
Aku terbangun dari tidurku. Benar benar sebuah mimpi yang tidak kuinginkan. Yah, setidaknya orang itu tidak menyerang ku kembali. Aku menoleh ke kanan, dan di situlah berdiri seseorang yang aku kenal.
“Rook, ini dimana ?” tanyaku. Rook kemudian menghela nafas dan berjalan mendekatiku.
“Kamu benar benar punya kemampuan regenerasi, huh?”
Baru saja bangun dan pertanyaan itu sudah dilontarkan kembali kepadaku. Dasar menyebalkan. Aku mendecih kesal dan menatap tajam matanya seketika.
“Gak suka ?”
Rook memalingkan pandangan dariku secara langsung sambil berjalan ke bagian depan tempatku berbaring saat ini. Ia kemudian melipat kedua tangannya di dada dan menoleh ke arahku kembali.
“Memangnya aku terlihat seperti sedang peduli tentang itu ?”
“Yeah, aku bisa lihat dengan jelas dari muka sialan mu.”
Rook kemudian menghela nafasnya sebentar dan menurunkan tangannya kembali.
“Lupakan itu.” ucap Rook. Dan begitulah, permasalahan ini selesai begitu saja. Suasana menjadi hening sejenak, dan aku masih berbaring di tempatku saat ini. Memang aku sudah tidak merasakan rasa sakit seperti beberapa jam yang lalu, hanya saja aku lagi malas saat ini. Aku mengangkat tanganku ke arah Rook.
“Hei, bantu aku berdiri.”
“Badanmu masih sakit, huh ?”
“Nggak tuh. Lagi males aja.”
Rook tersenyum kecil mendengar jawabanku. Ia kemudian meraih tanganku dan membantuku duduk dari posisi terbaring ku. Rook kemudian berjalan menjauh, sementara aku masih duduk dalam diam sambil mengumpulkan nyawa. Kemudian aku sadar akan seseorang yang saat ini sedang tidak ada di sampingnya.
“Robin ada dimana ?” tanyaku. Rook menghentikan langkahnya seketika dan membalikkan tubuhnya ke arahku.
“Dia ada di sana, sedang asyik berbincang dengan agen spesial yang lainnya.” jawab Rook sambil menunjuk ke arah sebuah pintu yang ada di belakangnya. Sudah pasti dia akan bergabung dengan mereka sehabis ini.
“Uhuh, apa aku boleh ikut nimbrung ?” tanyaku dengan nada malas. Rook memiringkan kepalanya sebentar sambil berpikir sejenak.
“Uh, terserah ?”
Sudah jelas dia tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Aku beranjak dari tempat tidur kemudian berjalan mendahului Rook yang masih berdiam diri saat.
“Rook, kamu gak ikut masuk sini ?” tanyaku kepada Rook saat aku menyadari dirinya masih terus diam di tempatnya setelah beberapa langkah. Rook menghela nafasnya dengan kasar, kemudian berjalan mengikuti ku dari belakang. Aku pun membuka pintu, dan di sana, beberapa agen sedang berkumpul sambil berunding membentuk lingkaran, termasuk Robin. Semua mata mereka hanya tertuju pada satu orang, yaitu aku sendiri. Mereka semua berbisik bisik dengan satu sama lain tentang kondisiku yang sudah hampir sembuh total hanya dalam beberapa jam, sekaligus tentang statusku sebagai seorang tahanan yang menggunakan baju pelindung agen spesial. Tentu saja mereka mempertanyakan itu. Hanya ada dua orang yang tetap diam, mereka adalah Robin dan pria tua sialan itu.
“Hei, apa kehadiranku tidak diterima disini ?”
Seketika pertanyaanku itu membuat semua orang yang ada di ruangan ini terdiam. Melihat semua tatapan tajam mereka benar benar membuatku muak, untung saja tidak ada si rambut merah sialan itu di sini.
