
“Asteri...... Asteri ??”
Asteri membuka matanya. Begitu terbangun, ia langsung disambut oleh sebuah hologram Rigel yang berdiri tepat di depannya. Ia sedang duduk di sebuah kursi, di tengah-tengah ruangan serba putih yang sangat luas.
Eh ? Bukannya aku seharusnya ada SCR sekarang ? Ini ada dimana ?
“Asteri, kamu tidak apa-apa ?”
Suara lembut Rigel menggetarkan telinga Asteri. Ia sangat rindu kepada ayahnya. Ia sangat ingin memeluknya. Hanya saja, ayahnya saat ini hanyalah sebuah hologram, tidak nyata.
“Ayah, ini ada di mana ?”
Hologram Rigel terlihat seperti sedang menghela nafasnya. Ia kemudian berusaha untuk mengelus kepalanya, namun itu sia-sia saja. Tangan hologram Rigel, hanya menembus melewati kepala Asteri begitu menyentuhnya.
“Tahun 2125. Benar-benar masa depan yang sangat jauh, bukan ?”
“Apa ayah tidak nyata ? Kenapa, dan bagaimana ?”
“Dia sudah mati karena seseorang, Nyonya Asteri. Lupakan saja dia.”
Hologram Rigel menghilang di saat itu juga, dan di belakangnya, terlihat seorang pria sedang berjalan dari pintu masuk menuju ke arahnya. Seseorang yang tidak ia kenal sama sekali. Asteri seketika menggeram, kemudian beranjak dari kursinya dengan cepat.
“Siapa kau !? Siapa yang membunuhnya juga !!?”
“Tenanglah, itu bukan sikap yang baik untuk dilakukan oleh seorang ibu, nyonya Asteri.”
“Hah ? Apa maksudmu ?”
Pria itu berhenti di depan Asteri, kemudian mengambil sebuah cermin kecil dari dalam saku celananya. Begitu pria itu mengarahkan cermin tersebut ke arah Asteri, barulah Asteri menyadari bahwa dirinya sudah menjadi seorang dewasa sekarang. Menjadi seorang ibu, sepertinya memang cukup masuk akal di usianya yang ada di masa depan saat ini.
“Sebenarnya...... Apa yang sedang terjadi sekarang ?”
Caesuri ? Apa ini ulahnya Caesuri ??
Pria itu tersenyum kecil, sambil membungkuk memberi hormat kepada Asteri. Tangan kanannya terulur, bagaikan seorang bangsawan mengajak pasangannya untuk berdansa bersama-sama dengannya.
“Perkenalkan, nyonya Asteri. Nama saya adalah Procus, pemilik langsung dari tempat ini.”
“Huh ? Tempat apa ini sebenarnya ?”
“Ikut saya. Keturunan paling terakhir anda sedang menunggu di ruang tunggu. Nanti pun anda akan segera mengetahui semuanya.”
“Uhhhh...... Apa aku boleh berpikir sebentar ?”
“Tidak perlu. Keturunan anda sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan anda.”
“Ugh...... Sialan.”
Dengan sangat terpaksa, Asteri pun mengikuti Procus pergi ke ruang tunggu. Keluar dari ruangan tempatnya ia terbangun, Asteri langsung disambut oleh sebuah hall yang luas dan futuristik. Asteri tercengang melihatnya, sebab tidak ada yang seperti itu di jamannya dulu. Beberapa layar hologram menyala di hall tersebut menceritakan segala yang dipertanyakan oleh Asteri di dalam kepalanya selama ini.
Selamat datang di Dome of New Hope, harapan terakhir dari umat manusia. Seperti yang sudah kita semua ketahui, bahwa Emergence event telah menyeruak dan bahkan mencapai hingga ke ujung bumi. Hampir setengah populasi dari manusia musnah, dan banyak kota telah hancur karenanya. Harapan terakhir umat manusia pun, SCR FOUNDATION, telah hancur hingga tak tersisa satu pun di muka bumi ini.
