Anomaly

Anomaly
SCR 121 : Skin Depleter P3


__ADS_3

Ruang kesehatan ini mulai diselimuti oleh kegelapan. Mataku mulai melotot tajam saat seorang humanoid hitam muncul dari balik bayangan dengan tersenyum sangat lebar sambil membalas balik tatapanku itu. Saat itu juga aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di seluruh bagian kulit luar ku. Rasanya ingin terkelupas saja. Aku terus mengerang kesakitan. Rasanya aku mau hampir mati saat ini.


“Siapapun ....... Tolong aku.”


Humanoid hitam itu terus menerus menatap mataku. Setiap kali aku mengalihkan pandanganku, ia akan berpindah tempat seketika. Aku berusaha untuk menggerakkan tubuhku, namun tidak bisa. Tubuhku rasanya sudah membatu, kecuali bagian kepalaku. Makhluk itu mulai berjalan mendekat, masih dengan senyuman lebarnya. Aku terus berteriak sekencang kencangnya, berharap agar Robin dan Rook mendengar teriakan ku dari luar sana. Aku dapat merasakan kulit luar ku mulai terkelupas dari dagingnya, secara perlahan. Bukankah mereka berdua ada di luar sana ? Bagaimana mungkin mereka tidak mendengar suara ku yang sudah sekeras teriakan mak comblang ini ? Mungkin dengan memancing emosi mereka berdua bisa membuat mereka terbangun.


“Rook bangsat !! Tolong aku !!”


Aku berteriak sekencang mungkin sambil terus menahan rasa sakit akibat monster sialan ini. Tidak mungkin aku akan mati dikuliti dengan kejam seperti ini. Aku masih mau bertemu dengan ibu kembali, bangsat !!


“Bangunlah, negro bangsat !!” ucapku sambil meringis kesakitan. Aku tiba tiba berteriak dengan sangat kencang saat dikejutkan dengan kulit bagian selangkanganku mulai terkelupas juga. I - itu adalah bagian sensitif ku, bangsat !!


Ruangan ini terlihat semakin gelap saja. Bayangan hitam pekat mulai menyelimuti ku dan makhluk ini, makhluk sialan ini juga semakin tersenyum lebar. Aku terus berteriak minta tolong sampai suaraku menjadi serak. Namun ini terdengar seperti sia sia saja. Tidak ada yang mendengar ku, bahkan menolongku. Aku harus melakukan sesuatu sekarang juga, tapi melakukan apa ? Yang bisa ku gerakkan hanyalah kepalaku saja. Aku tidak mau mati sekarang. Namun, jika aku harus mati saat ini juga, masih ada satu hal yang ingin kulakukan sekarang, yaitu mengejek orang lain ! Kebetulan saja hanya ada satu orang yang sangat ku benci saat ini, yaitu Uvukku, si pemburu negro yang sedang berdiri di dekatku.


“Hei, apa kamu yang namanya Uvukku ? Jelek sekali mukamu itu !” ucapku dengan nada dan juga senyuman menyindir. Tiba tiba aku mendengar suara mengaum yang sangat keras, dan si Uvukku itu sudah berdiri di atas kasurku sambil menghunuskan tombaknya yang juga merupakan sebuah bayangan. Kedua matanya mengeluarkan cahaya berwarna merah dan aku tidak dapat melihat senyumannya yang sangat lebar dan menjijikkan itu kembali. Dia benar benar emosional ternyata. Dan aku menyesali tentang apa yang kukatakan tadi.


“Ma - maaf ?”


Mataku terkunci dengan mata Uvukku yang menyala merah dengan sangat terang. Uvukku berhenti sejenak seperti mematung menatapku dengan tajam. Aku bisa merasakan amarahnya yang sudah sangat membara. Dia benar benar mengerikan, sampai sampai aku harus memejamkan mataku dan memalingkan kepala ku ke kanan.


Tiba tiba aku merasakan suasana yang menjadi lebih mencekam. Aku membuka mataku dan menatap ke arahnya. Mataku tertuju langsung ke arah wajah suram Uvukku. Aku sebenarnya tidak ingin melihat wajah mengerikan itu, namun kepalaku justru bergerak sendiri, seperti dipaksa oleh sesuatu. Saat itu juga mataku dibuat terkunci ke arah tatapannya. Rasa sakit yang tadi sempat menghilang untuk sesaat muncul kembali. Kulitku mulai terkelupas, namun ada yang aneh saat ini. Aku dapat merasakan bahwa kulitku yang terkelupas itu mulai tumbuh kembali dan itu sangat menyakitkan. Aku dibuat menangis kesakitan oleh siksaan itu, namun aku tahu bahwa ini masih belum selesai. Di tengah tengah tangisanku yang pecah akibat rasa sakit yang luar biasa, Uvukku mengangkat tombaknya kemudian, ia menusuk perutku dengan sangat kuat. Aku berteriak sekencang kencangnya. Apakah ini yang namanya 'mau mati pun tidak bisa' ? Perutku mulai menutup lukanya kembali dengan cepat saat si bajingan negro ini mengangkat tombaknya sekali lagi. Mataku dengan sangat jelas melihat tangannya yang mulai menggenggam tombaknya dengan lebih kuat lagi. Masih dengan siksaan yang sama akibat kulitku yang terus menerus terkelupas dari dagingku, aku terus menangis kesakitan sambil berdoa dalam hati. Aku dipaksa untuk terus melihat ke arah tombaknya itu.


