Anomaly

Anomaly
SCR 324 : Blight, SCR 058 : Staring Statue


__ADS_3

Sepertinya pistol ini bekerja sesuai dengan namanya. Makhluk itu meraung kesakitan, dan tidak dapat menyerang sama sekali saat ini. Ini adalah momen yang tepat untuk lari, bukan ?


“Ava, kita tinggalkan bajingan ini sekarang juga !!”


“Oyee !”


Dan begitulah. Aku dan Ava berlari melewati monster ini dengan sangat mudah. Semuanya itu terjadi hanya dengan satu tembakan pistol ku saja. Sungguh luar biasa.


Aku dan Ava sudah berada di lorong yang jauh dari monster itu. Jarang ada hal yang aneh di area ini, kecuali sebuah perasaan ku yang seperti diawasi oleh seseorang entah dari mana. Ava tidak perlu mengetahui ini. Lagipula, mungkin ini hanya efek paranoid biasa karena banyak monster-monster aneh yang ku hadapi selama ini.


“Yang tadi itu cukup mudah, huh ?”


“Kamu tidak lihat kalau kepalaku bisa saja menghilang tadi ? Itu tidak mudah bagiku, bodoh.”


“Hehe.”


Ava nyengir dengan seenaknya. Padahal nyawaku yang sedang dekat dengan kematian saat itu. Terkadang, beliau ini memang agak menyebalkan.


“Ava, apakah kita sudah dekat dengan tempat perkumpulan D itu ?”


“Anu... Sebenarnya, aku merasa kalau kita justru menjauh malahan. Hehe.”


“Huh ?”


Bangsat. Cewek ini benar-benar tidak bisa dipercaya kalau soal arah. Dan tempat ini juga. Kenapa semakin lama, rasanya semakin seperti ada di sebuah labirin ? Ini sekarang ada di mana ?


“Santai aja. Lagipula, ada yang aku lakukan juga di sini.”


“Melakukan apa ? Kenapa terdengar seperti sus bagiku ?”


“Kita bakal cari pembunuh ibuku. Kurungannya pasti ada di dekat sini.”


“Kamu bilang apa ?”


“Yah, maafkan aku harus melibatkan kasus ini. Tapi, aku benar-benar sudah dekat dengan kebenarannya.”


Sebenarnya aku tidak mau ikut campur dengan urusannya atau apapun itu. Tapi kalau dia memang benar sudah dekat dengan kebenaran tentang pembunuh ibunya, yah, mau bagaimana lagi.


“Lanjutkan saja. Aku tidak akan mengganggumu. Kita lakukan ini bersama-sama.”


“Makasih, Eva !! Kamu adalah temanku yang paling baik selama ini !!”


“Hei, itu..... Agak berlebihan.”


Ava masih meloncat kegirangan saat aku akhirnya melihat teror yang sesungguhnya dari area Keter ini. Sebuah patung berwarna hitam, nampak baru saja mengintip dari tembok ke arah ku, kemudian menghilang begitu saja entah kemana. Patung bisa bergerak ? Atau mungkin, itu hanyalah halusinasi ku saja ?


“Kamu kenapa ? Sedang ketakutan ?”


“Uh, nggak. Ga ada apa-apa kok.”


“Hmmm, sus banget....”


Ava memperhatikan wajahku dengan jarak yang sangat, penuh dengan kecurigaan. Demi tuhan, apakah ia benar-benar harus melakukan ini ? Aku bahkan tidak melakukan apa-apa !!

__ADS_1


“Bisa kita lupakan saja ini ? Ke mana kita pergi selanjutnya ?”


“Ah, benar juga ! Aku rasa, kita harusnya lurus saja dari sini. Hmmmm....”


Mataku tidak salah lagi. Dia baru saja mengeluarkan sebuah tablet yang seperti dibuat dari masa depan, berisi peta keseluruhan dari tempat ini. Aku yakin, sangatlah yakin kalau itu ia colong dari agen lain yang mati. Tidak mungkin tidak.


“Oh, dugaan ku benar !! Kita cuma perlu lurus terus, belok ke kanan, habis itu ke kanan lagi, lurus terus....”


Itu... Panjang sekali. Benar-benar seperti sebuah labirin. Dia masih berbicara panjang lebar, bahkan sampai sekarang. Aku hanya perlu mendengarkannya, tanpa tahu itu sebenarnya ke arah mana.


