
Dia tidak sempat merayakan ulang tahun ke 20 nya yang terlalu berharga untuk dilewatkan.......
Jadi kita akan merayakannya bersama-sama.........
...****************...
Ava terbangun di sebuah ruangan kosong dengan tembok berwarna kuning pucat. ia nampaknya sedang duduk di sebuah kursi kayu kecil, dan di hadapannya adalah sebuah meja dan juga sebuah piring di atasnya. Ia mengucek kedua matanya berkali-kali, sedang berusaha untuk memastikan apakah yang dilihatnya itu memang benar. Tidak ada yang berubah sama sekali, memang begitulah yang sedang dilihatnya saat ini.
“Hah ? Ini dimana ??”
Ava melihat ke sekelilingnya, dan ketika ia mendongak ke atas, terlihatlah sebuah keanehan. Di atas tembok di depannya, terdapat sebuah tulisan berwarna merah, kemudian berasal dari darah manusia.
It is your birthday...... Celebrate it •‿•.
Ava mengamati tulisan tersebut selama beberapa saat sambil mengernyitkan dahinya, menatapnya dengan tajam. Sekilas, mulut di emoji itu sempat terlihat seperti sedang membuka tutup mulutnya beberapa waktu yang lalu. Perasaannya pun sedikit aneh, seperti ia sedang tidak mempedulikan seseorang yang ingin berbicara dengannya.
“(Sigh) Well, f*ck it.” gumamnya sambil menghela nafas kesal.
Ava memutuskan untuk beranjak dari kursinya itu, dan saat ia berdiri dan mendongak ke atas tembok di depannya lagi, betapa mengejutkannya ketika ada yang berbeda dari tulisan darah tersebut. Bukan sedikit perubahan saja, melainkan seluruhnya telah berubah.
Don't you want to celebrate it ?? •__•.
Ava meneguk ludahnya sendiri, kemudian berjalan melewati meja di depannya dan memutuskan untuk tidak melihat apa-apa barusan. Namun baru beberapa langkah saja Ava berjalan, ia dihentikan seketika saat dirinya merasa seperti ada seseorang yang menahan pundaknya dari belakang. Hawa dingin menggelitik keseluruhan tubuhnya. Wajah makhluk yang tidak dapat diidentifikasi itu semakin dekat dengan kuping kanannya, dan kemudian makhluk itu mulai membuka mulutnya, berbisik kepada Ava.
Ayolah...... Kamu tidak mau merayakannya sekali saja ??
Begitu makhluk itu selesai berbicara, Ava langsung menoleh ke belakang seketika dengan cepat, hanya untuk menatap ke arah tembok berwarna kuning bercorak bunga berkelopak empat. Secara perlahan, Ava melihat ke arah meja itu lagi, dan kini bukan hanya ada piring kaca saja, melainkan juga sebuah kertas putih yang bertuliskan sesuatu.
“Apa-apaan ini ? Apa aku buta waktu itu ??”
Pelan-pelan, Ava mengambil kertas itu sambil mencoba mengingat kembali apa yang dilihatnya saat ia masih duduk di kursi waktu itu. Tidak ada yang namanya kertas seingatnya, dan memang begitulah seharusnya. Kertas itu, muncul dengan sendirinya. Hanya untuk membaca tulisan di kertas itu saja, Ava sampai harus menyipitkan matanya berkali-kali. Sangat buruk, seperti tulisan cakar ayam.
Sayang sekali, kamu tidak mau merayakan ulang tahunmu yang ke dua puluh itu ?? Padahal tuan putri sudah menyiapkan segalanya........ Ayolah, bisa saja kamu membuat teman-temannya tuan putri menjadi kecewa, tahu !!
Bermainlah......... Bermainlah bersama dengan kami !!
“Tuan putri ? Siapa itu ??”
Tidak tahu, dan tidak ada yang mengenalnya di dunia kalian. Tapi, dia sangat mengenali mu, Ava........
Mendengar namanya disebut oleh suara aneh yang misterius tersebut, Ava langsung menoleh, menoleh ke arah emoji di tembok atas. Kini senyuman kecilnya sudah kembali lagi, dan itu terlihat seperti baru saja berbicara dengan membuka mulutnya.
“Oi ! Emoji kayak kamu bisa ngomong !!?”