“Ja - jangan, hentikan itu, bangsat.” ucapku dengan lirih. Tentu saja bajingan negro ini tidak akan mendengarkan permohonanku itu. Ia menghujam perutku kembali hingga membuatku berteriak dengan sangat keras. Kali ini akan ku buat 2 orang sialan yang ada di luar itu mendengarkan teriakanku, bangsat. Belum sempat aku mengambil nafas, tombak Uvukku itu sudah ditusukkan ke perutku. Kali ini aku berteriak sekencang kencangnya dengan seluruh sisa kekuatanku. Ini mungkin adalah teriakan pertolonganku yang terakhir. Setelah ini, aku tidak akan bisa melakukan hal seperti itu sekali lagi. Yang hanya dapat kulakukan sehabis ini hanyalah terus tersiksa oleh bajingan negro ini. Entah berapa lama aku akan terus bertahan hidup, namun sepertinya aku tidak akan mati dengan mudah.


Perutku yang telah berlubang akhirnya menutup kembali. Aku sudah bersiap untuk tusukan yang selanjutnya dari negro satu ini. Aku mengambil nafas dalam dalam dan membiarkan wajahku dibasahi oleh keringat dan juga darah segar yang mengucur dengan deras. Rasanya sudah tidak ada harapan lagi. Namun, harapan itu datang seketika saat pintu di ruangan ini tiba tiba terbuka akibat didobrak paksa. Seluruh bayangan hitam yang menyelimuti ruangan ini menghilang seketika bersamaan dengan Uvukku sialan itu. Tubuhku yang tadinya tegang dan kaku itu akhirnya bisa digerakkan kembali. Aku membiarkan kepalaku menoleh ke samping kanan dengan lemas, tidak ada tenaga sama sekali. Ranjang tempatku tertidur saat ini sudah dibasahi oleh noda darah yang cukup banyak. Hawa dingin seketika menusuk ke daging dagingku. Tentu saja, kurasa saat ini aku sudah kehilangan lebih dari setengah kulit luar manusia. Dia adalah anomali paling keji yang pernah aku temui di sini, begitulah menurutku.


“Hei, apa orang itu masih hidup ?”

__ADS_1


“Kelihatannya begitu.”


“Sulit dipercaya.”


Aku berusaha untuk mengangkat tubuhku setelah mendengar percakapan singkat itu yang berasal dari ambang ambang pintu. Suara mereka terdengar cukup asing bagi telingaku, mereka bukanlah Rook maupun Robin. Orang orang baru kah ? Bagus juga. Aku membaringkan tubuhku kembali dan menghembuskan nafas lega.


Telingaku kemudian menangkap suara langkah kaki yang terdengar begitu tegas. Aku menolehkan wajahku ke kanan, dan di sanalah aku menemukan seorang pria tua berumur sekitar 50 tahunan yang mukanya terlihat sangat menyebalkan, menurut pribadiku sendiri. Dia adalah orang yang sangat kaku dan sangat suka menyuruh nyuruh orang lain dengan bentakannya, sudah pasti itu. Dia terlihat sangat mirip dengan dosenku saat aku masih kuliah, jadi aku bisa dengan mudah menebaknya.


“Hei, kamu baik baik saja ?” tanya pria tua itu. Aku sempat mendecih kesal. Bukannya dia bisa melihatku dengan jelas menggunakan kedua matanya itu. Lupakan saja, mungkin dia sudah terkena katarak di matanya.


“Apa kamu tidak bisa melihat, pak tua ?” tanyaku sambil menahan rasa sakit yang masih tersisa. Orang tua itu kemudian mendekat dan menggunakan kedua tangannya untuk membantuku duduk tegak.


“Kamu terlihat begitu buruk. Apa kamu bisa berdiri ?”


Apa apaan dengan pertanyaannya yang bodoh itu. Aku menatap ke arahnya dengan wajah kesal. Sudah jelas matanya mengidap katarak, atau mungkin saja dia memang benar benar buta. Singkatnya, aku dibawa keluar dari ruangan terkutuk itu dan sekarang aku sedang duduk lemas sambil bersandar ke dinding. Aku menaruh kedua tanganku di atas lutut dan melihat kondisi kulit dari kedua tanganku saja sudah membuatku jijik pada diri sendiri. Sudah bukan kulit lagi yang kulihat, melainkan daging daging dan juga ototku yang berwarna merah tua. Dan juga darah, pastinya. Aku mengangkat kepalaku dan mendapati Robin dan Rook yang masih terkulai lemas di lantai, tidak bangun dan bergerak sama sekali. Sementara itu, orang orang yang mengelilingi mereka berdua adalah rekan satu tim mereka. Katanya, Robin dan Rook sedang koma dan akan masuk ke dalam keadaan katatonik setelah mereka sadar, terdengar sangat berbahaya bagiku.