“Atau.... Kita bisa lewat rute lain.”


“Huh ? Kenapa tiba-tiba ?”


Ava menatap sesuatu di depannya sambil berkeringat. Aku tidak melakukan apa-apa, selain mengikutinya melihat sesuatu yang kelihatannya sangat mengerikan. Aku menoleh ke depan, dan di sanalah, sebuah patung hitam berdiri tepat di hadapan kami, terlihat sedang menatap kami dengan tajam.


“Ava, sejak kapan dia ada di sini ?”


“E-entahlah, aku juga tidak tahu tentang itu, bangsat.”


Patung ini memiliki sebuah mata mekanis, yang membuat bola mata merahnya dapat bergerak-gerak seperti bola mata pada umumnya. Kenapa yang seperti ini harus terjadi sekarang ?


“Oi, Ava. Kita harus apa ?”


“Jangan tanya aku, bodoh !!”


Patung itu, sepertinya tidak akan bergerak. Bukankah seperti itu ? Semoga saja.


“Ava, aku yang jalan duluan. Oke ?”


Sepertinya Ava adalah jenis orang yang sangat tidak suka ditatap seperti ini, apalagi oleh sebuah patung. Aku juga sama sih, karena patung ini baru saja muncul entah dari mana !


Aku sudah tidak peduli lagi dengan kedua bola matanya yang terus mengikuti pergerakan ku. Aku semakin dekat dengan bagian belakang tubuhnya.... Dan tinggal satu langkah lagi.....


“Ava, aku bisa bilang kalau melewati patung sialan ini aman-aman saja !!”


“Yang benar ?”


“Kamu tidak lihat aku tadi !?”


“Tunggu, bagaimana dengan suara itu !?”


“Suara apa !?”


Tembok kanan di depanku runtuh seketika, karena monster tak berwajah yang ada di awal itu. Baiklah, keadaannya jadi semakin buruk sepertinya.


“Ava, kita balik ke belakang !!”


Tanpa basa-basi, aku dan Ava segera berbalik ke belakang, lari dari kejaran monster tak berwajah itu. Entah bagaimana caranya, tapi monster itu mengejar kami seperti dia punya mata. Aku sesekali melihat ke belakang, dan pada saat yang terakhir kalinya, patung hitam sialan itu sudah tidak ada di tempatnya !


“Eva, bayangan apaan tuh !?”


Beberapa saat setelah Ava bertanya tentang sebuah bayangan di depan, langkah kami berhenti seketika karena patung hitam itu, kini telah muncul kembali tepat di depan kami. Cih, menghalangi jalan saja !

__ADS_1


“Ke kiri !!” seru Ava.


Aku dan Ava berbelok ke kiri, tepat sebelum cakar dari monster itu menghancurkan kepala Ava. Lagi-lagi aku menoleh ke belakang hanya untuk memastikan. Dan benar saja, patung itu sudah menghilang lagi. Patung itu bisa berteleportasi !


Kami tiba di ujung lorong, tempat di mana sebuah pintu otomatis sedang tertutup. Ava sedang mengutak-atik password dari pintu tersebut, sementara aku menembaki monster yang mengejar kami dengan pistol ku. Monster itu sudah terluka beberapa kali, tapi tetap saja semangat hidupnya itu masih bertahan.


“Kyaaa !!”


“Ava, ada apa !?”


Ava tidak segera menjawab karena panik, memaksa ku untuk menoleh ke belakang sebentar. Kini aku aku tahu alasan kenapa Ava berteriak sekencang itu. Patung hitam sialan tersebut sudah muncul kembali tepat di depan ambang-ambang pintu, dan dengan ukuran tubuhnya yang lebar, jalan kami tertutup sepenuhnya. Tiba-tiba aku teringat kalau sialan itu masih bersi keras membunuh kami. Aku kembali menembaki monster sialan tersebut, sementara Ava, dia masih diam mematung ketakutan karena patung itu.


“Ava, lakukan sesuatu, bangsat ! Monster ini masih tidak mau mati sepertinya !!”


“Tapi, patung ini tidak bisa di dorong, BAJINGAN !!”


