
Wanita itu tersenyum sinis ke arah kami. Danny perlahan mundur sambil mengeluarkan sebuah pistol lain dari kantong celana kirinya. Ia kemudian memberikan pistol tersebut kepadaku.
“Eva, ambil ini kemudian lari lah.”
Aku mengambil pistol yang diberikan oleh Danny. Namun bukannya berlari seperti apa yang dia suruh, aku justru ikut ikutan untuk menodongkan pistolku ke arah wanita gila itu.
“Wtf, Eva !?” respon Danny saat melihatku juga berniat untuk menyerang wanita gila di depan kami.
“Kali ini aku gak bakal lari lagi dan membiarkan temenku mati !” tegas ku. Wanita tersebut langsung tertawa sinis dengan sangat keras, sebelum akhirnya menatap kearah Danny dengan senyum sinis nya kembali. Orang ini benar benar punya kelainan jiwa, pikirku. Wanita itu kemudian mulai berbicara.
“Sudah sangat lama aku ingin bertarung denganmu lagi, Danny.”
“Hei, kamu kenal sama cewek gila ini ?” tanyaku kepada Danny.
“Memang. Aku yang selalu bertugas untuk menjaga sel tahanan bajingan psikopat ini.” jawab Danny. Tiba tiba lantai di bawah kiri wanita tersebut mulai bergejolak dan menciptakan sebuah gundukan.
“Sepertinya kamu membawa temanmu yang lain. Iya kan, Ozma ?”
“Tentu saja, bertarung secara adil itu sangat menyenangkan, apalagi saat menyiksa perempuan seperti yang ada di sampingmu itu. Ya, kan ?”
Wanita menunjuk ke arahku menggunakan pedang besarnya. Tiba tiba Danny berdiri di depanku untuk menghalangiku dari tatapan sadis wanita itu.
__ADS_1
“Jangan berani beraninya menyentuh orang ini, Ozma !”
Wanita bernama Ozma itu mendecih kesal dan memasang wajahnya yang penuh dengan amarah.
“Sepertinya aku harus membunuhmu sekarang juga, DANNY !!”
Ozma berteriak dengan sangat keras dan lantai di bawahnya pun mulai bergejolak kembali. Danny menembakkan beberapa peluru ke arah Ozma, namun peluru tersebut justru mengenai seekor monster yang langsung melompat ke atas dari bawah lantai. Monster tersebut mundur beberapa langkah akibat dari tembakan Danny yang mengenai dadanya beberapa kali tersebut. Ozma kemudian menatap ke arah monster itu dengan penuh kasihan.
“Oh anak yang baik. Kasihan sekali kau.”
Ozma kembali menatap ke arah Danny dengan wajahnya yang penuh emosi.
Ozma menghantamkan pedangnya ke lantai dan seketika itu juga Danny berteriak kesakitan sambil memegang dadanya.
“Danny ! Ada apa ?” tanyaku cemas. Danny tidak menjawab dan memaksakan dirinya untuk menembaki monster milik Ozma yang sedang berlari ke arahnya. Monster itu kembali mengambil beberapa langkah mundur saat peluru peluru yang Danny tembakkan telah bersarang di dalam tubuhnya.
“Masih belum cukup kah, Bajingan ?” tanya Ozma dengan geram. Ia kembali menghentakkan pedangnya ke lantai dan Danny kembali merasakan sakit yang luar biasa di dadanya hingga jatuh tersungkur. Aku pun ikut merendahkan diriku untuk menenangkan Danny.
“Hentikan ini, dasar lacur merah !!”
Aku menembakkan beberapa peluru ke arah Ozma namun tidak ada satu pun yang kena, terima kasih berkat pengalamanku yang tidak ada sama sekali dalam memegang sebuah senjata api. Danny tiba tiba memaksakan dirinya untuk bangkit kembali sambil menjauhkan ku darinya. Ia menembak monster tersebut yang kembali menerjang ke arahnya. Namun entah kenapa, kali ini tidak ada yang berhasil mengenai monster tersebut. Monster itu mengayunkan tangannya yang dilengkapi dengan ikatan rantai besi di masing masing tangannya, setiap rantai memiliki pemukul besi di bagian ujungnya.
__ADS_1
Danny mengangkat tangan kirinya untuk menangkis serangan itu namun justru membuat tangannya terikat. Monster bejat itu membanting Danny ke kiri dan ke kanan dengan sangat kuat. Aku masih berusaha untuk menghentikan serangan membabi buta dari monster tersebut, namun tidak ada sama sekali yang mengenai tubuh monster itu. Hingga pada akhirnya saat peluru pistol ku habis, aku tidak tau lagi cara untuk menghentikan serangan itu. Saat Danny mulai terduduk lemas di lantai, monster itu mengangkat tangan kirinya yang memiliki cakar panjang dan Danny berhasil menahan serangan tersebut. Aku hanya bisa berdiri di belakangnya sambil berdoa, berharap sebuah keberuntungan terjadi pada Danny sama seperti saat aku dalam bahaya.
