
Mataku mulai kabur, dan aku mulai sulit bernafas. Aku hanya dapat merasakan Rook yang menaruh tubuhku ke bawah lantai.
Suara apa itu ? Apa Rook sudah menutup pintu sialan itu ? Semoga dugaanku benar. Aku sudah tidak mau berurusan dengan gas beracun sialan itu lagi.
Perasaan apa ini ? Apa hanya dengan mengambil nafas sedalam mungkin dapat menyembuhkan efek gas beracun secepat ini ? Aku tidak ingat ada manusia yang bisa melakukan itu. Tubuhku rasanya sudah normal kembali hanya dalam beberapa detik saja. Ini gila. Tidak mungkin aku salah satu dari mereka bukan ?
“Hei, butuh bantuan ?”
Aku membuka mataku. Terlihat seseorang yang sedang berdiri di depanku. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas, hanya kedua kakinya saja yang terlihat olehku. Setidaknya kakinya masih menapak di lantai.
“Sepertinya kamu memang butuh bantuan.” aku melihat orang itu berjalan ke depan. Sepertinya dia sedang berbicara dengan Rook. Sekarang aku hanya perlu memulihkan energi ku saja. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangkit. Setidaknya aku saat ini sudah mampu duduk. Aku menolehkan kepalaku ke belakang dan mendapati orang baru tersebut menyelipkan sebuah tongkat di antara pegangan pintu kemudian membengkokkannya. Pintu tersebut akhirnya terkunci juga. Setidaknya posisi kami sudah aman berkat orang baru tersebut. Rook dan orang baru itu kemudian saling bertatapan satu sama lain, seperti sedang melihat muka yang familiar bagi mereka berdua. Aku memaksakan tubuhku yang lemas untuk berdiri dengan menyandar ke tembok. Berdiri saja sudah sangat melelahkan begini, bagaimana jadinya jika aku berjalan sekarang ? Aku dengan lemas menoleh ke arah mereka berdua. Rook dan orang yang tak kukenal itu kemudian mulai tersenyum lebar, tertawa kecil, kemudian saling menggenggam tangan dengan kuat. Mereka berdua tertawa sekeras kerasnya semampu mereka.
“Brotherrr !!!” seru mereka berdua.
“Ternyata kamu selamat, negro !!”
“Kamu juga masih hidup, bule !!”
Mereka saling memeluk erat satu sama lain. Walaupun percakapan mereka penuh dengan ejekan satu sama lain, tidak ada di antara mereka yang tersinggung sama sekali. Bahkan, Rook seolah terlihat akan semakin senang jika dirinya dihina oleh orang itu. Begitulah yang namanya persahabatan. Masih bersandar dengan dinding, aku tersenyum kecil karena merasa terhibur oleh mereka berdua.
“Rook, dia siapa ?” tanyaku dengan lirih. Aku tahu kalau pertanyaanku ini memang mengganggu reuni mereka, tapi aku sudah terlanjur penasaran dengan orang yang terlihat cukup bersahabat, namun juga hebat ini.
“Ah, kamu sudah bisa berdiri, Eva ? Cepat sekali.” ucap Rook yang sedikit terkejut saat melihatku sudah berdiri. Mereka berdua akhirnya saling melepaskan pelukan masing masing dan kembali ke wajah serius mereka.
“Begitulah.” jawabku dengan suara lirih.
“Padahal baru saja kamu terlihat seperti mau mati. Bagaimana bisa ?” tanya Rook kebingungan.
“Memangnya ada apaan di luar sana ?” tanya orang itu sambil menunjuk dengan jempolnya ke arah pintu di dekat kami.
“SCR 050 dan korban korbannya. Paling tidak, gas itu tidak masuk ke dalam sini juga.” jawab Rook kepada orang itu. Sialan, aku bahkan sampai lupa kalau sebuah gas dapat memasuki apa saja karena berupa materi tak berwujud.
“Ehm, setidaknya jawab pertanyaanku yang pertama itu tadi, Rook.” ucapku yang sekali lagi mengganggu waktu mereka berdua.
__ADS_1
“Sialan, aku sampai lupa.” ucap Rook sambil menepuk jidatnya sendiri. Ia kemudian menoleh ke sahabatnya itu yang langsung dibalas dengan helaan nafas. Orang itu kemudian berjalan mendekatiku dan menyodorkan tangan kanannya.