Emoji itu tersenyum semakin lebar, dan meninggalkan area tak berwarna di tengah-tengah mulutnya, seakan itu benar-benar bergerak dan tidak meninggalkan bercak darah di area tembok yang lainnya. Kedua mata emoji itu kemudian sedikit melonjong ke bawah, seperti sedang menatap balik ke arah Ava.
Akhirnya, kamu berbicara kepada ku !! Pergilah, pergilah dari sini sekarang juga. Si tuan tersenyum sudah menyiapkan kue ulang tahun gratis untuk kamu !!
Dan seketika itu juga, emoji tersenyum tersebut menghilang secara bersamaan dengan tulisan yang di akhirinya.
“Oi, bajingan !! Si tuan tersenyum itu dimana emangnya, bangsat !!?”
Tidak ada suara aneh lain lagi yang menjawabnya kembali. Ia kini benar-benar sendirian di dalam ruangan berwarna kuning ini. Berusaha untuk melawan rasa takutnya sendiri, Ava pun akhirnya menghela nafasnya dan memutuskan untuk keluar dari ruangan kuning yang aneh itu dan berpetualang untuk mencari kue ulang tahunnya sendiri. Benar-benar kedengaran aneh memang, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya lagi selain hal itu.
Ava keluar dari dalam ruangan itu, dan ia langsung dihadapkan kepada dua pilihan, yaitu berjalan ke arah kiri atau ke kanan. Ia menoleh ke kedua arah itu beberapa kali, sebelum akhirnya memutuskan untuk memilih ke jalan kanan, hanya berdasarkan pada instingnya sendiri saja.
Ia berjalan melewati lorong dengan keseluruhannya berwarna kuning. Telinganya terus menangkap suara sorak-sorai yang terdengar seperti bangga karena dirinya telah keluar dari ruangan kuning itu, namun ia berusaha untuk tidak mendengarkannya sama sekali. Bahkan dengan menutup kedua telinganya pun tidak membantunya sedikitpun. Suara sorak-sorai itu terdengar seperti di setel di dalam kepalanya secara langsung oleh seseorang ataupun sesuatu yang mengerikan.
Ia pada akhirnya tiba di sebuah ruangan yang ia masuki berdasarkan keinginannya sendiri, entah untuk apa. Ruangan itu tidak memiliki pintu, sama seperti ruangan yang lainnya. Ava sempat melihat ke sekelilingnya sejenak untuk memastikan apakah aman atau tidak, sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan itu. Hanya tembok berwarna kuning saja, sama seperti yang lainnya. Kecuali, ada satu perbedaan yang sangat jelas di dalam ruangan ini, yaitu sebuah kaca jendela kembar di yang ada di bagian tengah tembok di depannya, dengan kacanya berwarna putih terang seperti terkena pancaran dari sinar matahari secara terus-menerus, seolah matahari itu begitu dekat dengan kaca jendelanya. Ava langsung merasa penasaran, dan ia pun berjalan menghampiri jendela tersebut, yang di samping kirinya tertulis sebuah tulisan darah, Look at here -->.
“(Sigh) Baiklah.”
Ava memandangi kaca jendela itu selama beberapa saat. Semakin lama ia mengamatinya, semakin ia sadar bahwa warna putih yang menutupi seluruh kaca jendela itu bukanlah sebuah cahaya yang begitu menyilaukan, karena matanya sendiri masih baik-baik saja bahkan sampai saat ini. Tiba-tiba, sebuah tulisan yang lainnya muncul di bagian bawah kanan kaca jendela, agak miring ke atas.
Strange yet ?? :-[
Hanya selang beberapa detik setelah Ava melihat ke arah tulisan yang muncul secara tiba-tiba itu, seluruh warna putih di kaca jendela di depannya tersebut menghilang seketika, menampakkan wajah sebuah boneka kayu yang menempelkan dirinya tepat di balik kaca jendela, mengejutkan Ava seketika.
“Arrgh, sialan !! Siapa lu, anjink !!?” seru Ava sambil tersentak hingga jatuh ke atas lantai, sambil menunjuk ke arah boneka itu.
