
“Sayang sekali. Tapi sepertinya ide brilian mu itu sudah tidak bisa dilakukan saat ini.” ucap administrator Libya yang terus melihat ke arah komputernya saat ini, ditemani oleh aku, komandan, Rook dan yang lainnya.
Semuanya sedang memantau ke arah rekaman CCTV yang menampilkan bagian luar dari ruang lobi dan area lainnya seperti tempat parkir, dan yang lainnya telah tertutup oleh sebuah jendela besi raksasa yang sepertinya bukanlah anomali, melainkan murni diciptakan oleh manusia. Aku yang sedang bersandar di tembok menghela nafas karena kesal.
“Memang selama ini ideku selalu dianggap tidak berguna, kok. Jadinya aku sudah terbiasa.” keluhku.
“Setidaknya kamu sudah berusaha untuk membantu kami, Eva.” ucap Libya.
“Hmph, membantu apanya ? Ujung ujungnya kita tetap terjebak di sini, bukan ?”
Libya memutar kursinya dan menatapku dengan wajah sedih. Ia kemudian beranjak dari kursinya dan memelukku sambil berbisik kepadaku 'Tidak apa apa, nak.'
Kenapa dia harus melakukan ini, bahkan di hadapan orang lain. Aku bahkan tidak memerlukannya. Setidaknya, pelukan ini sama persis dengan pelukan ibu ku, hangat, nyaman, dan penuh kasih sayang. Dan di tengah tengah momen mengharukan ini, komandan tua itu seketika merusak suasana ini.
“Kita bisa pikirkan itu nanti. Masih ada yang lebih penting sekarang. Soya, apa kamu mendeteksi sesuatu di luar sana ?”
Gadis bernama Soya tersebut seketika terlihat panik saat namanya dipanggil oleh si komandan. Ia segera mengambil tablet yang ada di sebelah kanannya.
“Aku sebenarnya ingin menyampaikan keadaan darurat ini tadi, tapi ....”
“Keadaan darurat ?” tanya sang komandan yang kebingungan karena perkataan Soya yang terpotong di tengah jalan. Soya menggeleng gelengkan kepalanya, kemudian melanjutkan kalimatnya kembali.
“Aku mendeteksi sebuah anomali yang berjalan mendekat ke arah sini. Kemungkinan besar itu adalah SCR 313 : Null.”
Mendengar itu, semua orang yang ada di ruangan ini langsung menjadi panik, termasuk aku. Walaupun begitu, administrator Libya tidak terlihat sedang ketakutan, justru dia menunjukkan ekspresi wajah yang tenang. Bulu kuduknya bahkan tidak berdiri sama sekali.
“Sialan. Anak anak, kita harus buat makhluk itu menjauh dari administrator, entah bagaimanapun caranya.” ucap sang komandan sambil berjalan mendekati Soya.
“Berapa jaraknya dari sini sekarang ?”
“Sekitar 25 dari sini, komandan. Bukankah itu masih jauh ?”
“Tetap saja kita harus mencegahnya mendekat ke sini sekarang juga. Semuanya, kita keluar !” seru sang komandan dengan suara yang nyaring. Seluruh agen pun langsung bersiap dengan senjata dan perlengkapan mereka. Tiba tiba komandan itu membalikkan pandangannya kepadaku dengan sorot mata yang tajam.
“Kecuali kau, Eva.”
Hh, sudah pasti kakek tua itu akan mengatakannya. Benar benar tidak ada hal yang berubah sejak aku kecil. Selalu saja dianggap beban oleh orang lain.
“Keselamatan administrator ada di tanganmu.” lanjut komandan itu lagi. Terserah apa katanya, yang penting saat ini aku disuruh untuk menjaga ibu hamil yang ada di sampingku ini kan ? Itu hal yang mudah. Asalkan mereka juga tidak mengalami kegagalan juga. Robin dan Rook melambaikan tangan mereka sebagai salam perpisahan.
“Hei, jangan mati.” ucapku pada Robin dan Rook yang berjalan membelakangi ku. Mereka berbalik ke arah ku sambil tersenyum kecil.