“Kenalin, namaku Robin.”
“Bukan nama asli, kan ?” tanyaku dengan senyuman menyapa sambil membalas jabatan tangannya. Robin membalas senyuman ku itu.
“Pintar juga kau. Namamu Eva kan ?”
“Iya.” jawabku.
“Baiklah, aku akan menyetujui hubungan kalian berdua mulai saat ini.” sanggah Rook yang langsung membuatku melepaskan tangan dari jabatan tanganku dengan Robin. Aku seketika menatap Rook dengan tajam sambil memanyunkan bibirku. Rook dan juga Robin tertawa keras, membuatku semakin ingin mengutuki mereka berdua. Robin kemudian menghentikan tawanya itu dan diikuti oleh Rook saat tersadar bahwa kami bertiga telah menghabiskan waktu terlalu lama di lorong ini.
“Sebaiknya kita jalan sekarang.” ucap Robin. Aku dan Rook mengangguk setuju, kemudian kami bertiga melanjutkan perjalanan ini.
“Eva, kamu tidak terlihat seperti seorang yang baru saja keracunan, tau. ” kata Robin kepadaku.
“Entahlah apa yang sebenarnya terjadi padaku. Setidaknya ini juga pernah kualami barusan saat kedua tanganku sembuh kembali setelah kena SCR 008.” jawabku panjang lebar.
“Masalahnya aku juga sudah tahu tentang itu.” jawabku lagi.
“Hei, kalian berdua jangan bicara terus. Di ujung sana ada orang yang mengawasi kita tahu.” ucap Rook yang seketika membuat langkah kami bertiga berhenti mendadak. Dan benar saja, di ujung lorong depan kami ada seseorang yang sedang berdiri terdiam. Ucapan yang dikatakan Rook hanya setengah benar, karena orang itu sebenarnya tidak sedang mengawasi kami.
“Orang itu ....”
“Seperti yang kamu duga. Orang itu sudah terpapar gelombang dari SCR 016.” sambung Robin. Ini mulai menjadi menarik namun juga lebih mengerikan secara bersamaan. Sepertinya yang diucapkan oleh Danny tentang SCR 016 sedikit kurang benar, karena sesuai yang dibilang Robin tadi, sepertinya SCR 016 hanyalah sebuah gelombang suara yang dapat mengubah manusia menjadi sejenis zombie. Mungkin, Robin jauh lebih pintar daripada Danny.
“Apa yang kita lakukan ?” tanyaku sambil berbisik bisik.
“Kita terobos saja mereka.” jawab Robin sambil berjalan terus ke depan diikuti oleh Rook. Aku pun menyusul mereka berdua.
“Mereka ?”
“Mereka.” jawab Robin mempertegas kembali. Robin, Rook, dan aku kembali berhenti saat gerombolan SCR 016 mulai terlihat.
__ADS_1
“Eva, apa kamu pernah lihat film John Wick ?” tanya Robin.
“Hah ?”
“Hari ini kamu akan melihatnya secara real life.” ucap Robin yang kemudian mengambil busur panah yang ada di punggungnya. Rook juga tidak mau kalah, ia mengambil perisai besinya dan juga mengokang shotgun nya. Sepertinya mereka memang sedang bersiap untuk melakukan aksi gila secara bersamaan.
Aku pun mundur dan bersembunyi di belakang mereka berdua. Robin dan Rook kemudian maju ke depan diikuti dengan para SCR 016 yang juga mulai berjalan ke arah mereka berdua. Robin dan Rook kemudian langsung berlari menerjang gerombolan SCR 016 itu. Walaupun mereka berdua terlihat kalah jumlah, namun jangan salah. Di sini para SCR 016 lah yang justru kewalahan menyerang mereka. Pergerakan Robin sangat lincah, ia terus menghindari semua serangan para zombie SCR 016 sambil menembaki mereka menggunakan panahnya dengan sangat presisi. Sementara itu, Rook menggunakan perisainya untuk melindungi Robin sambil menyerang menggunakan shotgun dan kekuatan tangan kakinya. Pertarungan mereka memang terlihat sangat mirip dengan adegan adegan yang ada di film action. Tanpa kusadari, duo legend ini sudah berhasil membantai para zombie SCR 016. Robin dan Rook kemudian menatap ke arahku.