Boneka itu memiliki bola mata yang bulat, dan hampir keluar dari lubang matanya. Mulut kayunya hampir terlepas, hanya ditahan oleh dua tali tipis yang sepertinya bisa terlepas kapan saja. Boneka itu masih berada di tempatnya, begitu juga dengan Ava. Tiba-tiba, sebuah suara statis terdengar entah dari mana, dan kini seluruh ruangan di sekitarnya telah berubah total, entah sejak kapan itu terjadi. Ava, saat ini sedang berada di dalam satu ruangan bersama dengannya, sang boneka kayu.
Hei hei hei !! Akhirnya sang tuan putri sudah datang !!! Kamu harus merasa terhormat dong !!
Omong-omong, keadaan tuan putri saat ini sedang sangat buruk. Kamu lihat sendiri, bukan ?? Melihatnya saja sudah bisa membuat seluruh dunia ini menjadi banjir karena tangisan air mata setiap orang yang pilu melihat keadaannya !! Ava, harusnya kamu merasakan hal yang sama juga !? Ya kan, ya kan !??
__ADS_1
“Hah !? Tunggu dulu, kamu tahu namaku !?”
Ohhhh, sayang sekali. Wanita cantik sepertimu tidak tahu bahwa dirinya adalah pusat perhatian dari seluruh dunia ?? Ketahuilah, kita semua mengenalmu, sangat mengenalmu. Begitu juga dengan sang tuan putri di hadapan mu saat ini !! Dia adalah temanmu, orang terdekat yang paling kamu sayangi seumur hidupmu...... Oh, tidak, tunggu.......
Dia bisa dibilang adalah......... Ibumu, itu adalah kata yang paling tepat sepertinya.
“Ibu ku !? Jangan bercanda, bodoh !! Kamu kira aku ini Pinokio, hah !!?”
Suara itu tidak terdengar selama beberapa saat, seperti sedang kesal karena perkataannya barusan. Sebuah helaan nafas terdengar di seluruh ruangan baru yang gelap itu, hanya diterangi dengan satu lampu gantung di bagian tengah ruangan. Ava mulai bergidik ketakutan, karena matanya yang seolah tidak dapat ia gerakkan untuk tidak menatap wajah boneka kayu yang dikenal sebagai sang tuan putri itu. Hawa dingin mulai memenuhi seluruh ruangan, dan suara itupun akhirnya kembali terdengar lagi.
Kamu tidak ingin orang terdekat mu menderita, bukan ? Karena itu, kamu harus memperbaiki tuan putri kami terlebih dahulu, barulah setelah itu, tuan tersenyum akan memberimu hadiah kue ulang tahun, barulah kamu bisa merayakan ulang tahun ke dua puluh tahun mu yang terlewat itu !!
Ruangan yang gelap itu menjadi hening kembali. Hanya ada Ava dan sang tuan putri saja di dalamnya, tidak ada yang lain sama sekali. Ava mengamati tuan putri itu selama beberapa saat, dan tuan putri itu sepertinya tidak akan bergerak sedikitpun. Ava menghela nafas lega, kemudian memutuskan untuk berdiri dan kemudian keluar dari dalam ruangan yang gelap tersebut. Ia membuka pintu ruangan itu yang berada di paling kiri, hanya untuk dikejutkan oleh sebuah gambar stickman dari darah yang bergerak-gerak di tembok depannya, seperti sedang ingin menunjukkan kepadanya sesuatu. Ava sempat hampir berteriak ketakutan dan ingin menutup kembali pintu ruangan itu, namun ia langsung menutup mulutnya saat kepalanya menoleh ke arah sang tuan putri, yang kini juga menoleh ke arahnya. Sepertinya sudah tidak ada jalan lain, selain berjalan di lorong gelap itu bersama dengan tutorial dari stickman ajaib di tembok permukaan tembok tersebut.
Begitu Ava akhirnya memberanikan diri dan berjalan keluar dari ruangan itu, sang stickman mengeluarkan sebuah senyuman kecil kepadanya. Sebuah gambar pintu muncul di belakang stickman, dan stickman itu kemudian bergerak untuk menutup gambar pintu yang ada di belakangnya.
“Aku...... Harus nutup pintu ??”