Di sinilah, Dome of New Hope datang untuk melanjutkan warisan SCR FOUNDATION. Berada di tengah samudera Pasifik, dan dilindungi oleh 20 lapisan perisai nano, memberikan tempat ini sebuah perlindungan yang mutlak terhadap ancaman para anomali. Dome of New Hope saat ini memiliki 50.000 perlengkapan logistik, 5 ton suplai makanan sintetis, 30.000 unit robot petarung bersenjata letal otomatis, dan 500 turret penembak bersensor pendeteksi ancaman yang tersebar di seluruh area Dome of New Hope. Jalani hidup yang baru dengan Dome of New Hope. Karena di tempat inilah, seluruh harapan manusia yang telah pupus bersama debu, akan terlahir kembali menjadi baru......
“Aku yang menyetel dua layar hologram itu, hanya untuk teka-teki yang muncul di dalam kepala anda, nyonya Asteri.”
“Apa bagian yang kedua itu benar-benar penting untuk diceritakan ? Kelihatan jelas kesombongan kalian, tahu.”
Procus berhenti berjalan sejenak, kemudian menoleh ke Asteri dengan senyuman yang ramah kepadanya.
“Tentu saja, nyonya Asteri. Karena itu, anda tidak perlu meragukan soal keamanan saat tinggal di tempat kami ini. ”
“Uh..... Apa ? Aku akan tinggal di sini ?”
Procus masih mempertahankan senyum ramahnya itu, yang semakin lama, terlihat semakin mengerikan di mata Asteri.
“Seterusnya pun juga akan tetap begitu. Sampai projek pembangunan Bulwark kami selesai, baru anda bisa pergi dari tempat ini, ke luar angkasa.”
Tiba-tiba, pintu di ujung Utara hall tersebut terbuka, dan seorang wanita cantik berlari cepat menuju mereka berdua, atau lebih tepatnya menuju ke arah Asteri.
“Siapa itu ?”
“Ah, sepertinya bocah itu sudah tidak sabaran lagi menunggu anda, nyonya Asteri.”
wanita terlihat masih sangat muda, sekitar umur 17 tahunan. Hanya dengan berdiri dan saling berhadap-hadapan saja, Asteri dapat mengetahui bahwa ia jauh lebih tinggi daripada wanita itu. Baru kali ini Asteri dapat merasakan rasanya menjadi lebih tinggi daripada orang lain.
“Anda pasti nyonya Asteri, bukan ? Saya adalah Astra, generasi ke 150 dari keturunan anda !! Senang bertemu denganmu, nyonya Asteri !!”
Asteri diam mematung seketika. Betapa luar biasanya masa depan itu. Memegang sesuatu yang tidak diketahui, dan tak pernah diduga-duga oleh siapapun juga. Ia tidak pernah mengira, bahwa suatu hari nanti dirinya juga akan hidup seperti seorang wanita pada umumnya. Ia menoleh ke arah Procus tidak percaya, Procus hanya mengangguk meyakinkan dirinya bahwa yang ia lihat saat ini adalah benar.
__ADS_1
“Procus, apa aku boleh berjalan-jalan bersama dengan nyonya Asteri ?” tanya Astra dengan penuh semangat.
Procus menggeleng-gelengkan kepalanya, sebelum akhirnya menghela nafasnya dan tersenyum kecil kepada Astra.
“(Sigh) Baiklah. Hanya saja, pastikan nyonya Asteri menikmati perjalanannya.”
“Tentu saja. Itu adalah hal yang sangat mudah buatku, Procus !!”
Masih kebingungan, Asteri tiba-tiba dikejutkan saat tangan kanannya dipegang oleh Astra yang sempat tersenyum senang ke arahnya, kemudian mulai menariknya ke arah pintu Hall Utara di depan situ.
“Nenek, ikutlah aku. Kita akan berkeliling hingga semua area di tempat ini kita jelajahi !!”