“Kamu tidak apa apa kan, tuan putri ?” tanya Robin dan Rook secara bersamaan. Ini gawat, lama lama aku bisa gila karena dua orang ini. Aku dengan malu malu menjawab iya sambil mengangguk. Aku pun berjalan mendekat ke arah mereka dan melanjutkan perjalanan kami. Setelah kami bertiga belok ke kanan, aku mulai merasakan kantuk yang sangat berat. Sepertinya tenagaku memang benar benar belum pulih. Aku pun menahan mereka berdua dengan kedua tanganku.
“Hei, apa kalian tahu batas seorang wanita ? Aku mau tidur sekarang.” tanyaku dengan mata yang mulai memberat. Mereka berdua menoleh ke arahku secara bersamaan.
“Tentu saja. Kamu kira aku dan Rook juga tidak kecapekan ? Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai di ruang kesehatan.” jawab Robin.
Aku menghela nafasku dengan sangat panjang.
“Sialan, aku sudah mengharapkan oasis seperti itu sejak tadi.”
Beberapa saat kemudian kami bertiga berhenti di depan sebuah ruangan. Robin dan Rook menatap ke arahku, seperti sedang mengatakan bahwa kami telah sampai di tempat tujuan. Aku pun langsung membuka pintu ruangan dan menyelonong masuk. Dari dalam ruangan yang gelap ini, aku melihat Robin dan Rook hanya pergi menyandar ke dinding kemudian langsung duduk beristirahat di lantai.
“Kalian berdua tidak ikut masuk ?” tanyaku dari ambang ambang pintu. Robin menoleh ke arah ku sambil menguap dengan keras. Sepertinya mereka memang sangat kelelahan.
“Tidak perlu. Aku dan Rook akan menjaga di luar sini. Kamu nikmatilah privasi mu sendiri di dalam sana.” jawab Robin dengan suara yang mulai agak menurun. Aku pun tersenyum lebar ke arah mereka berdua.
“Terima kasih, kalian berdua.” ucapku.
“Terserahlah.”
Aku pun menutup pintu ruangan yang gelap ini. Tanganku kemudian mulai meraba raba dinding di sekitar dan akhirnya menemukan benda yang kucari, yaitu saklar lampu. Aku mencoba terus menerus menyalakan lampu di ruangan ini, namun tidak bisa.
“Dari sekian banyaknya lorong dengan lampu menyala terang, kenapa hanya lampu di sini saja yang tidak bisa dinyalakan ?” keluhku. Aku menghela nafasku sejenak dan memilih melupakan hal ini. Lagipula banyak orang yang mengatakan bahwa tidur dalam kegelapan dapat membantumu tidur dengan lebih nyenyak. Aku berjalan menuju kasur yang ada di depanku kemudian menjatuhkan tubuhku secara terlentang ke atasnya saat sudah sampai. Benar benar empuk, tidak seperti kasur yang ada di kamar tahananku sebelumnya. Aku melepaskan sepatu pelindungku, kemudian menyeret tubuhku untuk menaruh kepalaku ke bantal yang sudah tersedia. Benar benar nyaman. Rasanya seperti tidur di atas kasur hotel bintang lima. Sudah berapa lama aku tidak merasakan tidur senyaman ini ? Mungkin sudah sangat lama. Aku kemudian memiringkan tubuhku ke arah kiri dan mulai memejamkan mataku. Aku sebenarnya masih berpikir, kenapa ruang kesehatan seperti ini menyediakan sebuah kasur hotel bintang lima, namun lupakan saja hal itu.
Tunggu. Apa yang aku lihat barusan ? Sebuah goresan bertuliskan 'jangan tidur' terukir di tembok di sebelahku ? Ah lupakan, paling juga aku hanya berhalusinasi. Mungkin 5 atau 6 jam berikutnya saat aku terbangun, tim evakuasi sudah sampai di sini dan akan mengeluarkan aku, Robin, dan juga Rook dari tempat terkutuk ini. Begitulah yang kupikirkan, tanpa menyadari ada sesosok bayangan hitam yang memasuki ruanganku itu.
__ADS_1