Stickman itu menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan, menurunkan kepalanya beberapa kali sambil menghadap ke arah Ava. Setelah mengangguk, stickman tersebut membuka gambar pintu itu sekali lagi, kemudian berjalan beberapa langkah ke depan sambil membiarkan gambar pintu itu tetap terbuka. Dari dalam gambar pintu tersebut, muncul lah sesosok kepala stickman yang lainnya dengan wajah sangat mengerikan, mengamati stickman pertama selama beberapa saat, kemudian mengeluarkan pisaunya. Hanya dengan melihat animasi bergerak di tembok itu saja, sudah cukup untuk membuat Ava merinding ketakutan seketika, mengingat bahwa pintu di belakangnya saat ini masih dalam keadaan terbuka.
“Uhh, baiklah....... Aku bakal nutup semua pintu di sini !!”
Sebuah tulisan 'Good job !' secara tiba-tiba muncul begitu saja di antara stickman pertama dan stickman kedua, namun Ava tidak melihatnya sama sekali. Ia langsung berbalik dari tembok tersebut kemudian menutup pintu ruangan di belakangnya dengan sangat keras. Tiba-tiba saja, pintu itu terkunci dengan sendirinya, bulu kuduk Ava pun langsung berdiri tegak. Ava pun menoleh ke arah gambar stickman itu kembali, dan sang stickman sepertinya menjelaskan mengapa makhluk yang mengerikan itu tidak akan mengejarnya jika ia menutup pintu yang ia lewati. Gambar pintu tersebut tertutup bersamaan dengan stickman kedua yang perlahan masuk kembali ke dalam gambar pintu, kemudian pintu itu dicoret dengan tanda silang besar, dan stickman pertama pun akhirnya hidup dengan tenang. Sangat sederhana, bukan ? Itu artinya adalah, dengan menutup pintu yang dapat terkunci dengan sendirinya itu, maka sang monster mengerikan tidak akan dapat membukanya kembali, dan monster mengerikan itupun akhirnya terpaksa harus mencari jalan yang lain.
...MENGERTI ??????...
Ava kemudian melanjutkan perjalanannya ditemani oleh gambar stickman di tembok yang sangat bersahabat itu. Ava pada akhirnya sampai di ujung lorong dimana ia harus dihadapkan pada dua pilihan, pergi ke lorong kiri, atau kanan. Ava yang kebingungan membutuhkan pertolongan, mana jalan yang akan ia pilih untuk lalui, dan stickman yang baik itupun langsung membantunya dengan ringan tangan dan hati yang mulia. Sang stickman menciptakan dua tulisan 'Right' dan 'Left', dengan 'Left' ada di atas, sedangkan 'Right' ada di bawah. Sang stickman yang baik hati itu kemudian menunjuk ke arah 'Right', terlihat sangat meyakinkan di mata Ava bahwa sang stickman menolongnya dengan segenap hati.
“Iya deh, terserah kamu.” gumam Ava.
Ava pun berjalan ke arah lorong kiri. Tidak terlintas sama sekali di dalam pikirannya apakah stickman itu mencurigakan atau tidak. Di dalam lorong-lorong yang gelap itu, Ava hanya berjalan sendirian. Ketika ia menoleh ke arah kiri dan kanan, barulah ia tersadar bahwa stickman di permukaan tembok itu sudah tidak ada lagi bersama dengannya.
“Ke mana lagi tuh si stickmin ??”
Ava menjadi semakin kebingungan, dan ia memutuskan untuk menoleh ke belakang di saat itu juga. Di belakang sana, tepatnya di tembok sebelah kiri dekat persimpangan jalan, terdapat sebuah tulisan besar berwarna merah yang mengatakan 'GOODBYE' bersamaan dengan sebuah gambar pintu di bagian bawah huruf E nya. Mungkin saja itu adalah peringatan terakhir dari sang stickman. Ava tidak terlalu memperdulikan tentang tulisan itu, dan ia kemudian menghela nafasnya dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya kembali, sendirian.
“Tuan putri sialan, tuan putri sialan.” gumamnya sambil memegangi tangan kanannya, agak sedikit gemetar.
Setelah beberapa berjalan, Ava akhirnya tiba di depan sebuah ruangan gelap tanpa ada pintu sama sekali yang terlihat di bagian depannya. Ava mematung sejenak di tempatnya yang sama, mengamati bagian interior ruangan itu dalam diam.
