Anomaly

Anomaly
SCR 050 : Pneumo Psychosis


__ADS_3

Setelah aku berhasil mengalahkan SCR 037, aku dan Rook berjalan masuk ke dalam ruang yang ada di antara jembatan depan kami. Mengetahui tentang masa lalu SCR 037 benar benar semakin membuatku membenci Ozma. Rook membuka pintu besi ruangan di depan kami, dan yang ada di dalam sana hanyalah berbagai jenis senjata api dan perlengkapan tempur militer lainnya


“Sempurna.” gumam Rook di sampingku. Rook memasuki ruangan itu terlebih dulu kemudian diikuti oleh ku. Mataku melihat ke area sekitar hingga akhirnya perhatianku teralihkan oleh sebuah flamethrower yang terletak di sebuah meja besi. Aku menghampiri flamethrower tersebut dan seketika ingatanku dengan Danny muncul kembali. Aku meletakkan tanganku dan meraba laras panjang senjata api tersebut. Pipiku kembali dibasahi oleh air mata yang mengalir. Aku pun langsung menyapu tangisanku kemudian menoleh ke arah Rook yang sedang sibuk mengisi shotgun nya dengan peluru.


“Hei Rook.”


“Hmm ?”


Suasana menjadi hening sejenak.


“Apa kamu tadi dengar waktu aku mengatakan tentang SCR 037 yang membunuh Danny ?”


Rook langsung menghentikan aktivitasnya saat ini dan menoleh ke arah ku. Di mukanya tidak terlihat sekalipun wajah sedih ataupun kehilangan.


“Aku menyelamatkanmu setelah tahu kalau Danny meninggal.” jawab Rook. Suasana kembali diam. Aku pun mengambil flamethrower yang ada di meja di depanku dan langsung berbalik ke menghadap Rook.


“Hei, Rook. Apa kamu bisa ngajarin aku pake flamethrower ?” tanya ku dengan suara agak keras. Rook yang baru saja kembali melanjutkan kesibukannya menoleh ke arahku lagi. Dia kemudian menghela nafasnya dan berjalan menghampiriku.


“Kamu benar benar mirip Danny.”


“Huh ?”


Rook tidak menjawab dan langsung mengambil flamethrower itu dari tanganku. Hanya butuh setengah menit saja baginya untuk mengajariku cara menggunakan senjata ini. Setelah beberapa menit persiapan, kami akhirnya keluar dari ruangan ini dengan perlengkapan yang jauh lebih baik. Aku saat ini tengah menggunakan baju pelindung yang sama seperti Rook. Dan tidak lupa aku juga sudah diajari teori dasar menggunakan senjata api oleh Rook, hanya butuh prakteknya saja sekarang.


Aku dan Rook menyusuri area penuh dengan tembok mikro komputer ini. Entah tempat apa ini sebenarnya, yang pasti beberapa dari mikro komputer ini baru saja meledak dan kini telah mengeluarkan asap. Sepertinya ini adalah area yang sempat terjangkau oleh ledakan SCR 012. Yang aku Bingungkan adalah bagaimana jembatan jembatan di area ini juga tidak ikut hancur akibat ledakan ?


Saat aku masih memandang area baru di sekitarku, Rook berhenti secara tiba tiba saat melihat sebuah tanda peringatan yang terpasang di dinding. 'PERINGATAN : AREA TERLARANG, KADAR GAS BERACUN SANGAT TINGGI'. Begitulah isi peringatannya. Rook langsung mengambil dan memakai masker gas yang dia ambil barusan dan mengambil shotgun nya untuk berjaga jaga.


“Padahal tidak ada gas beracun di sini kan ?” keluhku.


“Eva, di sini kami punya kebiasaan 'lakukanlah sebelum kalian melihatnya' dan itu selalu bekerja.”


“Terserah deh.”


Saat aku mengambil masker gas ku, tiba tiba sebuah hembusan nafas yang sangat kencang terdengar dari arah belakang. Aku dan Rook pun langsung menoleh ke belakang, namun tidak ada apa apa. Hembusan nafas tersebut terdengar semakin keras dan semakin jelas. Aku langsung memasang masker gasku dan mengambil flamethrower ku itu. Hembusan nafas yang serak tersebut terus menghantui telinga kami. Hingga pada akhirnya, sosok dibalik hembusan nafas misterius itupun menampakkan dirinya. Orang misterius itu berlari sempoyongan sambil terus berusaha mengeluarkan sesuatu dari dadanya. Dengan nafasnya yang sesak, kulitnya yang pucat, dan sebuah kristal merah misterius terpasang di dadanya, orang itu pada akhirnya berhasil memuntahkan cairan kuning dari dalam mulutnya. Menjijikkan sekali, ucapku dalam hati. Pria misterius itu kemudian berjalan ke arah kami. Kini nafasnya terdengar kembali normal. Ia berjalan tergesa gesa ke arah kami dengan wajahnya yang memasang senyum lega, sebelum akhirnya, ia terjatuh ke lantai dan nafasnya menjadi sesak kembali. Kondisi orang itu kian menjadi lebih parah. Ia mulai batuk batuk dengan sangat keras hingga mengeluarkan cairan kuning itu kembali. Saat ia sekali lagi menatap ke arah kami, kulit wajahnya telah terkelupas dan matanya hampir keluar. Aku mengangkat flamethrower ku, namun di tahan oleh tangan kiri Rook.