“Kamu juga.” ucap mereka secara berbarengan. Setelah itu, Rook menepuk pundak Robin dan kemudian pergi keluar dari ruangan ini menyusul agen spesial yang lainnya, meninggalkan Robin sendirian bersama denganku dan juga administrator Libya. Robin kemudian meraih sesuatu di belakang celananya, dan benda itu ternyata adalah sebuah HT.
“Eva, tangkap ini.”
Aku dengan sigap langsung menangkap HT itu yang hampir jatuh ke lantai dan kemudian menatapnya dengan tajam sambil memberinya jari tengah. Dia terkekeh sebentar setelah itu.
“Aku akan hubungi kamu setelah situasi jadi lebih aman ataupun lebih buruk. Bye.” ucapnya sambil pergi keluar menyusul Rook dan yang lainnya. Pintu pun di tutup, dan kini hanya aku dan admin Libya yang ada di dalam ruangan ini. Ia berjalan mendekatiku dan menepuk punggungku.
__ADS_1
“Kamu benar benar dekat dengan Robin, huh ?”
Entah kenapa, pertanyaan Libya itu langsung membuat kedua pipi ku memerah. Libya sontak tertawa kecil, kemudian berjalan menuju sebuah reruntuhan yang ada di dalam ruangan ini.
“Kenapa kita tidak duduk saja, Eva ?” ucapnya sambil mendekati reruntuhan itu. Ia kemudian duduk di tepiannya dan menatap ke arahku.
“Hei, admin ! A - aku gak punya perasaan sama Robin tahu !” ucapku membela diri sendiri. Libya justru semakin tersenyum mendengar perkataanku itu.
“Itu artinya kamu sedang menolak fakta.”
Dia memang menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi, umurnya lebih tua dariku. Aku menghela nafas, berusaha untuk melupakan emosiku saat ini. Ibu ku pernah bilang, sebagai sesama wanita, tidak boleh berkonflik dengan yang sedang hamil. Libya tersenyum kecil sambil menghela nafasnya. Aku kemudian duduk di samping kanannya.
“Kenapa kamu masih bekerja walaupun sedang hamil ?” tanyaku.
“Itu sudah menjadi tugas kami yang mampu untuk melindungi yang lemah. Semua orang di sini rela bertarung supaya orang orang di luar sana tidak perlu bertarung. Kami rela kehilangan, terluka, bahkan hingga kehilangan nyawa supaya orang orang di luar sana tidak perlu mengalami kehilangan. Kami berjuang dalam kegelapan, supaya mereka dapat hidup dalam cahaya.”
Aku seketika tertunduk setelah mendengar ucapannya itu, merenungkan apa arti dari kalimatnya. Yang dikatakannya memang benar. Semua orang yang bekerja di sini sudah pasti tahu benar resiko besar yang ada di tempat ini, namun mereka tetap saja berdiri kukuh untuk melindungi mereka yang tidak tahu apa apa tentang anomali ini.
“Apa kamu tidak takut kehilangan anakmu ?”
“Jika aku memang harus kehilangan anakku, maka biarlah semua usaha ku selama ini membuat orang orang lain tidak mengalami yang aku alami.”
“Hei, apa aku bisa jadi sama heroiknya sepertimu ?” tanyaku. Dia memang layak menjadi panutanku. Seorang wanita yang terus berjuang sekuat tenaga untuk melindungi orang lain.
“Itu tergantung oleh tekadmu, nak. Namun, sekalinya kamu telah memutuskannya, maka kamu harus bersiap menanggung resiko nya. Dan kamu juga tidak akan bisa kembali lagi dengan mudah.”
Jawaban Libya itu membuatku merenung sesaat. Dia menatapku dengan penuh kelembutan.
Libya tersenyum kecil sambil mengelus elus perutnya yang buncit itu. Kesunyian menghampiri ruangan ini seketika. Perbincangan ku dengan Libya benar benar terasa lebih berarti daripada saat aku berbincang dengan yang lainnya.
“Namanya Chloe.”
“Huh ?”
“Saat anak ini lahir, aku akan memberinya nama Chloe. Ingatlah untuk mengunjungi ku saat momen itu tiba 1 bulan lagi.” jelas Libya. Itu artinya, umur kandungannya telah mencapai 8 bulan. Benar benar sebuah kabar baik di tengah tengah kekacauan yang sedang terjadi saat ini.
