil menggeram. Kakek itu seketika gemetar ketakutan saat melihat pipa besi yang digenggam oleh sang gadis itu dengan sangat kuat, seolah ia sudah tahu kalau setelah ini, kepalanya akan dipukul oleh gadis itu dengan pipa besi di tangannya. Namun tetap saja ia memohon pada gadis itu dengan wajah memelas dan kedua tangannya menengadah ke atas.
“Maafkan saya, nak. Tapi saat ini saya sudah tidak punya rumah karena diusir oleh keluarga saya sendiri. Sekali lagi mohon maaf.”
Gadis itu seketika mengangkat pipa besinya setinggi mungkin.
“Bodo amat sama keluarga lu ****** ! Gw juga gak punya keluarga kayak lu, dasar kakek reot !”
Dalam sekejap mata, pipa besi itu telah menghancurkan kepala sang kakek hingga darah segar menyembur dari dalam kepalanya. Gadis itu terengah engah setelah ia memukulkan pipa besi itu hingga membunuh orang yang tidak ia kenal sama sekali. Ia tersadar bahwa aksinya itu terlihat oleh banyak orang dari ujung gang. Saat ia menoleh ke arah mereka, orang orang itu hanya terus berjalan seakan tidak peduli terhadap pembunuhan yang baru saja terjadi. Lagipula, ia terpaksa melakukan hal itu karena dirinya selalu ditolak oleh kelompok kelompok tunawisma yang lain. Hanya di tempat inilah dia bisa hidup dengan tenang, walaupun ia sendiri dikelilingi oleh sampah sampah yang bertumpuk. Baginya, tumpukan sampah itu adalah sebuah harta yang sangat berharga baginya. Dengan tumpukan sampah itu, ia dapat memungut sisa makanan yang dibuang oleh penghuni gedung di sekitarnya.
Ia kemudian menoleh ke tumpukan sampah yang ada di samping kiri mayat kakek itu. Sepertinya tidak ada yang bertambah di tumpukan sampah itu, justru malah semakin berkurang. Sudah pasti kakek inilah yang menghabiskan stok sisa makanan miliknya. Ini sangat gawat baginya. Jika tidak ada sisa makanan apa pun di tumpukan sampah itu, maka ia harus mencuri makanan dari pasar yang terletak beberapa mil dari gang tempatnya berada, atau mengemis makanan layaknya seekor parasit kepada penghuni hotel yang ada di depan dan belakangnya itu, atau lebih buruk lagi, ia terpaksa harus memakan daging kakek itu sebagai seorang kanibal.
Gadis itu bernama Valentina. Ia sendiri tidak tahu nama aslinya, hanya sebuah nama yang terbesit di kepalanya saat melihat seorang pria melamar gadisnya di pinggir jalan saat hari valentine tiba di malam itu. Ia berharap, suatu saat nanti, dirinya juga memiliki pacar yang akan mencintainya sepenuh hati.
Valentina berjalan keluar dari gangnya dan mulai menyusuri komplek di sekitarnya untuk mengemis makanan. Sosoknya telah dikenal dengan sangat baik oleh warga di sekitar sebagai seorang parasit karena selalu meminta minta tanpa ada satu sisi positif pun yang dimilikinya. Setelah berbagai penolakan dan pengusiran, akhirnya Valentina memutuskan untuk mengemis terakhir kalinya ke pemilik hotel di dekat gangnya.
“Cih, buat apa aku memberi makananku ke anak kecil pembunuh sepertimu !” sembur sang pemilik hotel. Valentina hanya menunduk malu dan merasa bersalah. Matanya mulai mengeluarkan air mata. Sambil terisak isak, Valentina berjalan mundur dan mulai menjauhi hotel bintang tiga itu. .“Hmph, ternyata pembunuh juga bisa nangis. Bertobatlah sekarang, nak, sebelum kamu berubah menjadi iblis yang sesungguhnya !”
__ADS_1
Pemilik hotel itu seketika menutup pintu hotelnya dengan sangat keras, meninggalkan Valentina sendirian di luar.
“Kalianlah iblis yang sebenarnya, bangsat !” teriak Valentine dengan sangat keras. Ia kemudian berlari dan masuk ke gangnya kembali, hanya untuk mendapati 2 orang polisi sedang berdiri di depan 'rumah' nya sambil mengamati mayat sang kakek. Salah satu polisi itu kemudian menoleh ke arahnya dan mendekatinya.
“Hei anak kecil. Apa benar kamu yang membunuh kakek itu ?”
Valentina hanya menunduk dan terdiam di tempatnya sambil mulai menjatuhkan air matanya lebih deras.
“Lebih baik kamu pergi dari sini, atau kami bisa saja menjebloskan mu ke penjara orang dewasa, tidak peduli berapa umurmu saat ini.”
Valentina pun langsung berlari keluar dari gang itu. Saat ini dia tidak punya tujuan selain kembali pada Damian, yang merupakan seorang ketua geng tunawisma dan juga yatim piatu, sama seperti dirinya.
“Balik juga lu akhirnya, daun muda !”
Damian menyeringai saat melihat Valentina kembali ke tempat kekuasaannya. Valentina sudah tahu bahwa hal yang sama di waktu lalu juga akan terjadi malam ini hingga seterusnya.