“Kenapa ?” tanyaku kepada Rook.

__ADS_1


“Korban SCR 050 tidak berbahaya.” jawab Rook. Ia kemudian mendorongku ke belakang dan membiarkan pria misterius tersebut berlari melewati kami berdua sebelum akhirnya berlari ke arah kanan menuju area yang lebih luas. Senyuman lebar yang sempat pria itu pasang. Sudah jelas kalau orang itu masih mempertahankan kesadarannya sebagai manusia !


Rook kemudian berjalan diikuti olehku. Hingga pada akhirnya, sebuah mimpi buruk terpampang jelas di hadapan kami. Sebuah ruangan penuh dengan jembatan dan anak tangga kesana kemari, tidak lupa juga dipenuhi dengan lorong lorong yang terhubung ke ruangan ini, membuat kemungkinan terjadinya serangan kejutan menjadi lebih besar.


“Rook, aku benci ruangan ini.”


“Sama, aku juga.” jawab Rook. Bagaimanapun, tidak ada jalan lain selain melewati ruangan ini untuk kembali ke atas. Rook yang pertama kali memberanikan dirinya untuk menapakkan kakinya ke ruangan area penuh dengan jembatan dan anak tangga ini kemudian menoleh ke arah kanan. Ia kemudian menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa tidak ada apa apa di sana. Mungkin pertanda yang baik atau bisa juga menjadi pertanda buruk. Aku kemudian ikut melihat ke arah kanan, dan pria yang berlari ke arah kami tadi memang telah menghilang jejaknya entah kemana.


“Dia menjatuhkan dirinya sendiri.” ucap Rook menduga duga. Memang hanya itu saja lah kemungkinannya. Jika tidak, hanyalah fenomena supranatural dan itu tidak mungkin terjadi.


“Hei kita harus cepat kan ?” sanggah ku untuk segera keluar dari tempat ini.


“Benar juga.”


Aku dan Rook mulai berjalan diikuti dengan suasana hening tanpa suara sedikitpun. Hingga pada akhirnya kedamaian itu terganggu saat suara hembusan nafas sesak terdengar dengan sangat jelas di telinga kami berdua. Aku menoleh ke belakang seketika, dan disaat itulah mata kami menangkap tiga orang berlari sempoyongan hingga hampir terjatuh ke bawah jembatan.


“Apa apaan mereka ini !?”


Aku sempat mengangkat flamethrower ku namun tidak jadi saat melihat mereka justru menyiksa diri sendiri secara terus menerus. Ada yang membenturkan kepalanya ke tembok, memukul wajahnya sendiri, hingga memukul mukul lantai jembatan menggunakan kedua tangannya. Mereka benar benar terlihat seperti orang gila.


“Eva ! Asalkan kita tidak menyerang mereka, mereka juga tidak akan menyerang balik !” seru Rook yang juga sedang dibuat kewalahan oleh kerumunan SCR 050 yang terus berlarian ke arahnya.


“Omong kosong macam apa itu !? Sekarang ini gw lagi diserang bodoh !!”


Rook menoleh ke belakang dan mendapati aku yang sedang diperkaos oleh kerumunan SCR 050. Tiba tiba, aku mendapati seorang SCR 050 yang berusaha untuk membuka celanaku. Aku pun langsung menggenggam tangan orang SCR 050 itu sambil menahan malu.


“M - Mesum !!”


“Lupakan perkataanku yang tadi itu Eva ! Serang mereka !” seru Rook.


Aku langsung meraih pisau komando yang tersimpan di saku celanaku kemudian menusuk kepala mereka satu per satu. Setelah terbebas, aku mengambil pistolku dan menembaki SCR 050 yang menyerbu Rook.


“Makasih, Eva.” sahut Rook. Kurasa semuanya telah berlalu, namun ternyata tidak. Rook yang terus menatap ke arahku membuatku mulai memperhatikan sekitar. Ternyata bukan karena serbuan SCR 050 yang telah berakhir, namun karena mereka semua sedang memperhatikanku saat ini. Aku bergidik ngeri dan kembali menoleh kepada Rook meminta jawaban. Rook tetap berdiam mematung seakan tidak punya solusi untuk situasi saat ini. Pandangan kami berdua teralihkan saat sebuah gas berwarna putih cerah mulai terangkat naik menampakkan kehadirannya, seolah mengatakan bahwa aku benar benar sedang dalam bahaya saat ini. Rook mulai mengikuti gas beracun tersebut yang perlahan naik dan menghalangi penglihatan para SCR 050 ke arahku. Dan saat gas beracun itu telah sepenuhnya menutupi para SCR 050, Rook langsung berteriak kepadaku.


“Sekarang, lari !”