“Baiklah, aku akan pergi dari sini.” ucapku sambil berbalik keluar dari ruangan ini. Aku sempat dihalangi oleh Rook yang terlihat seperti sedang meminta maaf dalam hati. Tapi itu tidak akan menghentikan ku untuk keluar dari ruangan bejat ini. Aku memang sudah tahu kalau orang orang ini tidak pernah menginginkan seorang tahanan sepertiku di antara mereka.
“Kita bisa membicarakan ini, bukan ?”
“Mereka tidak terima dengan kehadiranku, Rook. Kamu tahu itu.” jawabku sambil menyingkirkan badannya yang kekar dari hadapanku dengan berbisik.
“Tunggu !”
Aku menghentikan langkahku seketika saat mendengar itu, kemudian mencondongkan kepalaku dari balik pintu.
“Lupakan saja yang tadi itu. Bocah bocah ini memang tidak pernah tahu yang namanya sopan santun.”
Dia adalah si pria tua itu. Ternyata orang ini tidak sebegitu menyebalkan daripada yang aku kira. Aku memasang senyuman sarkas ke agen agen yang lainnya. Rasakan itu, bangsat. Aku kemudian segera mengambil duduk di sebelah kanan Robin disusul oleh Rook yang membuatku berada di antara dua pria. Suasana menjadi hening. Aku tidak tahu, sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan sampai sampai melakukan 'konferensi meja bundar' seperti ini. Sepertinya terlihat sangat krusial. Aku muak dengan ketegangan di antara manusia seperti saat ini, jadi aku mulai mengajak Robin untuk berbicara dengan bisik bisik.
“Hei, cewek nyebelin itu ada dimana ?”
“Hah ? Maksudmu siapa ?”
“Jangan bilang kamu lupa sama anggota tim mu sendiri. Si Suzuki atau apalah itu namanya.” jawabku sambil melotot tajam ke arah Robin. Ia sempat dibuat kebingungan sementara, sebelum akhirnya Robin dan Rook cekikikan secara bersamaan. Ucapanku itu berhasil membuat mereka berdua hampir tertawa keras. Aku menjauhkan mukaku dari Robin dan terus berdiam sambil menunggu mereka berdua menyelesaikan cekikikan mereka di hadapan pemimpinnya sendiri. Sudah kuduga, aku salah sebut nama orang lagi.
“Memang sudah tidak ada lagi yang peduli dengan mereka berdua.”
__ADS_1
“Hah ? Mereka !?”
“Begitulah. Masih ada satu orang lagi yang bisa membuatmu kolesterol tingkat tinggi” jawab Robin. Mendengar itu, aku langsung mengeluarkan nada kesal dengan sangat jelas sambil menundukkan kepalaku hingga menempel ke lutut. Sialan, kenapa orang orang menyebalkan seperti mereka harus terlahir ke dunia ini ??
“Aku benar benar sudah muak dengan tempat ini, sialan.”
“Sama, aku juga.” jawab Robin. Aku kemudian menoleh ke arahnya dan memperhatikannya sebentar. Dia memang sepertinya orang yang cocok untuk jadi pacarku. Masih berada dalam fantasiku, tiba tiba pria tua itu berdehem yang langsung membuat semua orang termasuk Robin dan Rook kembali dari lamunan mereka.
“Robin, lanjutkan yang kita bicarakan tadi.”
“Yes, sir.”
Robin berdiri seketika, kemudian berjalan ke tengah tengah ruangan dan mengeluarkan sebuah kertas persegi dengan ukuran yang lumayan besar. Sudah pasti itu denah dari tempat ini atau yang semacamnya. Akhirnya, bagian yang serius pun dimulai. Aku sedikit mengangkat kepalaku untuk memperhatikan Robin yang sedang berdiri di tengah ruangan. Ia menghela nafasnya, kemudian mulai untuk menjelaskan tentang rute evakuasi yang ada di tempat ini.
“Baiklah, aku yakin semuanya sudah tahu tentang keempat jalur evakuasi dari situs ini. Benar, kan ?” tanya Robin. Aku yakin dia sedang melupakan seseorang di ruangan ini. Aku mengangkat tangan kananku dan mulai berbicara dengan suara yang malas.