Ava mengintip ke dalam ruangan yang mencurigakan tersebut. Sangat mengejutkan, ketika ia mendapati bahwa ruangan itu penuh dengan furnitur rumah mewah seperti biasanya. Sebagai putri dari dua orang yang kaya dan sangat berada, Ava dapat dengan mudah mengatakan bahwa furnitur-furnitur itu sangatlah mewah dan memiliki harga yang mahal. Sifat materialistik nya pun akhirnya mulai keluar, membuatnya secara perlahan memasuki ruangan itu sambil mengamati setiap sudut ruangan seraya menilai-nilai kualitas barang-barangnya.
“Jam dinding itu........ Dari emas ? Waw.”
Ekspresi wajahnya hanya biasa saja, bahkan saat dirinya sendiri melihat banyak barang yang terbuat dari emas 24 karat, benar-benar asli. Sampai pada akhirnya, Ava telah tiba di ujung ruangan, menatap ke arah meja kayu rongsok yang sudah tidak layak lagi untuk dipakai. Tampaknya sangatlah menjijikkan di mata Ava, jauh berbeda dengan barang-barang yang lainnya. Banyak kayu dari meja itu telah terkelupas dan seolah berubah menjadi duri-duri tajam yang bisa saja sangat menyakitkan jika tertusuk olehnya. Ava masih mengamati meja tersebut dengan jijik, sebelum akhirnya, matanya sekilas melihat cairan merah yang membentuk sebuah lengkungan di tembok depannya.
“Huh ??”
Ava merinding ketakutan, dan secara perlahan ia mulai mengangkat kepalanya ke atas. Seperti yang ia telah duga-duga, emoji tersenyum itu kembali lagi, hanya saja yang kali ini jauh lebih besar. Mulut emoji tersebut secara perlahan mulai membuka, dan kemudian menurunkan kedua alisnya seperti sedang merasa marah.
KENAPA. KAMU. TIDAK. MENUTUP. PINTUNYA !!?
“Emoji sialan ini bercanda !? Ga ada yang namanya pintu di sini, bajingan !!”
Emoji raksasa tersebut kemudian mulai memudar, membuat wajahnya terlihat menjadi lebih mengerikan daripada yang sebelumnya. Di saat Ava melihat itulah, ia akhirnya baru sadar bahwa emoji yang memudar itu tampak seperti sama dengan stickman kedua yang muncul dari balik gambar pintu di awal pertemuannya dengan sang stickman. Matanya melebar, saat akhirnya ia mengetahui bahwa malapetaka akan segera datang menghampirinya. Ava kemudian mulai menoleh ke arah belakang, dan di ambang-ambang pintu sana, terdapat seorang pria bertubuh jangkung yang tidak terlihat sama sekali mukanya, sedang berdiri menghadap ke arahnya.
“S-siapa ??”
Pria yang menggunakan jaket Hoodie tersebut kemudian meraih sesuatu dari kantongnya, dan itu ternyata adalah sebuah pisau kecil yang tajam !! Akan sangat menyenangkan untuk bisa bermain bersama dengan sebuah pisau kecil yang sangat tajam ujungnya, bukan ??
Oh hei, lihatlah !! Sang tuan tersenyum telah datang !!! Sayang sekali, Ava, kamu tidak punya waktu lagi untuk mendapatkan kue ulang tahunmu itu secara gratis setelah ini. Kamu melanggar peraturan kami, jadi hukuman lah yang datang menghampirimu !!
Bersenang-senanglah bersama dengan tuan tersenyum, ****** !!!
AHAHAHAHAHAHA !!
“Bajingan !! Bagian mana yang aku langgar, sialan !!? Gimana caranya aku nutup pintu kalo emang ga ada pintunya, bangsat- !!”
Sayangnya, protesnya harus segera berakhir di saat itu juga. Hanya dalam kedipan mata saja, sang tuan tersenyum sudah berada di dekatnya, dan menusukkan 'mainan' nya itu hingga menembus perut Ava, membuatnya secara perlahan kehilangan kesadaran, dan pada akhirnya jatuh pingsan.
...****************...
Aku mau ulang tahun ku yang kedua puluh itu dirayakan sekali saja selama hidupku ini.
Hanya saja, umur 20 tahunan ku pun bahkan tidak berlangsung lama........
__ADS_1
“Sialan, aku masih hidup !!” seru Ava yang secara tiba-tiba terbangun dari pingsannya.