“N-nenek ? Kamu memanggilku seperti itu sekarang !?”
“Hehe. Bercanda.....”
Asteri hampir ingin memukul kepala Astra karena kesal, namun ia berhasil menahan keinginannya itu. Lagipula, memang selalu seperti itulah remaja di dunia ini. Dengan helaan nafasnya yang panjang, Asteri pun akhirnya membiarkan langkahnya dituntun oleh Astra ke berbagai area di Dome of New Hope yang tidak ia ketahui sama sekali.
Dan petualangan si nenek moyang bersama dengan keturunannya yang palsu pun telah dimulai.
...****************...
“Astra, kamu membawaku ke mana ?”
“Sabarlah, nek. Setelah ini, kamu pasti akan tercengang karena melihat tempatnya ?”
Cih, besar sekali keyakinannya.
Asteri saat ini sedang berjalan di sebuah lorong-lorong berwarna putih bersih dengan kaca yang menampilkan sebuah akuarium besar di luar temboknya. Ikan-ikan dari berbagai jenis berenang kesana-kemari di dalam laut biru yang luas dan indah. Astra menutup mata Asteri dari belakang sambil menuntunnya berjalan ke arah yang tidak diketahui. Asteri hanya bisa bersiap-siap saja sambil berharap, bahwa kejutan yang akan diberikan keturunan panjangnya itu bukanlah sesuatu yang akan mengakhiri nyawanya.
“Astra, bagaimana keadaan di luar sana ?”
“Sangat liar, dan sangat mengerikan. Nenek tidak perlu melihat ataupun mengetahuinya. Karena di sana, sudah terasa seperti di dunia lain.”
“(Sigh) Sepertinya aku akan terbiasa dengan sebutan barumu itu, bocah.”
“Ehehe. Apa anda lebih nyaman dipanggil sebagai nyonya Asteri ?”
“Panggil aku Asteri saja. Semua orang selalu memanggilku seperti itu di jaman ku soalnya.”
“Oh, tapi aku merasa tidak sopan kalau begitu.”
Setelah itu, mereka berdua diam sejenak, dan beberapa saat kemudian sebuah pintu otomatis terdengar terbuka. Astra menuntun Asteri untuk berjalan beberapa langkah memasuki ruangan yang tidak diketahui tersebut, dan setelah beberapa langkah terlewati, mata Asteri pun akhirnya dibuka kembali. Seperti yang diharapkan oleh Astra, Asteri dibuat tercengang saat melihat isi dari ruangan tersebut.
“Kita sudah sampai, nyonya Asteri.”
Asteri tidak menjawab atau berkata-kata sama sekali. Ia membiarkan Astra berlari beberapa langkah ke depan melewati dirinya, ikut menikmati keindahan ruangan yang berwarna ungu gelap itu. Layar hologram lebar yang ada di langit-langit atas menampilkan sebuah simulasi dari keseluruhan alam semesta. Bagaikan berada di dalam sebuah pesawat luar angkasa, Asteri serasa dibawa melewati berbagai planet, batu-batuan angkasa, dan bintang-bintang. Putih, merah, biru, dan bahkan hitam, semua bintang dapat terlihat dengan jelas di matanya. Apakah seperti ini indahnya masa depan manusia ? Walaupun di luar sana telah hancur lebur, namun mereka masih mampu menghasilkan karya tangan yang sungguh luar biasa.
“Nyonya Asteri, anda menikmati pemandangan ini ?”
Asteri memalingkan pandangannya ke arah Astra, kemudian mengangguk dengan penuh semangat. Astra kelihatannya sangat senang mendapatkan jawaban dari Asteri itu, tampak sebuah senyuman kecil di wajahnya. Namun secara tiba-tiba, Asteri terbesit oleh sesuatu yang mengganggu pikirannya. Berhubung Astra masih bersama dengannya saat ini, Asteri dengan cepat langsung menghampirinya dan menanyakan pertanyaan yang baru saja muncul di dalam pikirannya barusan.