“Oiii, apa kamu lupa dengan aku ? Aku benar benar tidak tahu tempat sialan macam apa ini. Bahkan aku juga tidak tahu kenapa tempat ini dibuat sejak dulu.”
Robin seketika menghela nafasnya karena kesal sambil menyangga kepalanya dengan tangan.
“Kita bisa bahas itu nanti, Eva.” jawab Robin. Aku hanya mengacungkan jempol ku sebagai jawaban, kemudian kembali memeluk kedua kakiku yang terangkat dan menaruh dagu ku di antara lutut. Perhatianku tiba tiba teralihkan saat seseorang mendecih kesal dan menatapku dengan tajam. Apa masalahnya denganku ? Mata kami saling bertemu satu sama lain. Lagi lagi aku berkonflik dengan sesama jenis. Sepertinya hal ini akan menjadi satu dengan hidupku.
“BISAKAH KALIAN BERHENTI SEJENAK DAN BIARKAN AKU MENJELASKAN TENTANG MISI SIALAN INI !?”
Ah, akhirnya dia termakan emosi juga. Baru kali ini aku melihat Robin marah seperti tadi.
“Lanjutkan.” kata cewek itu. Aku mengalihkan pandanganku darinya, begitupun dengan orang itu. Robin akhirnya melanjutkan penjelasannya.
“Baiklah, yang pertama ada rute A, yang ada dibawah lantai kafetaria. Jalurnya sangat aman dari serangan anomali, namun juga terlalu jauh dari sini.”
“Dan jangan lupakan jika kita melakukan perjalanan dari sini, kita harus melewati anomali anomali yang berbahaya. Seperti Null misalnya.” lanjut pria tua itu.
“Yang dibilang komandan memang benar. Selanjutnya ada rute B. Dekat dengan side wing Safe/Euclid. Hampir sama dengan rute A, setidaknya ada lebih sedikit anomali Keter yang ada di sana.”
“Yah, begitulah, sialan. Selanjutnya ada rute C. Ini adalah rute paling jauh yang ada di situs ini. Dan lebih buruknya lagi, ini adalah jalur evakuasi udara, yang artinya kita harus memanggil helikopter terlebih dulu jika kita ingin keluar lewat sana. Masalahnya, situs ini sedang dalam keadaan total outbreak dan juga lockdown, tidak mungkin kita bisa melakukan panggilan di saat saat seperti ini.”
“Satu lagi, SCR 201.” sambung sang komandan.
“Yeah, persetan dengan anomali itu. Selanjutnya dan rute yang terakhir, rute D.”
Saat Robin mengatakan rute D, di situlah orang orang mulai berbisik bisik satu sama lain. Mereka terlihat sedikit agak panik. Aku menjadi semakin penasaran, ada apa sebenarnya dengan rute D.
“Robin.”
“Biarkan alu menjelaskan tentang rute sialan yang satu ini terlebih dulu, komandan.” sanggah Robin. Sang komandan pun membungkam mulutnya seketika. Situasi benar benar menjadi sangat serius. Sepertinya aku tidak bisa melakukan hal apapun selain ikut berpikir keras tentang situasi semua orang saat ini.
“Rute D, terletak di area terlarang bagian barat dari situs ini. Itu adalah rute yang paling berbahaya di situs ini. Semua orang sudah pasti tahu tentang itu. Dan sudah lebih dari 50 tahun area tersebut berada dalam keadaan lockdown.”
“Kalau kamu sudah tahu tentang itu, kenapa masih saja menyarankan rute ini ?” tanya cewek menyebalkan yang baru saja menatap mataku tadi.
“Dengarkan aku semuanya.”
Robin mengambil nafas sejenak, seolah dia masih tidak yakin dengan kalimat kalimat yang akan dia lontarkan selanjutnya. Setelah jeda beberapa saat, Robin akhirnya melanjutkan penjelasannya kembali.
“Menurutku, rute D ini adalah satu satunya rute yang kondisinya tidak pernah berubah selama beberapa tahun terakhir. Area tersebut sudah jelas berada dalam keadaan lockdown selama lebih dari 50 tahun. Kita sudah tahu pasti tentang keadaannya saat ini, dan kita juga tidak memastikannya kembali. Bukankah begitu ?”