Ava mengeluarkan nafas terengah-engah setelah ia bangun dari pingsannya, seperti baru saja mengalami sebuah mimpi buruk. Entah kenapa, tapi ia merasa bahwa dirinya pernah meninggal hanya beberapa bulan setelah mencapai umur 20 tahun, atau mungkin, sudah berkali-kali. Ava sedang duduk di atas kursi kayu kecil saat ini, menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menolak mimpi buruknya yang barusan. Tidak mungkin dirinya saat ini hanya sekedar mayat hidup saja, bukan ?
“Emang bener, tuh....... Aku, gak pernah mati......”
Baru saja ia mengatakan kepada dirinya sendiri tentang penolakan itu, Ava akhirnya tersadar kembali bahwa barusan saja, ia ditikam di bagian perutnya oleh seseorang dengan topeng tersenyum dan juga jaket Hoodie berwarna hitam. Itulah yang membuatnya terbangun dari pingsannya saat ini, atau mungkin saja, justru adalah kematiannya yang entah sudah ke berapa.
“Heh, bajingan..... Aku ini manusia asli, bukan ??”
Semakin lama, Ava mulai semakin kehilangan kewarasannya. Ia terkekeh kepada dirinya sendiri, sambil mengamati kedua tangannya yang telah diukir gambar emoji tersenyum di masing-masing arteri miliknya. Tidak ada darah yang mengalir keluar dari dalamnya, hanya putih pucat saja. Apakah dia ini sebenarnya hidup, atau sudah mati ?? Mungkin saja, hanya Tuhan yang tahu.
Di depannya, terdapat sebuah kue ulang tahun tanpa lilin yang tertancap di atasnya. Ava beranjak dari kursinya, kemudian memutuskan untuk keliling ruangan yang tidak dikenalnya itu, mencari keberadaan sang lilin ulang tahunnya yang berharga. Berbagai barang-barang rongsokan ia lemparkan begitu saja ke berbagai arah, tanpa memedulikan kue ulang tahunnya itu yang semakin lama semakin hancur karena tertimpa berbagai barang-barang besar. Pada akhirnya, lilin itu berhasil ia temukan, sepasang lilin berangka 2 dan 0. Namun tidak ada tempat untuk menancapkan kedua lilin tersebut, memang sungguh malang nasib mereka berdua ini.
“Tunggu, sebenarnya aku ini kenapa ??”
Kesadarannya yang lama akhirnya pulih kembali, setelah ia mengamati kedua lilin tersebut selama beberapa saat. Melihat ke sekelilingnya yang sangatlah berantakan, membuat Ava menjadi tidak yakin bahwa itu semua adalah ulahnya sendiri barusan.
“Aku yang mesti rapian selama ini....... Melakukan ini semua ??”
Ava mulai merasa bahwa dirinya sudah bukan dirinya yang asli lagi. Ia menjatuhkan kedua lilin tersebut ke atas lantai, hilang dalam lamunannya akan siapa dia ini sebenarnya. Ava kemudian menoleh ke arah selatan, tempat dimana satu-satunya sebuah pintu berwarna-warni berada. Seolah pintu itu memiliki gravitasi nya sendiri, Ava bagaikan ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat untuk menghampiri pintu yang penuh dengan warna tersebut. Ava akhirnya sampai di depan pintu tersebut, membukanya, dan kemudian langsung disambut oleh penampakan sang tuan putri yang seluruh tubuhnya sudah sangat berantakan. Tidak ada alasan yang jelas, namun yang pasti, ketakutan Ava sudah benar-benar menghilang saat ini. Ia dengan tenangnya berjalan masuk ke dalam ruangan sang tuan putri tersebut berada, kemudian menatap ke arah wajahnya yang agak miring ke kiri.
“Apa kamu benar-benar ibuku yang sudah mati itu ? Rachette Lunae ??”