Aku kembali menundukkan kepalaku untuk mengistirahatkannya. Baru saja aku menunduk, dan aku sudah mendengar orang menyebalkan yang lainnya datang menghampiriku. Seolah orang orang macam ini tidak pernah tahu seperti apa rasanya disiksa oleh hantu hingga hampir setengah jam.


“Haaah !?”


Aku mengangkat kepalaku dan mengeluarkan nada kesal, sambil menatapnya dengan tajam. Beraninya cewek rambut semiran merah ini memanggilku anomali.


“Apa maksudmu memanggilku anomali, bangsat ?” tanyaku dengan geram. Bahkan dia terlihat 5 tahun lebih muda dariku.


“Hmph, kamu memang tidak tahu, atau hanya menyangkalnya saja ? Bukankah kamu sudah mengalami regenerasi sebanyak 2 kali ?”


Jujur saja, aku dibuat tercengang oleh cewek centil nan menyebalkan ini. Muka songong nya benar benar membuat mulutku ingin menyemburkan ludah ke arahnya. Dia terlihat seperti seseorang yang nantinya akan menjadi villain di acara tertentu. Lihat saja, 15 episode ke depan dan aku akan menjambak rambut merah pendeknya itu.

__ADS_1


“Gimana bisa kamu tahu tentang itu ?” tanyaku masih menahan emosi.


“Apa matamu terlalu buta untuk melihat cctv di sekitar sini ?”


Dasar cewek bajingan. Baiklah, percakapan ini mulai menjadi lebih personal. Dengan seluruh tenagaku yang tersisa, dan juga dibantu oleh dinding tempatku bersandar, secara perlahan berdiri dan terus menatapnya dengan tajam. Aku kemudian mengepalkan tanganku yang sudah tinggal daging dan otot ini sekeras mungkin. Walaupun sakit, ini masih bisa ku tahan. Aku, orang yang sudah setengah dikuliti hidup hidup ini, sangat yakin kalau aku masih bisa baku hantam dengan orang bajingan seperti dia.


“Eh, kamu bisa berdiri ?” tanya orang itu sambil memasang wajah sarkas nya. Setidaknya, aku sudah menahan emosiku beberapa detik yang lalu. Aku menarik dan mencengkeram kaosnya yang ada dibalik armor besi berwarna hitam itu.


“Memangnya kenapa kalau aku bisa berdiri, bangsat ?”


Cewek ini hanya tersenyum lebar ke arahku dengan tatapan matanya yang menyindir. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya. Tidak mungkin orang ini menyerah begitu saja. Beruntung baginya saat aku ingat banyak orang lain yang merupakan teman satu timnya masih ada di sini. Aku melepaskan cengkeramanku sambil sedikit mendorongnya ke belakang. Cewek itu kemudian menatap ke mataku sebentar kemudian berjalan menyusuri lorong ini sambil melambaikan tangannya kepadaku.


“Selamat tinggal, anomali.”


Aku terus memperhatikannya yang terus berjalan menjauh ke depan entah mau kemana dia. Bukan lagi 15, akan kujadikan itu 10 episode ke depan dan aku akan menarik rambutnya hingga ia menjadi sama dengan seorang penderita kanker (botak). Mataku tertuju ke bagian belakang dari armor nya dimana sepasang sayap berwarna merah yang panjangnya hampir menyentuh lantai terpasang. Jujur saja, dia terlihat lebih anomali daripada aku sendiri.


“Kamu orangnya gampang emosian, huh ?”


Demi Tuhan, siapa lagi orang ini, bangsat. Aku menoleh ke belakang dan di sana ada cewek lain yang berdiri sambil mengangkat kepalanya ke arahku karena tubuhnya yang pendek. Yang satu ini jauh lebih muda lagi daripada aku dan dari mukanya terlihat bahwa ia agak polos. Orang ini sedikit mengingatkan ku dengan Luna. Setidaknya dia tidak se menyebalkan seperti cewek yang tadi itu. Aku menghela nafasku dan bersandar ke tembok kembali, kemudian melipat kedua tanganku ke dada.


“Kenalin, namaku Amy. Kalau yang tadi itu namanya Suzaku.”


Orang ini memperkenalkan dirinya dengan nama asli ? Aku dapat melihat dengan jelas nama samaran yang terpasang di rompi hitamnya itu bertuliskan 'Solaeter'.


“Aku Eva.” balasku dengan singkat. Amy tersenyum sebentar kepadaku sebelum kembali ke muka polosnya.


“Hei kakak, kata ibuku orang yang gampang marah itu cepat tua.”

__ADS_1


Sepertinya aku salah. Orang ini sama sama menyebalkannya dengan si Suzuki - apalah itu. Sialan, sekarang aku dikelilingi oleh 3 orang yang bisa membuatku depresi hingga tingkat akut kapan saja.


Aku menghela nafasku dan duduk di lantai kembali. Terserah mau apa mereka bertiga ini, yang penting aku masih mau tidur nyenyak sekali lagi. Dan semoga si Uvukku sialan itu tidak datang menghampiriku untuk kedua kalinya.


__ADS_2