Aku memalingkan pandanganku sebentar ke Ava. Dia sedang mendorong patung itu, dan sepertinya sudah mengerahkan seluruh tenaganya juga. Seperti yang dikatakannya, patung ini tidak bergerak seinci pun ! Tunggu sebentar, ingat-ingat lagi, Eva. Bagaimana patung ini berteleportasi di berbagai tempat ke mana aku dan Ava ingin pergi. Dia sepertinya memang ingin menghalangi jalan kami, dan itu ia lakukan saat si monster ini datang ! Apakah itu berarti mereka berdua sedang bekerja sama !? Aku dan Ava juga bisa bekerja sama kalau begitu, bajingan !!


“Percuma mendorongnya, Ava ! Kita tembaki saja si sialan ini !!”


“Damn, itu ide yang bagus juga !”


Ava akhirnya menyerah untuk mendorong patung itu, dan dengan cepat langsung berbalik dan menodongkan revolver nya. Rentetan tembakan eksekusi pun dimulai. Tiap tembakan dari kami berdua terlihat seperti begitu menyakitkan bagi monster itu. Sebenarnya aku kasihan dengannya, tapi dia yang menyerang duluan. aku tidak perlu memperdulikannya, dan hanya tinggal menembaki nya saja. Itulah yang harus dilakukan saat ini. Namun sialnya, aku harus mengisi peluru sekarang. Kalau begitu, aku serahkan pada Ava untuk serangan selanjutnya.


“Ava, tembak kepalanya !!”


Peluru terakhir Ava melesat dan kemudian menembus kepala monster itu seketika. Sulit dipercaya, bahwa beberapa saat kemudian, monster itu akhirnya berhenti memberontak dan langsung jatuh ke lantai begitu saja. Mungkin, ini adalah saatnya bagi kami untuk menurunkan senjata dan menghirup nafas lega. Tapi pertama-tama, aku harus mengganti magazine pistol ku lebih dulu.


“Ini sudah selesai ? Sialan itu masih kelihatan bernafas, tuh.”


“Setidaknya dia sudah pingsan, Ava.”


Setelah selesai mengisi ulang, aku menodongkan pistol ku ke tubuh monster itu untuk berjaga-jaga. Sia-sia saja, dia sudah tidak bergerak sama sekali. Sekilas, aku juga mendengar suara dari patung tersebut menghilang. Kerja sama mereka memang sudah selesai sepertinya. Jujur saja, itu adalah kerja sama paling buruk yang pernah aku lihat.


“Jadi, kita kemana setelah ini ?”


“Tentu saja kita lanjut cari pembunuh ibuku.”


...****************...


Kami sudah ada di belokan kanan yang ketiga saat ini. Dan aku juga sudah mulai melihat tanda-tanda kemunculan anomali yang lainnya. Seperti suara lagu ulang tahun, gergaji mesin menyala, dan lain-lain. Ava sangat ketakutan saat mendengar itu semua.


Tentang dia anomali yang bekerja sama itu, aku tidak pernah menduga hal seperti itu akan terjadi. Juga, monster itu hanya pingsan tadi, jadi selanjutnya, aku dan pasti masih harus menghadapi mereka berdua kedepannya. Benar-benar mengerikan.


“Eva, lorong ini makin lama makin menakutkan.”


“Kamu sudah mengatakan itu berkali-kali bukan ? Aku juga bisa bosan, tahu.”


Ava berhenti sejenak dan menghela nafasnya, sepertinya sedang berusaha untuk menenangkan diri. Baiklah, aku bisa menunggunya kapan saja dan selama apapun. Dia ini gampang ketakutan ternyata.


“Eva, sepertinya ada yang sedang mengintip kita.”


Entah kenapa, tapi yang dikatakan oleh Ava adalah benar. Karena aku juga dapat merasakannya. Seseorang, atau sesuatu, sedang mengintip, dan mengamati kami berdua dari kejauhan. Aku melayangkan pandangan ku ke sekeliling, dan beberapa saat setelahnya, di situlah aku menemukan sepasang mata berwarna bersembunyi dalam kegelapan di celah tembok di samping kiri kami. Sepertinya, aku pernah melihat mata merah yang bercahaya itu barusan.

__ADS_1


“Jadi begitu.” gumamku.


Di awasi oleh sebuah patung hitam sialan.... Sepertinya itu akan menjadi hal yang paling aku benci seumur hidupku.


__ADS_2