“Tidak akan ada yang menjawab doa mu itu, tolol.”
Ozma kembali menghentakkan pedangnya ke lantai. Rasa sakit yang kembali muncul di dadanya, membuat Danny harus terdorong dan dijatuhkan ke lantai oleh monster tersebut. Danny kembali menahan monster yang ingin menggigitnya tersebut dengan mencekik leher monster itu. Saat Danny berhasil mencekik monster itu, kedua armor tangannya terbuka dan mengeluarkan sebuah aliran listrik yang seketika menyetrum monster tersebut. Aku pun tercengang saat melihat itu, dan berharap bahwa kemampuan dari baju pelindung Danny itu dapat meloloskan dirinya dari bahaya kali ini. Aku pun berdoa dengan lebih serius, berharap Tuhan akan menjawab doa ku yang penuh dosa ini. Namun kenyataan selalu tidak seindah seperti yang aku inginkan. Aku langsung membuka mataku saat mendengar teriakan keras Danny. Monster tersebut berhasil melepaskan diri dari cekikan Danny dan juga mendaratkan sebuah serangan balasan yang membuat pemukul besi di rantai tangan kiri monster tersebut langsung menghancurkan lengan kanan Danny dalam sekali pukulan. Mataku terbuka lebar dan seketika menjatuhkan SCR 520 yang tadinya aku pegang akibat shock berat saat melihat kejadian yang dialami Danny itu. Kedua tanganku ku gunakan untuk menutupi mulutku karena ketakutan. Sementara itu, dari kejauhan Ozma terlihat sedang tersenyum gembira, entah karena melihat Danny yang terluka parah atau karena melihatku ketakutan.
Aku tidak tahan dengan hal seperti ini. Rasanya aku harus melakukan sesuatu, namun aku tidak tahu harus apa. Aku hanya berdiri dan melihat Danny yang sedang berusaha untuk membalikkan badannya dengan lemah untuk menyeret badannya kearah ku. Kakinya ditarik oleh monster itu dan Danny berusaha untuk mempertahankan hidupnya yang telah berada di ujung jurang kematian. Dia memukul kepala monster tersebut dengan tangan kirinya namun monster itu seperti tidak terkena apa apa. Monster bejat itu kemudian melompat ke belakang dan mengikat kaki kiri Danny menggunakan rantai di tangan kanannya, berputar, kemudian melempar Danny dengan sangat kuat ke tembok hingga ia kehilangan kaki kirinya itu.
Dari kejauhan, aku terus mendengar Ozma yang tertawa keras dengan sadis. Wanita psikopat itu benar benar terlihat menikmati penderitaan yang dialami oleh Danny. Aku secara perlahan berjalan mundur ke belakang karena tak sanggup melihat pemandangan keji di depanku saat ini. Monster itu berusaha untuk meraih kepala Danny menggunakan tangan kirinya namun ditahan oleh Danny dengan tangan kirinya. Monster itu kemudian mendorong Danny ke tembok sambil mencekik lehernya dengan tangan kanannya. Ia membuka mulutnya yang kemudian mengeluarkan tentakel hitam berlendir. Tentakel tersebut memanjang dan seketika itu juga kepala Danny dihancurkan tepat di depan mataku.
Ozma tertawa sekeras kerasnya. Ia kemudian menatap ke arahku dengan muka psikopatnya.
“Bukankah darah merah segar milik Danny mu itu benar benar terlihat sangat enak untuk dicoba, lacur murahan !!!?”
Aku mulai mengepalkan kedua tanganku. Kali ini bukan tangisan ku yang pecah, namun amarahku lah yang mulai membara. Walaupun saat ini mataku masih berderai air mata, namun sudah bisa dipastikan bahwa suatu saat nanti aku akan membunuh lacur merah ini. Aku akan membunuhnya, aku akan mencongkel mata merahnya itu, aku akan menarik keluar usus dari dalam badannya itu, dan aku juga pasti akan menghancurkan kepala busuknya itu, sama seperti anjing kecilnya yang telah menghancurkan kepala Danny.
“Bajingan. Bajingan !”
Walaupun saat ini aku kabur dan berada di balik pintu otomatis sialan ini, lihat saja. Suatu saat nanti aku pasti membuat orang ini juga ingin kabur dan berlari ke balik pintu sama sepertiku saat ini.
“Aku akan membunuhmu. Aku akan membunuhmu. OZMAA !”
__ADS_1