Aku langsung berlari menyusul Rook menapaki anak tangga di ruangan ini. Dari balik gas beracun yang terlihat sangat tebal layaknya sebuah kabut ini, aku dapat mendengar para SCR 050 yang mulai mengamuk dan mulai memukul mukul lantai yang mereka pijak. Bukan hanya menghalangi penglihatan kami, gas ini juga mulai menusuk ke dalam tubuhku. Aku dapat merasakannya masuk ke dalam kulit, kemudian membakar ku dari dalam.

__ADS_1


“Rook, apa kita mati oleh gas ini ?” tanyaku.


“Tidak akan. Aku tidak membiarkan kita berdua mati oleh gas sialan ini.” sahut Rook sambil terus berlari diikuti oleh ku. Orang orang SCR 050 ini kemudian semakin menggila. Layaknya seekor kera, mereka melompat dari atas ke bawah sini untuk menangkap ku. Rook terpaksa mengganti shotgun nya dengan palu. Ia terus memukul para SCR 050 yang menghalangi jalan kami.


Entah sudah berapa lama kami berjalan, yang pasti kami sudah terjebak di ruangan penuh dengan tangga yang sangat random ini. Aku sudah tidak tahan lagi. Tubuhku mulai melemah, dan gas beracun di sekitar kami mulai merasuki tubuhku dengan lebih kuat lagi. Aku mulai batuk dan nafasku menjadi sedikit sesak. Aku dapat merasakan darah keluar dari mulutku. Penglihatan ku pada akhirnya juga mulai kabur. Hanya perlu beberapa detik saja sepertinya aku akan meninggal.


“Rook ........ Aku.”


“Eva, bertahanlah !”


Suara Rook terdengar samar samar. Aku dengan sedikit kesadaranku melihatnya berusaha menahan gerombolan SCR 050 yang terus berlari ke arahku dengan segenap kemampuannya. Pada akhirnya, ia menarik tanganku dan menjauh dari kejaran SCR 050 di belakang kami. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menjaga kesadaranku agar tidak terjatuh ke alam bawah sana. Hingga pada akhirnya kami berdua sampai di depan sebuah pintu berwarna putih. Kondisiku yang saat ini sedang dalam keadaan kritis memaksa instingku untuk langsung masuk ke dalam pintu itu. Namun Rook langsung menarik ku keluar seketika dan menutup pintu itu sambil menahannya. Aku pun disadarkan oleh gerombolan SCR 050 lainnya yang berlari keluar dan meminta tolong kepada kami untuk membiarkan mereka semua keluar dari dalam ruangan di balik pintu itu.


“Eva, apa kamu bisa membantuku menahan orang orang jahanam ini ?” tanya Rook kepadaku. Aku hanya mengangguk dan langsung berlari ke arah pintu itu dan menahannya. Berkat seluruh tenaga yang ku keluarkan saat ini, kesadaranku akhirnya kembali ke permukaan. Namun bukan berarti aku sembuh dari efek gas beracun tersebut. Batuk berdarah ku semakin parah dan nafasku menjadi lebih pendek rasanya.


“Rook, apa aku akan berubah menjadi mereka setelah ini ?”


Aku mulai batuk kembali dan mengeluarkan lebih banyak darah dari dalam mulutku hingga merembes keluar dari masker gas yang kupakai. Gerombolan SCR 050 yang lain pun mulai mengerumuni kami. Kini habislah sudah kesempatanku untuk bertahan hidup.


“Tamatlah riwayat kita.” gumam ku sambil berusaha untuk mengambil nafas sedalam dalamnya. Namun Rook menggelengkan kepalanya, seakan sedang menolak takdir bahwa kami berdua akan mati terpojok di sini, atau mungkin hanya aku saja yang akan meninggal.


“Itu gak akan terjadi selama aku ada disini !” ia menyusupkan palunya di antara lubang pegangan pintu menggunakan palunya sendiri, seketika mencegah pintu itu terbuka kembali. Rook kemudian menarik tanganku dan berlari kembali menaiki ribuan jembatan yang jalurnya terus naik turun.


“Jangan menyerah Eva ! Bertahanlah !” seru Rook kepadaku sambil terus berlari. Entah sudah berapa lama kami terus berlari, pada akhirnya aku dapat melihat pintu yang lain. Setelah memaksakan tubuhku secara terus menerus, akhirnya aku mencapai batas yang dapat ku lalui. Aku secara terpaksa harus berhenti dan batuk batuk kembali. Darah terus keluar dari dalam mulutku dan saat ini sekujur tubuhku dipenuhi oleh rasa sakit.


“Rook..... Dadaku....... Aaaakh !”


Aku langsung jatuh tersungkur oleh sebuah perasaan seperti ditikam dengan pedang yang muncul tiba tiba menyerang dadaku.


“Sakit.”


Aku dapat merasakan saat Rook mengangkat tubuhku kemudian menggendongnya, sambil bergumam.


“Sedikit lagi.”


Mataku lagi lagi menjadi kabur, dan kesadaranku rasanya mulai menghilang kembali. Pada akhirnya, Rook dan aku berhasil mencapai pintu itu.


'Akhirnya, selesai juga' ucapku dalam hati sambil memejamkan mataku.

__ADS_1


__ADS_2