“Astra, aku baru sadar dengan sesuatu. Kenapa tidak ada orang satupun di sini kecuali aku, kamu, dan si Procus itu ? Kemana perginya mereka semua ?”
Alih-alih menjawab pertanyaan Asteri, Astra justru menoleh ke arah saku celana kirinya, yang mana, sebuah alat komunikasi berbentuk bundar dan bercahaya biru terang tergantung pada sebuah rantai besi keperakan berukuran kecil. Cahaya biru itu berkedip terus-menerus tanpa henti, sambil mengeluarkan getaran yang sangat mengganggu bagi Astra. Wajahnya terlihat kesal, dan kemudian ia menoleh ke arah Asteri sambil menunjukkan alat komunikasi itu kepadanya.
“Tunggu sebentar, nyonya Asteri. Procus sepertinya menghubungiku karena sesuatu. Entah apa itu......”
“Jawab saja panggilannya. Aku tidak masalah menunggu sebentar, kok.”
“Baiklah, terima kasih !” jawab Astra sambil membungkuk memberi hormat kepada Asteri.
Generasi muda memang terkadang nakal, tapi mereka semua masih punya sopan santun yang tinggi juga. Hanya itulah yang ada di dalam pikiran Asteri saat ia melihat Astra sekali lagi secara lebih detail. Pikirannya yang sebelumnya masih kanak-kanak itu kini telah berubah menjadi seperti pikiran seorang dewasa, sama seperti tubuhnya yang telah tumbuh jauh lebih tinggi saat ia bersama dengan Eva dan juga Ava. Apa yang terjadi pada keduanya ? Apakah mereka akan terkejut saat melihat dirinya yang sudah tumbuh menjadi dewasa tanpa perlu waktu lama seperti saat ini ?
Dari kejauhan, ia terus mengamati Astra yang sepertinya sedang sangat serius berbicara dengan Procus lewat alat komunikasinya itu. Ia tidak terlalu dapat mendengar dengan jelas apa yang keduanya katakan dari sana, namun yang pasti, itu sepertinya menyangkut tentang dirinya. Asteri sangat penasaran dan ingin menanyai Astra secara langsung saat itu, namun ia menahan dirinya sendiri dengan cepat. Itu akan sangat aneh baginya di hadapan keturunan ke 150 nya itu.
“Baiklah, aku akan segera melakukannya...... Uh, itu akan sangat mudah....... Ya, aku mengerti.” ucap Astra menjawab seseorang dari alat komunikasinya.
Melakukannya ? Melakukan apa ? Apa juga maksudnya 'akan sangat mudah' ?
Orang ini...... Tidak dapat dipercaya !!
Asteri menatap tajam ke arah Astra selama beberapa saat, yang mana langsung menghilang ketika Astra selesai berbincang-bincang dengan Procus lewat alat komunikasinya itu. Astra sempat terlihat melemparkan sebuah senyuman kecil kepada Asteri, sebelum akhirnya menghampiri dia kembali. Astra sedikit menarik baju yang dikenakan oleh Asteri untuk mendapatkan perhatiannya, kemudian tersenyum manis kepada Asteri.
“Nyonya Asteri, ikutlah aku.”
“Kamu tidak perlu seperti itu, bukan ? Tidak usah mengajak pun aku juga akan ikut.”
“Baguslah, karena yang setelah ini akan jauh lebih menarik.”
__ADS_1
Sedikit ketidakpercayaan mulai terlihat di wajah Asteri. Ia sedikit ragu-ragu untuk mengikuti Astra, dan keinginan untuk mencoba kabur dari tempat ini pun mulai tumbuh di dalam hatinya. Astra, nampaknya tidak seperti apa yang ia pikirkan pada awalnya.
“Nyonya Asteri, anda melamun ?”
“Ah, tidak. Tentu saja tidak. Hei, kita akan pergi ke mana setelah ini ?”