Tuan putri tidak menjawab. Ia hanya pasrah kepada keadaan tubuhnya yang sudah tidak tertolong lagi, hanya berdasarkan pada untaian tali tipis yang tidak lama lagi akan segera terputus. Ava menghela nafasnya, kemudian mulai memperbaiki seluruh kerusakan pada tubuh tuan putri itu sebisanya dan semampunya. Setelah semuanya telah selesai, tidak lupa ia juga mengenakan sebuah dress bangsawan yang ia temukan di sekitar ruangan itu, tidak jauh dari tempatnya berdiri barusan. Ava akhirnya selesai dengan perbaikan tuan putri nya itu, menghela nafas panjang karena lega. Ia kemudian mengelilingi sambil mengamati setiap sisi boneka kayu yang bernama tuan putri tersebut. Mau dilihat berapa kali pun, tetap saja hasilnya adalah sama. Tuan putri itu bukanlah apa-apa kecuali sebuah boneka dengan wajah mengerikan yang mencoba untuk setara dengan manusia wanita yang jauh lebih sempurna daripada dirinya. A
“Sampai-sampai ngaku sebagai ibuku........ Kurang kerjaan, kah ?? Hilanglah dari sini kalo kamu beneran Rachette ibuku, sialan.” ucap Ava dengan nada yang agak sedikit kasar.
Ava duduk di atas lantai tepat di hadapan tuan putri tersebut, menatapnya dengan tajam selama beberapa saat. Semakin lama, wajahnya semakin mendekat dengan sang tuan putri, sebelum akhirnya ia dikejutkan oleh sesuatu. Seluruh tubuh tuan putri itu bergetar hebat dengan sendirinya tanpa ada yang menggerakkannya sekalipun, dan beberapa saat kemudian, ia menghilang begitu saja tanpa ada yang mengetahui bagaimana bisa boneka itu melakukannya. Mungkin saja, boneka itu hanya melakukan seperti yang diperintahkan oleh putri satu-satunya.
“Mama ??”
Sebuah kertas yang entah dari mana asalnya terlihat di atas kursi kayu kecil yang di duduki oleh sang tuan putri itu sebelumnya. Mata Ava mulai menggenang, dan ia secara perlahan meraih kertas yang bisa saja itu berasal dari ibunya sendiri. Kertas tersebut tidak butuh waktu lama untuk sampai di genggaman kedua tangan Ava yang mulai terisak-isak, kemudian membaca seluruh tulisan yang tertera di sana.
Untuk Ava, putriku tersayang.
Ini adalah aku, ibumu, yang bernama Rachette Lunae. Kamu mungkin sudah tahu banyak tentangku, tapi sekali lagi........ Ibu mau menceritakannya sekali lagi padamu.
Waktu itu, umurmu masih 7 bulan. Masih seorang bayi yang hanya bisa menangis kencang saat kelaparan atau terkena penyakit saja. Ibu sangat ingat wajah chibi mu waktu masih bayi dulu, benar-benar sangat imut dan lucu. Aku sangat senang bisa melahirkan mu ke dunia ini waktu itu. Aku....... Sangat bersyukur. Setiap kali kamu ulang tahun, aku dan ayahmu akan selalu merayakannya dengan sangat mewah. Kamu mungkin sudah tidak mengingatnya lagi sekarang, tapi waktu kamu berumur 4 tahun, kita sekeluarga pernah pergi ke 3 negara yang berbeda sekaligus hanya untuk merayakan ulang tahunmu yang ke empat saja. Sebegitu sayang nya lah aku kepadamu, Ava.
Aku bisa memberikan segalanya yang bisa dibeli dengan uang kepadamu waktu itu, hanya saja, ada satu hal yang selalu membuatku merasa bersalah selama ini. Aku, tidak bisa memberimu tubuh yang sehat, yang bebas dari penyakit mematikan bawaan dariku. Kamu ingat ? Saat aku pernah mengatakan bahwa dunia itu selalu kejam dan tidak adil. Itu semua adalah rasa penyesalanku selama ini. Saat kamu berusia lima tahun, kamu di diagnosa terkena penyakit Leukemia. Aku menangis sejadi-jadinya waktu itu, sementara kamu hanya tersenyum kecil saja sambil menyerahkan takdirmu kepada yang berkuasa di atas sana. Aku bisa membeli semua obat yang ada di dunia ini, atau memberimu perawatan medis terbaik yang bisa dilakukan oleh dokter paling terkemuka di seluruh dunia. Tapi tentang keselamatan, itu hanyalah sebuah mainan bagi yang ada di atas sana. Pada akhirnya, Ava, aku harus kehilanganmu yang masih berumur 7. Sudah dua tahun kamu berjuang untuk melawan penyakit yang ganas itu, dan setiap detiknya, tidak pernah aku habiskan tanpa tangisan air mata. Ayahmu menggantung dirinya sendiri tepat setelah mengetahui kematian mu, dan semenjak itulah, aku akhirnya tinggal sendirian di dalam rumah mewah yang penuh dengan kenangan kita bersama itu. Aku bagaikan seorang tuan putri yang terkurung di dalam kamarnya, di dalam sebuah benteng yang terasa seperti tidak berujung luasnya jika diukur.