“Yang dia katakan benar juga. Bisa dibilang kita sudah melupakan tentang area terlarang tersebut selama 5 tahun berada di sini, tetap saja tidak ada yang berubah di area tersebut.”
“Selama 5 tahun juga, tidak pernah sekalipun ada konflik yang muncul dari tempat itu, bukan ? Sepertinya area tersebut benar benar menjadi stabil setelah mendapatkan stempel lockdown permanennya.” sambung seorang pria berambut merah acak acakan. Aku punya firasat kalau orang ini akan sama menjengkelkan nya dengan cewek rambut merah itu. Tiba tiba mereka semua diam dan merenung. Apa yang sedang mereka pikirkan sepertinya semakin membuat mereka frustrasi sendiri. Komandan itu tiba tiba berdiri dari posisi duduknya sambil mengeluarkan nafasnya dengan kasar.
“Sepertinya pikiran sempit kalian harus sedikit diluruskan olehku.” ucap sang komandan sambil berjalan mendekati Robin.
“Mau berapa banyak nyawa yang harus kita korbankan hanya untuk mencapai area itu ?”
Nada serius dari komandan itu berhasil membuatku merinding. Apa itu berarti perjalanannya saja menuju ke area itu sudah sangat mematikan ?
__ADS_1
“Apa kalian tidak ingat tentang kedua prioritas utama kita, sang administrator dan juga tim ETA FORCE ? Apa kalian juga tidak sadar betapa buruknya perlengkapan kita saat ini ?”
Rentetan pertanyaan sang komandan itu berhasil membuat semua agen yang lainnya terbungkam, termasuk Robin yang saat ini keadaannya semakin terpuruk karena dilanda oleh stres yang semakin berat.
“Kalau begitu komandan, kita sudah tidak punya cara lain untuk keluar dari situs ini. Kita benar benar sudah terjebak di dalamnya.” kata Robin. Suasana menjadi hening, namun tetap tidak meninggalkan ketegangan dan keseriusan yang dibuatnya.
“Bukankah rute C masih punya 2 percabangan yang lain ? Aku yakin itu disebut sebagai rute E dan F.”
“Sepertinya kamu benar benar punya masalah dengan hippocampus mu, Crook. Apa kamu tidak ingat kalau sejak 5 hari yang lalu, situs ini sudah membuang lebih dari 5 ton limbah beracun lewat dua rute itu berkat SCR 1334 ?”
“Apa masalahmu, Amygdala !? Aku hanya melontarkan ideku, bangsat !”
“Masalahnya ide mu itu benar benar tidak masuk akal, bodoh ! Apa kamu ingin menyuruh sang administrator terjun ke bawah dengan selokan yang ada di rute itu !?”
Agen yang bernama Crook itu langsung terdiam dan kembali duduk di tempatnya. Aku semakin dibuat bingung dengan sosok administrator ini. Sebenarnya siapa administrator ini ?
“Sepenting itukah administrator bagi kalian ?”
“Sangat penting, Eva. Dia adalah orang yang bertugas untuk mengatur situs ini.”
“Dan dimana orang itu sekarang ? Kabur dari pekerjaannya ?” tanyaku dengan nada menyindir. Robin seketika melihatku dengan miris. Baru saja aku ingin bertanya 'ada apa ?', tiba tiba aku merasakan ada orang yang sedang berdiri di belakangku.
“Aku disini.”
“AAAAAH !!”
Walaupun suara tersebut terdengar begitu lembut dan juga halus, tetap saja aku dibuat kaget setengah mati oleh kehadiran orang di belakangku ini. Teriakanku yang begitu keras berhasil membuat para agen agen spesial ini kembali menaruh perhatiannya kepadaku. Oh tidak, tatapan sinis itu lagi.