Astra kembali tersenyum kecil ke arah Asteri, kali ini dibarengi dengan kepalanya yang dimiringkan ke kiri. Kedua tangannya disembunyikan di belakang punggungnya, terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Asteri, benar-benar mulai tidak dapat mempercayai Astra. Apa yang akan dilakukannya setelah ini ?
“Rahasia.”
Heh, kita lihat saja, bocah, siapa yang akan menang. Apakah aku dengan instingku yang sudah diuji berkali-kali di dalam neraka ini, atau kelicikan mu yang sangat tersembunyi itu.
Beberapa glitch mulai nampak di tubuh Astra, namun Asteri pura-pura tidak melihatnya. Begitu juga dengan Astra, yang berpura-pura tidak mengalami apapun dengan tubuhnya. Setelah hening beberapa saat, Astra pun mulai mengantarkan Asteri keluar dari ruangan yang indah itu, pergi menuju ke sesuatu yang tidak diketahui. Astra berjalan di depan, sementara Asteri di belakangnya. Beberapa suara aneh mulai terdengar di lorong-lorong itu, seperti suara langkah kaki yang nampaknya sedang melarikan diri dari sesuatu, ringikan seekor makhluk yang tidak diketahui, dan berbagai suara aneh yang lainnya, termasuk sebuah nyanyian.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday, happy birthday
.........
HAPPY DEATH DAY, TO YOU........
“Astra, siapa yang menyanyikan itu ?”
“Aku tidak mendengar apapun, nyonya Asteri. Bisa jelaskan nyanyian apa yang anda maksud ?”
“(Sigh) Tidak perlu. Lupakan saja.”
Perjalanan mereka pun dilanjutkan kembali, dengan berbagai suara aneh terus menemani mereka sebagai latar belakang. Mereka berdua melewati berbagai lorong yang setiap 5 meternya dilapisi oleh sebuah pelindung nano berwarna biru. Asteri tidak ingin menanyakan untuk apa lapisan biru itu sebenarnya. Hanya saja, rasa penasarannya sangat menganggunya saat ini, sampai-sampai ia diam tak berkata-kata apapun dengan Astra.
25 menit berikutnya, dan mereka berdua masih saja berjalan tanpa kata-kata apapun. Semakin lama, Astra menuntunnya semakin ke bawah dari Dome of New Hope. Kini mereka sedang berjalan di sebuah terowongan yang luas, dengan ribuan kotak berwarna hitam tergantung di langit-langit nya di kedua sisi, kiri dan kanan. Tiba-tiba saja, Astra berhenti berjalan, kemudian menoleh ke arah Asteri dengan senyuman kecil.
“Nyonya Asteri, apa anda kelelahan ?”
“Tentu saja. Kamu memangnya membawaku ke mana ?”
Senyuman Astra masih bertahan, tidak menghilang ataupun mengecil sama sekali. Glitch-glitch mulai bermunculan di sekujur tubuh Astra, membuat Asteri secara perlahan mulai berjalan mundur menjauhi Astra karena ketakutan. Mulutnya gelagapan, dan ia berusaha untuk menggunakan kekuatannya, namun tidak bisa.
“Sudah kuduga, kamu ingin melakukan sesuatu, bukan !!?”
Astra memiringkan kepalanya, dan secara perlahan tubuhnya mulai membesar, diselubungi oleh ribuan lilitan kain sutra.
“Yah, seperti anda mampu untuk keluar dari tempat penuh keputusasaan ini, nyonya Asteri......”
“Sericum, itu kamu !!?”
Kini sudah tidak ada lagi yang namanya Astra. Hanya ada seorang pria, dengan seluruh tubuhnya dibalut oleh ribuan lilitan kain sutra berwarna putih bersih, tanpa noda sama sekali. Pria yang bernama Sericum itu kemudian merentangkan kedua tangannya, dan beberapa helai sutra di tubuhnya langsung mencuat ke arah Asteri dan membelitnya tubuhnya, menghentikannya di tempat. Asteri panik, menggoyang-goyangkan seluruh tubuhnya untuk bisa terbebas dari lilitan itu. Namun hasilnya, hanyalah nol, tidak berguna sama sekali.