Sampai pada akhirnya, aku menemukan secercah harapan di dunia yang kejam ini. Seorang gadis kecil bertopeng kayu, yang katanya mampu membangkitkan seseorang dengan mengembalikannya ke masa lalu. Dan yang dikatakannya itu memang benar. Setelah sekian lama aku tinggal di dalam kegelapan sendirian, aku akhirnya bisa bersama dengan anakku lagi, Ava Lunae yang terlahir kembali menjadi baru. Maafkan aku, Ava, karena sudah membuatmu menjadi tidak nyata di dunia yang nyata ini. Selama ini, aku selalu mengendalikan mu untuk berperan sebagai Ava ku yang lama, bagaikan seorang dalang mengendalikan bonekanya.
Dan sekarang, aku lah si boneka itu. Benar-benar sebuah hukuman yang layak untukku, bukan ??
Tidak peduli seberapa hancur tubuhku hanya untuk menulis ini, aku tetap akan melanjutkannya.
Maafkan aku, Ava......... Karena sudah membawamu kepada mimpi buruk yang akan berlangsung selamanya ini.
Untuk
Ava.
Ava meneteskan air matanya secara tanpa sadar, dan kemudian langsung menyapunya begitu saja. Ia terisak-isak, saat mengetahui bahwa yang selama ini ia kata-katai secara kasar setiap kali bertemu dengannya adalah ibunya sendiri.
“Jadi begitu........ Aku memang sudah mati berkali-kali, huh ??”
“Dan ini bukan yang pertama kalinya kamu mati di tempat ini, gadis yang menangis. Apa aku harus memberitahumu kalau temanmu sendiri sudah pernah memotong tanganmu ??”
Ava menoleh ke belakang, dan ia mendapati sosok yang sama yang menusuk perutnya di ruangan yang gelap itu sebelumnya. Sang tuan tersenyum, ada tepat di belakangnya saat ini, berdiri diam sambil memutar-mutar pisaunya seperti sebuah mainan yang menyenangkan. Ava sudah tidak ketakutan seperti yang biasanya. Mungkin saja, itu karena ia sebenarnya sudah terlalu banyak menghadapi mimpi-mimpi buruk yang seperti ini sebelumnya, hanya saja ia benar-benar telah melupakannya.
“Oi, smiley sialan........ Apa kamu tahu sampai kapan aku akan mengalami mimpi buruk ini terus-menerus ??”
Sang tuan tersenyum hanya memiringkan kepalanya, kemudian sedikit berjalan ke samping kanan untuk menunjukkan ke Ava bahwa ruangan yang sebelumnya sudah bersih kembali, lengkap dengan kue ulang tahun yang baru, dan juga lilinnya yang menunjukkan angka 20. Tuan tersenyum kemudian menunjuk ke arah kue ulang tahun tersebut, sambil menyimpan kembali 'mainan' nya.
“Lebih baik, kita rayakan ulang tahunmu yang tidak pernah terjadi itu bersama-sama sekarang. Itu, jauh lebih menyenangkan daripada menangis pada sang tuan putri, bukan ??”
“Heh, terserahlah. Siapapun juga kalian ini sebenarnya, aku pun sudah gak terlalu peduli lagi. Aku bisa memanggilmu dengan sebutan Smiley, bukan ??”
“Sesuai keinginanmu, tuan putri yang baru.” ucap Smiley sambil membungkuk memberi hormat kepada Ava, mempersilahkannya kembali masuk ke dalam ruangan yang pertama.
Pada akhirnya, ia merayakan ulang tahunnya yang terlewat itu bersama-sama.
Sungguh sebuah pesta ulang tahun yang sangat menyenangkan, bukan ??
__ADS_1