“Demi Tuhan, Eva ! Apa kamu tidak bisa berhenti untuk tidak mengacaukan suasana satu menit saja !?” keluh Rook kepadaku. Aku menoleh ke arah Rook dan wanita dengan kaos hitam dan jas putih ala dokter itu sambil menahan malu. Ini sudah terjadi berkali kali bahkan sebelum aku masuk sebagai tahanan. Kuakui, aku memang orangnya sangat bodoh dan sama menyebalkannya dengan orang orang lain yang ku temui di sini.
“Ma - maaf.”
Wanita itu hanya tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Akhirnya aku tahu alasan kenapa Robin dan agen yang lainnya benar benar berpikir keras untuk menjaga keselamatan administrator ini. Perut buncitnya mengungkapkan fakta yang sebenarnya kepadaku.
“Dia.... Hamil ?”
“Itulah masalahnya.” jawab Robin.
“Bagaimana dengan tim ETA FORCE ? Kenapa kalian harus menyelamatkannya sementara tim yang lainnya tidak ?”
Robin menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya mulai menjelaskan semuanya kepadaku.
“Martin Karpov, pemimpin dari tim ETA FORCE. 2 tahun yang lalu, ia berhasil menyelesaikan sebuah misi yang bersangkutan dengan sebuah sekte sesat yang memuja entitas anomali berwujud seorang dewa. Walaupun begitu, dia harus kehilangan hampir seluruh anggota timnya dan saat ini hanya tersisa 4 orang termasuk dirinya sendiri. Dia dan anggota timnya yang tersisa adalah satu satunya orang yang memegang rahasia dari sekte Red's Right Hand itu.”
“Red's Right Hand ? Apa apaan itu ? Aku tidak pernah dengar tentang mereka.”
“Itu ..... Adalah rahasia.” jawab Robin.
Aku merenung sejenak mendengar penjelasan dari Robin itu. Apakah entitas seperti dewa yang dimaksud itu sangat berbahaya ? Lalu rahasia apa yang sebenarnya dipegang oleh orang bernama Martin itu ? Sialan, ini benar benar menjadi lebih rumit daripada yang aku kira.
“Namamu Eva kan ? Apa kamu penasaran dengan entitas berwujud seperti dewa itu ?”
Aku menoleh ke arah administrator yang ada di sampingku seketika.
“Biar ku beritahu. Makhluk itu bernama Scarlet Kin-”
“Administrator Libya !!”
“Lupakan itu Robin. Saat ini kita sedang punya masalah yang harus kita selesaikan sekarang juga. Bagaimana caranya kita keluar dari tempat ini ?” ucap sang komandan. Aku benar benar tidak tahu alasannya, tapi mereka terlihat sangat suka mempersulit suatu hal yang sebenarnya benar benar mudah. Persetan dengan entitas seperti dewa ataupun sekte sesat yang memuja entitas itu. Saat ini aku sedang dihantui oleh sebuah solusi simpel yang bahkan orang orang profesional seperti mereka tidak pikirkan. Ini benar benar membuatku jadi tidak sabaran. Akhirnya aku pun langsung menyuarakan ide brilian yang sudah ku pendam sangat lama itu dengan penuh emosi.
“Aarrrghh, sialan !! Aku tidak tahu apa yang sedang menyerang otak kalian saat ini, tapi kalian semua benar benar terlihat seperti orang bodoh ! Kenapa kita tidak keluar saja lewat lobi !!?”
Pertanyaanku itu seketika membuat semua orang di ruangan ini melihat ke arahku, seolah olah baru saja mendapatkan pencerahan dari sang Mahakuasa. Robin dan sang komandan yang menoleh dan mematung seketika ke arahku, Amygdala yang langsung menunduk dan merenung sambil merutuki kebodohannya sendiri, pria berambut merah itu yang membuka mulutnya lebar lebar akibat melongo sambil terpaku ke arahku, Rook yang terus menggaruk garuk kepalanya sambil keheranan, dan juga administrator Libya yang tertawa kecil saat melihat seluruh agen spesial ini dibodohi oleh seorang tahanan sepertiku saat ini. Robin pun kembali berbicara.
“Sialan. Aku tidak pernah berpikir tentang itu.”
__ADS_1