“Anda ingin beristirahat, bukan ? Setelah ini, anda benar-benar akan istirahat dengan nyenyak untuk selamanya di tempat ini. Saya berjanji......”
Seluruh kotak hitam tertuju kepada Asteri, dan tidak perlu waktu lama bagi seluruh kotak itu menembakkan ribuan jarum listrik ke tubuh Asteri. Di saat itu juga, Asteri mengerang kesakitan dan jatuh ke lantai tanpa ada perlawanan sama sekali. Sericum berjalan menghampiri Asteri yang hampir kehilangan kesadarannya itu, tampil sebagai sang pembawa keputusasaan kepada mereka yang berusaha untuk bebas dari genggamannya.
“Ahhhh, bintang biru itu benar-benar berguna, huh, sepertinya ? Apa anda merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan tubuh anda saat ini, nyonya Asteri ??”
“Bintang biru........ Maksudmu, adalah ayahku !!? Kamu menggunakan ayahku sendiri untuk menghilangkan kekuatanku !!?”
“Bukan saya sebenarnya...... Melainkan Caesuri.”
Caesuri ? Dia ada di sini selama ini ??
Penglihatan Asteri mulai menjadi kabur, dan satu-satunya yang ia lihat di saat-saat terakhir ini hanyalah Sericum, yang berdiri dengan pose bangganya tepat di hadapannya. Bagaikan seekor serigala yang melolong setelah mendapatkan mangsanya, begitulah saat ini Sericum berdiri, memberitahukan kemenangannya atas mangsanya.
“Asteri...... Asteri ??”
...****************...
“Asteri....... Asteri ??”
Suara yang lembut itulah yang membangunnya kembali kepada mimpi buruk ini. Asteri dapat merasakan kehadiran ayahnya di dalam tubuhnya. Darah Rigel, mengalir langsung di dalam pembuluh darahnya, memancarkan cahaya biru terang. Asteri terbangun di dalam sebuah ruangan yang penuh daging dan darah manusia, terpotong-potong oleh sebuah gergaji mesin yang menyala selama 24/7 tanpa henti. Keseluruhan temboknya berwarna merah. Teriakan-teriakan mereka yang tersiksa menggema di telinganya. Mata Asteri melebar, melihat sosok yang selama ini selalu ia hindari. Sang topeng besi berdiri tidak jauh di hadapannya, membawa sebuah gergaji mesin di tangan kanannya, dan sebuah daging manusia yang berteriak-teriak dalam kesakitan abadi di tangan kirinya. Tidak ada manusia yang berbentuk di dalam ruangan ini, namun tetap saja, suara mereka masih ada. Daging-daging di sekitarnya itu masih hidup, bergerak-gerak dan bergeliat dalam keputusasaan kekal untuk menyentuh kenop pintu ruangan itu dan membebaskan diri mereka dari siksaan maut ini.
“Jangan....... Jangan......”
Sang topeng besi berjalan secara perlahan mendekati Asteri, menjatuhkan daging hidup tersebut ke lantai penuh dengan genangan darah dan memegang gergaji mesinnya dengan kedua tangan, mengangkatnya tinggi-tinggi di udara. Pada akhirnya, hanya ada teriakan sang gadis penakut itu yang terdengar nyaring di dalam ruangan itu. Dan dua orang yang lainnya, mendengarkan nyanyian merdu sang gadis tersebut dari dalam sebuah ruangan, tersenyum saat merasakan apa yang dirasakan oleh gadis itu sekarang.
“Procus, tatapan apa itu ?”
“Itu adalah sebuah tatapan keputusasaan.”
__ADS_1
“Ah, sebuah tatapan keputusasaan, huh ?”