Berbulan bulan kemudian, Valentina sudah terlihat sangat lemas, hampir seperti mayat hidup, mati tidak, hidup juga tidak. Tubuhnya terkulai dan bersandar di dinding yang sedikit agak rapuh, dan tangan kirinya tergantung tak berdaya ke atas oleh sebuah tali yang mengikat pergelangan tangannya. Semua ini berkat pemerkosaan yang dilakukan oleh Damian dan cecunguk cecunguknya. Matanya melihat ke area di sekitarnya yang telah berubah menjadi reruntuhan akibat bencana alam. 4 jam yang lalu, sebuah badai topan yang ganas menghadang Louisiana hingga menghancurkan hampir setengah dari kotanya, dan daerah kekuasaan Damian menjadi salah satu korbannya. Dari kejauhan, Valentina melihat sesosok wanita yang berjalan ke arahnya. Wanita yang berpakaian serba merah itu kemudian menunduk dan memperkenalkan dirinya.
“Halo. Namaku Ozma.”
Valentina melihat ke arah Ozma dengan tatapan tak bernyawa. Ozma seketika itu juga tersenyum miring sambil mengambil pedangnya dari punggungnya. Ia kemudian menebas tali yang menggantung tangan kirinya Valentina, kemudian menyodorkan tangan kanannya.
“Kasian sekali kau. Bisa berdiri ?” tanya Ozma. Valentina tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan kanannya tanpa tenaga apapun dan menaruh telapak tangan Ozma yang langsung menyeringai. Dan begitulah. Ozma membantu Valentina yang dengan susah payah berdiri. Mereka berdua kemudian berjalan di antara reruntuhan bangunan dengan santai. Hingga pada akhirnya, mata Valentina mendapati sesuatu yang menarik perhatiannya di antara reruntuhan. Dia mendapati Damian yang setengah tubuhnya tertimpa tembok dan sedang menoleh ke arahnya.
“Woi, Valentina ! Sebagai budak gw lu harusnya sudah tau yang harus lu lakuin sekarang bukan ? Bantu gw keluar dari sini, bangsat !” seru Damian dari kejauhan. Ozma yang mendengar itu pun langsung berjalan mendekati Damian. Setelah berada di depannya, Ozma melihat ke arah Damian dengan tatapan jijik dan menghina. Ia kemudian jongkok dan menyemburkan ludahnya ke arah muka Damian.
“Bajingan ! Siapa lu anjing, berani ngambil budak gw !?”
“Apa ? Dia sekarang sudah jadi anjing kecilku.” jawab Ozma dengan suara pelan.
__ADS_1
“Hmph, ternyata gw lebih manusiawi daripada lu, ****** !” seru Damian.
“Lu tadi panggil gw apaan ?” tanya Ozma dengan muka mengancam. Ia seketika berdiri dan meraih pedangnya dengan tangan kanannya.
“Lu gak denger ? Jelas jelas gw manggil lu ****** !”
Mendengar itu, Ozma langsung menginjak telapak tangan kanan Damian menggunakan kaki kirinya, yang membuat Damian meringis kesakitan.
“Damian, lu emang pantes buat mati tersiksa.” jawab Ozma dengan wajah mengamuk.
“Apa !? Gimana lu bisa tahu nama gw bangsat !?”
Ozma tetap diam dan tidak mendengarkan ocehan Damian. Ia mengambil pedang yang ada di punggungnya, kemudian mengarahkan ujung pedangnya ke dahi Damian. Seketika itu juga, Damian merasakan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya. Ia terus berteriak meminta tolong pada Valentina yang masih berdiri di kejauhan, namun tidak ada satupun yang mendengarkannya.
“Bajingan ! Bajingan ! Bajingan !” teriak Damian yang sedang kesakitan. Sementara itu, Valentina berjalan mendekat ke arah Ozma yang masih terus menyiksa Damian menggunakan pedangnya, kemudian ikut menatap Damian dengan tatapan kosong diikuti dengan emosi yang perlahan mulai naik.
“Rasain tuh, iblis.” gumam Valentina. Setelah beberapa saat menderita, Damian mulai memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Cairan merah itu juga mulai keluar dari hidungnya, matanya, hingga telinga.
“Bajingan kau ....... Valentina !!”
Ozma dan Valentina melihat kepala Damian yang meledak berkeping keping tanpa ekspresi apapun. Ozma menyimpan pedangnya kembali dan tersenyum sadis.
“Teriakan yang bagus, Damian.”
Ozma kembali menoleh ke arah Valentina yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia tersenyum lebar saat akhirnya ia mendapatkan subjek yang menurutnya cocok untuk dijadikan sebagai 'anjing' nya. Valentina kemudian melanjutkan perjalanannya bersama Ozma meninggalkan tubuh Damian yang tergeletak di tanah, tanpa tahu bahwa hidupnya akan berubah drastis setelah ikut dengan Ozma.
5 tahun kemudian. Ozma berjalan di antara reruntuhan yang merupakan labnya sendiri. Dia terus menggerutu tentang badai yang terus menghantam Louisiana. Seakan kota ini tidak akan pernah luput dari terjangan badai. Tiba tiba, dari dalam sebuah reruntuhan, muncul seekor monster yang merupakan SCR 037. Ozma menyeringai saat mendapati SCR 037 berhasil bertahan hidup dari tertimpa oleh reruntuhan tersebut.
“Sudah kuduga. Anjing yang baik akan selalu kembali pada tuannya.”
__ADS_1