“Aku akan mengingatnya, Libya.” ucapku. Libya kembali tersenyum kecil dan menoleh ke arahku.
“Terima kasih, Eva.” jawab Libya.
Tiba tiba, HT yang diberikan oleh Robin mengeluarkan suara gemerisik yang beberapa saat kemudian suara Robin mulai terdengar melakukan tes suara sebelum akhirnya berbicara kepadaku.
“Hei, Eva. Ada kabar buruk.”
“Huh ? Apa itu ?”
“Kami sudah berusaha untuk menahan anomali sialan bernama Null itu, namun si brengsek itu berhasil menerobos kami dengan berlari di atas langit langit.”
“A - apa !? Bukankah itu gawat !?”
__ADS_1
“Begitulah. Sudah pasti si sialan itu sedang dalam perjalanan menuju ke arah kalian.”
Aku dan Libya saling melihat satu sama lain saat mendengar itu. Libya kemudian menghela nafasnya secara kasar.
“Yang sepertinya memang tidak jarang terjadi.” keluh Libya. Robin kemudian berbicara kembali.
“Uh, ini perintah dari komandan. Eva, keluarlah dari ruangan itu bersama dengan administrator Libya sekarang juga. Pergilah ke ruangan D Private. Di sana ada banyak kelas D yang berkumpul. Kita akan bertemu kembali di sana sambil bersiap melakukan evakuasi kelas D.”
“Lalu bagaimana dengan orang orang dari tim elit atau apalah itu !?”
Robin diam sejenak setelah itu, meninggalkan suara statis untuk sementara waktu.
“Saat ini aku dan temanku sedang berpisah dan mencari mereka berempat. Pergilah sekarang juga dari sana. Aku percaya kamu bisa melakukannya.”
“Baiklah.” jawabku.
“Hei, Eva. Bisa aku bicara sebentar dengan admin Libya ?”
Aku pun langsung memberikan HT itu kepada Libya.
“Ini aku. Ada apa ?” tanya Libya dengan nada serius.
“Uhm, bisakah kamu menggunakan senjata ? Semacam pistol mungkin ?”
“Hanya sedikit saja. Memangnya kenapa ?”
Robin berhenti sejenak.
“Eva.”
“Ya, ada apa ?”
“Berikan pistol mu pada admin Libya. Setidaknya biarkan dia memiliki senjata pertahanan diri.”
“Baiklah.”
“Aku akhiri ini sekarang. Pergilah sekarang, nyawa kalian berdua dalam bahaya.”
Robin seketika mengakhiri komunikasinya. Aku menghela nafasku dengan kasar saat Robin sialan itu memberikanku misi sesulit ini. Apa yang harus ku lakukan ? Memang aku ingin menjadi seseorang yang hebat sama seperti Libya, tapi aku belum siap saat ini.
“Apa kamu sedang ketakutan, Eva ?” tanya Libya.
“I - iya.”
“Tidak perlu takut nak, ada aku di sini. Semua orang juga pada awalnya begitu, ketakutan. Takut akan mati, takut akan kehilangan, takut akan rasa sakit, dan masih ada banyak ketakutan yang lainnya. Namun semuanya dapat melampaui itu. Sama sepertimu, dan aku juga ada di sini, untuk membantumu melampaui rasa takut dan cemas itu.”
“Terima kasih, Libya.” ucapku sambil memeluknya. Ia tersenyum kecil sambil membelai rambutku.
Terima kasih, Libya. Berkatmu aku mungkin dapat melewati ini semua. Segala rintangan yang ada di depanku, dan yang akan muncul ke depannya. Berkatmu, aku telah mempelajari hal yang baru, sama seperti ibu ku yang mengajariku untuk menjadi pribadi yang lebih baik saat aku masih kecil.
__ADS_1
“Aku tetap akan berada di sampingmu, Eva. Tidak peduli akan apa yang memisahkan mu dariku. Tidak peduli berapa kali kau mengecewakanku. Aku akan tetap menyayangimu seperti saat kita bertemu pertama kali. Kasih sayangku tidak akan pernah pudar, walau dimakan oleh waktu maupun kegelapan, aku tetap akan menyayangimu. Karena kau adalah anakku, dan aku adalah ibu mu.” -Ibu-